Akar Amarah Membakar Suriah

OMAR dan kawan-kawannya tak mengira jika grafiti yang mereka buat di dinding sekolah, menuai amarah rezim penguasa Suriah. Mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu menganggap, tulisan itu sekadar lelucon. Tidak ada maksud politik karena mereka benar-benar buta politik.

Suatu hari, usai pulang sekolah, Omar dan teman-temanya menemukan cat merah. Lalu, dia menulis, “Dokter Giliranmu,” di dinding sekolahnya. Bocah berusia 14 tahun itu tak berpikir jika tulisan itu kelak berbuah petaka.

Di Daraa, Februari 2011, kalimat seperti yang ditulis Omar dan kawan-kawannya itu memang rada membuat gelisah penguasa. Pasalnya, bernada provokatif yang bisa mengancam kekuasaan Presiden Bashar al-Assad. Bisa-bisa, sang penulis dipenjarakan, bahkan dibunuh karena rezim Assad sangat otoriter, tidak mengenal kompromi kepada musuh-musuh politiknya.

Entah sadar atau tidak, istilah “Dokter” yang ditulis anak-anak itu mengarah pada sosok Bashar al-Assad, Presiden Suriah yang diktator. Assad dijuluki dokter karena memang dokter mata. Sementara kalimat “Giliranmu” seakan mengingatkan Assad jika sudah saatnya dia jatuh dari tampuk kekuasaan, setelah dua Presiden di negara Timur Tengah, Presiden Mesir Hosni Mubarak dan Presiden Tunisia Ben Ali, lebih dulu lengser dari kekuasaannya lantaran tekanan massa yang menuntut perubahan.

Dan, kebetulan. Kala itu, negara-negara di kawasan Timur Tengah sedang diselimuti gejolak politik. Sejak tahun 2010, gejolak politik mengoyang kekuasaan status quo terjadi di beberapa negara-negara Timur Tengah, yang dikenal dengan Arab Spring. Lantaran mengusik kenyamanan rezim penguasa, sehari setelah grafiti itu dibuat, 16 Februari 2011, polisi menangkapi anak-anak itu.

Omar terhindar dari penangkapan. Tetapi, malang bagi Yacoub, temannya. Yacoub ditangkap. Selama di penjara, dia mengalami siksaan lantaran mengakui jika dirinya bersama teman-temannya yang menulis grafiti yang pesannya nyeleneh itu. Tetapi, kata Yacoub, grafiti itu sebatas lelucon. “Kami hanya main-main, kami tidak banyak berpikir (resikonya),” katanya. “Tapi (rupanya) kita membayar harga (sangat mahal) lantaran tidak berpikir (atas tindakannya),” imbuhnya.

Yacoub mengungkap, selama seminggu, polisi bertindak brutal padanya. Dia dipaksa tidur telanjang di kasur yang basah. Polisi juga melakukan tekanan selama berjam-jam, bahkan tega menyetrumnya.

Sementara Omar gelisah memikirkan nasib teman-temannya. “Bagaimana anda bisa tidur di malam hari, ketika anda tahu teman anda sedang disiksa?” katanya. “Saya akan lebih suka berada di sana (di penjara) bersama mereka, sehingga kami bisa menahan rasa sakit bersama-sama,” imbuhnya.

Selama dalam penyiksaan, Yacoub sering mendengar bisikan para penjaga penjara jika pertanyaan saat interogasi diajukan langsung dari seorang pria bernama Atef Najib, sepupu Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang menjadi komandan pasukan keamanan di Daraa.

Entah, apa alasan Najib dan anak buahnya menyiksa anak-anak itu? Begitu bahayakah anak-anak itu? Dan, bagaimana respons Najib saat orang tua menuntut pembebasan anak-anaknya yang di penjara?

Ayah Yacoub bersama orang tua lainnya dan pihak sekolah, sempat bertemu dengan Najib. Mereka meminta anak-anak dibebaskan. Namun, jawaban Najib tak mengenakan. Dia memerintahkan mereka agar pulang, melupakan anak-anaknya. Dan, yang menyakitkan, Najib menyarankan agar para orang tua membuat anak lagi. Jika gagal, para suami mengirim istrinya ke kantor polisi untuk digagahi oleh aparat keamanan.

Najib juga menuding mereka gagal sebagai orang tua dalam mendisiplinkan anak-anaknya. Karenanya, polisi yang harus mendisiplikan anak-anak dengan caranya. Namun agaknya yang menjadi alasan Najib dan anak buahnya bertindak represif terhadap anak-anak lantaran bertepatan dengan momen di kala kekuasaan Assad menghadapi ancaman penggulingan.

15 Maret 2011, kala Yacoub dibebaskan dari penjara, kekuasaan Assad memang tengah digoyang oleh aksi demonstrasi. Di Aleppo dan Damaskus, para pengunjuk rasa mendesak Assad untuk segera melakukan reformasi politik. Ironisnya, tuntutan demonstran itu dibalas dengan tindakan represif. Kemarahan massa pun meletup saat mengetahui polisi memukuli pemuda di Damaskus, kota tua yang menjadi pusat aksi para demonstran.

Omar ingat awal-awal aksi protes disuarakan. Usai sholat Jum’at, dia bersama keluarga teman-temannya yang ditangkap, diajak turun ke jalan, bergabung dengan para demonstran. Dalam aksinya, mereka meneriakkan, “Kami ingin anak-anak kami keluar dari penjara.” Namun, aparat keamanan tak menggubris. Desakan mereka dijawab dengan gas air mata dan peluru tajam yang dilesakkan polisi anti huru hara dan para penembak jitu.

Gelombang protes pun kian membesar lantaran simpati dengan nasib para korban dan setuju dengan seruan para demonstran. “Saya pikir orang-orang akan melawan kami, dan berpikir kami hanya anak-anak yang bodoh,” kata Omar. Namun, yang terjadi sebaliknya. Tulisan grafiti yang mereka tulis justru dianggap seruan yang heroik dan berani.

Awalnya, protes sekadar ditujukan kepada polisi agar membebaskan anak-anak dari penjara. Namun, entah mengapa Assad mengarahkan tentara yang memicu gelombang aksi lanjutan. April 2011, Deraa dikelilingi tank-tank militer. Suasana kala itu seakan ingin perang.

Ismael, pria berusia 43 tahun, yang bekerja sebagai petugas adminstrasi di rumah sakit di Daraa, mengaku terlibat di awal-awal aksi protes digelar. Dia turut mengecam dan mendesak pembebasan salah satu sepupunya yang ditangkap. Namun, perasaan takut menghantui Ismael. Pada malam hari, setelah bekerja, ia bergabung dalam demonstrasi.

Lantaran khawatir menjadi incaran aparat keamanan, saat berdemonstrasi, dia selalu menutupi wajahnya. Esok harinya, ia kembali bertugas di rumah sakit untuk membantu demonstran yang terluka. Beberapa minggu  kemudian, Ismael memfilmkan tenaga medis yang mengungkap sebuah kuburan massal di pinggiran kota. Film itu ditayangkan di CNN. Setelah itu, Ismael ditangkap.

Keluarganya terpaksa harus mengeluarkan uang US$ 20 ribu untuk menyuap pejabat agar Ismael dibebaskan. Setelah bebas, dia segera meninggalkan Suriah dan sekarang menetap di Toledo, Ohio, Amerika Serikat (AS). Sementara orang tuanya masih tinggal di Daraa yang dikuasai pemberontak. Sedangkan adiknya, tidak diketahui keberadaannya sejak dua tahun yang lalu.

Rumah keluarga Ismael di pusat kota telah hancur oleh bom barel. Tak terhitung pula kerabatnya yang telah hilang. Entah, apakah karena dipenjara atau terbunuh. Ismael terus-menerus memohon kepada orang tuanya agar ikut bersamanya di AS. Namun, orang tuanya menolak. “Jika kita mati, kita mati di sini, di Daraa,” kata Ismael menirukan pernyataan orang tuanya. Lantaran video Ismael itu, kejadian di Daraa bergema di seluruh dunia.

Bassam Barabandi, pelayan di Kedutaan Besar Suriah di Washington, AS, teringat ketika aksi protes terjadi. Lelaki berusia 44 tahun itu mengatakan, setiap hari Jumat, saat berada di tempat kerja, dia dan rekan-rekannya selalu menyaksikan tayangan protes massa yang disiarkan al-Jazeera.

Semua staf, katanya, menonton dalam hening. “Kami menyaksikan setiap hari Jumat, berharap akan bisa diselesaikan. Pada pertengahan Maret 2011, hampir di setiap kota-kota besar di Suriah, diwarnai aksi protes.”

Daraa menjadi titik awal yang memicu gelombang protes anti-rezim Assad. Lima tahun kemudian, kota itu terbelah. Di beberapa titik, dikuasai rezim penguasa. Di titik lain, dikuasai pemberontak, Tentara Pembebasan Suriah (FSA). Lalu, di pinggiran kota dan pedesaan di sekitar Daraa, dikuasai kelompok-kelompok Front al-Nusra dan beberapa kelompok lainnya, yang pernah berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Yacoub masih tinggal di Daraa, tak jauh dari dinding yang mereka tulis dengan kalimat yang dianggap rezim Assad sangat menyengat. Meski pernah disiksa, Yacoub tidak pernah angkat senjata untuk melakukan perlawanan. “Senjata bukan merupakan jawaban,” katanya. Namun, dia tidak dapat melarikan diri dari zona peperangan yang mengelilinginya. Seperti kota-kota di Suriah lainnya, Daraa terkoyak-koyak lantaran konflik yang terjadi sejak tahun 2011.

Cara-cara represif rezim Assad kian memperparah konflik di Suriah. Tentara pemerintah bersama sekutunya, tidak kompromi dengan para pemberontak. Begitu pula para pemberontak, tidak berhenti berupaya menggulingkan kekuasaan Assad. Dan, konflik kian rumit diselesaikan lantaran bercampur dengan persoalan politik, bernuansa sektarian, polemik teologis, termasuk intervensi asing. Dan, grafiti yang ditulis Omar dan teman-teman itu sepertinya menjadi salah satu penyebab amarah membakar Suriah.

*****

Lebih dari 250 ribu jiwa tewas dan hampir 4,4 juta jiwa yang mengungsi dari Suriah. Konflik bersenjata juga menghancurkan infrastruktur di beberapa kota. Konflik bersaudara Suriah hingga kini tak terurai. Rezim Assad tak kompromi menghabisi musuh-musuhnya. Sementara di sisi lain, para demonstran yang menuntut reformasi, tak henti-hentinya menentang dinasti Assad. Bashar al-Assad, merupakan putera dari Presiden Hafez al-Assad yang berkuasa selama lebih dari 29 tahun.

Maret 2011, para demonstran yang sebagian besar adalah mahasiswa dan aktivis hak asasi manusia (HAM), memadati Damaskus. Mereka mendesak Assad untuk segera melakukan reformasi menuju demokrasi dan membebaskan tahanan politik. Aksi massa itu disambut tindakan represif dari pihak aparat keamanan.

Para pengunjuk rasa ditembaki dan tak sedikit yang dijebloskan ke penjara. Hubungan antara kubu pro perubahan dengan kubu status quo pun terputus sejak lantang terdengar tuntutan penggulingan kekuasaan Assad. Sejak itu, rezim Assad menolak negosiasi dengan pihak oposisi yang disebutnya sebagai kelompok teroris bersenjata.

Rupanya, konflik politik itu meluas menjadi konflik sektarian. Assad yang berhaluan Alawi, salah satu aliran Syiah, menggalang dukungan pengikut Syiah. Di Suriah, penganut Alawi terus berkembang. Ada sekitar 1,5 juta orang pemeluk aliran itu. Para pendukung Assad itu dikondisikan untuk berhadapan dengan kelompok pemberontak Sunni, di antaranya FSA, kaum Kurdi, kelompok jihad Salafi, termasuk Front al-Nusra, dan pemberontak Sunni maupun militan Negara Islam Irak dan Levant (ISIL).

Konflik kian brutal lantaran campur tangan pihak asing. Iran yang menjadi kiblat kaum Syiah, diketahui berada di belakang rezim Assad. Bersama Rusia, China, dan negara-negara lain, Iran mendukung tentara pemerintah menghabisi para pemberontak. Sementara Arab Saudi, yang ingin tetap mempertahankan pengaruh Sunni di kawasan Teluk, berupaya memobilisasi kekuatan oposisi untuk menjatuhkan kekuasaan Assad. Suriah juga seakan menjadi panggung unjuk kekuatan yang dilakukan AS, Qatar, Turki, Uni Eropa, dan Hizbullah di Lebanon.

Rezim Assad awalnya didukung kelompok minoritas Syiah Alawiyah yang mendapatkan dukungan dari Iran. Lalu, membentuk aliansi strategis Iran-Suriah yang dinamakan Poros Syiah (Iran-Irak-Suriah-Hizbullah di Lebanon). Poros itu dianggap dapat mengancam dominasi Sunni yang didukung Arab Saudi, Qatar, dan Israel.

Suriah juga menjadi ajang perebutan jalur pipa gas antara Qatar dan Iran. Kedua negara itu berupaya menguasai ladang gas dengan cadangan terbesar di dunia. Demikian pula Eropa dan AS yang mendukung Sunni demi tujuan merealisasikan jalur pipa gas dari Qatar, Arab Saudi, Yordania, Suriah, dan Turki. Dengan begitu, Eropa mengurangi ketergantungan gas dari Rusia. Keterlibatan negara-negara itulah yang menyebabkan kedamaian di Aleppo menghadapi jalan buntu.

Namun, kekuataan oposisi sulit menjatuhkan rezim Assad lantaran terpolarisasi menjadi beberapa faksi. Front al-Nusra dan ISIL memiliki ambisi untuk menancapkan visi Islam. Sementara kelompok Kurdi berjuang dengan tujuan meraih kemerdekaan. Di tahun 2015, Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) bergabung dengan Arab, Assyria, Armenia, dan beberapa kelompok Turkmen, membentuk Pasukan Demokratik Suriah. Sementara sebagian besar kelompok Turkmen tetap bersama FSA.

Masing-masing kubu itu sama-sama berlumuran darah warga sipil yang tidak berdosa. Organisasi internasional menuding rezim Assad, ISIL dan kekuatan oposisi lainnya, telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat lantaran melakukan pembantaian terhadap warga sipil. Upaya untuk meredam peperangan yang brutal itu telah dilakukan. 1 Februari 2016 lalu, telah digelar pembicaraan damai di Geneva yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, konflik bersenjata masih terus berlanjut.

*****

Suriah seakan ditakdirkan menjadi negara yang penuh dengan gejolak. Sejak merdeka dari penjajahan Perancis, dan membentuk negara republik pada tahun 1946, Suriah tak pernah bebas dari gejolak politik. Kudeta kerap kali terjadi. 30 Maret 1949, kudeta dilakukan Kolonel Husni Zaim. Kudeta tak berdarah itu berhasil menggulingkan Presiden Syukri al-Quwatli dan Perdana Menteri Khalid al-Azim. Zaim kemudian membubarkan parlemen dan menjalankan pemerintahan sementara. Tahun 1954, terjadi pula pemberontakan terhadap kekuasaan yang dikendalikan militer.

Hampir sebagian besar pemimpin Suriah merebut kekuasaan dengan cara-cara kudeta. Mulai dari Hasyim al-Attassi, Syukri al-Qutali, Husni az-Zalim, Sami al- Hanawi, Adibyiksyikli, Faisal al-Atassi, Syukri al-Qutali, Nazim al-Qudsi, Amin al- Hafiz, dan Nuruddin al-Attasi. Ayah Bashar al-Assad, Hafiz al-Assad adalah aktor utama yang menggulingkan pemerintahan Nuruddin al-Attasi. Hafiz pun dikukuhkan menjadi Presiden Suriah sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Agar kekuasaannya tak kudeta, Hafiz yang didukung Partai Baath memerintah Suriah dengan cara yang otoriter. Para pihak yang berseberangan dengan pemerintah dihabisi. Kelompok Ikhwanul Muslimin adalah satu kubu yang berseberangan dengannya.

Pada tahun 2000, Bashar al-Assad mengambil alih kekuasaan sebagai presiden. Dia dan istrinya Asma al-Assad, seorang Muslim Sunni yang lahir dan dididik di Inggris, awalnya menebar harapan untuk melakukan reformasi secara demokratis. Namun, gejolak politik memaksanya untuk melanjutkan cara-cara yang dilakukan ayahnya, menjalankan kekuasaan dengan otoriter dan represif. Tindakan sporadis sering kali terjadi sejak Juli 2000 hingga Agustus 2001.

Puluhan aktivis terkemuka yang menyerukan pemilihan umum yang demokratis dan mengkampanyekan pembangkangan sipil, dibunuh dan dipenjara. Para pengkritik menilai, Assad telah gagal merealisasikan janjinya, melakukan reformasi politik.

Aksi protes dimulai tanggal 15 Maret 2011. Kala itu, demonstran berbaris di Damaskus, menuntut reformasi dan pembebasan tahanan politik. Tidak ada proses negosiasi. Pasukan keamanan justru merespons demonstran dengan cara-cara bersenjata. Tentara juga menahan beberapa aktivis.

20 Maret 2011, tindakan represif aparat keamanan dibalas dengan tindakan anarkis. Para pengunjuk rasa membakar markas Partai Ba’ath dan bangunan lainnya. Bentrokan berikutnya merenggut nyawa tujuh polisi dan 15 pengunjuk rasa. Insiden itu membuat Assad kian berang. Dia menuding ada konspirasi asing yang menggerakkan para demonstran.

Tindakan represif, tak menyurutkan tekanan dari oposisi. Tuntutan demonstran bahkan bergeser. Mereka mendesak Assad turun dari kekuasaannya. Aksi besar-besaran terjadi di sejumlah kota. Lagi-lagi, tentara Suriah berhadapan dengan demonstran dengan cara-cara yang brutal. Tank-tank militer dan artileri senjata, disiagakan di titik-titik keramaian. Lagi-lagi, moncong senjata tak mampu memicu kekhawatiran para demonstran. Dan, bentrokan pun tak terhindarkan. Ratusan warga sipil dilaporkan tewas. Di akhir Mei 2011, bentrokan juga mengakibat sekitar 1.000 warga sipil, 150 tentara dan polisi, tewas. Tak sedikit pula demonstran yang dijebloskan ke penjara. Di antara yang ditangkap adalah mahasiswa, aktivis liberal, dan pembela HAM.

Hingga akhirnya, muncul pemberontakan bersenjata. Para pemberontak itu berupaya menguasai beberapa daerah di Suriah. 4 Juni 2011, terjadi pemberontakan di Jisr al-Shugur di Propinsi Idlib, yang berbatasan dengan Turki. Mereka membakar bangunan, menewaskan delapan petugas keamanan, menyerbu kantor polisi, dan merampas senjata. Bahkan, ada sebagian pasukan keamanan di Jisr al-Shugur yang membelot.

Mereka menolak perintah untuk mengeksekusi warga sipil. Konflik kian mengerikan ketika warga sipil dipersenjatai dan kian banyak tentara yang membelot. Mereka membentuk FSA pada 29 September 2011. Tujuannya menggulingkan kekuasaan Assad. FSA juga menyerukan persatuan kekuatan oposisi untuk menghadapi Assad. Gelagat baik itu direspons. 31 Juli 2011, tentara pro Assad, melancarkan operasi besar-besaran yang kemudian dikenal Ramadhan Massacre. Sedikitnya 142 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Namun, kekuatan oposisi tak menciut.

23 Agustus, terbentuk koalisi kelompok anti-pemerintah yang disebut Dewan Nasional Suriah. Dewan yang berbasis di Turki itu, memobilisasi kekuatan oposisi, termasuk FSA, dan kelompok politik yang terdiri dari orang-orang buangan, dan militan bersenjata yang terpolarisasi lantaran perbedaan ideologi, etnis dan sektarian.

Lantaran pergerakan oposisi kian meluas, pasukan Suriah menyerbu kota-kota besar dan daerah terpencil, serta terus menyerang demonstran. Idul Fitri yang harusnya diwarnai suka cita, justru dibanjiri air mata. Tak sedikit korban tewas di Homs, Daraa, dan pinggiran kota Damaskus.

Konfrontasi besar-besaran dilakoni FSA dan tentara Suriah di Rastan. Sepanjang 27 September-1 Oktober 2011, pasukan pemerintah yang didukung tank dan helikopter, melancarkan serangan membabi buta, menghancurkan Kota al-Rastan di Homs. Serangan itu diarahkan untuk mengusir tentara pembelot. Konfrontasi senjata itu berlangsung selama seminggu. FSA terpaksa mundur dari Rastan, menghindar dari pasukan pemerintah yang begitu kuat. Pemimpin FSA, Kolonel Riad Asaad, melarikan diri ke Turki. Tak sedikit pula militan pemberontak yang melarikan diri ke kota-kota terdekat dari Homs.

FSA mulai melakukan serangan balasan setelah menerima dukungan dari Turki. Minggu pertama Oktober, pemberontak melancarkan serangan di Jabal al-Zawiya, kawasan pegunungan di Idlib. Pemberontak berhasil menguasai sebagian besar kota di Idlib. Namun, dibalas oleh tentara pemerintah. Pertempuran terus berlangsung hingga pertengahan Oktober. Bentrokan menjalar di Binnish dan Hass, dekat pegunungan Jabal al-Zawiya.

Di akhir Oktober, bentrokan terjadi di bagian barat laut Maarrat al-Nu’man dan dekat dengan perbatasan Turki. 10 tentara pemerintah dan tentara yang membelot dilaporkan tewas. Di Homs, pasukan pemerintah juga melakukan pengepungan. Setelah enam hari pemboman, tentara Suriah menyerbu kota itu pada 8 November. Pertempuran jalanan kala itu sangat mengerikan. Homs disebut Ibukota Revolusi. Tidak seperti peristiwa di Deraa dan Hama, operasi militer di Homs, gagal memadamkan kerusuhan.

Selama dua bulan, FSA melancarkan serangan mematikan ke kompleks intelijen angkatan udara di pinggiran Damaskus dari Harasta, markas pemuda Ba’ath Suriah di Idlib, pangkalan udara di Homs, dan kantor intelijen di Idlib. Mereka juga menyerang pos pangkalan militer di sekitar Daraa, yang menewaskan 27 tentara pemerintah. Oposisi mengalami kemunduran besar pada 19 Desember, ketika serangan yang dilancarkan di Idlib berakhir dengan kekalahan. Sekitar 72 orang pasukan pembelot tewas.

Rupanya, konflik di Suriah, mengundang Inggris dan Perancis untuk melatih dan membantu para pemberontak Suriah. Sementara CIA dan militer AS menyediakan peralatan komunikasi dan intelijen. Intervensi negara-negara barat itu lantaran laporan PBB yang menyebut lebih dari 3.500 warga sipil telah dibunuh tentara Assad. Laporan itu juga berdasarkan sumber dari pemberontak. AS, Inggris, dan Perancis, merasa peduli dengan Suriah yang kondisinya jauh lebih buruk dibandingkan di Libya yang juga dililit peperangan.

Keterlibatan AS dalam urusan domestik Suriah juga dipicu sikap Assad yang awalnya menentang invasi AS terhadap Irak. Assad juga dianggap menerapkan cara-cara represif dan otoriter. Untuk menjatuhkan Assad, AS terlibat dalam upaya meningkatkan ketegangan sektarian dan mempublikasikan tindakan represi rezim Assad terhadap kelompok Kurdi dan Sunni, termasuk membiayai upaya pembangkangan politik. Sebuah laporan rahasia tahun 2013 menyebut, militer dan intelijen AS berupaya menggulingkan Assad.

Sejak Januari 2012, operasi militer besar-besaran dilakukan Assad. Penggunaan senjata pembunuh massal itu juga menyebabkan kehancuran rumah warga sipil. Padahal, serangan membabi buta itu dilancarkan di kala tak lagi ada demonstrasi. Militer kian intensif melancarkan operasi di pinggiran Kota Damaskus, dengan dilengkapi tank-tank dan artileri. Di Zabadani, pertempuran pecah ketika tentara Suriah melakukan pengepungan untuk mengusir FSA. Pertempuran itu berakhir dengan gencatan senjata pada 18 Januari. FSA pun tak lagi mengendalikan kota. Namun, FSA melancarkan serangan di kawasan dekat Douma selama 21-30 Januari, yang kemudian berhasil dipukul mundur tentara pemerintah.

Meskipun tentara Suriah berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah di pinggiran kota, pertempuran sporadis terus berlangsung. 29 Januari, puluhan tentara  pembelot menembaki pasukan yang setia kepada pemerintah. Oposisi pun berhasil menguasai kawasan itu pada 5 Februari. Di Homs, tentara Suriah melancarkan serangan besar-besaran untuk merebut kota yang dikuasai pemberontak itu.

Serangan brutal yang dilancarkan menyebabkan pemberontak kalah. Tentara pemerintah berhasil menguasai distrik Baba Amr dan Karm al-Zeitoun. Menurut laporan aktivis, sedikitnya 47 wanita dan anak-anak terbunuh. Hingga April 2011, diperkirakan korban tewas mencapai 10 ribu jiwa.

April-Mei 2012, upaya gencatan senjata diinisiasi Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan. Annan. PBB dan Liga Arab Bersama Wakil Khusus untuk Suriah, melakukan negosiasi. Namun, saat proses negosiasi berlangsung, angkatan bersenjata Suriah menyerang sejumlah kota dan desa, dan mengeksekusi sejumlah warga. Dilakukan pula penahanan, termasuk di antaranya adalah anak-anak.

Annan mengaku gagal. Dia pun menyerukan agar Iran menjadi bagian dari solusi. Setelah pembantaian Houla tanggal 25 Mei 2012, di mana 108 orang dieksekusi, gencatan senjata mustahil terwujud. FSA malah melancarkan serangan balasan. 1 Juni, Assad bersumpah untuk menghancurkan pemberontakan anti-pemerintah. Pertempuran pun pecah di Haffa dan desa-desa di kawasan pesisir Latakia. 78 warga sipil tewas dilaporkan tewas. Menurut informasi dari aktivis, pasukan pemerintah menembaki desa sebelum milisi Shabiha pindah.

PBB pun untuk pertama kalinya secara resmi menyatakan Suriah dalam keadaan perang saudara. Pertempuran kian mengerikan di Damaskus dan Aleppo. Suasana kian panas tatkala jet tempur Turki jatuh lantaran ditembak tentara Suriah. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan pun mengecam keras Assad.

10 Juli pasukan pemberontak telah merebut sebagian besar kota Al-Qusayr, di Homs, setelah berminggu-minggu pertempuran. Pemberontak juga berhasil merebut Kota Saraqeb di Idlib. Pertempuran kian meluas ke seluruh negeri dan menewaskan 16 ribu orang, Menteri Pertahanan Suriah, Dawoud Rajiha, mantan menteri pertahanan, Hasan Turkmani, dan kakak ipar Presiden, Jenderal Assef Shawkat tewas oleh serangan bom bunuh diri di Damaskus. FSA dan Liwa al-Islam mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Pemberontak lalu melancarkan serangan ke Aleppo yang kemudian di balas serangan udara.

Aleppo hancur, sama dengan kota-kota lainnya akibat serangan militer Suriah. Kehancuran itu memperlihatkan betapa buasnya rezim Assad mempertahankan kekuasaan. Aleppo, kota terbesar setelah Damaskus, yang sebelumnya dikuasai para pemberontak, kini jatuh ke genggaman rezim Assad. Namun, bukan berarti peperangan di Suriah akan berakhir.

Karena, bisa saja pemberontak kembali melancarkan serangan. Setelah menguasai Aleppo, Assad bersumpah untuk merebut kembali kota bersejarah di Suriah bagian tengah, Palmyra. Kota itu kini dikuasai militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS).

Serangan militer Suriah yang didukung Iran dan Rusia pada Rabu (14/12), menjadi pukulan telak bagi para pemberontak yang berbendera Front Saleh al-Sham. Kelompok militan yang semula berafiliasi dengan jaringan teroris Al Qaeda itu tak kuasa menghadapi serangan militer pro Assad yang dilancar via darat dan udara. Dalam kondisi yang terdesak, mereka nampaknya berupaya menjadikan warga sipil sebagai tameng agar bisa menyelamatkan diri.

Kontestasi Saudi-Iran

Konflik di Suriah sebenarnya tidak terlepas dari kontestasi Arab Saudi versus Iran untuk mendominasi di tingkat regional. Rivalitas itu yang kemudian memperkuat sentimen sektarian dan polemik teologis, Sunni versus Syiah. Arab Saudi yang ingin tetap mempertahankan pengaruh Sunni di kawasan Teluk, termasuk di Suriah, berupaya memobilisasi kekuatan oposisi untuk menjatuhkan kekuasaan Assad karena berhaluan Syiah. Dukungan dana dan persenjataan dikerahkan untuk mengerakan oposisi. Sementara Iran, mendukung Assad lantaran berkepentingan menancapkan pengaruh Syiah di Damaskus. Iran juga berambisi mengukuhkan pengaruhnya di Baghdad, dan Beirut.

Suadi-Iran memang tak pernah berhenti konfrontasi. Januari 2016 lalu, Iran murka terhadap Saudi lantaran mengeksekusi mati ulama terkemuka Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr. Ulama itu dieksekusi lantaran begitu gencar menyerang Kerajaan Saudi.

Nimr menuntut keadilan terhadap Syiah di Saudi. Oleh rezim Saudi, dia dianggap sebagai teroris. Namun, bagi Iran, Nimr, sangat dihormati karena memperjuangkan hak-hak Syiah, kelompok minoritas yang termarginal di Saudi. Di Taheran, demonstran membakar kantor kedutaan Saudi. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyatakan, “Tuhan akan membalas pemimpin Saudi.”

Di Irak, yang kini dikuasai rezim Syiah, terjadi pembakaran dua masjid Muslim Sunni. Dua orang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Di Irak, Arab Saudi mendukung pemberontak Sunni, sementara Iran mendukung pemerintah Syiah yang baru memimpin.

Begitu pula di Suriah. Saudi nampaknya khawatir dengan Iran yang kini menjadi negara kuat berupaya menancapkan pengaruh Syiah di Suriah. Perang di Suriah, termasuk di Yaman, tidak bisa nampaknya dihentikan tanpa kesepakatan damai antara Iran dan Saudi.

Raja Abdul Aziz Al-Saud mengklaim kepemimpinannya atas dunia Muslim. Dinasti Saud, dan ulama Wahhabi ultrakonservatif menafsirkan legitimasi politik pada konsep Islam abad pertengahan, di mana Muslim wajib taat kepada pemimpinnya, selama menerapkan hukum Islam. Pandangan ini tidak mentolerir perbedaan pendapat. Saud juga ingin mengasosiasikan Islam dengan identitas Arab.

Paham Sunni mendominasi hingga merengkuh 90 persen populasi Muslim dunia. Namun, Muslim Syiah Iran unjuk kekuatan. Klaim Dinasti Saud itu ditentang sejak meletusnya Revolusi Islam tahun 1979. Bagi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, monarki Saudi bid’ah.

Perseteruan Saudi-Iran juga memanas saat musim haji lalu. Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut, Saudi gagal menjadi penyelenggara ibadah haji. Rouhani pun menyerukan agar umat Islam dunia menuntut pertanggungjawaban Saudi terkait banyaknya jamaah yang tewas saat menjalani prosesi haji.

Kecaman serupa juga dilayangkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dia menganggap Pemerintah Saudi telah “membunuh” beberapa jamaah haji asal Iran dan menggambarkan penguasa Saudi sebagai manusia tak bertuhan dan beragama.

Khamenei menyerukan negara-negara Muslim agar mendesak Saudi mencabut kewenangan penyelenggaraan ibadah haji tiap tahunnya. Khamenei menilai, Saudi tak dapat menjalankan kewenangannya dan melepaskan tanggungjawab tersebut. Rouhani pun tak habis pikir dengan sikap arogan Saudi yang menahan diri untuk meminta maaf secara lisan kepada umat Muslim dan negara-negara Islam terkait insiden haji.

Iran telah lama menanti jawaban dari Saudi soal insiden itu. Namun, hingga kini laporan seputar insiden itu belum disampaikan. Menurut otoritas Riyadh, jamaah haji yang tewas di tahun 2015 mencapai 769 jiwa, angka tertinggi sejak kecelakaan di tahun 1990.

Insiden itu memicu kemarahan warga Iran. Ribuan demonstran di Teheran dan kota-kota lainnya di Iran, mencela keluarga al-Saud. Kementerian Luar Negeri Iran juga memanggil utusan Saudi untuk mendengar protes.

Atas desakan Iran itu, Saudi bergeming. Penyelenggaraan haji yang menarik jutaan jamaah dari segala penjuru dunia setiap tahunnya, merupakan sumber pendapatan penting bagi Pemerintah Saudi.

Pemerintah Saudi justru menyalahkan Pemerintah Iran yang merampas hak warganya dalam menjalankan ibadah haji dengan cara menolak menandatangani kesepakatan yang dicapai setelah pembicaraan mengenai haji dengan Saudi.

Teheran pun dianggap membahayakan keamanan para jamaah dan mempolitisir haji dan mengubahnya menjadi ritual yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ulama ternama Arab Saudi, Abdul Aziz al Sheik, merasa tak heran dengan desakan pemimpin Iran itu yang dianggapnya bukan Muslim. Dia menyebut Muslim Iran sebagai orang Majus yang bermusuhan dengan umat Islam, terutama Sunni. Majus mengacu pada Zoroaster merupakan orang-orang yang menyembah api. Keberadaannya lebih dahulu dari Kristen dan Islam.

Zoroastrianisme adalah agama dominan di Persia sebelum penaklukan Muslim. Bagi Iran, Saudi merupakan sponsor terorisme di beberapa negara muslim. Karenanya, Iran menyerukan negara-negara muslim bersama-sama menghukum Pemerintah Saudi.

Kerajaan Saudi, yang berpaham Wahabi radikal memberikan dukungan ideologis dan keuangan untuk para teroris Takfiri, yang telah menyebabkan kematian banyak jiwa dan kehancuran di Irak dan Suriah dalam beberapa tahun terakhir.

Begitu pula Saudi yang menuduh Teheran menebarkan isu sektarian dengan mendukung kelompok garis keras di Suriah, Lebanon, Irak, dan Yaman. Saudi juga menuduh Iran mematik kerusuhan di Bahrain dan Arab Saudi.

Kontestasi antara Sunni dan Syiah menjadi ancaman bagi kesatuan umat Islam. Perang Shiffin yang berkecamuk di tahun 657 masehi, harusnya menjadi pelajar bagi umat Islam jika pengkotak-kotakan yang diciptakan elit muslim kian memperlemah umat Islam. Suniisme, Syi’iisme, termasuk Kharijisme telah menyebabkan sesama muslim perang. Fanatisme dan klaim-klaim kebenaran teologis atas dasar pengkotakan itu harusnya disadari sebagai sumber bencana kemanusiaan yang terjadi di negara-negara Islam. Padahal, klaim-klaim kebenaran itu, seperti dinyatakan Syafi’i Maarif, (Jurnal Maarif, 2015), tidak ada dalam Al Quran. Klaim-klaim pembenaran masing-masing kubu itu sebatas hanya retorika politik para elit untuk mempertahankan kekuasaan di dunia. Para penganut Sunnisme, Syiahisme, maupun Kharijisme, harusnya bercermin pada sejarah yang telah menyengsarakan umat Islam lantaran perpecahan.

Maarif mengingatkan lagi tentang tragedi Baghdad tahun 1258 saat pasukan Hulagu Khan memorakporandakan kekuasaan Abbasiyah. Kala itu, Panglima Mongol sudah tahu retaknya hubungan Sunni-Syiah di Irak. Raja Abbasiyah terakhir, Musta’shim, yang selalu menghina kelompok Syi’i. Karenanya, sebagian tokoh Syi’i memfasilitasi pasukan Mongol untuk menjatuhkan Musta’shim. Perdana Menteri a-Alkamzi, seorang penganut Syi’i, mengkhianati sang raja dengan memihak Hulagu lantaran berjanji tidak akan menghancurkan tempat-tempat suci kaum Syi’i di Najaf dan Karbala.

Januari 1258, tentara Hulagu berhasil menerobos dinding luar di bagian timur Baghdad. Al-Musta’shim bersama pasukannya keluar sambil memberi tawaran untuk berunding, tetapi ditolak Hulagu. Selama tujuh hari Baghdad dikepung. Dan, sebanyak 1 juta penduduknya, baik penganut Sunni maupun Syi’i, yang tewas lantaran tentara Hulagu tidak bisa membedakan mereka (Tarek Fatah, Chasing A Mirage: The Tragic Illusion of An Islamic State. Mississauga, Ontario: John Wiley & Sons, 2008).

Di abad modern, keberingasan pasukan Mongol itu bisa saja dilanjutkan oleh AS, Israel dan sekutunya. Sekiranya Arab Saudi diserang Israel, tidak mustahil Iran akan membantu negara Zionis itu. Begitu pula sebaliknya: jika Iran diserang Israel, maka Arab Saudi akan berpihak kepada Israel. | M. Yamin Panca Setia 

Sumber : Reuters/CNN/BBC/Vice News
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s