Terseret Perkara Memperdagangkan Pengaruh

PRESIDEN Korea Selatan Park Geun-hye kian tersudutkan. Desakan pemakzulan (impeachment) diperkirakan bakal menguat setelah pihak kejaksaan agung mengumumkan ada bukti dugaan keterlibatan Park dalam skandal korupsi yang dilakukan orang-orang terdekatnya.

Terseretnya Park menjadikan kasus high-profile itu mengguncang Korea Selatan selama beberapa minggu terakhir. Kantor kepresidenan Korea Selatan (Cheong Wa Dae) menyesalkan langkah kejaksaan yang mengumumkan hasil penyelidikan sementara yang menyebut keterlibatan Park.

“Pernyataan jaksa penuntut umum terkait hasil penyelidikan sangat disesalkan,” kata seorang pejabat di kantor kepresidenan. Penyesalan serupa juga dinyatakan pengacara Park, Yoo Yeong-ha. Dia berjanji akan mengeluarkan pernyataan yang lebih rinci terkait dugaan skandal korupsi yang menyeret Park.

Minggu (20/11), untuk pertama kali, pihak kejaksaan menyebut Park diduga terlibat dalam skandal korupsi yang melibatkan teman dekatnya, Choi Soon-sil, dan dua mantan sekretaris pribadinya, Ahn Chong-bum dan Jeong Ho-seong.

Jaksa menyebut Park berkolusi dengan ketiganya dan menemukan bukti permulaan yang cukup untuk mengusut dugaan tindak pidana. Choi dan Ahn saat ini sedang disidik terkait kasus penyalahgunaan kekuasaan, penipuan, dan pemaksaan. Choi juga menghadapi tuduhan pembocoran dokumen negara melalui email, telepon dan fax.

Jaksa berjanji akan melanjutkan penyelidikan guna mengungkap dugaan keterlibatan Park. Namun, jaksa sepertinya tidak bisa mendakwa Park karena konstitusi menempatkan presiden kebal dari tuntutan hukum, kecuali terbukti melakukan pengkhianatan terhadap negara.

Hasil penyelidikan sementara jaksa dipastikan akan memacing gelombang aksi massa yang menuntut Park mundur dari kekuasaannya. Beberapa hari lalu, ribuan demonstran menggelar aksi di pusat kota Seoul, dan sejumlah daerah. Demonstran berserta oposisi juga mewacanakan pemakzulan terhadap Park.

Park dinilai melakukan pembiaran terhadap Choi dalam mengakses pidatonya sebagai presiden dan dokumen pemerintah lainnya, yang beberapa di antaranya termasuk informasi rahasia negara. Tuduhan itu bisa jadi akan menyeret Park pada tuntutan pelanggaran hukum yang mengatur mengenai kerahasian negara. Dan, tidak mustahil, Park dimakzulkan jika ditemukan adanya ancaman terhadap keamanan negara.

Sebelumnya Park mengakui punya hubungan dengan Choi. Park mengungkap, Choi pernah membantunya ketika mengalami kesulitan di masa lalu. Park juga mengakui jika Choi pernah menawarkan bantuan untuk mengurusi urusan negara, termasuk mempersiapkan pidatonya sebelum pemilihan presiden. 25 Oktober dan 4 November lalu, Park mengaku menyerahkan beberapa draft pidatonya kepada Choi untuk mendapatkan saran.

Dan, Park terkejut jika perbuatannya itu memicu kekhawatiran publik. “Saya telah melakukannya sehingga saya akan meninjau kembali dokumen itu,” katanya. Masalah tak sampai di situ, Park diduga memiliki hubungan dekat dengan Choi untuk mendorong para konglomerat menyumbangkan uang dalam jumlah besar untuk dua yayasan nirlaba miliknya. Para ahli hukum menilai, upaya pencarian dana itu merupakan penyalahgunaan kekuasaan. Terkait kasus itu, Park menyakini keterlibatannya dalam mencari dana untuk dua yayasannya murni untuk kepentingan negara.

Dalam perkara itu, Choi Soon-sil dan An Chong-bum dituduh bersekongkol dan memeras puluhan konglomerat di Korea Selatan untuk mendapatkan uang sebesar US$65,5 juta atau Rp 851,5 miliar dengan mengatasnamakan dua yayasan non-profit. Choi diduga memanfaatkan kedekatannya dengan Park. Choi telah mengajukan permintaan maaf dan merasa berdosa. “Saya minta maaf kepada publik,” katanya.

Media setempat melaporkan, Choi memiliki dokumen rahasia tanpa izin pihak keamanan dan terlibat dalam pengambilan keputusan presiden. Choi yang bukan pejabat publik juga mendapatkan perlakuan istimewa dari bank untuk mendapatkan pinjaman.

Senin (31/10) lalu, Choi ditahan oleh pihak kejaksaaan. Esoknya, otoritas setempat mengamankan informasi seputar transaksi keuangan yang terkait Choi di delapan bank. Ahn Jong juga ditahan lantaran diduga terlibat dalam penggalian dana dari perusahaan-perusahaan. Ahn diduga terlibat dalam upaya mendapatkan dana senilai US$ 70 juta dari sumbangan perusahan.

Dugaan keterlibatan Park dalam skandal korupsi yang disebut jaksa dipastikan akan memancing demonstrasi dan mendorong oposisi melakukan manuver. Mereka menebar pernyataan yang mendesak Park mundur dari kekuasaannya.

“Presiden Park telah menjadi tersangka, menciptakan kondisi hukum ke arah impeachment,” kata Youn Kwan-suk, juru bicara Partai Demokrat, oposisi utama kepada wartawan. “Dia harus mengikuti tuntutan masyarakat dengan memutuskan mundur secara sukarela, daripada membuat pilihan terburuk yang akan menjerumuskan bangsa ini ke dalam krisis yang lebih besar,” imbuhnya.

Sejumlah politisi juga menggelar pertemuan darurat guna menyikapi kasus yang menyeret Park. Delapan pentolan kubu oposisi mendesak Majelis Nasional dan tiga partai liberal agar membahas cara untuk mendorong impeachment terhadap Park.

Mereka juga memutuskan perlunya mencegah kevakuman kekuasaan jika Park mengundurkan diri atau dimakzulkan, termasuk menunjuk seorang perdana menteri yang dipilih parlemen untuk membentuk kabinet sementara.

“Ini sangat memalukan, jaksa menegaskan dugaan adanya tindakan kriminal terhadap seorang presiden,” tegas Moon Jae-in, mantan pemimpin Partai Demokrat disela-sela pertemuan. “(Kami) menegaskan, ada alasan yang cukup untuk melakukan impeachment terhadapnya.”

Ahn Cheol-soo, mantan Ketua Umum Partai Rakyat juga mendesak Majelis Nasional untuk mendorong Park mengundurkan diri atau melakukan impeachment. “Ada fakta bahwa presiden, yang harusnya menjaga konstitusi, telah menghancurkan dasar-dasar hukum,” kata Ahn.

Beberapa anggota Partai Saenuri, partai berkuasa, dan tidak dekat dengan Park juga mendorong proses impeachment. Mereka juga menuntut agar partai membentuk panel etik untuk mengkaji dugaan kasus Park. Bahkan, mereka mendesak partai untuk memberhentikan Park dari keanggotaan partai.

Sung-Yoon Lee, profesor studi Korea Universitas Tufts mengatakan, jika Park mundur, maka akan ada pemilihan presiden baru dalam waktu 60 hari ke depan. Hal itu akan membuka peluang bagi calon oposisi untuk mendapatkan keuntungan yang luar biasa dari masyarakat yang sangat kecewa kepada Park dan dan partainya.

Namun, agaknya tak satu pun dari partai oposisi siap lantaran berisiko tinggi. “Masalahnya adalah tidak ada nomor 2 dalam sistem politik Korea,” jelas Lee. Dia juga menilai, perdana menteri tak ubahnya boneka yang ditunjuk presiden dan bertindak tak ubahnya sebagai sekretaris presiden.

Di Korea Selatan, perdana menteri hanya jabatan simbolis, di mana kewenangan pemerintahan tetap terkonsentrasi dalam genggaman presiden. Skandal itu diperkirakan dapat menghambat rencana Park untuk mengubah konstitusi negaranya dengan harapan mengizinkan presiden menjabat beberapa kali atau membentuk sistem parlementer.

Park sebelumnya mengkritisi masa jabatan presiden yang terbatas yakni lima tahun sesuai amandemen konstitusi 1987. Pembatasan jabatan untuk mengakhiri kediktatoran militer itu dinilai Park menghambat perkembangan negara. Menurut dia, dengan masa jabatan presiden selama lima tahun, akan sulit mempertahankan keberlangsungan kebijakan.

Sementara itu, juru bicara Partai Saenuri, Yeom Dong-yeol, mengingatkan kalangan oposisi, masih terlalu dini menyimpulkan Park terlibat dalam kasus korupsi. Karena, Park hingga kini belum menjalani penyelidikan yang dilakukan kejaksaan. Park rencanaya akan diperiksa kejaksaan pekan ini untuk pertama kalinya sebagai kepala negara. “Kami berharap, fakta-fakta di balik skandal itu jelas dan diverifikasi melalui kejaksaan, penyelidikan independen juga direncanakan, dan penyelidikan yang dilakukan parlemen,” katanya.

Para pembantu presiden menyatakan tidak ada cara untuk menghadang demonstrasi yang diarahkan untuk memakzulkan Presiden. Namun,  presiden tidak dapat mengabulkan desakan mundur dari jabatannya karena konstitusi mengamanatkan kepada Park agar menjadi Presiden hingga Februari 2018. Sementara seorang pejabat di Kantor Kepresiden mengatakan, masih harus dilihat lagi hasil penyidikan sementara yang dilakukan jaksa guna menyimpulkan apakah mengarah pada proses impeachment.

Kepala Kejaksaan Pusat Distrik Seoul, Lee Young-ryeol, mengatakan, Park diduga terlibat dalam skandal korupsi yang menyeret teman dekatnya dan dua mantan sekretaris pribadi Park. Namun, Lee menambahkan, Park tidak bisa didakwa karena sebagai presiden memiliki kekebalan hukum seperti diatur dalam konstitusi. Namun, menurutnya, tim investigasi akan terus menyelidiki kasus yang menyeret Park.

Pihak Kejaksaan juga sudah memintai keterangan pihak Hyundai Motor, Korean Air Lines, Samsung Group, dan konglomerat lainnya. Tujuannya guna mengetahui apakah Park atau pejabat lainnya terlibat dalam skandal jual beli pengaruh untuk menekan para konglomerat agar memberikan dana dalam jumlah besar untuk yayasan non profit yang dikelola Park.

Dari pemeriksaan yang dilakukan kejaksaaan, Samsung dikabarkan memberikan dana sekitar dua juta euro untuk kepentingan bisnis Choi yang didirikan di Jerman. Seorang juru bicara Samsung menyatakan, pihaknya akan aktif bekerjasama dengan jaksa untuk melakukan penyelidikan.

Terseretnya Park dalam skandal korupsi, memicu kemarahan warga yang berunjuk rasa di Seoul dan sejumlah daerah lainnya. Para demonstran menuntut Park mundur. Skandal yang dilakoni Choi merontokkan kepercayaan publik terhadap Park dan Partai Saenuri. Menurut hasil survei yang dirilis Real Meter, penerimaan publik terhadap Park menurun drastis menjadi 21,1 persen sejak skandal itu mencuat.

Di tengah badai politik menghantam, Park melakukan perombakan (reshuffle) kabinet. Langkah itu tak serta merta meningkatkan kepercayaan publik. Reshuffle dianggap hanya akal-akalan untuk mengalihkan isu skandal yang menjerat Park. Dia pun dinilai tengah menggali persoalan politik lebih dalam.

Rabu (2/11), Park melakukan reshuffle. Dia mengangkat mantan Sekretaris Presiden, Kim Byong-joon, menjadi perdana menteri, menggantikan Hwang Kyo-ahn. Kim Byong-joon dan Park, dua politisi yang berbeda haluan. Kim merupakan politisi liberal, sementara Park politisi konservatif. Kim juga mantan pembantu mendiang presiden Roh Moo-Hyun.

Seorang juru bicara presiden mengakui jika pergantian perdana menteri lantaran terkait situasi saat ini. Park juga menunjuk mantan Pimpinan Komisi Pelayanan Keuangan Korsel, Yim Jong-yong, menjadi Menteri Keuangan sekaligus Wakil Perdana Menteri. Pergantian posisi Menteri Keuangan dari Yoo Il-ho ke Yim Jong itu direspons positif oleh pelaku pasar. Sementara untuk posisi Menteri Keselamatan dan Keamanan, Park menunjuk Park Seung Joo, mantan menteri gender di era Presiden Roh Moo Hyun.

Reshuffle itu dianggap sebagai strategi untuk mempertahankan kontrolnya di pemerintahan. Pilihan Park untuk mengangkat Kim Byong-joon sebagai perdana menteri diduga untuk meredam tekanan oposisi. Kim sebelumnya menyatakan Park kemungkinan diselidiki. Namun, dia menyatakan, prosedur dan metode penyelidikan kepada kepala negara harus hati-hati. Kim lalu menyebut ketentuan konstitusional yang memberikan kekebalan kepada presiden dari tuntutan hukum pidana, kecuali melakukan kejahatan serius seperti pengkhianatan terhadap negara.

Choi adalah putri mendiang pemimpin agama Choi Tae-Min, yang menikah enam kali, dan memiliki beberapa nama samaran. Dia mendirikan kelompok sekte yang dikenal sebagai Gereja Kehidupan Kekal. Choi berteman dengan Park setelah pembunuhan ibunya tahun 1974. Park memperlakukan Choi Tae-Min sebagai mentor dan kemudian membentuk ikatan yang erat dengan putrinya.

Beberapa hari lalu, lebih dari 10 ribu orang menggelar protes di Kota Seoul dan menyerukan Park untuk mundur dari kekuasaannya. Seorang pria pernah menabrak excavator di dalam sebuah gedung, tempat Choi sedang diperiksa oleh kejaksaan. Pria itu menyatakan ingin membantu Choi menuju kematian. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Yonhap News/Reuters/CNN/AFP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s