Kemenangan Trump yang Mengejutkan

JUTAAN warga Amerika Serikat (AS) telah menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) yang berlangsung pada 8 November 2016. Perhelatan politik empat tahunan itu telah membelah warga AS menjadi dua kubu. Suksesi terasa gaduh dengan isu-isu rasis dan serangan yang bersifat pribadi yang dilakoni dua kandidat: Donald John Trump dan Hillary Clinton.

Kampanye yang berlangsung brutal, melelahkan, panas, dan terkesan jahat itu, membangkitkan pesimisme warga AS. “Saya tak peduli dengan kedua kandidat. Sangat menakutkan, di tahun 2016, masih ada orang yang rasis. Mudah-mudahan hal itu dapat berubah,” kata Desiree Kennedy, pemilih di Harlem, bagian Utara New York.

Warga AS pun khawatir Presiden AS ke-45, tidak akan lebih baik dibanding kinerja pemerintah periode sebelumnya. Meski demikian, mereka bersemangat menuju perubahan yang lebih baik. Itu terlihat dari antrian panjang di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) yang menunjukan tingginya tingkat partisipasi warga dalam menggunakan hak pilihnya.

Ekspektasi yang begitu luar biasa juga terlihat jelang akhir perhitungan suara. Warga AS menyimak proses perhitungan suara yang akan memutuskan perjalanan politik Trump dan Hillary menuju Gedung Putih, menggantikan Barrack Obama yang menjadi Presiden AS selama dua periode (2008-2012 dan 2012-2016).

Di pusat-pusat bisnis dan jalan sekitar Times Square, New York, Antara, Rabu (9/11), melaporkan, ribuan warga berkumpul, sambil memperhatikan layar besar yang menampilkan hasil sementara penghitungan cepat popular votes dan hasil sementara penghitungan electoral votes. Di sana, ada dua layar besar, milik ABC News dan Fox News, yang berada di dua sisi yang berbeda.

Menuju Gedung Putih

Hasil perhitungan suara menunjukan, Trump dipastikan memenangi pertarungan.  Kemenangan itu diraih Trump setelah mencaplok dukungan mayoritas di Pennsylvania. Total suara yang berhasil diraup calon presiden yang diusung Partai Republik itu telah mencapai 276 suara dan kemungkinan terus bertambah, melebihi batas minimal untuk menjadi Presiden AS, yaitu 270 suara elektoral. Sementara Hillary, yang diusung Partai Demokrat, meraih 218 suara.

Trump meraih kemenangan di 25 negara bagian yakni Indiana, Kentucky, West Virginia, Tennessee, South Carolina, Alabama, Mississippi, Lousiana, Arkansas, Texas, Oklahoma, Kansas, Nebraska, South Dakota, North Dakota, Montana, Wyoming, Florida, Ohio, Utah, Idaho, Georgia, Iowa, Missouri, Pennsylvania, dan Wisconsin.

Sementara Hillary meraih kemenangan di 19 negara bagian yaitu New York, Vermont, Connecticut, New Jersey, Massachussets, Delaware, Maryland, Rhode Island, Illinois, Washington DC, New Mexico, Colorado, Virginia, Nevada, California, Oregon, Washington, Maine, dan Hawaii.

Atas kemenangan itu, Trump pun menyerukan rakyat AS untuk mengabaikan perbedaan dan perdebatan selama masa kampanye. “Sekarang saatnya bagi AS untuk bersama-sama. Untuk semua, Partai Republik dan Demokrat dan independen di seluruh negara ini, saya mengatakan adalah waktunya bagi kita untuk datang bersama sebagai satu bangsa yang bersatu,” kata Trump, saat menyampaikan pidato kemenangannya di hadapan massa pendukungnya di New York, Rabu (9/11).

Trump berjanji untuk menjadi Presiden yang merangkul semua warga AS. “Saya berjanji, saya akan menjadi presiden untuk semua orang AS, dan ini sangat penting bagi saya.” Dia juga menyerukan agar semua pihak bekerjasama, melakukan tugas yang mendesak yaitu membangun kembali negara dan memperbaharui impian AS. “Kita memiliki rencana ekonomi yang besar yang melipatgandakan pertumbuhan dan memiliki perekonomian terkuat di dunia.”

Trump akan menjadi Presiden AS tertua dengan usia 70 tahun. Sementara istrinya, Melania, merupakan imigran kedua yang bakal menetap di Gedung Putih sebagai ibu negara. “Kini saatnya membuat AS hebat kembali,” imbuh Trump.

Kemenangan Trump itu membuat sedih dan kecewa para pendukung Hillary. Mereka umummya tidak menduga. “Trump itu lelucon bagi negara ini. Dia tidak mampu membuat kebijakan yang baik,” ujar Anthony, warga AS di kawasan Time Square, New York, Rabu. Roxanne Hancock, warga kulit hitam mengaku terkejut dengan hasil Pemilu 2016. “Ini sangat mengejutkan. Apa yang salah dengan Amerika?” tanyanya. Sebagai pendukung Clinton, Hancock sedih dan terkejut dengan hasil Pilpres.

Sementara di Gedung Pertemuan Jacob K Javits, di New York, tempat di mana Clinton dan kubu Partai Demokrat seharusnya merayakan malam kemenangan, suasananya berubah menjadi sepi. Pendukung Hillary keluar dari gedung dengan mata berkaca-kaca.

Kemenangan Trump itu memang di luar dugaan. Trump, yang dikenal kerap menebar pernyataan kontroversial selama kampanye, sebelumnya diprediksi bakal tersungkur. Namun, gaya bombastisnya, mampu merengkuh dukungan mayoritas, khususnya dari kelas pekerja, kulit putih, pemilih di pedesaan, dan kalangan konservatif.

Jelang pemilihan, Hillary diprediksi menjadi wanita pertama yang terpilih sebagai Presiden AS. Rata-rata hasil jajak pendapat yang dikumpulkan RealClearPolitics menunjukkan, Hillary masih unggul 6,2 persen dari Trump dengan 48,1 persen melawan 41,9 persen.

Namun, tingkat keterpilihan Hillary tergerus lantaran diserang oleh isu-isu negatif yang dilesakan kubu lawan jelang pemilihan. Trump juga nampaknya berhasil memanfaatkan panggung di kala injury time untuk mendongkrak dukungan padanya.

Dia nampaknya berhasil menguatkan kekhawatiran tentang Islamphobia dengan menyakinkan warga AS soal ancaman keamanan. Islamophobia adalah kebencian atau ketakutan terhadap Islam.

6 November lalu, Trump mendadak diamankan petugas keamanan dari panggung kampanye di Reno, Nevada. Para pengawalnya melihat ada ancaman dari arah hadirin. Trump pun langsung diamankan. Lalu, di tengah hadirin, seorang yang berada di barisan depan, disergap petugas keamanan. Tayangan di televisi memperlihatkan seorang pria dengan tangan diborgol ke belakang, dikawal sejumlah aparat kepolisian.

Beberapa menit kemudian, Trump kembali ke panggung seraya menyatakan, “Kami tidak bisa dihentikan.” Insiden itu secara tidak langsung menyakinkan warga AS jika ancaman keamanan benar-benar nyata.

Trump sebelumnya kerap melontarkan pernyataan provokatif dan bernada rasis guna meningkatkan Islamphobia. Menurut lembaga think-tank Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations/CAIR), Islamophobia di AS meningkat selama beberapa bulan terakhir lantaran dipicu kampanye Trump yang anti-Islam.

Corey Saylor, Direktur CAIR untuk Urusan Pengawasan dan Pemberantasan Islamophobia menyatakan, sejak Trump menjadi calon presiden, Islamophobia di AS kian meningkat. “Kami menghitung, ada sekitar 34 insiden terpisah, di mana masjid menjadi sasaran kekerasan dalam satu bulan. Normalnya, dalam satu bulan, hanya ada satu atau dua insiden,” ungkap Saylor.

Dia pun menduga, pernyataan Trump bernada rasis, bukan ide yang semata-mata dinyatakannya di panggung kampanye. “Mereka sengaja menggunakan hal ini,” ucap Saylor. 11 September 2016, masjid di Fort Pierce, Florida, AS, dibakar. Masjid yang juga menjadi Islamic Center Fort Pierce itu, akan digunakan umat Muslim di sana untuk Sholat Ied pada perayaan Idul Adha. Beruntung, pembakaran masjid itu tidak menyebabkan korban tewas. Mereka pun bersyukur lantaran besarnya dukungan warga sekitar. Apalagi, setelah aparat kepolisian berhasil menangkap pelaku pembakaran Joseph Michael Schreiber.

Seminggu jelang pemilihan, Trump juga gencar melancarkan retorika jika pemilihan akan diwarnai kecurangan. Dia pun mengancam tidak akan mengakui hasil pemilihan jika kalah. Pernyataan itu mempengarui kesadaran pemilih Republik.

Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, hanya separuh pemilih Republik yang akan menerima kemenangan Hillary. Lalu, 70 persen di antaranya menyebut kemenangan Hillary itu lantaran kecurangan.Trump sebelumnya menyerukan agar pemilihnya menggunakan hak pilih, dan mengawasi proses dan sistem pemilihan lantaran diduga akan diwarnai kecurangan.

Isu terakhir yang diyakini turut mempengarui kekalahan Hillary adalah soal pernyataan FBI yang menyelidiki surat elektronik (surel) baru Hillary. Direktur FBI James Comey mengatakan kepada Kongres AS, pihaknya sedang mencari surel baru yang terkait dengan Hillary.

FBI telah memeriksa penggunaan server pribadinya dan cara Hillary menangani informasi rahasia ketika menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS. Pada Juli lalu, Comey menyimpulkan, Hillary dan stafnya sangat ceroboh dalam penanganan informasi rahasia, tetapi tidak ada cukup bukti untuk memperkarakannya secara pidana.

Namun, Hillary terkejut saat FBI menyatakan akan membuka kembali penyelidikan email pribadinya. Pernyataan itu disampaikan 10 hari jelang pemilihan. Hillary marah dan menantang Comey mengungkapkan informasi lebih jelas mengenai hasil penyelidikan FBI. Hillary pun menuding jika ada pihak yang memiliki kepentingan politik untuk memanfaatkan FBI. Memang, pernyataan FBI itu menjadi senjata bagi Trump untuk menghantam Hillary. Trump menuding Hillary tidak layak menjadi presiden.

Dampak Kemenangan Trump

Jika mencermati sejumlah pernyataan Trump selama kampanye, AS dipastikan menjadi negara yang tidak nyaman untuk didatangi warga muslim. Karena, Trump berencana menutup sementara wilayah perbatasan AS guna menghalau masuk warga Muslim non AS. Pernyataan itu disampaikan Trump setelah beberapa kali terjadi serangan radikal di AS, dan beberapa negara Eropa.

Trump melarang semua muslim, termasuk imigran, mahasiswa, dan wisatawan, memasuki AS setelah terjadi insiden penembakan di San Bernardino oleh dua radikal muslim yang menewaskan 14 orang. Pernyataan itu diduga sengaja dilesakkan Trump untuk mendapatkan dukungan dari beberapa donor berpengaruh berdarah Yahudi-AS.

Serangan bersenjata di Pulse Club, Orlando, Florida, yang menewaskan 50 orang pada 12 Maret lalu, juga dimanfaatkan Trump untuk menyerang Obama yang mendukung Hillary. Trump juga ingin menyakini warga AS jika pernyataannya yang bernada rasis sebelumnya merupakan suatu kebenaran.

Politisi berlatar belakang pengusaha properti itu pun mengklaim telah meramalkan serangan yang terjadi di klub yang biasa diramaikan kaum gay itu. Karenanya, dia kembali menyerukan larangan terhadap umat Muslim dari negara lain, untuk memasuki AS. Pernyataan kebencian yang kerap dihembuskan Trump itu, sangat memungkinkan akan menambah buruk hubungan AS dengan negara-negara Islam.

Kemenangan Trump juga mengkhawatirkan warga Meksiko yang berada di perbatasan AS. Kemenangan Trump dikhawatirkan dapat menghimpit industri lokal, mengisolasi negara dan mendeportasi jutaan warga Meksiko.

Trump sebelumnya mendesak Meksiko untuk membangun tembok pembatas yang bakal menghalangi mobilitas warga, sekaligus menghambat perdagangan bilateral kedua negara yang nilainya mencapai US$500 miliar per tahun. Meksiko dan AS dibatasi rentang perbatasan sejauh 3.145 km.

Trump juga akan menerapkan tarif hingga 35 persen pada produk buatan Meksiko demi membantu industri AS. “Kami sangat khawatir. Kami tahu apa yang Trump akan lakukan, membatasi impor, memproduksi semua barang di AS,” kata Marcello Hinojosa, presiden grup industri Canacintra di kota perbatasan Tijuana.

Meksiko mengirim lebih dari 80 persen ekspornya ke AS. Kamar Dagang dan Industri AS menyatakan, sekitar enam juta pekerjaan warga AS bergantung pada perdagangan dengan Meksiko.

Masyarakat Meksiko sebelumnya mengekspresikan kebencian terhadap Trump dengan membakar patung Trump kala menggelar ritual Paskah, Sabtu malam, 27 Maret lalu. Kebencian itu buntut dari pernyataan Trump yang menuding Meksiko mengirim para bandit dan pemerkosa ke AS sehingga harus dibangun tembok besar yang membatasi AS-Meksiko.

Sosok patung Trump yang dibakar itu menjadi simbol “mengusir iblis” dan sosok manusia yang tidak disukai. Dalam tradisi masyarakat Meksiko, patung-patung yang dibakar menjadi simbol Yudas Iskariot, yang menghianati Yesus Kristus. Di kawasan Amerika Latin, ritual pembakaran patung Yudas itu untuk mempersatukan masyarakat melawan musuh bersama.

Patung itu dikreasikan oleh Felipe Linares, yang telah membuat patung Yudas selama lebih dari 50 tahun. “Untuk (masyarakat) Amerika Latin di sini dan di AS, dia (Trump) bahaya, ancaman nyata,” kata Linares seraya menegaskan masyarakat Meksiko membenci Trump lantaran berbicara buruk tentang orang-orang Meksiko.

Selain di La Merced, sejumlah patung Trump juga dibakar di beberapa tempat, dari wilayah Puebla hingga kawasan industri, Monterrey. Felipe Calderon, mantan Presiden Meksiko menyamakan Trump dengan Adolf Hitler yang rasialis. Calderon menilai Trump sedang mengeksploitasi ketakutan sosial seperti dilakukan Hitler di zamannya. Calderon juga menyakini jika Trump menjadi Presiden AS, maka akan memperkuat sentimen anti AS di seluruh dunia.

Pemimpin tertinggi umat Katholik sedunia, Paus Fransiskus juga mengecam Trump yang ingin membangun dinding pembatas. Paus meragukan keimanan Trump sebagai penganut Kristen. “Seseorang yang hanya berpikir membangun tembok, tidak membangun jembatan, bukan seorang Kristen,” katanya.

Gejolak Pasar

Kemenangan Trump di luar dugaan itu juga memunculkan sentimen negatif dari pasar. Pasar perdagangan Asia dilaporkan melemah, turun sekitar dua persen. Di AS, Dow Jones turun sebanyak 600 poin. Kurs dolar AS pun jatuh. Demikian pula Peso Meksiko yang terjun bebas karena kekhawatiran investor.

Dolar AS merosot 3,8 persen menjadi 101,50 yen dan melemah hampir dua persen terhadap euro menjadi 1,1224 dolar AS dalam perdagangan di Tokyo. Peso Meksiko anjlok hingga di bawah 20 peso per dolar AS atau rekor terendah sepanjang sejarah.

Bursa-bursa saham AS anjlok lebih dari lima persen dalam perdagangan setelah waktu perdagangan reguler (after hours trading).  Indeks S&P 500 merosot 5,01 persen dan Nasdaq kehilangan 5,08 persen, mencerminkan kekhawatiran para investor mengenai risiko ekonomi jika Trump memenangi pemilihan presiden. Dow Jones Industrial Average anjlok tiga persen.

Bursa berjangka di London juga turun lebih dari empat persen. Bursa berjangka, yang menjadi indikasi mengenai pembukaan pasar, kehilangan 4,4 persen mengikuti indeks-indeks bursa global. Saham-saham di Tokyo juga anjlok. Indeks Nikkei 225 anjlok 5,5 persen atau 949,36 poin menjadi 16.222,02.

Saham-saham Hong Kong juga jatuh pada titik terendah sejak tiga bulan lalu. Indeks Hang Seng (HSI) turun 2,2 persen menjadi 22.415,19 poin, sedangkan indeks HSCE (Hong Kong China Enterprises Index) turun 2,9 persen ditutup pada 9.378,66 poin. Kondisi itu mencerminkan tingginya tingkat kecemasan investor. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Reuters/The New York Times/CNN/ Washington Post/AFP/Antara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s