Perempuan dalam Bidikan Kelompok Radikal

TAK kenal maka tak sayang. Begitu pepatah mengajarkan cara dalam pergaulan. Perasaan sayang dan cinta memang tidak muncul tiba-tiba. Namun, tumbuh lewat proses interaksi antarsesama. Apalagi, bagi lelaki dan perempuan yang berencana menikah.

Setidaknya, perlu interaksi guna mengetahui sifat, karakter, dan keseriusan cinta di antara keduanya sebelum menikah. Tentu, dalam proses interaksi tersebut, tidak melakukan hal-hal diharamkan agama. Apalagi, sampai hamil di luar nikah. Pernikahan pun perlu diumumkan dan diwalimahkan, agar keluarga, tetangga, handai taulan mengetahuinya. Tujuannya, untuk menghindari fitnah. Pernikahan yang mulia juga disambut sukacita, dengan harapan mendapat ridho Allah SWT agar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan wa rahmah.

Pernikahan juga harus sejalan dengan aturan hukum yang berlaku. Menurut UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, sebuah pernikahan sah apabila dilakukan menurut hukum agama dan harus dicatat di kantor urusan pencatatan pernikahan, Kantor Urusan Agama (KUA). Tujuannya, agar pernikahan mendapatkan bukti otentik dan keabsahannya diakui oleh negara. Hal ini terkait dengan jaminan hak-hak suami-istri, termasuk demi kepentingan masa depan anaknya.

Tetapi, hal yang menjadi syarat dan lazimnya dalam pernikahan itu tidak dilakoni pasangan M Nur Solihin dengan Dian Yulia Novi. Dalam wawancara dengan TV One (13/12), dua terduga pidana terorisme itu menikah, meski tidak begitu saling mengenal. Apalagi, atas dasar cinta. Hanya dengan berinteraksi via media sosial, mereka sepakat menikah.

Prosesi yang berlangsung pun tertutup, tanpa dihadiri orang tua kandung atau wali yang sedarah dengan kedua mempelai. Keduanya juga tidak mengabadikan momen indahnya. Apalagi, berbulan madu. Dian, mempelai wanita pun tak keberatan dipersunting Solihin yang sudah beristeri dan memiliki anak. Tak diketahui pula apakah isteri pertama Solihin merestui pernikahan suami itu.

Dan, yang rada janggal, tujuan pernikahan mereka bukan ingin mempunyai keturunan yang baik dan membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan wa rahmah. Pasalnya, sang mempelai wanita, juga menjadi “pengantin” yang dipersiapkan untuk aksi bom bunuh diri di pos Pasukan Pengaman Presiden (Paspamres) di depan Istana Merdeka, Jakarta.

Solihin berdalih, tujuan menikahi Dian tidak sekadar membangun keluarga sakinah mawadah dan wa rahmah di dunia. Tetapi, tujuan utamanya adalah akherat. “Tujuan utama kita (menikah) adalah akherat,” katanya.

Sementara proses pernikahan yang cenderung dirahasiakan, Solihin beralasan, jika diketahui orang banyak, maka akan bocor tujuan amaliyah dari pernikahannya. Karenanya, pernikahan pun tidak menghadirkan wali dari pihak keluarga. Dan, Solihin mengaku, dia menikahi Dian bukan atas dasar cinta karena sejak awal tidak mengenal Dian. Solihin pun menegaskan, jika keinginan Dian untuk melakukan bom bunuh diri sudah lama.

Dian bersedia menjadi “pengantin” tidak terlepas dari referensinya tentang paham-paham radikal yang didapat dari internet. Bahkan, dia mengaku, pengetahuannya tentang jihad berasal dari Bahrun Naim, sosok yang paling diburu Kepolisian Republik Indonesia (Polri) lantaran diduga menjadi otak serangan bersenjata di Sarinah, Jakarta, 14 Januari lalu. Bahrun diketahui menjadi bagian dari kelompok radikal, Islamic State of Iraq and Al-Sham (ISIS) atau Islam State (IS).

Mungkin, lantaran itu Bahrun menjadi magnet yang menyedot Dian agar menuruti arahannya melancarkan serangan bom bunuh diri dengan meledakan pos Paspampres di depan Istana Merdeka. Lelaki kelahiran Pekalongan, 6 September 1983 memang tak bisa dianggap sepele. Dia telah mengembangkan sayap hingga ke Suriah seperti dijelaskan dalam blognya bahrunnaim.co yang sudah ditutup oleh pemerintah. Di blog itu, Bahrun mengisahkan perjalanannya ke Suriah di tahun 2014, bersama satu anak dan dua istri.

Bahrun termasuk wajah lama dalam aksi terorisme. Sebelumnya, dia pernah menjadi residivis dan dipenjara selama 2,5 tahun lantaran memiliki amunisi sejata api berbagai jenis pada tahun 2010.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai, pernikahan dengan tujuan merekrut “pengantin” untuk tindakan terorisme tidak sejalan dengan pandangan Islam. Menurut dia, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, bukan sekadar janji dua manusia, tetapi janji manusia dengan Allah SWT.

Dian mengaku berkomunikasi dengan Bahrun selama tiga hari lewat dunia maya. Dan, atas arahan Bahrun, Dian diminta untuk meledakan pos Paspampres di depan Istana Merdeka. Meski tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan Bahrun, Dian mengamini.

Dian juga siap merelakan nyawanya dengan tujuan jihad setelah dibaiat oleh Solihin. “Saya dibaiat, teksnya dibacakan beliau. Saya mengikuti,” kata perempuan kelahiran Cirebon, 4 Juli 1989 itu.

Dian menyakini jika cara yang akan dilakukannya itu adalah kebenaran, meski nyawa menjadi taruhan. “Tujuannya berharap pada ridho Allah, dengan jalan untuk melakukan ijtihad tersebut.” Dia menegaskan, rencana melakukan bom bunuh diri bukan karena putus asa lantaran ingin mengakhiri hidup. Tetapi, ingin mengapai ridho Allah SWT dan jihad fisabillilah.

Pemahamannya tentang jihad banyak didapat di media sosial. Selama setahun terakhir, Dian aktif menelaah informasi seputar jihad yang kemudian menginspirasinya untuk menjadi “pengantin”. “Ada satu tahun saya aktif mempelajari. Saya menyimak dan semakin penasaran. Lalu, saya beranikan untuk bertanya.”

Selain mengupas tema-tema tentang jihad, dibahas pula tentang muamalah, fiqih, akidah, sejarah Islam, dan sebagainya. Literatur yang didapatnya via internet itu dalam bentuk artikel dan audio text.

Jelang menjalankan aksinya, Dian sempat menulis surat wasiat untuk suami dan orang tuanya. Kepada Solihin, Dian mengungkap rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memperjodohkannya walau hanya sekejap. Meski tak banyak kenangan dengan suaminya, Dian merasa sudah cukup merasakan indahnya menjadi istri walau masih jauh dari predikat istri sholeha. Dian menyakini cinta itu tumbuh dan semoga abadi sampai jannah-Nya.

Dian pun meminta maaf jika ada kesalahan dan berharap suaminya ikhlas dan meridhai kepergiannya. Dia minta didoakan agar “dagangannya” diterima Allah SWT dan mendapatkan nikmat syahid.

Kepada orang tuanya, Dian menyakinkan jika cara yang dilakukannya karena kehendak Allah SWT. Dian berpesan agar orang tuanya shalat lima waktu, tidak menyekutukan Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. “Dan bila kalian ingat pesanku, Insya Allah kelak kita akan berkumpul kembali di alam yang lebih indah,” tulisnya. Dian pun berharap, orang tuanya tidak membenci jalan yang telah dilakukannya.

******

Rencana meledakan pos Paspampres itu rupanya terdeteksi intelijen antiteror. Dian ditangkap di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 10 Desember 2016. Di hari yang sama, Solihin, Agus Supriyadi, dan Suyanto alias Abu Iza juga ditangkap di lokasi berbeda, di Bekasi, Jakarta dan Solo. Polisi juga mengamankan isteri Solihin, berinisial APM saat berada di Solo Square.

Dari hasil pemeriksaan, Solihin diketahui melakukan aktivitas yang tidak wajar, yaitu membeli tiga kilogram paku di toko material. Padahal, kala itu yang bersangkutan tidak sedang melakukan aktivitas pembangunan.

Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (15/12), Solihin membeli paku tersebut pada 7 Desember 2016. Kemudian, dia menerima tas ransel dari Suyanto alias Abu Iza di Karanganyar, Jawa Tengah. Setelah menerima ransel, Solihin dan Agus pergi ke Jakarta untuk menjemput Dian yang kala itu membawa kardus. Ketiganya menuju ke Kantor Pos untuk mengirim kardus ke rumah orang tua Dian di Cirebon, Jawa Barat.

Setelah itu, Solihin dan Agus mengantar Dian ke rumah kontrakannya di Jalan Bintara Jaya 8, Bekasi. Tim Densus 88 kemudian menangkap Solihin dan Agus di jalan layang Kalimalang, Bekasi. Sementara Dian diringkus di kontrakannya. Dari proses penyelidikan, polisi mendapatkan barang bukti berupa bom rakitan berbentuk penanak nasi elektronik (rice cooker) di kamar 104 kontrakan tiga lantai itu. Tim Gegana Polda Metro Jaya meledakkan satu dari tiga bom aktif yang ditemukan itu.

Peledakan pos Paspamres itu rencananya akan dilakukan pada Minggu (11/12) pagi, saat pergantian petugas jaga. Aksi itu juga diduga kuat melibatkan Bahrun Naim. Solihin mengaku, ditugaskan oleh Bahrun untuk mengatur proses eksekusi.

“Untuk masalah bom, saya tidak terlalu tahu. Saya tahunya barang (bom) sudah jadi. Kita racik bareng. Gitu saja. Target, jam, waktu dan sebagainya yang menentukan adalah Bahrun Naim.” Sementara soal persiapan eksekusi, Solihin mengaku, sudah mengajarkan Dian saat menyerahkan bom tersebut di kontrakannya.

Polisi terus bergerak, membongkar jaringan kelompok radikal lainnya. Minggu (18/12) lalu, tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menggeledah rumah dua terduga teroris yaitu Tri Setyoko di Kampung Sewu RT 01 RW 07 Kecamatan Jebres, Solo, dan Yasir di Losari, RT 04 RW 02 Semanggi Serengan, Solo, Jawa Tengah. Namun, polisi tidak menemukan benda-benda berbahaya.

Densus hanya menemukan empat paspor dan buku nikah yang dibungkus dengan kantong kertas warna cokelat dan dimasukkan ke dalam mobil Labotorium Forensik Polresta Surakarta. Kasat Reskrim Polresta Surakarta, Kompol Agus Puryadi kepada Antara (18/12) di lokasi penggeledahan menjelaskan, Tri Setyoko dan Yasir ditangkap karena diduga ada hubunganya dengan penangkapan yang dilakukan Densus di Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (15/12). Dalam penangkapan tersebut, Densus mengamankan terduga teroris Ika Puspitasari (34 tahun), warga Dusun Tegalsari, Desa Brenggong, Kabupaten Purworejo.

Ika ditangkap di musholah Dusun Tegalsari, Desa Brenggong, Kecamatan Purworejo. Saat itu, dia sedang ikut mempersiapkan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tim Densus menyita beberapa barang bukti berupa buku, telepon seluler, paspor, dan identitas terduga. Selanjutnya, Ika dibawa ke Polres Purworejo untuk diperiksa.

Iming-Iming

Terungkapnya jaringan teroris Solihin yang melibatkan perempuan menunjukan ada modus baru dalam aksi terorisme, dengan memanfaatkan perempuan sebagai martil. “Itu modus baru. Mereka menggunakan wanita. Tetapi, dalam dunia terorisme, itu bukan hal baru,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Di India, Tito mencontohkan, kasus pembunuhan Rajiv Gandhi dengan cara bom bunuh diri dilakukan oleh seorang perempuan yang mengalungkan Gandhi dengan bunga. “Ternyata, kalung bunga itu kabel yang merupakan peledak,” katanya. Aksi bom bunuh diri yang dilakoni perempuan juga terjadi di Suriah, Irak, dan Afganistan. “Di Jordania, (pengeboman) Hotel JW Mariot juga dilakukan oleh wanita. Itu (memanfaatkan wanita) sangat biasa karena wanita dianggap tidak mencurigakan.”

Dalam beberapa kasus, memang ditemukan ada beberapa perempuan yang setia mengabdi kepada ISIS. Dan, hampir serupa pengalaman mereka. Bahrun sendiri menikahi perempuan, bernama Siti Lestari, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo, yang tidak diketahui kabarnya. Siti diduga dibawa Bahrun ke Suriah.

Para perempuan yang terbuai ajaka ISIS juga memahami paham radikal lewat interaksi dengan perekrut ISIS via internet. Pengalaman Shannon Maureen Conley misalnya. Wanita asal Colorado, Amerika Serikat (AS) yang kini berusia 20 tahun itu, mempelajari paham-paham radikal secara online. Lalu, dia merasa perlu meluruskan kesalahan persepsi masyarakat global terhadap umat Islam. Conley yang menjadi muallaf, memutuskan untuk menggunakan keahliannya sebagai perawat guna membantu militan ISIS.

Ayahnya terkejut atas sikap dan pandangannya. Conley diminta untuk berubah. Namun, dia bergeming. Perempuan itu bergegas memenuhi panggilan via skype. Lalu, membeli tiket pesawat untuk menuju Istanbul, Turki. Dari sana, dia diarahkan untuk masuk ke Suriah, khususnya wilayah yang menjadi basis ISIS.

Namun, 8 April 2014, Conley ditangkap di Bandara Denver. Aparat meringkusnya sebelum naik ke pesawat. Dia didakwa bersalah karena memberikan dukungan untuk ISIS. Hakim federal memvonisnya empat tahun penjara. Conley mengaku ingin menjadi “pengantin” dan berpartisipasi dalam jihad di Timur Tengah. Dia adalah salah satu perempuan, warga AS yang dihukum karena mendukung ISIS.

Keputusan Conley untuk bergabung dengan ISIS tidak atas dasar kemauan sendiri. Namun, sebelumnya, dia telah berkomunikasi dengan perekrut ISIS secara online. Lewat lini maya, dia diajarkan materi seputar gerakan radikal. Dan, menurut dokumen pengadilan, dia telah berada dalam radar FBI selama hampir satu tahun sebelum ditangkap.

FBI mengintainya setelah gereja setempat menuduhnya menargetkan gereja. Conley membela diri. “Jika mereka pikir aku seorang teroris, saya akan memberi mereka sesuatu agar berpikir (objektif) tentang saya,” katanya dalam sebuah wawancara dengan FBI. Namun, dia mengaku, selama beberapa bulan, telah mempertimbangkan untuk pergi ke Irak dan bergabung dengan kamp pelatihan jihad. Dia juga ingin jihad di AS.

Keterlibatan perempuan dalam gerakan radikal, memang bukan fenomena baru. Dalam beberapa dekade, perannya sangat penting dalam mendukung organisasi radikal. Di Irlandia, di tahun 1970-an, tak sedikit perempuan menjadi bagian dari Tentara Republik Irlandia yang begitu militan. Lalu, di tahun 1980 dan 1990-an, pelaku bom bunuh di Sri Langka, Macan Tamil, sebagian besar adalah perempuan.

Saat ini, tak sedikit perempuan yang dibaiat untuk setia kepada ISIS. Keterlibatan perempuan itu tidak harus bergabung di medan perang. Bisa tugas lain seperti diperbantukan dalam merekrut anggota baru guna menjadikan ISIS sebagai kekuatan besar, termasuk dinikahi oleh militan untuk mempertahankan generasi militan berikutnya. Sedangkan bagi laki-laki, kesetiaan kepada ISIS dibuktikan dengan keterlibatan di medan peperangan.

Menurut laporan New York Times, ISIS telah merekrut sebanyak 30 ribu warga asing selama lima tahun terakhir untuk dijadikan martir. Pemerintah AS memperkirakan, sekitar 250 orang warganya diketahui mencoba dan berhasil ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. George Washington University (GWU) Center for Cyber dan Homeland Security mengungkap, sekitar 13 akun perempuan di dunia maya yang diduga terkait ISIS. “Kami melihat ada kebangkitan dalam keterlibatan perempuan dalam kelompok teroris,” kata Audrey Alexander, peneliti GWU.

Keterlibatan perempuan dalam gerakan radikalisme bukan karena kebetulan. Namun, sengaja dipersiapkan oleh para perekrut ISIS lewat propaganda di lini maya. Menurut Humera Khan, Direktur Eksekutif Muflehun, sebuah think tank yang mengkhususkan pada pengkajian kontra terorisme, ISIS memiliki sedikitnya 40 media yang merilis video, audio, dan teks tertulis. Materi yang disampaikan tidak membahas tentang isu-isu terkini yang menyangkut kehidupan manusia saat ini. Namun, lebih pada ideologi, agama dan hubungannya dengan radikalisme.

Lewat media itu, ISIS mempromosikan kekhalifahan sebagai sistem pemerintahan yang sampurna dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Mereka juga menyebarkan foto tentang kondisi pasar yang penuh dengan buah-buahan, sayur-sayuran, hubungan dagang antara penjual dan pembeli, anak-anak yang tertawa dan bermain di alun-alun kota.

Lalu, ada militan yang bersenang-senang di sekitar kolam renang yang airnya jernih. Sempat beredar pula foto via twitter yang menunjukkan beberapa wanita dengan tubuh yang sepenuhnya tertutup, diduga dari Australia, memegang senjata saat berpose di depan mobil BMW putih yang mengkilap.

“Ada prioritas bagi ISIS untuk menarik perempuan karena menawarkan stabilitas. Jika Anda ingin orang melihat Anda sebagai bangsa, negara yang sah, penting untuk merekrut perempuan,” kata Veryan Khan, Direktur Editorial Konsorsium Penelitian dan Analisis Terorisme (TRAC). “Ini adalah langkah strategis.”

Oktober 2014 lalu, tiga gadis Sekolah Menengah Atas (SMA) di Denver diketahui naik pesawat untuk pergi ke Suriah setelah mengobrol dengan pendukung ISIS secara online. Pada Mei 2015, Jaelyn Young, 19 tahun, mantan mahasiswa dan cheerleader dari Mississippi, ditangkap karena dicurigai berusaha melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung ISIS dengan pacarnya, warga AS.

Young mengirim pesan ke agen FBI jika dirinya sebagai anggota ISIS. “Saya tidak sabar untuk sampai ke Dawlah (wilayah ISIS) sehingga saya bisa berada di antara saudara-saudara saya di bawah perlindungan Allah SWT untuk membesarkan anak-anak di Dawlah. Insha Allah.”

Perekrut ISIS diduga intensif memantau media sosial untuk merekrut pengikut baru. Target yang sudah berkenalan dengan mereka akan dikirim email dan pesan terus menerus. Menurut Mia Bloom, profesor dari Georgia State University dan penulis buku Bombshell: Women and Terrorisme, cara yang dilakukan sangat sistematis. “Tiba-tiba, anda merasa populer, penting, karena banjir perhatian. Dan, itu semua dibungkus dalam ideologi yang sama, pesan mereka berulang-ulang. ISIS dapat memberikan sesuatu yang berdampak emosional dan psikologis. Tidak ada kecuali, anda datang ke IS.”

Di Twitter, Instagram, Facebook, dan Tumblr, mereka menunjukkan kesetiaan dengan menggunakan moniker “IS” atau “Dawlah” dalam profil pribadinya. Bisa pula dengan memposting bendera dan banner yang menjadi simbol IS.

Setelah berhasil membangun kontak awal, perekrut akan meminta kesediaan calon anggota IS itu untuk berkomunikasi lebih dalam via WhatsApp, Telegram, maupun aplikasi pesan terenkripsi. Februari lalu, Twitter mengumumkan, telah menangkal 125.000 akun terkait ISIS. Dan, di dunia maya, ISIS memposting propaganda yang tidak terdeteksi oleh mesin pencari informasi. Pengguna hanya dapat mengakses halaman dengan link yang tepat.

Simpatisan ISIS dapat memposting propaganda di mana saja. Di Suriah, Irak, atau di sebuah tempat, duduk di warung kopi. Selain itu, menurut Anne Speckhard, penulis Brides of ISIS: The Internet Seduction of Western Females into ISIS, bagi mereka yang melakukan perjalanan ke wilayah yang dikendalikan ISIS, akan ditugaskan di sebuah ruangan dan diberi pekerjaan penuh waktu untuk merekrut perempuan agar menjadi anggota ISIS.

Para perekrut itu bercakap-cakap lewat media sosial dengan sangat akrab. Kalimat di ujungnya disertai dengan emoji, meme, dan kuis. Perempuan yang menjadi lawan bicaranya dipandang sebagai sosok yang berharga, sambil menyampaikan pesan-pesan ISIS.

Perekrut itu berasal dari berbagai negara. Perekrut asal Prancis akan aktif berinteraksi dengan calon anggota baru dari Perancis. Begitu pula dengan AS, yang aktif bercakap-cakap dengan target yang dibidik asal AS. “Ini membantu dalam berhubungan, menemukan kesamaan. Itu membuatnya merasa lebih dari seorang perekrut, tetapi seperti teman Anda.”

Bahkan, seorang perempuan yang berpotensi menjadi “pengantin” diajak berkomunikasi secara romantis dengan salah saeorang pejuang jihad. Lantaran disertai iming-iming akan segera dinikahkan, target pun terpancing untuk bergabung dengan ISIS. Mungkin, itu yang dialami oleh Dian.

Islam pada dasarnya menentang cara-cara barbar. Beberapa ulama besar seperti Syaikh Ali Hasan al-Halaby (Yordan), Syaikh Najih Ibrahim (Mesir), maupun Syaikh Muh Tahir ul Qadri (Pakistan), menganggap radikalisme dan terorisme seperti ISIS, bukan ajaran Islam. Doktrin-doktrin radikal dengan jaminan surga bertentangan dengan Islam yang mencintai kedamaian (rahmatan lil alamin). Radikalisme telah mencoreng wajah Islam.

Para pemuja radikalisme sangat kaku, sempit, dan tekstual, mengklaim yang paling benar, memberi stigma kepada kelompok Islam lainnya sebagai golongan yang sesat dan mengkafirkan muslim yang dianggap tidak sepaham. Padahal, Allah SWT dalam surat An-Najm ayat 32, berfirman, “Jangan merasa diri lebih bersih atau suci dari pada orang lain.”

Agaknya, upaya kontraradikalisme perlu lebih dioptimalkan. Karena, kemungkinan tak hanya Dian yang terasuki paham-paham radikal. Tidak cukup dengan cara-cara represif. Perlu lebih intensif melakukan deredikalisasi, dengan tujuan mereduksi paham radikal. Deradikalisasi bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan waktu dan prosesnya yang cukup lama.

Individu atau kelompok yang menjadi target harus diintervensi lewat dialog-dialog rasional, yang berbasis nilai-nilai agama agar bisa menyakinkannya jika pandangan, sikap, dan keyakinannya yang menghalalkan cara-cara kekerasan adalah suatu kesalahan, bertentangan dengan nilai-nilai agama dan hukum yang berlaku di masyarakat. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Antara/CNN
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s