Sindiran Michelle Obama Untuk Trump

PIDATO di panggung Konvensi Nasional Partai Demokrat di Philadelphia, Amerika Serikat (AS), Senin (25/7), mengingatkan Michele Obama saat membantu suaminya, Barack Obama dalam kampanye Pemilihan Presiden AS tahun 2008 dan 2012 lalu.

“Sulit untuk percaya, jika telah delapan tahun, sejak saya pertama kali datang ke konvensi untuk berbicara dengan anda menjelaskan alasan suami saya harus menjadi presiden,” katanya mengawali pidato.

“Ingat, bagaimana saya katakan tentang karakter, keyakinan, kesopanan (Obama). Ciri-ciri itu telah kita lihat setiap hari karena dia (Obama) telah melayani negara kita (selama bertugas sebagai Presiden AS) di Gedung Putih,” ujarnya.

Setelah sukses mengantarkan suaminya menjadi Presiden AS untuk dua periode (2008-2012 dan 2012-2016), kali ini, Michelle berpidato untuk mendukung Hillary Clinton, calon presiden yang diusung Partai Demokrat. Pidato di Philadelphia itu juga mengisyaratkan bila Michelle ingin terlibat langsung dalam drama politik Pemilihan Presiden 2016.

Pidato Michelle menyelipkan pesan yang seakan mengkritik lawan politik Hillary yang diusung Partai Republik, Donald Trump—meski dalam pidatonya, Michelle tidak menyebut nama Trump. Dia juga seakan membalas serangan Trump yang kerap menilai pemerintahan Obama lemah.

“Jangan biarkan ada yang mengatakan bahwa negara ini tidak besar,” seru Michelle, yang disambut aplaus oleh warga yang sesak memadati arena olahraga di Philadelphia yang dijadikan tempat kampanye itu.

Michelle membela pemerintahan Obama yang telah mempertahankan eksistensi AS sebagai negara adidaya. “Entah bagaimana lagi kami membuatnya (AS) lebih besar lagi. Karena sekarang ini, AS adalah negara terbesar di dunia,” katanya.

Trump sebelumnya menuding Pemerintahan Obama sangat lemah dalam melawan terorisme. Pernyataan itu disampaikan Trump setelah terjadinya serangan bersenjata di Pulse Club, Orlando, Florida, yang menewaskan 50 orang pada 12 Maret 2016 lalu.

Politisi berlatar belakang pengusaha properti itu pun mengklaim serangan yang menghujam klub yang biasa diramaikan kaum gay itu, sudah diramalkannya. “Apa yang terjadi di Orlando baru permulaan,” tulisnya lewat akun twitter seraya menuding kepemimpinan Obama sangat lemah dalam memerangi terorisme. Tak hanya, Trump menuding Obama memiliki agenda rahasia lantaran sebelumnya melarang dirinya mengaitkan terorisme dengan Islam.

Pidato Michelle juga menentang pernyataan kebencian. Bagi Michelle, pernyataan bernada kebencian itu tidak mewakili semangat AS. Di atas panggung, Michelle juga bercerita pengalamanya saat Obama resmi menjadi Presiden, mengalahkan saingan terkuatnya dari Republik, John McCain di Pemilihan Presiden 2008 lalu. Michelle mengisahkan pengalamannya mengajarkan dua anak perempuannya, Malia and Sasha, yang kala itu berusia tujuh dan 10 tahun, untuk bersikap dan berperilaku yang berbeda dari sebelumnya, saat ayahnya belum menjadi presiden.

Michelle sadar betul kehidupan keluarganya akan senantiasa menjadi sorotan publik. Dia selalu mengingatkan anak-anaknya untuk mengabaikan pernyataan dari pihak lain yang mempersoalkan kewarganegaraan dan agama ayahnya. Anak-anaknya pun diajarkan agar bijak menyikapi pernyataan bernada kebencian.

Michelle dan Obama pernah diterpa isu yang berbau rasis. Di kala kampanye Pilpres 2008, lawan-lawan politik Obama melancarkan kampanye hitam (black campaign) dengan memperkarakan latar belakang keluarga, status kewarganegaraan, dan agama Obama. Kala itu, sebagian rakyat AS nampaknya belum siap menerima kehadiran seorang presiden dari kulit hitam, yang dianggap sebagai kelas kedua.

Michelle pun pernah diserang ketika pernah menyebut kata whitey, yang mengarah pada pencemoohan warga kulit putih. Rumor liar langsung berkembang. Michelle dituding pernah melontarkan kata itu saat berpidato di Chicago’s Trinity United Church of Christ tahun 2008 lalu. Ucapan itu juga ditayang di sejumlah blog di kubu Republik dan dijadikan bancakan media. Kubu Demokrat pun langsung bereaksi dan menyebut tuduhan tersebut sebagai manuver untuk menjatuhkan Obama jelang pemilihan presiden.

Sentimen agama juga menyerang Obama jelang Pemilihan Presiden 2012. Hasil jajak pendapat yang mengulas agama Obama dirilis Pew Research Center’s Forum on Religion & Public Life. Hasil riset menunjukan, hampir separuh rakyat AS tidak mengetahui agama Obama. Lalu, ada 17 persen menyebut Obama beragama Islam. Kemudian, 49 persen responden menyebut Obama beragama Kristen. Hasil riset itu memicu perdebatan di AS. Bagi lawan politik Obama, isu itu dijadikan senjata untuk menjatuhkan elektabilitas Obama. Mereka menyerang dengan mengulas sentimen Islam pasca serangan teroris 11 September 2001 silam.

Pernyataan Michelle, meski terkesan menempatkan dirinya sebagai orang tua yang menjadi panutan bagi anak-anaknya, namun mengandung kritik ke arah Trump, yang dikenal kerap menebar kebencian. Trump pernah menuai kecaman lantaran menyatakan semua muslim, baik itu imigran, mahasiswa, maupun wisatawan, dilarang memasuki AS.

Pernyataan itu dilontarkan Trump setelah terjadi insiden penembakan di San Bernardino oleh dua orang radikal muslim yang menewaskan 14 orang. Pernyataan kebencian itu menuai kecaman dari sejumlah pemimpin dunia.

Petinju legendaris Muhammad Ali, bergabung dengan kelompok masyarakat yang mengutuk pernyataan Trump yang bernada rasis itu. Ali, warga AS yang menganut Islam dan wafat 4 Juni 2016 itu juga mengecam aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Ali memperingatkan para pemimpin politik di AS untuk lebih memahami Islam dan menjelaskan jika pembunuhan itu menyesatkan. Perdana Menteri Prancis Manuel Valls juga menilai pernyataan Trump bernada kebencian.

Kemarahan juga pernah dilampiaskan masyarakat Meksiko dengan membakar patung Trump kala menggelar ritual Paskah, akhir Maret lalu. Kemarahan itu buntut dari pernyataan Trump yang saat kampanye menuding Meksiko mengirim para bandit dan pemerkosa ke AS sehingga harus dibangun tembok besar yang membatasi AS-Meksiko.

Sosok patung Trump yang dibakar itu menjadi simbol “mengusir iblis” dan sosok manusia yang tidak disukai. Dalam tradisi masyarakat Meksiko, patung-patung yang dibakar menjadi simbol Yudas Iskariot, yang menghianati Yesus Kristus.

Pemimpin umat Katolik dunia, Paus Fransiskus juga pernah mengecam Trump lantaran ingin membangun tembok pembatas. Paus lalu meragukan keimanan Trump sebagai penganut Kristen. “Seseorang yang hanya berpikir membangun tembok, tidak membangun jembatan, bukan seorang Kristen,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Michelle juga menyatakan pemilihan presiden tidak sekadar Demokrat maupun Republik. Namun, kata dia, hal yang paling penting adalah tentang keyakinan terhadap sosok yang mendapatkan mandat kekuasaan untuk memastikan masa depan anak-anak.

“Pemilu ini bukanlah soal Demokrat atau Republik, ini soal siapa yang kita beri kepercayaan memegang kekuasaan untuk memberi pengaruh kepada anak-anak kita empat tahun hingga delapan tahun mendatang,” kata Michelle.

Michelle memang sangat perhatian dengan anak-anak. Dia pernah menggalang kampanye untuk memerangi obesitas di kalangan anak-anak. Dia juga menggagas kampanye “Let’s Move!” tahun 2010 untuk mengajak seluruh komponen masyarakat AS untuk memperhatikan kesehatan anak-anak dengan menyediakan makanan yang sehat dan terjangkau. Dia memotivasi warga AS agar mengonsumsi makanan organik. Pada Maret 2009, Michelle bersama sejumlah murid SD mengkampanyekan penanaman tanaman sayur organik dan membuat sarang lebah di taman Gedung Putih. Di kala musim semi, anak-anak diajak memanen sayuran organik dan belajar memasak di dapur Gedung Putih. Michelle juga aktif mengajak remaja untuk meningkatkan prestasi dan mencintai negaranya.

Dalam kesempatan itu, Michelle berupaya menyakinkan jika sosok yang dapat dipercaya memimpin AS adalah Hillary. “Dalam pemilihan ini, hanya ada satu orang yang saya percaya, hanya satu orang yang benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi presiden. Dan, dia adalah teman kita, Hillary Clinton,” katanya disambut tepuk tangan.

Michelle percaya kepemimpinan Hillary karena memahami masalah dan tugas-tugas presiden. Hillary juga pernah menjadi ibu negara saat suaminya, Bill Clinton menjabat Presiden AS.

Michelle mengenal Hillary sebagai sosok yang bangga melayani kepentingan rakyat saat dipercaya sebagai sekretaris negara. Michelle juga mengagumi Hillary sebagai sosok yang tidak takut menghadapi tekanan. “Saya ingin presiden dengan catatan (berpengalaman) dalam pelayanan publik. Seseorang yang bekerja untuk anak-anak kita, tidak mengejar ketenaran dan kekayaan untuk diri sendiri. Kita berjuang untuk memberikan semua orang kesempatan agar berhasil.”

Michelle juga mengapresiasi kenegarawanan Hillary ketika tidak memenangkan nominasi sebagai calon presiden dari Demokrat empat tahun lalu. Usai dikalahkan Obama dalam konvensi Demokrat, menurut Michelle, Hillary tidak marah dan kecewa. “Hillary tidak berkemas, pulang ke rumahnya karena tahu ini jauh lebih penting.”

Michelle lalu meminta Obama untuk lebih gencar mengkampanyekan Hillary. Dia meminta Obama untuk “mengetuk setiap pintu” guna memastikan warga AS memilih Hillary sebagai Presiden AS berikutnya. “Mari kita mulai bekerja (memenangkan Hillary).”

Dia juga mendesak kader Demokrat untuk bekerja keras agar mengalahkan Partai Republik pada Pemilihan Presiden, November mendatang. “Dengarkan saya,” seru Michelle. “Antara sekarang dan November yang perlu kita lakukan adalah apa yang kita lakukan delapan tahun yang lalu dan empat tahun lalu. Kita perlu mengetuk setiap pintu, kita perlu keluar menemui setiap orang (pemilih) untuk memastikan Hillary Clinton adalah presiden.”

Senator Bernie Sanders menilai, pidato Michelle membuat warga AS bangga. “Dia telah membuat kita semua bangga,” tulis Sanders di akun twitternya. Mantan Gubernur Pennsylvania, Ed Rendell, yang juga ketua Komite Konvensi menyebutnya sebagai “Pidato terbaik.” Obama menyatakan, “Pidato yang luar biasa dari seorang wanita yang luar biasa.”

Garry Mauro, kepala delegasi Clinton untuk wilayah Texas menyebut pidato Michelle sangat memukau. Beberapa pengguna twitter juga mengaguminya. “Michelle mendekonstruksikan kampanye Trump, tanpa menggunakan kata-kata yang merendahkan,” tulis seorang pengguna twitter. Michelle pun menjadi sosok yang paling dicari para pengguna internet di mesin pencari informasi, Google.

Michelle Obama bernama lengkap Michelle LaVaughn Robinson Obama. Dia lahir di Illinois, Chicago, tanggal 17 Januari 1964. Sebelum menjadi ibu negara, dia merupakan pengacara dan penulis. Dia menikah dengan Presiden AS ke-44, Barack Obama dan menjadi wanita pertama berdarah Afrika-Amerika yang menjadi ibu negara.

Michelle yang dibesarkan di Chicago merupakan lulusan Universitas Princeton dan Harvard Law School. Michelle mengawali karirnya di bidang hukum dengan bekerja di firma hukum Sidley & Austin. Di sanalah, dia bertemu Obama. Keduanya menikah pada 3 Oktober 1992. Di perusahaan itu, dia bekerja di bidang pemasaran dan hak kekayaan intelektual.

Pada tahun 1991, Michelle sempat memegang jabatan publik di Pemerintahan Kota Chicago sebagai Asisten Walikota dan Asisten Perencanaan dan Pembangunan. Lalu, di tahun 1993, dia menjadi Direktur Eksekutif Chicago Public Allies, sebuah organisasi non profit yang mengkampanyekan isu-isu sosial, khususnya terkait hak anak-anak. Dia bekerja di sana hampir empat tahun.

Pada tahun 1996, Michele menjabat Dekan Associate Pelayanan Mahasiswa di Universitas Chicago, di mana dia mengembangkan Universitas Community Service Center. Lalu, di tahun tahun 2002, ia bekerja untuk rumah sakit Universitas Chicago dan menjabat direktur eksekutif untuk urusan masyarakat. Pada Mei 2005, Michelle menjabat Wakil Presiden untuk Urusan Masyarakat dan Eksternal. Dia masih memegang jabatan di kampus itu selama Obama masih melakukan kampanye.

Peran Michelle dalam mendukung karir politik Obama sangat besar. Dia turut berkampanye sejak awal karir politik Obama dirintis, termasuk penggalangan dana. Di saat awal, Michelle tidak menikmati aktivitas politik. Dia juga sempat menolak menghadiri kampanye penggalangan dana.

Michelle keberatan dilibatkan dalam kampanye karena khawatir efek negatif pada dua anak perempuannya. Namun, dia lalu menegosiasikan kesepakatan dengan suaminya untuk berhenti merokok terkait dukungannya untuk membantu kampanye, seraya mengatakan, “Pekerjaan saya bukan penasihat senior.”

Selama kampanye, Michelle gencar mengangkat isu soal ras dan pendidikan. Pada Mei 2007, tiga bulan setelah Obama menyatakan kesiapan pencalonannya, Michelle mengurangi tanggungjawab profesionalnya. 80 persen waktunya digunakan untuk mendukung kampanye Obama.

Di awal kampanye, keterlibatannya terbatas pada perjalanan dua hari seminggu dan jarang bepergian semalaman. Memasuki Februari 2008, partisipasinya makin meningkat signifikan. Michelle harus mendampingi Obama menghadiri 33 kegiatan selama delapan hari. Dia juga beberapa kali tampil, berkampanye dengan Oprah Winfrey. Dia juga menulis pidato sendiri untuk kampanye suaminya, dan umumnya berbicara tanpa catatan.

Sepanjang kampanye, beberapa media sering mencap Michelle sebagai “Angry Black Woman” dan beberapa situs web berusaha menyebarkan gambar tersebut. Hal itu memancingnya untuk menanggapi. “Barack Obama dan saya, sekarang harus berada di mata publik. Saat Anda keluar, kampanye, akan selalu ada kritik,” katanya.

Lantaran sebutan yang tidak mengenakan itu, saat konvensi Nasional Partai Demokrat pada Agustus 2008, media mengamati kehadiran Michelle yang lebih lembut daripada awal sebelumnya. Michelle menjadi sosok yang lebih feminim dan sering tampil untuk diwawancarai televisi seperti The View dan publikasi seperti Ladies Home Journal, daripada tampil di program berita.

Perubahan Michele juga tercermin dalam fashion, mengenakan pakaian yang lebih informal. Michelle ingin mencitrakan dirinya sebagai sosok perempuan yang lembut saat berada di hadapan media. Dan, Michelle pun dinobatkan sebagai wanita berbusana terbaik oleh Majalah Vanity Fair (2007 dan 2009) dan Majalah People (2008).

Dalam beberapa bulan saat menjadi First Lady, Michelle mengunjungi tempat penampungan tunawisma. Dia juga mengirim utusan ke sekolah-sekolah dan menganjurkan peningkatan kualitas pelayanan publik. Michelle juga mempromosikan kebijakan pemerintah yang dipimpin suaminya. Beberapa pengamat melihatnya positif kegiatan Michelle, meski ada juga yang mengkritiknya terlalu terlibat dalam politik.

Di tahun 2012, Michelle kembali membantu kampanye Obama sebagai calon presiden. Keterlibatannya itu sudah terlihat sejak awal tahun 2011. Memasuki musim politik, Michelle pun membangun citranya menjadi sosok yang lebih terbuka. Sampai-sampai, dia dinobatkan sosok yang paling populer di pemerintahan Obama.

Dia menggalang dukungan dengan meluncurkan program Joining Forces tahun 2011, untuk membantu para veteran dan keluarga militer yang aktif bertugas di negara lain. Program itu memberikan kemudahan pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan. Program itu bekerjasama dengan para pengusaha agar membuka lapangan kerja bagi para pengangguran, khususnya dari keluarga veteran.

Lantas, apakah ada keinginan Michelle terjun ke politik, mengikuti jejak suaminya? Obama kabarnya mendukung jika Michelle terjun ke politik, seperti Hillary yang mengikuti jejak suaminya Bill Clinton. Michelle diyakini memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi.

Namun, Michelle nampaknya tidak tertarik berpolitik. Pertengahan Maret lalu, dia menyatakan, lebih tertarik dalam kegiatan sosial dan melayani publik. Michelle pun ingin lebih fokus mengurusi dua anaknya. Pernyataan itu diragukan sejumlah pengamat. Michelle diyakini akan maju sebagai calon presiden setelah pemilihan presiden 2016. Michelle dan Obama diperkirakan akan fokus menggalang dan. Michelle pun akan kerap tampil dihadapan publik dengan penampilannya layaknya ibu negara.

M. Yamin Panca Setia

Sumber : The Independent/CNN/Reuters

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s