Berebut Swing Voters

ELEKTABILITAS calon gubernur petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kian melorot. Tren itu terlihat sejak dua penantangnya, Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono, resmi mendeklarasikan pencalonannya. Pilihan politik warga DKI Jakarta mulai tersebar ke Anies dan Agus.

Pernyataan Ahok yang menuai riuh, tidak optimalnya pergerakan mesin politik dan relawan dalam melakukan penetrasi ke akar rumput, melekatnya citra sebagai gubernur yang kurang berpihak kepada warga kecil, dan sentimen suku dan agama, menjadi pemicu tergerusnya elektabilitas calon gubernur yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat itu.

Mobilisasi dukungan di akar rumput diyakini lebih kuat dampaknya dalam mempengarui pilihan politik warga DKI Jakarta, dibandingkan via media sosial yang cukup gencar digalang para pendukung calon petahana. Pertarungan di dunia maya pun mulai memanas lantaran masing-masing kubu mulai intensif menggalang dukungan.

Elektabilitas Ahok-Djarot memang masih berada di posisi puncak. Namun, hasil survei tiga lembaga survei menunjukan “lampu kuning” terhadap pasangan itu. Hasil survei PolMark Research Center (PRC) yang dirilis Rabu, (5/10) lalu misalnya.

Dalam rentan waktu tiga bulan, elektabilitas Ahok melorot hingga 10 persen. Pada Juli lalu, elektabilitasnya mencapai 42,7 persen. Sementara pada Oktober, elektabilitas Ahok-Djarot hanya mencapai 31,9 persen. Lalu, disusul Anies yang berpasangan dengan Sandiaga Uno (23,2 persen) dan Agus yang berdampingan dengan Sylviana Murni (16,7 persen).

Tidak mustahil, Anies-Sandiaga atau Agus- Sylviana, menyalip Ahok-Djarot yang didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Karena, elektabilitas Anies-Sandiaga dan Agus- Sylviana menunjukan tren peningkatan yang drastis–meski kedua pasangan itu baru mulai meramaikan suksesi DKI Jakarta. Anies-Sandiaga dan Agus- Sylviana diyakini bisa mempengarui pemilih yang belum menentukan pilihan yang jumlahnya mencapai 28,2 persen. Survei PRC itu merekrut 1.190 responden, yaitu warga Jakarta yang berhak memilih.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan Oktober ini juga menunjukan kian terancamnya elektabilitas Ahok-Djarot. Tingkat elektabilitas pasangan itu hanya 31,1 persen. Kemudian disusul Anies-Sandiaga yang elektabilitas mencapai 22,30 persen dan Agus-Sylviana 20,20 persen.

Sementara responden yang belum menentukan pilihan mencapai 26,40 persen. Survei itu dilaksanakan 28 September hingga 2 Oktober, dengan merekrut 440 responden warga DKI Jakarta. Sementara pada Maret lalu, elektabilitas Ahok yang disurvei LSI, mencapai 59,3 persen, menenggelamkan sejumlah nama yang disebut-sebut layak bertarung di ajang suksesi.

Menurut Peneliti LSI, Adjie Alfaraby, selisih elektabilitas Ahok dengan Anies dan Agus yang di bawah 15 persen menunjukan pertarungan Pilkada DKI kian ketat. “Prediksi kami, kemungkinan dua putaran sangat besar. Ketiga calon mempunyai peluang sama untuk masuk dalam putaran kedua,” katanya.

Hasil survei Media Survei Nasional (Median) juga menunjukan ektabilitas Ahok-Djarot hanya 34,2 persen dan Anies-Sandiaga sebesar 25,4 persen. Sementara pasangan Agus-Sylviana meraih 21,0 persen. Lalu, ada 19,4 persen responden yang belum menentukan pilihan.

Jika mencermati hasil ketiga lembaga survei itu, nampak jumlah pemilih mengambang (swing voters) cukup signifikan. Pasangan yang bisa mendominasi pemilih mengambang, kemungkinan besar akan memenangi pertarungan. Karenanya, masing-masing kandidat bersama para pendukungnya, dituntut menerapkan strategi pamungkasnya dalam menggalang dukungan pemilih mengambang.

Pemilih mengambang merupakan pemilih non partisan. Mereka belum menentukan pilihan politiknya karena keterbatasan referensi seputar rekam jejak dan program kandidat. Ada juga yang tidak merasa pilihannya menentukan masa depannya. Mereka kadang memilih semaunya atau ikut-ikutan suara orang lain. Sebagian dari mereka apatis dengan dinamika politik. Namun, ada juga menjadi golongan putih alias golput yang tidak memilih, karena sikap politik.

Tingginya jumlah pemilih mengambang menunjukan adanya sekat yang membatasi hubungan antara rakyat dengan partai politik. Realitas demikian tentu tidak bisa dibiarkan karena berdampak bagi kualitas demokrasi. Karenanya, menjadi tanggungjawab partai politik dan politisi untuk mengubah fenomena pemilih mengambang menjadi pemilih ideologis dan sadar akan hak-hak politiknya, dan mampu mengartikulasikan kepentingan politiknya.

******

Sebagai calon petahana, wajar jika elektabilitas Ahok tertinggi dibandingkan kandidat lainnya. Karena, Ahok paling disorot media dan memiliki akses untuk berkampanye lewat program kerja yang dilaksanakan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta yang tengah dipimpinnya.

Dan, Ahok sudah melakukan manuver, menggalang dukungan jauh hari. Sebelum mendapatkan dukungan empat partai politik, Ahok pernah sesumbar akan melaju di ajang suksesi via jalur independen, berpasangan dengan Heru Budi Hartono yang didukung Teman Ahok, relawan pendukung Ahok.

Kala itu, hubungan Ahok dengan partai politik, khususnya PDIP, tengah retak, termasuk dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yang menjadi pendukung utamanya di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012 lalu.

Sementara beberapa nama yang disebut-sebut bakal bertarung, baru sebatas sosialisasi. Ketidakjelasan dukungan partai politik, menjadi penyebab rendahnya elektabilitas para calon penantang Ahok.

Hasil survei Center of Strategic and International  Studies (CSIS) yang dirilis Maret 2016 lalu, dengan merekrut 400 responden menyimpulkan, elektabilitas Ahok mengalahkan Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Adhyaksa Dault, Tantowi Yahya, Hidayat Nur Wahid, Nachrowi Ramli, Abraham Lunggana, Djarot Saiful Hidayat, Fauzi Bowo, Alex Noerdin, Boy Sadikin, dan lainnya.

Tingkat elektabilitas Ahok mencapai 45 persen, jauh mengungguli Ridwan Kamil (15,75 persen), Rismaharini (7,75 persen), dan Adhyaksa Dault (4,25 persen). Hasil survei itu juga menyimpulkan, 67 persen warga DKI Jakarta, puas dengan kinerja Ahok.

Mardani Ali Sera, Ketua Tim Pemenangan pasangan Anies-Sandiaga di Jakarta, Kamis (6/10) menganggap wajar bila elektabilitas Ahok teratas karena sudah berkampanye lewat program-program pemerintahan Propinsi DKI Jakarta yang dipimpinnya. “Sudah dua tahun petahana kampanye lewat kinerjanya,” ucapnya. “Dulu cuma petahana yang jadi pilihan, sekarang ada tiga,” imbuhnya.

Meski demikian, politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arwani Thomafi meyakini, Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung dua putaran. “Saya melihat belum ada pasangan, termasuk petahana, yang akan mampu menembus suara 40 persen,” ujarnya.

Arwani juga meyakini Agus-Sylviana yang diusung PPP bersama Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN), akan lolos pada putaran pertama. Keyakinan itu muncul karena tingkat elektabilitas Agus yang cukup signifikan. Padahal, putra sulung Presiden Republik Indonesia kelima, Susilo Bambang Yudhoyono itu mampu menarik respons positif dari warga DKI Jakarta, meski baru mendeklarasikan pencalonannya. Agus- Sylviana, diyakini mampu mendulang suara dari para pemilih mengambang.

Berbagai dukungan pun kian mengalir. Belum lama ini, Forum Penggiat Koperasi DKI Jakarta menyatakan dukungannya kepada Agus-Sylviana. “Kami menerima deklarasi dukungan dari Forum Penggiat Koperasi DKI Jakarta terhadap Mas Agus dan Mpok Sylvi. Ini deklarasi dukungan ke-59 yang dilakukan di sini,” kata Ketua Tim Pemenangan Agus-Sylvi, Nachrowi Ramli seperti dikutip Antara, Kamis (6/10).

Forum tersebut terdiri dari sejumlah komunitas, termasuk Koperasi Nelayan & Perikanan, Koperasi Wanita DKI, Koperasi Bajaj, Koperasi Angkutan Umum, Koperasi Serba Usaha, Koperasi se-Jakarta Selatan, Koperasi se-Jakarta Timur, Koperasi se-Jakarta Utara, Koperasi se-Jakarta Barat, Koperasi se-Jakarta Pusat, Koperasi se-Kepulauan Seribu serta Komunitas UMKM DKI.

Sylviana saat menerima dukungan berjanji, berbagai keluhan yang disampaikan Forum Penggiat Koperasi DKI Jakarta menjadi masukan bagi dirinya dan Agus. “Karena tagline kami Jakarta Untuk Rakyat, Insya Allah, kita akan berada di pihak rakyat dan kita akan memperjuangkannya bersama-sama,” katanya.

Anies Baswedan juga mengatakan, relawan yang mendukungnya semakin banyak dan posko-posko relawan pun bermunculan. “Saya sangat mengapresiasi dan percaya bahwa relawan akan bekerja dengan sepenuh hati dan cara-cara yang baik dan terhormat,” kata Anies. Dia berharap, Pilkada DKI Jakarta menjadi festival karya, gagasan, dan rencana.

Anies bersama Sandiaga dan seluruh pendukungnya, akan lebih mengedepankan gagasan selama berkampanye. Anies meyakini, bersama Sandiaga, akan dapat memenangi Pilkada DKI Jakarta 2017. “Insya Allah, kita tidak hanya bisa menang, tetapi juga berkampanye dengan cara yang baik,” ujarnya.

******

Pilihan politik warga DKI Jakarta memang kian jelas setelah kontestasi suksesi resmi diikuti tiga pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur. Munculnya nama Anies dan Agus mulai menyedot elektabilitas Ahok.

Jika hasil survei PRC, LSI, dan Median benar, maka Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung dua putaran karena tidak ada pasangan yang mencapai 50 persen plus satu. Bisa jadi, Ahok-Djarot lolos pada putaran kedua atau justru tersingkir di putaran pertama. Karena, rentang waktu empat bulan bisa dimanfaatkan dua pasangan penantangnya untuk menggalang dukungan.

Sebagai petahana, Ahok tentu akan terus-terusan menuai kritikan dari lawan politiknya yang menyoroti kinerjanya sebagai gubernur. Klaim-klaim keberhasilan Ahok akan dikritisi lawan politiknya. Jika tidak cakap dalam meng-counter lewat komunikasi yang baik, maka kian menggerus elektabilitas Ahok. Di sisi lain, Ahok juga bisa gencar mempromosikan keberhasilan program kerjanya dengan tujuan meraup dukungan warga.

Tingkat elektabilitas memang menjadi salah satu indikator untuk menakar peluang salah satu kandidat dalam memenangkan pertarungan. Namun, hasil survei tidak bisa dipastikan sejalan dengan hasil perhitungan resmi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Di Pilkada 2012 lalu, sejumlah lembaga survei menempatkan elektabilitas pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) paling tinggi dibandingkan kandidat lainnya.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada tanggal 1 Juli 2012, merilis hasil survei yang memenangkan Foke-Nara. Dengan jumlah responden mencapai 450 orang, hasil survei LSI menunjukan 43,7 persen responden memilih pasangan Foke-Nara.

Sementara Jokowi-Ahok hanya meraih 14,4 persen, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini (5,3 persen), Alex Noerdin-Nono Sampono (4,6 persen), Faisal Basri-Biem Benjamin (1,8 persen), dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria (0,5 persen).

Nyatanya, pasangan Jokowi-Ahok yang meraih kemenangan, dengan memperoleh suara hingga mencapai 1.847.157 suara. Kemudian disusul pasangan petahana, Foke-Nara (1.476.648 suara), Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini (508.113 suara), Faisal Basri-Biem Benyamin (215.953 suara). Kemudian diikuti Alex Noerdin-Nono Sampono (202.643 suara), dan Hendardji Soepandji-Riza Patria (85.990 suara).

Hasil survei bisa saja tidak mengambarkan realitas objektif elektabilitas sang kandidat lantaran pengambilan sampel yang tidak representatif dari populasi, tidak memperhatikan sebaran sampel berdasarkan aspek demografis, suku, agama, latar belakang ekonomi, dan sebagainya.

Dan, perlu diketahui, survei opini publik bisa cepat berubah seiring perubahan dukungan publik terhadap kandidat yang dipengarui oleh isu yang mengemuka. Selain itu, cermat pula merespons hasil survei karena lembaga survei diduga mengusung motif terselubung, ikut-ikutan menggenjot elektabilitas salah satu kandidat.

Lewat publikasi di media, hasil survei dapat menggiring persepsi publik untuk memilih salah satu kandidat yang dijagokan lembaga survei. Hasil survei pra pemilihan juga memancing media memberitakan secara besar-besaran, sehingga memancing dukungan dari partai politik, termasuk penyandang dana kampanye. Itu karena media bias popular, lebih suka meliput kandidat yang popular dan diprediksi akan menang.

Saat Pilkada DKI 2012, Jokowi memang menjadi magnet yang menyedot perhatian media. Dia punya rekam jejak yang baik saat menjadi Walikota Solo. Popularitasnya melambung, apalagi setelah meluncurkan mobil Esemka. Jokowi juga disukai warga lantaran kepemimpinannya yang merakyat.

Lantas, bagaimana dengan Ahok? Sosok Ahok jauh berbeda dibandingkan Jokowi. Ahok dikenang sosok yang tegas, tanpa kompromi. Namun, bagi sebagian kalangan menengah ke bawah, Ahok dianggap arogan, kurang merakyat. Kebijakan Ahok kerap melabrak kepentingan warga kelas bawah di Jakarta seperti melakukan penggusuran di beberapa tempat.

Pernyataan Ahok pun kerap menuai kontroversi. Pernyataan Ahok yang teranyar disorot publik adalah saat mengutip Al Quran, Surat Al-Maidah ayat 51. Di hadapan warga di Kepulauan Seribu, dalam sebuah video yang beredar di dunia maya, Ahok menyatakan,”….., Jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil, bapak ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi (orang) dengan Surat Al Maidah 51 macam-macam itu. Itu hak bapak ibu. Kalau bapak ibu merasa enggak bisa pilih karena takut masuk neraka, oh enggak apa-apa. Karena ini panggilan bapak ibu. Program ini jalan saja….”

Kontan, pernyataan itu menabuh gemuruh khalayak. Ahok pun diperkarakan Forum Anti Penistaan Agama (FUPA) dengan tuduhan menistakan agama. Terkait video itu, tim sukses Ahok menganggap, pernyataan Ahok telah diplintir dan disesatkan. Ahok pada dasarnya menyampaikan jika politisasi agama, dengan mengutip kita Suci, Al-Quran adalah bentuk kebohongan kepada publik. Tim Ahok memastikan, bukan kitab sucinya yang bohong, tapi politisasi kitab sucinya.

Ahok juga sebelumnya pernah melontarkan pernyataan, “Saya bangga menjadi kafir, yang penting tidak korupsi” yang kemudian dipersepsikan seakan politisi Islam itu korup. Dalam Islam, korupsi haram. Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tahun 2000 lalu sudah mengeluarkan fatwa yang menyatakan korupsi itu haram. MUI juga mengharamkan risywah (suap), apabila tujuannya untuk meluluskan sesuatu yang batil (salah) atau membatilkan perbuatan yang hak (benar).

Rekam jejak Ahok pun disorot dalam proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta. Ahok disebut lebih mengutamakan kepentingan para pengembang, daripada kepentingan nelayan dan masyarakat sekitar pantai yang hidupnya sangat bergantung dari tangkapan laut. Proyek reklamasi pun merusak lingkungan sehingga ditentang aktivis lingkungan.

Referensi Pemilih

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah, dipilih secara langsung oleh rakyat. Pengukuhan terhadap hak politik rakyat itu menuntut para kandidat memahami betul aspirasi rakyat.

Dan, jika terpilih menjadi kepala daerah, maka mereka dituntut melaksanakan janjinya. Jika abai, rakyat akan mencabut mandat kepadanya. Vonis itu ditetapkan rakyat dengan cara tidak lagi memilihnya pada suksesi berikutnya.

Dalam pemilihan langsung, kekuatan figur dapat mendongkrak dukungan warga, khususnya yang belum menentukan pilihan. Figur yang memiliki kans kuat memenangkan pertarungan dapat diukur dari integritas, intelektualitas, rekam jejak, tipikal kepemimpinan, dan sebagainya. Kriteria integritas terlihat dari perilaku jujur, bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme, manusiawi, dan bermartabat. Sementara di sisi intelektualitas, seorang pemimpin tentu memiliki kemampuan dalam mencari solusi dihadapi permasalahan warganya, termasuk memahami realitas nasional, bahkan internasional.

Sementara rekam jejak, untuk menilai calon petahana, dilihat dari sejauhmana ikhtiarnya mengentaskan kemiskinan, mengurai kemacetan, dan memecahkan masalah banjir yang menjadi momok tahunan, memberikan rasa aman, menegakkan hukum, memberantas korupsi, dan sebagainya.

Sementara calon yang non petahana, dilihat dari sejauh mana visi dan misi maupun program yang ditawarkan. Para pemilih yang ingin perubahan, tentu mengharap program yang ditawarkan dapat memecahkan persoalan yang terjadi selama ini.

Tidak cukup bagi mereka dijejali jargon dan janji-janji muluk. Karena, belum tentu berbuah kenyataan. Ironisnya, begitu berkuasa, para jawara suksesi justru membuat rakyat yang memilihnya kian tertindas.

Sementara gaya kepemimpinan yang bisa mempengarui pilihan adalah sikap yang merakyat, sederhana, tegas, jujur, dan sebagainya. Pemimpin laksana orang tua yang menempatkan rakyat sebagai anaknya. Dia mendidik dan mengayomi anak-anaknya. Dia juga mengobati rakyatnya yang sakit, memberikan makanan dan minuman saat rakyatnya lapar, atau memberikan pakaian kepada rakyatnya yang telanjang. Pemimpin yang baik juga memperjuangkan hak rakyat kecil agar setara dengan mereka yang sudah sejahtera.

Rakyat juga tentu menilai dari ketulusan masing-masing kandidat. Pemimpin yang tulis, menempatkan kekuasaan yang diamanatkan rakyat adalah pengabdian, bukan profesi untuk mendapatkan kekayaan. Dia tidak terobsesi mengejar kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya. Dia juga bijaksana, yang diperlihatkan dalam laku bijaknya, rendah hati, tidak cepat puas, taktis dan kreatif, sanggup mengubah kemalangan menjadi keberuntungan dan kekalahan menjadi kemenangan.

Ajang suksesi sejatinya bukan panggung bagi politisi untuk memperlihatkan kecakapan beretorika, seolah-olah paling tahu dengan kebutuhan warga dan merasa paling pintar memecahkan masalah yang dihadapi warga. Karenanya, perlu dibuka ruang bagi warga untuk berdialog, menyampaikan pendapat yang dapat dijadikan referensi bagi kandidat dalam merancang strategi, kebijakan, atau program pemerintahan yang kelak dipimpinnya.

Dalam upaya mendongkrak elektabilitas, para kandidat bersama tim sukses dituntut untuk intensif berkomunikasi dengan rakyat, khususnya menjangkau pemilih yang belum menentukan pilihan politiknya. Tentu, caranya mencerdaskan dan menyehatkan demokrasi. Tidak cukup kampanye hanya dengan cara-cara konvensional, menebar propaganda, menjual jargon dan komunikasi yang satu arah. Perlu dibangun komunikasi politik yang interaktif, dua arah, mendidik, dengan mengelaborasi konsep dan strategi.

Kampanye harus dibanjiri dengan ide-ide cerdas, solutif, dan inspiratif. Kampanye menjadi ajang dialog antara warga dengan kandidat untuk membahas berbagai harapan dan masa depan. Dengan begitu, masyarakat makin sadar betapa pentingnya mereka menggunakan hak pilih yang kelak akan menentukan masa depannya. | M. Yamin Panca Setia

http://akarpadinews.com/read/polhukam/berebut-swing-voters

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s