Perayaan Natal di Antara Kebahagiaan dan Keprihatinan

NAIM Laziye meninggalkan Kota Aleppo, Suriah sejak tahun 2014. Dia kini menetap di Stuttgart, Jerman, bersama keluarganya. Sebagai pemeluk agama Kristen, Laziye merindukan perayaan Natal di rumahnya. “Saya merindukan perayaan Natal di rumah kami,” ucapnya.

Dia lalu mengenang kisahnya meninggalkan Aleppo, kota terbesar kedua setelah Damaskus di Suriah, yang luluh lantak akibat peperangan. Leziye bergegas angkat kaki dari Aleppo setelah para pemberontak menebar ancaman akan menculik anak-anak dari keluarga Kristen yang kaya.

Leziye memiliki dua anak, perempuan yang beranjak remaja dan yang bungsu berusia delapan tahun. Para pemberontak menargetkan anak-anak dari keluarga Kristen untuk mendapatkan uang. Orang tua yang ingin anaknya dibebaskan, harus membayar tebusan.

Khawatir anaknya menjadi korban penculikan, produsen jins terkenal di Aleppo itu bergabung dengan ribuan warga Suriah lainnya yang mengungsi ke Eropa. Dia harus membayar uang sebesar 65 ribu euro, kepada para penyelundup imigran, agar dapat menumpangi kapal menuju Eropa.

Leziye dan keluarganya menempuh perjalanan laut yang berbahaya. Bersama pengungsi lainnya, mereka berlayar ke perairan Turki, lalu ke Samos, pulau kecil di Yunani, dan ke Italia sebelum akhirnya menetap di Stuttgart. Dalam perjalanan itu, 12 dari 386 orang dilaporkan tenggelam, saat akan menyeberang ke Yunani dari Turki selama 10 bulan pertama di tahun 2016.

Tahun lalu, Leziye mendapat tawaran mendapatkan visa agar dapat menetap di Jerman. Tawaran itu diresponsnya. Apalagi, kala itu, negara-negara Eropa memperketat prosedur perizinan bagi imigran asal Suriah. “Saya tidak punya pilihan lain selain mencari alternatif,” katanya sambil menebar saus tomat ke adonan pizza yang diraciknya. “Tidak ada yang bisa saya lakukan,” imbuh pria berusia 40 tahun dengan tampilan manik-manik kalung salib yang terselip dibajunya.

Razan Karoni, satu dari lima ribu warga Suriah beragama Kristen, juga tak pernah membayangkan akan merayakan Natal di Istanbul, Turki. “Saya tidak pernah membayangkan berada di sini untuk merayakan Natal,” katanya. Karoni menginjakkan kaki di negara yang mayoritas penghuninya memeluk Islam itu sejak tahun 2011.

Dia hijrah dari Damaskus ke Istanbul bersama adiknya lantaran khawatir menjadi korban perang. Di Samatya, salah satu kawasan kuno, di Istanbul, Karoni bersama warga Suriah lainnya merayakan Natal dengan kesederhanaan. Terdengar nyanyian Natal usai sholat Dzuhur. Mereka menyiapkan pula sajian makanan dan minuman di aula gereja setempat. Di seberang jalan, sekelompok pemuda sedang menunggu dengan sabar di tangga sebuah bangunan yang kumuh.

Ingin Menetap di Eropa

Konflik di Suriah memang sangat memprihatinkan. Lebih dari 250 ribu jiwa tewas dan hampir 4,4 juta jiwa mengungsi. Peperangan juga menghancurkan infrastruktur di beberapa kota. Konflik itu hingga kini tak terurai. Rezim Suriah yang dikendalikan Presiden Bashar al Assad tak kompromi menghabisi musuh-musuhnya. Sementara para pemberontak ingin mengakhiri kekuasaan Assad. Warga Suriah yang menganut Kristen memilih mengungsi daripada terlibat dalam peperangan.

Di Turki, mereka bercampur dengan tiga juta warga Suriah yang bernasib sama. Kini, mereka dihadapkan dua pilihan: menunggu perang berakhir agar dapat pulang ke kampung halaman, atau menuju ke Eropa dan negara-negara lainnya untuk mencari masa depan yang lebih baik.

Di Turki, pengungsi Kristen Suriah, sering kesulitan mendapatkan akses pekerjaan, kesehatan, dan pendidikan. Karena, mereka enggan mendaftar ke badan pengungsi yang diorganisir otoritas setempat. Mereka umumnya lebih melirik negara-negara Eropa yang penduduknya mayoritas beragama Kristen. Fadi Barkdji misalnya. Saat merayakan Natal, lelaki berusia 23 tahun yang meninggalkan Aleppo tahun lalu itu berharap, mendapatkan hadiah visa ke Swedia dari Santa.

“Mereka sering merujuk ke Eropa dan mengharapkan negara-negara Eropa lebih memperdulikan (pengungsi) Kristen. Tetapi, (harapan) itu tidak (terlaksana) dalam prakteknya,” kata Kenan Gurdal, wakil ketua Beyoglu Virgin Mary Syriac Orthodox Church Foundation yang berbasis di Istanbul.

“Setelah kebrutalan mereka saksikan di Suriah dan Irak, mereka sekarang ingin hidup dalam komunitas Kristen,” kata Turgay Altinisik, anggota Beyoglu Virgin Mary Syriac Orthodox Church Foundation.

Sejauh ini, lanjutnya, baru Australia, Swedia dan Amerika Serikat (AS), yang menunjukkan minat untuk menampung pengungsi Kristen dari Suriah dan Irak. Lima bulan lalu, Australia menawarkan visa untuk 20 keluarga Kristen asal Suriah.

Banyak di antara pengungsi Kristen yang menolak tinggal di kamp-kamp pengungsian yang dikelola pemerintah Turki, termasuk yang dikelola Syriac Kadim Foundation dan kelompok Kristen lainnya. Alasannya, karena mengkhawatirkan keamanan. “Di kamp (pengungsian), orang-orang yang mendukung rezim, diganggu oleh para pemberontak, dan orang-orang yang mendukung pemberontak, diganggu oleh pendukung rezim,” kata Gurdal. Mereka juga enggan tinggal di kamp pengungsian lantaran takut dengan ulah para ekstremis.

Mereka juga enggan tinggal di kamp pengungsian yang dibangun kelompok Kristen lantaran tidak merasa nyaman. Mereka pun tidak ingin tinggal di Mardin, kota kuno yang berbatu dan berpasir di Turki bagian selatan, tidak jauh dari Suriah, yang menjadi jantung Kristen tradisional. “Kami melakukan semua yang kami bisa untuk membujuk mereka agar tinggal di wilayah tersebut,” kata Tuma Celik, anggota masyarakat Kristen Suriah.

Para pengungsi Kristen telah ditawarkan lahan pertanian gratis, penginapan di biara dan rumah. Tapi, kebanyakan di antara mereka memilih ingin melanjutkan perjalanan ke Eropa. Mereka rupanya trauma dengan peristiwa kekerasan masa lalu selama menetap di Suriah dan Irak. “Hampir semua menolak dan meninggalkan tawaran kami,” kata Celik.

Kini, sebagian para imigran Kristen itu dihantui putus asa setelah ditandatanganinya kesepakatan otoritas negara-negara Uni Eropa (UE) pada Maret lalu, untuk mengontrol masuknya imigran. Kedutaan Turki misalnya, menghentikan pemberian visa kepada warga Suriah.

Karenanya, Rasha Bernadette, 27 tahun, harus bolak-balik ke Lebanon dan Suriah untuk mengurusi visa. Dia ingin tinggal bersama suaminya yang cemas menunggu di Swedia. Pasangan baru menikah itu menghabiskan bulan madu di Turki. “Saya sudah melewatkan tiga kali wawancara di konsulat Swedia di sini karena kedutaan Turki di Lebanon tidak memberikan saya visa,” katanya.

Bernadette meninggalkan Homs, kota kelahirannya, menuju Damaskus, lalu terbang ke Kamishli, kota di perbatasan Suriah. Selanjutnya, dia menyeberang ke Turki secara ilegal, melompat kawat berduri, dan menghindari petugas jaga di wilayah perbatasan.

Pemimpin Katolik dunia, Paus Fransiskus pada pertengahan April lalu sempat bertandang ke kamp pengungsian Moria, Yunani. Kunjungan itu dilakukan kala otoritas UE memblokir kawasan perbatasan sehingga menyulitkan para pengungsi mendapatkan perlindungan. Untuk mengetuk para pemimpin UE, Paus Fransiskus membawa 10 orang pengungsi ke Vatikan, terdiri delapan warga Suriah dan dua imigran dari Afganistan.

Kedatangan Paus Fransiskus disambut hangat para pengungsi. Mereka berebut mencium tangan pemimpin Katolik dunia itu. Mereka juga bersimpuh, seraya berharap, Paus Fransiskus memperjuangkan nasibnya. Dengan raut wajah iba, Paus Fransiskus menyimak harapan itu. “Saya ingin memberitahu. Anda tidak sendirian,” kata Paus asal Argentina itu.

Kesederhanaan bukan Pesta

Saat menyampaikan pesan Natal di St, Basilika Petrus, Vatikan, Sabtu (24/12), Paus Franciskus mengkritik perayaan Natal yang disandera oleh kemilau materialisme, di antara bayang-bayang kelaparan, nasib para imigran, dan peperangan yang melelahkan. Pemimpin 1,2 miliar umat Katolik Roma itu menyesalkan perayaan Natal dengan hadiah, pesta, dan mementingkan diri sendiri.

Paus Fransiskus menekankan, pentingnya umat Nasrani agar lebih merendahkan hati, merayakan Natal dengan kesederhanaan, kelemahlembutan dan kasih sayang. Saat Yesus lahir, dia menjelaskan, kehadiran Yesus ditolak dan tidak dianggap banyak orang. “Hari ini  ketidakpedulian yang sama dapat eksis, ketika Natal menjadi pesta, di mana protagonis adalah diri kita sendiri, bukan Yesus. Kita perhatian terhadap hadiah, tapi dingin terhadap orang-orang yang yang terpinggirkan.” Dan, Paus Fransikus mengingatkan umat Nasrani jika Natal harus dibebaskan dari keduniawian yang menyandera.

Sementara di Irak, ratusan umat Kristen merayakan Natal di sebuah kota bagian utara yang sempat dikuasai militan Negara Islam (Islamic State). Perayaan itu merupakan kali pertama sejak tahun 2013. Sukacita bercampur kesedihan nampak dari raut wajah mereka.

Seorang perempuan, sambil memegang lilin pergi ke gereja di Kota Mar Shimoni, mengungkapkan kegembiraannya karena kembali ke rumahnya. “Ini adalah hari terbaik dalam hidup saya. Kadang-kadang, saya berpikir itu (perayaan Natal) tidak akan pernah datang,” kata Shurook Tawfiq, ibu rumah tangga berusia 32 tahun yang sempat mengungsi ke wilayah Kurdi, tak jauh dari Erbil.

Saat kota itu dikuasai militan IS, gereja dirusak, salib diturunkan, dan mimbar dibakar. Jelang perayaan Natal, sebuah salib dipasang, pohon plastik Natal pun menghiasi di dekat gerbang besar.

Gemuruh lonceng terdengar di kota yang masih kosong penghuninya lantaran rumah-rumah hancur akibat peperangan yang berkobar dua bulan lalu. “Ini (perasaan) bercampur antara kesedihan dan kebahagiaan,” kata Uskup, Mussa Shemani sebelum merayakan Misa Malam Natal.

Meski sedih dengan kondisi kotanya saat ini, namun Shemani senang dapat merayakan Natal. “Kami sedih melihat apa yang telah dilakukan di tempat-tempat suci kami. Tetapi, pada saat yang sama, kami senang merayakan Misa pertama setelah dua tahun.”

Di Gereja Mar Shimoni, jemaat melantunkan nyanyian pujian dan berdoa dalam bahasa Syria. “Ini gereja tempat saya dibaptis, di mana saya dididik, di mana saya diajari iman,” kata Bahnam Shamanny, editor Bartelli al-Syriann, sebuah koran lokal bulanan.

Saat dalam kendali IS, warga Kristen diultimatum untuk membayar pajak, masuk Islam atau dibunuh. Sebagian besar dari mereka melarikan diri ke wilayah otonomi Kurdi, di seberang sungai Zab bagian timur. Saat ini, warga yang kembali ke kotanya, memperbaiki rumahnya yang hancur. Meski demikian, kekhawatiran akan terjadi perang susulan masih menyelimuti. “Tapi kita akan tinggal di sini, di negeri kita apa pun yang terjadi. Tuhan bersama kita,” kata Shemani saat berkhotbah pada perayaan Natal di Bartella.

Di Bethlehem, kota kelahiran Yesus Kristus (Isa Almasih), umat Kristiani yang merayakan Natal berharap, kekerasan tak lagi terjadi. Suasana suka cita diekspresikan puluhan warga Palestina yang beragama Kristen. Mereka bercampur dengan para peziarah, mendatangi Manger Square, dekat Gereja Nativity, yang diyakini menjadi tempat Bunda Maria melahirkan Yesus. Beberapa pernik menghiasi pohon Natal ukuran raksasa di sana.

Perayaan Natal di kota yang terletak tak jauh dari Yerusalem, Tepi Barat yang diduduki Israel itu juga diramaikan parade para siswa, marching band, dan permainan musik. Aparat keamanan Palestina dikerahkan di beberapa titik untuk mengamankan perayaan Natal di sana. Lagu-lagu Natal dalam bahasa Arab terdengar dari speaker. Uskup Agung, Pierbattista Pizzaballa, turut merayakan Misa tengah malam di Betlehem.

“Rasanya cukup mengagumkan,” kata Valeria, wanita berusia 21 tahun dari negara bagian Wisconsin, AS. “Ini adalah Natal pertama saya yang jauh dari rumah. Tapi, ini benar-benar menakjubkan berada di Bethlehem,” ujar Ramzi Abu Khalil, yang mengenakan topi Santa berwarna merah. “Ini adalah tanah Kristus, tanah damai. Semua orang Kristen harus datang hari ini ke Betlehem. Ini adalah hari suci bagi kami,” imbuhnya.

Perayaan Natal di Bethlehem yang diakhiri dengan Misa pada Sabtu tengah malam di Gereja Nativity. Otoritas setempat menyediakan sekitar 2.500 tiket untuk para pendatang yang ingin merayakan Natal di kota religi itu. Para wisatawan juga disarankan untuk mengunjungi beberapa situs bersejarah di Yerusalem dan Nazareth. Pejabat kementerian pariwisata Israel memperkirakan, sekitar 120 ribu pengunjung akan datang pada Desember ini. Para pejabat Palestina berharap, jumlah pengunjung lebih banyak dari dari tahun lalu.

Pengamanan Ketat

Di Indonesia, perayaan Misa Natal di sejumlah daerah berlangsung aman dan hikmat. Namun, lantaran khawatir terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, selama prosesi Misa, aparat keamanan melakukan pengamanan yang ketat.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyempatkan memantau sejumlah gereja di Jakarta, yaitu GKI Panglima Polim, HKBP Menteng, Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, dan Gereja Katedral. Kapolri menegaskan, pihaknya akan menggelar Operasi Lilin 2016 selama 10 hari mulai 23 Desember 2016.

Di Gereja Katedral, Jakarta, dari pantauan Antara, Sabtu (24/12) sebanyak 116 petugas gabungan dari Polri, TNI dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dikerahkan untuk mengamankan prosesi Misa. Disiagakan pula alat pendeteksi logam (metal detector) untuk memeriksa setiap barang bawaan pengunjung gereja.

Pengamanan ketat juga terlihat di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Rawamangun, Jakarta. Semua orang yang akan masuk ke gereja diperiksa. Aparat kepolisian juga berjaga di pintu masuk gereja yang berseberangan dengan Posko Operasi Lilin 2016 di depan Gereja Keluarga Kudus.

Suasana ibadah di GPIB Immanuel juga dalam pengamanan ketat. Satu unit mobil barracuda, dan puluhan personil Polri dan TNI dikerahkan. Mesin metal detector juga dioperasikan untuk memeriksa setiap jemaat yang memasuki gereja.

Pengamanan ketat juga dilakukan aparat kepolisian saat Misa malam Natal di Bogor, Jawa Barat. Di Gereja Katedral Paroki Santa Perawan Maria Kota Bogor, prosesi Misa yang diikuti sekitar 10 ribu jemaat, mendapat pengamanan ketat aparat keamanan. Selain melibatkan Polri dan TNI, pengamanan juga dilakukan Satpol PP, DLLAJ, Pramuka, dan GP Anshor.

Di Jayapura, sebanyak 400 personil dikerahkan mengamankan prosesi Natal di 40 gereja yang tersebar. Pengaman ketat juga dilakukan di beberapa gereja di daerah lain di Indonesia.

Pengamanan ketat dilakukan lantaran ada kekhawatiran adanya gangguan keamanan dari kelompok tertentu yang tidak bertanggungjawab. Apalagi, belum lama ini, aparat kepolisian membongkar jaringan kelompok radikal. Beberapa waktu lalu, peristiwa yang mengusik nurani kemanusian terjadi.

Intan Olivia Marbun, balita berusia 2,5 tahun, menghembuskan nafas terakhir akibat serangan bom molotov yang menyasar ke jamaat Gereja Oikumene, di Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Serangan itu juga mengakibat bocah lain, Triniti Hutahaya (tiga tahun) mengalami luka bakar serius, termasuk beberapa korban lainnya.

Tindakan Intoleransi 

Lalu, sempat muncul kekhawatiran akan terjadi gesekan jelang perayaan Natal. Di Jambi misalnya, digemparkan oleh dugaan tindakan penistaan agama Islam. Oknum itu membuat hiasan Natal yang bertulis lafaz Allah SWT. Ornamen itu dipajang di Hotel Novita, di Kota Jambi. Gubernur Jambi Zumi Zola dan Kapolda Jambi Brigadir Jenderal Polisi Yazid Fanani turun tangan untuk mengantisipasi kemarahan umat Islam di Jambi yang tentu tidak menerima lafaz Allah menjadi telapak kaki di ornamen Natal.

Hotel Novita pun didatangi warga, polisi, TNI, termasuk ormas Front Pembela Islam (FPI) Jambi. Ketua FPI Kota Jambi, Ahmad Sukri, mengecam tindakan penistaan agama Islam yang diduga dilakukan manajemen Hotel Novita itu. Zumi Zola juga sangat menyesalkan tindakan oknum tersebut. Dia mendesak persoalan itu diselesaikan secara hukum. “Saya sangat keberatan. Saya sudah bicara kepada Kapolda Jambi harus ada yang bertanggung jawab dan selesaikan secara hukum,” tegas Zola. Hotel Novita pun ditutup atas perintah Zumi Zola. Gubernur muda itu juga menyerukan semua pihak tidak terprovokasi dan tetap menjaga situasi kondusif di Jambi.

Khalayak juga sempat dihebohkan rencana sweeping yang dilakukan Ormas FPI di Sragen, Jawa Tengah, jelang perayaan Natal. Aksi itu dilakukan menyusul terbitnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 56/2016 tentang Hukum Penggunaan Atribut Keagamaan Nonmuslim di mal-mal dan pusat perbelanjaan, terutama atribut Natal. Di Sragen, sempat terjadi percekcokan antara Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) FPI Sragen, Mala Kunaifi dengan Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Sragen AKBP Polisi Cahyo Widiarso.

Cahyo bersama anak buahnya berupaya mencegah massa Ormas FPI yang ingin masuk ke swalayan Mitra Sragen untuk memeriksa pegawai yang menggunakan atribut Natal, Rabu (21/12) lalu. Percekcokan itu dipublikasikan ke Youtube oleh akun Sukowati Channel, Kamis (22/12). Cahyo tidak mengizinkan anggota FPI masuk ke pasar swalayan untuk melakukan razia.

“Tidak ada ormas yang bisa menggeledah dan merazia,” ujar Cahyo. Namun, Mala membantah jika tindakan yang akan dilakukan FPI itu dianggap merazia. Dia hanya ingin memastikan tidak ada penggunaan atribut Natal bagi pegawai swalayan yang beragama Islam.

Lalu, anak buah Cahyo, Briptu Ali, nimbrung dalam perdebatan. Kepada Mala, Ali mengingatkan, tidak bisa melarang pemilik toko. “Antum enggak bisa ngelarang ranahnya pemilik toko. Antum itu gimana sih. Rahmatan lil alamin-nya di mana?” tegas Ali. Mala tak mau kalah. Dia memotong ucapan Ali. “Sebentar Pak Ali. Saudara, Pak Ali Islam?” “Iya!” jawab Ali. “Terus mau dikafirkan?” sambut Mala.  Mendengar pernyataan Mala itu, tensi Ali meninggi. “Enggak ada itu perannya jenengan (Mala)!”

“Itu perannya ulama,” kata Cahyo ikut nimbrung. “Lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu, untukku agamaku) itu ayat Allah. Kamu jangan macam-macam!” tegas Ali. Mala berupaya membalas. “Sebentar Pak Ali, yang memakai bukan mereka (pegawai beragama Nasrani), yang memakai orang kita (pegawai beragama Islam).” Tapi, Ali tak mau kalah. “Orang kita kerja di sini (swalayan), cari nafkah.”

*****

Persoalan yang mengusik harmoni sosial itu tentu tidak boleh dibiarkan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam rilisnya berharap, semua pihak dapat mengedepankan sikap saling menghormati dan toleransi untuk merawat kerukunan dan kedamaian. Lukman mengingatkan semua pihak berlapang dada, menghormati umat Kristiani merayakan Natal, sembari berharap umat Kristiani dengan kesadaran menghormati para pihak yang tak merayakan Natal.

Lukman juga berharap semua pihak saling menghormati jika ada yang tak mengucapkan Selamat Natal atas dasar pemahaman keyakinannya dan menghormati mereka yang mengucapkannya. Kepada umat Kristiani yang merayakan Natal, Lukman mengucapkan selamat bersuka cita, berbahagia, dan tetap dalam kesederhanaan serta menabur kebaikan.

Sentimen, prasangka, dan tindakan intoleran, tentu tidak bisa dibiarkan. Tidak cukup sekadar diselesaikan dengan himbauan, arahan, dan peringatan. Perlu pendekatan dialogis dan penegakan hukum. Jika tidak, bisa memperuncing konflik. Saat ini, nampak kerisauan atau keluhan (grievance) yang disuarakan salah satu pihak terhadap pihak lain. Keluhan muncul lantaran hak-haknya dilanggar, atau diperlakukan secara tidak wajar dan diinjak harga dirinya.

Jika tidak segera direspons, maka akan mengarah konfrontasi yang diaktualisasikan dalam luapan kekecewaan suatu kelompok. Kekecewaan itu bisa memunculkan reaksi negatif dari pihak lain, yang memicu ketegangan dan rawan menggiring konflik antarkelompok. Dalam kondisi demikian, perlu pengendalian (controlled) dan penyelesaian secara bersama-sama. Dialog harus dikembangkan secara bijak agar tidak berkembang menjadi kekerasan.

Bangsa ini kini dihadapkan ujian. Perbedaan sebagai realitas terusik oleh tindakan intoleransi, konfrontasi, dan sentimen yang kian memperlebar polarisasi. Jika dibiarkan, bisa memunculkan konflik manifest. Karenanya, perlu terus dibangun dialog dan interaksi yang baik guna mengikis pandangan, sikap dan perilaku yang intoleran dan diselimuti prasangka. Dengan begitu, keanekaragaman kian mengukuhkan harmoni sosial. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : AFP/Reuters/ Politico/Antara
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s