Metamorfosis Radikalisme ISIS

Sebuah laporan dirilis Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di markas PBB, Jenewa, Swiss, Kamis (19/3). Isinya mengurai kebrutalan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Al-Sham (ISIS).

Dari hasil investigasi dan kajian Komisi HAM PBB, ISIS diduga akan terus melancarkan serangan setelah menguasai sebagian wilayah Suriah bagian Timur dan Irak bagian utara dan barat.

Taktik brutal dan biadab dilakukan. ISIS telah melakukan pembunuhan massal, penculikan terhadap anggota kelompok atau agama minoritas serta pemenggalan kepala seseorang yang dianggap kafir. Kebiadaban itu mereka siarkan lewat dunia maya untuk menunjukan eksistensinya, sekaligus menebar teror kepada masyarakat global.

Laporan Komisi HAM PBB juga mengungkap kekejaman ISIS yang membantai kelompok minoritas Yazidi, di Irak. Yazidi, penganut kepercayaan kuno yang bercampur dengan ajaran Kristen, Islam, dan Zoroaster dianggap ISIS sebagai pemuja setan.

Kelompok-kelompok religius dan etnis lain juga menjadi target, termasuk ribuan pemeluk Kristen di Irak. Saat ini, banyak penganut Yazidi yang terjebak di sekitar Gunung Sinjar, yang dikuasai ISIS.

Di sejumlah desa Yazidi, laki-laki berusia 14 tahun ke atas dikumpulkan, sebelum ditembak. Sementara perempuan Yazidi diperkosa dan dianggap sebagai “harta rampasan perang.” Mereka menjadi budak seks serdadu ISIS.

Sejumlah saksi mengaku, mendengar seorang gadis berusia enam tahun berteriak meminta tolong karena diperkosa oleh serdadu ISIS. Seorang perempuan berusia 19 tahun, yang saat ini tengah hamil, mengaku berulang kali diperkosa oleh dokter ISIS selama dua setengah bulan. Sang dokter itu kemudian dengan sengaja menduduki perut korban sambil mengatakan, “Bayi ini harus mati karena dia kafir. Saya bisa bikin bayi Muslim.” Sementara anak laki-laki berusia delapan tahun dipaksa berpindah agama dan menjalani latihan militer.

Laporan Dewan HAM PBB itu berdasarkan pengakuan dari 100 orang yang diwawancarai. Mereka adalah korban serangan ISIS di Irak sepanjang Juni 2014 dan Februari 2015. ISIS telah memaksa mereka mengungsi dari rumahnya sejak Juni tahun lalu. Pada Agustus 2014 lalu, ISIS menargetkan pembunuhan secara brutal ratusan laki-laki dan anak laki-laki di Provinsi Nineveh, Baghdad bagian laut. Di bulan yang sama, ISIS juga menyerang sebuah penjara yang berisi sekitar tiga ribu tahanan. Mereka kemudian melepas tahanan beraliran Sunni dan menembaki 600 pemeluk Syiah.

Atas temuan itu, Komisi HAM PBB mendesak Dewan Keamanan PBB untuk membawa masalah ini ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) guna mengadili para pelaku. “Kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida nampaknya telah dilakukan selama konflik. Kejahatan genosida terutama dialami  Yazidi,” tegas Hanny Megally, kepala kantor HAM PBB untuk Asia, Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Komisi HAM PBB juga mendesak pemerintah di Baghdad bergabung dengan Dewan Keamanan PBB untuk menyeret ISIS ke pengadilan internasional. “Tidak ada masyarakat telah diselamatkan di Irak dari kekerasan ISIL. Apa yang kita lihat adalah keragaman etnis dan agama di Irak telah hancur,” kata Suki Nagra, kepala penyelidik PBB.

Dia juga mengungkap temuan kuburan massal di kawasan yang baru direbut kembali oleh pasukan pemerintah Irak dari ISIS. Penyelidik PBB juga mengutip pengakuan saksi jika ISIS menggunakan gas klorin, senjata kimia yang mematikan dalam melawan tentara Irak di Provinsi Anbar, pada September 2014 lalu.

Gerakan radikal ISIS diperkirakan akan memperluas wilayah yang menjadi targetnya. ISIS juga telah memobilisasi kekuatannya. Mereka memanfaatkan jaringa-jaringannya di sejumlah negara untuk bergabung melakukan aksinya.

Keberhasilan ISIS membangun jaringan-jaringannya di beberapa negara, tidak terlepas dari kemudahan mengakses teknologi dan informasi. Lewat instrumen tersebut, ISIS menebarkan paham-paham radikal tanpa batas, dengan cepat lewat internet.

ISIS sering menggunakan Youtube untuk menyebarkan misi dan visinya, target atau sasarannya, serta menebar teror kepada khalayak luas. ISIS juga memiliki akun twitter yang disadurkan dalam berbagai bahasa agar dapat dibaca dan dipahami banyak kalangan.

Untuk memaksimalkan transformasi paham-paham radikalnya, ISIS menyebarkan sejumlah media seperti CD, DVD, poster, pamflet, dan media propaganda lainnya via internet. Lewat internet, ISIS diketahui menebar paham-paham radikalisme di negara-negara barat lewat Al Hayat Media Center. Proganda radikalisme disebar dengan berbagai bahasa seperti Inggris, Jerman, Rusia dan Prancis.

ISIS mampu mentransformasikan paham radikal dengan luas lantaran menempatkan agama yang diyakininya paling benar. ISIS kemudian mendoktrin para pengikutnya untuk tunduk dan patuh terhadap nilai-nilai agama dan pemimpinnya, meski nyawa taruhannya. Para pengikutnya bersedia mati membela pemimpinnya dan mengembalikan masa-masa keemasan ketika dipimpin kekhalifahan Islam.

Doktrinasasi itu mampu memunculkan keyakinan pengikutnya untuk melakukan tindakan radikal dan menyatakan perang terhadap siapa pun yang bersebrangan. Dan, dengan dalih perjuangan menegakan Islam, ISIS mengajarkan pengikutnya untuk melakukan tindakan yang dilarang Islam, seperti membunuh, memperkosa, dan tindakan-tindakan biadab lainnya.

Dengan cara demikian, ISIS yang awalnya bergerak dan memiliki jaringan di lingkup lokal, bermetamorfosis menjadi gerakan radikal global. Cikal bakal ISIS awalnya merupakan organisasi bersenjata kelompok Sunni Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ) yang dideklarasikan tahun 2003 lalu. Kelompok radikal itu tujuannya hanya melakukan perlawanan terhadap invasi militer Amerika Serikat di Irak.

Di tahun 2006, JJASJ bermetamorfosis menjadi Islamic State of Iraq (ISI) yang dipimpin Abu Umar al-Baghdadi yang meninggal tahun 2010 dan dilanjutkan Abu Bakar al-Baghdadi. Organisasi itu juga bertujuan mengusir militer AS. Setelah AS mengakhiri invasi di Irak, ISI kemudian mengarahkan perjuangan dengan melakukan perlawanan terhadap pasukan penguasa Suriah, Bashar al-Assad. Karenanya, ISI bermetamorfosis menjadi ISIS.

Kini, gerakan radikal ISIS diduga akan makin memperluas serangan-serangan militernya, bukan hanya di Irak dan Suriah, sehingga mulai bermetamorfosisi menjadi  Islamic State (IS). Jumlah anggotanya meningkat, mencapai puluhan ribu militan, yang direkrut dari berbagai negara. Direktur Central Intelligence Agency (CIA), John Brennan menyebut, ISIS memiliki jaringan di 90 negara. ISIS diyakininya menjadi ancaman serius, tidak hanya untuk Suriah dan Irak, tetapi juga ancaman bagi AS dan negara-negara lain, khususnya yang menjadi mitra AS.

ISIS sebelumnya mengklaim memiliki banyak milisi dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya, termasuk Amerika Serikat, Jazirah Arab, dan 36 wilayah dari kawasan Asia dan Pasifik.

Indonesia menjadi salah satu negara jaringannya. Hal itu terungkap setelah otoritas Turki menahan 16 warga negara Indonesia (WNI) lantaran diduga akan bergabung dengan ISIS. Laporan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyebut nama-nama WNI yang ditahan itu antara lain: Ririn Andrian Sawir, Qorin Munadiyatul Haq, Nayla Syahidah, Jauza Firdaus Nuzula, Ikrimah Waliturohman, Alya Nur Islam, Agha Rustam Rohmatullah dan Abdurahman Umarov. Lalu, Tiara Nurmayanti Marlekan, Syifa Hidayah Kalashnikova, Daeng Stanzah, Ifah Syarifah, Ishaq, Asiyah Mujahidah, Aisyahnaz Yazmin, dan Muhammad Ihsan Rais.

Polri juga merilis nama-nama WNI yang hingga kini belum diketahui keberadaannya di Turki antara lain: Usman Mustofamahdani, Sakinah Syawemitafsir, Hapid Umar Babher, Utsman Hafid, Atikah Hapid, Tsabita Utsman Mahdamy dan Salim Muhammad Atamim. Kemudian, Fauzi Umarsalim, Jusman Army, Ulan Isnuri, Hamara Hafshan, Aura Kardova, Dayyan Akhtar, Hamzah Hafiz, Sorayah Cholid, dan Urayana Afra.

Mereka diketahui melakukan perjalanan wisata ke Istanbul, dengan menggunakan agen perjalanan Smailing Tour. Setibanya di Istanbul, 24 Februari 2015, mereka memisahkan diri dan hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Segala cara dilakukan jaringan ISIS untuk merekrut anggota baru. Salah satu modusnya adalah pengiriman anggota baru dengan menawarkan perjalanan ibadah umrah gratis. Untungnya, sebanyak 257 warga Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung yang dijanjikan umroh gratis, secara bertahap dipulangkan ke kampung halamannya oleh aparat Kepolisian Resor Malang, Jawa Timur.

Pemulangan yang dilakukan sejak 16 Maret 2015 itu digelar setelah mereka tinggal di beberapa hotel, wilayah Kabupaten dan Kota Malang, sejak akhir tahun lalu. Keberadaan mereka di Malang untuk menunggu giliran berangkat umrah gratis yang digagas Agus Santoso, warga Desa Kebonsari, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang.

Ada lagi modus dengan cara menikahi perempuan. Siti Lestari, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo dikabarkan hilang. Siti diduga dibawa calon suaminya, Bahrun Naim, ke Suriah. Lelaki itu adalah eks terduga teroris yang pernah ditangkap Tim Densus 88 Antiteror pada November 2010. Saat ditangkap dari rumah kontrakan di Pasarkliwon, Solo, polisi mengamankan ratusan butir peluru. Masyarakat harus waspada, karena segala cara dilakukan ISIS untuk merekrut anggota baru.

Sementara Pemerintah Indonesia terus melakukan pembicaraan dengan Pemerintah Turki guna membahas WNI tersebut. “Kami sudah berbicara dengan Turki,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis, (19/3). Namun, Kalla menegaskan, ada kemungkinan di antara WNI tersebut, berangkat ke Turki bukan bertujuan bergabung dengan ISIS.

Pemerintah Indonesia-Turki juga sepakat meningkatkan kerjasama mencegah perkembangan paham radikalisasi agama, dan pertukaran informasi, termasuk bersinergi membantu warga sipil yang menjadi korban kekerasan ISIS.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Letnan Jenderal Saud Usman Nasution menyebut jaringan teroris di Poso telah bergabung dengan ISIS. Jaringan teroris Poso yang dipimpin Santoso dikenal sangat radikal. Tidak sekadar melakukan pergerakan lewat jalur dakwah dalam mentransformasikan ideologi radikal. Namun, mereka menggunakan kekuatan bersenjata.

Indikasi itu dapat dilihat, di mana Poso kerap dijadikan tempat pelatihan bersenjata yang dilakukan oleh beberapa kelompok yang dipimpin Abu Mus’ab Al Zarqawi Al Indunesi alias Santoso, Komandan Mujahidin Indonesia Timur.

Teroris Poso juga sering melakukan serangan yang telah menewaskan aparat kepolisian. Di Poso diduga ada puluhan gembong teroris sisa-sisa kelompok Poso. Abu Wardah alias Santoso alias Abu Yahya bukan satu-satunya pelaku tindak pidana terorisme yang diburu.

Menurut Saud, jaringan teroris Santoso di Poso masih merekrut mencari militan-militan baru untuk bergabung dengan ISIS. Pergerakan para teroris di sana diduga bukan secara berkelompok, tetapi perpaduan antara individu-individu dari beragam kelompok.

M. Yamin Panca Setia 

Sumber : Reuters/BBC/AFP/Antara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s