Menangkal Hasutan Paham Radikal

Para militan yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and Al-Sham (ISIS) menjadi momok menakutkan warga dunia. Mereka menebar teror lewat perilaku barbar yang tak berperikemanusiaan. 

Mereka menjadi algojo, yang begitu bengis membunuh orang-orang tak berdosa guna menunjukan eksistensinya. Nilai-nilai agama yang sakral dijungkirbalikan. Kitab suci dan sabda nabi terdistorsi oleh anasir-anasir jahat mereka yang menyerukan permusuhan.

Mereka laksana mesin yang memproduksi teror, darah, dan air mata, yang memancing amarah dan emosi dunia. Mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan akal sehat, tak lagi mampu mengendalikan hasrat berkuasa. 

Mereka terkooptasi oleh pikiran-pikiran jahat, kegilaan, dan perilaku biadab. Demi hasrat kekuasaan, mereka juga memprovokasi orang lain agar mengikuti jejaknya dengan iming-iming surga.

Pergerakan kelompok radikal itu makin meluas. ISIS terus menciptakan benih-benih militan radikal yang siap berlumuran darah untuk melanjutkan misinya memperluas kekuasaan Islam. Sampai-sampai, mereka pun merekrut anak-anak untuk dilatih bertindak barbar.

Miris saat melihat video yang disebarkan ISIS, 13 Januari lalu, yang menayangkan seorang bocah berusia sekitar 9 tahun, mengeksekusi mati dua orang yang diduga mata-mata Rusia yang tengah memata-matai gerakan ISIS. Bocah itu menambak mati dua orang yang diketahui bernama Jambulat Mamaev dan Sergei Ashimov.

ISIS lalu bermetamorfosis menjadi Islamic State (IS) yang gerakannya mengglobal. IS mulai merekrut militan-militan dari sejumlah negara untuk bersama-sama mewujudkan misi membentuk negara Islam—yang tidak hanya di Suriah maupun Irak. Jumlah militan IS diperkirakan mencapai 12 ribu orang yang berasal dari 70 negara.

Peter Neumann dari King College London seperti dikutip BBC (2/8/2014), memperkirakan, sekitar 80 persen militan IS di Suriah berasal dari negara-negara barat. ISIS yang dibentuk April 2013 itu diperkirakan berakar dari al-Qaeda di Irak (AQI) yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi.

Pada tanggal 4 Oktober 2011, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan al-Baghdadi sebagai pentolan teroris global yang paling dicari. AS menjanjikan hadiah sebesar US$10 juta kepada siapapun yang berhasil menangkapnya hidup atau mati.

Analis intelijen Amerika dan Irak melaporkan pada tahun 2014, al-Baghdadi bergelar doktor studi Islam dari Universitas Islam Baghdad. Namun, keberadaan al-Baghdadi hingga kini masih misterius.

“Mereka (Pemerintah AS dan Irak) tahu secara fisik siapa orang ini, tapi latar belakangnya hanya mitos,” kata Patrick Skinner dari Soufan Group, sebuah perusahaan konsultan keamanan.

Namun, ada juga informasi yang menjelaskan al-Baghdadi pernah menjadi militan jihad selama pemerintahan Presiden Saddam Hussein di Irak. Lalu, ada juga yang menganggap al-Baghdadi adalah seorang ulama di sebuah masjid waktu invasi militer pimpinan AS di Irak pada tahun 2003 lalu.

Setelah invasi AS di Irak berakhir, al-Baghdadi membantu mendirikan kelompok militan Jamaah Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ), di mana ia menjabat sebagai ketua komite syariah. Pada tahun 2010, al-Baghdadi muncul sebagai pemimpin al-Qaeda di Irak—yang diyakini menjadi cikal bakal ISIS.

Lain lagi versi Wikileaks yang pernah mengungkap jika al-Baghdadi adalah milisi yang pernah dilatih CIA dan Mossad. Mantan intelijen CIA Edward Snowden juga mengungkap jika ISIS diciptakan oleh intelijen AS, Inggris, dan Israel.

IS mengklaim memiliki militan dari Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, serta Amerika Serikat, dan negara-negara di kawasan timur tengah. ISIS mampu memperluas jaringannya lantaran menggunakan internet. Media sosial menjadi sarana untuk merekrut dan menebar paham radikalisme.

Di tahun 2013, IS berhasil menguasai Kota Raqqa, Suriah. Lalu, pada Januari 2014, IS memanfaatkan ketegangan antara minoritas Sunni Irak dan pemerintah Syiah, dengan mengambil alih Kota Fallujah, di provinsi Anbar bagian barat, yang penduduknya didominasi Sunni. IS juga menyita sebagian besar kawasan di ibukota provinsi, Ramadi, dan hadir di sejumlah kota yang dekat dengan perbatasan Turki dan Suriah.

Awalnya, ISIS mengandalkan sumbangan dari orang-orang kaya di negara-negara Teluk, terutama Kuwait dan Arab Saudi, yang mendukung perang melawan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Kini, IS dilaporkan mendapatkan dana dalam jumlah yang signifikan dari ladang minyak yang dikendalikan di Suriah bagian timur. Neumann memperkirakan, IS mengantongi dana sekitar US$2 miliar untuk menopang aksinya. Kelompok tersebut juga merampok ratusan juta dolar sejumlah bank di Irak.

Indonesia menjadi salah satu target yang dibidik ISIS untuk mengekspor para militan. Pasalnya, belum lama ini, diketahui ada 12 warga negara Indonesia (WNI) yang diamankan otoritas Turki lantaran diduga akan bergabung dengan ISIS. Mereka telah dideportasi dari Turki. Kini, mereka dalam kawalan Tim Densus 88 Antiteror Polri.

Kamis (26/3) lalu, Tim Densus 88 Antiteror juga menggerebek tiga rumah terduga jaringan ISIS, Helmi Alamudi, Ahmad Junaedi, dan Abdul Hakim, di Malang, Jawa Timur. Aparat dengan senjata lengkap mengamankan para terduga teroris itu.

Kepala Kepolisian Jawa Timur Irjen Polisi Anas Yusuf mengatakan, ketiganya pernah menjalani pelatihan militer di kamp perbatasan Suriah selama enam bulan. Ketiganya diketahui murid Salim Mubarok alias Abu Jandal. Sosok yang pernah muncul di Youtube itu mengajari Helmi Alamudi, Ahmad Junaedi, dan Abdul Hakim, teknik berperang.

Penangkapan para terduga ISIS itu menjadi “warning” bagi pemerintah Indonesia jika ancaman ISIS telah merambah ke Indonesia. ISIS harus diperangi agar negara ini steril dari radikalisme yang mengatasnamakan agama.

Jika aparat berwenang lalai, bisa jadi mereka menjadikan Indonesia yang majemuk ini layaknya Suriah bagian Timur atau Irak bagian utara dan barat. Di sana, militan ISIS tak segan membunuh lelaki remaja dan dewasa serta memperkosa perempuan yang berbeda agama maupun aliran dengannya.

Sejatinya, Islam menentang cara-cara barbar yang dilakukan ISIS atau kelompok-kelompok radikal lainnya. Beberapa ulama besar seperti Syaikh Ali Hasan al-Halaby (Yordan), Syaikh Najih Ibrahim (Mesir), maupun Syaikh Muh Tahir ul Qadri (Pakistan), menganggap radikalisme dan terorisme seperti ISIS, bukan Islam.

ISIS menganut paham takfiri dan jihad ekstrim. Takfiri adalah paham yang mengkafirkan orang-orang muslim yang dianggap moderat, dan tidak melaksanakan syarat-syarat keislaman. Penganut takfiri menganggap muslim lainnya kafir jika tidak bersedia dibaiat sesuai keyakinan dan imamnya. Mereka juga menentang demokrasi dan pemerintahan sekuler

Ketua Dewan Ulama Senior Kerajaan Arab Saudi  Syaikh Abdul Azis bin Abdullah menganggap radikalisme maupun terorisme bukan bagian dari Islam, bahkan menjadi musuh besar Islam. Para pemuja radikalisme dan terorisme tersebut dianggap perpanjangan Khawarij yang merupakan kelompok pertama yang keluar dari Islam karena sikapnya yang mengkafirkan kaum muslim lainnya.

Khawarij dipahami sebagai sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya. Pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, terpusat di Irak selatan, dan merupakan bentuk yang berbeda dari Sunni dan Syi’ah. Mereka keluar dari dinul Islam dan pemimpin kaum muslimin.

Raja Abdullah juga menegaskan tidak akan membiarkan kelompok teroris mempergunakan Islam untuk kepentingan dan menakut-nakuti umat muslim. Dia menganggap ISIS maupun Al-Qaeda adalah organisasi terlarang.

Radikalisme ISIS atau kelompok-kelompok fundamentalis lainnya merupakan gerakan yang bertujuan melakukan perubahan cepat dengan menempuh jalur kekerasan (violence).

Mereka juga menebar klaim-klaim kebenaran sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya, dan merasa memiliki kewenangan untuk memaksa dan menghakimi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dengan mengatasnamakan Tuhan.

Mereka yang mengikuti pemerintah dianggap sesat dan harus dilawan, dengan jihad, meski harus membunuh. Doktrin-doktrin itu disebar guna mempengaruhi muslim lainnya untuk melakukan cara-cara ISIS dengan jaminan surga. Doktrin itu menyesatkan. Pasalnya, Islam sejatinya adalah agama yang mencintai kedamaian (rahmatan lil alamin). Radikalisme Islam ala ISIS sudah melabrak nilai-nilai Islam. Mereka mencoreng wajah Islam.

Untuk melawan radikalisme ISIS atau kelompok-kelompok fundamentalis lainnya, maka perlu dilakukan pendekatan preventif secara terus menerus tentang pemahaman Islam moderat dan deradikalisasi. Peran tersebut dilakukan mulai dari sekolah, keluarga dan masyarakat.

Sejumlah organisasi Islam seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan ormas-ormas Islam lainnya juga memainkan peran penting dalam melakukan pendekatan preventif, menghalau penyebaran paham-paham radikalisme agama di masyarakat. Perlu terus mengkampanyekan Islam sebagai agama yang mencintai perdamaian.

Tindakan itu juga dibarengi dengan upaya memfilter saluran-saluran informasi yang dapat digunakan untuk mendistribusikan paham-paham radikalisme seperti internet.

Pendekatan represif juga dapat dilakukan dengan menangkap pelaku maupun para terduga ISIS—lalu secara intensif melakukan penyadaran untuk melenyapkan paham-paham radikalisme yang merasuk di diri pelaku. Aparat berwenang juga tidak boleh toleran terhadap segala bentuk propaganda yang menebar kebencian maupun permusuhan atas nama agama.

Tindakan represif dilakukan—tanpa harus membunuh dan menghormati hak asasi manusia (HAM), perlu dilakukan kepada mereka yang diketahui pernah terlibat dalam jaringan teroris.

Singkatnya, radikalisme agama yang menghalalkan yang haram ala ISIS harus menjadi musuh bersama. Jika dibiarkan, radikalisme agama akan merusak pluralisme sebagai realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s