Mimpi Sosialisme Si Anak Tuan Tanah

14 AGUSTUS 2016, menjadi hari terakhir bagi pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro, tampil di hadapan rakyatnya. Di usia 90 tahun, lelaki pencinta cerutu yang dulu gagah memimpin pemberontakan dan berapi-rapi dalam berorasi itu terlihat rapuh.

Fidel hanya duduk di sebuah kursi roda, diapit Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan adiknya yang kini menjabat Presiden Kuba, Raul Castro. Nampak pula beberapa petinggi militer dan pejabat sipil pemerintahan Kuba yang menemaninya.

Fidel disuguhkan lantunan musik dan pementasan teater yang dilakoni anak-anak Kuba. Diperlihatkan pula highlights video dan foto-foto perjalanan hidupnya saat memimpin revolusi dan menjalankan kekuasaan negara selama hampir 50 tahun.

Di sepanjang bibir pantai Malecon Boulevard, ribuan penari menari, sambil menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Fidel yang lahir tanggal 13 Agustus 1926 di Biran. Kembang api terlihat mewarnai langit malam itu. Terdengar pula lantunan lagu-lagu Latin yang menghibur. Pesta sengaja digelar oleh rakyat Kuba untuk menghormati “El Comandante”. Mereka bersuka cita. Memang, sejak Fidel tak lagi berkuasa, rakyat Kuba merasa kehilangan. Pemimpin karismatik itu sudah jarang tampil di hadapan publik lantaran kondisi kesehatannya yang kian memburuk.

26 November 2016, Fidel menghembuskan nafas terakhir. Raul yang mengumumkan wafatnya sang kakak kepada khalayak. Jasad Fidel kemudian dikremasi pada Sabtu (26/11). Kepergian Fidel menyisakan kesedihan bagi rakyat Kuba. Sosok Fidel memang tidak terlepas dari sejarah perjalanan Kuba. Namanya tercatat sebagai pemimpin yang membangun negara berhaluan komunis dan mati-matian memerangi imperialisme Amerika Serikat (AS).

Setelah berhasil memimpin revolusi, Fidel dipercaya menjadi Perdana Menteri (1959-1976) dan menjabat Presiden (1976- 2008). Penganut ideologi Marxis-Leninis itu juga pernah menjabat Sekretaris Pertama Partai Komunis Kuba (1961-2011).

Di bawah kekuasaan Fidel, Pemerintah Kuba menasionalisasi sektor industri dan bisnis serta menerapkan reformasi agraria (land reform). Kebijakan yang pro terhadap kepentingan rakyat Kuba yang termarginal itu memicu kemarahan AS dengan menerapkan embargo puluhan tahun kepada Kuba. Nyali Fidel tak pernah luluh menghadapi sangsi AS. Dia tetap dengan sikapnya, menentang imprealisme AS. Kuba pun memilih jalur isolasi dan lebih bersahabat dengan Uni Soviet, yang berhaluan komunis dan pernah menjadi rival AS yang mencita-citakan kapitalisme global. Dua negara adidaya itu terlibat perang dingin dan saling berupaya menancapkan pengaruhnya di dunia.

Fidel dikenang sebagai pemimpin revolusioner, yang merebut kekuasaan dengan cara memberontak terhadap kekuasaan diktator dan pro terhadap kepentingan AS. Di tahun 1959, gerakan revolusi yang dipimpinnya berhasil menggulingkan Presiden Fulgencio Batista yang otoriter dan didukung AS. Fidel yang berhasil merengkuh kepercayaan rakyat lantaran sadar jika sumberdaya alamnya dihisap oleh AS berhasil merebut kekuasaan, bahkan mampu melanggengkan kekuasaannya hampir 50 tahun lamanya.

Saat berkuasa, Fidel mewarisi segudang masalah. Negaranya mengidap pelbagai patalogi sosial yang diwarisi rezim militer yang pro pada kepentingan borjuasi, mulai dari kemiskinan, ketimpangan sosial, buta huruf, dan reputasi buruk sebagai rumah pelacuran dan perjudian. Fidel menata Kuba dengan sistem sosialis.

Dia mengoptimalkan program-program sosial, dengan melatih ribuan dokter, memperluas akses  kesehatan dan menerapkan sekolah gratis kepada kaum miskin. Dan, harus diakui, perubahan itu telah terlihat. Meski beberapa tahun ini, Kuba yang sebelumnya menjadi negara tertutup, mulai membuka diri, dan mengurangi peran negara dalam kegiatan perekonomian.

Dia juga melakukan nasionalisasi. Sumber daya alam yang dikuasai asing, diambil alih oleh negara untuk kemakmuran rakyatnya. Inilah yang menyebabkan rakyat Kuba, khususnya masyarakat miskin, “cinta mati” kepadanya.

Para pemujanya juga memandangnya sebagai pemimpin visioner, berdiri tanpa merundukan kepalanya di hadapan AS yang menguasai negara-negara di Amerika Latin. Sosok nasionalis tulen yang dimiliki Kuba itu juga menginspirasi gerakan kiri di Amerika Latin yang mencita-citakan terwujudnya negara sosialis yang menjalankan mandat kekuasaan untuk pemerataan kesejahteraan pada rakyatnya.

Tetapi, bagi lawan-lawan politiknya, Fidel laksana hantu yang mengerikan yang anti demokrasi. Mereka yang berseberangan, lebih memilih meninggalkan Kuba daripada hidup di bawah kekuasaan Fidel yang mengekang. Para pengkritik menyebutnya sebagai pengacau yang keras kepala dan pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Mereka juga menuduhnya menggunakan kekuasaan untuk keuntungan pribadi.

Tak sedikit warga Kuba yang melarikan diri saat dirinya berkuasa. Dan, negara mengambil alih bisnisnya, rumahnya, dan melakukan kontrol atas kegiatan perekonomian, termasuk media.

Fidel memang tak sungkan memenjarakan para pembangkang, termasuk melarang partai-partai oposisi. Dia beralibi, lawan-lawannya harus di penjara karena menjadi tentara bayaran yang bekerja untuk AS. Di bawah kekuasaannya, katub-katub demokrasi di Kuba disumbat. Semua aktivitas kehidupan diatur sepenuhnya oleh negara. Karenanya, mendengar kabar Fidel wafat, beberapa pemimpin politik yang pro AS, secara terbuka bersuka cita.

Menentang Pengkultusan

Meski dielu-elukan sebagian besar rakyatnya, termasuk rakyat di negara-negara di kawasan Amerika Latin, Fidel menolak dikultuskan. Dia pernah berpesan agar tidak dibuatkan patung yang menyerupainya atau menggunakan namanya untuk jalan-jalan guna mengenangnya. Namun demikian, pengkultusan muncul di mana-mana. Gambar dan pernyataannya kerap diposting di billboard. Namanya sering pula disebut-sebut di setiap acara publik.

Di panggung internasional, lelaki yang bernama lengkap  Fidel Alejandro Castro Ruz itu dikenang sebagai maestro sayap kiri. Sahabat peraih Nobel, Gabriel Garcia Marquez itu membantu gerilyawan Marxis dan pemerintah revolusioner di beberapa negara.

Fidel pernah mengirimkan pasukan Kuba ke Angola tahun 1970 untuk mendukung pemerintahan sayap kiri. Kuba juga membantu mengalahkan pemberontakan di Angola, dan turut membantu kemerdekaan Namibia pada tahun 1990.

Dia juga membantu upaya melawan rezim apartheid. Karenanya, setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1990, tokoh anti-apartheid Afrika Selatan, Nelson Mandela, berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Fidel. Pemimpin Kuba itu juga disebut pahlawan bagi para pemberontak Sandinista yang berkuasa di Nikaragua pada tahun 1979.

Fidel pun menjadi selebritas di panggung global, lantaran penampilan khasnya, berjanggut dan berseragam militer. Dia dikenali lantaran kerap tampil, sambil mengisap cerutu Kuba berukuran besar. Mungkin, karena Fidel, Kuba dikenal sebagai negara penghasil cerutu terbaik di dunia. Gulungan daun tembakau kering itu telah menjadi bagian dari identitas Kuba.

Ditakdirkan Menjadi Pemberontak

Menjadi pemberontak atas ketidakadilan adalah suratan takdir baginya. Fidel, putera seorang tuan tanah, Angel Maria Bautista Castro Argiz, memimpin pemberontakan untuk melawan ketimpangan ekonomi yang mendera sebagian besar rakyat Kuba. Argiz adalah imigran dari Galicia, Spanyol, yang sukses menjadi petani tebu di Las Manacas, Biran, Oriente.

Setelah bercerai dengan isteri pertamanya, Argiz menikahi Lina Ruz Gonzalez yang juga berasal dari Spanyol. Dari pernikahannya, dianugerahi tujuh anak, di antaranya Fidel. Di usia enam tahun, Fidel tinggal dengan gurunya di Santiago, Kuba, sebelum dibaptis di Gereja Katolik Roma di usia delapan tahun. Fidel menempuh pendidikan di Belen School, yang dikelola Yesuit di ibukota Havana.

Kekayaan keluarganya tak membuat Fidel terlena. Dia justru menjadi sosok yang antikemapanan. Sikap itu merepresentasikan kekecewaannya terhadap masalah kemiskinan yang melilit sebagian besar orang-orang di sekitarnya. Empati itu telah tumbuh sejak kecil. Fidel kecil pernah bermain dengan anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai buruh di perkebunan ayahnya di Biran, bagian timur. Sebagian besar teman kecilnya itu tinggal di pondok-pondok jerami yang berlantai tanah. Ketidakadilan ekonomi yang disaksikannya itu memunculkan simpatinya seumur hidup terhadap masyarakat miskin.

Di usia muda, Castro menjadi sosok revolusioner. Watak pemberontak itu tidak terlepas dari kekagumannya terhadap tokoh paling berani dalam sejarah, Alexander Agung. Dan, dia sangat percaya jika pemberontakan yang dipimpinnya itu adalah bagian dari takdir. “Seorang lelaki tidak membentuk takdir. Takdir yang melahirkan orang itu di saat ini,” katanya di tahun 1959.

Jiwa pemberontaknya kian tumbuh saat kuliah Ilmu Hukum di Universitas Havana. Rezim militeristik yang memancingnya untuk bergelut dengan aktivitas politik yang penuh dengan kekerasan. Pergumulan di kubu kiri menjadikannya sebagai sosok yang tidak bertele-tele, tidak toleran, dan canggung di lantai dansa yang menunjukan dirinya alergi dengan kehidupan borjuasi. Fidel yang terkesan kaku dan semula dijauhi teman-temannya, ternyata menjadi pemimpin gerakan mahasiswa yang disegani. Di tahun 1947, dia turut dalam rencana menggulingkan diktaktor Republik Dominika, Rafael Leonidas Trujillo.

Namanya juga disebut-sebut berada di balik kerusuhan yang pecah di Kolombia hingga menewaskan 2.000 orang. April tahun 1948, Fidel pernah melakukan perjalanan ke Bogota, Kolombia, dengan sejumlah mahasiswa Kuba yang disponsori Presiden Argentina Juan Peron. Kala itu, pemimpin sayap kiri Jorge Eliecer Gaitan Ayala terbunuh, yang memicu kerusuhan antara kubu konservatif yang didukung tentara dan kubu liberal sayap kiri. Lantaran situasi yang tidak aman itu, Fidel kembali ke Kuba.

Dunia aktivis yang penuh dengan kekerasan, tidak membuatnya berhenti menyerang rezim berkuasa. Kala Kuba dipimpin Presiden Ramon Grau San Martin yang korup, Fidel kerap melancarkan kritikan.

Rezim Grau yang gerah, lalu menebar intimidasi dan akan membunuhnya. Grau memanfaatkan anggota geng untuk membungkam Fidel lewat intimidasi. Sampai-sampai, Fidel terpaksa meninggalkan kampusnya. Dia pun menggunakan pistol untuk melindungi diri. Mereka yang anti-Fidel juga pernah menuduhnya melakukan pembunuhan terhadap anggota geng. Tetapi, tuduhan itu tidak terbukti. Fidel dan rekan-rekannya pun berhasil menghindar dari upaya penangkapan yang dilakukan militer.

Tahun 1948, saat kembali ke Havana, Fidel kembali turun ke jalan, memimpin demonstrasi mahasiswa yang dipicu terbunuhnya seorang murid SMA oleh aparat keamanan. Protes itu disambut tindakan represif. Fidel mengalami luka parah. Dia dipukuli aparat keamanan lantaran berpidato di hadapan khalayak yang nadanya mengutuk rezim penguasa yang menciptakan ketimpangan sosial dan ekonomi di Kuba. Beberapa demonstran yang dianggap komunis, ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Di tahun itu, dia menikah dengan Mirta Diaz Balart, mahasiswi dari keluarga kaya yang kemudian memperkenalkannya gaya hidup elit Kuba. Cintanya sempat ditolak kedua orang tuanya. Tetapi, ayah Mirta memberikan puluhan ribu dolar untuk agar mereka dapat berlibur selama tiga bulan di New York saat bulan madu.

Pada September 1949, Mirta melahirkan seorang putra, Fidelito. Pasangan itu pindah ke Havana. Meski dibayangi ancaman dan intimidasi, Fidel tetap aktif dalam kegiatan politik. Dia pun gencar menentang pengaruh geng yang dimanfaatkan aparat keamanan. 13 November, Fidel pernah menawarkan diri untuk mengungkap rencana rahasia yang dilakukan pemerintah dengan mengerahkan anggota geng untuk membunuhnya. Dia mengetahui aktor utama yang menggerakan rencana jahat itu.

Pernyataannya itu menarik perhatian pers yang kemudian mematik amarah para pentolan geng. Fidel terpaksa melarikan diri, bersembunyi, lalu terbang ke AS. Dia baru kembali ke Havana beberapa minggu kemudian.

September 1950, Fidel berhasil lulus dari meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Havana. Nyalinya tak juga menciut meski dihantui intimidasi. Fidel turut memimpin aksi protes di Cienfuegos. Di tahun 1952, dia pun memutuskan untuk terjun ke politik dengan mencalonkan diri di kongres tahun 1952 lewat Partai Rakyat Kuba (Partido Ortodoxo), yang didirikan politisi senior, Eduardo Chibas. Fidel begitu mengagumi Chibas, tokoh kharismatik yang gencar menyuarakan keadilan sosial, pemerintahan yang jujur, dan kebebasan dalam berpolitik.

Sayang, partai itu terpuruk lantaran korupsi. Meskipun Chibas kalah dalam pemilihan, Fidel tetap berkomitmen dengan Partido Ortodoxo dan menjadi oposisi. Meski dicap radikal, Fidel dinominasikan sebagai calon anggota parlemen untuk daerah termiskin di Havana. Saat kampanye, Fidel bertemu dengan Jenderal Fulgencio Batista, mantan presiden, yang kembali berpolitik lewat Partai Aksi Kesatuan (Unitary Action Party).

Maret 1952, Batista rupanya merebut kekuasaan dengan cara melakukan kudeta terhadap kekuasaan Carlos Prio yang melarikan diri ke Meksiko. Batista lalu mendeklarasikan diri sebagai presiden, membatalkan hasil Pemilu, dan menerapkan sistem politik baru yang disebutnya Discipline Democracy.

Cara-cara represif rezim Batista itu yang memancing perlawanan Fidel. Dia memulai rencana pemberontakan bersenjata. Dan, Batista meresponsnya dengan memperkuat dukungan, merangkul kalangan borjuis dan AS, memutuskan hubungan diplomatik dengan Uni Soviet, menekan serikat buruh, dan menekan kelompok sosialis. Fidel lalu mencari alternatif untuk menggulingkan rezim Batista dengan cara mengalang revolusi yang diawali lewat gerakan bawah tanah.

Dalam aksinya, gerakan yang dipimpin Fidel menerbitkan surat El Acusador, merekrut, mempersenjatai, dan melatih orang-orang yang anti Batista. Gerakan itu berhasil merekrut sekitar 1.200 anggota dalam waktu setahun. Kebanyakan, anggotanya berasal dari daerah miskin.

Fidel dan pasukannya juga menimbun senjata untuk melancarkan serangan ke Barak Moncada milik militer di luar Santiago. Para militan yang mengenakan seragam militer juga berhasil menguasai gudang senjata. Ketersediaan senjata yang mencukupi, memicu keinginan Fidel untuk melanjutkan revolusi. Dia menggelar konsolidasi dengan ratusan militan revolusioner untuk melancarkan misinya.

Sementara Batista memberlakukan darurat militer dan memerintahkan tentara untuk menindak siapa saja yang berbeda pendapat dan memberlakukan sensor terhadap pers. Tak sedikit para pendukung Fidel yang dieksekusi mati. Fidel sendiri ditangkap dan dipenjara. Pemerintah juga menuduh keterlibatan sejumlah politisi Partido Ortodoxo. Sebanyak 122 orang diadili pada 21 September di Pengadilan Santiago.

Dalam persidangan yang digelar 16 Oktober 1953, Fidel dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Selama di penjara, Fidel tak menghentikan aktivitas politiknya, dia membentuk “Gerakan 26 Juli” (Movimento 26 de Julio) atau dikenal MR-26-7.

Di penjara, Fidel menggalang kekuatan, dengan mendidik para tahanan untuk menjadi pemberontak. Fidel pun mendalami pemikiran Karl Marx, Lenin, pejuang kemerdekaan Kuba Jose Marti, Sigmund Freud, Immanuel Kant, Shakespeare, Munthe, Maugham, Dostoyevsky, dan sebagainya. Fidel menganalisis pemikiran kiri Marxis, sambil mengontrol, mengorganisir gerakan, dan mempublikasikan History Wili Absolve Me.

Februari 1954, Fidel terpaksa diisolasi dari ruang tahan khusus lantaran memprovokasi tahanan lainnya agar menyanyikan lagu anti Batista saat kunjungan Presiden Batista. Hukuman penjara tak membuatnya jera. Namun, saat di penjara, Fidel terpukul saat mengetahui Mirta bekerja di Kementerian Dalam Negeri. Dia mengamuk dan menyatakan lebih baik mati. Fidel dan Mirta pun bercerai. Mirta mengambil hak asuh Fidelito yang tidak direstui Fidel lantaran tak ingin anaknya tumbuh di lingkungan borjuis.

Tahun 1955, Fidel dibebaskan dan pergi ke pengasingan di Meksiko. Lalu, dia bertemu dengan pemimpin revolusioner Argentina, Ernesto Che Guevara. Fidel rupanya mengagumi Che. Dia mengakui Che sebagai seorang revolusioner yang lebih maju darinya.

Fidel juga membangun hubungan dengan Alberto Bayo dari Spanyol, yang setuju untuk mengajar para pemberontak memiliki keterampilan bersenjata. Fidel juga melakukan perjalanan ke AS untuk mencari simpatisan kaya, agar mendanai pemberontakannya. Upaya itu dipantau oleh mata-mata Batista.

Meski jauh di perantauan, Fidel tetap membangun hubungan dengan MR-26-7 di Kuba. Rupanya, militan kelompok anti Batista lainnya pun bermunculan, terutama dari gerakan mahasiswa, yang paling terkenal, Directorio Revolucionario Estudiantil (DRE), yang didirikan Jose Antonio Echevarria. Mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Havana itu tewas ditembak aparat saat menggelar demonstrasi menentang Batista.

Di tahun 1956, Fidel kembali ke Kuba dengan menggunakan kapal Granma, yang penuh sesak manusia. Di Kuba, dia berhasil menyatukan kekuatan oposisi yang berbeda. Dan, dia kian menyadari jika perlawanan itu bakal memunculkan kemarahan AS. Karenanya, dia memilih beraliansi dengan Uni Soviet.

Tindakan represif rezim Batista, tak membuat nyali Fidel bersama pasukannya menciut. 2 Desember 1956, Fidel dan pasukannya, menyusuri hutan dan pegunungan di Oriente Sierra Maestra. Jejaknya diketahui pasukan Batista. Namun, pasukan Batista tak mampu mengalahkan pasukan pemberontak yang menerapkan cara berperang secara bergerilya.

Fidel, Che Guevara, dan Camilo Cienfuegos, kemudian melancarkan serangan ke pos-pos militer kecil untuk mendapatkan persenjataan. Pada Januari 1957, mereka menyerbu pos militer di La Plata. Mereka juga mengeksekusi Chicho Osorio, walikota, yang dibenci petani lokal. Gerakan yang dilancarkan para pemberontak rupanya memperoleh dukungan dari penduduk. Beberapa di antaranya bergabung dalam barisan pemberontakan sehingga makin memperkuat gerakan yang dipimpin Fidel.

Karena jumlah relawan makin bertambah, Fidel membagi pasukannya menjadi tiga kelompok, yang dipimpinnya, Raul, dan Che Guevara. Sementara MR-26-7, yang beroperasi di perkotaan terus melakukan agitasi dan mengirim pasokan logistik ke pasukan Fidel yang melakukan gerilya.

Kelompok anti Batista pun melancarkan pengeboman dan sabotase, yang kemudian direspons dengan dengan penangkapan secara massal oleh aparat, yang disertai penyiksaan dan eksekusi tanpa proses peradilan. Tindakan itu dibalas para pemberontak. Maret 1957, mereka melancarkan serangan ke istana presiden, namun gagal.

Fidel juga bertemu dengan tokoh terkemuka Partido Ortodoxo, Raul Chibas dan Felipe Pazos, yang menuntut dibentuknya pemerintahan sipil sementara sebelum Pemilu multipartai digelar. Fidel pun dihubungi media asing untuk menyebarkan pesannya. Dia menjadi selebritas setelah diwawancarai oleh Herbert Matthews, jurnalis New York Times, dan wartawan media asing lainnya.

Di musim semi tahun 1958, para pemberontak berhasil menguasai rumah sakit, sekolah, percetakan, pabrik ranjau darat, dan pabrik pembuatan cerutu. Batista bersama pendukungnya semakin terdesak. Dia pun dikecam internasional lantaran tindakan represifnya. Pemerintah AS menghentikan pasokan senjata. Sementara oposisi lantang menyerukan pemogokan, disertai dengan perlawanan bersenjata.

Dalam kondisi terdesak, pasukan Batista tetap meresponsnya dengan Operasi Verano, yang membombardir kawasan hutan dan desa-desa yang diduga menjadi basis kelompok militan. Sekitar 10.000 tentara diperintahkan oleh Jenderal Eulogio Cantillo mengepung Sierra Maestra, menyisir kawasan utara hingga camp para pemberontak.

Meski unggul dari segi jumlah pasukan dan persenjataan, namun pasukan Batista tidak memiliki pengalaman dalam perang gerilya. Kelemahan itu yang dimanfaatkan pasukan Fidel untuk memukul mundur pasukan Batista. Mereka menebar ranjau darat dan melakukan penyergapan. Banyak tentara Batista menyerah dan membelot ke pasukan pemberontak. Pasukan Fidel lalu menguasai Oriente dan Las Villas, menutup jalan-jalan utama dan jalur kereta api sehingga merugikan pasukan Batista.

Memerangi Imprealisme AS

Fidel sempat membantah tudingan Batista yang menyebutnya seorang komunis. Tetapi, di tahun 1952, kepada wartawan Spanyol, Ignacio Ramonet dalam buku berjudul: 100 Hours With Fidel, Fidel mengakui sebagai penganut paham Marxis-Leninis. Fidel berdalih, paham itu merasuk dalam dirinya lantaran bertekad melawan imprealisme AS di Kuba.

Dan, kebencian Fidel itu kian menggumpal ketika pesawat AS membombardir pasukannya di tahun 1958. Dia bersumpah, “AS akan membayar sangat mahal untuk apa yang telah mereka lakukan,” tulisnya dalam sebuah surat yang ditujukan Celia Sanchez, perempuan yang disebut-sebut memiliki hubungan dekat dengan Fidel. “Ketika perang telah berakhir, perang jauh lebih besar akan saya mulai. Saya akan melawan mereka. Saya menyadari bahwa ini akan menjadi takdir saya.”

Di kala kekuasaan berada dalam genggamannya, Fidel yang menjabat perdana menteri, terus membangun kekuatan militer dan mengorganisir dukungan sipil bersenjata. Dia juga intensif membangun aliansi dengan Uni Soviet untuk mengimbangi dominasi AS yang berupaya mempertahankan pengaruhnya di Kuba. Upaya itu dilakukan lantaran AS berupaya melakukan kontra revolusi, dengan menggerahkan CIA dan orang-orang buangan untuk memburu Fidel.

AS ingin menghabisi Fidel lantaran mengusik kepentingannya. Sampai-sampai, Presiden AS, Jhon F Kennedy melancarkan invasi militer di Teluk Babi tahun 1961. Namun, invasi mendapatkan perlawanan dari Kuba setelah mendapatkan pasokan dana dan persenjataan dari Uni Soviet.

Moskow mendukung Fidel karena bercita-cita menjadikan Kuba sebagai negara sosialis. Perang dingin dengan AS melatarbelakangi Uni Soviet mengucurkan bantuan miliaran dolar AS dan meningkatkan kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan dengan Kuba.

Saat bertemu dengan Deputi Pertama Premier Uni Soviet, Anastas Mikoyan, Fidel setuju memberikan Uni Soviet gula, buah, serat, dan kulit, sebagai imbalan suplai minyak mentah, pupuk, barang-barang industri, dan pinjaman US$100 juta.

Fidel pun memerintahkan perusahaan-perusahaan AS seperti Shell, Esso dan Standard Oil, yang mengendalikan kilang-kilang di Kuba, untuk memproses minyak mentah dari Uni Soviet. Tetapi, di bawah tekanan Pemerintah AS, perusahaan itu menolak. Fidel lalu meresponsnya dengan melakukan nasionalisasi, yang kemudian dibalas AS dengan membatalkan impor gula dari Kuba. Fidel kian berang.

Seluruh aset AS di Kuba, termasuk bank dan pabrik gula, dikuasai negara. Hingga akhirnya, 13 Oktober 1960, AS melarang sebagian besar ekspor ke Kuba dan menerapkan embargo ekonomi. Tindakan AS itu dibalas lagi dengan mengambil alih 166 perusahaan AS yang beroperasi di Kuba pada pada 25 Oktober 1960.

Sebelumnya, 16 Februari 1959, usai dilantik sebagai Perdana Menteri, Fidel sempat mengunjungi AS dan bertemu dengan Wakil Presiden AS, Richard Nixon. Namun, pertemuan itu tidak memberikan kesan positif bagi Fidel. Dia tidak menyukai Nixon. Lalu, Fidel bertandang ke Kanada, Trinidad , Brasil, Uruguay, dan Argentina. Dia juga menghadiri konferensi ekonomi di Buenos Aires, dan berhasil mengusulkan pinjaman dana sebesar US$30 miliar yang didanai dari  “Marshall Plan” untuk Amerika Latin.

Sikapnya yang anti AS, membuat Fidel paling diburu AS. Namun, Fidel selamat dari upaya pembunuhan yang dirancang AS. Lalu, Fidel yang mengkhawatirkan kudeta yang didukung AS, memperkuat dukungannya dengan mempersenjatai milisi sipil untuk menghadapi elemen kontra-revolusi. Sebanyak 50 ribu warga sipil dilatih perang. Pada September 1960, dibentuk Komite Pertahanan untuk Revolusi (CDR), sebuah organisasi sipil nasional yang tugasnya memata-matai kegiatan kontra-revolusioner, sekaligus menjadi saluran pengaduan masyarakat.

Fidel juga memerintahkan Duta Besar Havana untuk AS, memberhentikan 300 stafnya lantaran curiga menjadi mata-mata AS. Tindakan itu dibalas AS dengan mengakhiri hubungan diplomatik, termasuk melancarkan invasi Teluk Babi pada April 1961. Tentara CIA mengebom tiga lapangan udara militer Kuba. Bersama pasukan Demokrat Front Revolusioner yang berjumlah sekitar 1.400 orang yang tergabung dalam Brigade 2506, tentara CIA pada malam hari 16-17 April 1961, mendarat di sepanjang Teluk Babi, Kuba, dan terlibat dalam baku tembak dengan milisi revolusioner setempat.

Khawatir invasi bakal mengancam kekuasaannya, Fidel memerintahkan pasukannya untuk menangkap puluhan ribu orang yang diduga mendukung kontra revolusi. Dia juga memerintahkan Kapten Jose Ramon Fernandez, melancarkan serangan balik. Brigade 2506 pun menyerah pada 20 April dan memerintahkan 1.189 pemberontak ditangkap. Mereka lalu diadili untuk kejahatan yang diduga direncanakan sebelum revolusi.

AS-Kuba sebenarnya pernah bersekutu. AS pernah membantu Kuba merebut kemerdekaan saat perang menghadapi penjajahan Spanyol. AS mengirim puluhan ribu tentara ke Kuba. Spanyol sebelumnya menentang intervensi AS di negara-negara koloninya. Sampai-sampai, 25 April-12 Agustus 1898, AS-Spanyol terlibat peperangan.

Militer AS berhasil memukul mundur militer Spanyol dari kawasan Karibia dan Pasifik Selatan. Setelah itu, Pemerintah AS mendirikan pemerintahan sementara di Kuba. AS juga menancapkan kekuasaannya di negara-negara koloni Spanyol lainnya seperti Puerto Riko, Guam, dan Filipina, melalui Traktat Paris, 10 Desember 1898. Jaminan dari Pemerintah AS, memancing investor AS, berbondong-bondong berinvestasi di Kuba dan beberapa negara di kawasan Amerika Latin lainnya.

Namun, hubungan AS-Kuba bergolak tatkala AS mengingkari janjinya. Sebelum meletus peperangan dengan Spanyol di daratan Kuba, 19 April 1898, AS-Kuba menyepakati perjanjian Teller Amendment yang isinya, AS tidak akan mengontrol secara penuh Kuba dan akan menarik seluruh pasukannya setelah menaklukan Spanyol.

Namun, setelah Spanyol angkat kaki dari Kuba, AS justru menghapus Teller Amendment dan menggantinya dengan Platt Amendment, yang makin mengukuhkan kepentingannya di Kuba, menguasai perekonomian dan memberi tanah kepada militer AS di beberapa pulau di Kuba, termasuk di Teluk Guantanamo yang dijadikan pangkalan Angkatan Laut AS dan tempat mengangkut batu bara.

Pengingkaran itu yang memancing kebencian rakyat Kuba terhadap AS. Apalagi, tak sedikit, tanah rakyat yang dirampas untuk kepentingan investor AS. Hal ini yang kemudian membangkitkan perlawanan rakyat lewat Revolusi Kuba yang dipimpin Fidel.

Menolak Rujuk dengan AS

Upaya perburuan yang dilakukan AS, tak mampu mengakhiri perjuangan Fidel. Dia justru kian langgeng mempertahankan kekuasaan di Kuba, lebih lama dibandingkan sembilan Presiden AS yang pernah berkuasa yang menjadi musuhnya.

Namun, ujian pernah menerpa Fidel, tepatnya saat Uni Soviet runtuh di tahun 1990-an. Ketika blok Soviet hancur pada tahun 1991, rezim komunis yang dipimpin Fidel, tidak akan bertahan. Kuba sempat mengalami krisis. Pemadaman listrik terjadi berkepanjangan. Warganya pun kekurangan makanan dan kebutuhan dasar lainnya.

Fidel tidak diam. Dia melakukan reformasi, yang memungkinkan investasi asing dan pariwisata dari Kanada dan Eropa, menekan dolar, dan memungkinkan orang Kuba melakukan kontak dengan keluarganya di luar negeri. Fidel pun membangun aliansi dengan pemimpin Venezuela, Hugo Chavez. Ketika Chavez menjabat sebagai Presiden Venezuela tahun 1998, krisis yang dialami Kuba mulai terkikis setelah Fidel mendapatkan sumber-sumber ekonomi baru yakni minyak murah dari Venezuela. Bantuan Venezuela itu turut mendorong perbaikan perekonomian Kuba.

Fidel pun tidak serta merta memutuskan hubungan dengan Rusia. Bagi Rusia, sosok Fidel sangat dihormati. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-90, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut Fidel sebagai teman baik Rusia. Dia menegaskan, Rusia menaruh hormat padanya. Putin mengaku sulit menggambarkan kontribusi yang telah diberikan Fidel untuk mengembangkan persahabatan dan kerjasama antara Rusia dengan Kuba.

Fidel membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang mampu memobilisasi kekuatan rakyatnya di kala krisis menerpa. Dia baru menyerah lantaran penyakit usus kronis menderanya. Castro terpaksa menyingkir dari ranah kekuasaan tahun 2006. Dia secara resmi menyerahkan mandat kekuasaan pada adiknya, Raul Castro, pada tahun 2008.

Meski sudah tidak lagi tampil di atas panggung untuk berorasi, Castro menyempatkan untuk menulis di kolom opini di media milik pemerintah guna menyampaikan pesan-pesannya untuk rakyatnya. Fidel tetap dengan sikapnya: bermusuhan dengan AS. Sikapnya itu terlihat saat Raul Castro membuat kesepakatan untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan AS, pada 17 Desember 2014 lalu. Fidel enggan mendukung kebijakan itu dan tidak bersedia mengakhiri permusuhan dengan AS.

Fidel pernah menulis surat untuk Raul saat akan menggantikannya. Dalam suratnya, Fidel menulis, “Saya tertawa tentang rencana Machiavellian dari Presiden AS (Barack Obama).”

Fidel juga mengkritik Obama kala berpidato pada Mei lalu di Hiroshima, yang menjadi situs bom atom pertama di dunia di akhir Perang Dunia II. “Dia (Obama) tidak berkata-kata untuk meminta maaf atas pembunuhan ratusan ribu orang (di Hirosima),” tulisnya. AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Sedikitnya 129.000 jiwa tewas akibat pengeboman itu.

Fidel juga pernah menolak kunjungan Obama sebagai upaya rekonsiliasi dengan Kuba. Dia menganggap, perkataan Obama terlalu manis untuk rakyat Kuba saat berkunjung ke negaranya. Kunjungan itu adalah kali pertama seorang pemimpin AS sejak 88 tahun lalu setelah pecahnya hubungan kedua negara.

Sikap keras Fidel tidak berarti tanpa protes. Beberapa kalangan menilai, gaya kepemimpinan Fidel tidak lagi sejalan dengan perkembangan jaman. Karenanya, mereka mendukung upaya Raul yang mengubah gaya kepemimpinan Kuba dengan lebih terbuka dan mendorong rekonsiliasi dengan AS.

Kuba yang kini dipimpin Raul yang berusia 85 tahun, mengklaim jika di tahun 2014 telah nampak pertumbuhan ekonomi setelah merugi sebesar US$ 117 miliar selama 55 tahun karena embargo AS. Pendekatan pasar bebas diyakini, dapat menjadikan pendapatan per kapita hingga US$27 ribu, sekitar empat kali lebih tinggi selama masa-masa revolusi.

Sejak kepemimpinan dikendalikan Raul di tahun 2008, Kuba mulai berubah. Kuba tak lagi menjaga jarak dengan Uni Eropa (UE) dan AS. 11 Maret 2016 lalu, UE dan Kuba sepakat memulihkan hubungan yang sejak tahun 2003 terputus. Kesepakatan yang ditandatangani di Havana itu membuka jalan bagi negara-negara anggota UE untuk meningkatkan kerjasama di berbagai bidang dengan negara penghasil cerutu terbaik di dunia itu.

Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Federica Mogherini menyebut kesepakatan baru itu sebagai sesuatu yang bersejarah. UE bersedia kerjasama asalkan Kuba mengubah sistem politik satu partai menjadi lebih demokratis, melakukan reformasi ekonomi, dan membuka kerjasama perdagangan. Di tahun 2003, UE membekukan hubungan dengan Kuba lantaran rezim komunis mengekang kebebasan pers dan hak asasi masyarakat sipil. Namun, tidak semua negara-negara Eropa memutus hubungan dengan Kuba. Spanyol misalnya, tetap membangun hubungan ekonomi yang erat dengan Kuba.

UE dan Kuba telah memulai pembicaraan untuk memulihkan hubungan sejak April 2014 lalu, sebelum Obama dan Raul mengumumkan pemulihan hubungan AS-Kuba pada Desember di tahun yang sama.

Upaya rujuk telah mengarah ke arah yang positif. Itu terlihat dari kebijakan Pemerintah Kuba yang mengizinkan Pemerintah AS membuka kembali Kedutaan Besar di negaranya sejak 20 Juli 2015 lalu. 12 April 2015, Obama dan Raul meneguhkan komitmennya untuk memulihkan keretakan hubungan diplomatik. Obama menyebut momen itu sangat bersejarah.

22 Maret 2016 lalu, Obama juga bertandang ke Havana, menemui Raul. Kedua pemimpin itu membicarakan rencana kerjasama bilateral. Membaiknya hubungan kedua negara disambut baik investor. Investor AS sudah lama mengincar Kuba yang kaya potensi pariwisata.

Obama dan Raul kali pertama bertemu saat menghadiri pemakaman tokoh anti apartheid Afrika Selatan yang menginspirasi dunia, Nelson Mandela, di Stadiun First National Bank (FNB) di Johannesburg, 11 Desember 2013 lalu. Saat menuju podium untuk menyampaikan pidato, Obama menyalami Raul.

Jabat tangan kedua pemimpin itu disaksikan sejumlah pemimpin dunia lainnya yang hadir di acara pemakaman Mandela itu. Pertemuan itu menebar sinyal persahabatan antara Obama dan Raul. Membaiknya hubungan AS-Kuba juga tidak terlepas dari peran Paus Fransiskus. Raul mengakui, Paus Fransiskus menengahi keretakan hubungan Havana dengan Washington.

Namun, beberapa anggota Kongres AS, khususnya dari Partai Republik, menentang upaya Obama itu lantaran Kuba dianggap tidak serius dalam menegakkan HAM. Kuba juga masih dianggap sebagai negara yang mensponsori terorisme. Namun, AS memiliki kepentingan keamanan, khususnya terkait pangkalan Angkatan Laut AS di Kuba, Guantanamo Bay, yang pernah digunakan sejak tahun 1903.

Dan, gelagat bakal memburuknya hubungan AS-Kuba tatkala mendengar pernyataan Presiden AS yang baru terpilih Donald Trump, yang menentang normalisasi hubungan dengan Kuba.  Saat Fidel wafat, AS juga tidak mengirim delegasi lantaran menghindari kritik dari sejumlah kalangan yang menentang normalisasi hubungan AS-Kuba.

Trump pernah menyatakan akan membatalkan normalisasi hubungan dengan Kuba. “Ada banyak aspek dari hubungan AS-Kuba yang ditandai dengan konflik dan gejolak, tidak hanya selama rezim Fidel,” kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest, seraya memperlihatkan sikap AS yang meragukan Pemerintah Kuba dalam menghormati HAM. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Reuters/The Guardian/CNN/BBC
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s