Hukuman Berat Menanti Pembakar Masjid di Florida

MINGGU malam, 11 September 2016. Pengurus masjid di Fort Pierce, Florida, Amerika Serikat (AS), pada berbenah. Mereka mempersiapkan segala keperluan untuk kegiatan ritual Perayaan Idul Adha. 

Esok pagi, rencananya, masjid yang juga menjadi Islamic Center Fort Pierce itu, akan digunakan umat Muslim di sana untuk Sholat Ied. Setelah semua beres, mereka lalu menutup masjid.

Namun, selang satu jam kemudian, mereka mendapat telepon dari kepolisian jika masjid dilalap api. Awalnya, kejadian itu dianggap kecelakaan listrik saja. “Namun, karena kami melihat rekaman video, kebakaran itu sengaja dilakukan,” jelas pihak pengurus masjid menceritakan kronologi kejadian di akun facebooknya. Kala kejadian, imam masjid, Imam Rahman, tengah menjalani ibadah haji bersama istri dan anggota masyarakat lainnya di tanah suci, Makkah, Arab Saudi.

Beruntung, pembakaran masjid itu tidak menyebabkan korban tewas. Mereka pun bersyukur lantaran besarnya dukungan warga sekitar. Apalagi, setelah aparat kepolisian berhasil menangkap pelaku pembakaran Joseph Michael Schreiber. “Kami ingin menunjukkan penghargaan dan terima kasih kepada pihak St Lucie County Sheriff atas upayanya melakukan penyelidikan, serta anggota masyarakat yang telah menunjukkan dukungan besar kepada kita. Kami berdoa agar Tuhan membimbing Schreiber dan menghapus semua kebencian dari hatinya.”

Pihak pengelola lalu melakukan penggalangan dana untuk membangun kembali masjid. Dana yang berhasil dihimpun telah mencapai sekitar US$20 ribu. Schreiber terancam hukuman 30 tahun penjara jika terbukti membakar masjid. “Pembakaran tempat ibadah, terlepas dari keyakinan anda, adalah sebuah tragedi,” kata Kepala Deputi Sheriff, Garry Wilson.

Schreiber diketahui membenci Islam. Itu terlihat dari beberapa postingan di facebook miliknya yang menyebut Islam adalah agama radikal, teroris, dan kriminal. Diduga, pria berusia 32 tahun itu membakar Islamic Center Fort Pierce di Kota Florida, terkait balasan terhadap serangan yang menewaskan 49 orang di Pulse Club, Florida, pada 12 Juni lalu.

Omar Mateen, pelaku penambakan di Pulse Club diketahui terkait kelompok radikal, Negara Islam (Islam State/IS). Masjid itu pun menjadi sasaran pelaku karena Mateen yang tewas ditambak aparat, diketahui sering mengunjungi Islam Center Fort Pierce untuk beribadah.

Aksi pembakaran masjid itu mengindikasi kejahatan rasisme menghantui muslim di negeri Paman Sam. Apalagi, insiden itu terjadi bertepatan pada perayaan Idul Adha dan peringatan serangan teroris 9 September 2001 satu lalu yang dilancarkan kelompok teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Islamic Center of Muslim Fort Pierce menjadi tempat beribadah sekaligus berkumpulnya organisasi non-profit untuk melayani kebutuhan daerah umat Muslim dengan menyediakan pelayanan pendidikan, keagamaan, dan kegiatan sosial lainnya.

Mayor polisi, David Thompson mengatakan, pihak kepolisian St Lucie County memiliki bukti keterlibatan Schreiber berupa rekaman video dari luar masjid. Ditemukan pula sebuah motor yang digunakan pelaku saat menjalani kejahatannya. “Schreiber memiliki sepeda motor yang sesuai dengan yang terlihat di video,” kata Thompson.

Dalam video itu, seorang pria yang diduga Schreiber dengan sebuah motor mendekati masjid. Pria itu mambawa sebuah botol berisi cairan dan beberapa kertas. Kemudian, dia pergi setelah membakar masjid. Api pun dengan cepat menyebar ke lantai atas masjid. Butuh waktu sekitar empat setengah jam bagi petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api.

Pihak penyidik masih menginterogasi Schreiber sebelum membawanya ke penjara St Lucie County, di mana dia akan ditahan tanpa jaminan. Petugas juga sedang mencari rumahnya untuk mengumpulkan informasi lebih dalam.

Schreiber, menurut catatan kepolisian pernah di penjara dua kali lantaran terlibat perampokan dengan senjata api. Dia pernah di penjara pada Maret 2008 sampai Juli 2009 dan Juni 2010 sampai Agustus 2014.

Menurut catatan kejahatan yang direkam Departemen Penegakan Hukum Florida, Schreiber yang lahir di New York, pernah ditangkap sebanyak 12 kali sepanjang tahun 2003-2014 karena berbagai tindakan pelanggaran hukum di Florida.

FBI dan Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api dan Bahan Peledak, terus menyelidiki kasus ini dan akan mengajukan tuntutan ke pengadilan federal, kata Michael D’Alonzo, asisten agen khusus FBI yang bertanggung jawab di Miami. “Kami mengambil setiap tindakan kekerasan atau ancaman terhadap rumah ibadah yang sangat serius, ” kata D’Alonzo.

Schreiber diketahui pernah menebar postingan yang bernada anti-Islam di media sosial. “Semua Islam radikal dan harus dianggap teroris dan kriminal,” demikian tulis Schreiber yang diketahui penganut Yahudi di akun facebooknya.

Lewat sebuah posting pada Juli di facebook, pria berusia 32 tahun itu juga menyatakan, jika AS menginginkan perdamaian, keamanan, dan mengejar kebahagiaan, maka harus mempertimbangkan Islam itu radikal. “Semua Islam adalah radikal, teroris dan kriminal.” Dia pun menyerukan partisipasi khalayak dalam melawan Islam radikal sampai hukum dan ketertiban dipulihkan di AS.

Schreiber ditangkap tanpa perlawanan pada Rabu, sekitar pukul 5 sore. Menurut Thompson, Schreiber ditangkap saat berada di Northwest Zenith Drive, Port St Lucie, di pusat kota Fort Pierce. Penangkapan berhasil dilakukan lantaran dibantu video yang diambil dari masjid dan di tempat lain.

Thompson mengatakan, Schreiber ditangkap saat sedang berjalan di trotoar. Terkait kejahatan yang dilakukan Shcreiber, Thompson menyatakan, “Ini (membakar rumah ibadah) berbahaya bagi masyarakat,” kata Thompson. “Ini adalah tempat ibadah, sangat penting bagi masyarakat. Kami akan membawa orang ini ke pengadilan.”

Wilfredo Amr Ruiz, juru bicara Council on American-Islamic Relations (CAIR) Florida mengatakan, Schreiber tidak tahu jika pihaknya bersama orang-orang Yahudi, tidak hanya di Florida, tetapi di seluruh bangsa, berupaya memerangi radikalisme.

Ruiz pun mengingatkan jika ancaman pembakaran rumah ibadah, termasuk kekerasan kepada anggotanya, mengalami peningkatan. Dia mengungkap, ancaman penyerangan terhadap masjid pernah disampaikan lewat telepon, tak lama setelah pembantaian di Pulse Club. Dan, pada Juli lalu, kata dia, anggotanya dipukul di bagian wajah, saat akan sholat subuh. Aksi pembakaran masjid itu pun memicu kesedihan dan ketakutan anggotanya.

Ruiz pun berharap tertangkapnya Schreiber menghalangi pihak lain yang kerap melakukan kejahatan terhadap kelompok agama tertentu. “Serangan pada tempat ibadah seperti ini, pada masjid, tidak hanya serangan terhadap masjid. (Namun), ini serangan terhadap tempat-tempat ibadah di Florida.”

Omar Saleh, seorang pengacara untuk CAIR, menyebut Schreiber dan Mateen sebagai bajingan. “Sama seperti pada tanggal 12 Juni, ketika saya menekankan, bahwa tindakan Mateen ini tidak berbicara atas nama Islam, saya tahu bahwa agama apapun, tindakan Schreiber tidak mengatasnamakan agama,” katanya.

Bruce Benson, rabbi Yahudi mengatakan, Schreiber sempat mengunjungi sinagog selama sekitar satu bulan di musim semi lalu, untuk mempelajari Taurat. Tetapi, dia tidak menunjukan indikasi akan melakukan kekerasan.

Ayah Schreiber, Benson menambahkan juga sempat mendatangi kantornya pada Rabu sore setelah anaknya ditangkap. “Saya kira, dia tidak tahu harus bagaimana mana lagi?” kata Benson seraya menambahkan jika orang tua Schreiber terkejut.

Benson menambahkan, reformasi sinagoga, Temple Beth El Israel, telah gagal di masa lalu untuk mencoba mendekati masjid. Namun, pihaknya akan terus berusaha melakukan pendekatan. “Kami akan menyambut kesempatan,” kata Benson. “Mereka komunitas, merasa diserang. Jika kita semua bisa bicara, mungkin hal-hal seperti ini tidak akan terjadi.”

Sebelum insiden itu, tanggal 3 Juli lalu, terjadi penyerangan terhadap seorang Muslim saat akan menjalani sholat shubuh di masjid Madrasah Islamiyah di Houston. Korbannya adalah seorang dokter bernama Arslan Tajammul.

Lelaki kelahiran Alberta, Kanada itu diserang oleh tiga pria bersenjata api dan menggunakan topeng. Tajammul diserang saat akan menuju masjid sekitar pukul 05:30 waktu setempat. Saat itu, korban sempat melakukan perlawanan dengan melemparkan handphone miliknya ke salah satu pelaku penyerangan.

Dia pun segera menghubungi 911 untuk meminta pertolongan. Penembakan itu terjadi sehari setelah seorang pria Muslim dipukuli di luar masjid di Florida. Masjid itu dilaporkan sering dikunjungi Mateen, pelaku penembakan Pulse Club. Taylor Anthony Mazzanti, sang pelaku penyerangan berhasil ditangkap aparat kepolisian setempat.

Serangan Pulse Club, Orlando, Florida, diduga memicu serangan terhadap muslim. Mateen, dengan menggunakan senjata merengsek masuk dan menebar tembakan di klub itu. Pelaku sempat melakukan penyanderaan.

Pulse Club merupakan tempat hiburan malam yang bernuansa Latin. Klub itu dikenal sebagai tempat mangkalnya para gay. Salah satu pendiri dan pemiliknya, Barbara Poma, telah membuka klub itu selama lebih dari satu dekade. Kakaknya diketahui meninggal dunia setelah berjuang melawan HIV/AIDS.

Dalam sebuah pernyataan, kelompok pejuang kesetaraan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) Florida, mengecam penyerangan tersebut. Di Florida, klub itu memiliki sejarah perjuangan kesetaraan, menjadi tempat satu-satunya bagi kaum gay berkumpul.

Sebelum peristiwa penyerangan, Mateen, yang merupakan warga Florida, dilaporkan pernah menelepon 911 dan bersumpah setia kepada pimpinan ISIS, Abu Bakr al-Baghdad.

Mateen lahir di New York tahun 1986 dan tinggal di Port St Lucie, sekitar 125 mil bagian selatan Orlando. Dia menikah pada tahun 2009, dan memiliki seorang putra berusia 3 tahun. Mateen diketahui memiliki lisensi kepemilikan senjata karena menurut keluarganya, Mateen bekerja di jasa keamanan.

Dalam pernyataannya, ISIS mengklaim bertanggungjawab atas penembakan di Orlando. Dalam pesan yang diterbitkan sebuah media yang kerap menyuarakan klaim-klaim ISIS, Amaq Agency, disebutkan Mateen adalah “tentara kekhalifahan”. Meskipun pernyataan itu tidak menjelaskan hubungan Mateen untuk ISIS, tetapi pesan itu menyebut Mateen sebagai serigala penyerang tunggal | M. Yamin Panca Setia

Sumber : NBC News/Reuters/ BBC/ABC/Daily Mail

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s