Pertarungan Para Relawan

AKARPADINEWS.COM | ADIAN Napitupulu tak terima tudingan yang menyebut Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) berada di balik upaya pengembosan Teman Ahok. Dia juga membantah jika Pospera berafiliasi dengan partai politik.

Adian beserta rekan-rekannya pun memperingatkan Teman Ahok, agar tidak melontarkan tudingan ke pihak lain demi menutupi dugaan praktik manipulasi pengumpulan satu juta kartu tanda penduduk (KTP) untuk pencalonan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 lewat jalur independen.

Adian mengakui, mantan Teman Ahok adalah pengurus Pospera. Namun, Pospera tidak memfasilitasi mereka agar “bernyanyi” yang nadanya sumbang di telinga Teman Ahok. Menurut Adian, mantan Teman Ahok itu pernah bercerita tentang dugaan adanya praktik manipulasi dalam pengumpulan KTP untuk Ahok.

Lalu, Adian bertanya, “Benar gak? Ya kalau salah, bilang salah. Ya perjuangkan. Lalu mereka kumpul duit dan konferensi pers,” kata Ketua Dewan Pembina Pospera yang juga politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu kepada pers, di markas Pospera, Jakarta, Sabtu (26/5).

Pospera sebelumnya merupakan relawan pendukung Jokowi-Ahok saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 lalu. Perannya cukup signifikan. Mereka turun ke kampung-kampung kumuh, mengkampanye Jokowi-Ahok kepada warga miskin. Hingga akhirnya, berhasil memenangkan Jokowi dan Ahok.

Kini, Pospera berhadapan dengan Teman Ahok, yang menjadi pendukung utama Ahok. Di markas Pospera, terlihat spanduk yang isinya menohok ke Teman Ahok. Di spanduk itu tertera kalimat, “1 juta KTP, kumpulin duit sendiri, jualan baju sendiri, bajunya dipakai sendiri, kumpulin KTP sendiri, hitung sendiri, verifikasi sendiri, diumumkan sendiri, dirayakan sendiri. Sekalian aja Pemilu sendiri.”

Kegaduhan antar Teman Ahok dan Pospera mencuat setelah lima mantan Teman Ahok mengungkap dugaan tindakan manipulatif dalam pengumpulan satu juta KTP untuk Ahok (Baca: Siasat Ahok Saat Terpojok).

Nyanyian mantan Teman Ahok itu seakan membuyarkan eforia Teman Ahok yang baru saja “merayakan” keberhasilannya mengumpulkan lebih satu juta KTP untuk Ahok. Lantaran merasa terpojokan, Teman Ahok menebar bantahan.

Lalu, menuding ada gerakan dari sebuah Ormas untuk mengumpulkan orang yang tersingkir di Teman Ahok. Ormas itu memfasilitasi mantan Teman Ahok untuk menggelar jumpa pers.

Setelah itu, berseliweran informasi jika mantan Teman Ahok yang mbalelo itu merupakan pengurus Pospera yang berafiliasi dengan partai politik. Di dunia maya, bertebaran pula foto Richard Sukarno, pengurus Pospera, yang memakai kaos PDIP dan kemeja kotak-kotak. Richard adalah salah satu mantan Teman Ahok yang menjadi narasumber dalam konferensi pers terkait dugaan praktik manipulatif pengumpulan KTP untuk Ahok.

*****

Saling tuding antara Teman Ahok versus Pospera, makin memanaskan perseteruan antar relawan di ajang suksesi. Pospera memang belum menyatakan akan mendukung siapa. Namun, lantaran diorganisir politisi PDIP, tak menutup kemungkinan akan merapat pada kandidat yang diusung partai tersebut. Atau, bisa pula mendukung kandidat selain Ahok.

Diperkirakan, perseteruan antar relawan kian memanas seiring mendekatnya suksesi, sama saat Pemilihan Presiden 2014 maupun saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 lalu. Dengan berbagai strategi, mereka bertarung merebut dukungan warga agar memilih jagonya.

Mereka intensif, bergerak dari kampung ke kampung, melakukan penetrasi ke warga, seraya menebar pesan yang mencitrakan jagonya. Mereka juga gencar bergerak di dunia maya untuk menggalang dukungan warga, termasuk melancarkan serangan kepada pihak lawan.

Dalam perpolitikan nasional, Pilkada DKI Jakarta menjadi barometer eksistensi kekuatan politik. Jakarta yang merupakan episentrum negara menjadi perhatian para pentolan partai politik sehingga rada berbeda dengan Pilkada di daerah-daerah lainnya.

Selama ini, organisasi relawan yang gencar berkampanye adalah Teman Ahok. Organisasi non partai itu jauh-jauh hari mengkampanye Ahok sebagai calon gubernur DKI Jakarta dari jalur independen. Namun, harapan Teman Ahok agar aAhok menjadi calon gubernur non partai, tidak kesampaian.

Ahok kemungkinan memilih jalur partai, dengan dukungan Nasdem, Hanura, dan Golkar. Dan, Teman Ahok yang awalnya alergi terhadap partai politik, kini mulai mendukung pencalonan Ahok lewat jalur partai politik.

Demikian pula relawan pendukung Yusril Ihza Mahendra, yang telah gencar melakukan pergerakan. Tim relawan Yusril menyematkan beberapa nama di antaranya Penyu (Pendukung Yusril), Raja (Rumah Aspirasirasi Jakarta), Laskar Annisa, dan Tim Pemuda Cempaka Putih. Mereka siap memenangkan Yusril sebagai gubernur DKI Jakarta. Mereka memilih Yusril karena dinilai cerdas, santun, pekerja keras, dan berintegritas.

Yusril juga sudah jauh-jauh hari turun ke kampung-kampung, bersilaturahmi dengan warga. Bahkan, dia juga mengadvokasi warga saat terusik oleh rencana pemerintah yang bisa merugikan kehidupannya. Misalnya, rencana Pemerintah Propinsi DKI Jakarta yang akan menggusur rumah warga Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.

Tentu, warga Luar Batang berbondong-bondong mendukung Yusril yang siap mendampingi warga berhadap dengan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Yusril sebelumnya juga berhasil menjadi kuasa hukum yang memenangkan gugatan warga Bidara Cina dalam proyek inlet sodetan Kali Ciliwung, berhadapan dengan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

Sandiaga Uno, bakal calon gubernur lainnya, juga memiliki barisan relawan. Para pendukung pengusaha muda itu di antaranya Sahabat Sandiaga Uno, Sahabat Nusantara Untuk Sandiuno (SNUSA), dan Komunitas Pemuda Sandi.

Sandiaga juga didukung pengurus Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu juga jauh-jauh intensif menyapa warga. Dia blusukan ke pasar, berdiskusi dengan warga, menggelar pelatihan, dan sebagainya

Belum lama ini, sejumlah relawan mendeklarasikan dukungannya kepada Tri Rismaharini. Sang Wali Kota Surabaya itu dianggap layak menjadi Gubernur DKI Jakarta. Rekam jejak Risma selama memimpin Surabaya diyakini mampu menjadi magnet yang menyedot pilihan politik warga.

Organisasi relawan pendukung Risma itu mulai bergerak masif. Mereka membentuk simpul-simpul di kampung-kampung dan memobilisasi dukungan warga. Beberapa di antaranya menyematkan nama antara lain Laskar Risma (Laris), Barisan Risma (Baris), Pasukan Risma (Paris), Aliansi Masyarakat untuk Risma (Amaris), Tanah Merah untuk Risma (Tameris), Gerakan Masyarakat untuk Risma (Gamis), dan Anak Rawabunga Cinta Risma (Artis).

Sabtu (25/6) lalu, relawan Temaris, memobilisasi dukungan warga Tanah Merah, Jakarta Utara. Mereka menggelar buka puasa bersama dengan warga. Relawan Temaris yang diorganisir Gerak Indonesia mengklaim bekas relawan Jokowi-Ahok saat Pilkada 2012 lalu.

Di Pilkada 2017, Tameris berhadapan dengan Ahok lantaran dianggap tidak menjalankan kebijakan dan gaya kepemimpinan seperti Jokowi. “Jokowi tidak sama dengan Ahok. Ahok bukan penerus Jokowi,” begitu bunyi pesan sebuah spanduk dalam pendeklarasian dukungan Temaris kepada Risma di Tanah Merah.

Tameris mengarahkan dukungannya ke Risma, karena dianggapnya lebih merakyat, sederhana, dan mengedepankan dialog saat pemerintah berurusan dengan kepentingan warga. Sementara Ahok, cenderung tidak kompromistis dan kerap memaksa saat berhadapan dengan rakyat kecil. “Kalau sama rakyat kecil pakai tentara,” kritik Ketua Umum Gerak Indonesia, Emi Sulyuwati.

Sosok Risma memang cukup menjual di Pilkada DKI. Rekam jejaknya yang baik menyebabkan Risma kembali dipercaya warga Surabaya untuk menjadi wali kota. Selama Surabaya dipimpin Risma, empat kali piala adipura berturut diraih dari tahun 2011 hingga 2014 untuk kategori kota metropolitan.

Di tahun 2014, Risma dinobatkan sebagai Mayor of the Month atau wali kota terbaik di dunia dan menerima penghargaan Future City versi FutureGov untuk Surabaya Single Window (SSW). Di tahun 2015, Risma juga dinobatkan sebagai wali kota terbaik ketiga di dunia versi World City Mayors Foundation atas keberhasilannya dalam mengubah wajah Kota Surabaya dari kumuh menjadi kota hijau dan rapi.

Lantaran prestasi itu, Risma dianggap layak naik kelas: menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kepemimpinan Risma diharapkan dapat mengurai kompleksitas yang luar biasa di ibu kota.

Namun, hingga saat ini, Risma belum menyatakan bakal melaju di ajang Pilkada DKI Jakarta. Memang, tidak etis jika dia menunjukan ambisi menjadi DKI-1. Karena, bisa mengusik persepsi warga Surabaya yang telah memilihnya menjadi wali kota.

Namun, sebagai politisi, Risma tentu ingin karir politiknya lebih meningkat? Bisa jadi, Risma sedang mencermati dinamika politik di Jakarta. Dia tengah menimang-nimang respon warga Jakarta, seraya PDIP sebagai partainya, memobilisasi dukungan warga, lewat sejumlah organisasi relawannya yang dibentuknya.

PDIP sebagai partai pemenang Pemilu 2014 menunjukan gelagat menyokongnya. PDIP mendorong Risma, seraya ingin mengulangi sukses seperti saat mengusung Joko Widodo (Jokowi) yang kala itu masih menjabat Wali Kota Solo.

Awal Mei Lalu, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menemui Risma, sambil menyambangi Surabaya untuk melihat Taman Harmoni di kawasan Keputih Surabaya. Nampak pula sejumlah pengurus DPP PDIP, termasuk Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat.

Megawati mengapresiasi upaya Risma yang menyulap Taman Harmoni menjadi tempat rekreasi warga, yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah. Pertemuan itu menebar sinyal: PDIP ingin mengusung kadernya sendiri itu. Dengan modal dukungan 20 persen kursi di legislatif, bisa jadi, Risma berduet dengan Djarot.

*****

Makin menjamurnya relawan merupakan hal positif bagi demokrasi. Idealnya, suksesi memang tak hanya menjadi panggung para politisi. Namun, perlu peran relawan yang bergerak masif, dari kampung ke kampung, membangkitkan partisipasi politik warga. Relawan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan antara warga dengan kandidat.

Namun, di ajang Pilkada, relawan tentu tidak sekadar menjadi “tim hore” yang meramaikan kampanye saja. Atau sekadar gencar melakukan aksi pembusukan dan melancarkan serangan kepada kubu lawan. Relawan juga tidak hanya sibuk mengurusi pengerahan massa atau sekedar bagi-bagi sembako dan pengobatan gratis saja.

Namun, relawan harus memahami makna kampanye sesungguhnya. Kampanye sebagai bagian dari pendidikan politik harus dibanjiri ide-ide cerdas, solutif, inspiratif, kegiatan-kegiatan kreatif dan simpatik.

Mereka juga dituntut untuk menciptakan kampanye yang membuka ruang dialog antara warga dengan kandidat untuk membahas berbagai persoalan dan menemui solusi yang diharapkan. Kampanye yang memberikan kesempatan bagi warga untuk mengkritisi pesan, isu, atau program yang ditawarkan para kandidat. Kampanye yang juga menyadarkan pentingnya warga menggunakan hak pilih yang akan menentukan masa depan daerahnya.

Di sinilah pentingnya relawan mengorganisir kampanye yang mencerdaskan itu. Selain mampu mengkreasikan kampanye, para relawan juga harus cakap melakukan penetrasi yang efektif agar dapat menggalang dukungan maksimal dari warga.

Misalnya, mendatangi rumah warga (door to door), diskusi kelompok (group discussion), dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok diskusi kecil yang membicarakan masalah yang dihadapi masyarakat, dan kegiatan kreatif yang menarik perhatian misalnya pertunjukkan seni dan budaya dan sebagainya.

Tentu kecakapan berkomunikasi dengan warga menjadi penting. Relawan harus mampu menjadi komunikator yang baik, yang menyampaikan pesan-pesan politik politik secara efektif dan mudah dicerna warga. Proses komunikasi bisa berlangsung efektif jika relawan memahami kondisi yang dihadapi masyarakat.

Sementara bagi kandidat, berdialog dengan warga dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi warga. Dia dituntut untuk mencari solusi yang rasional dan adaptif terhadap persoalan sehingga dapat memancing warga memilihnya.

Di Jakarta, karakter pemilihnya kritis dan rasional. Mereka tidak tidak akan terpengaruh dengan janji-janji maupun jargon-jargon normatif yang sama sekali tidak terkait kepentingan warga.

Karenanya, program yang ditawarkan harus realistis, objektif, adaptif dengan kebutuhan, dan dipahami warga. Semakin efektif relawan dan kandidat dalam menawarkan solusi atas masalah yang dihadapi warga, semakin tinggi probabilitas kandidat untuk dipilih warga.

Jika mencermati realitas politik kekinian, masih sering kandidat beserta relawannya memilih cara-cara konvensional dan cenderung membodohkan rakyat. Untuk mendapatkan dukungan rakyat, para kandidat rela merogoh kocek dalam-dalam. Mereka mengeluarkan dana besar untuk membeli membagi-bagikan sembako, kaos, atau menyumbangkan uang untuk pembangunan fasilitas umum dan kegiatan sosial lainnya, demi mendapatkan dukungan warga.

Di sisi lain, masyarakat pemilih masih cenderung memaknai kampanye sebagai salah satu bentuk rekreasi politik, di mana kerumunan massa, arak-arakan kendaraan bermotor, dan berjoget sambil mendengarkan lagu-lagu para artis, lebih disukai dibandingkan dengan kampanye dialogis atau mendengarkan materi yang disampaikan juru kampanye.

Seharusnya tidak demikian. Akan lebih efektif jika relawan dan kandidat turun ke kampung-kampung, mengindentifikasi persoalan dari warga, menyapa atau sekadar ketawa ketiwi, dan foto bersama. Cara tersebut lebih efektif daripada hanya menebar brosur, stiker, spanduk dan sebagainya.

Di ajang Pilkada, kandidat yang lebih populer, belum tentu dapat memenangkan pertarungan. Karena, popularitas dapat mudah dibentuk asal sang calon berkantong tebal dan dekat dengan media.

Memang tak bisa dipungkiri, popularitas memiliki pengaruh dalam mengarahkan pilihan politik warga. Namun, popularitas saja tidak cukup. Kampanye akan lebih bermakna jika elit mampu membangun kedekatan dengan warga.

Selain itu, konstelasi politik di Pilkada DKI Jakarta menunjukan ada pertarungan dalam memobilisasi dukungan kelas-kelas sosial. Ahok misalnya, mungkin cenderung bergerak pada isu elitis dan kurang mengangkat isu-isu kalangan kelas bawah.

Praktik pengusuran, banjir dan kemiskinan yang masih melekat di memori warga tentu menjadi catatan warga terhadap kepemimpinan sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Bagi kalangan bawah, Ahok kurang berpihak. Ahok juga seakan kurang menyapa mereka. Entah karena takut dikritik gaya kepemimpinannya, atau karena dirinya sibuk menjalankan rutinitasnya sebagai gubernur Selain itu, dalam pemilihan langsung, koalisi dan klaim para petinggi partai politik, tidak serta merta dapat mempengarui pilihan warga.

Memang, partai politik menjadi mesin memobilisasi suara rakyat. Tetapi, partai politik bukan satu-satunya alat untuk mempengarui pilihan politik warga. Apalagi, di kala citra partai politik hingga saat ini masih runtuh di hadapan rakyat. Bagi sebagian masyarakat, koalisi elit partai dianggap sebatas trik power sharing dan bargaining position.

Hal lain yang juga perlu dipahami adalah pengetahuan tentang karakteristik dan preferensi pemilih dalam menentukan pilihannya. Dalam konteks sosiologis, perilaku pemilih terkait karakteristik dan pengelompokan sosial dalam masyarakat. Pendekatan ini menekankan pentingnya pemahaman karateristik dan perilaku masyarakat. Preperensi pemilih biasanya terkait sosio kultural sehingga perlu memahami ikatan sosial pemilih dari segi struktur sosial, interaksi sosial, etnik, ras, agama, keluarga, dan sebagainya.

Perilaku pemilih juga cenderung dipengaruhi nilai, norma, kepercayaan dan sebagainya. Nilai dan norma menjadi faktor yang bisa mempengarui perilaku masyarakat dalam memilih karena menjadi rujukan, petunjuk, atau arah bagi masyarakat dalam bersikap, bertindak, dan mengontrol tindakannya. Nilai dan norma juga menjadi instrumen pemersatu masyarakat.

Sementara dalam konteks psikologis, perilaku pemilih terkait dengan loyalitasnya terhadap kandidat atau partai politik. Namun, mereka juga menentukan pilihan atas dasar evaluasi terhadap rekam jejak masing-masing calon, partai politik, termasuk isu-isu yang melekat dalam memorinya. Menghadapi mereka, tentu membutuhkan komunikasi yang intensif dan menarik, serta tawaran program yang rasional dan berbasis pada realitas. Karena, rasionalitas pemilih berangkat dari fakta yang dialaminya. Itulah yang akan menentukan dipilih atau tidaknya seorang kandidat.

Kandidat petahana misalnya, untuk dipertahankan atau ditinggalkan pemilih, tergantung kinerjanya. Jika sang kandidat memiliki rekam jejak kepemimpinan yang baik, kemungkinan akan terpilih kembali. Sebaliknya, jika mewarisi kepemimpinan yang buruk, maka akan ditinggalkan pemilih.

Para pemilih rasional itu memiliki referensi, bukan sekadar percaya dengan janji-janji atau program kerja yang ditawarkan. Mereka memiliki motivasi, prinsip, pengetahuan, dan informasi. Dalam konteks ini, relawan maupun kandidat harus lebih menguasai persoalan dan memiliki basis argumentasi dan data yang kuat untuk menyakinkan pemilih jika mereka layak dipilih. Karenanya, dibutuhkan identifikasi masalah tentang kondisi, masalah, kebutuhan warga.

Selain melancarkan penetrasi di jalur darat, para relawan juga telah bergerak lewat dunia maya. Diperkirakan, dunia maya makin riuh oleh laku pasukan khusus (cyber troops) yang digerakan masing-masing relawan untuk mendapat dukungan warga di dunia maya.

Di Jakarta, media sosial cukup efektif untuk dijadikan sarana kampanye. Pengguna twitter misalnya, hasil riset Semiocast yang berbasis di Paris, Perancis menunjukkan, Jakarta merupakan kota yang paling berkicau di dunia. Karena, jumlah pengguna twitter di Jakarta mencapai 10 juta orang, mengalahkan New York (Amerika Serikat), Tokyo (Jepang), London, Inggris dan Sao Paolo (Brazil). Sementara secara keseluruhan, CEO Twitter Dick Costolo mengungkap jumlah pengguna Twitter di Indonesia mencapai 50 juta pengguna dan kemungkinan akan terus bertambah.

Demikian pula dengan Facebook. Peter Vesterbacka, Chief Marketing Officer Rovio menyebut, Jakarta sebagai “Ibukota Facebook.” Dari data statistik yang dirilis situs socialbakers.com, pengguna Facebook di Jakarta mencapai 17,48 juta orang.

Sementara New York, AS, penggunanya hanya mencapai 4,3 juta orang.  Urutan terbesar kedua pengguna Facebook adalah Instambul (9,6 juta), Mexico City (9,3 juta), London (7,64 juta), Bangkok (7,4 juta), Buenos Aires (6,6 juta), Ankara (6,55 juta), Kuala Lumpur (6,5 juta), Bogota (6,4 juta), dan Madrid (5,95 juta).

Cyber troops nampaknya sudah jauh-jauh hari melakoni perannya. Ada yang tugasnya menyerang siapa saja yang berseberangan dengan jagoannya. Ada pula yang tugasnya menjaga pertahanan. Tak jarang, serangannya cukup brutal dan menghinakan. Bahkan, ada pula yang menyerempet ke persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Sementara mereka yang bertahan, selalu sigap melakukan pembelaaan. Mereka lebih soft melakoni peran, memoles citra lewat informasi seputar sepak terjang jagoannya. Tidak jelas siapa pelakunya karena banyak di antara mereka yang menggunakan akun-akun anonim. Namun, dari pesan-pesan yang disampaikan, bisa ditebak, mereka berada di kubu yang mana.

Mereka juga tak hanya perang kalimat. Kadangkala, lewat media sosial, mereka menebar meme, gambar yang disertai kutipan kalimat-kalimat pendek yang bernada satir untuk memojokan politisi atau siapa saja yang tidak disukainya dan pernah “bersenggolan” dengan jagoannya.

Para netizen, penghuni dunia maya dibuat ramai. Karena, selain bernada satir, meme-meme itu ada yang mampu memicu gelak tawa. Dalam pertarungan politik di dunia maya, meme-meme bermotif politis itu sah-sah saja untuk memancing perhatian khalayak, apalagi bagi mereka yang tidak terlalu banyak mengunyah isu politik.

Di dunia maya, cyber troops menyusup lewat twitter, facebook, website, youtube, dan sebagainya. Mereka piawai memancing pengguna media sosial agar menyimak postingannya. Misalnya, dengan memberi judul yang rada memancing keinginan untuk tahu khalayak. Ternyata, isinya tidak seperti judulnya.

Selain sigap menghalau isu yang merontokkan citra jagoannya, ada yang tugasnya menyakinkan khalayak dengan memaparkan postingan bernada positif seputar rekam jejak dan kepemimpinan jagoannya.

Sayang, dunia maya lebih disesaki perang-perang kalimat dan gambar yang terkesan menghinakan. Demi membela junjungannya, cyber troops juga menebar caci maki, pembusukan, dan kalimat-kalimat yang tidak patut.

Cyber troops yang meramaikan ranah politik semestinya memanfaatkan media sosial sebagai sarana menggalang partisipasi, menekan apatisme warga, dan menebar pesan-pesan edukatif. Bukan justru mengotori opini yang cenderung destruktif.

M. Yamin Panca Setia

http://akarpadinews.com/read/polhukam/pertarungan-para-relawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s