Persembahan untuk El Comandante

FIDEL Castro hadir di hadapan publik yang merayakan hari ulang tahunnya ke-90. Kondisi fisiknya kian rapuh. Fidel yang dulu sangat gagah memimpin revolusi dan berapi-rapi dalam berorasi, kini tak mampu banyak berkata-kata.

Dia duduk di sebuah kursi roda, diapit Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan adiknya yang kini menjabat Presiden Kuba, Raul Castro. Nampak pula beberapa petinggi militer maupun pejabat sipil pemerintah Kuba. Sang komandan revolusioner, menyaksikan suguhan musik dan pementasan teater anak-anak, disertai rekaman video highlights dan foto-foto perjalanan hidupnya saat memimpin revolusi dan menjalankan kekuasaan negara.

Fidel Castro menyapa publik lewat surat yang dirilis media pemerintah. Dia mengapresiasi rakyatnya yang turut mendukung revolusi Kuba. Tak lupa, dia menyelipkan kecaman kepada musuh lamanya: Amerika Serikat.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang terdalam, menunjukkan rasa hormat, salam, dan pujian yang saya terima dalam beberapa hari terakhir, yang memberikan saya kekuatan,” tulis Fidel Castro dalam suratnya.

Rakyat Kuba menggelar pesta rakyat untuk menghormati “El Comandante” yang telah membangun negara berhaluan komunis dan mati-matian memerangi imperialisme AS. Ribuan orang menari di pinggir pantai Malecon Boulevard sepanjang malam Jumat hingga Sabtu. Mereka pun menyanyikan lagu “Happy Birthday” untuk Fidel Castro. Persembahan kepada Fidel, juga disemarakkan dengan kembang api yang mewarnai langit malam itu dan lantunan lagu-lagu Latin.

“Ini adalah hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepadanya, pesta ini,” kata penari Leydis Campos, 25 tahun, mengenakan pakaian minim, dengan kelopak matanya yang berlapis glitter.  “Fidel adalah sesuatu terbaik di negara kita,” kata Aldo Zamora, 40, seorang pedagang balon di kala pesta jalanan digelar di sepanjang Malecon.

Sejak tak lagi berkuasa, beberapa warga Kuba merasa kehilangan pemimpin karismatik. “Kata-katanya memberi kami rasa percaya diri,” kata Yadira Escudero, 25 tahun. Sejak tak lagi berkuasa, Fidel jarang berhadapan dengan publik. Sebelumnya, dia dikabarkan tidak dijadwalkan untuk tampil di depan umum. Namun rupanya Fidel, menyempatkan untuk bertemu dengan sekutunya, Nicolas Maduro yang tiba di Havana Sabtu dini hari.

******

Fidel Castro, menyerahkan kekuasaan pada tahun 2008 kepada Raul Costra karena sakit. Sejak tahun 2006, dia memang telah memberikan tanggungjawab kepada Raul yang kala itu menjabat Wakil Presiden. Fidel dikenal sebagai politikus dan pemimpin revolusioner yang lama memimpin Kuba. Fidel pernah menjadi Perdana Menteri 1959-1976 dan kemudian menjabat Presiden dari tahun 1976 sampai 2008.

Penganut ideologi Marxis-Leninis itu juga pernah menjabat Sekretaris Pertama Partai Komunis Kuba dari tahun 1961 sampai 2011. Di bawah pemerintahannya, Kuba berkiblat pada paham komunis dan melakukan nasionalisasi industri dan bisnis, serta menerapkan reformasi sosialis.

Fidel sudah terlihat begitu lemah saat tampil di Kongres Partai Komunis Kuba, April lalu. Setelah itu, dirinya tidak lagi hadir menyapa publik. Seakan menjawab kerinduan kepadanya, rakyat Kuba menggelar perhelatan khusus di ulang tahunnya, dengan menampilkan teater anak-anak, musik, dan video yang menceritakan perjalanan hidupnya.

Lelaki yang bernama lengkap Fidel Alejandro Castro Ruz, lahir tanggal 13 Agustus 1926 di Biran itu juga mengajak khalayak mengenang masa kecilnya di perkebunan milik keluarganya di desa bagian timur, Biran, termasuk mengenang sosok sang ayah yang meninggal dunia sebelum revolusi. “Dia menderita,” tulis Fidel. “Anak laki-lakinya, yang kedua dan ketiga, tidak hadir dan jauh (darinya), untuk memenuhi kewajiban mereka dalam revolusioner.”

Ayahnya, Angel Castro Argiz adalah imigran dari Galicia, Spanyol, yang sukses menjadi petani tebu di Las Manacas, Biran, Oriente. Setelah bercerai dengan isteri pertamanya, Argiz menikahi Lina Ruz Gonzalez yang juga berasal dari Spanyol. Dari pernikahan, keduanya dianugerahi tujuh anak, di antaranya Fidel Castrol. Di usia enam tahun, Fidel tinggal dengan gurunya di Santiago, Kuba, sebelum dibaptis di Gereja Katolik Roma di usia delapan tahun.

Lalu, Fidel menulis, Raul harus menggantikannya jika sesuatu terjadi padanya, khususnya bila Amerika Serikat membunuhnya. Dalam surat, Fidel pun menulis, “Aku tertawa tentang rencana Machiavellian dari Presiden AS.” Dia juga mengkritik Presiden AS Barack Obama, kala berpidato pada Mei lalu di Hiroshima, situs bom atom pertama di dunia di akhir Perang Dunia II.

“Dia (Obama) tidak berkata-kata untuk meminta maaf atas pembunuhan ratusan ribu orang (di Hirosima),” tulisnya. Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Sedikitnya 129.000 jiwa tewas akibat pengeboman untuk pertama dan terakhir kalinya dalam sejarah peperangan.

Fidel juga pernah menolak kunjungan Obama sebagai upaya membangun rekonsiliasi dengan Kuba. Dia menganggap Obama begitu manis kepada rakyat Kuba saat berkunjung ke Kuba. Kunjungan itu adalah kali pertama seorang pemimpin AS sejak 88 tahun lalu setelah pecahnya hubungan kedua negara. AS dikenal sebagai musuh bebuyutan Kuba sejak pecahnya Revolusi Kuba tahun 1959. Sejak itu, Kuba dihadapi oleh embargo AS dan memilih bersahabat dengan Rusia.

Di masa kepemimpinanya, Kuba menolak tekanan internasional, termasuk desakan untuk mengubah sistem politiknya. Fidel juga menentang tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Kuba memilih jalur isolasi daripada tunduk terhadap tekanan internasional.

Sikap keras Fidel itu kerap menuai protes. Gaya kepemimpinan Fidel dianggap tidak lagi sejalan dengan perkembangan jaman. Karenanya, Raul Castro pun mengubah gaya kepemimpinan dengan lebih terbuka dan mendorong upaya rekonsiliasi dengan AS.

22 Maret 2016 lalu, Obama bertandang ke Havana, menemui Raul. Kedua pemimpin itu membicarakan rencana kerjasama bilateral. Membaiknya hubungan kedua negara disambut baik investor. Investor AS sudah lama mengincar Kuba yang kaya potensi pariwisata. Namun, investor meragukan keseriusan Pemerintah Kuba melaksanakan komitmen melakukan reformasi ekonomi.

Upaya rujuk memang telah mengarah ke arah yang positif. Itu terlihat dari kebijakan Pemerintah Kuba yang mengizinkan Pemerintah AS membuka kembali Kedutaan Besar di Havaba sejak 20 Juli 2015 lalu.

Obama dan Raul kali pertama bertemu saat menghadiri pemakaman tokoh anti apartheid Afrika Selatan yang menginspirasi dunia, Nelson Mandela, di Stadiun First National Bank (FNB) di Johannesburg, 11 Desember 2013 lalu. Saat menuju podium untuk menyampaikan pidato, Obama menyalami Raul.

Jabat tangan kedua pemimpin itu disaksikan sejumlah pemimpin dunia lainnya yang hadir di acara pemakaman Mandela itu. Pertemuan itu menebar sinyal persahabatan antara Obama dan Raul. Membaiknya hubungan AS-Kuba juga tidak terlepas dari peran Paus Fransiskus. Raul mengakui, Paus Fransiskus menengahi keretakan hubungan Havana dengan Washington.

******

Fidel Castro adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Kuba yang menentang Amerika Serikat dan menjadi sekutu utama Uni Soviet. Hubungan antara Moskow dan Havana memang sempat mengalami gangguan setelah runtuhnya Uni Soviet tahun 1991 yang menyebabkan aliran bantuan keuangan dari Moskow ke Kuba mengering sehingga memukul perekonomian Kuba.

Namun, Rusia tidak serta merta memutuskan hubungan dengan Kuba. Rusia sangat menghormati Fidel Castro. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-90, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut Fidel sebagai teman baik Rusia. “Anda menikmati rasa hormat yang mendalam di Rusia sebagai negarawan yang luar biasa, yang mengabdikan seluruh hidup untuk melayani rakyat Kuba,” tulis Putin dalam telegram yang diposting di website Pemerintah Kremlin.

Putin merasa sulit menggambarkan kontribusi yang telah diberikan Fidel Castro untuk mengembangkan persahabatan dan kerjasama antara Rusia dengan Kuba. “Saya berharap Anda diberikan kesehatan, umur panjang, vitalitas dan kemakmuran.”

Di usia remaja, sambil belajar hukum di Universitas Havana, Fidel terlibat dalam berbagai demonstrasi dan pemberontakan melawan pemerintah sayap kanan. Dia juga merencanakan penggulingan Presiden Kuba, Fulgencio Batista, dan meluncurkan serangan yang gagal di Moncada Barracks pada tahun 1953.

Sikap dan tindakannya yang selalu berlawanan dengan penguasa, menyebabkan Fidel harus sering berhadapan dengan intimidasi dan tindakan represif. Dia juga merasakan pengapnya penjara. Setelah satu tahun dipenjara, Fidel hijrah ke Meksiko, lalu membentuk kelompok revolusioner bersama Raul Castro dan Che Guevara.

Setelah itu, dia kembali ke Kuba dan memainkan peran penting dalam gerakan revolusi. Dia memimpin upaya menumbangkan Batista dengan cara-cara bergerilya. Perlawanan bersenjata itu membuahkan hasil. Tahun 1959, Batista terguling dari kekuasaannya.

Di kala kekuasaan dalam genggamannya, Fidel saat menjabat perdana menteri, membangun kekuatan militer dan mengorganisir dukungan sipil bersenjata. Dia juga intensif membangun aliansi dengan Uni Soviet untuk mengimbangi dominasi AS yang berupaya menancapkan pengaruhnya di Kuba. AS yang alergi dengan komunisme, menghukum Kuba dengan embargo dan mensponsori gerakan kontra-revolusi, termasuk menggerahkan CIA dan orang-orang buangan yang kontra revolusi untuk memburu Fidel Castro. AS berang lantaran Fidel mengusik kepentingannya. Sampai-sampai, Presiden AS, Jhon F Kennedy melancarkan invasi militer di Teluk Babi tahun 1961.

Dengan berkiblat ke Uni Soviet, Fidel mendapatkan pasokan dana dan persenjataan dari negara adidaya yang berseberangan dengan AS itu. Uni Soviet menjadi sekutu Kuba lantaran Fidel menerapkan model sistem politik yang mengkonversikan Marxis-Leninis. Sebagai negara sosialis, Kuba menerapkan sistem satu partai yaitu Partai Komunis. Perencanaan pembangunan disusun dan diterapkan secara terpusat. Namun, Fidel mengoptimalkan program-program sosial seperti di bidang kesehatan dan pendidikan. Dengan begitu, dia mampu mengukuhkan pengaruhnya dalam masyarakat Kuba. Rezim pemerintah juga memberlakukan kontrol terhadap pers dan tidak membenarkan adanya perbedaan pendapat.

Kebijakan politik luar negeri Fidel itu didukung kelompok-kelompok revolusioner anti-imperialis lainnya, seperti Chili dan Nikaragua. Kuba juga mengirim pasukan untuk membantu sekutunya dalam perang di Yom Kippur, perang Ethio Somalia, dan perang Saudara di Angola. Sikapnya yang anti-imprealisme diapresiasi para pemimpin di negara-negara berkembang. Fidel juga mengarahkan Kuba dalam posisi netral, dalam Gerakan Non-Blok (1979-1983).

Setelah Uni Soviet bubar pada tahun 1991, Fidel memimpin Kuba dengan kebijakan anti globalisasi. Dia juga membangun aliansi dengan Presiden Venezuela, Hugo Chavez tahun 2000. Fidel yang kontroversial meraih berbagai penghargaan internasional dan disanjung-sanjung para sekutunya. Namun, bagi para pembenci, Fidel Castro dianggap pemimpin diktator yang melakukan pelanggaran HAM, yang menyebabkan sekitar satu juta warga Kuba eksodus ke negara lain lantaran berseberangan dengannya. Kebijakannya pun dianggap biang kemiskinan dan gagal membangun ekonomi Kuba.

Di tahun 1945, Castro mulai mendalami ilmu hukum di Universitas Havana. Kala itu, ia buta terhadap politik. Naluri politiknya tumbuh sejak bergelut dengan gerakan mahasiswa. Dia menunjukan sikap anti imperialisme dan menentang intervensi AS di Karibia. Dia juga sangat menentang korupsi dan kekerasan yang dilakukan rezim Presiden Ramon Grau San Martin yang didukung Partai Revolusi Kuba.

Di tahun 1947, Fidel resmi terjun ke politik dengan bergabung bersama Partai Rakyat Kuba (Partido Ortodoxo), yang didirikan politisi senior, Eduardo Chibas. Dia menganggumi Chibas, tokoh kharismatik yang gencar menyuarakan keadilan sosial, pemerintahan yang jujur, dan kebebasan dalam berpolitik. Sayang, partai itu terpuruk lantaran korupsi. Meskipun Chibas kalah dalam pemilihan, Fidel Castro tetap berkomitmen dengan Partido Ortodoxo dan menjadi oposisi.

Lantaran getol menyerang Grau, Fidel kerap menerima ancaman akan dibunuh oleh anggota geng yang dibiayai Grau sehingga terpaksa meninggalkan kampusnya. Dia bersama kawan-kawannya pun menggunakan pistol untuk melindungi diri. Dalam beberapa tahun kemudian, mereka yang anti Fidel menuduhnya melakukan pembunuhan terhadap anggota geng, tetapi tuduhan itu tidak terbukti.  Fidel Castro dan rekan-rekannya pun berhasil menghindari upaya penangkapan yang gencar dilakukan militer pendukung Grau.

Saat kembali ke Havana, Fidel kembali turun ke jalan, memimpin demonstrasi mahasiswa yang memprotes pembunuhan seorang murid SMA oleh aparat keamanan. Protes itu disambut tindakan represif oleh aparat. Bentrokan tidak bisa dihindarkan antara aktivis dan polisi pada Februari tahun 1948 itu.  Beberapa orang yang dianggap komunis ditangkap. Kala itu, Fidel Castro mengalami luka parah. Dia dipukuli lantaran berpidato di hadapan khalayak yang mengutuk ketimpangan sosial dan ekonomi di Kuba.

Pada April tahun 1948, Fidel Castro melakukan perjalanan ke Bogota, Kolombia, dengan sejumlah mahasiswa Kuba yang disponsori Presiden Argentina Juan Peron. Namun, kala itu ada pembunuhan pemimpin sayap kiri Jorge Eliecer Gaitan Ayala yang menyebabkan kerusuhan meluas dan bentrokan antara kubu konservatif yang didukung tentara dan liberal kiri. Fidel Castro pun kembali ke Kuba dan tetap memimpin demonstrasi. Dia menentang kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif angkutan transportasi.

Di tahun itu, Fidel pun menikahi Mirta Diaz Balart, seorang mahasiswa dari keluarga kaya yang kemudian memperkenalkannya gaya hidup elit Kuba. Cintanya sempat ditolak kedua orang tuanya. Tetapi, ayah Mirta memberikan puluhan ribu dolar untuk untuk mereka berlibur selama tiga bulan di New York saat bulan madu.

Pada September 1949, Mirta melahirkan seorang putra, Fidelito. Pasangan itu pindah ke Havana. Meski dibayangi ancaman dan intimidasi, Fidel tetap aktif dalam kegiatan politik di Partido Ortodoxo. Dia pun gencar menentang pengaruh geng yang dimanfaatkan polisi. Castro menawarkan diri untuk menyampaikan pidato pada tanggal 13 November, dengan mengekspos rencana rahasia antara pemerintah dengan geng dan mengidentifikasi aktor utamanya.

Pernyataan itu menarik perhatian pers. Pidato itu pun membuat marah pentolan geng. Castro terpaksa melarikan diri dan bersembunyi, lalu terbang ke Amerika Serikat. Dia baru kembali ke Havana beberapa minggu kemudian, dan lebih fokus pada studinya. September 1950, Fidel berhasil lulus dari meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Havana.

Dia lalu mendirikan sebuah lembaga bantuan hukum untuk melayani kebutuhan hukum masyarakat miskin di Kuba. Namun, lembaga itu dihadapi kendala keuangan sehingga tidak lama beroperasi. Fidel pun turut kembali dalam aksi-aksi protes di Cienfuegos pada November 1950, berkelahi dengan polisi saat memprotes larangan Kementerian Pendidikan kepada organisasi kemahasiswaan. Dia ditangkap dan didakwa karena melakukan kekerasan. Namun, hakim menolak tuduhan.

Sebagai pewaris Chibas, Fidel ingin terlibat dalam pemilu Juni 1952, meskipun anggota senior Ortodoxo khawatir lantaran reputasinya yang dikenal radikal sehingga menolak untuk mencalonkan dirinya. Namun, Fidel dinominasikan sebagai calon anggota parlemen untuk kabupaten termiskin di Havana.

Selama kampanyenya, Fidel bertemu dengan Jenderal Fulgencio Batista, mantan presiden yang kembali ke politik dengan Partai Aksi Kesatuan (Unitary Action Party). Maret 1952, Batista merebut kekuasaan dalam kudeta militer dari Carlos Prio yang melarikan diri ke Meksiko. Batista lalu menyatakan dirinya sebagai presiden, membatalkan pemilihan presiden yang sudah direncanakan, dan menerapkan sistem baru yang olehnya disebut Discipline Democracy. Fidel, seperti banyak kalangan menentang Batista, menganggapnya sebagai bentuk kediktatoran.

Namun, Batista berupaya memperkuat dukungan dengan merangkul kalangan kaya dan Amerika Serikat, memutuskan hubungan diplomatik dengan Uni Soviet, menekan serikat buruh, dan menganiaya kelompok sosialis. Fidel pun berpikir mencari alternatif untuk menggulingkan rezim Batista dengan mengalang gerakan bawah tanah.

Dalam aksinya, gerakan itu menerbitkan surat kabar bawah tanah, El Acusador, merekrut, mempersenjatai, dan melatih orang-orang yang anti-Batista. Juli 1952, mereka melakukan rekrutmen, dan mendapatkan sekitar 1.200 anggota dalam satu tahun. Kebanyakan anggotanya berasal dari kabupaten yang miskin.

Castro juga menimbun senjata untuk melancarkan serangan yang direncanakan pada Moncada Barracks, garnisun militer di luar Santiago. Militannya juga  berpakaian seragam tentara dan merebut kendali serta merampok gudang senjata sebelum bala bantuan tiba. Ketersediaan senjata yang mencukupi memicu keinginan Fidel untuk melanjutkan revolusi. Dia makin gencar mengkampanyekan pemberontakan. Cara-cara Fidel itu meniru pejuang kemerdekaan Kuba di abad 19 yang telah menyerbu barak Spanyol. Castro sendiri mengaku pengagum pemimpin pejuan kemerdekaan Kuba, Jose Marti.

Fidel lalu menggelar pertemuan dengan 165 militan revolusioner untuk melancarkan misinya. Dia memerintahkan militan untuk tidak melancarkan serangan yang mengakibatkan pertumpahan darah, kecuali menghadapi perlawanan bersenjata yang dilacnarkan musuhnya.

Sementara Batista memberlakukan darurat militer dan memerintahkan tentara untuk menindak siapa saja yang berbeda pendapat dan memberlakukan sensor terhadap pers. Pemerintah juga menyebar informasi yang salah dan menuding pemberontak komunis sebagai dalang kekerasan.

Dalam beberapa hari, operasi penangkapan pun dilakukan. Beberapa di antara pendukung Fidel dieksekusi mati. Fidel sendiri ditangkap dan dipenjara. Pemerintah juga menuduh keterlibatan sejumlah politisi Ortodoxo dan PSP. Sebanyak 122 orang dijadikan terdakwa, diadili pada 21 September di Pengadilan Santiago. Dalam persidangan yang digelar 16 Oktober 1953 dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Selama di penjara, Fidel tak menghentikan aktivitas politiknya, dia membentuk “Gerakan 26 Juli” (Movimento 26 de Julio) atau dikenal MR-26-7.

Di penjara, dia mendidik para tahanan tentang politik. Dia juga mendalami karya-karya Marx, Lenin, dan Marti, Freud, Kant, Shakespeare, Munthe, Maugham, dan Dostoyevsky. Fidel menganalisis pemikiran mereka itu dalam kerangka Marxis. Dari penjara, Fidel yang tetap mempertahankan kontrol dan mengorganisir gerakan, mempublikasi “History Wili Absolve Me”.

Lantaran memprovokasi tahanan agar menyanyikan lagu anti-Batista saat kunjungan Presiden pada Februari 1954, Fidel diisolasi di sel khusus. Saat masih berada di penjara, Fidel merasa terpukul lantaran istrinya, Mirta bekerja di Kementerian dalam Negeri. Dia mengamuk dan menyatakan lebih baik mati. Fidel dan Mirta pun cerai. Mirta mengambil hak asuh anak mereka, Fidelito. Castro benar-benar marah, tidak ingin anaknya tumbuh di lingkungan borjuis.

Pada tahun 1954, Batista menggelar pemilihan presiden. Namun, tidak ada politisi yang diberikan kesempatan untuk bertarung dengannya. Pemilu yang digelar itu pun menuai penentangan, dianggap sekadar tipu-tipu yang dilakukan Batista. Kala itu, beberapa oposisi politik menyuarakan dan mendukung Fidel sebagai calon presiden. Mereka mendesak Batista untuk memberikan amnesti kepada Fidel. Kongres dan Batista akhir setuju. Didukung AS dan sejumlah perusahaan besar, Batista diyakini jika Castro tidak akan menjadi ancaman. Dan, pada tanggal 15 Mei 1955, para tahanan pun dibebaskan. Fidel lalu ke Havana, melayani wawancara radio dan konferensi pers. Dia berpendapat, revolusi yang sukses memerlukan seorang pemimpin yang kuat.

Pada tahun 1955, terjadi pengeboman dan demonstrasi yang menyebabkan terjadi kekerasan. Hal itu yang menyebabkan rezim Batista memberlakukan tindakan keras terhadap segala perbedaan pendapat. Fidel dan Raul melarikan diri untuk menghindari penangkapan. Fidel lalu mengirim surat kepada pers, menyatakan, dirinya meninggalkan Kuba karena semua pintu damai tertutup. “Sebagai pengikut Marti, saya percaya telah tiba saatnya untuk mengambil hak-hak kami dan tidak mengemis untuk mereka, untuk melawan, bukannya memohon kepada mereka,” tulisnya. Fidel dan Raul, bersama beberapa rekannya juga melakukan perjalanan ke Meksiko. Di negara itu, Raul berteman dengan seorang dokter asal Argentina dan pengagum Marxis-Leninis bernama Ernesto “Che” Guevara.

Fidel menyukai Che. Dia menggambarkan Che sebagai seorang revolusioner yang lebih maju daripadanya. Fidel juga membangun hubungan dengan Alberto Bayo, dari Spanyol, yang setuju untuk mengajar para pemberontak memiliki keterampilan bersenjata. Sementara terkait dengan dana, Fidel melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk mencari simpatisan kaya, yang dipantau oleh agen Batista.

Di perantauan, Fidel terus melakukan kontak dengan MR-26-7 di Kuba, di mana mereka telah memperoleh dukungan besar di Oriente. Militan kelompok anti-Batista lain pun bermunculan, terutama dari gerakan mahasiswa, yang paling terkenal adalah Directorio Revolucionario Estudiantil (DRE), yang didirikan oleh Jose Antonio Echevarria. Mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Havana itu pun tewas ditembak aparat saat menggelar demonstrasi menentang Batista.

2 Desember 1956, Fidel Castro dan pasukannya menuju hutan dan pegunungan di Oriente Sierra Maestra, yang sering kali diserang pasukan Batista. Setelah tiba, Fidel menemukan hanya 19 pemberontak yang berhasil selamat dari serangan pasukan Batista. Lalu, mereka membangun camp. Fidel, Che Guevara, dan Camilo Cienfuegos, kemudian melancarkan serangan ke pos-pos militer kecil untuk mendapatkan persenjataan. Dan, pada Januari 1957, mereka menyerbu pos militer di La Plata. Mereka juga mengeksekusi Chicho Osorio, walikota, yang dibenci para petani lokal. Para pemberontak pun memperoleh kepercayaan dari penduduk setempat, meskipun sebagian di antara mereka menaruh curiga.

Namun, kepercayaan yang terus tumbuh menyebabkan beberapa warga bergabung dengan pemberontak sehinga makin memperkuat gerakan yang dipimpin Fidel. Karena jumlah relawan makin bertambah, Fidel lalu membagi pasukannya menjadi tiga kelompok, yang dipimpin dirinya, Raul dan Che Guevara. Sementara MR-26-7, yang beroperasi di perkotaan terus melakukan agitasi dan mengirim pasokan logistik ke pasukan Fidel yang melakukan gerilya.

Di Kuba, kelompok anti-Batista melakukan pengeboman dan sabotase. Polisi merespons dengan melakukan penangkapan secara massal, melakukan penyiksaan, dan eksekusi di luar hukum. Pada Maret 1957, militan anti-Batista melancarkan serangan ke istana presiden, namun gagal. Antonio ditembak mati. Frank Pais juga tewas. Lalu, Fidel bertemu dengan anggota terkemuka dari Partido Ortodoxo, Raul Chibas dan Felipe Pazos, di mana mereka menuntut pemerintahan sipil sementara dibentuk sebelum Pemilu multipartai digelar. Fidel pun dihubungi media asing untuk menyebarkan pesannya. Dia menjadi selebriti setelah diwawancarai oleh Herbert Matthews, jurnalis New York Times, dan wartawan media asing lainnya.

Gerilyawan Fidel terus meningkatkan serangan ke pos-pos militer, memaksa pemerintah untuk menarik diri dari wilayah Sierra Maestra. Dan, pada musim semi tahun 1958, para pemberontak menguasai rumah sakit, sekolah, percetakan, pabrik ranjau darat dan pabrik pembuatan cerutu. Batista semakin berada di bawah tekanan akibat kegagalan militer menghadapi pemberontak, ditambah dengan meningkatnya kecaman di dalam dan luar negeri terhadap tindakan represif yang dilakukannya. Dipengaruhi oleh sentimen anti-Batista, Pemerintah AS pun menghentikan pasokan senjata. Sementara oposisi lantang menyerukan pemogokan umum, disertai dengan serangan bersenjata.

Batista merespons habis-habisan-serangan lewat Operasi Verano, dengan membombardir kawasan hutan dan desa-desa yang diduga menjadi basis kelompok militan. Sekitar 10.000 tentara diperintahkan oleh Jenderal Eulogio Cantillo mengepung Sierra Maestra, menyisir kawasan utara hingga camp para pemberontak.

Meskipun unggul dari sisi jumlah pasukan dan teknologi persenjataan, namun pasukan Batista tidak memiliki pengalaman dalam perang gerilya. Kelemahan itu yang dimanfaatkan pasukan Fidel untuk menghalau serangan tentara dengan menebar ranjau darat dan melakukan penyergapan. Banyak tentara Batista menyerah, dan akhirnya membelot ke pemberontak, yang juga mendapatkan dukungan dukungan dari warga setempat. Di musim panas, MR-26-7 melanjutkan serangan, mendorong tentara keluar dari pegunungan. Pasukan Fidel juga menguasai sebagian besar Oriente dan Las Villas, lalu menutup jalan-jalan utama dan jalur kereta api, yang sangat merugikan Batista.

Lantaran khawatir ideologi sosialis yang kuat dianut Fidel, AS menginstruksikan Eulogio Cantillo Porras untuk menggulingkan Batista. Cantillo memimpin serangan yang berlangsung pada musim panas 1958 dengan nama Operasi Verano, yang bertujuan menghancurkan gerilyawan Fidel yang telah menyebabkan beberapa kerugian militer. Cantillo rupanya diam-diam menyetujui gencatan senjata dengan Fidel, dan menjanjikan Batista akan diadili sebagai penjahat perang. Namun, Batista melarikan diri ke pengasingan dengan lebih membawa uang sebsar US300 juta pada tanggal 31 Desember 1958. 2 Januari 1959, Fidel memasuki Santiago dan memberikan pidato menyerukan perang kemerdekaan. Kedatangannya di Havana disambut sorak-sorai kerumunan warga di setiap kota.

Dan, atas perintah Fidel, politisi moderat, Manuel Urrutia Lleo, ditunjuk sebagai presiden sementara. Sementara Fidel menyatakan dirinya Perwakilan Angkatan Bersenjata. Di Havana, dia mendirikan rumah dan kantor. Fidel menancapkan pengaruhnya dengan mengendalikan rezim Urrutia, yang memerintah atas dekritnya. Dia memastikan pemerintah menerapkan kebijakan untuk memangkas korupsi, melawan buta huruf dan menghapus Batistanos. Dia kemudian mendorong Urrutia untuk mengeluarkan larangan sementara kepada partai politik, dan berulang kali menjanjikan akan mengadakan pemilihan umum multipartai. Meskipun menyangkal sebagai seorang komunis, Fidel sembunyi-sembunyi bertemu anggota Partai Populer Sosialis untuk membahas pembentukan sebuah negara sosialis.

******

Dalam upayanya membangun Kuba, Fidel melakukan perjalanan ke Venezuela, di mana ia bertemu dengan Presiden terpilih Romulo Betancourt. Namun, tidak mendapatkan pinjaman karena baru memulai penggarapan proyek minyak di Venezuela. Sementara di dalam negeri, Fidel marah lantaran pemerintah membiarkan ribuan pengangguran setelah menutup kasino dan pelacuran. Akibatnya, Perdana Menteri Jose Miro Cardona mengundurkan diri, pergi ke pengasingan di AS dan bergabung dengan gerakan anti Fidel Castro.

16 Februari 1959, Fidel dilantik sebagai Perdana Menteri Kuba. Ia mengunjungi AS dan bertemu dengan Wakil Presiden AS, Richard Nixon. Pertemuan itu tidak memberikan kesan positif bagi Fidel Castro. Dia tidak menyukai Nixon. Lalu, Fidel bertandang ke Kanada, Trinidad , Brasil, Uruguay, dan Argentina. Dia juga menghadiri konferensi ekonomi di Buenos Aires, dan berhasil mengusulkan pinjaman dana sebesar US$30 miliar yang didanai dari  “Marshall Plan” untuk Amerika Latin.

Pada Mei 1959, Fidel menandatangani Undang-Undang Reformasi Agraria, mengatur kepemilikan tanah, dan melarang orang asing memiliki tanah di Kuba. Sekitar 200 ribu petani menerima kepemilikan tanah. Fidel juga ditunjuk sebagai presiden National Tourist Industry, namun gagal dalam mendorong wisatawan asal Afrika dan Amerika Latin untuk mengunjungi Kuba. Pemerintah mengkampanyekan Kuba sebagai surga tropis yang bebas dari diskriminasi ras. Pemerintah juga memangkas gaji pejabat dan menaikan gaji pegawai negeri sipil tingkat rendah.

Meskipun menolak dianggap sebagai rezim sosialis dan penganut paham komunis, Fidel menunjuk beberapa pemimpin senior Marxis untuk duduk di pemerintahan. Che Guevara dipercaya menjadi Gubernur Bank Sentral dan Menteri Perindustrian. Penunjukan itu membuat Komandan Angkatan Udara, Pedro Luis Díaz Lanz membelot ke AS. Meskipun Presiden Urrutia mengecam pembelotan, ia prihatin dengan meningkatnya pengaruh Marxisme. Fidel pun Marah, lalu mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri, menyalahkan Urrutia untuk mempersulit pemerintah lantaran “demam anti komunisme”.

Lebih dari 500 pendukung Fidel lalu mengepung Istana Kepresidenan, mendesak Urrutia mundur dari kursi Presiden. Pada tanggal 23 Juli, Fidel menunjuk pemimpin Partai Komunis Kuba, Osvaldo Dorticos sebagai Presiden. Di bawah kepemimpinannya, pemerintah menekankan realisasi proyek-proyek sosial dengan tujuan meningkatkan standar kehidupan orang-orang Kuba dan mengabaikan pembangunan ekonomi. Kebijakan lebih diarahkan pada pendidikan.

Sistem pendidikan dasar Kuba menawarkan program kerja sekaligus belajar kepada warga. Setengah dari waktunya dihabiskan di dalam kelas, dan setengah lainnya dalam kegiatan produktif. Pemerintah juga memfokuskan pada sektor kesehatan, dengan memperluas jangkauan pelayanan kesehatan ke desa-desa, membuka poliklinik di perkotaan, dan menawarkan bantuan kesehatan secara gratis. Vaksinasi juga diberikan kepada anak-anak yang menyebabkan kematian bayi berkurang drastis.

Pemerintah juga berorientasi pada program pembangunan  infrastruktur. Dalam enam bulan pertama pemerintahan Fidel Castro, telah membangun jalan sepanjang 600 mil, sementara US$ 300 juta dihabiskan untuk proyek infrastruktur sanitasi dan air bersih. Lalu, lebih dari 800 rumah dibangun setiap bulan di awal pemerintahan dalam upaya memangkas tunawisma.

Fidel juga memanfaatkan radio dan televisi untuk mengembangkan dialog dengan rakyat, mengajukan pertanyaan dan membuat pernyataan yang provokatif. Rezimnya tetap populer dan memiliki basis kuat di lingkungan pekerja, petani, dan mahasiswa. Sementara oposisi lebih banyak didukung kelas menengah, yang banyak berimigrasi ke Florida di AS. Setelah pers konservatif menyatakan permusuhan terhadap pemerintah, para pendukung Fidel pada Januari 1960, memerintahkan para pendukungnya untuk menerbitkan media pemerintah.

Pemerintah Fidel menangkap ratusan kontra revolusi, banyak di antara mereka yang di penjara, mendapatkan perlakuan kasar, dan ancaman. Militan kelompok anti Fidel Castro, yang didanai oleh orang-orang buangan, Central Intelligence Agency (CIA), dan Pemerintah Dominika, melakukan serangan bersenjata serangan dan mendirikan basis gerilya di pegunungan Kuba.

Pada tahun 1960, ketika Perang Dingin berkecamuk antara dua negara adidaya: Amerika Serikat dengan demokrasi liberal dan kapitalis, dan Uni Soviet (USSR), yang mengadopsi sosialis Marxis-Leninis yang diperintah oleh Partai Komunis, Fidel Castro mengekspresikan kebenciannya kepada AS. Dia berbagi pandangan ideologi yang berkiblat ke Uni Soviet dan membangun hubungan dengan beberapa negara penganut Marxis-Leninis. Saat bertemu dengan Deputi Pertama Premier Uni Soviet, Anastas Mikoyan, Fidel setuju untuk memberikan Uni Soviet gula, buah, serat, dan kulit, sebagai imbalan untuk suplai minyak mentah, pupuk, barang-barang industri, dan pinjaman US$100 juta.

Pemerintah Kuba memerintahkan kilang-kilang di negara itu yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan AS, Shell, Esso dan Standard Oil, untuk memproses minyak mentah dari Uni Soviet. Tetapi, dibawah tekanan Pemerintah AS, mereka menolak. Fidel menanggapi dengan melakukan nasionalisasi. AS pun membalasnya dengan membatalkan impor gula dari Kuba, yang semakin memprovokasi Fidel untuk menasionalisasi aset AS di Kuba, termasuk bank dan pabrik gula.

Pada tanggal 13 Oktober 1960, AS melarang sebagian besar ekspor ke Kuba dan menerapkan embargo ekonomi. Tindakan AS itu dibalas dengan mengambil alih 166 perusahaan AS yang beroperasi di Kuba pada pada 25 Oktober 1960.

Fidel mengkhawatirkan kudeta yang didukung AS. Dia pun menciptakan milisi sipil yang dipersenjatai untuk menghadapi elemen kontra-revolusioner di tubuh tentara dan pemerintah. Sebanyak 50.000 warga sipil dilatih perang. Pada September 1960, mereka menciptakan Komite Pertahanan untuk Revolusi (CDR), sebuah organisasi sipil nasional yang tugasnya memata-matai kegiatan kontra-revolusioner, sekaligus menjadi saluran pengaduan masyarakat.

Lalu, dia memerintahkan Duta Besar Havana untuk AS memberhentikan 300 staf lantaran curiga menjadi mata-mata. AS menanggapi dengan mengakhiri hubungan diplomatik, dan meningkatkan pendanaan CIA untuk membantu para pembangkang di pengasingan guna melancarkan penyerangan. AS juga melancarkan invasi Teluk Babi pada April 1961. CIA mengebom tiga lapangan udara militer Kuba.  Khawatir dengan invasi, Fidel memerintahkan penangkapan sekitar 20 ribu hingga 100 ribu orang yang diduga pendukung kontra-revolusioner.

Tentara CIA dan pasukan Demokrat Front Revolusioner, yang berjumlah sekitar 1.400 orang yang tergabung dalam Brigade 2506, pada malam hari tanggal 16-17 April, mendarat di sepanjang Teluk Babi, Kuba, dan terlibat dalam baku tembak dengan milisi revolusioner setempat.

Fidel lalu memerintahkan Kapten Jose Ramon Fernandez untuk meluncurkan serangan balik, sebelum dirinya memimpin langsung serangan balasan. Fidel memaksa Brigade 2506 menyerah pada 20 April, dan memerintahkan 1.189 pemberontak ditangkap untuk diinterogasi. Mereka lalu diadili untuk kejahatan yang diduga direncanakan sebelum revolusi.

AS-Kuba sebelumnya bersekutu. AS pernah membantu Kuba dalam perang menghadapi Spanyol. Dalam peperangan Cuban-American-Spain, AS membantu Kuba dalam mencapai kemerdekaan dari penjajahan Spanyol, dengan mengirim puluhan ribu tentara ke Kuba. Spanyol sebelumnya menentang intervensi AS di negara-negara koloninya. Sampai-sampai, 25 April-12 Agustus 1898, AS-Spanyol terlibat peperangan.

Militer AS berhasil memukul mundur militer Spanyol dari kawasan Karibia dan Pasifik Selatan. Setelah itu, Pemerintah AS mendirikan pemerintahan sementara di Kuba. AS juga menancapkan kekuasaannya di negara-negara koloni Spanyol di Puerto Riko, Guam, dan Filipina melalui Traktat Paris, 10 Desember 1898. Saat itu, warga AS bebas keluar masuk ke Kuba. Jaminan dari Pemerintah AS memancing investor AS berbondong-bondong berinvestasi di Kuba dan beberapa negara di kawasan Amerika Latin.

Namun, hubungan AS-Kuba bergolak tatkala AS mengingkari janjinya. Sebelum meletusnya peperangan dengan Spanyol di daratan Kuba, 19 April 1898, AS-Kuba menyepakati perjanjian Teller Amandment yang isinya antara lain, AS tidak akan mengontrol secara penuh Kuba dan akan menarik seluruh pasukannya setelah menaklukan Spanyol.

Namun, setelah Spanyol angkat kaki dari Kuba, AS justru menghapus Amandemen Teller dan menggantinya dengan Platt Amandment. Dengan mengacu pada Platt Amandement, AS makin mengukuhkan kepentingannya di Kuba, menguasai perekonomian dan memberi tanah kepada militer AS di beberapa pulau di Kuba, termasuk di Teluk Guantanamo yang dijadikan pangkalan Angkatan Laut AS dan tempat mengangkut batu bara. Pengingkaran itu yang memancing kebencian rakyat Kuba terhadap AS. Apalagi, tak sedikit, tanah rakyat yang dirampas untuk kepentingan investor AS. Hal ini yang kemudian membangkitkan perlawanan rakyat lewat Revolusi Kuba yang dipimpin Fidel.

Kemenangan Fidel menjadi simbol kekuatan Amerika Latin, tetapi meningkatkan oposisi di internal, khususnya di kalangan kelas menengah Kuba yang ditahan. Meskipun sebagian besar dibebaskan, banyak di antara mereka yang melarikan diri ke AS.

Pada tahun 1970, sepertiga dari populasi terlibat dalam CDR. Fidel Castro menyatakan, Kuba bisa berkumpul dalam demonstrasi untuk mengekspresikan kehendak demokratisnya. Ia menolak penyelenggaraan pemilu karena mengangap sistem demokrasi perwakilan melayani kepentingan elit sosial dan ekonomi.

Fidel lalu memperkuat konsolidasi “Sosialis Kuba”, dengan mempersatukan MR-26-7, Partai Sosialis Populer, dan Direktorat Revolusioner, menjadi partai yang memerintah berdasarkan prinsip Leninis, sentralisme demokratis, yang terintegrasi dalam Organizaciones Revolucionarias Integradas (ORI), berganti nama menjadi Partai Serikat Revolusi Sosialis Kuba (PURSC) pada tahun 1962. Meskipun Uni Soviet masih ragu-ragu dengan sosialisme Fidel Castro, hubungan dengan Soviet makin diperdalam. Fidel pun dianugerahi Penghargaan Perdamaian Lenin. Pada Desember tahun 1961, Castro mengaku sudah menjadi Marxis-Leninis selama bertahun-tahun, dan menyerukan Amerika Latin agar bangkit dalam revolusi. Fidel pun menerima pujian dari China.

*****

Sejak dipimpin Raul Costra tahun 2008, Kuba mulai berubah. Negara itu cenderung membuka diri setelah sekian lama memilih isolasi. Kuba juga tak lagi menjaga jarak dengan Uni Eropa (UE) dan AS.

11 Maret 2016 lalu, UE dan Kuba sepakat memulihkan hubungan yang sejak tahun 2003 terputus. Kesepakatan yang ditandatangani di Havana itu membuka jalan bagi negara-negara anggota UE untuk meningkatkan kerjasama di berbagai bidang dengan negara penghasil cerutu terbaik di dunia itu.

Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Federica Mogherini menyebut kesepakatan baru itu sebagai sesuatu yang bersejarah. UE bersedia kerjasama asalkan Kuba mengubah sistem politik satu partai menjadi lebih demokratis, melakukan reformasi ekonomi, dan membuka kerjasama perdagangan. Mogherini juga mendukung pencabutan embargo yang diterapkan AS terhadap Kuba. Di tahun 2003, UE membekukan hubungan dengan Kuba lantaran rezim komunis mengekang kebebasan pers dan hak asasi masyarakat sipil. Namun, tidak semua negara-negara Eropa memutus hubungan dengan Kuba. Spanyol misalnya, tetap membangun hubungan ekonomi yang erat dengan Kuba.

UE dan Kuba telah memulai pembicaraan untuk memulihkan hubungan sejak April 2014 lalu, sebelum Presiden AS, Barack Obama dan Presiden Kuba, Raul Castro mengumumkan pemulihan hubungan AS-Kuba pada Desember di tahun yang sama.

Kuba juga makin akrab dengan AS. Di bawah kepemimpinan Raul, Kuba berupaya memulihkan hubungan diplomatik yang terputus dengan AS. Pertemuan Raul dengan Obama juga menjadi ikhtiar mengatasi hambatan yang menghadang untuk menuju tahap baru.

Upaya rujuk memang telah mengarah ke arah yang positif. Itu terlihat dari kebijakan Pemerintah Kuba yang mengizinkan Pemerintah AS membuka kembali Kedutaan Besar di negaranya sejak tanggal 20 Juli 2015 lalu. 12 April 2015, Obama dan Raul Cotra meneguhkan komitmennya untuk memulihkan keretakan hubungan diplomatik.

Obama menyebut momen itu sangat bersejarah.  Namun, beberapa anggota Kongres AS, khususnya dari Partai Republik, menentang upaya Obama itu lantaran Kuba dianggap tidak serius dalam menegakkan HAM. Kuba juga masih dianggap AS sebagai negara yang mensponsori terorisme. Namun, AS memiliki kepentingan keamanan, khususnya terkait pangkalan Angkatan Laut AS di Kuba, Guantanamo Bay, yang pernah digunakan sejak tahun 1903.

M. Yamin Panca Setia

Sumber : Reuters/The Guardian/CNN/Berbagai Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s