Mereka Dihantui Trauma

GEMPA berkekuatan 6,5 skala richter (SR) pada Rabu pagi (7/12), yang mengguncang Pidie Jaya, Pidie, dan Biruen, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), menyisahkan dampak yang luar biasa.

Data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, sebanyak 102 orang meninggal dunia, delapan di antaranya belum teridentifikasi. Bencana itu juga menyebabkan satu orang hilang, 136 orang luka berat, 616 orang luka ringan, dan 3.276 orang mengungsi.

Kabupaten Pidie Jaya adalah daerah yang paling parah diguncang gempa. Di sana, 99 orang meninggal dunia, 128 orang luka berat, dan 489 orang luka ringan. Sebanyak 2.154 warga Pidie Jaya juga mengungsi di 11 titik di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu. Lalu, sebanyak 280 orang dirawat di Rumah Sakit (RS) Sigil, RS Bireuen, RS Banda Aceh, dan RS Pidie Jaya.

Di Bireuen, gempa menewaskan dua orang, delapan orang luka berat, 127 orang luka ringan, dan 1.113 orang mengungsi di dua titik. Sementara di Kabupaten Pidie, satu orang dilaporkan meninggal dunia dan satu orang masih dinyatakan hilang.

Kerusakan infrastruktur juga luar biasa. Belum diketahui total nilai kerugiannya. Namun, BNPB mencatat, sebanyak 10.534 unit rumah rusak, di antaranya 2.015 rumah rusak berat, 85 rumah rusak sedang, dan 8.434 rumah rusak ringan. Lalu, 105 rumah toko (ruko) roboh, 19 ruko rusak berat, dan 55 masjid rusak berat. Beberapa bangunan milik pemerintah, sekolah, mushola dan lainnya juga mengalami kerusakan.

Pelaksana tugas Gubernur Aceh, Soedarmo, menyatakan, sekitar 8.000 orang terkena dampak gempa. Dia memastikan, para korban yang luka berat dan ringan, sudah dievakuasi dan ditangani dengan baik oleh tim medis. Para korban itu berasal dari enam kecamatan yaitu Pante Raja, Bandar Dua, Tringgadeng, Meureudu, Bandar Baru dan Alee Glee.

Proses evakuasi hingga kini masih dilakukan. Bukan mustahil, jumlah korban akan bertambah. “Evakuasi korban masih dilanjutkan,” kata Kasi Kordinasi Basarnas M Husain di lokasi gempa, seperti dikutip Antara, Jum’at (9/12).

Presiden Joko Widodo kemarin menyambangi para korban. Kepala Negara berjanji, pemerintah akan memberikan bantuan pembangunan kembali rumah warga yang rusak berat sebesar Rp40 juta. Sementara yang rusak sedang, akan menerima bantuan sebesar Rp20 juta. Menurtu Presiden, rumah penduduk yang terkena dampak gempa masih sedang dalam proses verifikasi.

“Ada dua kategori nanti, yaitu yang rusak berat artinya sudah roboh total dan rusak sedang. Nanti baru dihitung jumlahnya berapa, akan ada keputusan bupati dan gubernur untuk menentukan jumlah,” kata Presiden usai meninjau korban gempa yang dirawat di halaman Kantor Bupati Pidie Jaya, Aceh, Jumat.

Bantuan dari pemerintah, tentu tidak hanya dalam bentuk dana. Namun, pemerintah dan para pihak terkait perlu memikirkan trauma warga. Mereka yang selamat, masih khawatir gempa susulan. Karenanya, mereka memilih tidur di ruang terbuka, di tenda-tenda di posko pengungsian. Di sepanjang jalan nasional, Banda Aceh-Medan misalnya, berjejer tenda-tenda ala kadarnya yang dihuni korban gempa. Ada pula warga yang tidur beratap langit, beralaskan tikar atau plastik.

Mereka enggan ke rumahnya lantaran khawatir gempa terjadi lagi, yang tak diketahui kapan terjadinya. “Semua warga tidak ada yang berani tidur di dalam rumah, mereka tidur di depan rumahnya atau di posko pengungsian,” kata Nadar, 38 tahun, warga Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, Kamis malam (8/12). Warga berkumpul di halaman masjid. Ada juga yang membangun tenda di depan rumah lantaran tak ingin rumahnya tak terjaga. Sementara soal konsumsi, mereka mendapatkannya dari posko pengungsian.

Kaeuchik Gampong Masjid Tuha, Djunaedi mengatakan, pengungsi yang menempati posko di wilayahnya berasal dari tiga dusun, Dunusu, Lhonga, dan Mesjidhwa. Jumlahnya mencapai 540 kepala keluarga (KK) dari sekitar 400 rumah. “Mereka masih mengungsi karena trauma,” katanya.

Para korban menceritakan pengalaman menakutkan saat gempa terjadi. Jelang tragedi pada Rabu pagi itu, mereka yang akan memulai aktivitas, dan masih tertidur lelap, dibuat kalang kabut oleh goyangan yang hebat. Mereka yang sadar akan bahaya mengancam, bergegas dan berhamburan ke luar rumah dan bangunan, lantaran khawatir tertimpa reruntuhan. Tetapi, malang bagi mereka yang masih tertidur atau terjebak dalam bangunan.

Ingatan itu yang membuat warga trauma. Apalagi, jika mengingat peristiwa tragis, robohnya 20 rumah toko (ruko) di Jalan Iskandar Muda, yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Mereka mengabarkan, ada sekitar 28 orang meninggal dunia lantaran tertimpa reruntuhan ruko.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Muklis, warga Pidie Jaya. “Kami masih was-was, karena sejak kemarin, kami masih merasakan ada getaran-getaran, meski tidak sebesar yang terjadi kemarin (Rabu, 7/12),” katanya.

Muklis bersama anggota keluarganya memilih tinggal di ruang terbuka, meski rumahnya tidak mengalami kerusakan parah akibat gempa. “Kalau tidak ada yang terlalu penting, kami lebih banyak di luar rumah saja. Takut ada gempa lagi,” katanya. Muklis bersyukur tak ada keluarganya yang menjadi korban.

Pasca gempa, Muklis turut membantu Tim SAR untuk mencari korban gempa yang masih tertimbun reruntuhan. “Kami bergotong royong bersama petugas mencari korban yang kemungkinan masih ada tertimbun reruntuhan,” katanya.

Gempa tidak hanya memakan korban jiwa dan merusak infrastruktur yang ada. Namun, menyisahkan trauma sehingga membutuhkan penanganan khusus karena dapat mempengarui gangguan fisik dan mental warga.

Gejalanya dapat dilihat dari adanya ketakutan, kekhawatiran, emosi, atau gangguan mental lainnya. Gangguan psikologis itu muncul karena ketidakmampuan seseorang mengontrol kejiwaannya saat tiba-tiba dihadapi kejadian mengerikan. Mereka yang trauma itu harus ditolong lewat penyembuhan psikologis (healing) guna memulihkan fungsi mentalnya.

Di antara kelompok yang paling rentan mengalami trauma berkepanjangan adalah anak-anak. Apalagi, bagi anak-anak yang orang tuanya meninggal dunia. Di Meureudu, Pidie Jaya, seorang balita ditemukan selamat dari reruntuhan. Ibunya, Mudiawati, dan keluarga lainnya dilaporkan meninggal dunia.

Kini, balita itu hidup seorang diri. “Balita ini anak almarhumah Mudiawati, yang saat kejadian, satu keluarga tinggal dalam ruko di Meureudu, diperkirakan meninggal dunia semua. Korban adalah rekan kami satu tempat mengajar di SMPN 2 Ulim,” kata Nazarrudin, Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Kabupaten Pidie Jaya.

Balita malang itu, kini diasuh sementara di Pondok Ceria yang didirikan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi yang karib disapa Kak Seto, bekerja sama dengan Kementerian Sosial (Kemensos).

Balita itu hanya satu dari sekian banyak anak yang menjadi korban. Usia mereka yang masih sangat muda, tentu membutuhkan penanganan khusus. Mereka rawan mengalami gangguan mental lantaran tak kuasa menerima cobaan. Apalagi, sampai orang tua atau ada anggota keluarganya maupun rekan-rekan bermain yang meninggal dunia. Mereka juga sedih jika mengetahui sekolahnya hancur. Mereka juga sedih lantaran tak lagi bisa bermain di ruang-ruang terbuka lantaran telah disesaki puing-puing bangunan.

Jika tidak ada penanganan khususnya, maka dampaknya akan berkepanjangan yang akan menghambat tumbuh kembangnya anak-anak. Dibutuhkan penanganan khusus, pendampingan dan kondisi lingkungan yang kondusif bagi mereka. Anak-anak harus diarahkan agar tidak mengingat-ingat lagi peristiwa bencana. Ingatan mereka akan peristiwa mengerikan harus segera dialihkan. Jika ingatan buruk itu begitu kuat terbenam di memorinya, maka dikhawatirkan dapat berdampak pada gangguan psikis.

Apalagi, peristiwa itu menyebabkan kematian orang-orang yang dicintainya. Anak-anak pun trauma lantaran tiba-tiba harus beradaptasi dengan lingkungan baru seperti di pengungsian, yang tidak lebih baik saat rumahnya belum hancur akibat gempa. Mereka yang tak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, cenderung memperlihatkan kesedihan. Sifat awalnya yang riang gembira, berubah menjadi kesedihan tatkala dihadapkan dengan kondisi yang baru.

Dalam upaya menekan trauma pada anak-anak, Kak Seto telah datang ke lokasi bencana dan akan mengaktifkan Pondok Ceria. Menurut dia, kegiatan di Pondok Ceria di antaranya mengajak anak-anak bermain, melukis, dan bernyanyi, termasuk mendirikan perpustakaan agar bisa melupakan kehilangan orangtuanya atau sanak saudaranya. Beberapa psikolog juga dilibatkan untuk melakukan intervensi guna memulihkan mental anak-anak.

Pendirian Pondok Ceria di Kabupaten Pidie Jaya pernah dilakukan LPAI saat bencana tsunami Aceh tahun 2004 dan Yogyakarta tahun 2006. “Di setiap terjadi musibah bencana alam, kami akan mendirikan pondok ceria untuk pemulihan trauma,” kata Kak Seto.

Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Parawansa juga menyatakan, pemerintah menyediakan Pondok Ceria di sembilan titik bagi anak korban gempa Aceh. Di setiap pondok, terdapat tim pemulihan dan konseling trauma. Menurut Mensos, pondok Ceria tersebut dikoordinir oleh tim trauma healing dan trauma konseling Kemensos.

Trauma juga bsa menimpa orang dewasa. Penyebabnya, karena kekhawatiran akan hilangnya mata pencarian akibat kerusakan fisik yang diakibatkan gempa. Apalagi bagi mereka yang memiliki tanggungan, tentu akan khawatir gempa berdampak kian berkurangnya pendapatan. Kondisi ini jika tidak diatasi akan memicu stres lantaran ketidakterimaan seseorang dengan perubahan kondisi kehidupan saat ini.

Karenanya, penanganan korban gempa atau bencana lainnya, tidak hanya fokus pada pemberian santunan dan rehabilitasi infrastruktur semata. Namun, dibutuhkan upaya mengembalikan keberfungsian sosial yang terganggu akibat gempa yang menciptakan situasi dan kondisi baru yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Dalam konteks ini, dibutuhkan intervensi sosial kepada para korban yang ditujukan untuk merehabilitasi psikologis para korban, khususnya anak-anak, remaja, maupun perempuan, atau golongan dewasa lainnya yang mengalami trauma.

Trauma (shock) adalah luka kejiwaan yang disebabkan peristiwa tiba-tiba yang sangat menekan dan mengancam keselamatan seseorang. Lantaran terjadi tiba-tiba, seseorang kadangkala tidak mampu mengontrol kejiwaannya sehingga menimbulkan ketakutan luar biasa, yang pada akhirnya berdampak pada fisik dan mentalnya.

Gempa bumi atau bencana lainnya merupakan peristiwa traumatis yang terjadi tiba-tiba dan menyeramkan sehingga menimbukan perasaan takut yang berlebihan. Seseorang yang mengalami trauma, butuh waktu dan pendampingan dari orang-orang tertentu, di antaranya psikiater.

Ketidakmampuan dalam meredam trauma itu bisa berdampak pada perubahan karakter dan perilakunya. Misalnya, seseorang menjadi lebih suka bersedih, pemarah, menyendiri, gemetaran, mengalami insomia, sering mimpi buruk, gelisah, was-was, keringat dingin, sesak nafas, dan sebagainya.

Model intervensi maupun program sosial yang direalisasikan harus berorientasi pada upaya mengembalikan keberfungsian sosial. Gempa bumi atau bencana lainnya, tidak hanya menciptakan jatuhnya korban jiwa dan kehancuran infrastruktur semata. Namun, yang tak kalah penting untuk ditangani adalah memecahkan masalah disfungsi sosial.

Misalnya, fungsi keluarga yang hilang lantaran sebuah keluarga yang anggotanya meninggal dunia, apalagi orang tua, tentu akan mempengarui psikologis anak-anaknya. Seorang isteri yang ditinggalkan suaminya di kala anak-anaknya masih kecil, tentu harus melakoni peran ganda untuk perkembangan fisik dan mental anak-anaknya ke depan. Demikian pula seorang suami yang isterinya meninggal dunia, harus menjalankan peran sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya. Di masa-masa transisi ini, dibutuhkan pendampingan sosial agar mereka mampu mengembalikan lagi fungsinya sebagai pemimpin dalam keluarga.

Sementara anak-anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya, membutuhkan peran pemerintah, organisasi-organisasi sosial maupun keluarga yang bersedia membesarkannya, memberikan perlindungan dan jaminan masa depan yang lebih baik bagi mereka.

Pemulihan trauma tidak cukup sehari atau dua hari. Namun, proses intervensi bisa membutuhkan waktu yang lama hingga para korban dikembalikan fungsi mentalnya. Dengan begitu, mereka akan siap kembali menjalankan aktivitas kehidupan seperti sediakala.

Di penting intervensi sosial yang terencana, baik secara individu maupun pada komunitas. Lingkup intervensi individu (individual approach), direalisasikan dengan tujuan mendorong keberfungsian sosial agar individu mampu mengembangkan interaksi dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Bentuk programnya bisa melalui rehabilitasi, remedial (penyembuhan), dan pemberian bantuan sosial.

Sementara pendekatan melalui komunitas (community approach), diarahkan agar warga dapat secara bersama-sama mengembangkan dayanya. Model intervensi bisa direalisasikan lewat program pengembangan masyarakat (community development), pelayanan masyarakat  (community services), perencanaan berbasis komunitas (community planning), pendidikan masyarakat (community  education), dan sebagainya.

Pembenahan infrastruktur juga perlu dilakukan segera. Misalnya, kerusakan infrastruktur publik (pasar, jalan, perkantoran, ruko, dan sebagainya). Kondisi yang serba tidak memungkinkan itu tentu memicu kekhawatiran masyarakat terkait aktivitas keseharian dalam mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarganya.

Seorang warga yang berprofesi sebagai pedagang tentu akan berpikir bagaimana mengembalikan usahanya yang hancur akibat gempa. Tanpa ada bantuan usaha dan dukungan infrastuktur untuk berdagang, tentu akan menyulitkan aktivitas usahanya.

Demikian pula pembangunan sekolah-sekolah yang hancur. Bagi para siswa, sekolah tak hanya tempat belajar. Namun juga menjadi tempat berinteraksi dan bermain. Proses belajar mengajar setidaknya harus segera diaktifkan sehingga bisa mengurangi ingatan para siswa mengenai bencana yang menimpa.

Begitu pula fasilitas ibadah. Masjid dan mushola harus segera dibangun agar masyarakat dapat khusuk menjalani ibadah. Dengan begitu, kian menyakinkan mereka jika bencana adalah takdir Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada.

Perbaikan rumah-rumah warga, khususnya yang rusak parah juga harus dilakukan agar tidak muncul banyak tunawisma yang jika dibiarkan akan memicu permasalahan sosial lainnya.  Menempatkan warga di pengungsian merupakan solusi jangka pendek. Mereka tentu tidak ingin pula lama-lama tinggal di posko pengungsian yang serba kekurangan, rawan penyakit dan tidak nyaman.

Situasi di posko pengungsian yang serba kekurangan dan tak nyaman, akan memicu stres yang dapat mengubah perilaku seseorang menjadi lebih cepat marah, senang sendirian, kurang nafsu makan, merasa tidak berdaya, tidak bersemangat, frustrasi, dan sebagainya. Belum lagi kondisi yang tidak menyehatkan, tentu rawan penyebaran penyakit.

Fungsi keluarga juga tidak berjalan dengan baik lantaran harus tinggal bersama dengan keluarga lain. Ketidaknyamanan, kejenuhan, maupun ketidakpastian tinggal di pengungsian, pada akhirnya akan mempengarui psikologis para korban gempa. Jangan sampai kemudian memunculkan sikap putus asa dalam menghadapi masa depan.

Pemerintah juga harus benar-benar menjamin tersedianya kebutuhan pokok untuk para korban di tengah kondisi yang sulit saat ini. Kurangnya ketersediaan bahan pokok dikhawaetirkan dapat menciptakan keresahan, yang rawan memancing kekerasan.

Gempa berkuatan 6,5 skala richter yang mengguncang Pidie Jaya, Pidie, dan Biruen, harus menjadi pelajaran bersama. Apalagi, bagi masyarakat Aceh yang tinggal di daerah yang rawan diguncang gempa.

Gempa yang mengerikan memang memicu kepanikan. Namun, kepanikan yang berlebihan justru dapat menyulitkan seseorang untuk berpikir jernih guna mencari cara yang tepat agar dapat menyelamatkan diri.

Ketika terjadi gempa, bila sedang berada di dalam rumah atau gedung, buka pintu rumah dan berlindung di bawah furnitur, seperti meja makan, atau benda yang kiranya dapat bertahan apabila ada benda jatuh dari atas.

Selalu upayakan untuk berlindung jauh dari jendela, karena kaca jendela yang pecah karena guncangan, dapat berhamburan sehingga dapat melukai. Bila guncangan gempa terasa sangat kuat, maka segera meninggalkan rumah atau gedung dan mencari tempat terbuka.

Lalu, jangan pernah menerima panggilan telepon ketika gempa tengah mengguncang karena menganggu fokus penyelamatan. Ketika sudah mengevakuasi diri, jangan kembali ke rumah sebelum ada informasi dari pihak berwenang jika gempa telah berhenti.

Apabila sedang berada di dekat sumber api, seperti kompor di dapur, segera matikan kompor dan menjauhi letak tabung gas dari sumber api guna menghindari terjadinya ledakan dan kebakaran.

Bila berada dalam gedung bertingkat, segera evakuasi keluar gedung dan tidak menggunakan elevator. Karena, ketika gempa terjadi, dikhawatirkan elevator berhenti akibat gangguan listrik sehingga menyulitkan upaya penyelamatan diri. Karenanya, lebih baik gunakan tangga darurat.

Jika berada di ruang terbuka, pastikan selalu melindungi kepala dengan benda apapun seperti jaket atau tas. Karena, saat gempa, ada kemungkinan benda runtuh menimpa kepala. Dan, menjauhlah dari gedung, rumah, pohon, dan sebagainya.

Ketika berada dalam kendaraan, segera minggirkan kendaraan dan mendengarkan informasi dari siaran radio. Apabila keadaan tidak memungkinkan untuk bertahan dalam kendaraan, seperti mobil, ada baiknya langsung mengamankan surat-surat dan dokumen kendaraan, lalu berlari menuju daerah yang aman.

Bagi yang tinggal di pesisir pantai, hal pertama yang harus dilakukan ialah langsung mengevakuasi diri ke daerah yang lebih tinggi. Karena, gempa besar yang terjadi di perairan, berpotensi tsunami. Jangan mendekati kawasan pesisir sebelum ada informasi dari pihak terkait yang menyatakan potensi tsunami dicabut.

Hal paling penting saat gempa ialah mengikuti instruksi dan mencari informasi yang disiarkan pihak-pihak terkait, seperti BMKG maupun pemerintah daerah. Bila sudah ada informasi valid gempa dan ancaman tsunami berakhir, baru kembali ke rumah. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Antara
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s