Kian Memanas

ELEKTABILITAS Donald Trump diprediksi bakal kian tergelincir. Strategi kampanye calon Presiden Amerika Serikat (AS) yang didukung Partai Republik itu, diyakini sulit mendongkrak elektabilitasnya, mengalahkan calon presiden yang diusung Partai Demokrat, Hillary Clinton. 

Kekhawatiran pun menghantui kubu Republik lantaran retorika Trump yang memicu sentimen negatif pemilih. Jajak pendapat internal menunjukan, kian melemahnya dukungan terhadap Trump, khususnya dari basis massa Republik yang moderat dan kalangan perempuan.

Jajak pendapat yang dilakukan Reuters/Ipsos, menempatkan Hillary berada di atas Trump, dengan selisih lima persen dibandingkan Trump. Jajak pendapat yang dilakukan tanggal 23-29 September itu menunjukkan, pemilih cenderung mendukung Hillary daripada Trump dengan 43 berbanding 38 persen. Sementara pemilih yang belum menentukan pilihan mencapai 19 persen.

Dalam jajak pendapat terpisah, Hillary juga memimpin empat persen. Di antara pemilih potensial, 42 persen mendukung Hillary dan 38 persen mendukung Trump. Lalu, tujuh persen lainnya mendukung calon Libertarian Gary Johnson dan 3 persen untuk Jill Stein dari Green Party.

Debat yang berlangsung Senin lalu merupakan debat presiden yang paling banyak ditonton dalam sejarah politik di AS. 84 juta warga Paman Sam diperkirakan menyaksikan perang pendapat kedua kandidat itu. Dan, hasil jajak pendapat yang dilakukan Reuters/Ipsos menunjukan, sekitar 56 persen orang dewasa yang menyaksikan debat itu menilai Clinton menang. Jajak pendapat itu dilakukan via online di 50 negara bagian di AS.

Hasil jajak pendapat yang dilakukan RealClearPolitics pada Jum’at pekan lalu juga menunjukkan, Hillary mengungguli Trump dengan selisih 2,9 poin, atau 47,3 hingga 44,4 persen, sedikit lebih rendah dari margin sebelumnya, 3 poin pada Rabu, tapi juga naik dari 0,9 poin pada 19 September.

Pergerakan elektabilitas Trump yang stagnan, memicu kekhawatiran beberapa politisi Republik. Liesl Hickey, ahli strategi Partai Republik yang terlibat melakukan pemantaun, mengaku khawatir dengan keputusan pemilih independen yang tiba-tiba eksodus dari Trump. “Mereka benar-benar mulai menarik diri dari Trump,” kata Hickey.

Neil Newhouse, yang memantau jajak pendapat Partai Republik mengatakan, dua minggu lalu, dirinya memperkirakan Partai Republik akan terus mengontrol Senat. Tetapi, calon partainya masih terkunci dalam persaingan yang ketat. “Ini kekhawatiran saya, ini dekat dengan hari pemilihan.”

Jay Bergman, seorang eksekutif yang bergerak di sektor minyak bumi dan donatur Partai Republik dari Illinois, mengaku tidak lagi optimistis Trump dapat memenangkan pertarungan. “Mereka takut jika Trump terlihat buruk, akan ada lebih banyak pemilih untuk Demokrat.”

Cara berkomunikasi yang buruk dan perilaku Trump yang tidak menentu selama kampanye, diyakini faktor penyebab yang mempengarui persepsi pemilih. Dalam debat perdana pekan lalu, Trump menyerang Clinton dengan mempersoalkan masalah pernikahannya. Cara-cara yang dilakukan Trump itu memicu kekhawatiran sejumlah anggota senat Partai Republik, di antaranya Mitch McConnell dari Kentucky. Seorang petinggi Republik menyebut, McConnell prihatin dengan cara-cara yang dilakukan Trump karena akan menghilangkan dukungan, khususnya dari kalangan perempuan.

Tudingan Trump itu dianggap Hillary meremehkan penampilan fisik wanita. “Ini mengejutkan ketika wanita dinilai hanya atas dasar atribut fisiknya,” kata Hillary menanggapi pertanyaan seorang gadis berusia 15 tahun yang mempertanyakan masalah citra tubuh perempuan.

Hillary sebelum mengkritik pernyataan Trump yang mempersoalkan kenaikan berat badan, Miss Universe tahun 1996, Alicia Machado. “Lawan saya (Trump) menghina Miss Universe,” kata Hillary. Hillary, wanita pertama yang menjadi calon presiden AS itu rupanya memanfaatkan perseteruan yang mendapat perhatian publik antara Trump dengan Machado, yang disebutnya “Miss Piggy” karena persoalan berat badan.

Upaya Trump untuk menggalang dukungan juga nampaknya berbuah resistensi. Misalnya, dengan menebar ancaman terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin lantaran campur tangan dalam urusan konflik bersaudara di Suriah. Sikap Pemerintah AS yang disuarakan Menteri Luar Negeri John Kerry sebelumnya juga mengecam Rusia dan Suriah segera menghentikan pertempuran setelah upaya terakhir gencatan senjata gagal.

Kerry memperingatkan kedua negara untuk mencari jalan, mengakhiri pembantai massal, yang sebagian besar korbannya adalah warga sipil. Kerry mengingatkan, untuk mengembalikan pada proses perdamaian yang kredibel, di mana semua pihak harus bergerak maju, dan memberikan kesempatan bagi petugas kemanusiaan untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan kepada para korban peperangan.

Sebelumnya, Trump menyebut Putin sebagai pemimpin yang lebih baik ketimbang Presiden AS Barack Obama. Dia pun memastikan akan bekerjasama dengan Putin. Di Nevada, Trump menyarankan Rusia menjadi sekutu dalam memerangi Negara Islam atau dikenal dengan ISIS.

Namun belakang, Trump tidak yakin mampu membangun kerjasama dengan Putin. “Saya tidak suka (Putin), saya tidak membenci. Kita akan melihat cara kerjanya. Kita akan lihat,” katanya di hadapan pendukungnya selama kampanye di Nevada. “Mungkin kita akan memiliki hubungan yang baik. Mungkin pula kita akan memiliki hubungan yang mengerikan.”

Sikap Trump yang rada melunak terhadap Putin itu dikritik. Hillary menyebut ada kepentingan bisnis Partai Republik di Rusia. Seakan ingin menepis tudingan itu, calon wakil presiden yang diusung Partai Republik, Mike Pence, menyebut Putin sebagai pemimpin kecil dan pengganggu. Dia juga mengecam campur tangan militer Putin di Suriah, termasuk memberikan dukungan Presiden Suriah Bashar al-Assad. “Pemimpin kecil dan pengganggu dari Rusia itu kini mendikte AS,” ujarnya. Pence pun mengkritik kepemimpinan Obama yang menyebabkan AS mundur dari pembicaraan mengenai gencatan senjata di Suriah. “Sedangkan Putin malah memasang sistem pertahanan peluru kendalinya di Suriah,” tuding Pence.

Kremlin menyesali jika Putin diseret-seret dalam kampanye Pemilihan Presiden AS. Kremlin pun muak dengan tudingan negatif yang menyerang Putin. “Kami sesalkan menyebut-nyebut presiden kami menjadi bagian tak terpisahkan dari kampanye pemilihan presiden AS,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

******

Trump mengapresiasi debat yang dilakoni Pence, gubernur Indiana, ketika berhadapan dengan calon wakil presiden dari Demokrat, Tim Kaine. “Dia (Pence) mendapatkan pendapat yang luar biasa dari saya dan semua orang,” kata Trump di hadapan sekelompok pendeta yang berkumpul di sebuah akademi Kristen, di Las Vegas.

Debat antara Pence dan Kaine, seorang senator AS dari Virginia, diwarnai pernyataan saling serang. Selama lebih dari 90 menit di Longwood University di Farmville, Virginia, Pence berusaha menghadirkan dirinya untuk menyakinkan pemilih. Caranya berkomunikasi rada berbeda dengan Trump yang cenderung bombastis.

Dalam kesempatan itu, Pence menarasikan sosok Hallary yang tidak bisa dipercaya. Dia juga mengkritik ketidakmampuan Hillary saat dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri AS pada periode pemerintahan Presiden Obama 2009-2013.

Sementara Kaine menyebut Trump dengan mengutip pendapat mantan Presiden AS Ronald Reagan, yang mengatakan, orang bodoh dan maniak dengan senjata nuklir, bisa memicu bencana. “Dan saya pikir orang itu adalah pasangannya Gubernur Pence (Donald Trump),” tuding Kaine.

Dia juga mempersoalkan skandal pajak Trump. The New York Times beberapa hari lalu melaporkan jika Trump telah menyebabkan kerugian pajak sebesar US$916 juta dolar AS pada tahun 1995 dan kemungkinan menghindar dari pembayaran pajak selama 18 tahun. Kaine pun menantang Pence untuk menyerahkan laporan pajak Trump sebagai syarat menjadi Presiden AS. “Trump harus memberikan laporan pajaknya, untuk memenuhi persyaratan menjadi presiden,” tantang Kaine.

Pence nampak tenang. Dia justru menyebut Trump sebagai pengusah real estate yang membuka ribuan lapangan kerja dan mentaati undang-undang pajak. Namn, skandal pajak Trump itu turut mempengarui persepsi warga AS. Jajak pendapat yang dilakukan Reuters/Ipsos yang yang dirilis Selasa lalu menunjukan 67 persen orang AS menganggap upaya Trump menghindari pembayaran pajak sebagai sikap egois. Namun, sebanyak 46 persen di antara mereka menyebut cara pintar yang dilakukan Trump.

Debat antara Kaine dengan Pence berlangsung panas. Sampai-sampai, moderator debat dari CBS News, Elaine Quijano, harus melerai keduanya. Quijano mengingatkan, warga AS yang menyaksikan keduanya di layar televisi tidak memahami perdebatan jika satu sama saling saling memotong pembicaraan.

Dan, jajak pendapat CNN/ORC menunjukan Pence meraih dukungan 48 persen, dibandingkan Kaine dengan perolehan 42 persen lantaran sering diganggu komentar Pence.

Debat itu disaksikan sekitar 35,6 juta warga AS. Cara-cara debat dengan argumentasi yang kuat yang dilakukan Pence memberikan pelajaran bagi Trump tentang cara debat yang mampu menarik respons pemilih. “Trump mudah-mudahan belajar, tidak marah. Anda (Trump) tidak kalah keren,” kata ahli strategi Partai Republik, John Feehery. Dia menyarankan agar Trump tidak terlihat bingung dan tersenyum ketika diserang.

Trump dikecam lantaran melontarkan pernyataan kontroversial. Sebelumnya dia dikecam lantaran melarang umat Muslim memasuki AS. Awalnya, pernyataan kontroversi itu memang tidak membuat elektabilitas Trump rontok.

Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukan, elektabilitas Trump tetap teratas, mengalahkan calon presiden AS yang diusung Partai Republik lainnya di Pemilihan Presiden 2016. Dia meraih dukungan mayoritas, mencapai 35 persen, jauh mengalahkan saingan kuatnya yang juga dari dari Partai Republik, Ben Carson, dengan hanya meraih dukungan 12 persen.

Hasil survei menunjukan, sebanyak 64 persen responden menilai, pernyataan Trump bukan sebagai serangan terhadap umat Islam. Hanya 29 persen responden yang menganggap pernyataan Trump sebagai penghinaan terhadap umat Islam. Hasil survei itu berbanding terbalik dengan penilaian para pengamat yang sebelumnya menganggap, pernyataan Trump yang bernada rasis, akan mempersempit peluangnya menuju Gedung Putih.

Para pemimpin dunia dari Inggris, Perancis, Israel, dan Kanada sempat mencelanya. Paus Fransiskus juga mengecam Trump yang ingin membangun dinding pembatas. Pemimpin tertinggi umat Katholik itu pun meragukan keimanan Trump sebagai penganut Kristen.

Masyarakat Meksiko juga begitu benci dengan Trump, bakal calon Presiden Amerika Serikat (AS) yang diusung Partai Republik. Kebencian itu mereka lampiaskan dengan membakar patung Trump kala menggelar ritual Paskah, Sabtu malam, 27 Maret lalu.

Kebencian itu buntut dari pernyataan Trump yang saat kampanye Pemilihan Presiden beberapa waktu lalu menuding Meksiko mengirim para bandit dan pemerkosa ke AS sehingga harus dibangun tembok besar yang membatasi AS-Meksiko.

Sosok patung Trump yang dibakar itu menjadi simbol “mengusir iblis” dan sosok manusia yang tidak disukai. Dalam tradisi masyarakat Meksiko, patung-patung yang dibakar menjadi simbol Yudas Iskariot, yang menghianati Yesus Kristus. Di kawasan Amerika Latin, ritual pembakaran patung Yudas itu untuk mempersatukan masyarakat melawan musuh bersama.

*****

Jika Clinton dinyatakan menang dalam pertarungan, maka akan menempatkan Tim Kaine, sebagai wakil presiden. Di Wisconsin dan Illinois, kemungkinan Republik kalah, sehingga Demokrat hanya perlu dua kursi untuk menjadi mayoritas.

Partai Republik juga nampaknya khawatir di New Hampshire dan Pennsylvania, di mana para calon lama Republik terjebak di antara basisnya sendiri. Mereka terkejut dengan pemilih moderat yang kemungkinan menyerahkan kursi kepada Demokrat. Karenanya, Senator Kelly Ayotte dari Partai Republik di New Hampshire, mengingatkan Trump dalam debat.

Merasa memiliki peluang baru, Demokrat berniat melipatgandakan dukungannya di distrik yang sebagian besar pemilih berpendidikan tinggi. “Saya pikir itu cukup efektif di New Hampshire, di pinggiran Kota Philadelphia dan di Nevada,” kata Senator Demokrat New York, Chuck Schumer.

Partai Republik juga merespons tantangan di North Carolina, negara yang dibidik Clinton untuk meraih kemenangan–yang memicu kekhwatiran senator Republik, Roy Blunt. Awalnya, polling internal menunjukan Blunt tampak aman, namun kini tertinggal oleh penantangnya dari Demokrat, Jason Kander.

Di parlemen, di mana Republik menjadi mayoritas, bersikeras jika efek Trump kian terbatas dan kian jatuhnya elektabilitas Trump seperti terekam dalam jajak pendapat sejak debat pertama.

Sementara ari hasil survei yang dilakukan Geoff Garin, lembaga survei Demokrat, banyak pemilih yang belum memutuskan atau kecenderungan bimbang terhadap Republik.

Kelly Ward, direktur eksekutif Komite Kampanye Kongres Demokrat, menilai, pemilih cenderung tidak membedakan antara anggota parlemen yang vokal mendukung Trump dengan yang memilih pasif, tidak mendukung atau aktif menentang pencalonannya.

Sejumlah politisi Republik telah secara eksplisit menyatakan menjaga jarak dari Trump. Robert J Dold, anggota Kongres dari Illinois mengatakan, dia tidak akan memilih Trump. Dia memilih mematikan siaran televisi yang menampilkan Trump, termasuk Clinton.

Namun, Dold khawatir serangan balik dari para pendukung fanatik Trump, dan kemungkinan dari Trump sendiri, yang telah berulang kali menyerang Partai Republik. Memang, bulan lalu saat acara penggalangan dana di Chicago, Trump menyerang Senator Mark S. Kirk dari Illinois, seorang Republikan yang menentang Trump. Jika Trump gagal memperbaiki diri, Hillary diperkirakan mampu menumpuk kemenangan bagi Demokrat untuk menguasai parlemen.

Sebelumnya, pernyataan Trump yang kontroversial membuat internal Partai Republik panik. Sejumlah pentolan partai mengadakan pertemuan dan mengeluarkan memo rahasia terkait ucapan Trump itu. Ada juga spekulasi yang menyebut Trump menjadi agen rahasia yang dikirim Partai Demokrat untuk menghancurkan Partai Republik dari dalam. Trump sempat disebut-sebut membantu Hillary, menuju Gedung Putih.

Pasalnya, Trump dan Bill Clinton, suami Hillary, merupakan teman dekat. Bill Clinton, mantan Presiden AS, dikabarkan pernah melakukan percakapan via telepon pribadi di akhir musim semi dengan Trump, saat mendekati keputusan Trump untuk berkompetisi di Pemilihan Presiden AS 2016.

Bill Clinton juga dilaporkan mendorong Trump untuk memainkan peran yang lebih besar di Partai Republik dan menawarkan pandangannya dalam lanskap politik. Trump pun dikesankan sebagai politisi yang meremehkan rekan sesama partainya. Komitmen dan loyalitas Trump terhadap Republik pun diragukan.

Pasalnya, Trump pernah mengancam akan meninggalkan Partai Republik, seraya mengklaim pendukungnya akan bergabung dengannya, meninggalkan Partai Republik, dan menjadi calon presiden via jalur independen. | M. Yamin Panca Setia

Sumber : Reuters/The Independent/The Telegraph
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s