Ambisi Rezim Assad

PUING-puing bangunan yang hancur di Kota Aleppo akibat serangan militer Suriah, memperlihatkan betapa buasnya rezim Bashar al-Assad dalam mempertahankan kekuasaan. Assad bersama sekutunya, tak mengenal kompromi, menghabisi para pemberontak yang menguasai kota itu, meski harus mengorbankan warga sipil.

Aleppo, kota terbesar setelah Damaskus, yang sebelumnya dikuasai para pemberontak, kini jatuh ke genggaman rezim Assad. Upaya gencatan senjata telah dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Namun, bukan berarti peperangan di Suriah akan berakhir. Setelah menguasai Aleppo, Presiden Assad bersumpah untuk merebut kembali kota bersejarah di Suriah bagian tengah, Palmyra. Kota itu kini dikuasai militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS).

Serangan militer Suriah yang didukung Iran dan Rusia pada Rabu (14/12), menjadi pukulan telak bagi para pemberontak yang berbendera Front Saleh al-Sham. Kelompok militan yang semula berafiliasi dengan jaringan teroris Al Qaeda itu tak kuasa menghadapi serangan militer pro Assad yang dilancar via darat dan udara. Dalam kondisi yang terdesak, mereka nampaknya berupaya menjadikan warga sipil sebagai tameng agar bisa menyelamatkan diri.

Guna menghindari jatuhnya korban, khususnya dari warga sipil, evakuasi dilakukan. Sebanyak 21 bus dan 19 ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terluka dan terjebak di bagian timur Aleppo. Konvoi kendaraan bergerak lambat, merayap keluar dari distrik Al-Amiriyah, hingga akhirnya berhasil menyeberang ke Ramussa yang dikuasai tentara Assad.

Upaya evakuasi yang diorganisir Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan Bulan Sabit Merah Suriah itu berlangsung tegang. Ibrahim Abu Allaith dari Pertahanan Sipil Suriah mengatakan, seorang milisi yang setia kepada Assad, dikabarkan terbunuh dan empat lainnya terluka lantaran terjadi serangan bersenjata yang mengarah pada konvoi kendaraan yang mengangkut warga sipil itu.

Sementara pemberontak mengklaim evakuasi baru dilaksanakan setelah terjadi penembakan dan serangan udara yang dilancarkan militer Assad yang mengakibatkan warga ketakutan.

Beruntung, tidak ada warga sipil yang terluka. Hingga akhirnya, konvoi kendaraan berhasil meninggalkan Aleppo bagian timur. “Mereka telah melewati garis depan ke wilayah pedesaan di Aleppo bagian barat,” kata Juru bicara ICRC, Ingy Sedky.

Zouhir Al Shimale, seorang wartawan independen di Aleppo timur mengatakan, evakuasi tetap berlangsung, meskipun serangan terhadap sebuah mobil ambulans terjadi. Sejak Kamis pagi, ratusan keluarga telah berkumpul di titik keberangkatan untuk menumpangi kendaraan.

“Warga sipil diberi pilihan untuk tinggal (di Aleppo) atau pergi. Jika mereka tinggal, mereka akan berada di bawah kendali rezim. Sebagian besar ingin pergi karena mereka takut ada pembantaian yang dilakukan rezim,” kata Shimale.

Evakuasi itu dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Evakuasi yang mengangkut ribuan warga sipil, termasuk di antaranya para pemberontak, diperkirakan berlangsung tiga hari.

Awalnya, ribuan warga sipil, termasuk di antaranya pemberontak, dievakuasi pada Rabu pagi. Namun, warga sipil yang kedinginan dan kelaparan yang telah berkumpul sebelum fajar, dibuat panik lantaran serangan membabi buta. “Pengeboman sedang berlangsung, tidak ada yang bisa bergerak. Setiap orang bersembunyi dan ketakutan,” kata aktivis kemanusiaan, Mohammad al-Khatib saat berada di Aleppo bagian timur. Akibat serangan itu, tak sedikit warga sipil yang terluka dan tewas. Tidak ada yang memberikan pertolongan dan mengangkat mayat yang tergeletak di jalan lantaran ketakutan.

Dalam pernyataannya, usai pertemuan darurat di Kairo, Mesir, kemarin, Liga Arab mengutuk cara Pemerintah Suriah dalam menangani gencatan senjata dan evakuasi di Aleppo. Assad diperingatkan untuk melindungi warga sipil yang hendak keluar dari kota itu. “Rezim Suriah dan sekutu-sekutunya tidak hanya menghancurkan kota demi kota, namun mereka juga terus menerus membunuh secara brutal saudara-saudari Suriah,” kata delegasi Arab Saudi Ahmed Kattan.

Presiden Prancis Francois Hollande mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan para pemantau untuk memastikan evakuasi berjalan dengan lancar. Hollande juga memperingatkan jika bantuan dan perlindungan segera dan tanpa syarat harus diberikan kepada warga sipil di Aleppo. “Tanpa diskriminasi dan harus didasarkan pada hukum kemanusiaan internasional,” ujarnya.

Pimpinan Nureddin al-Zinki dan Ahrar al-Sham, kelompok pemberontak garis keras mengkonfirmasikan, kesepakatan gencatan senjata baru mulai berlaku setelah terjadi serangan pada Rabu tersebut. “Gencatan senjata mulai berlaku di Aleppo setelah negosiasi antara Rusia dan Bulan Sabit Merah Turki,” kata Yasser al-Youssef, seorang pejabat politik dari Nureddin al-Zinki.

Sementara Moskow yang bersekutu dengan rezim Assad, menyalahkan pemberontak karena melanggar gencatan senjata. Moskow mendesak oposisi agar mengakhiri perlawanan di Aleppo selama dua atau tiga hari ke depan.

Sebuah sumber yang dekat dengan pemerintah mengatakan, Damaskus keberatan dengan jumlah orang yang dievakuasi dan mengklaim jika jumlah pemberontak meningkat dari dua ribu menjadi 10 ribu orang. Tapi Youssef mengatakan, rezim Assad dan Iran yang berusaha menghubungkan kesepakatan Aleppo ke masalah di Fuaa dan Kafraya, dua desa yang dihuni Syiah di laut Suriah yang dikepung pemberontak.

Sementara negara-negara barat terkesan tutup mata dengan konflik yang berkecamuk di Suriah. Desakan internasional tak mampu meredam ambisi Assad menghabisi para militan lantaran mendapat label teroris itu.

Dalam menghadapi pertempuran melawan militer Suriah, Front Saleh al-Sham dan Ahrar al-Sham lebih mengandalkan dukungan senjata dan dana dari negara-negara monarki di kawasan teluk, yang berseberangan dengan Iran.

Setelah menguasai Aleppo, saat diwawancarai stasiun televisi Russia 24, Assad menyatakan, tentaranya akan merebut Palmyra yang dikuasai militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS). Akhir pekan lalu, ISIS merebut sebagian besar wilayah kota itu setelah bertempur menghadapi militer Suriah dan mengamankan dataran tinggi.

Invasi yang dilakukan ISIS itu menjadi ancaman bagi warga sipil yang mendukung pemerintah Assad. Kantor berita ISIS, Amaq melaporkan, kelompok militan itu telah menguasai pegunungan strategis, Jabal al Tar dan Jabal Antara yang menghadap ke kota itu. Militan juga berhasil menembak jatuh pesawat perang Suriah di Jazal, daerah ladang minyak di barat laut Palmyra. Serangan ISIS juga menewaskan puluhan tentara Suriah sehingga berhasil menguasai lumbung pangan dan kendali sejumlah ladang minyak dan gas di sekitar Palmyra.

Untuk merebut Palmyra, Assad nampaknya direstui AS yang juga berkepentingan menghabisi militan ISIS.  Assad menyebut jika Presiden AS terpilih, Donald Trump sebagai sekutunya. Trump sebelumnya telah berjanji akan memerangi teroris dan tidak mencampuri urusan domestik negara lain.

Dalam kesempatan itu, Assad juga menegaskan komitmennya untuk membangun kembali negaranya yang hancur akibat peperangan. Dia menyerukan agar para pengungsi asal Suriah kembali ke rumahnya. Assad juga memprioritaskan Rusia, Iran, China, dan negara-negara lain, untuk terlibat dalam pembangunan kembali Suriah.

Di sisi lain, Assad harus menghadapi sanksi negara-negara barat, khususnya beberapa mitra dagang utamanya di Uni Eropa, termasuk Turki dan negara-negara monarki di kawasan Teluk dan Yordania.

Jatuhnya Aleppo ke genggaman rezim Assad diperkirakan tidak akan menghentikan peperangan. “Tentu saja, itu bukan akhir dari peperangan. Tapi, ketika anda menguasai Aleppo, anda mengendalikan 90 persen kawasan subur di Suriah, menguasai kota dan pasar, dan penduduk,” kata pernyataan resmi senior pro-Damaskus di wilayah tersebut.

Namun, bukan mustahil kekuatan Assad rapuh jika koalisi dengan Iran dan Rusia pecah. Karena, kemenangan Assad dalam peperangan melawan para pemberontak, tidak terlepas dari peran militer Rusia dan milisi Syiah yang didukung Iran. Karenanya, Assad akan tetap mengandalkan peran Moskow dan Teheran agar dapat menguasai kembali wilayah tersebut. Tentu dengan syarat, dia harus merespons kepentingan Rusia dan Iran di Suriah.

Sementara di sisi lain, kekalahan para pemberontak dikhawatirkan akan kian memproduksi para jihadis. Mereka diperkirakan akan terus melancarkan serangan secara bergerilya dan melakukan aksi bom bunuh diri.

Dan, yang paling mengkhawatirkan adalah peperangan antar warga sipil lantaran dibumbui perbedaan sektarian. Para pemberontak yang mayoritas Muslim Sunni, tentu tidak akan membiarkan kekuatan minoritas Alawit Syiah, menguasai Suriah.

Rezim Assad memang lebih dominasi sekte Alawit, kelompok minoritas Syiah, yang oleh garis keras Sunni dianggap sesat. Meski minoritas, Alawit menguasai birokrasi dan militer. Mereka membentuk gerakan pro-Assad, lalu berkembang menjadi pasukan paramiliter bersenjata dan menjadi bagian dari organisasi sayap yang disponsori negara yang dikuasai Partai Baath.

Konflik sektarian itu yang rupanya dimanfaatkan Assad untuk mendapatkan dukungan ketika kekuasaannya goyang di tahun 2011. Beberapa pihak yang kontra Assad berharap, ada kudeta di internal yang memungkinkan munculnya sosok yang lebih berkompromistis. Tetapi, sebagai penguasa, Assad akan mengamankan kekuasaannya.

Bagi musuhnya, Assad adalah orang yang telah membakar Suriah, membiarkan kekuatan asing menyelinap lewat kekuasaan yang digenggamnya. Assad juga dianggap diktator yang berlumuran darah lawan-lawannya dan menyebabkan kehancuran Suriah akibat bom yang dilancarkan militer yang pro terhadapnya.

Sementara bagi para pendukungnya, sosok Assad sangat diperlukan. Dia dianggap pemimpin tegas dalam perang melawan para militan yang membunuh  kelompok minoritas dan meluncurkan serangan terhadap negara-negara lain. Tanpa Assad, mereka mengatakan, kekuatan bersenjata Suriah akan runtuh yang membahayakan negara untuk dekade yang akan datang.

Peperangan yang berlangsung hampir enam tahun di Suriah, telah membunuh ratusan ribu warga Suriah, menyebabkan 11 juta warga mengungsi, dan menyisahkan puing-puing kehancuran infrastruktur serta memporak-porandakan perekonomian negara.

“Suriah telah menderita, terluka,” kata Nikolaos Van Dam, mantan diplomat Belanda dan penulis buku tentang sejarah dan politik Suriah, saat berbicara tentang masa depan Suriah.

Kekerasan melanda Suriah dengan cepat terjadi pasca demonstrasi tahun 2011 yang tidak terlepas dari peristiwa berdarah pada masa Hafez al-Assad, ayah Bashar al-Assad, yang berkuasa sejak tahun 1970 hingga 2000. Di tahun 1976, Hafez menghabisi para pemberontak Islam. Dia pun dituding bertanggungjawab atas pembantaian ribuan orang di Kota Hama tahun 1982.

Peristiwa berdarah itu yang menyebabkan dendam kepanjangan, memancing protes Muslim Sunni di Arab tahun 2011 dan memantik perang saudara di Suriah. “Mereka tidak memiliki solusi lain dan hanya itu (perang),” kata Ayman Abdel Nour, teman Assad yang pro-reformasi dan meninggalkan Suriah tahun 2007.

Abdel Nour memandang sosok Assad jauh berbeda dibandingkan saat pertama kali dikenalnya semasa kuliah di Universitas Damaskus pada awal tahun 1980. “Dia sangat rendah hati, sangat baik, sangat sederhana, ia tidak seharusnya menjadi presiden,” katanya.

Tahun-tahun awal Assad menjadi presiden, menggantikan ayahnya tahun 2000, sempat menimbulkan harapan terjadinya reformasi politik dan ekonomi di Suriah. Namun, oposisi menentangnya. Resistensi itu diaktualisasikan dalam bentuk demonstrasi di tahun 2011.

Sejak itu Suriah dilanda pertikaian. Para pemberontak berjuang menghadapi pasukan Assad di Aleppo dan Hama. Mereka didukung Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi, dan Qatar. Sementara tentara Suriah didukung Rusia, Iran, milisi Syiah, dan para pejuang dari Hizbullah Libanon. Situasi makin tak terkendali lantaran militan IS menebar kekacauan untuk merebut wilayah itu.

Perang di Suriah nampaknya tidak sebatas konflik domestik antara kelompok demokrasi yang melawan rezim Assad yang diktator. Namun, Suriah sudah menjadi medan  pertempuran sejumlah negara yang berupaya menancapkan pengaruhnya.

Suriah seakan menjadi panggung unjuk kekuatan yang dilakukan AS, Rusia, Iran, Arab Saudi, Qatar, Turki, Uni Eropa, dan Hizbullah di Lebanon. Rezim al-Assad awalnya kelompok minoritas Syiah Alawiyah yang kemudian mendapatkan dukungan dari Iran lalu membentuk aliansi strategis Iran-Suriah yang dinamakan Poros Syiah (Iran-Irak-Suriah-Hizbullah di Lebanon) yang mengancam kekuatan Sunni yang didukung Arab Saudi, Qatar, dan Israel.

Suriah juga menjadi ajang perebutan jalur pipa gas antara Qatar dan Iran. Kedua negara itu berupaya menguasai ladang gas dengan cadangan terbesar di dunia. Demikian pula Eropa dan AS yang mendukung Sunni demi tujuan merealisasikan jalur pipa gas dari Qatar, Arab Saudi, Yordania, Suriah, dan Turki. Dengan begitu, Eropa mengurangi ketergantungan gas dari Rusia. Keterlibatan negara-negara itulah yang menyebabkan kedamaian di Aleppo menghadapi jalan buntu. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Reuters/AFP/Al Jazeera/Xinhua
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s