Trump Menebar Provokasi

DONALD Trump makin menebar kebencian terhadap umat Islam setelah terjadinya serangan bersenjata di Pulse Club, Orlando, Florida, Amerika Serikat (AS), yang menewaskan 50 orang pada Minggu (12/3) dini hari.

Insiden itu pun dijadikan “peluru” bagi calon presiden yang diusung Partai Republik itu untuk menyerang Presiden AS Barack Obama. Trump seakan ingin menyakini warga AS jika pernyataannya bernada rasis yang sebelumnya sering dilontarkannya merupakan suatu kebenaran.

Politisi berlatar belakang pengusaha properti itu pun mengklaim serangan yang menghujam klub yang biasa diramaikan kaum gay itu, sudah diramalkannya. Karenanya, dia kembali menyerukan larangan terhadap umat muslim yang lahir di negara lain, untuk memasuki AS. “Apa yang terjadi di Orlando baru permulaan,” tulisnya lewat akun twitter seraya menuding kepemimpinan Obama sangat lemah dalam memerangi terorisme.

Tak hanya, Trump menuding Obama memiliki agenda rahasia lantaran sebelumnya melarang dirinya mengaitkan terorisme dengan Islam. Trump sebelumnya sering melancarkan serangan terhadap Islam dengan mengaitkan aksi-aksi terorisme.

Dia pun berencana melarang warga negara lain yang beragama Islam bertandang ke AS. Sementara Obama, pada Februari lalu menegaskan, AS tidak memerangi Islam. Namun, memerangi orang-orang yang perilakunya menyesatkan. “Kami berperang dengan orang-orang yang sesat dalam Islam,” ucap Obama.

Komentar Trump itu memanaskan suhu politik. Kalangan politisi dari Partai Republik sebenarnya telah meminta Trump untuk menahan retorikanya. Namun, Trump bergeming. “Banyak orang berpikir, mungkin dia (Obama) tidak tahu tentang hal itu. Saya berpikir, dia hanya tidak tahu apa yang dia lakukan,” ucap Trump saat diwawancarai NBC Today, Senin (13/6), membahas serangan yang menewaskan sedikitnya 50 orang di Orlando.

Dalam wawancara di sebuah stasiun televisi, Trump juga menuding Obama tutup mata terhadap terorisme, seraya menduga “ada sesuatu yang terjadi” dibalik pernyataan Obama yang melarangnya menggunakan frase, “terorisme radikal Islam.”

“Saya memberitahu anda, kita punya presiden yang menolak menggunakan istilah (Islam radikal), ia menolak untuk mengatakan itu,” kata Trump. Karenanya, Trump pun menggunakan cara-cara konspiratif untuk menjatuhkan Obama, yang tentu berdampak pada dukungan kandidat Presiden yang diusung Partai Demokrat, Hillary Clinton. “Ada sesuatu yang terjadi dengan dia, kita tidak tahu,” kata mencurigai Obama.

Sementara juru bicara Komite Nasional Partai Republik, Sean Spicer menyesalkan pernyataan Trump tersebut. Dalam sebuah pernyataan, dia mengibaratkan komentar Trump sama saja mengubur kepala mereka di pasir dan sangat berbahaya.

Sebuah sumber yang terlibat dalam kampanye Trump mengatakan kepada NBC News, jika Partai Republik telah meminta kandidat prsiden agar lebih banyak menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serangan di Orlando, dan tidak melontarkan pernyataan yang memanaskan situasi. Namun, Trump memilih cara yang berbeda. Dia berkoar-koar dengan nada provokatif yang berbau rasis.

Trump telah sudah sering melontarkan sindirian bernada rasis terhadap Obama. Dia pernah menyebut Obama yang beragama Kristen dan lahir di Hawaii, sebagai seorang Muslim yang lahir di Kenya. Sampai-sampai, tudingan itu begitu populer di kalangan pendukung Trump.

Februari lalu, Trump mengatakan, Obama mengunjungi masjid karena merasa nyaman di masjid. Dia juga pernah menebar tuduhan palsu dengan menyebut akte kelahiran Obama dipalsukan. “Dia tidak memiliki akta kelahiran,” kata Trump kepada Fox News, Maret 2011 lalu. “Dia mungkin memiliki satu, tapi ada sesuatu pada itu, mungkin agama, mungkin mengatakan ia adalah seorang Muslim.”

Obsesi Trump dengan cara-cara konspiratif seringkali berlebihan, tidak hanya berhubungan dengan Islam dan terorisme. Bulan lalu, Trump menuduh ayah dari bakal calon presiden yang juga diusung Partai Republik, Ted Cruz, terlibat dalam pembunuhan Presiden John F Kennedy, dengan mengutip rumor yang disebarkan National Enquirer.

Sementara itu, Obama menegaskan, warga AS akan terus bersatu, tidak takut, dan tidak akan saling menyerang satu sama lain. Pernyataan Obama itu seakan membalas tudingan Trump. Dalam pidato yang disampaikan di Gedung Putih, Obama menyatakan, “Kita tidak akan menyerah pada rasa takut atau saling menyerang satu sama lain. Justru, kita tetap bersatu, saling melindungi sesama rakyat AS, dan membela negara ini, dan menentang apapun yang mengancam keberlangsungan hidup kita.”

Obama menyampaikan dirinya bersama seluruh rakyat AS berduka atas pembunuhan sadis yang terjadi di Orlando. Dia juga menegaskan, bersama masyarakat Orlando, akan bertahan dari serangan yang mengerikan tersebut. “Insiden tersebut merupakan aksi kebencian dan teror.”

Obama juga menyerukan kepada warga AS agar bersatu dalam duka dan kemarahan, serta saling melindungi. Obama pun memastikan, FBI bersama kepolisian lokal tengah menyelidiki insiden tersebut dan menghimbau warga AS mengerahkan segala upaya untuk menemukan siapa saja yang berhubungan dengan pelaku penembakan maupun terkait dengan kelompok teroris.

Pelaku Mengalami Kelainan Jiwa

Dalam informasi lain, pelaku penembakan di Orlando, Omar Mateen, diduga mengalami gangguan jiwa dan memiliki tabiat yang kasar. Isteri Mateen, Sitora Yusufiy mengungkap, sering dipukuli Mateen, disita gajinya, dan disolasi di sebuah ruangan di rumahnya, di Florida.

Karena sering mengalami kekerasan, di tahun 2009, Yusufiy melarikan diri dengan bantuan orang tuanya. Yusufiy sempat dipaksa Mateen agar tidak meninggalkannya. Saat itu, Yusufiy curiga dengan Mateen yang coba merogoh saku belakangnya. “Saya tidak tahu, apakah dia punya pistol, tapi ibu saya merasa itu (punya pistol) dan dia berteriak,” kata Yusufiy. “Itu terakhir kali saya melihatnya.”

Yusufiy pun terperanjat saat lelaki yang dikenalinya via Myspace tahun 2008 dan dengan cepat menikahinya, melakukan penembakan massal yang mengerikan dalam sejarah di AS. “Itu (Omar Mateen), seseorang yang menyakiti dan membuat trauma saya.”

Sebelumnya, Yusufiy diinterogasi oleh agen FBI di rumahnya selama sekitar satu jam. Sejumlah pejabat FBI sebelumnya telah menyelidiki Mateen sejak 2013 dan 2014 lantaran menebar propaganda radikalisme.

Yusufiy berimigrasi ke AS dari Uzbekistan tahun 2000. Dia dibesarkan oleh keluarganya yang menetapkan di bagian utara, New Jersey dan bertemu Mateen. Saat awal mengenal Mateen, Yusufiy menilai, mantan suaminya itu memiliki perangai dan tingkah laku yang baik.

Mateen suka bercanda dan bercita-cita menjadi polisi. Mateen adalah warga AS, yang sama-sama beragama Islam dengan Yusufiy. Karenanya, kedua orang mereka sepakat untuk menikahi keduanya. Sebagai penganut agama Islam, Yusufiy menegaskan, tidak simpati dengan Islam radikal.

Namun, setelah enam minggu hidup bersama Mateen, Yusufiy mengaku mulai melihat gelagat aneh Mateen. Perilakunya tak menentu dan temperamen. Kadang-kadang menebar peringatan dan provokasi. Mateen, di mata Yusufiy, lelaki yang kerap kasar secara verbal dan fisik. Mateen melarang Yusufiy menemui orang tuanya, dan tidak mengizinkannya pergi bekerja.

Dia juga mengungkap jika Mateen anti-gay. “Ia mengungkapkan intoleransi dengan homoseksual,” katanya. Mateen juga terbiasa menggunakan pisol. Kadang, Yusufiy mengatakan, Mateen pergi bersama temannya untuk menembak. Bahkan, dia pernah diancam akan ditembak Mateen.

Sementara itu, ayah tersangka, Omar Mateen, Seddique Mateen, kelahiran Afganistan, diketahui seorang pengamat yang kerap tampil di televisi untuk membahas masalah-masalah yang terjadi di Afganistan dan Pakistan dan sering mengunggah komentar di Facebook.

Omar Khatab, pemilik televisi Payam-e Afgan yang berpusat di California mengatakan, Seddique kadang-kadang mengisi acara program “Durrand Jirga” yang membahas masalah Garis Durand, yang membatasi Afganistan dan Pakistan.

Dalam wawancara dengan NBC News, Minggu (12/6), Seddique menegaskan, penembakan oleh anaknya itu tidak ada hubungannya dengan agama. “Kami meminta maaf atas semua kejadian ini,” kata Seddique Mateen.

Dia mengakui jika anaknya membenci homoseksual. Sebelumnya serangan di Orlando, Seddique mengatakan, Mateen pernah marah melihat dua pria sedang berciuman di depan istri dan anaknya.

Minggu (12/6) dini hari, suasana menikmati akhir pekan di Pulse Club, berubah mencekam. Para pengunjung klub itu berhamburan ke luar. Mereka ketakutan tatkala seorang pria bersenjata merengsek masuk dan menebar tembakan di klub yang biasa ramai didatangi kaum gay itu. Pelaku sempat melakukan penyanderaan. Selain menewaskan 50 orang, serangan itu juga melukai 53 orang.

Pihak pengelola klub telah menghimbau para pengunjung segera keluar, menjauhi klub. Namun, ada banyak pengunjung yang terjebak di dalam dan disandera pelaku. Aparat keamanan pun bergerak. Regu penembak dikerahkan, merengsek masuk untuk menghentikan ulah brutal pelaku.

Aparat lalu mendobrok pintu dengan dengan menggunakan kendaraan lapis baja, membebaskan puluhan pengunjung yang terjebak di dalam klub. Anjing pelacak pun dikerahkan. Setelah polisi menembak mati pelaku, beberapa korban tewas dan terluka di evakuasi.

Pulse Club merupakan tempat hiburan malam yang bernuansa Latin. Klub itu dikenal sebagai tempat mangkalnya para gay. Salah satu pendiri dan pemiliknya, Barbara Poma, membuka klub itu sejak lebih dari satu dekade. Kakaknya diketahui meninggal dunia setelah berjuang melawan HIV/AIDS.

Sebelumnya, dalam pernyataannya, ISIS mengaku bertanggungjawab atas penembakan di Orlando. Dalam pesan yang diterbitkan sebuah media yang kerap menyuarakan klaim-klaim ISIS, Amaq Agency, disebutkan Mateen adalah “tentara kekhalifahan”. Namun, agen FBI menyatakan, tidak menemukan keterkaitan antara penembakan di Pulse Club dengan ISIS.

M. Yamin Panca Setia 

Sumber : Reuters/NBC/Fox/CNN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s