Peringatan Untuk Rusia

DELAPAN peluru menghujam tubuh Andrey Karlov. Seketika, tubuh Karlov ambruk ke lantai. Duta Besar Rusia untuk Turki itu tiba-tiba ditembak secara membabi buta saat memberikan sambutan pada acara pembukaan galeri seni dan foto di Kota Ankara, Turki, Senin (20/12) malam. Karlov sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawanya tak tertolong.

Suasana di ruang galeri kala itu mencekam. Orang-orang yang menghadiri acara itu ketakutan. Tak ada yang berani melawan pelaku penembakan yang diketahui bernama Mevlut Mert Altintas. Media Turki melaporkan, pria berusia 22 tahun itu adalah polisi Turki.

Belum diketahui Altintas memiliki hubungan dengan kelompok radikal tertentu. Namun, kelompok radikal Islamic State of Iraq and Al-Sham (ISIS) atau Islamic State (IS) lewat medianya mengapresiasi pembunuhan terhadap Karlov. Altintas kemudian tewas setelah baku tembak dengan aparat keamanan Turki.

Tidak ada yang mengira, lelaki berpakaian rapi, memakai jas dan dasi itu akan melakukan penyerangan. Dalam penyerangan ada pesan yang disampaikan Altintas. Usai target yang dibidiknya tergeletak, dia berseru, “Jangan lupa Aleppo. Jangan lupa Suriah. Anda tidak akan merasakan aman kecuali kami aman. Hanya kematian bisa mendapatkan saya keluar dari sini. Siapa pun yang turut dalam tirani ini, akan membayarnya satu per satu,” seru lelaki itu berbahasa Arab dan Turki.

Pernyataan Altintas itu mengingatkan pemerintah Rusia akan penderitaan rakyat Suriah di Aleppo, dan kota-kota lainnya yang menjadi korban peperangan. Pemerintah Rusia merupakan sekutu Pemerintah Suriah yang turut mengerahkan kekuatan militer untuk menghabisi para pemberontak yang berupaya menggulingkan kekuasaan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Aleppo yang disebut-sebut Altintas adalah kota terbesar kedua di Suriah setelah Damaskus, yang luluh lantak akibat serangan via udara. Pesawat tempur milik Rusia, Sukhoi SU-24, dilaporkan turut menghujani Aleppo dengan bom.  Tak sedikit warga sipil yang menghuni basis para pemberontak itu tewas.

Rabu malam (21/9) lalu, Aleppo laksana neraka. Kota di bagian utara Suriah itu menjadi medan pertempuran yang mengerikan. Serangan udara militer pro Assad menghujani kota itu dengan bom. Desing mortir pun bertalu sepanjang malam. Aleppo baru tenang setelah hujan membasahi kota di kala subuh menyapa.

Serangan militer itu tak hanya menghancurkan kota. Namun, juga mengakibatkan terhambatnya pendistribusian bantuan internasional untuk warga sipil yang terperangkap di wilayah yang dikuasai oposisi.

Para pejabat Amerika Serikat menyakini, pesawat Rusia bertanggung jawab atas serangan itu. Mereka menyebut, dua pesawat Rusia, Sukhoi SU-24, terbang di atas konvoi bantuan. Menteri Luar Negeri AS John Kerry mendesak Rusia dan Suriah segera menghentikan serangan udara setelah upaya gencatan senjata gagal.

Dalam pernyataan yang emosional, Kerry yang berhadapan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Dewan Keamanan PBB di New York menegaskan, pengeboman terhadap konvoi bantuan untuk korban perang di Suriah, memicu keraguan yang mendalam terhadap Rusia dan rezim Assad dalam mendorong gencatan senjata.

Namun, Moskow membantah. Kementerian Pertahanan Rusia menganggap tuduhan itu menebar kebencian dan memicu kemarahan. Moskow tidak mengakui konvoi bantuan itu hancur akibat serangan udara. Mereka justru mengklaim jika belasan truk yang mengangkut bantuan itu dibakar oleh militan pemberontak dengan menggunakan senjata berat.

Rusia juga menganggap tuduhan itu sebagai upaya mengalihkan perhatian dari serangan udara yang dilakukan pasukan koalisi pimpinan AS kepada militan IS di timur kota Deir al-Zour sebelumnya yang menewaskan puluhan tentara Suriah.

Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Rusia, diberlakukan pada 12 September lalu dengan tujuan memfasilitasi akses bantuan ke warga sipil di daerah yang terkepung militan IS.

Namun, ketegangan meningkat antara AS dan Rusia sejak serangan 17 September yang dilancarkan koalisi yang dipimpin AS terhadap IS yang menewaskan puluhan tentara Suriah di Deir al-Zor bagian Timur. Washington mengklaim serangan dilakukan untuk memukul militan IS.

******

Serangan brutal yang menewaskan Karlov itu terjadi sehari setelah protes massa yang berlangsung di Turki terkait intervensi militer Rusia di Suriah. Insiden itu juga terjadi di kala perwakilan Turki, Rusia, dan Iran, berencana mengelar pertemuan di Moskow pada Selasa (21/12) untuk membahas situasi di Aleppo.

Rusia dan Turki secara resmi melakukan normalisasi hubungan yang sempat meregang pada Juni lalu ketika Turki menembak jatuh sebuah jet Rusia di wilayah perbatasan Turki-Suriah. Dalam menyikapi persoalan Suriah, Turki-Rusia juga sempat bersitegang terkait masa depan Assad di Suriah. Walikota Ankara, Melih Gokcek menilai, serangan itu ditujukan untuk mengganggu hubungan Turki-Rusia.

Presiden Turki, Tayyip Erdogan sudah menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin melalui telepon. Keduanya membicarakan insiden tersebut. Erdogan dan Putin menganggap penyerangan tersebut merupakan upaya provokatif yang bertujuan merusak hubungan kedua negara. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Putin juga menganggap, penyerangan itu untuk mengganggu upaya kedua negara dalam mendorong proses perdamaian di Suriah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova menyatakan, Pemerintah Turki telah memberikan jaminan akan ada investigasi menyeluruh, dan menghukum para pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry menyatakan AS siap menawarkan bantuan ke Rusia dan Turki. AS juga berencana menyelidiki serangan tersebut karena dapat menjadi preseden yang mengancam para diplomat masing-masing negara.

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson juga terkejut mendengar pembunuhan tersebut. “Pikiran saya adalah keluarganya. Saya mengutuk serangan pengecut ini,” tegasnya. Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Maiziere mengatakan, negaranya berdiri bersama Turki dalam menghadapi terorisme. Presiden Prancis Francois Hollande juga mengutuk pembunuhan tersebut. Begitu pula ulama dan intelektual Turki yang menetap di AS, Fethullah Gulen.

Turki adalah negara yang dihuni mayoritas Muslim Sunni. Begitu pula Suriah yang dihuni mayoritas Sunni, tetapi kekuasaan pemerintahan dikendalikan Muslim Syiah. Seperti diketahui, Sunni-Syiah, dua kubu yang sudah lama berseteru yang mengakibatkan konflik Suriah bersifat sektarian. Assad yang berhaluan Alawi, salah satu aliran Syiah, menggalang dukungan pengikut Syiah.

Di Suriah, penganut Alawi terus berkembang. Ada sekitar 1,5 juta orang pemeluk aliran itu. Para pendukung Assad itu dikondisikan untuk berhadapan dengan kelompok pemberontak Sunni, di antaranya FSA, kelompok jihad Salafi, Front al-Nusra yang pernah berafiliasi dengan Al Qaeda, militan IS, dan kaum Kurdi.

Konflik kian brutal lantaran campur tangan pihak asing. Iran yang menjadi kiblat Syiah, diketahui berada di belakang rezim Assad. Bersama Rusia, China, dan negara-negara lain, Iran mendukung tentara pemerintah menghabisi para pemberontak.

Sementara Arab Saudi, yang ingin tetap mempertahankan pengaruh Sunni di kawasan Teluk, berupaya memobilisasi kekuatan oposisi untuk menjatuhkan kekuasaan Assad. Suriah juga seakan menjadi panggung unjuk kekuatan yang dilakukan AS, Qatar, Turki, Uni Eropa, dan Hizbullah di Lebanon.

Rezim Assad membentuk aliansi strategis Iran-Suriah yang dinamakan Poros Syiah (Iran-Irak-Suriah-Hizbullah di Lebanon). Poros itu dianggap dapat mengancam dominasi Sunni yang didukung Arab Saudi, Qatar, dan juga Israel.

Suriah juga menjadi ajang perebutan jalur pipa gas antara Qatar dan Iran. Kedua negara itu berupaya menguasai ladang gas dengan cadangan terbesar di dunia itu. Demikian pula Eropa dan AS yang mendukung Sunni demi tujuan merealisasikan jalur pipa gas dari Qatar, Arab Saudi, Yordania, Suriah, dan Turki. Dengan begitu, Eropa mengurangi ketergantungan gas dari Rusia. Keterlibatan negara-negara asing itu yang menyebabkan kedamaian di Aleppo menghadapi jalan buntu.

Karlov, 62 tahun, telah mengurusi urusan luar negeri Rusia sejak tahun 1976. Lulusan Moskow Institute, jurusan Hubungan Internasional itu adalah diplomat veteran yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Uni Soviet untuk Korea Utara tahun 1980-an. Setelah Uni Soviet bubar pada tahun 1991, dia menjadi Duta Besar Rusia untuk Korea Selatan. Lalu, dia ditugaskan menjadi Duta Besar Rusia untuk Korea Utara selama lima tahun sejak tahun 2001. Sebagai pejabat konsuler, dia mengawasi pelaksanaan 236 misi diplomatik Rusia di 146 negara.

Sejak Juli 2013, lalu, Karlov ditugaskan di Ankara. Dia bekerja saat hubungan diplomatik Rusia-Turki mengalami krisis lantaran pesawat Turki menembak jatuh jet Rusia di dekat perbatasan Suriah. Permintaan maaf Turki tidak begitu saja diamini Rusia. Moskow membekukan penerbangan komersil untuk wisatawan Rusia.

Menurut Zakharova, Karlov adalah diplomat Rusia yang telah melakukan banyak hal untuk melawan terorisme. “(Dia) akan tetap berada di hati kita selamanya,” katanya. Saat insiden penembakan pesawat Su-24 Rusia di perbatasan Turki-Suriah, akhir 2015 lalu, dalam wawancara pada Februari 2016, Karlov menyalahkan Turki. Dia juga menolak tudingan Turki jika jet Rusia berupaya memasuki wilayah udara Turki. Dia juga menegaskan, tidak ada bukti pesawat tempur Rusia melakukan pengeboman terhadap warga sipil di Suriah.

Kepada kantor berita Rusia Tass, Karlov menilai, Turki melakukan tindakan yang semakin membuat permusuhan terhadap Rusia. “Dalam keadaan seperti ini, saya tidak melihat prospek untuk normalisasi hubungan.”

Karlov pun menyatakan, perannya di Turki adalah melindungi kepentingan nasional Rusia dan memberikan informasi yang berisi. Sementara media di Turki, katanya, sering menyajikan pemberitaan yang menempatkan Rusia sebagai musuh. Namun, Karlov menilai, warga Turki tidak menunjukan adanya permusuhan. “Kami memiliki banyak teman yang baik dan dapat diandalkan di sini. Saya yakin, tidak ada upaya yang dapat merusak persahabatan ini.” | M. Yamin Panca Setia

Sumber : BBC/Reuters/The Independent/AFP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s