Pesan Damai dari Vatikan

PERTEMUAN pemimpin lintas agama digelar di Vatikan, Roma, Italia, Senin (23/5). Imam agung Al-Azhar, Mesir, Syaikh Ahmad al-Thayyib, hadir dalam pertemuan yang juga dihadiri pemimpin gereja Inggris itu.

Inilah pertemuan antarpemimpin agama dunia pertama. Pertemuan itu membahas berbagai hal yang menjadi perhatian dunia, khususnya soal perdamaian. Pertemuan antara Ahmad al-Thayyib dan Fransiskus itu diawali dengan pelukan yang mengandung makna simbolis. Pertemuan pemimpin umat Katolik sedunia dan otoritas tertinggi Islam Sunni itu juga menandai membaiknya hubungan antara kedua agama sejak Fransiskus menjabat Paus di tahun 2013.

“Pertemuan kami adalah pesan,” kata Paus Fransiskus dalam komentar singkatnya kepada wartawan, Rabu (23/5). Dalam sebuah pernyataannya, Al-Azhar menyatakan Ahmad al-Thayyib telah menerima undangan Fransiskus dalam rangka mengeksplorasi upaya perdamaian.

Ahmad al-Thayyib hadir adalah Imam Al-Azhar dan mantan Presiden Universitas Al-Azhar sejak tahun 2003 lalu. Ahmad al-Thayyib diangkat oleh Presiden Mesir, Hosni Mubarak, setelah wafatnya Muhammad Sayyid Tantawy pada tahun 2010.

Abbas Shuman, Wakil Imam Agung Al-Azhar, mengatakan sikap Paus Fransiskus terhadap muslim yang mendorong Ahmad al-Thayyib untuk menemuinya. “Jika bukan karena posisi (Paus Fransiskus), pertemuan ini tidak akan terjadi,” ungkap Shuman.

Kunjungan Ahmad al-Thayyib juga ditujukan untuk meluruskan citra Islam dan mengoreksi kesalahpahaman yang diciptakan kelompok-kelompok tertentu di negara-negara Barat terhadap Islam.

“Dia mendorong agar otoritas di negara-negara barat tidak menganggap warganya yang muslim sebagai kelompok-kelompok yang mewakili ancaman,” kata Shuman seraya menegaskan Ahmad al-Thayyib mendorong umat muslim yang menetap di negara-negara barat untuk berbaur dengan masyarakat umumnya.

Hubungan Al-Azhar dengan Vatikan sebelumnya meregang lantaran Paus Benediktus XVI asal Jerman, melontarkan pernyataan yang mengutuk serangan terhadap komunitas Kristen di Mesir pada tahun 2011 lalu. Pernyataan itu berujung pada keputusan Al-Azhar untuk membekukan hubungan dengan Roma.

Paus Benediktus juga menyerukan pemerintah melindungi umat Kristen yang merupakan kelompok minoritas yang mengalami kekerasan di Irak dan Nigeria. Di tahun 2006, Paus Benediktus juga menyebut Islam adalah agama kekerasan sehingga memicu kemarahan pemimpin Islam.

Islam, sama halnya dengan agama-agama lainnya, antikekerasan. Tidak ada agama yang membenarkan kekerasan atas nama Tuhan. Dan, bukan hanya Islam, kekerasan yang mengatasnamakan agama, kerap kali meletup lantaran distorsi individu atau kelompok dalam memaknai nilai-nilai agama demi tujuan tertentu. Sangat tidak tepat menempatkan agama yang suci sebagai terdakwa dalam menyikapi peristiwa kekerasan kolektif yang mengatasnamakan agama.

Hubungan antara Vatikan dan gereja di Inggris juga sempat meregang lantaran perbedaan pendapat terkait keberadaan uskup perempuan dan isu gay. Adalah Libby Lane, yang dilantik menjadi uskup perempuan pertama di gereja Inggris tahun 2015 lalu.

Libby Lane, 48 tahun, dilantik sebagai Uskup Stockport di depan lebih 1.000 orang. Gereja di Inggris secara resmi mengadopsi undang-undang yang mengizinkan uskup perempuan pada November 2015 lalu. UU itu mengakhiri tradisi berabad-abad jika seluruh uskup gereja harus laki-laki. Namun, kebijakan itu memecah belah sejumlah penganut Gereja Anglikan.

Meregangnya hubungan Al-Azhar dengan Vatikan terjadi seiring meningkatnya ketegangan antara Muslim-Kristen di Mesir setelah pengeboman malam Tahun Baru di sebuah gereja Kristen Koptik di Alexandria yang menewaskan 21 orang.

Al-Azhar yang menjadi pusat ilmu pengetahuan terkemuka Muslim Sunni dunia, menyesalkan pernyataan Paus Benediktus yang menyudutkan Islam. Al-Azhar pun menghentikan dialog agama dua tahunan yang biasa digelar bersama Vatikan.

Kala itu, Ahmad al-Thayyib menyesalkan pernyataan Benediktus. Dia menegaskan, perlindungan terhadap orang Kristen adalah urusan internal dan memang harus dilakukan oleh pemerintah karena orang Kristen adalah warga negara yang memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Ahamd al-Thayyib yang memegang gelar PhD di bidang filsafat Islam dari Universitas Paris, Sorbonne, dikenal sebagai salah satu ulama Sunni moderat di Mesir. Dia juga menjabat sebagai Mufti Besar Mesir. Ahmad al-Thayyib adalah Sufi turun-temurun Syaikh dari Mesir dan telah menyatakan dukungan untuk liga Sufi global.

Namun, sikapnya jelas menentang zionis yang menjajah Palestina. Di tahun 2011, mengikuti revolusi Mesir, Ikhwanul Muslimin menggelar unjuk rasa di Masjid Al-Azhar untuk menentang Yahudisasi Yerusalem. Dan, dalam sebuah mimbar umum, Ahamd al-Thayyib menyatakan, “Masjid al-Aqsa saat ini sedang dalam serangan orang-orang Yahudi. Dan, kami tidak akan membiarkan kaum Zionis melakukan Yahudisasi di al-Quds (Jerusalem)”.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan di salah satu televisi di Mesir tanggal 25 Oktober 2013 lalu, Ahmad al-Thayyib menegaskan, “Sejak awal, Islam 1.400 tahun yang lalu, telah menderita gangguan Yahudi dan Zionis. Ini merupakan penyebab penderitaan besar bagi umat Islam.”

Dia juga mengutuk militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang bertindak brutal dengan menggunakan kedok agama dalam melancarkan terornya. Menurut Ahmad al-Thayyib, hukuman bagi mereka menabur kerusakan di muka bumi adalah kematian, penyaliban, pemutusan tangan dan kaki atau melakukan pengusiran.

“Ini adalah aib bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan menerima siksa yang pedih.” Ahmad al-Thayyib tegas menetang kekerasan yang mengatasnamakan agama. Namun, dia menuai kritik karena tidak menyatakan ISIS adalah sesat. Itu karena dia bukan penganut takfirism yang mudah menuding seorang muslim dengan sebutan murtad.

Ahmad al-Thayyib sangat menghormati Fransiskus. Pasalnya, Paus asal Argentina itu sangat humanis. Paus Fransiskus memang tidak hanya memihak pada umat Kristiani. Namun juga memihak kepada kemanusiaan, tanpa memandang agamanya. Dia juga senantiasa menyerukan perdamaian antarumat beragama.

Saat berkunjung ke sebuah masjid di Bangui, Ibu Kota Republik Afrika Tengah beberapa waktu lalu, Paus Fransiskus menyerukan agar umat Kristen dan Islam menjauhi kebencian dan kekerasan. “Kristen dan Islam bersaudara,” katanya saat berpidato di masjid Koudoukou.

“Mereka yang mengaku percaya kepada Tuhan, tentunya cinta perdamaian,” imbuhnya. Di kawasan yang dikunjungi Paus itu, sering kali meletup kekerasan bernuansa agama antara gerilyawan Muslim dengan kelompok Kristen.

Paus Fransiskus juga menunjukan pembelaannya terhadap imigran muslim Suriah di Eropa yang meninggalkan negaranya lantaran didera konflik bersaudara. Paus Fransiskus pernah membuat haru para pengungsi asal Suriah yang berada di sebuah kamp pengungsian Moria, yang berpagar di Pulau Aegean, Lesbos, Yunani. Mereka berebut mencium tangan Fransiskus. Di antara mereka juga ada yang bersimpuh di hadapan pemimpin umat Katholik sedunia itu.

Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, pemimpin Gereja Inggris dan pemimpin spiritual Anglikan se-dunia, dalam sebuah pernyataannya juga menyatakan, Anglikan dan Katolik telah terlibat dalam dialog yang sangat dekat satu sama lain sejak tahun 1966.

“Kami sekarang ditantang untuk menemukan cara yang lebih mendalam menempatkan pelayanan dan misi, di mana iman kita dipanggil ke dalam kesatuan yang lebih dalam, di sisi orang miskin, keadilan, dan kebenaran Allah,” katanya. “Kami juga berjuang melawan kejahatan dan kekejaman.”

Uskup Marcelo Sanchez Sorondo juga mengatakan, kerjasama antara gereja Katolik dengan komunitas Anglikan dan Al-Azhar bisa membantu upaya membangun hubungan yang lebih erat antarumat beragama. “Saya pikir ini adalah pertama kalinya kami bekerjasama seperti ini,” katanya kepada wartawan seraya menambahkan hubungan antaragama yang membutuhkan studi yang mendalam.

Klaim Superioritas dan Islamphobia

Pertemuan antara pemimpin agama sedunia harus terus dilakukan untuk menekan gesekan antarumat beragama, termasuk mengembalikan peran agama yang terus tereduksi di era globalisasi. Para pemimpin agama memiliki peran penting dalam mempengarui persepsi, sikap, dan perilaku umat. Mereka adalah “Wakil Tuhan” yang ucapannya didengarkan umatnya.

Namun, perbedaan tafsir kalangan pemuka agama yang memunculkan mazhab dan berbagai aliran menyebabkan suatu agama terpolarisasi. Perbedaan penafsiran pun kadangkala memicu kekerasan. Selain itu, dalam upaya membangun toleransi antarumat beragama, para penganut agama kadang mengedepankan superioritas, fanatisme, dan merasa paling benar sebagai umat Tuhan. Sikap itu mengukuhkan sentimen agama, yang menjadi pemicu terjadinya konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Toleransi sejatinya membutuhkan sikap saling menghargai eksistensi agama lain, tanpa memaksakan kehendak agamanya kepada orang lain. Klaim-klaim yang paling benar sah-sah saja dihembuskan. Namun, sangat kurang tepat jika kemudian klaim-klaim itu dihembuskan di ruang-ruang yang dihuni individu atau kelompok yang mengadopsi agama atau kepercayaan yang berbeda. Klaim-klaim itu dapat membakar emosi menjadi anarki. Paham fanatisme sempit hanya akan mengubah wajah damai agama menjadi menyeramkan.

Upaya membangun hubungan antarumat beragama yang diinisiasi para pemimpin agama perlu harus terus dilakukan. Wacana toleransi harus terus dikembangkan, karena harus diakui, bagi kalangan orientalis, meminjam istilah Edward M Said dalam bukunya Orientalisme, Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukan Timur Sebagai Subjek (2010), Islam dianggap sebagai provokasi yang nyata.

Mereka pun memandang Islam dan negara-negara Timur Tengah derajatnya lebih rendah dibandingkan negara-negara barat. Namun, pada dasarnya, Edward M Said menggarisbawahi, secara geografis dan kultural, eksistensi Islam menggelisahkan barat dan Kristen.

Karena, tanah-tanah Islam terletak bersebelahan dengan, bahkan di atas tanah-tanah yang menjadi basis kekuasaan injil, terlebih jantung kawasan Islam, merupakan kawasan yang paling dekat dengan Eropa, yang selama ini disebut “Timur Dekat.”

Dan, harus diakui, gesekan antara Islam-Kristen masih terjadi lantaran berakar dari dimensi historis. Dalam catatan sejarah, Islam pernah menaklukan imperium Romawi di bagian barat dan Persia di bagian timur, menggantikannya dengan Daulah Islamiyah.

Pengaruh Islam juga menyebar ke Afrika hingga Asia Tenggara. Muncul pula kota-kota yang menjadi basis Islam di kawasan Asia Tengah, bekas Uni Soviet, China, Eropa Timur, Spanyol, Italia bagian Selatan, dan Sicilia.

Kejayaan Islam itu membentang luas sejak akhir abad VII hingga pertempuran Lepanto tahun 1571. Islam, baik dalam bentuk Arab, Turki, maupun Afrika Utara dan Spanyol pun kini dianggap mengancam Kristen dan Eropa.

Fenomena sosial inilah yang diramalkan Samuel Huntington dalam bukunya Clash of Civilization, setelah berakhirnya perang dingin, yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, akan terjadi benturan antarperadaban: antara Islam dan barat sebagai representasi Kristen.

Sentimen terhadap Islam pun makin meluas tatkala serangan teroris militan ISIS menghujam jantung Eropa. 13 November 2015 lalu, serangan beruntun menghujam Paris, Perancis. Serangan pertama menyasar ke kerumuman massa yang tengah menyaksikan suguhan konser grup musik beraliran rock, Eagles of Death Metal, di gedung pertunjukan Bataclan.

Sejumlah pria bersenjata Kalashnikov (AK-47) juga menyerang Place de la Republique dan Place de la Bastille, dan tiga restoran yang banyak didatangi pengunjung. Serangan juga diarahkan ke  restoran pizza dan restoran Kamboja, Le Petit Cambodge.

Serangan yang menewaskan 129 orang itu menjadi kekerasan paling mengerikan, yang mengguncang Perancis sejak Perang Dunia II.  Serangan itu juga terjadi setelah 10 bulan penyerangan yang menewaskan staf majalah satir Charlie Hebdo yang menghina Nabi Muhammad SAW. Serangan itu juga menggucang Eropa sejak pengeboman kereta di Madrid, Spanyol di tahun 2004 yang menewaskan 191 orang.

Militan ISIS mengklaim sebagai pihak yang bertanggungjawab atas serangkaian serangan tragis itu. Motif serangan adalah balasan atas pengeboman yang dilakukan tentara Perancis terhadap militan IS di Suriah. Perancis merupakan negara yang tergabung dalam koalisi anti ISIS yang dipimpin Amerika Serikat.

27 September 2015, Perancis turut melancarkan serangan udara, menggempur basis dan gudang logistik ISIS di Irak, bagian timur laut. Perancis juga mengirimkan pesawat pengintainya ke Irak dan memberikan bantuan senjata kepada para militan Kurdi.

Serangan berdarah juga menghujam Brussels, Belgia. Sedikitnya, 30 orang tewas akibat serangan bom yang diledakan di Bandara Zaventem dan stasiun kereta bawah tanah itu. Serangan yang terjadi di kala jam-jam sibuk, 22 Maret 2016 lalu itu memaksa otoritas di sejumlah negara Eropa memberlakukan kewaspadaan tingkat tinggi. ISIS lagi-lagi mengklaim bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Serangan yang berlangsung sangat terkoordinir itu diduga terkait aksi balasan setelah kepolisian Belgia meringkus Salah Abdeslam, tersangka utama penyerangan Paris. Abdeslam yang diduga terkait jaringan ISIS itu dikabarkan tengah mempersiapkan serangan di Belgia.

Serangan teroris itu pada akhirnya mengusik toleransi antarumat beragama. Ulah jahat para teroris yang mengatasnamakan Islam tentu merugikan umat Islam umumnya. Islamphobia pun bermunculan. Pemerintah Perancis menutup masjid-masjid karena dianggap menyebarkan pesan-pesan kebencian. Di Jerman, hasil jajak pendapat Forsa menunjukan, mayoritas responden (52 persen) menolak Islam bagian dari Jerman.

Sementara 44 persen sepakat dengan pernyataan mantan Presiden Christian Wulf yang di tahun 2010 menyatakan Islam menjadi bagian dari Jerman.Sebagian besar responden yang menolak Islam sebagai bagian dari Jerman merupakan basis partai konservatif atau ekstrim kanan. Sementara yang setuju Islam bagian dari Jerman berafiliasi dengan partai-partai liberal dan partai hijau.

Di sisi lain, Islam yang mengalami tekanan, terus tumbuh dan berkembang. Pemeluk Islam di Eropa dan Amerika Serikat meningkat. Perkembangan Islam pun memicu kekhawatiran barat. Dalam 30 tahun terakhir, jumlah umat Islam di seluruh dunia meningkat pesat.

Di tahun 1973, penduduk muslim dunia sekitar 500 juta jiwa. Namun, di tahun 2010, jumlahnya naik sekitar 300 persen menjadi 1,57 miliar jiwa atau satu dari empat penduduk dunia beragama Islam. Identitas dan budaya Islam dikhawatirkan mengikis identitas barat yang diklaim sebagai identitas kaum mayoritas.

Karenanya, muncul desakan untuk melindungi identitas, nilai dan budaya barat dari pengaruh Islam. Sampai-sampai, upaya protektif diaktualisasikan dengan cara-cara yang berlebihan: Islamphobia.

Agama Menjawab Krisis Nilai

Toleransi beragama juga menjadi kebutuhan di kala suburnya individualisme seiring mengakarnya paham liberal di sejumlah negara, khususnya di negara-negara barat. Spirit liberalisme yang menjadi ideologi para pemuja kapitalisme, secara langsung mereduksi nilai-nilai agama.

Perkembangan rasionalitas dan ilmu pengetahuan nyatanya turut meminggirkan nilai-nilai agama karena dianggap irasional dan menghambat perubahan. Para pemuja Marxisme menyebut agama sebagai candu. Demikian juga pencinta Nietzche yang terkenal dengan jargonnya “Tuhan telah mati”.

Pasca masa pencerahan di abad pertengahan, logika manusia berdaulat, menyingkirkan agama. Rasionalitas menjadi acuan lantaran menjadi alat indikator kebenaran. Apalagi, seiring banyaknya inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang diproduksi lewat otak manusia, membuat agama makin tersingkirkan.

Agama yang irasional dan sesuatu yang kuno pun dianggap menghambat laju perubahan yang menjadi tuntutan globalisasi. Sementara di sisi lain, fakta mengurai, masyarakat di era global, mengalami krisis nilai. Mereka laksana robot yang miskin pengetahuan rohani. Ada sesuatu yang hilang dalam diri manusia tatkala mereka terkooptasi oleh rasionalitas dan individualisme. Krisis nilai itu yang kemudian diyakini menjadi penyebab degradasi moral dan perilaku manusia di era modern.

Dalam kondisi demikian, agama yang dipinggirkan menjadi sesuatu yang dirindukan. Agama mulai dihadirkan, menjadi resep bagi manusia yang haus akan nilai. Makanya, di era yang serba gemerlap modernisasi dewasa ini, muncul gerakan yang menstransformasikan nilai-nilai agama guna mengarahkan manusia agar hidupnya lebih bermakna dengan siraman rohani.

Globalisasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menghubungkan manusia dari satu tempat ke tempat lain, institusi atau lembaga dan aktivitas kehidupan di seluruh dunia. Implikasi dari proses globalisasi itu kemudian meningkatnya tendensi global dalam membangun struktur tunggal yang mengatur laku hidup manusia, baik di bidang ekonomi, politik dan budaya.

Intensifnya globalisasi yang dipromosikan media, saluran teknologi informasi dan instrumen global lainnya, mampu menembus batas-batas negara, yang pada akhirnya menggiring bangsa-bangsa di dunia menjadi terintegrasi dan tunggal.

Kekuatan kapital telah mengkompresi dunia dan mengakibatkan munculnya saling ketergantungan (interdependensi) antarnegara. Akibatnya, muncul berbagai regulasi global yang meruntuhkan eksistensi dan dominasi peran negara.

Namun, seiring menguatnya pengaruh global, makin menguat pula diskursus mengenai globalisasi. Wacana globalisai terbelah menjadi dua kubu: penentang dan pendukung. Kritik terhadap sistem global sering mewarnai diskursus mengenai globalisasi. Resistensi terhadap globalisasi karena sistem yang didesain tidak adil. Globalisasi nyatanya mewarisi kegagalan: kemiskinan, ketidakadilan, ketertinggalan, dan ketergantungan.

Seperti yang dinyatakan Joseph E. Stiglitz, dalam Making Globalization Work (2006), globalisasi, selain berperan mendorong keberhasilan bagi sejumlah negara, juga mewarisi kegagalan. Di negara-negara bekas Uni Soviet, transisi komunisme menuju ekonomi pasar yang menjadi jargon globalisasi, justru mengakibatkan jatuhnya pendapatan dan standar hidup hingga 79 persen.

Pengalaman negara maju dan berkembang juga menunjukan jika mekanisme pasar gagal mendorong pemerataan kemakmuran dan menekan masalah-masalah sosial. Saat memegang jabatan di Bank Dunia, Stiglizt pernah menerbitkan sebuah studi berjudul: Suara Masyarakat Miskin (Voices of the Poor).

Sebuah tim ekonomi dan peneliti mewawancarai sekitar 60.000 pria dan wanita miskin dari enam puluh negara dalam rangka mengetahui bagaimana perasaan mereka tentang situasi saat ini. Jawaban mereka tidak mengherankan. Mereka menilai masalah kemiskinan saat ini tidak hanya kurangnya penghasilan. Tetapi, perasaan tidak nyaman karena khawatir kehilangan pekerjaan dan turunnya pendapatan akibat krisis global yang mengancam negaranya.

Sementara Anthony Giddens (1991) dalam bukunya berjudul The Consequences of Modernity menilai modernitas yang menjadi realitas globalisasi berpotensi memisahkan manusia dan masyarakat dari kerangka identitas lokalnya.

Globalisasi merupakan intensifikasi pemisahan waktu dan ruang dan hubungan sosial seluruh dunia yang menghubungkan antarnegara yang satu dengan negara lain yang secara geografis berjauhan. Dari interaksi itu kemudian mempengarui peristiwa di tingkat lokal. Bagi Gidden, globalisasi mengacu pada peningkatan refleksivitas, yang memperkecil ruang dan waktu, bahkan terkait kekuasaan.

Globalisasi diakui atau tidak, telah mereduksi nilai-nilai agama, termasuk tradisi leluhur dalam kehidupan masyarakat. Di tengah krisis nilai, agama seharusnya hadir dalam kehidupan masyarakat mereduksi esensi hubungan sosial dalam konteks kemajemukan yang pernah terbangun dengan baik.

Agama dapat menstimulan berkembangnya peradaban manusia di era modern dengan menerapkan laku hidup rasional yang juga berbasis pada nilai-nilai agama dan budaya. Harus diakui, agama turut serta dalam membentuk peradaban manusia.

Sayangnya, agama justru terjebak dalam pusaran konflik yang mendistorsi kesucian agama. Agama pun gagal menjalankan fungsinya sebagai guidance kehidupan manusia dengan segala kompleksitasnya.

Meski demikian, fakta mengurai, agama tetap eksis meski di bawah kepungan sekulerisme dan liberalisme. Globalisasi memang telah mengubah struktur sosial, ekonomi, politik dan budaya sebuah negara. Namun, globalisasi sulit mengikis agama. Agama tetap bertahan karena menyangkut relasi manusia dengan Tuhannya, yang tak hanya menentukan hidup manusia di dunia, namun di akherat kelak.

Karenanya, yang kini muncul gejala manusia kembali ke agama, karena merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Bisa saja, kegagalan globalisasi telah menggiring manusia untuk mengadopsi lagi nilai-nilai agama guna mencapai ketenangan jiwa.

Bahkan, di era globalisasi dewasa ini lahir kembali gerakan fundamentalisme agama yang mengajak umat manusia kembali mengadopsi nilai-nilai agama secara murni. Namun, sikap resistensi dan antiperubahan itu kerap kali berseberangan dengan nilai-nilai umum yang berkembang di era modern. Akibatnya, yang terjadi konflik nilai yang kadang bermuara pada kekerasan.

Di sisi lain, agama juga dapat menjadi acuan bagi umat manusia agar dapat menjalani laku hidup yang berimbang. Manusia memang dituntut untuk bersikap terbuka atas tuntutan perubahan jaman. Namun, tetap perlu mengadopsi agama sebagai acuan moral dan perilaku sebagai filter nilai-nilai global yang merusak tatanan kehidupan manusia.

Dalam konteks sosiologis, agama juga menjadi instrumen integrasi sosial dan membentuk solidaritas sosial. Lewat pesan-pesan sucinya, agama dapat menyatuhkan masyarakat. Pengaruh agama itu tentu tidak dapat diabaikan, di tengah kehidupan masyarakat global yang terpolarisasi.

Walau bagaimana pun manusia di era modernisasi dewasa ini tidak bisa menolak pengaruh modernisasi. Harus diakui, modernisasi telah membentuk manusia lebih produktif, efektif, dan efisien dalam menjalani aktivitas kehidupan. Namun, tanpa agama, kehidupan manusia laksana robot. Dalam konteks ini, agama mengarahkan modernisasi berjalan dengan lebih manusiawi sehingga perlu mengakui eksistensi nilai-nilai ideal yang ditransformasikan agama.

Masyarakat di era modern seakan asing dari nilai. Laku hidupnya lebih ditentukan motif kepentingan dan untung rugi. Padahal, manusia juga membutuhkan acuan nilai yang menjadikan kehidupannya lebih bernilai. Padahal, rasionalitas manusia sangat terbatas dalam menentukan kebenaran yang hakiki.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Guardian/AFP/Reuters/BBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s