Venezuela Menunggu Bom Waktu

CARACAS, AKARPADINEWS.COM | KRISIS ekonomi berkepanjangan yang melilit Venezuela makin menjalar ke krisis sosial. Di tengah gelombang kemarahan sosial, oposisi makin nyaring mendesak Presiden Nicolas Maduro turun dari kursi kekuasaan. Konstelasi politik di negara berhaluan sosialis makin memanas.

Kekerasan kolektif meletup di Sucre bagian timur, kawasan kumuh di Kota Caracas, Petare, dan di Tachira bagian barat. Warga menjarah lantaran tak kuasa menghadapi beratnya hidup. “Kami lapar. Kami ingin makan,” teriak kerumunan massa saat menjarah sejumlah toko makanan.

Mereka menjarah tepung, beras, gula, mentega, susu, kebutuhan bayi, dan kebutuhan pokok lainnya. Stok yang terbatas memicu harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. “Kami ingin keluar dari penderitaan ini,” kata seorang wanita. “Tidak ada makanan dan setiap hari kami harus bertanya pada diri sendiri, apa yang akan kami makan?”

Warga benar-benar marah. Mereka pun Melakukan penjarahan untuk mendapatkan makanan. Aparat keamanan terpaksa melakukan tindakan represif untuk meredam amarah massa. Korban jiwa pun berjatuhan.

The Venezuelan Violence Observatory, organisasi pemantau HAM lainnya juga melaporkan, lebih dari 10 insiden penjarahan terjadi setiap hari di beberapa daerah. Kelompok pengiat hak asasi manusia (HAM) Provea melaporkan, tiga korban tewas dalam kerusuhan diduga akibat tembakan aparat keamanan saat meredam kekacauan.

Tapi, gubernur negara bagian Sucre, Luis Acuna yang didukung partai penguasa mengatakan, warga yang tewas bukan karena penjarahan. “Hanya ada 400 orang yang ditangkap dan kematian itu tidak terkait dengan penjarahan,” katanya kepada stasiun TV lokal, seraya menyebut para penjarah diprovokasi politisi sayap kanan. “Saya tidak ragu mereka (oposisi) membayar mereka, ini direncanakan.”

Rangkaian kekerasan di Venezuela membuat oposisi makin nyaring mendesak Maduro, pemimpin Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV), mundur dari kekuasaan. Maduro dan pendahulunya, Hugo Chavez, dianggap gagal memulihkan stabilitas ekonomi sehingga memicu krisis sosial. Oposisi makin gencar mendorong referendum guna menyingkirkan rezim sosialis yang berkuasa.

Maduro, 53 tahun, bergeming. Mantan supir bus itu balik menuduh musuh-musuhnya, sayap kanan, mengobarkan perang ekonomi, memicu kemarahan sosial, dan berupaya melakukan kudeta. Para pejabat pemerintah juga tidak meladeni desakan oposisi untuk menggelar referendum.

Mereka menegaskan, tidak ada cukup waktu di tahun ini untuk mempersiapkan referendum. Jika referendum digelar 2017 dan menjatuhkan Maduro dari kekuasaan, maka Wakil Presiden Jorge Arreaza, akan mengambil alih kekuasaan, dan digelar pemilihan presiden baru.

Aparat keamanan telah menangkap sedikitnya 400 orang yang dianggap terlibat dalam aksi penjarahan di negara anggota OPEC itu. Maduro sebelumnya memerintahkan aparat keamanan untuk mengamankan sejumlah titik di Caracas untuk mengantisipasi tindakan anarkis massa. “Militer turun untuk melindungi rakyat,” kata Maduro dalam pidatonya di hadapan petinggi kepolisian dan militer yang disiarkan televisi negara. “Saya meminta Anda untuk melayani negara Anda.”

Pemerintah rencananya akan mendirikan 500 pos pemeriksaan di seluruh penjuru kota. Dalam pelaksanaannya, akan melibatkan ribuan petugas kepolisian dan petugas Garda Nasional. Pengerahan aparat besar-besaran itu dikhawatirkan memperbanyak jatuhnya korban. Negara seakan memberikan legitimasi kepada aparat untuk melakukan tindakan represif kepada rakyatnya.

Langkah yang ditempuh Maduro itu berseberangan dengan cara-cara yang dilakukan Chavez yang pernah gencar melancarkan kecaman terhadap pemerintah yang memanfaatkan militer untuk mengatasi demonstran. Di tahun ini, jumlah yang tewas akibat krisis dan kejahatan yang merajalela mendekati 3,4 ribu orang.

Kekhawatiran jika aparat keamanan mengedepankan represif dibantah Maduro. “Militer sangat berbeda sekarang,” katanya. Jum’at 13 Mei lalu, Maduro mengumumkan 60 hari masa darurat. Dia juga menyebut ada upaya yang didukung asing untuk menghabisi dominasi kekuatan sayap kiri di Venezuela.

Tudingan itu bukan kali pertama dilancarkannya. Bahkan, Maduro pernah menahan pemimpin oposisi di antaranya Antonio Ledezma dan Leopoldo Lopez. Mereka dituduh melakukan konspirasi untuk melancarkan upaya kudeta yang didukung Amerika Serikat (AS). Tudingan itu berkali-kali dibantah Washington.

Krisis pangan juga menyebabkan terganggunya aktivitas pendidikan. Beberapa sekolah negeri harus mengurangi jatah makanan buat murid-muridnya. April lalu, pemerintah juga memutuskan untuk meliburkan sekolah di hari Jum’at sebagai langkah penghematan energi listrik.

“Saya meninggalkan sekolah setelah Paskah,” kata Mariangel Caceres, seorang guru yang sekarang menghabiskan hari-harinya berpergian ke negara tetangga, Kolombia bersama ibunya untuk membeli kebutuhan pokok. Krisis ekonomi juga menyebabkan 30-40 persen guru di Venezuela tidak mengajar karena mereka harus antri setiap hari mendapatkan makanan atau obat-obatan.

Anak-anak pun banyak yang tidak sekolah lantaran tidak ada makanan di sekolah. Penghematan listrik dan air juga menganggu aktivitas belajar. “Setahun sudah terganggu seperti ini, tidak dapat dipulihkan,” kata Tulio Ramirez, pakar pendidikan Universitas Central Venezuela. “Anak-anak ini tumbuh dalam situasi kekurangan pendidikan.”

Ramirez juga mengaku tidak mampu membeli sepatu baru lantaran gajinya yang hanya sekitar U$50 per bulan. Banyak guru yang meninggalkan tugasnya lantaran gajinya yang rendah. Para pendukung pemerintah menuduh lawan-lawannya mengeksploitasi kerisauan sosial untuk melemahkan kubu sosialis di Venezuela.

Mereka menunjuk angka kenaikan 16 persentase partisipasi pendidikan dan peningkatan melek huruf. Mereka mengklaim pemerintah komit terhadap pengembangan pendidikan untuk mewujudkan tujuan revolusi. Namun, para kritikus menilai, anggaran dari negara tidak mencukupi untuk kebutuhan sekolah dan kurangnya guru yang berkualitas karena gajinya rendah.

Sebuah sekolah negeri Monsenor Marco Tulio Ramirez Roa di La Fria, dekat perbatasan Kolombia misalnya, kondisi sangat memprihatinkan. Bangunan yang sudah tua itu hancur. Pihak sekolah tak mampu membangun lantaran inflasi dan minimnya keteserdiaan material bangunan.

Sementara pihak berwenang tidak memberikan ruang alternatif untuk kegiatan belajar bagi 300 murid yang bersekolah di sana. Pemerintah menyediakan kelas yang tersebar di rumah-rumah masyarakat di dekatnya. Anak-anak pun ada yang belajar di ruangan di atas toko makanan miliki negara yang kosong, terasa panas, sempit, sering mengalami pemadaman listrik dan air.

“Situasi saat ini benar-benar parah,” kata Josefina Molina, seorang ibu rumah tangga, seraya mengaku tidak menyediakan makan siang untuk anak-anaknya. “Ini membuat kami gila.”

Molina tidak menyediakan makanan untuk anak-anaknya lantaran tidak ada yang menjual. Anaknya yang berusia lima tahun terpaksa memetik buah yang mereka tanam di halaman rumah. Sementara Sharon Roa, seorang ibu di La Fria, 27 tahun mengatakan, sering kekurangan sabun untuk memandikan anak-anaknya dan membersihkan seragam sekolahnya.

Maduro sebelumnya mengancam akan menutup industri yang berhenti berproduksi dan memenjarakan pemiliknya. Dia menuding kekurangan stok pangan, obat-obatan dan barang-barang kebutuhan dasar lainnya, karena ulah pelaku bisnis yang dianggapnya berkonspirasi dengan oposisi untuk melancarkan perang ekonomi terhadap pemerintah.

“Siapa pun yang ingin menghentikan (produksi) untuk menyabotase negara, maka harus keluar, dan mereka yang melakukannya harus diborgol dan dikirim ke PGV (Penjara Venezuela). Ancaman itu tentu memicu ketakutan pengusaha.

Banyak pula profesional di Venezuela yang meninggalkan pekerjaannya karena tekanan inflasi. “Saya telah membuka mata,” kata Edgar Barrios, 38 tahun mantan “Chavista” di La Fria. “Saya kecewa dengan kehidupan sekarang.”

Krisis yang melanda Venezuela merupakan realitas paradoks di negara sosialis yang kaya minyak itu. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, meski menurut data OPEC, tingkat produksinya terus mengalami penurunan rata-rata 11 persen sejak tahun 2015.

Mei 2016 lalu, produksi minyak Venezuela mencapai 2,37 juta barel per hari (bph), turun lima persen dibandingkan April lalu. Industri perminyakan Venezuela terpukul lantaran kekurangan suku cadang untuk berproduksi dan turunnya nilai mata uang Venezuelan Bolivar Fuerte (VEF).

Venezuela pun tekor lantaran harga harga minyak dunia melorot dari US$140 per barel menjadi di bawah US$40 per barel. Ekonomi Venezuela mengalami kontraksi 5,7 persen tahun lalu dengan tingkat inflasi tertinggi, hingga mencapai 180 persen. Maduro menuding AS berada di balik anjloknya harga minyak dunia, dengan menghalangi kesepakatan antara negara-negara OPEC dan non OPEC dalam menstabilkan harga minyak dunia.

Situasi itu mencemaskan para pekerja. “Suasana hati pekerja yang dalam kesedihan,” kata Francisco Luna, seorang pemimpin serikat pekerja di daerah penghasil minyak, di Danau Maracaibo. “Setiap hari itu kondisinya buruk. Pemeliharaan dan peralatan kurang.”

Maduro nampaknya menunggu bom waktu. Kekerasan diperkirakan makin meluas jika krisis ekonomi dan politik tak mampu ditanganinya. Krisis ekonomi yang dimulai sejak tiga tahun lalu makin buruk di tahun ini. Negara berpenghuni 30 juta jiwa itu dipastikan akan mengarahkan pada keruntuhan ekonomi dan bencana kemanusiaan.

Tingkat inflasi Venezuela tertinggi di dunia, diperkirakan meningkat dari 275 persen menjadi 720 persen tahun ini. Pasokan listrik yang minim menyebabkan aktivitas produksi terhambat. Pabri-pabrik pun tak mampu bertahan lantaran melonjaknya harga bahan baku.

Menurut survei lokal yang dikutip oleh Economist, tingkat kemiskinan di negara itu mencapai 76 persen, meningkatkan dari 55 persen ketika era kepemimpinan Presiden Hugo Chavez, yang mengambil alih kekuasaan tahun 1999. Hasil sebuah studi menunjukan, 87 persen pekerja di Venezuela mengaku pendapatannya tidak cukup untuk membeli kebutuhan makanan.

Mereka pun menghabiskan waktu berjam-jam untuk membeli kebutuhan pokok. Studi itu dilakukan terhadap hampir 1.500 keluarga. Sebanyak 12 persen responden yang diwawancarai juga mengaku tidak makan tiga kali dalam sehari.

Oposisi menganggap, Maduro panik. “Kita bicara tentang seorang Presiden yang putus asa,” kata pemimpin koalisi Persatuan Demokrasi, Yesus Torrealba seraya menilai Maduro telah kehilangan dukungan di basisnya sendiri.

Henrique Capriles, bekas calon presiden memperingatkan, dampak penudaan referendum. “Jika anda (Maduro) memblokir jalur demokrasi (referendum), kita tidak tahu apa yang mungkin terjadi di negara ini,” kata Capriles saat berdemonstrasi. “Venezuela menunggu bom waktu yang bisa meledak setiap saat,” imbuhnya.

Kubu oposisi memiliki posisi tawar yang sangat kuat, berhasil mendominasi kontrol di Majelis Nasional setelah menang dalam pemilihan umum legislatif Desember tahun lalu.

Belum lagi hasil jajak pendapat yang menunjukkan hampir 70 persen warga Venezuela menentang kepemimpinan Maduro. Selain menggelar demonstrasi dan mendorong referendum untuk menggulingkan Maduro, kubu oposisi juga mendorong dilakukannya amandemen konstitusi.

Tentu, Maduro tidak akan berdiam. Dia bersumpah akan mempertahankan kekuasaannya hingga masa jabatannya berakhir di tahun 2019. Dan, korban pun diperkirakan bakal kembali berjatuhan.

M. Yamin Panca Setia

Sumber : Reuters/Business Insider/BBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s