Demonstrasi Anti Trump Meluas

POSTER bertulis “Love trumps hate” (Cinta Mengalahkan Kebencian) dan “Trump not my president” (Trump bukan presiden saya), dibentangkan para demonstran saat berunjuk rasa di Trump Tower, New York, Kamis (10/11).

Demonstran yang sebagian besar remaja dan dewasa itu pun berteriak, “Kami membenci Trump”, “Kami menolak presiden terpilih”, dan “Bayar pajak mu.” Unjuk rasa itu dalam pengamanan ketat pihak kepolisian New York. Ratusan aparat keamanan dikerahkan. Mereka berjaga-jaga di sekitar gedung milik Presiden AS terpilih, Donald John Trump, yang akan menggantikan Barrack Obama. 16 Juni 2015 lalu, Trump mendeklarasikan dirinya sebagai calon Presiden AS di Trump Tower. Dia mengusung slogan “Make Great America Again.”

Di depan gedung megah itu, truk-truk berukuran besar segaja diparkir untuk menghalangi massa yang berupaya masuk ke Trump Tower. Di kala sore, truk-truk besar tersebut dipindahkan. Pengamanan di depan gedung itu diganti dengan barikade beton.

Aksi yang digelar sejak Rabu lalu itu dipicu kekhawatiran akan sosok Trump yang dianggap demonstran rasis dan misoginis. Mereka khawatir Trump melabrak hak-hak masyarakat sipil.

Di Washington, kelompok lain yang juga menolak Trump sebagai presiden, berujuk rasa di depan Gedung Putih. Aksi juga digelar saat Trump menggelar pertemuan pertamanya dengan Presiden Barack Obama pada Kamis lalu, untuk membicarakan proses peralihan kekuasaan.

Sedikitnya 200 orang berunjuk rasa di sana. Mereka meneriakkan, “Tidak Membenci! Tidak takut! Imigran diterima di sini!” Mereka juga membentangkan spanduk yang bertulis, “Makzulkan Trump” dan “Trump bukan presiden saya”.

Di Pennsylvania, tepatnya di Trump Hotel, para demonstran juga berseru, “Nyatakan dengan lantang, katakan dengan jelas: Pengungsi diterima baik di sini”. Seruan itu ditujukan kepada Trump yang saat kampanye alergi terhadap imigran dan akan melarang imigran muslim, khususnya dari negara-negara yang menjadi markas militan Islam, untuk masuk ke AS.

Aksi protes juga merebak di Baltimore, Philadelphia, Los Angeles, San Francisco, Oakland di California, dan Portland, Oregon. Aksi protes itu sebagian besar berlangsung damai dan tertib, meskipun tersiar kabar ada tindakan pengerusakan properti.

Di Portland, pihak kepolisian melaporkan, para pengunjuk rasa melemparkan benda-benda ke arah polisi dan merusak mobil di sejumlah dealer. Massa juga menyemprot mobil-mobil dengan cat, dan membuat grafiti di beberapa tembok, serta menghancurkan jendela toko. Jum’at (11/11), aparat kepolisian Portland menangkap beberapa pengunjuk rasa. Gas air mata dan peluru karet pun ditebar untuk membubarkan kerumunan massa yang anarkis.

Di kawasan Minneapolis, Interstate 94, polisi terpaksa memblokir jalan selama satu jam guna menghalau demonstran memasuki wilayah tersibuk di dunia itu. Pihak kepolisian Baltimore juga melaporkan, sekitar 600 orang berunjuk rasa di pusat kota, Inner Harbor. Massa memblokir jalan. Dua demonstran ditangkap polisi.

Di Denver, kerumunan massa yang diperkirakan mencapai tiga ribu orang berkumpul di gedung parlemen Colorado. Massa juga berbaris di pusat kota. Jumlah massa itu lebih besar dibanding sehari sebelumnya. Demonstran didominasi remaja, dewasa, dan beberapa ras kulit hitam dan putih.

Di San Francisco, lebih dari 1.000 siswa SMA pada berbaris, sambil membawa bendera pelangi yang mewakili kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender, bendera Meksiko dan simbol-simbol yang menunjukan ketidaksukaan pada Trump. Ada juga laporan yang menyebut para penentang Trump memukul orang-orang yang membawa simbol-simbol yang mendukung Trump.

Di Miami, Philadelphia, dan Boston, demonstran menyerukan pemakzulan Trump. Kemarahan juga disampaikan para demonstran di Seattle. Demontrasi juga merebak di Chicago, Minnesota, Omaha, Nebraska, Kansas, dan Missouri.

Para pengkritik Trump khawatir, retorika Trump selama kampanye yang melarang imigran, Muslim, dugaan pelecehan seksual terhadap wanita, dan sebagainya—yang didukung klaim supremasi kulit putih, dapat memicu gelombang intoleransi terhadap kelompok minoritas.

Terkait kekhawatiran itu, saat menyambut kemenangan, Trump yang berpidato dengan nada melunak menyerukan agar rakyat AS mengabaikan perbedaan dan perdebatan selama masa kampanye. “Sekarang saatnya bagi AS untuk bersama-sama. Untuk semua, Partai Republik dan Demokrat dan independen di seluruh negara ini, saya mengatakan adalah waktunya bagi kita untuk datang bersama sebagai satu bangsa yang bersatu,” kata Trump di hadapan massa pendukungnya di New York, Rabu (9/11).

Trump berjanji untuk menjadi Presiden yang merangkul semua warga AS. “Saya berjanji, saya akan menjadi presiden untuk semua orang AS.” Dia juga menyerukan agar semua pihak bekerjasama, melakukan tugas yang mendesak yaitu membangun kembali negara dan memperbaharui impian AS.

Para pendukung Trump menyerukan agar semua pihak memberikan kesempatan kepada presiden baru untuk menjalan tugasnya. Rudy Giuliani, mantan Walikota New York yang menjadi pendukung Trump dalam wawancara dengan Fox News menyebut, para demonstran sebagai sekelompok anak bayi yang manja.

Juru bicara Komite Nasional Partai Republik, Sean Spicer juga mendesak pengunjuk rasa untuk memberikan kesempatan pada Trump setelah dilantik menjadi Presiden AS pada Januari mendatang. “Saya berharap, mereka memberikan kesempatan,” katanya kepada MSNBC.

Sementara itu, kemenangan Trump dirayakan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Al-Sham (ISIS). Kemenangan Trump itu diyakini akan mengantarkan AS dalam perang saudara, demikian USA Today melaporkan, mengutip salah satu jejaring media ISIS yang dilaporkan SITE Intelligence Group yang berbasis di AS. “Bergembiralah, berkat Allah, dan temukan kabar menggembirakan tentang kehancuran segera Amerika di tangan Trump,” kata jejaring media Al-Minbar yang disebut berafiliasi kepada ISIS.

“Kemenangan Trump dalam Pemilu Presiden AS akan menciptakan permusuhan dari kaum muslim terhadap Amerika Serikat sebagai akibat dari langkah-langkahnya yang sembrono yang mengungkap kebencian yang terbuka dan tersembunyi terhadap kaum muslim,” tulis Al-Minbar.

Nashir Political Service, sebuah outlet media yang mendukung ISIS dan kelompok militan lainnya berharap, kemenangan Trump membangkrutkan perekonomian AS akibat kebijakan-kebijakan anti muslim. SITE juga melaporkan jika kelompok Taliban Afghanistan mendesak Trump untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan dan tidak mengejar kepentingan AS dengan mengorbankan negara lain.

Trump memenangi pertarungan setelah meraih dukungan mayoritas. Total suara yang berhasil diraup calon presiden yang diusung Partai Republik itu melebih batas minimal 270 suara elektoral. Sementara Hillary, yang diusung Partai Demokrat, meraih 218 suara.

Trump meraih kemenangan di 25 negara bagian yakni Indiana, Kentucky, West Virginia, Tennessee, South Carolina, Alabama, Mississippi, Lousiana, Arkansas, Texas, Oklahoma, Kansas, Nebraska, South Dakota, North Dakota, Montana, Wyoming, Florida, Ohio, Utah, Idaho, Georgia, Iowa, Missouri, Pennsylvania, dan Wisconsin.

Sementara Hillary Clinton, calon presiden yang diusung Partai Demokrat, meraih kemenangan di 19 negara bagian yaitu New York, Vermont, Connecticut, New Jersey, Massachussets, Delaware, Maryland, Rhode Island, Illinois, Washington DC, New Mexico, Colorado, Virginia, Nevada, California, Oregon, Washington, Maine, dan Hawaii.

Mei 2016, Trump resmi menjadi calon presiden setelah mengalahkan kandidat lainnya yang diusung Republik. Kampanye Trump mendapatkan liputan media yang luar biasa, baik di dalam maupun di luar negeri.

Sayang, komunikasi Trump selama kampanye sangat buruk. Trump seakan sulit mengendalikan emosinya lewat lisan maupun tulisannya sehingga kerap memicu gaduh. Obama pernah menyindir Trump jelang pencoblosan. Menurut dia, lantaran sering membuat gaduh, tim kampanye Trump mengambil alih akun twitter Trump. Pernyataan itu disampaikan Obama setelah The New York Times menulis laporan yang menyebut tim kampanye merebut akun twitter Trump karena tak mampu menyaring ciutan yang kerap dilesakkan Trump untuk menyerang lawan politiknya.

Trump memang seakan mengerahkan segala upayanya untuk menyerang lawan-lawan politiknya. Karena, dia sendiri kerap diserang dengan isu-isu negatif yang digelontorkan lawan politiknya ke ruang publik.

Setelah serangan teroris yang menghantam Paris, Perancis, November 2015 lalu, Trump kian brutal melontarkan pernyataan yang kontroversi. Dia menuai kecaman lantaran pernyataannya yang menyudutkan Islam. Misalnya, melarang para imigran Muslim, khususnya yang berasal dari negara-negara yang diketahui menjadi tempat berkembangnya teroris.

Pernyataan Trump yang mengumbar Islamphobia itu agaknya memperkuat dukungan kelompok nasionalis kulit putih dan konservatif padanya. Namun, Trump menuai kecaman yang tak hanya menggema di AS. Sejumlah pemimpin dunia juga mengecam Trump lantaran menebar kebencian.

Bagi para pendukungnya, pernyataan Trump yang alergi terhadap Islam, menggambarkan kekhawatiran akan ancaman serangan teroris yang mengatasnamakan Islam. Namun, bagi sebagian kalangan, pernyataan Trump itu berbahaya, dapat memecah belah AS, dan  menyakiti kelompok lain.

Petinju legendaris Muhammad Ali pernah berang dengan pernyataan Trump. Ali, yang wafat 4 Juni 2016, merupakan warga AS yang menganut agama Islam. Dia bergabung dengan kelompok masyarakat yang mengutuk pernyataan Trump yang melarang umat Islam memasuki Negeri Paman Sam.

Ali menegaskan, Islam tidak mengajarkan untuk membunuh orang yang tidak bersalah seperti di Paris, Perancis, dan San Bernardino, AS, atau di mana pun di dunia. Juara tiga kali tinju dunia kelas berat itu pun menyerukan umat muslim untuk menentang kekejaman, kekerasan yang dilakukan Jihadis karena bertentangan dengan ajaran Islam.

Ali juga mengingatkan agar para pemimpin politik di AS untuk lebih memahami agama Islam dan menjelaskan jika pembunuhan itu menyesatkan. Ali hanya satu dari sekian banyak tokoh dunia yang menentang pandangan rasis Trump. Pernyataan bernada rasis juga dilontarkan Trump setelah terjadi insiden penembakan di San Bernardino oleh dua radikal muslim yang menewaskan 14 orang.

Pernyataan Trump itu diduga untuk mendapatkan dukungan dari beberapa donor berpengaruh berdarah Yahudi-AS. Sebelumnya, Yahudi di AS, mendukung Obama saat Pilpres 2008. Obama mendapatkan dukungan dari 78 persen suara Yahudi. Empat tahun kemudian, lawan Obama, dari Partai Republik, Mitt Romney, juga berusaha memecah dukungan Yahudi terhadap Obama, dengan menyerang kebijakan Pemerintah AS yang dipimpin Obama di Timur Tengah.

Tapi, usulan Trump itu justru ditentang kalangan Yahudi, termasuk politisi dari Partai Republik. “Komentarnya menjijikkan,” kata Norm Coleman, mantan senator dari Minnesota dan anggota dewan Koalisi Yahudi-Republik. Mark Zuckerberg, bos Facebook, yang berdarah Yahudi juga mengecam pernyataan Trump. Zuckerberg, menyatakan, akan melindungi muslim yang diadili usai serangan di Paris.

Di Inggris, politisi dan lebih dari 370.000 warga sipil mendesak pemerintah untuk melarang Trump memasuki negaranya. Petisi via online juga menyerukan agar gelar kehormatan Trump dari Robert Gordon University di Aberdeen, Skotlandia, dicabut. Gelar kehormatan yang diberikan tahun 2010 itu tidak layak disandang Trump karena tidak sesuai dengan etos dan nilai-nilai universitas. Di China yang dihuni 20 juta muslim, Trump pun dikecam.

Masyarakat Meksiko juga membenci Trump. Kebencian itu mereka lampiaskan dengan membakar patung Trump kala menggelar ritual Paskah, Sabtu malam, 27 Maret lalu. Kebencian itu buntut dari pernyataan Trump yang menuding Meksiko mengirim para bandit dan pemerkosa ke AS sehingga harus dibangun tembok besar yang membatasi AS-Meksiko.

Sosok patung Trump yang dibakar itu menjadi simbol “mengusir iblis” dan sosok manusia yang tidak disukai. Dalam tradisi masyarakat Meksiko, patung-patung yang dibakar menjadi simbol Yudas Iskariot, yang menghianati Yesus Kristus. Di kawasan Amerika Latin, ritual pembakaran patung Yudas itu untuk mempersatukan masyarakat melawan musuh bersama.

Felipe Calderon, mantan Presiden Meksiko menyamakan Trump dengan Adolf Hitler yang rasis. Calderon menilai, Trump mengeksploitasi ketakutan sosial seperti dilakukan Hitler di zamannya. Calderon juga menyakini, jika Trump menjadi Presiden AS, maka akan memperkuat sentimen anti AS di seluruh dunia.

Pemimpin umat Katolik dunia, Paus Fransiskus juga mengecam ide Trump yang ingin membangun tembok pembatas. Paus lalu meragukan keimanan Trump sebagai penganut Kristen. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Reuters/The New York Times/CNN/ Washington Post/AFP/Antara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s