Kontroversi Donald Trump

DONALD John Trump mengubur mimpi Hillary Clinton untuk menghuni Gedung Putih. 20 Januari 2017, politisi berlatar belakang pengusaha itu resmi menjadi orang nomor satu di negeri Paman Sam. Dia menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, menggantikan Barrack Obama.

Kemenangan Trump dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) yang digelar 8 November lalu, cukup mengejutkan. Pasalnya, dia dikenal sebagai sosok yang kontroversi. Tingkat elektabilitasnya pun berada di bawah Hillary. Seminggu menjelang pemilihan, rata-rata hasil jajak pendapat yang dirangkum RealClearPolitics menunjukkan, Hillary masih unggul 6,2 persen dari Trump, dengan 48,1 persen melawan 41,9 persen.

Bisa jadi, hasil survei yang salah dalam memotret pilihan politik warga AS atau karena perubahan pilihan politik warga AS yang begitu cepat lantaran berbagai isu yang bertebaran terkait rekam jejak masing-masing kandidat.

Para pendukung Hillary tentu bersedih. Mereka tak menduga jagonya takluk di laga suksesi. Wajar jika mereka tidak menerima hasil perhitungan suara. Namun, inilah demokrasi—apalagi AS dikenal sebagai kiblat demokrasi dunia—di mana dukungan mayoritas merupakan penentu kemenangan salah satu calon di ajang suksesi.

Sebagai presiden terpilih, Trump tentu tak sekadar menjadi presiden bagi para pendukungnya. Dia harus memimpin penyelenggaraan pemerintahan secara adil, tanpa diskriminasi. Loyalitasnya harus dicurahkan demi kepentingan negara seperti dinyatakan Presiden ke-35 Amerika Serikat John F Kennedy, “My loyalty to my party ends where my loyalty to my country begins.”

Dan, Trump mengukuhkan janji. Setelah mengetahui kemenangan diraih, dia menyatakan, akan merangkul semua warga AS. Dia juga menyerukan agar seluruh elemen masyarakat bersatu lagi, setelah terpolarisasi selama musim suksesi. Trump menyebut, kemenangannya adalah gerakan yang luar biasa yang dilakukan jutaan warga yang mencintai negara, yang memiliki keinginan akan masa depan yang lebih cerah.

“Ini adalah sebuah gerakan dari semua ras, agama, latarbelakang, keyakinan yang mengharapkan pemerintah untuk melayani rakyat,” kata Trump saat berpidato di hadapan pendukungnya di New York, Rabu (9/11). Trump pun menyerukan semua pihak bekerjasama, memulai tugas yang mendesak, membangun kembali negara.

Para penghuni negeri Paman Sam tentu merekam janji-janji kampanye Trump yang akan melakukan segala hal demi kepentingan negara di antaranya renegosiasi kerjasama perdagangan antara AS-China, menentang perjanjian perdagangan tertentu seperti NAFTA dan Kemitraan Trans-Pacific, menegakan hukum untuk para imigran, dan membangun tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko guna menghindari ancaman terorisme. Dia juga mendorong reformasi di sektor kesehatan bagi para veteran, mencabut dan mengganti Undang-Undang Kesehatan dan memotong pajak.

*****

Trump lahir dan besar di Jamaika Estates, Queens, sebuah lingkungan di New York. Dia adalah anak kedua dari lima bersaudara yaitu Fred Jr, Maryanne, Elizabeth, dan Robert. Fred Jr, kakak tertuanya, meninggal dunia pada tahun 1981 akibat alkohol. Trump mengaku telah berupaya menuntun kakaknya untuk berhenti mengonsumsi alkohol dan rokok.

Meski berperilaku “nakal”, glamour, dan dekat dengan dunia selebritas, Trump tidak menyukai alkohol. Pola hidupnya bersih. Dia alergi dengan sesuatu yang kotor, apalagi menjijikan lantaran menderita germaphobia. Karenanya, dia berupaya menghindari untuk bersentuhan dengan orang lain karena takut kuman.

Trump berdarah Jerman yang mengalir dari ayahnya. Sementara ibunya, berdarah Skotlandia. Ayahnya, Fred Trump (1905-1999) berasal dari Kallstadt, Jerman, lalu menetap di AS. Di New York, Fred mengembangkan bisnis properti, hingga menjadi salah satu pengembang real estate terkemuka. Ibunya, Maria Trump (1912-2000), lahir di Tong, Lewis, Skotlandia. Fred dan Maria bertemu di New York dan menikah pada tahun 1936. Mereka menetap di Queens.

Sedangkan pamannya, John G. Trump, profesor dari Massachusetts Institute of Technology (1936-1973), pernah terlibat dalam riset mengenai radar untuk kepentingan sekutu di Perang Dunia II. Dia juga membantu mendesain mesin X-ray untuk pasien kanker. Di tahun 1943, Biro Investigasi Federal (FBI) memintanya untuk memeriksa peralatan Nikola Tesla ketika Tesla meninggal secara misterius di kamarnya.

Trump begitu membanggakan pamannya. Dia menilai sang paman memiliki gen pintar dari keluarganya. Lantaran menetap di AS, Drumpf, nama leluhur keluarganya itu berubah menjadi Trump. Namun, Trump tetap bangga dengan darah Jerman. Dia pernah menjabat sebagai Grand Marshal Jerman-Amerika Steuben Parade di New York tahun 1999.

Di Jamaika Estates, keluarga Trump menghuni rumah dua lantai. Semasa kecil, Trump nakal. Dia kerap berperilaku kasar. Trump pernah meninggalkan sekolah di usia 13 tahun. Namun, memasuki usia remaja, di kala duduk di bangku SMA, perangainya mulai berubah. Dia mulai aktif latihan marching band. Lalu, mendaftar di Akademi Militer New York (Nyma) dan mencapai pangkat kapten.

Kemudian, Trump menempuh pendidikan di Fordham University di Bronx selama dua tahun, yang dimulai Agustus 1964. Lalu, pindah ke Wharton School of Finance and Commerce dan kuliah di University of Pennsylvania yang menawarkan salah satu program studi mengenai real estate. Trump lulus dari Wharton pada Mei 1968 dengan gelar Bachelor of Science di bidang ekonomi.

Meski berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi yang mampu, Trump bukan anak manja yang hanya mengandalkan uang jajan dari orang tuanya. Selama kuliah, Trump menyambi kerja di perusahaan keluarganya, Elizabeth Trump & Son. Nama perusahaan itu diambil dari nama nenek, orang tua ayahnya. Perusahaan itu fokus pada pengembangan perumahan sewa untuk kelas menengah di New York, Brooklyn, Queens, dan Staten Island.

Kerjaan pertama yang digarapnya adalah revitalisasi proyek apartemen yang diambil alih dari Swifton Village di Cincinnati, Ohio. Ayahnya membeli dengan harga US$5,7 juta tahun 1962. Fred dan Trump terlibat dalam proyek itu, dengan investasi mencapai U$500 ribu.

Di tahun 1971, Trump dipercaya memimpin perusahaan keluarga. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mengganti nama perusahaan menjadi The Trump Organization. Dia juga hijrah ke Manhattan. Di sana, dia menggarap proyek-proyek konstruksi yang lebih besar dengan desain arsitektur yang menarik agar mendapatkan pengakuan publik.

Namun, dia dan ayahnya sempat menuai sorotan di tahun 1973 ketika Departemen Kehakiman menuduh keduanya telah melakukan tindakan diskriminatif terhadap warga kulit hitam yang ingin menyewa apartemen.

Sebagai pimpinan The Trump Organization, Trump mengawasi 14 ribu apartemen di Brooklyn, Queens, dan Staten Island. Dari tahun ke tahun, bisnis propertinya kian meluas. Trump pun merambah ke sektor lainnya untuk meningkatkan pundi-pundinya. Dia membangun gedung-gedung perkantoran, hotel, kasino, lapangan golf, dan fasilitas lainnya di sejumlah negara.

Dia juga memiliki berbagai wahana hiburan di Los Angeles dan menjadi produser eksekutif, memandu acara reality show di stasiun televisi NBC, The Apprentice. Tahun 2004, Trump mengajukan aplikasi brand untuk slogan “You’re fired” (Anda Dipecat) untuk program reality show yang menjadi ruang menemukan para eksekutif profesional di AS.

Lewat acara yang dipandunya itu, Trump memperoleh bayaran US$50 ribu per episode. Program tersebut mendapat respons luar biasa. Bayarannya pun meningkat menjadi US$3 juta per episode. Honor tertinggi bagi pembawa acara televisi kala itu.

Di tahun 2016, majalah Forbes memasukannya sebagai salah satu dari 324 orang terkaya di dunia dan satu dari 156 terkaya di AS. Trump pernah mempublikasikan total kekayaannya senilai US$8,7 miliar atau sekitar Rp113,6 triliun di sebuah media cetak di AS. Trump lalu mencuri perhatian awak media ketika membeli pesawat Boeing 757 senilai US$100 juta. Dia pun mempercantik interior pesawatnya dengan lapisan emas 24 karat.

******

Meski dikenal pengusaha dan politisi yang tajir, The Economist menilai, kinerja perusahaan yang dipimpin Trump (1985-2016) berjalan biasa-biasa saja. Namun, majalah ekonomi terkemuka itu mengakui sulit menganalisis kinerja bisnis Trump karena informasi yang yang samar. Akses informasi terbatas lantaran Trump tidak menggerakan perusahaan publik.

Kerajaan bisnis properti yang saat ini dinikmati Trump tidak terlepas dari peran ayahnya, yang sudah lama membangun bisnis properti dengan bendera Fred Trump. Sampai-sampai, Obama menyebut, pengalaman Trump yang diakui internasional hanya mengurusi konteks ratu kecantikan sejagat (Miss Universe) sepanjang tahun 1996-2015. Sementara di bidang politik, hukum dan pemerintahan, Trump nihil pengalaman.

Setelah lulus kuliah jurusan ekonomi di Universitas Pennsylvania tahun 1968, Trump memang diberikan tanggungjawab oleh ayahnya untuk mengurusi perusahaan milik keluarga tersebut. Trump pun seakan terkesan tak ingin menggunakan nama besar ayahnya. Karenanya, dia mengubah nama perusahaan menjadi The Trump Organization.

Selain berbisnis, dia memperluas jaringan dengan politisi dan pengusaha di beberapa negara. Misalnya, dengan Bill Clinton, mantan Presiden AS, yang juga suami rival politik Trump, Hillary Clinton. Trump, Bill, dan Hillary pernah bertemu di pernikahannya. Trump juga telah memberikan kontribusi untuk Yayasan Clinton, termasuk kampanye Clinton di Senat.

Di tahun 2000, gairah politiknya muncul. Namanya sempat digadang-gadang menjadi calon presiden dari Partai Reformasi. Namun, Trump mengundurkan diri sebelum pemungutan suara. Keinginan Trump untuk meramaikan bursa pemilihan presiden lantaran menyadari jika popularitasnya yang cukup tinggi. Di tahun 1988, dia disebut-sebut sebagai calon wakil presiden yang potensial mendampingi, Goerge Bush yang diusung Partai Republik. Namun, Trump tidak terpilih. Republik memilih Dan Quayle.

Ikhtiarnya untuk menjadi presiden tidak berhenti. Pada Februari 2009, Trump muncul lewat program The Late Show David Letterman. Dia berbicara tentang krisis industri otomotif yang terjadi tahun 2008-2010. Spekulasi pun bermunculan. Trump memanfaatkan program itu sebagai panggung mendongkrak elektabilitas sehingga menjadi kandidat kuat pada Pemilihan Presiden 2012.

Sebuah jajak pendapat yang dirilis Wall Street Journal/ NBC News pada Maret 2011 menunjukan, Trump merupakan salah satu kandidat yang berpotensi menang. Dia unggul satu poin dari mantan Gubernur Massachusetts, Mitt Romney yang pernah bertarung dengan Obama pada Pilpres 2012 lalu.

Lalu, sebuah jajak pendapat yang dipublikasikan Newsweek pada Februari 2011 menunjukkan, Trump berpeluang berhadapan dengan Obama dengan selisih beberapa poin. Jajak pendapat yang dirilis pada April 2011 oleh Public Polling Policy juga menunjukkan, Trump mengantongi sembilan poin dari sejumlah nominator yang diusulkan Republik. Elektabilitas yang tinggi itu tidak terlepas dari upayanya memanfaatkan program The Apprentice. Lewat program itu, Trump mempromosikan diri.

16 Juni 2015, Trump mendeklarasikan dirinya sebagai calon Presiden AS di Trump Tower, New York. Dia mengusung slogan “Make Great America Again.” Dan, namanya dengan cepat menjadi nominator terkuat, mengalahkan kandidat presiden lainnya yang bertarung di Konvensi Nasional Partai Republik.

Mei 2016, Trump resmi menjadi calon presiden setelah mengalahkan kandidat lainnya yang diusung Republik. Kampanye Trump pun mendapatkan liputan media yang luar biasa, baik di dalam maupun di luar negeri.

Kala menyatakan terjun ke politik, Trump berjanji akan fokus memimpin pemerintahan, meninggalkan bisnis yang sudah sekian lama dikembangkannya. Pernyataan itu ditegaskan setelah ramai kritikan jika Trump berkuasa akan memunculkan konflik kepentingan.

Meski kerap tampil di televisi–menyapa publik, Trump yang seharusnya mampu berkomunikasi dengan baik, justru memperlihatkan gaya komunikasi yang buruk. Trump seakan sulit mengendalikan emosinya lewat lisan maupun tulisannya sehingga kerap memicu gaduh.

Obama pernah menyindir Trump jelang pencoblosan. Menurut dia, lantaran sering membuat gaduh, tim kampanye Trump mengambil alih akun twitter Trump. Pernyataan itu disampaikan Obama setelah The New York Times menulis laporan yang menyebut tim kampanye merebut akun twitter Trump karena tak mampu menyaring ciutan yang kerap dilesakkan Trump untuk menyerang lawan politiknya.

Trump memang seakan mengerahkan segala upayanya untuk menyerang lawan-lawan politiknya. Karena, dia sendiri kerap diserang dengan isu-isu negatif yang digelontorkan lawan politiknya ke ruang publik.

7 Oktober lalu, Trump dibuat berang dengan beredarnya rekaman yang direkam tahun 2005, yang berisikan komentar-komentarnya yang cabul. Beberapa hari kemudian, muncul beberapa wanita yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual. Mereka lalu membongkar laku cela Trump. Atas tuduhan itu, Trump meminta maaf. Namun, dia membantah segala tuduhan, seraya menggambarkan wanita-wanita yang menjelek-jelekannya itu sebagai bagian dari kampanye hitam untuk menghalangi langkahnya menuju Gedung Putih.

Jessica Leeds pernah berang usai mendengar pengakuan Trump dalam acara debat calon presiden AS yang disiarkan televisi. Leeds menuding Trump berbohong setelah menyebut tuduhan pencabulan itu hanya bualan. Trump pun berencana menggugat media yang disebutnya mengumbar laporan fiktif.

Leeds yang kini berusia 74 tahun, masih ingat peristiwa yang terjadi lebih dari tiga dekade lalu. Kala itu, dia adalah seorang pengusaha yang sering berpergian jauh. Leeds yang bekerja di sebuah perusahaan kertas berkisah, pernah duduk di samping Trump di kabin kelas satu penerbangan ke New York. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Kala itu, Trump belum memiliki pesawat pribadi.

Secara spontan, Leed memperkenalkan diri dan bersalaman dengan Trump. Kedua pun bercakap-cakap. Dalam memori Leeds, Trump sempat bertanya padanya apakah sudah menikah. Leeds menjawab, jika dirinya sudah bercerai.

Kemudian, setelah piring hidangan yang disuguhkan pramugari pada penerbangan malam itu dibersihkan, Trump mengangkat lengannya kursi. Lalu, mengarahkan tangannya ke tubuh, dan meraba-raba payudara Leeds dan menempatkan tangannya ke roknya. “Dia seperti gurita. Tangannya ke mana-mana,” ungkap Leeds yang kemudian meninggalkan kabin kelas satu dan menuju kursi belakang. Kisah yang dialami Leeds itu lalu diulas oleh The New York Times.

Sekitar dua tahun kemudian usai kejadian itu, Leeds bertemu Trump di sebuah acara amal di New York. Trump ingat padanya. Tetapi, apa yang terjadi? Menurut Leeds, Trump menghinanya dengan ucapan kasar. Ketika Trump menjadi kandidat presiden yang diusung Partai Republik, pengalaman Leeds itu dikulik media.

Rachel Crooks juga mengungkap laku buruk Trump. Pengalaman tak mengenakan itu dialaminya tahun 2005. Crooks, yang usianya kala itu 22 tahun, bekerja sebagai resepsionis di Bayrock Group, sebuah perusahaan investasi dan pengembangan real estate di Trump Tower yang berlokasi di Manhattan. Suatu ketika, di kala pagi, dia bertemu Trump di depan lift di gedung itu.

Sebelum kejadian itu, Crooks yang sadar jika perusahaannya bermitra dengan Trump, memperkenalkan diri. Keduanya berjabat tangan. Namun, Trump tidak membiarkannya pergi. Rupanya, menurut pengakuan Crooks, Trump tidak hanya mencium pipinya. “Dia mencium langsung bibir saya,” kenang Crooks. Baginya, tindakan Trump itu bukan insiden biasa. Namun, tindakan pelecehan seksual. “Itu sangat tidak pantas,” tegas Crooks.

Temple Taggart, mantan Miss Utah juga mengatakan, jika Trump mencium bibirnya lebih dari sekali ketika menjadi kontestan kontes kecantikan 21 tahun lalu. Baginya, tindakan Trump itu sangat menjijikkan. “Apalagi dia sudah punya istri,” katanya. Taggart menambahkan, bukan hanya dirinya saja yang dicium bibirnya. Ciuman Trump juga menyasar ke beberapa kontestan lainnya.

******

Setelah serangan teroris yang menghantam Paris, Perancis, November 2015 lalu, Trump kian brutal melontarkan pernyataan yang kontroversi. Dia menuai kecaman lantaran kerap melontarkan pernyataan yang menyudutkan Islam. Misalnya, pernyataannya yang akan melarang para imigran Muslim, khususnya yang berasal dari negara-negara yang diketahui menjadi tempat berkembangnya teroris.

Namun, pernyataan Trump yang mengubar Islamphobia itu seakan memperkuat dukungan kelompok nasionalis kulit putih dan konservatif. Kecaman tak hanya menggema di AS. Sejumlah pemimpin dunia juga mengecam Trump lantaran menebar kebencian.

Bagi para pendukungnya, pernyataan Trump yang alergi terhadap Islam, menggambarkan kekhawatiran akan ancaman serangan teroris yang mengatasnamakan Islam. Namun, bagi sebagian kalangan pernyataan Trump itu berbahaya, dapat memecah belah AS, dan  menyakiti kelompok lain.

Petinju legendaris Muhammad Ali pernah berang dengan pernyataan Trump. Ali, yang wafat 4 Juni 2016, merupakan warga AS yang menganut agama Islam. Dia bergabung dengan kelompok masyarakat yang mengutuk pernyataan Trump yang melarang umat Islam memasuki Negeri Paman Sam. Ali menegaskan, Islam tidak mengajarkan untuk membunuh orang yang tidak bersalah seperti di Paris, Perancis, dan San Bernardino, AS, atau di mana pun di dunia.

Juara tiga kali tinju dunia kelas berat itu pun menyerukan umat muslim untuk menentang kekejaman, kekerasan yang dilakukan Jihadis karena bertentangan dengan ajaran Islam. Ali juga mengingatkan agar para pemimpin politik di AS untuk lebih memahami agama Islam dan menjelaskan jika pembunuhan itu menyesatkan.

Ali hanya satu dari sekian banyak tokoh dunia yang menentang pandangan rasis Trump. Pernyataan bernada rasis dilontarkan Trump setelah terjadi insiden penembakan di San Bernardino oleh dua radikal muslim yang menewaskan 14 orang. Pernyataan Trump itu juga diduga untuk mendapatkan dukungan dari beberapa donor berpengaruh berdarah Yahudi-AS. Trump disinyalir memanfaatkan isu terorisme untuk mendapatkan dukungan dari Yahudi-AS. Sebelumnya, Yahudi di AS, mendukung Obama saat Pilpres 2008.

Obama mendapatkan dukungan dari 78 persen suara Yahudi. Empat tahun kemudian, lawan Obama, dari Partai Republik, Mitt Romney, juga berusaha memecah dukungan Yahudi terhadap Obama, dengan menyerang kebijakan Pemerintah AS yang dipimpin Obama di Timur Tengah.

Tapi, usulan Trump itu justru ditentang kalangan Yahudi, termasuk politisi dari Partai Republik. “Komentarnya menjijikkan,” kata Norm Coleman, mantan senator dari Minnesota dan anggota dewan Koalisi Yahudi-Republik. Mark Zuckerberg, bos Facebook, yang berdarah Yahudi juga mengecam pernyataan Trump. Zuckerberg, menyatakan, dirinya akan melindungi muslim yang diadili usai serangan di Paris.

Di Inggris, politisi dan lebih dari 370.000 warga sipil mendesak pemerintah untuk melarang Trump memasuki negaranya. Petisi via online juga menyerukan agar gelar kehormatan Trump dari Robert Gordon University di Aberdeen, Skotlandia, dicabut. Gelar kehormatan yang diberikan tahun 2010 itu tidak layak disandang Trump karena tidak sesuai dengan etos dan nilai-nilai universitas. Di China yang dihuni 20 juta muslim, Trump pun dikecam.

Pernyataan Trump pun berdampak pada bisnisnya di beberapa negara Islam. Di Dubai, sejumlah merek dan poster Trump yang terpasang di sejumlah titik diturunkan. Di sana, Trump membangun lapangan golf dan perumahan, dengan nilai mencapai US$6 miliar.

Kantor cabang Trump Towers di Turki juga menyesalkan pernyataan Trump. Karenanya, waralaba itu meninjau kembali kerja sama dengan Trump. Trump Towers di Istanbul merupakan salah pusat bisnis Trump di Turki, yang dibangun pengusaha kaya Turki, Aydin Dogan, yang membeli lisensi waralaba dari Trump.

Miliarder Arab Saudi, Pangeran Alwaleed bin Talal, lewat twitter-nya, menyebut pernyataan Trump sebagai aib bagi AS. Lalu, dibalas Trump dengan menuding Alwaleed berupaya mengontrol politisi AS dengan uang ayahnya.

Kegaduhan juga mencuat di internal Republik. Ada spekulasi yang menyebut jika Trump menjadi agen rahasia yang dikirim Demokrat untuk menghancurkan Republik. Spekulasi itu berangkat dari kedekatan Trump dan Bill Clinton. Trump dikabarkan pernah bercakap-cakap via telepon dengan Bill saat mendekati keputusan Trump untuk berkompetisi di Pilpres 2016. Bill juga dilaporkan mendorong Trump untuk memainkan peran yang lebih besar di Republik dan menawarkan pandangannya dalam lanskap politik.

Dalam sebuah laporan yang dirilis Washinton Post, Trump menerima telepon dari Bill Clinton saat berada di Trump Tower. Dalam percakapan itu, Trump membuat keputusan akhir tentang keinginannya untuk menuju Gedung Putih.

Bill Clinton mendengarkan dengan seksama dan kemudian memberikan analisis tentang peluang politik Trump dan keinginannya untuk membangkitkan basis di Partai Republik. Komitmen dan loyalitas Trump terhadap Partai Republik juga sempat diragukan. Pasalnya, Trump pernah mengancam akan meninggalkan Republik, seraya mengklaim pendukungnya akan bergabung dengannya, meninggalkan Republik. Jika tidak mendapat dukungan dari Republik, Trump berencana menjadi calon presiden lewat jalur independen.

Masyarakat Meksiko juga membenci Trump. Kebencian itu mereka lampiaskan dengan membakar patung Trump kala menggelar ritual Paskah, Sabtu malam, 27 Maret lalu. Kebencian itu buntut dari pernyataan Trump yang menuding Meksiko mengirim para bandit dan pemerkosa ke AS sehingga harus dibangun tembok besar yang membatasi AS-Meksiko.

Sosok patung Trump yang dibakar itu menjadi simbol “mengusir iblis” dan sosok manusia yang tidak disukai. Dalam tradisi masyarakat Meksiko, patung-patung yang dibakar menjadi simbol Yudas Iskariot, yang menghianati Yesus Kristus. Di kawasan Amerika Latin, ritual pembakaran patung Yudas itu untuk mempersatukan masyarakat melawan musuh bersama.

Felipe Calderon, mantan Presiden Meksiko menyamakan Trump dengan Adolf Hitler yang rasis. Calderon menilai, Trump mengeksploitasi ketakutan sosial seperti dilakukan Hitler di zamannya. Calderon juga menyakini, jika Trump menjadi Presiden AS, maka akan memperkuat sentimen anti AS di seluruh dunia.

Pemimpin umat Katolik dunia, Paus Fransiskus juga sebelumnya mengecam ide Trump yang ingin membangun tembok pembatas. Paus lalu meragukan keimanan Trump sebagai penganut Kristen. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Reuters/The New York Times/CNN/ Washington Post/AFP/BBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s