Mereka Menebar Inspirasi

Sudah 67 tahun bangsa ini merasakan nikmat kemerdekaan. Di setiap kali memperingati hari kemerdekaan, perlu kiranya bangsa ini melakukan refleksi. Perayaan kemerdekaan tentu tidak hanya seputar kegiatan seremonial atau semarak dengan lomba-lomba saja. Namun, banyak ragam yang bisa dilakukan mengisi kemerdekaan bangsa ini. Tidak harus dengan darah dan air mata seperti para pejuang yang berlaga di medan perang. Makna kemerdekaan harus dirawat, dengan diisi perjuangan yang memerdekaan banyak orang.

Di negara ini, begitu banyak kisah yang diukir mereka-mereka yang menginsiprasi. Dengan segala cara, mereka merawat kemerdekaan dengan melakukan tindakan untuk kemaslahatan negeri ini. Semangat juang mereka layak diapresiasi karena mengabdi tanpa pamrih. Mereka layak menyandang pahlawan masa kini.

Simak perjuangan Pastor Samuel Oton Sidin. Di sela-sela kegiatan keagamaannya, dia melakoni aksi penyelamatan lingkungan. Samuel berupaya mengintegrasikan antara nilai-nilai religis dengan lingkungan. Dia membuat Rumah Pelangi, mengikuti kisah Nabi Nuh tentang Perahu Besar yang menjadi penyelamat umat manusia yang beriman pada Tuhan dari bencana alam. Rumah Pelangi yang berada di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sei Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat itu, dihadirkan Samuel, agar umat manusia selalu bersahabat dengan lingkungan sehingga terselamat dari bencana alam. Bukan justru memenuhi nafsu merusak alam.

Kisah lain dilakoni Sariban. Lelaki berusia 69 tahun itu, kesehariannya hanya bercengkrama dengan sampah. Di tengah kondisi Kota Bandung yang semakin semraut lantaran sampah yang bertebaran, Sariban rela menjadi “sapu jagat‘ yang membersihkan kota Bandung dari sampah. Hebatnya, dia sama sekali tidak diupah dari jerih payahnya. Sariban ikhlas melakukan bersih-bersih setiap harinya karena merindukan Kota Bandung yang dulu indah dan bersih.

Kisah Surya Gandamana mengajarkan kepada khalayak akan pentingnya semangat juang dalam menghadapi kehidupan. Dia membuktikan jika kegagalan adalah sukses yang tertunda. Setelah gagal menjadi pengusaha, dia banting setir menjadi petani sukses yang berhasil memperbaiki nasib petani. Dia mengubah model bercocok tanam padi yang konvensional, menjadi lebih modern sehingga mendongkrak hasil panen petani.

Sementara Nurohim menebar pencerahan kepada anak-anak jalanan lewat sekolah Master yang dikelolanya. Dia membuka mengajarkan anak-anak jalanan yang miskin agar tidak kalah dengan anak-anak gedongan dalam meraih prestasi di bidang pendidikan. Nurohim sukses meracik anak-anak jalanan menjadi manusia intelek yang diharapkan dapat menjadi penerus bangsa.

Di negara ini, begitu banyak aktor yang memainkan lakon layak Samuel, Sariban dan Nurohim. Pengabdian mereka demi negeri yang jauh dari sorotan media, diharapkan menginspirasi khayalak. Mereka adalah orang-orang yang berpikir dan berjuang tanpa lelah. Mereka yang mampu menghasilkan karya insipiratif sehingga layak dicontoh demi kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara.

Kehadiran mereka menjadi lilin tatkala negara ini disesaki kegelapan lantaran perilaku “masa bodoh” terhadap kepentingan dan masa depan bangsa. Pengabdian, karya dan prestasi mereka harus melecut semangat semua elemen bangsa ini menuju masa depan gemilang, menjadi bangsa besar. Seperti pesan yang disampaikan Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, “Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekadar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu,” sarannya menebar semangat.

PENEBAR PENCERAHAN


SEBUAH kalimat yang mematik semangat terpampang di ruang tengah kantor Indonesia Mengajar, di kawasan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Satu Tahun Mengajar, Seumur Hidup Memberi Inspirasi,” begitu bunyi kalimat itu. Kalimat itu menyadarkan akan pentingnya menjadi seorang pengajar. Peran mereka sangat penting guna menebar pencerahan kepada jutaan anak bangsa yang masih dililit kebodohan.

Bagi mereka yang berusia muda, dengan tingkat intelektualitas yang tinggi dan idealisme yang membara, tentu tak kuasa menyaksikan anak-anak bangsa ini terus terjebak dalam kebodohan yang menjadi pangkal kemiskinan. Hati nurani mereka memberontak, lalu melakukan tindakan guna memecahkan masalah tersebut. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah menjadi pengajar.

Itulah yang menjadi salah satu tujuan dibentuknya Indonesia Mengajar yang didirikan Anies Rasyid Baswedan. Indonesia Mengajar yang dikelola anak-anak muda, hadir sebagai lilin yang menerangi arah masa depan bangsa ini. Tugas yang mereka emban adalah menjawab janji kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Saya merasa, janji kemerdekaan harus kita lunasi bersama-sama. Janji kemerdekaan kita itu adalah mencerdaskan, menyejahterakan, dan melindungi,” ujar Anies yang menjabat sebagai Presiden Indonesia Mengajar mengawali perbincangan.

Di tengah agendanya yang padat, Anies menyempatkan diri untuk diwawancarai Jurnal Nasional di Kantor Indonesia Mengajar. Pertemuan singkat dengan Anies yang mengenakan baju batik, setelah berbuka puasa pada Rabu (8/8) lalu itu menyisahkan kesan yang mendalam. Betapa tidak, pemikiran dan pandangan Rektor Universitas Paramadina itu sangat jauh ke depan dan menginspirasi untuk berpikir dan bertindak positif demi kepentingan banyak orang. Tutur katanya yang bijak dan bebas nilai, dengan kedalaman makna dari setiap kata dan retorika yang dilontarkan, juga selalu ditutup dengan senyum yang memberikan harapan.

Menurut Anies, keberadaan Indonesia Mengajar yang berdiri sejak pertengahan tahun 2009 adalah untuk mengajak semua pihak agar menyelesaikan pendidikannya. Indonesia Mengajar tidak didanai pemerintah. Namun, didanai perusahaan lewat program tanggungjawab sosial (corporate social responsibility/CSR).

Indonesia Mengajar telah menunjukan perkembangan yang signifikan. Peminatnya sangat membludak. Di tahun 2010 lalu misalnya. Indonesia Mengajar hanya menerima 71 orang dari 8.500 orang yang mendaftar. Sejak didirikan dari 2009, sudah lebih dari 35.000 orang yang mendaftar. Mereka yang diterima itu kebanyakan lulusan terbaik dari perguruan tinggi, mayoritas sudah bekerja, dan akan dilatih selama empat hingga tujuh bulan. Kemudian, ditempatkan selama satu hingga lima tahun di daerah untuk menjadi guru Sekolah Dasar (SD) hingga menjadi ambasador.

Menjadi pengajar di Indonesia Mengajar tentu bukan untuk mendapatkan pekerjaan yang nyaman dengan pendapatan yang tinggi. Namun, ada nilai hidup yang paling esensial yang akan mereka dapatkan, yaitu mengabdi demi kemajuan negeri. Setidaknya, pengabdian mereka mengajar, akan memberikan inspirasi seumur hidup bagi anak bangsa yang dididiknya.

Tingginya anak muda yang berminat gabung bersama Indonesia Mengajar, membuat Anies yakin Indonesia tidak akan kekurangan para pejuang pendidikan. “Kita masih punya cukup stok pejuang!” katanya optimistis.

Anies pun mengapresiasi dukungan orang tua kepada anak-anaknya yang menjadi pengajar di Indonesia Mengajar untuk mengabdi bagi kemajuan masyarakat yang tertinggal di daerah nun jauh di sana. “Anak-anak yang berangkat ke pelosok, di belakang mereka itu ada orang tua, ada keluarga yang mendukung. Kita harus menunjukan sisi cerah dari republik ini. Jangan pesimis!” tandasnya.

Pemikiran dan karakter dari suami Fery Farhati Ganis dan ayah empat anak ini tentang visi perubahan lewat upaya memajukan pendidikan Indonesia dengan bersama-sama, tak lepas dari didikan keluarga. Anies yang dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969, tinggal dan besar di rumah kakeknya Abdurachman Baswedan, di kota pelajar Yogyakarta. Abdurachman adalah seorang nasionalis, jurnalis, sastrawan, dan diplomat yang turut berjuang bagi kemerdekaan bangsa ini. “Nenek saya juga aktivis, pernah mengikuti kongres pergerakan tahun 1920-an di Yogyakarta,” ujarnya.

Sedangkan sang ayah, Rasyid Baswedan pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Ibu Anies, Aliyah Rasyid adalah guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Latar belakang orang tuanya sebagai akademisi itu yang kemudian dilanjutkan Anies yang kini mengabdikan dirinya sebagai pengajar.

Ajaran orang tua berpengaruh besar terhadap pembentukan karakternya. Di keluarganya, sudah terbiasa dengan tradisi intelektual seperti berdebat secara terbuka, yang disampaikan dengan sopan, serta ekspresi yang lugas. “Peran keluarga sangat penting. Menjadi seorang yang terdidik dan aktivis, bukan sesuatu yang baru dan aneh untuk keluarga kami,” tuturnya membayangkan masa lalu.

Dengan merendah, Anies mengungkapkan, bila apa yang didapatnya saat ini adalah cermin pahala orang tua, dari doa dan didikan mereka. Anies memandang pentingnya pendidikan di keluarga, bukan sekadar buku-buku yang menjadi sahabatnya. “Saya sangat merasa beruntung dan sangat bersyukur,” ucapnya.

Dari pengalaman bersama keluarganya itulah, Anies kemudian menyimpulkan, jika seorang pemimpin berperan sebagai pendidikan yang menerbar nilai, pandangan, dan visi. Karenanya, dia selalu menyadarkan kepada pengajar Indonesia Mengajar jika mereka adalah pemimpin. “Saat kalian (pengajar Indonesia Mengajar) berangkat ke sebuah kelas, di depan kelas kalian bukan hanya guru. Kalian adalah pemimpin.”

Dari didikan orang tuanya itu, Anies sudah menjadi organisator sejak usianya 12 tahun dengan membentuk Klub Anak Berkembang (Kelabang) di daerahnya, Ketua Organisasi Siswa (OSIS) se-Indonesia, dan di masa kuliah sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM).

Dalam bidang pendidikan, lulusan Doktor Ilmu Politik dari Northern Illinois University, Amerika Serikat itu memainkan peran signifikan dalam ranah pendidikan Indonesia sebagai Rektor Universitas Paramadina sekaligus rektor termuda di Indonesia. Anies menjadi rektor kala usianya belum genap 40 tahun. Tak hanya itu, Anies pun masuk 100 intelektual dunia versi jurnal Foreign Policy (FP) yang terbit di Amerika Serikat. Namanya sejajar dengan tokoh dunia seperti Noam Chomsky, Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen, serta Vaclav Havel.

Sementara, World Economic Forum, yang berpusat di Davos, pada Februari 2009 lalu, memilih Anies sebagai salah satu Young Global Leaders. Tak hanya itu, Anies juga terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April 2010 lalu.

Ketika usia negeri ini usai kemerdekaan, beranjak ke-67 tahun, Anies menyesalkan jika sebagian penghuni bangsa ini cenderung pesimistis dengan kondisi negeri yang runyam dengan laku korupsi yang kerap ramai diberitakan media massa. Sementara ada masalah lain yang juga butuh perhatian yaitu pendidikan yang akan menentukan nasib 240 juta orang di negara ini.

Anies dengan nada optimistis mengajak penghuni bangsa ini untuk melihat Indonesia secara dingin dan objektif karena manusia Indonesia akan menjadi aset kekayaan terbesar bangsa ini jika dididik. Dengan begitu sumberdaya manusia yang dimiliki bangsa ini sangat melimpah. Ya! Lihatlah China yang mampu menjadi bangsa yang disegani karena memiliki sumberdaya manusia yang melimpah. Jumlah penduduk yang begitu besar dengan tingkat produktifitas yang tinggi menjadi kekuatan China untuk menjadi bangsa yang disegani.

Belajar dari China, Indonesia harus mendongkrak usia produktif yang jumlahnya sangat banyak menjadi sumberdaya manusia yang mumpuni. Dan, sektor pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk manusia-manusia yang berilmu pengetahuan, menguasai teknologi, bermoral, berbudi pekerti, berwatak, dan kepribadian yang tangguh dan unggul. “Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekadar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu,” ucap Anies menebar semangat. RATU SELVI AGNESIA

MENCETAK PENERUS BANGSA DARI JALANAN


KONOTASI negatif kerap menerpa komunitas anak-anak jalanan. Sebagian masyarakat seringkali menstigma mereka sebagai kumpulan orang-orang yang terbuang yang masa depannya suram. Tapi, tidak bagi pria kelahiran 3 Juli 1971 bernama Nurohim. Dia menempatkan anak-anak jalanan dalam posisi terhormat. Baginya, copet, maling, pengemis, pengamen, tukang becak, tukang koran, tukang asongan, tukang semir, dan orang miskin lainnya, memiliki kesempatan yang sama dalam meraih masa depan.

Ketimpangan struktural yang menyebabkan mereka sulit menjangkau pendidikan. Bukan karena otak yang kalah encer dengan anak-anak dari keluarga gedongan. Masalah itu bisa dihadapi. Asalkan, mereka memiliki kemauan untuk berubah dan mengenyam pendidikan di bangku sekolah. “Ingat pendidikan mengubah segala-galanya. Baik itu ekonomi, sosial, budaya, dan peradaban. Bukan latar belakang seseorang,” kata Nurohim kepada Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.

Anak-anak jalanan yang menjadi asuhan Sekolah Masyarakat Terminal (Master) yang dikelolanya, ternyata tak kalah cerdas dibandingkan anak-anak gedongan yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan. Sejak berdiri tahun 2000 silam, jebolan sekolah Master, mampu menembus perguruan tinggi negeri (PTN). Dari tahun ke tahun, angkanya terus meningkat.

Menurut suami Elvirawati itu, siswa didiknya yang diterima di PTN antara lain Dwi Wulansari (Universitas Negeri Jakarta jurusan Sastra Indonesia), Mohamad Irvan (Universitas Dipanegoro jurusan Ilmu Sejarah), Muhammad Muar (Universitas Soedirman jurusan Manajemen), Alfisyahrin (Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Luar Sekolah), Bagus Pangki (Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Luar Biasa), Safira (Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris), Prayudo (Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Luar Biasa), dan Andika Ramadhan Febriansah (Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Sejarah).

“Saya berharap mereka masuk ke PTN tanpa dipersulit biaya. Tapi kenyataanya sungguh lain, mereka semua tersandung biaya. Untungnya masih ada masyarakat yang mau melihat mereka maju, sehingga mereka dapat tetap melanjutkan kuliah seperti cita-cita mereka,” kata Rohim, sapaannya.

Menurut Rohim, para siswa yang berhasil lulus PTN ini merupakan hasil gemblengan selama enam bulan. Mereka diberi tambahan “suplemen‘ dari mahasiswa maupun beberapa guru bimbingan belajar (bimbel) dari seperti Primagama dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). “Dari 15 anak yang digembeleng secara akademis, delapan berhasil masuk ke PTN,” kata ayah empat anak itu.

Di tengah keterbatasan sekolah Master, Rohim berhasil menciptakan penerus bangsa yang potensial. Dia berharap keberhasilan Master dicontoh sekolah-sekolah lain agar menjadi lebih baik. Dia menyarankan kepada mereka yang memiliki finansial cukup, tidak perlu mengabdikan diri dalam kegiatan sosial hingga menunggu kaya raya. “Kalau mau berbuat ya berbuat saja, tidak perlu sampai menunggu kaya raya. Anak jalanan dari hari ke hari semakin banyak di kota ini. Kewajiban kita lah membantu mereka menjalani hidup lebih baik,” katanya.

Di Indonesia, ujar Rohim, sekolah Master sebetulnya tidak perlu ada. Sebab, pemerintah sudah banyak mendirikan sekolah bagi anak-anak kurang mampu. Kenyataanya, kata dia, sekolah seperti Master bukannya menghilang justru bertambah banyak. Hal itu terjadi karena jumlah orang miskin bukan berkurang, tetapi bertambah.

“Sekolah ini menerima murid setelah sekolah lainnya sudah tutup. Berharap dengan meluluskan 600 sampai 700 murid per tahun, maka akan semakin sedikit orang miskin. Namun, kenyataanya yang masuk ke sekolah ini tahun 2012 ini mencapai 1.200 orang,” kata dia sambil tertawa ringan. Selain berhasil menembus PTN, Rohim mengatakan, anak didiknya pun ada yang tembus sampai kuliah ke luar negeri dari mulai Afrika, Arab, dan negara-negara lainnya. “Tahun ini 30 orang tengah dipersiapkan untuk sekolah di Madinah,” katanya bangga.

Sekolah Master yang berada di Terminal Kota Depok, berdiri apa adanya. Sekolah yang didirikan Yayasan Bina Insan Mandiri itu menjalankan aktivitas belajar dengan fasilitas yang sangat sederhana. Hanya terdapat tiga gedung yang digunakan para siswa untuk belajar. Masing-masing gedung terdiri SMA, PAUD (pendidikan anak usia dini, Red), TK, SD dan SMP. Para siswa pun belajar dengan duduk lesehan lantaran tidak ada kursi.
Karena jumlah muridnya yang banyak, jadwal pelajaran pun dibagi menjadi tiga shift dalam sehari, yaitu pagi, siang dan malam. Para pengajar yang mendidik siswa-siswa dari keluarga tak mampu itu terdiri dari guru, mahasiswa, sarjana dan kelompok masyarakat yang peduli. Mereka tidak digaji. Bahkan, rela mengeluarkan uang untuk kelancaran aktivitas belajar mengajar. ISKANDAR HADJI

KAMPUS MURAH UNTUK SI MISKIN


KECINTAANNYA terhadap dunia pendidikan, sudah didedikasikannya sejak 30 tahun lalu. Jauh sebelum menjadi pegawai negeri sipil, (PNS), perempuan kelahiran Desa Sundan, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, (OKU), 57 tahun lalu itu, sudah mengabdikan diri sebagai guru swasta di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Palembang, Sumatera Selatan.

“Bagi saya, dunia pendidikan itu sudah seperti napas saya. Walaupun dari kecil saya tidak pernah bercita-cita jadi guru,” katanya suatu sore saat dijumpai di kantornya, Dinas Pendapatan Daerah, di Palembang.

Bungsu dari sembilan bersaudara ini bernama Sumaiyah. Di Kota Palembang, Sumatera Selatan, khususnya di kalangan kaum pendidik, namanya tak asing lagi. Dia dikenal sebagai sosok yang tegas, bertanggung jawab dan suka menolong.

Putri pasangan mendiang Muhammad Zahri dan Melia ini, bercita-cita memberikan yang terbaik untuk kemajuan dunia pendidikan. Salah satunya adalah mendirikan sekolah tinggi bagi mereka yang kurang mampu. “Ini cita-cita saya sejak muda. Ingin mendirikan sekolah. Kalau mendirikan sekolah dan dikelola dengan ikhlas, itulah yang akan menjadi ladang amal. Jadi bukan untuk sok-sok-an,” kata Sumaiyah.

Sekolah yang dikelolanya itu adalah Sekolah Tinggi Agama Islam. Letaknya bukan di Kota Palembang, tapi di Kabupaten OKU, Baturaja, sekitar 47 kilometer dari desa kelahirannya. Dia memilih Baturaja agar pendidikan tinggi dapat merambah ke anak-anak kampung. “Di Palembang kan, mereka yang sekolah adalah orang yang punya biaya. Jadi, walaupun mereka datang dari kampung, kalau ke kota, berarti punya uang untuk merantau,” katanya.

Sekolah yang didirikannya itu juga menampung guru-guru honor, guru PNS, atau masyarakat lainnya yang punya ijazah SMA, atau mereka yang bisa kuliah pada hari libur saja seperti Sabtu dan Minggu. “Berarti kan ikut membangun pendidikan dalam masyarakat. Alhamdulillah banyak manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.

Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam, yang dikelolanya, cerita Sumaiyah, sebetulnya milik keluarga yang dipercayakan kepadanya. Sekolah itu berada di bawah naungan yayasan. Tujuan mendirikan sekolah hanya untuk membantu keluarga yang tak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Dia menyadari, bagi orang yang kurang mampu, melanjutkan kuliah, tidak mudah lantaran biaya yang makin mahal.

“Jadi, kita mencerdaskan orang-orang yang sulit mendapat kesempatan untuk sekolah di perguruan tinggi,” katanya. Mengapa harus sekolah Islam? Sumaiyah menjawab karena Islam harus bangkit. “Berarti sekolah di sini orang tidak hanya berpikir dunia saja tapi akhirat juga,” katanya.

Soal biaya, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam mengenakan biaya yang fleksibel. Mahasiswanya bisa membayar uang kuliah dengan cara mencicil sepanjang tahun. Biayanya pun tak memberatkan. Satu semester hanya Rp300 ribu. Uang masuknya hanya Rp150 ribu. Jika tak mampu membayar tunai, calon mahasiswa bisa membayarnya dengan cara mencicil. Meski biaya murah, tak berarti anak didiknya dapat mudah membayar. Bahkan, ada mahasiswa yang sudah selesai kuliah, lupa membayar cicilan. Ada pula yang mengantarkan sisa cicilan. “Tidak masalah belum ada uang. Ya bisa mencicil atau bayar sepanjang tahun. Kadang-kadang sudah tamat tapi belum dibayar, atau ada yang tidak bayar. Ya hitung-hitung membantu masyarakat yang kurang punya untuk dapat pendidikan. Sekaligus memerangi kebodohan, karena kebodohan itu sangat dekat dengan kemiskinan,” katanya.

Meski biayanya murah, tidak berarti sistem pembelajaran yang digelar, tidak berkualitas. Para tenaga pengajarnya mayoritas lulusan S2 dan sudah berjumlah 36 orang, termasuk tenaga administrasi. Sekolah ini terus berkembang sampai sekarang. Alumninya sudah mencapai 4.000 orang. Mereka sudah bekerja sebagai PNS. Mereka berasal dari OKU, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, OKI, dan wilayah Sumatera Bagian Selatan lainnya, bahkan ada yang dari Bangka Belitung.

Sumaiyah memang berasal dari keluarga berada di desanya. Namun, dia tidak dididik orang tuanya untuk larut dalam kecukupan. Baginya, hidup adalah perjuangan. Karenanya, meski dianugerahi Tuhan akan kecukupan dalam kebutuhan, Sumaiyah tak lantas berleha-leha. Sejak kecil, dirinya dididik untuk berjuang. Makanya, prestasinya dari SD hingga kuliah, selalu gemilang. Dia pun meniti karier sebagai PNS dari bawah. Kini, dipercaya sebagai Kepala Dinas Pendapatan Palembang.

Kelak, Sumaiyah bercita-cita, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam yang sudah berdiri sejak tahun 1986 dan sudah memiliki 1.400 mahasiswa itu, akan menjadi satu universitas untuk mahasiswa yang tidak mampu. Di sekolah itu juga akan membuka sejumlah jurusan, di antaranya Fakultas Ilmu Agama Islam, Ekonomi Syariah, D3 guru TK, dan sejumlah jurusan S1. “Sekarang kan program pemerintah setiap desa harus ada PAUD, (Pendidikan Anak Usia Dini). Di situ kan butuh guru. Jadi kita sudah harus siapkan gurunya. Pada saatnya nanti sekolah ini akan menjadi sebuah universitas. Namanya Universitas Diva Mulia Insani,” katanya. IDA SYAHRUL

MEMBERSIHKAN KOTA TANPA MENGHARAP UPAH


TIDAK ada yang berubah dari sosok Sariban. Memakai baju kuning, bertopi caping dengan sepeda ontel, lelaki berusia 69 tahun ini tetap setia sebagai sukarelawan penyapu jalan di Kota Bandung. Tanpa diupah dan hanya mengandalkan uang pensiun dari petugas kebersihan RS Mata Cicendo, ia rela berjibaku dengan sampah-sampah yang bertebaran di kota.

Aktivitas keseharian lelaki asal Magetan Jawa Timur ini, tidak berbeda dengan petugas kebersihan lain yang ada di Kota Bandung. Namun, yang membedakan dengan petugas kebersihan lainnya, Sariban bergumul dengan sampah lantaran ketulusan. Dia bekerja tanpa pamrih. Dia hanya merindukan kota Bandung tetap indah seperti puluhan tahun lalu. Harapannya pun sederhana. Dia ingin masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Meski tak mudah menyadarkan masyarakat agar lebih bijak menjaga keberhasihan lingkungan, Sariban tak pernah lelah menyadarkan masyarakat.

Totalitas Sariban sudah dibuktikannya sejak dia mulai aktif menjadi relawan petugas kebersihan “independen‘ di Kota Bandung pada tahun 1983 lalu. Sejak pukul 07.00-12.00, disambung pukul 13.00-17.00, Sariban berkeliling membersihkan jalan, mengendarai sepeda kesayangan. Sepeda itu dilengkapi sapu lidi, garpu, dan perkakasan kebersihan lainnya. Uniknya, sepeda itu dilengkapi pengeras suara yang diikatkan di stang sepeda. Di depan sepeda ada triplek tertulis kaligrafi, Annadhofatu Minal Iman (Kebersihan itu sebagian dari Iman).

Sariban merupakan sosok yang antik di zaman kini. Sulit menemukan sosok sepertinya. Siapa yang mau bergumul dengan sampah-sampah, tanpa diupah? Wajar jika lelaki ini menyandang gelar “Pahlawan Kebersihan Kota Bandung‘. Meski demikian, Sariban tak peduli dengan gelar yang disematkan kepadanya. Sariban hanya bersyukur, jika di usianya yang tidak muda lagi, dia masih dikasih kesehatan oleh Allah SWT hingga bisa tetap beraktivitas secara sukarela membersihkan kota.

“Apa yang saya lakukan ini merupakan rejeki dari Allah kepada saya. Seperti kesehatan. Rejeki itu kan tidak selalu uang. Kerja seperti ini kan memberikan kesehatan untuk saya dan itu rejeki juga. Yang penting ada kepuasan sendiri bagi saya jika melihat jalan-jalan bersih setelah saya sapu,” ujarnya sambil tersenyum saat ditemui Jurnal Nasional di Jalan Pahlawan Kota Bandung, beberapa hari lalu.

Sariban mengaku datang ke Bandung tahun 1963. Saat itu, Bandung masih diselumuti berhawa sejuk. Kota itu pun bersih dan tidak terlalu ramai. Sebelumnya, dia sempat menjadi kuli bangunan selama empat tahun. Setelah itu, dia diterima sebagai petugas kebersihan di Rumah Sakit Mata Cicendo. “Asal saya dari Magetan Jawa Timur, tapi saya sudah kerasan ketika pertama kali tinggal di Bandung hingga kini. Bandung dulu dan sekarang jauh berbeda. Saya merindukan Kota Bandung seperti puluhan tahun lalu, belum banyak sampahnya,‘ ungkapnya.

Dulu, kata dia, Bandung yang dikenal sebagai Kota Kembang, banyak taman-taman dengan penuh bunga yang indah. Sekarang, Bandung disesaki kendaraan yang kerap menimbulkan kemacetan. Yang lebih mencemaskan, ungkap Sariban, tidak adanya kesadaran warganya untuk membuang sampah di tempatnya.

Sariban tidak hanya dikenal masyarakat hingga pejabat di Pemerintah Kota Bandung. Sosok tua renta ini juga sangat akrab dengan aktivis mahasiswa, kalangan buruh yang suka menggelar demo di Kota Bandung. Para demonstran mengenalnya karena kerap membersihkan sampah-sampah yang berceceran di lokasi yang menjadi ajang demo.

Di tengah kerumunan massa, Sariban memunguti sampah, seraya menghimbau agar para demonstran tidak membuang sampah sembarang. Bahkan, dia tidak segan-segan, menyeru agar demonstran tidak membuang sampah sembarang dengan menggunakan pengeras suara yang dibawanya. Cara-cara yang dilakukan Sariban itu sangat kreatif. Setidaknya, dia mengingatkan para demonstran untuk tidak sekadar demo menyuarakan aspirasinya. Namun, turut andil menjaga kebersihan kota. Cara yang serupa juga dilakoninya saat hadir di kerumunan pada acara-acara even besar di Bandung seperti Festival Braga City Walk, Bandung Car Free Day, dan lainnya.

Meski kerap hadir di kerumunan massa yang menggelar demo, Sariban mengaku, tidak mengerti tentang politik. “Saya ya bisanya nyapu jalan ini. Membersihkan selokan aja, membersihkan pohon yang banyak ditempeli tulisan komersil. Ya mudahan bermanfaat meski hanya sebagian kecil yang merasakannya,‘ katanya santai. Sampah-sampah yang bisa didaur ulang seperti kertas, plastik, dan lainnya yang dikumpulkannya, lalu dijualnya ke pengepul rongsokan.

Dia memang awam politik. Namun, jika berbicara tentang kebersihan, dia jagonya. Sariban pun selalu ikut jika ada ajakan aksi kebersihan yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat, politisi, maupun pemerintah. Bahkan, ajakan anak SD pun diladeninya demi terciptanya lingkungan kota yang bersih. ROBBY SANJAYA

MERACIK SAMPAH MENJADI BERHARGA


PENAMPILANNYA sederhana. Kewibawaan terpancar dari wajahnya yang sejuk. Dia adalah Ali Muryati. Guru yang menerima penghargaan Kalpataru kategori pengabdi lingkungan tahun 2012 itu tak hanya mengajarkan masyarakat untuk bersahabat dengan lingkungan. Namun, dia mengajarkan masyarakat dalam meracik sampah menjadi berkah.

Sejak tahun 2007, anak petani yang lahir di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat ini, telah mengabdikan diri sebagai penghamba lingkungan. Dia mengajar masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan demi keberlangsungan hidup generasi akan datang. Tak mudah mengubah perilaku buruk masyarakat terhadap lingkungan. Masyarakat yang belum paham akan pentingnya lingkungan, justru memintanya uang lantaran mengajaknya melakukan penanaman pohon di setiap rumah warga.

Dengan tenang dan tanpa emosional, dia memberikan pemahaman yang membuka wawasan warga betapa pentingnya sebatang pohon bagi kehidupan mereka dan anak cucunya. “Ibu dan bapak kami kasih tiga pohon untuk ditanam dan dipelihara di depan rumah, dan kami bukan memberi uang agar mau menanamnya. Jika pohon itu besar maka dia akan menghasilkan oksigen yang bisa digunakan enam orang. Lantas jika ada 1.000 pohon, maka oksigen yang diperoleh akan semakin besar. Kalau membeli satu tabung oksigen tentu sudah memakan biaya besar. Ibu dan bapak pilih mana?” katanya menjelaskan kepada warga.

Perjuangannya menyadarkan masyarakat akan pentingnya bersahabat dengan lingkungan mulai menuai respons dari masyarakat tatkala dirinya memperkenalkan adanya berkah di balik sampah dan limbah yang merusak lingkungan. Cara tersebut lebih ampuh daripada mengampanyekan tentang global warning (ancaman global). Pasalnya, wacana itu sulit dipahami masyarakat.

Cara yang ampuh, kata dia, adalah memahami apa yang masyarakat inginkan dalam upaya mengatasi lingkungan. Upaya kampanye lingkungan, menurut Muryati, yang paling penting adalah mengubah perilaku warga dalam memahami lingkungan. Jika perilaku bagus, maka menanam satu pohon sekalipun akan berhasil. Tetapi, jika pribadi tak diperbaiki, maka menanam 100 pohon pun tidak akan bisa berhasil. Komitmen itulah yang mesti dimiliki oleh siapa saja yang peduli akan lingkungan.

Karenanya, dirinya menawarkan kepada masyarakat mengelola sampah yang bisa menghasilkan uang yang halal. Dia mengolah sampah menjadi berkah dengan cara menyulapnya menjadi kerajinan tangan. Dia pun mendirikan bank sampah untuk dikelola menjadi produk yang berguna. Apa yang dilakukan Muryati pun menuai respons Pemerintah Kota Binjai, dan sejumlah wilayah di Indonesia.

Miuryati memilah-milah sampah dan membelinya dari masyarakat. Dia lalu meracik sampah-sampah itu menjadi produk kerajinan tangan. Hasilnya, apa yang dibuat, diminati oleh warga. “Ketika kita tidak peduli, maka menumpuklah sampah itu. Satu sampah pelastik saja bisa hancur 80 tahun yang akan datang. Benang pancing itu kalau tertimbun dengan tanah baru bisa hancur 600 tahun yang akan datang,” katanya.

Perjuangan Muryati dalam memberikan pendidikan karakter lingkungan sudah berjalan 10 tahun. Tak sia-sia. Sedikit demi sedikit, warga di Kota Binjai mulai tertarik dengan apa yang ditawarkannya. Dari tahun 2009 hingga tahun 2012, masyarakat yang sudah berhasil merubah karakternya terhadap lingkungan sudah lebih dari 1.225 orang, terdiri dari ibu rumah tangga, pelajar tingkat SD hingga SMA, remaja, dan orang tua. Bahkan, guru di sejumlah sekolah pun pada bergabung. Jumlahnya hampir ada di setiap kecamatan Kota Binjai.

Menurutnya, masyarakat yang sudah terpanggil ada di setiap kecamatan berjumlah antara 100 hingga 200 orang. Mereka sudah dikader dan telah paham soal lingkungan. Bahkan, tidak sedikit yang memanfaatkan dan mengelola apa yang ada di lingkungan, menjadi nilai ekonomis. Di tiap RT dan RW paling sedikit ada 20 orang yang mengelola kerajinan tangan dari sampah. Peluang ini dimanfaatkan karena jumlah sampah yang dibuang ke TPA Kota Binjai mencapai 70 ton per harinya. “Kalau sampahnya organik bisa dijadikan kompos. Selebihnya baru dibuang ke TPA. Lurah, camat dan sejumlah elemen masyarakat sudah mulai saling kampanye. Kalau sampah plastik, dan sampah lainnya diolah dan dijadikan pernak pernik berdaya jual tinggi,” jelas Muryati.

Saat ini, ada sejumlah dinas di Pemkot Binjai yang sudah dirangkul dan menyatakan dukungan terhadap apa yang telah di buat oleh Muryati. Salah satunya adalah Dinas Pendidikan, Dinas Kelauatan dan Perikanan, Dinas BLH, dan Departemen Agama. Lima kecamatan juga menjalankan konsep pemanfaatan keseimbangan alam yang diajarkan oleh guru Muryati, yaitu Kecamatan Binjai Selatan, Kecamatan Binjai Kota, Kecamatan Binjai Timur, Kecamatan Binjai Utara, dan Kecamatan Binjai Barat. Ada juga ibu-ibu PKK yang turut aktif dan ternyata mendulang sukses. Ribuan siswa dari sejumlah sekolah juga terus bertambah dalam konsep pemafaatan lingkungan ini.

Sejumlah hasil karya dari pemanfaatan lingkungan antara lain tas hasil daur ulang kertas dan plastik, pembuatan map serta pernak pernik lainnya menjadi hiasan. Di Binjai Selatan, kerajinan tangan yang dikembangkan masyarakat adalah memproses kulit jagung menjadi bunga jagung, serta kertas ucapan terima kasih untuk pesta adat atau pesta keluarga, hiasan bros, dan sebagainya. Harganya berkisar dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap produknya.

Di Binjai Barat, produk dari lingkungan berupa tas unik, sandal, talam untuk minuman mineral atau tempat gelas. Kompos dari sampah organik dan bank sampah juga sudah ada di sana. Sementara di Binjai Utara, sampah dan kompos dikelola dengan baik sehingga mendongkrak pendapatan keluarga di sana. Semua produk kerajinan tangan yang dihasilkan oleh masyarakat Kota Binjai itu, sangat diminati oleh berbagai kalangan.

Tak hanya itu, Bank Indonesia (BI) Wilayah IX Sumatera Utara dan Aceh, memesan hasil kerajinan tangan karya Muryati. Saat ini, Muryati mengelola uang yang dihancurkan BI untuk dibuat menjadi hiasan. BI juga memesan kepada masyarakat Kota Binjai yang ada di komunitas, membuat map, tas serta pernak pernik lainnya. “Kalau kita tidak berbuat, siapa lagi? kalau dibentanglah bumi ini dengan sampah, maka sudah empat kalilah bumi kita ini ditutupi sampah. Jadi harus ada yang berbuat,” katanya.

Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) juga kepincut dengan karyanya. Karenanya, Muryati pun diundang memberikan pelatihan dan pengarahan serta memotivasi semangat para narapidana dan tahanan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan Rumah Tahanan di Aceh. Mereka diajarkan pentingnya pelestarian dan pemanfaatan lingkungan agar bernilai ekonomis.

Pengorbanan yang dilakukan Muryati, tidak terlepas dari dukungan keluarga. Suami dan anak-anak adalah sutradara hidupnya. Sebelum mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), ada delapan Provinsi yang memintanya berbagi ilmu. Bahkan sejumlah Negara seperti Australia, sudah mengundangnya untuk berbagi ilmu soal lingkungan.

Saat bertemu dengan Presiden, dirinya mendapatkan sebuah pesan khusus. Kepala Negara berpsan agar dirinya meneruskan perjuangan membina karakter masyarakat supaya lebih peduli soal lingkungan. “Tangan Pak SBY begitu lembut menyalami saya. Ini tidak diduga, karena tidak terpikir dibenak, bisa bertemu Kepala Negara. Pesan beliau akan saya tanamkan di dalam hati dan akan terus dijalankan,” kata perempuan yang punya prinsip mandiri dan jujur dalam menjalani hidup. HERI SURBAKTI

SENIMAN LIMBAH YANG MENDUNIA


SORE di Cisitu Dago Lama Bandung, tepatnya di ruangan 4×4 meter yang belum selesai digarap. Di ruang Galeri Dodong itu, perbincangan terasa hangat, dengan ditemani hawa sejuk yang terasa menyengat. Meski lelaki yang menjadi lawan bicara itu lagi tak sehat, obrolan begitu bersemangat. Apalagi, tema obrolan menyangkut kegemarannya pada barang bekas, yang diraciknya menjadi alat musik.

Dodong Kodir, demikian namanya. Lelaki berusia setengah abad itu dengan bangganya menjelaskan ratusan alat musik sederhana dari sampah yang diciptakannya. Dia tak mengira, jika karyanya itu akhirnya mendunia. Seniman limbah itu berhasil menciptakan alat musik yang menghasilkan bunyian yang sama persis dengan suara alam, seperti angin tornado, laut hingga suara hewan.

Selama lebih dua jam, seniman Bandung kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 8 November 1951 yang murah senyum dan humoris itu menjelaskan tentang karyanya yang unik. Dodong membuktikan jika limbah dan sampah yang disepelekan banyak orang, ternyata menghasilkan bunyi-bunyi merdu. Dia meracik alat musik dari bahan-bahan tak berguna itu hingga mengeluarkan suara petir dan suara laut. Dan, karyanya itu tak sekadar alat musik semata. Di balik karyanya itu, Dodong menebar pesan filosofis. Baginya, suara alam mengingatkan manusia agar peduli pada lingkungan.

Secara fisik, alat musik Dodong terkesan ala kadarnya. Tetapi, jika melihat proses pembuatannya akan terlihat keseriusan Dodong dalam menciptakan karyanya. Suling misalnya. Alat musik tiup yang berukuran besar itu mirip Sakohaci, suling Jepang. Suling yang Dodong buat pada tahun 1990 itu dinamakan Sulangsong, kepanjangan dari Suling Song-Song yang terbuat dari bambu bekas.

Dodong hanya tamatan Sekolah Teknik (ST) VI Padjajaran Bandung. Dia tak pernah mengenyam bangku kuliah. Dia pun menjadi seniman limbah secara otodidak. Awalnya, dia hanya tertarik dengan permainan alat musik dan tarian-tarian. Ketertarikan itu yang menggiring Dodong menekuni pekerjaan sebagai penjaga alat-alat musik di studio tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, yang dahulu dikenal Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. “Saya lalu mencoba bereksperimen. Ketika saya menemukan bambu besar, saya terinspirasi untuk membuat alat musik,” kenangnya.

Awalnya, Dodong menuai hinaan dari rekan-rekannya. Mereka mencelanya lantaran membuat alat musik dari sampah. Namun, celaan itu tak membuat Dodong berhenti melakukan eksperimentasi. “Saya hanya bilang, terserah saya,” katanya.

Setelah alat musik itu jadi, Dodong lalu memamerkan karyanya itu kepada teman-temannya. Dia menunjukkan suling berukuran besar yang mampu menghasilkan suara unik. “Ternyata suling ini membawa rizki, saya bisa membantu teman-teman untuk pertunjukan musik dan saya bisa ke luar negeri,” ujarnya bangga. Dari pengalaman itu, Dodong pun makin mencintai sampah dan limbah. Pengalamannya membuat Sulangsong itu pun mengukuhkan dirinya dengan sebutan seniman limbah. Dia pun makin produktif menciptakan alat musik. Sejak 16 tahun lalu, lebih dari 100 alat musik yang dihasilkannya. Semuanya berasal dari limbah sampah yang didapatkan dari pasar loak, tetangga atau teman.

Eksperimentasi pun terus dilakukannya. Dia menciptakan alat musik Tornadong yang bisa menghasilkan suara petir dan angin mirip Tornado di Amerika Serikat. Lalu, Sagara, alat musik yang bisa menghasilkan suara deburan ombak. Tsunami di Aceh tahun 2004 silam, menjadi inspirasi baginya menciptakan Sagara. Ada pula Kecapi Mesin Cuci yang bahan dasarnya dari penutup mesin cuci yang tidak terpakai. Lalu, suling yang mirip Saxopone yang disebut Suling Dodong dan satu drum besar yang menghasilkan suara luar biasa yang bernama Jirame, singkatan dari Hiji Oge Rame (satu alat musik suara yang ramai).

Totalitas Dodong dalam menghasilkan alat musik limbah yang unik menuai respons banyak kalangan. Bahkan, dirinya mendapat undangan ke luar negeri. Di tahun 1996, Dodong mengikuti Pameran Kopenhagen di Denmark bersama seniman Herry Dim. Di tahun yang sama, ia juga tampil di sebuah acara teater musikal tiga negara, yaitu Jepang, Indonesia, dan Filipina.

Kemudian di Tahun 2005, dia meramaikan Festival Wayang Yunani. Di tahun 2006, Dodong berpartisipasi dalam acara 100 Tahun Karya Mozart yang diselenggarakan oleh UNESCO di Paris, Perancis. Pada tahun 2008, ia mengikuti festival wayang, The First International Marionette Festival, di Vietnam. Di tahun itu pula, Dodong bertandang ke Siprus untuk mengikuti festival wayang lainnya. Tahun 2009, Dodong tampil di negeri Matador, Spanyol, guna terlibat dalam acara Festival Internacional de Titeres de Canaries yang diselenggarakan di Kota Madrid. Dodong juga menyelenggarakan konser tunggal di Belgia pada tahun 2009 di Museum Instrumen Musik.

Lantaran bergelut dengan sampah, Dodong sempat disemprot istrinya. Si istri ngambek lantaran rumahnya disesaki sampah. Namun, dia teringat amanat ari almarhum Harry Roesli, musisi beken asal Bandung, yang mengatakan kepadanya agar tak meninggalkan profesi sebagai seniman limbah

Kini, Dodong bersyukur. Cita-citanya untuk memiliki galeri guna menyimpan alat-alat musiknya telah tercapai, berkat bantuan hibah dari Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat. Di tanah bekas orang tuanya yang tidak jauh dari kediaman Dodong di Cisitu Dago, Dodong sedang mendirikan galeri yang akan dinamakan Galeri Dodong. Dia pun patut berbangga karena karyanya disimpan di berbagai museum seperti di Madrid, Yunani, dan Meksiko.

Karyanya juga akan dibeli oleh UNESCO. Sementara Kecapi Mesin Cuci akan diboyong oleh Belanda dengan harga tinggi. Namun, Dodong tidak berniat menjual alat musiknya atau mempatenkan hak cipta. Dodong hanya berharap ada regenerasi seniman muda yang mengikuti jejaknya. Karenanya, dia selalu terbuka untuk siapapun yang ingin belajar dan meminjam alat musiknya. “Saya ingin alat ini menjadi contoh untuk anak-anak muda. Saya terbuka untuk dipinjam alat saya untuk kesenian. Asal, jangan hilang, karena tidak ada yang menjual di toko musik manapun,” kata Dodong sembari tersenyum. RATU SELVI AGNESIA

MENDONGKRAK EKONOMI PETANI


KEGAGALAN adalah suskses yang tertunda. Ungkapan bijak itu menginspirasi Haji Surya Gandamana, petani asal Desa Mandalawangi, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Setelah usahanya yang bergerak di bidang perdagangan, kontraktor dan pertambakan di tahun 1990-an mengalami kebangkrutan, dia berhasil bangkit. Dia berhasil menjelma menjadi petani sukses dan mampu mendongkrak derajat ekonomi petani di daerahnya.

Sebelumnya, dia sempat vakum selama 10 tahun. Surya pun berpikir. Ternyata, jadi “pengangguran” itu sangat tidak menyenangkan. “Kayak orang pikun,” ujarnya kepada Jurnal Nasional, beberapa hari lalu.

Ia lalu bangkit. Menancapkan tekad untuk menekuni bidang pertanian yang tak pernah dijamahnya. “Waktu itu tahun 2000, dari hasil usaha sebelumnya, saya punya sawah empat hektarean, tapi tak pernah menggarapnya dan semuanya selalu disewakan kepada orang lain,” kata Surya.

Dengan kegigihan dan kedisiplinannya, Surya menekuni profesi barunya itu dengan cara mencari buruh tani yang memiliki tipikal pekerja keras, mau diajak melakukan improvisasi, dan inovasi bercocok-tanam padi dengan teknik dan metode yang modern. Dia pun menghubungi salah seorang relasinya yang bekerja di sebuah perusahaan pestisida terkenal. Dia rekrut rekannya itu menjadi konsultan, sekaligus praktisi rekayasa tanah dan tanaman padi unggul. Dia ingin bersama-sama mengembangkan model pertanian modern, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Pantai Utara (Pantura).

Dia berkisah, sekitar tahun 2000, petani di Kecamatan Sukasari dan Pamanukan masih berpenghasilan minim yakni berkisar Rp1.500 per hari atau setara dengan kemampuan memproduksi padinya lima ton per hektar. Surya yang waktu itu masih “berotot” meski sudah berusia 55 tahun, langsung menggebrak melakukan cara pengolahan tanah dan sistem tanam padi yang radikal.

Dia mengubah model bercocok tanam padi yang konvensional. Surya bersama mitra kerjanya di Kelompok Tani Surya Bangkit yang didirikannya, serta tenaga ahli pestisida yang direkrutnya, juga terus melakukan riset lapangan. Lalu, mempraktikkannya dalam proses pengolahan tanah, pemupukan, dan pemakaian pestisida dengan dosis yang benar sejak masa persemaian hingga menjelang panen.

Dalam penentuan benih, Surya menggunakan varietas Ciherang karena sangat cocok dengan kondisi iklim dan sifat tanah persawahan di wilayah Pantura. “Saya juga mulai memberikan nutrisi yang seimbang dan vaksin yang tepat agar tanaman padi berumur lebih pendek, tahan serangan hama, dan berbuah lebat serta berisi,” tutur pria yang akrab dipanggil Pak Haji itu. Cara dan model bercocok tanam yang dilakukannya itu, belum dipahami, apalagi diterapkan petani Pantura umumnya. Mereka masih kukuh menerapkan model pertanian tradisional.

Dalam sistem dan cara tanam, Surya menemukan metode yang disebutnya Legowo VI, yakni cara menanam padi dalam setiap enam jajar (ruang), diselingi satu jajar tanpa tanaman. Cara itu menerabas pola konvensional yang mengharuskan setiap kotak sawah penuh terisi tanaman padi. “Dengan metode Legowo VI, petani memang kehilangan satu jajar tanaman padinya. Tetapi, kelebihannya memiliki keleluasaan untuk kepentingan proses pemupukan dan penggunaan pestisida yang lebih efektif, efesien dan merata,” ucap Surya.

Hingga akhirnya, Surya berhasil meningkatkan produksi gabah kualitas tinggi dengan lompatan-lompatan yang luar biasa. Produksi padi yang tahun 2000, hanya lima ton per hektare dan terus melonjak dari tahun ke tahun. Di tahun 2012 ini, produksi padinya mencapai 12 ton per hektare.

Peningkatan produksi gabah tersebut, nyatanya berbanding lurus dengan peningkatan penghasilan petani yang pada tahun 2000-an hanya Rp1.500 per hari. Lalu, melonjak menjadi Rp70 ribu per hari sejak tahun 2010. Sebuah lonjakan peningkatan pendapatan petani yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Teknik bercocok tanam padi ala Surya itu, mulai diadopsi pada tahun 2006 oleh para petani di seluruh Indonesia melalui campur tangan Kementerian Pertanian yang kala itu ditukangi seorang guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Anton Apriantono. “Pak Anton datang sendiri ke lokasi persawahan kami dan meminta saya mempresntasikan hasil karya Kelompok Tani Surya Bangkit itu.” Surya pun merasa senang karena bisa berbagi ilmu dengan para petani lainnya di Tanah Air.

Sukses dengan rekayasa cocok tanam padi modernnya, Surya melakukan diversifikasi dengan memulai menjadi penangkar benih. Varietas benihnya lolos uji dari Balai Penelitian Benih Lembang milik Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat yang bekerjasama dengan Kementerian Pertanian di Lembang, Bandung. Lalu, diberi label Mekongga. Surya mengklaim, Mekongga yang diciptakannya merupakan varietas terbaik dari berbagai jenis varietas padi yang ada di Indonesia. “Kami berani bertaruh.”

Dia menyatakan, benih padi produknya itu, tahan segala cuaca, cocok untuk segala kontur tanah, tahan serangan hama wereng cokelat, penggerek batang, produksi gabahnya tinggi, dan berasnya pulen. “Benih padi Mekongga kini sudah banyak dipesan petani dari Jawa Tengah dan Sumatera,” kata Surya.

Bahkan, ada kelompok tani dari Sumatera yang langsung memesan benih bukan dalam bentuk kemasan, melainkan sejak masih di atas hamparan sawah yang ditanamnya.

Maka, wajarlah kalau “Sang Surya dari Pantura” itu, mulai kepincut berbisnis benih padi. Dari sisi keuntungan, usaha benih, untungnya lebih besar. “Harga jual benih Mekongga produksi kami Rp10.500 per kilogram,” ucap Surya. Lalu, dia membandingkan dengan harga jual gabah kering pungut yang hanya Rp4.100 per kilogram. “Kelihatan kan berapa selisih keuntungannya?”

Dari sisi produktivitas, benihnya pun tidak kalah dengan gabah konsumtif. Jika dalam satu hektar Gabah Kering Pungut (GKP) rata-rata menghasilkan 12 ton, maka jika dijadikan benih, hanya mengalami penyusutan 17 persen saja. Jadi, untungnya memang luar biasa. Pantaslah, jika hasil ketekunan dan kerja keras Surya selama 12 tahun di lapangan areal pertanian, menjelma menjadi salah satu imperium pertanian baru di Pantura Subang.

Surya pun kini menjelma dari “Juragan Gabah” menjadi “Juragan Tanah.” Lahan sawahnya yang semula hanya empat hektar itu, sekarang berkembang menjadi lebih dari 100 hektare. Sebuah prestasi petani yang fantastis! Sebagai wujud syukurnya, Surya tak lupa berbagi dengan masyarakat Sukasari dengan membangunkan mushala dan masjid raya yang megah dan menjadi kebanggaan warga di sana.

“Sejak awal, saya tekadkan niat Lillahi Ta’ala. Melihat petani Pantura maju saja sudah senang. Saya tak pernah mempermasalahkan ada tidaknya penghargaan dari pemerintah atau dari siapa pun juga.” DETA SURYA

SANG PEMIKIR HAM


DIA tak pernah berhenti berpikir dan menyuarakan penegakan hak asasi manusia (HAM) di negara ini. Meski usianya sudah senja, dia tetap konsisten sebagai akademisi yang menebar wacana HAM. Pemikiran guru besar sosiologi hukum Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jawa Timur itu, memang begitu besar andilnya dalam membumikan HAM di negara ini. Namanya disebut-sebut sebagai akademisi yang menjadi lokomotif penegakan HAM. Dia adalah Soetandyo Wignjosoebroto.

14 Desember 2011 lalu, lelaki kelahiran Madiun, 19 November 1932 itu menerima Yap Thiam Hien Award. Soetandyo tak mengira jika dirinya menerima penghargaan yang didedikasikan untuk para pejuang HAM itu. “Itu (penghargaan Yap Thian Hien) sebuah kehormatan bagi saya. Saya sendiri merasa tidak mengira memperoleh penghargaan itu,‘ ujarnya kepada Jurnal Nasional, Kamis pekan lalu. Soetandyo meraih penghargaan Yap Thiam Hien setelah berhasil menggeser 34 kandidat yang namanya berkibar dalam penengakan HAM.

Baginya, penghargaan hanya sebatas simbol. Dia lebih mengapresiasi jika penghargaan serupa juga dianugerahkan kepada mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk penegakan HAM di negara ini. “Banyak sekali mereka yang telah memberikan pengorbanan jiwa dan raga. Mereka juga harus dihargai sebagai penegak HAM dengan caranya sendiri,‘ katanya.

Memang, banyak sosok yang memperjuangkan tegaknya HAM di negara ini. Selain dengan cara advokasi, kontribusi para penegakan HAM juga dapat dilakukan dengan cara edukasi. Soetandyo, menerima penghargaan itu karena telah mendedikasikan dirinya untuk kemajuan HAM lewat jalur edukasi. Begitu banyak karyanya menyebar dan menjadi literatur dalam memajukan HAM. “Karena saya bekerja di lingkungan pemikiran, filsafat, dan teori, saya bisa menyumbangkan pemikiran saya (tentang HAM) di dunia pendidikan. Karena bagi saya, soal human rights adalah suatu perjuangan di alam pemikiran,‘ katanya.

Ketua Yayasan Yap Thian Hien Award, Todung Mulya Lubis menilai, Soetandyo merupakan sosiolog yang mengajarkan akan makna dan nilai tenatng HAM dalam tulisan, perkuliahan, percakapan, dan tindakan. Pemikiran Soetandyo, terang Todung, selalu mengingatkan akan hak-hak manusia yang merupakan hak kodrati, yang dimiliki setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, bangsa dan agama, jenis kelamin, serta latar belakang budaya dan keyakinan politiknya.

Kepekaan Soetandyo terhadap HAM memang tidak sekedar di ranah akademik. Dia juga aktif menyikapi persoalan rakyat yang diperlakukan kurang adil. Kepekaan itu, diperlihatkan mantan komisioner Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) bidang Sub-Komisi Pendidikan dan Penyuluhan itu, seperti saat menjadi saksi ahli class action dalam kasus penggusuran warga miskin kota.

Dia juga peduli pada penggusuran para pedagang pasar Dinoyo dan Pasar Blimbing, Malang dengan Pemerintah Daerah Malang, serta menjadi saksi ahli untuk kasus-kasus perlawanan tukang becak dan kaum miskin kota melalui jalur hukum. Dia juga menjadi salah satu majelis eksaminasi kasus pembunuhan pejuang HAM Munir, yang tewas karena diracun. Majelis eksaminasi menyimpulkan, proses peradilan kasus Munir tidak berlangsung secara adil. Argumentasi itu berdasarkan fakta jika hakim tidak memaksa meminta keterangan saksi yang informasinya sangat penting dalam membuktikan adanya pembunuhan. Hakim juga tidak mampu menghadirkan saksi kunci antara lain Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) M As’ad dan agen BIN Budi Santoso dalam persidangan.

Bukan perkara mudah membumikan pemahaman HAM di negara ini. Nilai-nilai HAM yang bersifat universal seringkali bertabrakan dengan ragam nilai dan budaya lokal. Walhasil, polemik pun bermunculan ketika universalitas HAM dipahami melabrak eksistensi nilai-nilai yang sudah mengakar dalam masyarakat. Dan, perlu juga dipahami tidak melulu format HAM dalam konteks universal dapat menebar kemaslahatan. Sebaliknya, format HAM dalam konteks lokal, justru mendatangkan kemaslahatan. Karenanya, Soetandyo mengaku, tak mudah memperjuangkan penegakan HAM lewat pemikiran. “Medan perangnya adalah memperebutkan alam pemikiran orang (agar paham HAM).‘

Namun, dia mengatakan, dirinya tidak bergerak sendiri. Banyak pemikir HAM lainnya yang turut memberikan andil dalam mendistribusikan wacana tentang HAM, termasuk peran media melakukan sosialisasi. “Media juga membantu. Kalau hanya saya yang menyuarakan tentu lemah sekali. Dengan media, banyak mata melihat dan telinga yang mendengar pemikiran itu,‘ terangnya.

Ditanya soal masa depan penegakan HAM di negara ini, Soetandyo merasa optimis kondisi HAM di Indonesia akan lebih baik. “Saya kira akan lebih baik, karena saya lihat banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sangat memperhatikan isu-isu HAM,‘ katanya. Namun, dia menilai, tidak cukup hanya dengan dengan melakukan gerakan-gerakan yang terorganisir dalam upaya menegakan HAM.

Menurut dia, penegakan HAM dapat dilakukan dalam segala cara sesuai dengan cara masing-masing individu. “Setiap orang yang menyuarakan persoalan ketidakadilan, saya kira dengan caranya sendiri, dia sudah mencoba berusaha mengubah keadaan,‘ katanya. Soetandyo menilai, permasalahan penegakan HAM saat ini lebih pada persoalan hak-hak sosial, ekonomi dan budaya. Sementara hak sipil dan politik, sudah cukup baik.

Gerakan reformasi yang berhasil menumbangkan kekuasaan Orde Baru di bawah kendali Presiden Soeharto, tanggal 21 Mei 1998 lalu, memang telah membuka katup-katup demokrasi yang selama 32 tahun dihimpit oleh arogansi pemegang kekuasaan.

Dalam suksesi politik, rakyat kini dapat mengaktualisasikan hak politiknya untuk memilih secara langsung Presiden dan Wakil Presiden, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Rakyat juga dapat memilih secara langsung gubernur, walikota maupun bupati, serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Bahkan, kebebasan politik pun merambah hingga ke pelosok desa. Rakyat dapat memilih kepala desa sesuai dengan kehendaknya.

Meski demikian, kata Soetandyo, hak-hak sipil dan politik itu hanya dinikmati kalangan menengah, menengah ke atas dan kalangan atas. Sementara kalangan bawah, meski bebas dalam menggunakan hak-hak sipil dan politiknya, mereka tidak peduli. Mereka hanya memikirkan hak-hak sosial, ekonomi dan budaya, yang selama ini terabaikan. “Tetapi, yang menjadi persoalan kita adalah bagaimana hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, khususnya hak-hak ekonomi yang masih bermasalah,‘ katanya.

Hak-hak ekonomi, jelas Soetandyo, terkait dengan terbebas kalangan bawah dari dari kemiskinan, kelaparan, dan kesulitan mendapatkan akses pendidikan. Dia mengakui tidak mudah memecahkan masalah kemiskinan. Masalah tersebut juga tidak terlepas akibat adanya ketimpangan struktural. Dalam konteks penegakan hak sosial dan ekonomi, Soetandyo menekankan pentingnya intervensi negara. “Kalau hak-hak ekonomi itu, pemerintah harus turun tangan. Jangan lepas tangan. Kalau hak-hak politik, ya pemerintah itu seyogyanya hands off (lepas tangan).‘

Bagi Soetandyo, humanity, perikemanusiaan adalah martabat tertinggi dalam peradaban manusia masa depan. Bukan lagi nationality, lebih-lebih chauvinistic. Humanity harus digapai oleh manusia sebumi, betapapun sulitnya. Dan, adalah suatu kebenaran bila dinyatakan bahwa kemanusiaan adalah hak segala anak manusia penghuni bumi. Manusia masa depan adalah manusia-manusia yang berani mengabaikan perbedaan-perbedaan atributnya, tidak hanya yang rasial dan religi, dan tak pula yang berbasis kelas sosial atau yang strata ekonomi. melainkan juga yang berbasis kebangsaan. Baginya, manusia adalah manusia, apapun agamanya, budaya dan adat bahasanya, jenis kelaminnya, maupun kebangsaannya.

Soetandyo lahir di Madiun, 19 November 1932. Dia anak Soekandar dan R Rr Siti Nadiyah. Dia menikah dengan Asminingsih. Saat muda, dia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan menjadi asistem pembantu, di tahun 1959. Di kampus itu, dia juga turut membidani pendirian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada 1978. Dia menjadi dekan pertama di fakultas itu.

Sebelum mendapat gelar S1, Soetandyo mendapat beasiswa untuk belajar pada Government Studies and Public Administration di University of Michigan, Amerika Serikat. Pada 1973, dirinya juga berkesempatan mengikuti Socio-Legal Theories And Methods di Marga Institute, Sri Lanka. Kemudian pada 1993, Soetandyo dipercaya sebagai Komisioner Komnas HAM.

Sejumlah buku telah ditulisnya seperti berjudul: Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional, Desentralisasi Dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, Hukum: Paradigma dan Masalahnya. Dia juga penulis produktif di banyak media, jurnal ilmiah dan menjadi pembicara dalam berbagai diskusi maupun seminar. Selain mengajar di Unair, Soetandyo juga mengajar di Universitas Diponegoro, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dan Universitas Pancasila Jakarta. M. YAMIN PANCA SETIA

PENDEKAR LINGKUNGAN DARI KASAI


“Tanah kita, tanah sorga. Tongkat dan kayu jadi tanaman.”

Sepenggal syair lagu berjudul Kolam Susu yang dipopulerkan Koes Plus itu meluncur dari mulut perempuan berusia 64 tahun dari ruang kecil bangunan rumahnya di Desa Kasai kecamatan Batu Mandi di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

“Buat apa mencari kerjaan di negeri orang, negeri sendiri adalah surga. Manusia Indonesia harus membangun negerinya yang kaya raya. Tongkat dan kayu aja jadi tanaman,” imbuhnya.

Perempuan itu bernama Galuh Sally. Sekitar 35 tahun silam, Galuh Sally, sempat tak sependapat dengan pekerjaan suami, mencari gaharu di hutan. Sally pun bertekad untuk membudidayakan sendiri tanaman Hayaput, sebutan masyarakat lokal untuk pohon Gaharu (Aquilaria malaccensis) yang tumbuh secara alami di hutan di kawasan Kabupaten Balangan.

Dengan meminta tolong jasa beberapa warga, Sally memperoleh biji-biji dari pohon gaharu dan ditanam di atas lahan yang dibelinya dari modal sendiri. Tingkah dan polahnya sempat dianggap nyeleneh oleh warga sekitar. Bahkan, ada yang menganggapnya gila. Namun, Galuh punya tekad. Dia bekerja keras dan iklas, mengabdikan dirinya demi terjaganya keseimbangan alam, dengan membudidayakan pohon gaharu, tanpa merusak atau menebang untuk mengambil manfaat dari pohon itu.

Sebelum menekuni budidaya gaharu, dia bergelut sebagai pemulia anggrek lewat Persatuan Anggrek Indonisia (PAI) Balangan. Kemudian dia mengembangkan Gaharu dan membuat satu LSM bernama Gaharu Persada. Sejak itu, Galuh memperkenalkan kegunaan pohon gaharu kepada masyarakat luas.

Apa yang dilakukan Galuh mendapat dukungan Muhammad Muhidin, suaminya. Bahkan Muhidin sempat berpetualang dari satu tempat ke tempat lain di Indonesia, untuk menemukan habitat gaharu. Namun tak juga ketemu. Dia pun menyimpulkan jika habitat asli gaharu hanya ada didepan mata yakni Kasai.

Masyarakat Balangan sebenarnya sudah lama tahu kegunaan dan nilai ekonomis dari gaharu. Namun, untuk pembudidayaan, masyarakat belum bisa karena pohon ini masa tumbuhnya cukup lama, mencapai lebih dari 10 tahun.

Sudah 35 tahun Galuh mengabdikan diri membudidayakan gaharu. Sudah banyak pula daerah yang dikunjunginya guna menyosialisasikan gaharu ini. “Saya tidak pernah meminta uang untuk modal, semuanya berangkat dari modal sendiri,” tutur Galuh yang bangga memiliki satu mobil jenis kijang butut berwarna putih. Mobil ini pula yang setia menemani aktiviasnya mengeluti hobi membudidayakan gaharu.

Berbekal membudidayakan 10.000 bibit pada tahun 2002, Galuh terus mengembangkan tanaman gaharu . Dalam enam tahun terakhir, Galuh bersama kelompok masyarakat binaannya yang berjumlah 20 orang, telah membudiyakan 1.600.000 batang tanaman gaharu. Di tahun 2012 ini pula, Galuh Sally bersama kelompoknya di bawah binaan Pemerintah Daerah, akan mengirim bibit tanaman gaharu ke Sulawesi, Batam, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta. Total bibit yang akan dikirim sebanyak 500 ribu batang. Bibit-bibit tanaman gaharu diperoleh dari indukan bersertifikat dari Badan Sertifikasi Tanaman Hutan.

Mengapa harus Galuh yang mengurus budidaya tanaman gaharu, bukan suaminya? Galuh rupanya paiwai dalam urusan manajemen. Sementara Muhidin bertindak sebagai penyuntik dan mengurus hasil gaharu. Penyuntikan batang tanaman gaharu menggunakan inukalan, untuk bisa mengambil nilai ekonomisnya. Sementara Galuh sendiri bertugas mengurus budidaya tanaman gaharu. Galuh juga bertugas membimbing semua pihak.

Misalnya, mengolah manfaat dari mulai daun hingga akar gaharu. Bijinya dijadikan bibit, daunnya dijadikan teh antioksidan, kemudian gumbal dan akar gaharu dapat diolahnya secara sangat sederhana. Akar pohon disulingnya dan didapat minyak gaharu, selanjutnya ampas atau limbah sulingan, dijadikan dupa wangi. “Dupa wangi produksi kita sudah di ekspor ke China,” ucap Galuh.

Penghargaan Kalpataru dari pemerintah Indonesia yang diserahkan langsung presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, kembali memberikan darah segar dalam bagi Galuh untuk terus berjuangan dalam bidang lingkungan.

Upaya yang dilakukan Galuh telah membuka mata warga Balangan dan Pemerintah Balangan untuk membudidayakan tanaman gaharu secara besar-besar, mengingat tanaman gaharu memiliki nilai ekonomis sangat tinggi. Jejak Galuh yang sekarang menjabat sebagai Ketua Forum Pengusaha Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Kalimantan Selatan dan Ketua Asosiasi Eksportir dan Handycraft (Asepsi), mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Balangan dengan merintis sejak tahun 2000, melakukan penanaman dua ribu batang tanaman gaharu di desa Panibab di lahan seluas 25 hektare. Kemudian tahun 2005 di Desa hamarung sekitar 30 hektar. Lalu, di Desa Binjai Punggal Kecamatan Halong, Desa Muara Pitap. Dan di tahun 2011 telah melakukan reboisasi kawasan hutan dengan menanam sebanyak 25 ribu tanaman gaharu. N RAHMA

PEJUANG HAK KONSUMEN


ERISON AW, semula bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang wartawan yang biasa meliput peristiwa yang terjadi di Kota Padang, Sumatera Barat. Tetapi, ketidakadilan yang sering dialami konsumen, membuat lelaki berusia 49 tahun itu, banting setir menjadi pembela konsumen.

“Selama ini konsumen sering jadi sapi perahan pelaku usaha nakal, kemudian di sisi lain konsumen juga buta terhadap hak-haknya,” ujarnya saat berbincang-bincang dengan Jurnal Nasional, di Padang beberapa hari lalu.

Erison tertarik untuk memperjuangkan hak-hak konsumen lantaran sebagian besar konsumen tidak tahu akan haknya. “Ini ibarat perjuangan di negeri pedagang, Sumatera Barat itu mayoritas dan prilakunya warganya adalah pedagang, semua orang di negara ini tahu,” ujarnya.

Gebrakannya membela konsumen diawali saat menangani perkara Agus, tukang ojek yang motornya ditarik perusahaan Adira Finance pada 2007 lalu. Erison mendamping Agus untuk melakukan gugatan. Proses hukum yang dilalui sangat pelik. Sampai-sampai, perkara itu masuk ke Mahkamah Agung (MA). Hingga akhirnya, Majelis Peninjauan Kembali (PK) MA, memenangkannya. “Itu pertama kasus membela konsumen dan taklukan sebuah finance besar,” katanya bangga. Kemenangannya membela Agus pun meramaikan berita di berbagai media nasional.

Meski namanya melambung, Erison tetap tidak berubah. Dia tetap berpenampilan ala kadarnya, dengan motor butut dan belum punya rumah pribadi. Sebenarnya, iming-iming rupiah ditawarinya agar tak terlalu nyaring melawan perusahaan besar. Tapi, dia tak goyah. “Insya Allah, saya masih tetap berpihak pada konsumen sampai sekarang ini,” katanya.

Erison pun makin berkibar. Dia makin dikenal sebagai pejuang hak-hak konsumen. Dia menerima order dari para konsumen yang merasa dirugikan pelaku usaha. Lewat Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Padang Consumer Crisis (PCC), Erison membela konsumen yang dianiaya oleh berbagai jenis pelaku usaha. “Finance, perbankan dan pemilik Plaza, PLN, PDAM dan Asuransi, saya lawan kalau perbuatannya itu membohongi, mencederai dan bertentangan dengan UU Konsumen,” tegasnya.

Aktivis pelindung hak-hak konsumen nasional, Indah Sukmaningsih yang juga anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) “angkat topi” kepada Erison. “Ibu (Indah Sukmaningsih) itu bilang, puas dengan perjuangan Erison yang mampu menaklukan Adira Finance. Padahal, ibu itu selama ini berjuang melindungi konsumen di Jakarta tidak pernah mampu mengalahkan Adira. Tetapi, sama Erison, finance besar itu bertekuk lutut,” ujarnya.

Meski disanjung oleh Indah Sukmaningsih, Erison tak merasa puas. “Adrenalin saya tidak akan pernah berhenti, karena masalah pencederaan bahkan penjajahan terhadap konsumen akan terjadi terus,” ujarnya.

Meski dikenal sebagai pejuang hak-hak konsumen, bukan berarti Erison memperjuangkan semua konsumen. Dia tak ingin memperjuang konsumen yang nakal. Dia juga tetap memandang penting kerja sama dengan pengusaha untuk menangani konsumen yang nakal. “Karena UU Konsumen juga mengakomodasi hak-hak pelaku usaha, bahkan saya bekerja sama dengan sebuah finance untuk memburu konsumen nakal tersebut,” katanya.

Erison sebenarnya bukan sarjana hukum. Dia lulusan S1 Sastra Indonesia di Universitas Bung Hatta. Namun, dia mempelajari betul masalah-masalah hukum sehingga dapat memainkan peran layaknya seorang advokat. “Saya memang S1 Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta, tapi seorang sarjana sastra punya kemampuan melihat celah hukum di UU, di Sastra Indonesia diajarkan interprestasi teks,” ucapnya.

Bahkan, beberapa advokat di Padang pun pernah memakai jasa Erison dalam menangani sengketa konsumen. “Termasuk pihak kepolisian, sering menjadikan saya sebagai saksi ahli, mendampinginya dalam sengketa konsumen, atau sampai belajar tentang UU Konsumen ini,” katanya.

Menurut Erison, kelemahan sarjana hukum umumnya adalah tidak memahami interprestasi teks. Sementara yang digelutinya adalah UU yang menggunakan bahasa Indonesia. “Kalau seseorang hanya punya pengetahuan secara makna kamus, maka dia akan dangkal memahami sebuah UU apalagi sampai beradu dalam sengketa konsumen,” katanya mengajarkan.
Dari upayanya memperjuangkan perlindungan konsumen, Erison menjelma menjadi idola para konsumen teraniaya, sekaligus menjadi momok pelaku usaha yang nakal. Dia akan terus berjuang karena yakin sengketa antara konsumen dengan pengusaha akan terus terjadi, selagi perjanjian sepihak diterapkan para pelaku usaha nakal. “Padahal UU 8 Tahun 1999 Pasal 18 tentang klausula baku melarang perjanjian sepihak yang merugikan konsumen,” ujarnya.

Erison mengakui perjuangannya memerdekakan konsumen tidak selalu mulus. Dia pernah disomasi seorang advokat ternama dari Jakarta. Bahkan, ada pula yang mengancam akan membunuhnya, termasuk disantet oleh lawan dari konsumen yang dibelanya. “Semua itu saya pulangkan kepada Allah SWT, sampai saat ini saya masih alhamdulillah sehat wal afiat,” ucapnya. ADRIAN TUSWANDI

MENGABDI DEMI ANGKAT BESI


IMRON Rosadi atau bernama Tionghoa, Tionghoa Liu Nyuk Siong. Adalah seorang pedagang yang tak pernah bermimpi menjadi atlet angkat besi. Dunia itu mulai digelutinya sejak tahun 1963, saat harus bolak balik berdagang Pringsewu-Tanjungkarang. Imron muda melihat satu toko yang menjadi tempat latihan angkat besi yang berada persis di depan rumah pacarnya, AM, Mei Yuniarti yang dikelola oleh seorang Tionghoa, Khu Wei Yang.

Tiba-tiba ia tertarik dengan olahraga itu dan menemui pengelolanya untuk ikut bergabung. Imron semangat. Hampir hari-hari olahraga angkat besi itu digelutinya, usai berdagang. “Saya berniat, maka saya harus semangat,” ujar Imron. Di bawah gemblengan Khu Wei Yang, bakat Imron cukup berkesan. Baru dua tahun berlatih, Imron langsung diikutkan kejuaraan nasional. Hasilnya, Imron menyabet gelar juara. Dan, sejak itulah, berbagai gelar kejuaraan disabetnya. Dia menjadi yang terkuat dan tak terkalahkan sebagai jagoan cabang angkat besi di kelas 75 kilogram.

Tahun 1965 hingga 1968, Imron masih membawa nama DKI Jakarta. Maklum saja, saat itu belum ada klub angkat besi di Lampung. “Untuk semakin prestasi, saya harus pergi ke Jakarta dan berlatih dengan biaya sendiri,” tuturnya. Dari situlah, tiga kali Pekan Olahraga Nasional (PON), tidak ada atlet angkat besi yang menaklukkan kekuatannya. Tahun 1966, Imron mengalungi medali emas SEA Games dan memecahkan rekor nasional. Imron juga tercatat sebagai pemegang gelar the best nasional enam kali, the best Pesta Sukan Singapura, dan juara II Asia Pasifik.

Dengan berlimpah gelar juara, pada tahun 1967, Imron akhirnya berpikir untuk menjadi pelatih angkat besi dan mendirikan padepokan yang dinamai Gajah Lampung yang berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter itu di Pringsewu, Lampung. Alasannya sederhana. “Khawatir generasi angkat besi begitu kurang diminati dan Indonesia tidak ada atlet terbaiknya dari cabang itu,” ujarnya.

Tak mudah membangun tempat latihan sendiri. Dengan dukungan istrinya dari uang tabungan dan menjual arlojinya, Imron membeli satu set barbel dengan harga saat kisaran Rp30 juta. Dengan peralatan itu, selain berlatih ia juga mengajak teman-teman atau mereka yang menyukai olahraga angkat besi dan angkat berat untuk berlatih bersama. Cabang angkat besi yang tak populer mendatangkan sponsor membuat Imron harus dapat membagi waktu untuk mencari penghasilan dari kegiatan olahraga ini.

Beruntung dari kecil ia sudah akrab mencari uang sendiri dengan cara berdagang. Salah satu usaha Imran yang berkembang pesat hingga sekarang adalah jual beli kendaraan bermotor. Dealar motor Gajah Lampung itu sekarang dikelola anak saya (Imam Santoso). Nama itu diambil dari julukan yang diberikan media terbitan Jakarta pada saya saat saya menjadi atlet,” ujarnya.

Karena memang tidak memungut bayaran dari kegiatannya melatih, dana kamp pelatihan itu diambilkan dari koceknya sendiri. Bahkan, ketika atlet yang ikut berlatih bertambah banyak, tetap saja dia tak mau meminta bayaran. Kadang ia ikut mencukupi kebutuhan anak asuhnya. Sampai sekarang sudah tak terhitung materi yang dikeluarkan untuk olahraga angkat beban tersebut. “Tempat ini saya tinggali sejak 1967, namun baru bisa saya beli pada 1986. Hampir 20 tahun kemudian,” jelasnya.

Imron memang tak hanya melatih mereka. Para lifter yang rata-rata berusia muda juga makan, minum, dan menginap di kediamannya. Bahkan, jika mengikuti sebuah kejuaraan, Imron juga merogoh kocek untuk uang saku atlet yang mewakili Lampung. Jumlahnya tentu tak sedikit, mengingat jumlah lifter mencapai puluhan.

“Untuk mengikuti kejuaraan, saya sempat jual mobil pribadi. Semua peralatan dan dana untuk mengirim atlet, saya tanggung sendiri,” kata Imron, yang dibantu lima asisten, antara lain Rusli dan Taufik (mantan lifter). “Sejak dulu saya dibantu istri. Ia yang mengurusi segala kebutuhan atlet,” kata Imron yang dikenal sangat disiplin dan tegas dalam menggojlok lifter.

Baru pada pertengahan 1980-an Imron mendapat bantuan dari pemerintah dan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) setempat. Itu tak lepas dari prestasi anak asuhnya di berbagai event nasional maupun internasional. “Bayangkan, sejak 1982 hingga saat ini Lampung selalu menjadi juara umum di Kejurnas. Tak ada yang menyamai. Bahkan, untuk cabang olahraga lain di Indonesia,” ungkapnya, bangga.

Pada PON XVII/2008 di Kalimantan Timur misalnya, kontingen angkat besi/angkat berat yang dia bina di Padepokan Gajah menyumbangkan medali terbanyak bagi Lampung. Yakni 14 emas, 4 perak dan 2 perunggu sekaligus menyabet gelar juara umum cabang angkat besi/angkat berat. Berkat dedikasi dan loyalitasnya untuk prestasi olahraga tersebut, Pemerintah Lampung memberikan Imron hadiah satu unit mobil Toyota New Avanza secara simbolis plus uang tunai Rp360 juta yang diserahkan langsung oleh Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu.

Padepokan yang dulu sederhana itu pun sudah lumayan megah. Pada 21 Februari 1997, Ketua Umum PB Persatuan Angkat Besi, Binaraga, dan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) Soesilo Soedarman dan Gubernur Lampung saat itu, Pudjono Pranyoto, meresmikan “Padepokan Gajah Lampung Pringsewu” yang berdiri di atas tanah seperempat hektar. Saat itu terdapat tambahan fasilitas beberapa kamar untuk penginapan atlet. “Saya sebenarnya sudah menolak dengan berbagai cara. Berbagai cara pula mereka memaksa. Alasan saya, tempat ini milik saya. Saya bertanggung jawab atas segala sesuatunya. Apalagi bantuan itu kan beban,” urai ayah dari Eddy Santoso, Imam Santoso dan Ana Maria ini.

Dengan 20 kamar penginapan yang ada di Padepokannya, sekitar 30-40 lifter binaanya tinggal di Padepokan. Puluhan lain yang berlatih berasal dari derah sekitar sehingga tidak menetap di Padepokan. Usianya berlapis, mulai anak-anak usia 10 tahun hingga senior. Mantan pelatih nasional ini memang punya kiat, yakni tak pernah menargetkan beban yang harus diangkat para lifternya.

Menurut dia, anak asuhnya hanya akan mengangkat beban sesuai dengan hasil dari latihan yang telah mereka jalani. “Saya tak pernah menargetkan berapa beban yang harus diangkat. Sebelum mereka bertanding kan ada proses latihan. Nah, program latihan, porsi, dan intensitas yang mereka jalani dalam latihan ini yang menentukan berat beban yang mampu mereka angkat nanti (dalam pertandingan),” ujar lelaki yang terkenal vokal dalam menyuarakan ketidakbenaran yang dianggapnya terjadi pada cabang olahraga ini.

Imron sedar pentingnya menyiapkan regenerasi atlet, karena itu, sebisa mungkin mendidik anak usia belia untuk berlatih. “Untuk anak-anak, yang penting bagaimana mereka senang dulu berlatih. Jika sudah terlihat tekun, serius berlatih dan memiliki visi menjadi atlet, baru kita bina sesuai program latihan,” tutur Imaran. Ia juga membina semacam kamp penyaluran minat dan bakat di daerah Metro Lampung. Jika ada anak terlihat potensial, dibawa ke Pringsewu. Segala upaya untuk mengembangkan olahraga yang ditekuninya tersebut membutuhkan dana tidak sedikit.

Seiring kenaikan harga, biaya untuk menghidupi anak asuhnya semakin tak sedikit. Imron mengakui saat ini bantuan yang diberikan KONI Lampung nilainya besar. Namun, ia juga masih harus merogoh kocek pribadi. Sebab bantuan itu hanya menutup 70 hingga 80 persen dari kebutuhan setiap bulan. “Coba hitung sendiri. Itu termasuk vitamin, suplemen, obat-obatan, dan berbagai hal yang dipakai anak-anak. Kita mempunyai 25 set barbel yang rata-rata 3-4 tahun sudah harus diganti. Harganya ada yang mencapai Rp60-70juta. Jangankan cari untung. Kita selalu nombok,” katanya.

Imron menyadari angkat besi dan angkat berat bukanlah olahraga yang menjanjikan. Terutama dari segi ekonomi. Olahraga yang ditekuni itu tak bisa dikomersialkan. Di belahan bumi mana pun, kata Imron, tak ada tempat pembinaan yang dikelola pribadi seperti Padepokan Gajah Lampung. Biasanya dilakukan pemerintah atau minimal perusahaan berdana besar. “Jika KONI saja, seperti yang saya baca di koran, pening mencari dana untuk pembinaan, apalagi sorang Imron,” ungkapnya.

Namun, di lain sisi, Imron tidak terbiasa meminta-minta. Bukan tidak perlu dan enggan dibantu, hanya sedari kecil dia memang sudah dididik mandiri. Kini, setelah sekitar 40 tahun mengurus di Padepokan, Imron pun kerap tercenung saat ditanya untuk apa dia bertahan dan berkorban membina lifter. Ia sendiri mengaku tidak bisa menjawabnya. Yang pasti, ia hanya merasa bangga berbuat sesuatu untuk mengangkat prestasi daerah dan bangsanya.

Berbagai kendala kerap ia hadapi untuk tetap bertahan melanjutkan Padepokan. Ia juga sempat prihatin menyangkut kesulitan dalam mencari atlet. Untuk mencari bibit-bibit baru, sejak 2006 Imron bekerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat agar bisa merangkul siswa SD hingga SMP di seluruh Lampung. Hasilnya nihil. Padahal, dalam edaran sudah disebutkan seluruh biaya ditanggung. Sampai sekarang pun, Imran tetap membuka diri jika ada bibit atlet yang ingin berlatih di tempatnya. Ia hanya ingin mencoba mengangkat harkat mereka melalui olahraga ini. “Pernah dapat 11 anak, tapi tak bertahan lama.”

Karena itulah, kini semua atlet yang dibinanya berasal dari Pringsewu, yang kini menjadi kabupaten baru di provinsi Lampung, setelah disahkan menjadi kabupaten dalam Rapat Paripurna DPR tanggal 29 Oktober 2008. Kabupaten Piringsewu yang terletak 37 kilometer sebelah barat Bandar Lampung adalah pemekaran dari Kabupaten Tanggamus.

“Seluruh daerah di Lampung sudah saya datangi untuk mencari bibit-bibit atlet angkat besi dan angkat berat, namun nyatanya sampai sekarang belum dapat juga. Jadi, daripada jauh-jauh cari bibit ternyata tidak dapat, lebih baik di Pringsewu yang ternyata ada yang bisa dilatih,” ungkapnya.

Hal ini membuat Imron merasa sedih. Di saat usianya semakin menua, bibit-bibit muda semakin jarang ditemukan. Saking beratnya, sempat terlintas di benaknya untuk segera menutup padepokan tersebut. Namun, kata hatinya berkata lain. Ia pun bertekad padepokan itu harus berjalan terus selama ia bisa menjalaninya. Ia ingin pensiun dari hiruk-pikuk angkat besi, namun tak bisa. Cinta, pengabdian, tugas, dan tanggung jawab terhadap olahraga yang telah membesarkan namanya itu tak pernah pupus.

Yang jelas, terlepas dari keprihatinan dan rasa sedihnya, ia bangga karena angkat besi dan angkat berat kini bisa menjamin masa depan atlet. “Mereka yang berasal dari padepokan saya dan sudah memiliki prestasi bisa hidup layak. Mereka sudah punya rumah, sawah, kendaraan, dan juga tabungan. Jadi, jika atlet bisa mengelola keuangannya pasti ia bisa hidup layak, apalagi jika mereka mendapat pekerjaan,” tuturnya.

Kendati pun ada kekecewaan dengan spirit atlet sekarang yang cepat merasa puas dan kadang tidak mau berlatih lagi setelah mendapat pekerjaan, Imron tetap memberi apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang berkontribusi memperhatikan masa depan atlet. Darti ratusan lifter binaannya, 18 orang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), dua orang menjadi guru, empat menjadi pegawai PT POS dan Giro dan lain-lain. Dengan meningkatnya perhatian dari pemerintah terhadap olahraga, ia juga berharap cabang angkat besi dan angkat berat juga ini semakin populer di bih masyarakat. Dengan demikian, bisa semakin banyak yang berminat dan tidak terlalu sulit menemukan bibit-bibit berbakat. RUSMAN

PENYELAMAT INDONESIA DI AJANG DUNIA

KELOPAK kedua matanya nyaris keluar. Kedua kakinya terseok-seok. Dia terus bertahan menahan beban berat itu agar tidak jatuh. Dengan tubuh gontai dan bergerak nyaris 45 derajat dari posisinya semula, dia menghadap ke kamera dan penonton. Kedua tangannya mampu menahan barbel itu agar tetap berada di atas kepalanya walau hanya sejenak. Barbel turun nyaris bersamaan dengan bunyi bel. Itu bertanda, dia berhasil mengangkat barbel itu. Dia pun berteriak dan mengepalkan kedua tangannya sebagai ekspresasi kegembiraan.

Triyatno, demikian namanya. Dia berhasil melewati perjuangan hidup mati di gelanggang angkat besi. Itu dilakukan demi sebuah medali perak, yang menjadi medali paling berharga yang diraih kontingen Merah-Putih pada ajang Olimpiade di Inggris.

“Dalam hati saya berkata, saya harus mati-matian menahan, ini kesempatan terakhir saya. Kalau perlu mati di sini tidak apa-apa. Saya bahagia bisa mempersembahkan medali perak untuk Indonesia. Ini berkah dari Allah,” kata Triyatno usai meraih perak dengan total angkatan 333 kilogram.

Berkat perjuangannya, Triyatno menyelamatkan Indonesia di ajang internasional. Ketika cabang olahraga andalan bulu tangkis gagal mempertahankan tradisi emas pada Olimpiade 2012 London, Inggris, dia menyumbangkan mendali perak dari cabang olahraga angkat besi.

Di gelanggang olahraga angkat barbel, di Excel London, Triyatno yang berlaga di kelas 69 kilogram pada Selasa (1/8) malam waktu setempat, melanjutkan torehan perunggu yang diraih lifter Merah Putih lainnya, Eko Yuli Irawan, sehari sebelumnya. Berbeda dengan Eko yang mempertahankan perunggu Olimpiade sebelumnya, perak yan diraih Triyatno, merupakan peningkatan prestasi karena pada olimpiade empat tahun lalu di Beijing, dia juga menyumbang perunggu.

Torehan pria lajang berusia 24 tahun itu sebenarnya cukup mengejutkan. Menghadapi lawan-lawan berat dari berbagai negara, Triyanto membuka laga dengan hanya di peringkat sembilan untuk jenis angkatan pertama, snatch, yakni 145 kilogram.

Memasuki angkatan kedua, clean and jerk, dia menunjukkan kekuatan. Dia berhasil mengangkat barbel seberat 186 kilogram. Satu persatu lawannya, berhasil dia taklukan untuk masuk posisi tiga besar dan memastikan diri berada di zona medali. Dan, momen dramatis terjadi saat dirinya mengangkat beban 188 kilogram clean and jerk pada kesempatan ketiga atau terakhir. Penonton yang memadati Excel London, terdiam menyaksikan Triyatno mengerahkan segenap tenaganya untuk mengangkat barbel seberat 188 kilogram yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Bahkan, dalam latihan sekalipun.

Medali emas kelas 69 kilogram putra ini diraih oleh lifter China, Lin Qingfeng, yang membukukan total angkatan 344 kilogram. Sementara medali perunggu direbut lifter Romania, Martin Razvan Constantin, dengan angkatan seberat 332 kilogram. Sebenarnya, Triyatno sudah mengamankan medali perunggu ketika mampu mengangkat beban 186 kilogram pada kesempatan kedua. Namun, kesempatan terakhir, tidak dia sia-siakan untuk terus berjuang mati-matian di atas gelanggang guna meraih prestasi lebih tinggi dan mengharumkan nama bangsa di kancah bergengsi.

Perjuangan anak bungsu dari tiga bersaudara itu tidak sia-sia. Putra pasangan Suparno dan Sukatinah tersebut mampu menorehkan prestasi lebih baik dari hasil yang diperolehnya di Olimpiade Beijing 2008. Dalam beberapa tahun terakhir, Triyatno memang merupakan salah satu lifter andalan Indonesia, baik di SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade. Pria yang lahir dan besar di Lampung itu mengawali olahraga angkat besi di usia 14 tahun. “Waktu itu diajak teman untuk ikut berlatih. Ya sudah saya ikut saja. Pertama latihan badan sakit semua,” kata atlet yang kini diasuh pelatih Lukman itu mengenang awal kariernya sepuluh tahun yang lalu.

Setiap hari, kecuali Kamis dan Minggu, dia terus berlatih. Bergelut dengan olahraga keras tak membuat Triyatno punya sikap tak bersahabat. Dia justru terkenal humoris. Juga memiliki cita-cita yang bersahaja: belajar bahasa Inggris, dengan menjadi sarjana jurusan bahasa Inggris. “Saya ingin berkenalan dengan atlet-atlet dari negara lain, tetapi selalu terkendala masalah bahasa,” ujarnya.

Latihan kerasnya telah membuahkan hasil. Deretan prestasi nasional hingga dunia ia torehkan. Selain koleksi perunggu dan perak Olimpiade, dia juga pernah meraih emas di Kejuaraan Asia 2009, dan perunggu di Kejuaraan Dunia 2009 dan 2010. Di kancah nasional seperti PON, lifter yang membela Kalimantan Timur ini pun tidak tertandingi.

Buah prestasinya tentu tidak saja medali. Bonus demi bonus mengalir seiring dengan meningkatnya prestasi. Ia bisa memberangkatkan kedua orang tuanya pergi haji, selain tabungan untuk masa depannya. Triyatno berencana menikahi kekasihnya, Riska Anjani yang juga sesama lifter, usai PON 2012 di Riau.

Meski sudah mendapatkan banyak hal dan mulai menata masa depan, Triyatno masih menyimpan harapan untuk dapat tampil di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Ia juga ingin meningkatkan perolehannya menjadi emas. Ia pun sadar jika cita-cita itu bakal terwujud dengan cara berjuang mati-matian. AHAMD MUHAJIR

TULUS KASIH UNTUK KAUM MISKIN


Lulusan terbaik dari Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2008 itu memilih untuk tak berada di zona aman. Kendati sempat bekerja di perusahaan konsultan manajemen terkemuka McKinsey & Company, ia memilih untuk mengabdikan hidupnya bagi orang lain. Luar biasa, karena lelaki Tionghoa ini lebih fokus kepada orang miskin urban.

Dialah Leonardo Kamilius, pendiri Koperasi Kasih Indonesia (KKI). Sesudah 15 bulan bekerja di McKinsey & Company, Leon mendapatkan promosi pada tahun 2009. Pada saat bersamaan, Padang, Sumatera Barat, dilanda gempa mahadahsyat. Dia memutuskan untuk menjadi relawan selama dua minggu dan mengambil cuti tidak dibayar.

Di Padang, dia bangun setiap hari hanya untuk membantu orang lain. Menyiapkan peralatan untuk membersihkan sisa-sisa puing, hingga ikut membangun barak-barak. “Rasanya luar biasa. Hati terasa penuh,” ucap Leon kepada Jurnal Nasional, di Kelapa Gading, Jakarta, akhir Juli lalu.

Sesudah pulang dari Padang, dia kehilangan passion untuk melakukan yang terbaik di McKinsey. Namun, dia tidak berani keluar. “Setahun berlalu, mereka meminta saya keluar dan saya mengejar impian saya. Saat itu, beberapa perusahaan datang, tapi saya memilih untuk mulai mengerjakan impian saya untuk membantu orang lain secara signifikan, meskipun saya sendiri masih jauh dari kemapanan,” ungkap Leon yang sempat bekerja di McKinsey selama 2,5 tahun itu.

Impian itu adalah berbuat sesuatu kepada orang miskin urban, khususnya di Jakarta. Impian yang sudah membayang sejak duduk di bangku kuliah. Bagi Leon, membantu orang miskin bukan dengan sekadar memberikan loan, namun pendidikan. “Mengubah mindset itu tidak mudah,” katanya.

Bermodal Rp50 juta dari kantung pribadinya, Leon pun mendirikan KKI. KKI berfokus pada pengentasan kemiskinan, yang merupakan masalah kompleks dan strategis di Indonesia. Tak kurang dari 100 juta orang Indonesia kurang mampu, dengan pendapatan di bawah US$2 per hari (World Bank, 2008). Adapun Biro Pusat Statistik (BPS) melaporkan tidak kurang dari 30 juta orang miskin di Indonesia pada tahun 2011, dengan ukuran hidup kurang dari US$1 per hari. “Kemiskinan adalah masalah sosial strategis, disebabkan oleh dan menyebabkan banyak hal,” tandasnya.

KKI memilih Cilincing sebagai lokasi pertama karena merupakan salah satu kantung kemiskinan terbesar di Jakarta. Persebaran keluarga miskin 67.104 keluarga, Kecamatan Cilincing mengkontribusikan sekitar sepertiga keluarga miskin atau sekitar 19 ribu di Jakarta Utara. Khusus Kelurahan Kalibaru adalah yang termiskin di Jakarta Utara, yaitu sekitar 8.400 keluarga miskin atau 83% dari total warga miskin di sana.

“Deg-degan juga saat masuk ke Cilincing. Apalagi saya bermata sipit. Tetapi warga di sana akhirnya menerima kedatangan saya, melalui seorang kawan yang kebetulan tinggal di sana dan pernah bekerjasama dalam gelaran sosial waktu saya kuliah,” ungkapnya.

Dalam praktiknya, KKI mengkombinasikan metode microfinance dengan pendidikan keuangan, yang sangat penting namun kurang disentuh institusi lain. Microfinance adalah jasa perbankan atau keuangan yang ditujukan untuk keluarga atau usaha berpenghasilan rendah (ACCION). Leon terinspirasi peraih Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus yang membuka mata dunia untuk karyanya di Grameen Bank.

Selain itu, World Bank juga pernah menyatakan bahwa akses terhadap jasa keuangan saat ini telah diakui secara luas sebagai sangat penting dalam usaha mengentaskan kemiskinan. Perihal pendidikan keuangan, Leon tertarik dengan pernyataan Direktur Utama Faulu Kenya, John Mwara bahwa institusi microfinance yang tidak memberikan pendidikan keuangan bisa membuat nasabahnya terjebak terlalu banyak hutang.

Bagi Leon, KKI melihat bahwa orang miskin tetap miskin bukan karena penghasilan mereka rendah, melainkan karena mereka tidak disiplin dalam mengatur uang (konsumtif) dan jarang sekali menabung. Oleh karena itu, pendidikan keuangan sangat diperlukan. Observasi lebih dari 10 ribu Pengeluaran harian untuk jajan anak kurang dari 5% yang menabung untuk masa depan. “Pinjaman mingguan adalah produk yang paling banyak diminati oleh nasabah KKI pada saat ini. Pinjaman dimulai dari Rp500 ribu dan dibayar mingguan,” katanya.

Hal utama yang membedakan KKI dengan lembaga keuangan mikro lainnya adalah idealisme dan keteguhan untuk membentuk perilaku keuangan nasabah. KKI memilih model bisnis sosial, bukan LSM, karena dua alasan. “Supaya bisa membuat dampak sosial berkelanjutan melalui cara yang juga berkelanjutan. Hingga Mei 2012, KKI telah mendukung 762 peminjam yang sebagian besar adalah wanita kurang mampu. Kredit macet berada pada tingkat 0,2%,” ungkapnya.

Bisnis sosial berarti institusi yang tujuan utamanya mengatasi satu atau lebih masalah sosial melalui pendekatan bisnis. Bisnis sosial cocok dengan situasi di mana mereka yang ingin ditolong bisa menciptakan nilai, misalnya bisa bekerja atau mengelola usaha. Bisnis sosial pun tetap menghasilkan keuntungan agar berkelanjutan dan tidak bergantung pada donasi pihak eksternal.

Bisnis sosial menolong orang untuk bisa menciptakan nilai. Misalnya, orang miskin bisa mendapatkan uang bila punya usaha, namun tidak memiliki sumber daya, misalnya modal. Dengan diberikan pinjaman modal, mereka menjadi berdaya dan mandiri. Bisnis sosial tetap memerlukan donasi eksternal, namun hanya sampai ia bisa menutupi biaya dari pendapatannya. Setelahnya, ia bisa hidup tanpa donasi. “Hal ini karena donasi digunakan sebagai pinjaman lalu dikembalikan oleh peminjam, dipinjamkan lagi, sehingga terus berputar,” katanya.

Salah satu keluarga yang mendapatkan manfaat dari kehadiran KKI adalah pasangan Manih dan Sujud. Memiliki enam anak, keluarga ini awalnya susah bergerak karena kondisi perekonomian yang minus. Sujud adalah penarik becak yang awalnya berpenghasilan sekitar Rp45 ribu per hari dan becaknya adalah sewaan sekitar Rp4 ribu per hari. Dia ingin memiliki becak sendiri, namun kondisi kemiskinan membuat rentenir pun enggan meminjami modal.

Pada Februari 2011, Manih menerima pinjaman sekitar Rp600 ribu. Sujud lalu membeli becak. Dengan demikian, dia berhemat dari sewa becak dan sejak itu punya asset sebuat becak. Pada bulan Juni 2011, Manih menerima pinjaman hampir Rp500 ribu dan memulai usaha dengan memperoleh pendapatan antara Rp45 ribu-Rp50 ribu per hari.

“Saya selalu berdoa semoga suatu hari kami bisa lebih maju. KKI pun datang dan meminjamkan kami modal. Saya merasa Tuhan menjawab doa saya. Kami sangat bersyukur,” ungkapnya. Selain dampak langsung, KKI juga secara aktif mendukung organisasi lain yang ingin mengembangkan microfinance dan menginspirasi anak muda.

KKI dipimpin oleh tiga profesional muda alumni Universitas Indonesia. Selain Leon, KKI juga digawangi oleh Lucyana Siregar dan Ferry Setiawan. KKI punya empat karyawan yang merupakan warga lokal. Mereka adalah Sri yang sebelumnya bekerja di perusahaan konveksi, Ida Farida sebelumnya LSM sebagai kader kesehatan, Widya sebelumnya bekerja di perusahaan jamu sebagai sales dan Rosmida M yang bekerja paruh waktu sebagai humas dan kader kesehatan.

“KKI mengakhiri tahun pertamanya dengan 439 peminjam. Kami ingin mendukung 2.000 orang dan menyiapkan sistem untuk ekspansi di 2012. KKI harus mencapai 2.000 orang agar bisa berkelanjutan. Tantangan utama untuk mencapai hal ini adalah mendapatkan dana US$94 ribu,” ucap Leon.

Hingga kini, Leon tetap bersahaja. KKI memang bukan lahan baginya untuk mengeruk keuntungan dan memperkaya diri. Bahkan, untuk menyambung hidup keluarga kecilnya, Leon bekerja freelance sebagai konsultan manajemen di beberapa perusahaan. Karena freelance, pendapatannya tak menentu. Bahkan, dia dan istrinya tak serumah karena kondisi itu. Sang istri berada di rumah orangtuanya di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Leon berada di rumah orangtuanya di Setiabudi, Jakarta Selatan. “Tetap saya syukuri,” tandasnya.

Kondisi itu tetap menyemangati Leon untuk mengembangkan dan menghidupi KKI. Selain dari kantung sendiri, pendanaan KKI berasal dari sejumlah donatur. Namun, Leon hanya menerima sumbangan dari pihak-pihak yang benar-benar tulus membantu orang miskin. “Saya tidak mau, kalau ada donatur yang ada embel-embelnya. Misalnya untuk kepentingan kampanye politik atau keagamaan. Kalau mau bantu, bantulah dengan ketulusan demi kemanusiaan,” ungkapnya. DION B ARIANTO

MEMBANGUN THE DREAM TEAM


PERGOLAKAN yang terjadi di tubuh perusahaan pengelola uang pekerja saat itu tidak pernah surut. Pertentangan tidak hanya pada level direksi tetapi sudah mewabah di level karyawan. Pemerintah ketika itu pun melakukan bongkar pasang direksi untuk mencari penyelesaian di tubuh BUMN sektor asuransi ini. Hingga akhirnya muncul nama Hotbonar Sinaga yang sampai saat ini masih menjadi nakhoda.

Hotbonar Sinaga sejatinya bukanlah sosok baru yang berkecimpung dalam sektor industri asuransi nasional. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini boleh dibilang aktif dalam urusan industri asuransi. Selain sebagai pengamat, dia juga masih tercatat sebagai dosen di perguruan tinggi bergengsi di Indonesia itu.

Lantas peluru apa yang dimuntahkan Hotbonar untuk meredam gejolak di tubuh PT Jamsostek (Persero)? Hingga membuat perusahaan tersebut kembali ke khitah ke jalan perusahaan yang menerapkan tata kelola perusahaan yang baik secara benar. “Kuncinya adalah akomodasi dan mau mendengar. Meski akomodasi seringkali dikiaskan sebagai sikap yang tidak tegas,” katanya kepada Jurnal Nasional di ruang kerjanya usai dia menerima unsur Serikat Pekerja (SP) di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, baru-baru ini.

Tata kelola yang baik selalu dimulai dari masalah. Karena setelah itu ada penyelesaian masalah. Sudah tentu ujung-ujungnya kepemimpinan, reputasi dan konflik. “Di Jamsostek konflik saat itu terjadi antara perusahaan dengan Serikat Pekerja. Dan hal itu tidak pernah lepas dari kepemimpinan,” katanya.

Sebelumnya lagi ada masalah reputasi karena direksinya ada yang berujung di penjara. Sehingga ditilik dari masalah itu tentu perlu ada satu cara yang bisa memberikan ketenangan bekerja bagi karyawannya. “Sudah tentu ada misi lain yaitu bagaimana meningkatkan kepesertaan, manfaat, dan kesejahteraan bagi peserta,” katanya.

Hotbonar mengungkapkan ihwal memimpin Jamsostek ia menggunakan pendekatan akomodatif dan kondusif. Ia mengaku berusaha untuk akomodasi. Semua masukan ia terima dan disaring serta merangkul semua pihak. Karena di Jamsostek saat itu sudah pasti ada pengkotak-kotakan secara tidak sengaja.

Misalnya ada yang pro dan oposan dengan direksi yang lama. Sehingga dengan pendekatan akomodatif seperti itu secara lambat tetapi pasti rekonsiliasi bisa
dilakukan kendati arusnya besar. “Secara umum saya berhasil mengendalikan gejolak karena pendekatan non formal yang saya lakukan,” katanya.

Guru kencing berdiri murid kencing berlari. Peribahasa itu Hotbonar pergunakan untuk mewujudkan keteladanan. “Saya memberikan keteladanan dengan simpel dan sederhana.” Acapkali dalam setiap aktivitas keseharian Hotbonar tidak pernah formal. Ia meniadakan lift khusus direksi, mengurus sendiri urusan beli tiket hingga mencari hotel saat bepergian atau tugas tugas luar kota. Ia pun tidak segan-segan naik taksi ketika ada pertemuan di luar kantor atau mengisi acara diskusi maupun seminar, termasuk makan di kantin.”Saya menolak saat perusahaan memberikan sekretaris pribadi yang menemani ke mana pun saya pergi,” katanya.

Sikap keteladanan seperti itu memang efektif untuk membenahi perusahaan yang sempat bermasalah selain sikap terbuka dan bersih dari figur pimpinannya. Sikap bersih itu Hotbonar tunjukkan saat ia menikahkan putrinya. “Saya menyerahkan kepada KPK uang sejumlah Rp34 juta (gratifikasi),” katanya. Di luar hal pribadi Hotbonar juga menandatangani pakta integritas.

Dampak dari sikap akomodatif, persuasif dan sederhana tidak jarang Hotbonar dibilang tidak tegas. Padahal jika dipahami sikap akomodatif menunjukkan sikap yang tegas. “Apakah saya lantas membiarkan ada orang yang bermasalah? Atau bila saya harus memecat orang maka saya akan memecat,” katanya. Kendati orang yang dianggap dekat dengan dirinya sekalipun.

Hotbonar pernah mengusulkan pada Menteri BUMN saat itu (Sofyan Djalil) untuk memecat dua direksi. Alasan pengusulan karena menurut Hotbonar dua figur direksi tersebut sudah tidak sejalan dengan misi perusahaan dan bakal menghambat kinerja. “Banyak yang bertanya kepada saya kenapa keduanya dipecat, padahal mereka dibilang sangat dekat dengan saya. Saya jawab bila salah tidak ada istilah orang dekat,” katanya menegaskan.

Sepak terjang Hotbonar yang juga staf pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) ini bisa dirasakan bagi perusahaan yang mengelola aset di atas Rp100 triliun ini. Tidak hanya kepesertaan, pelayanan, dan manfaat, aset Jamsostek meningkat berlipat ganda. Kebetulan komposisi Direksi Jamsostek di era Hotbonar boleh terbilang the dream team. Ada Djoko Sungkono yang notabene anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dan Elvyn G Massasya yang musisi dan ahli investasi.

“Omong kosong bisa meningkatkan kesejahteraan peserta tanpa menyejahterakan dulu karyawan.” Dengan karyawan sejahtera maka akan memotivasi untuk bekerja lebih baik bagi perusahaan. “Karyawan akan semakin baik dan hasilnya banyak inovasi,” katanya.

Hotbonar masih ingat pada HUT Jamsostek 5 Desember 2009, Menteri BUMN memuji inovasi yang rajin dilakukan Jamsostek. Hotbonar tak segan membagi nomor handphone kepada semua karyawan (semua level) dan ia pun respons (cepat membalas). Menurutnya informasi dari semua karyawan itu penting dan benar. “Sesibuk apa pun saya selalu menyempatkan membalas meski hanya ok dan terimakasih. Dengan menjawab semua SMS itu artinya saya telah membuka sumbatan dan menciptakan transparansi di Jamsostek. Informasi penting itu tidak hanya didapat dari mulai level direksi hingga level kepala divisi atau kepala kantor wilayah, tetapi juga staf sekalipun,” katanya. Tak salah kiasan yang menyatakan “Bila kita ingin diperlakukan baik, maka kita harus bersikap baik juga.”

Secara tak langsung sebenarnya Hotbonar telah diuntungkan nama besar yang melekat pada dirinya. Sebelum menjabat pimpinan Jamsostek, ia adalah pengamat asuransi dan dosen. Sejumlah jabatan mentereng di sejumlah organisasi juga ia sandang. “Artinya nama besar itu membantu dan membawa wibawa. Wibawa itu bisa tercipta karena jabatan formal yang ditunjuk karena melalui surat keputusan dan karena sikap (akomodatif dan mau mendengarkan) selanjutnya kompetensi (mumpuni) dibidangnya,” katanya.

Terkait kompetensi, Hotbonar mengungkapkan bahwa ia sudah lama kenal Jamsostek, saat Dirut Jamsostek masih dijabat Sutopo Juwono. Saat itu ia menjadi konsultan dan pengajar pada Jakarta Insurance Institut. “Ada program inhouse trainning untuk level eselon satu dan dua di Jamsostek. Program ilmu asuransi yang saya berikan kepada mereka. Artinya mereka mengenal tentang ilmu asuransi dari saya. Selanjutnya saya juga terlibat dalam center for corporate leadhership (suatu institusi yang membantu mengembangkan pemimpin korporasi) termasuk Jamsostek,” katanya. WAHYU UTOMO

MENEBAR INSPIRASI DARI KURSI RODA


Peraih penghargaan Danamon Award 2012 ini sangat inspiratif bagi para penyandang disabilitas. Bahkan, menginspirasi juga bagi mereka yang kondisi fisiknya sempurna. Dia membuktikan jika fisik yang tak berdaya dapat menjadi kekuatan untuk meraih masa depan gemilang.

Namanya Habibie Afsyah. Hati ini terasa iba saat melihat kondisinya. Lelaki berusia 24 tahun seakan tak berdaya di atas kursi roda. Penyakit muscular dystrophy, membuat fisiknya melemah. Habibie yang sejak lahir berbadan gemuk, kini seperti tak berdaya. Kedua tangan dan kakinya mengalami pengecilan. Di atas kursi roda, Habibie juga sulit bergerak. Untuk menoleh saja, dia sulit. Apalagi harus menggerakkan kedua tangannya agar dapat menggerakkan kursi rodanya. Namun, dia mampu berkomunikasi dengan baik.

Habibie bersyukur karena diberikan ibu yang sabar, yang selalu berada di sampingnya. Endang Setyati, sang ibu, selalu setia mendampingi Habibie, anak kesayangan semata wayangnya. Tuhan memang adil. Meski fisik tidak sempurna, Habibie dianugerahi otak yang cerdas dan motivasi yang sangat luar biasa. Dari atas kursi roda, dia mampu menghasilkan limpahan rezeki yang cukup melimpah dari bisnis via online (internet marketing) yang dikembangkannya.

Bagaimana mungkin Lelaki kelahiran Jakarta, 6 Januari 1988 yang kondisi fisiknya tak berdaya itu bisa menjadi juragan bisnis di dunia maya? Rupanya, dia mengembangkan bisnis pemasaran dengan membuat website. Bukan pekerjaan mudah membuat website. Selain harus mengerti tentang desain grafis dan kepiawaian mengoperasionalkan komputer, dibutuhkan juga kemampuan merangkai kata yang mampu mendorong pengguna internet mengunjungi website yang dibuatnya dan membeli barang yang diiklankannya.

Habibie pun bercerita. Di rumahnya di Jalan Sumbangsih V/3 RT 06/RW 01, Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan, dia menggarap website dengan menggunakan komputer. Dengan segala daya dan upaya, dia mengoperasionalkan komputer di atas kursi rodanya. Sementara untuk melakukan pengetikan, dia menggunakan handphone. Dia mengetik kata demi kata untuk memenuhi website yang penuh dengan iklan, dalam posisi tidur, atau di atas kursi roda.

Namun, masih sulit membayangkan bagaimana dia mengoperasikan komputer dengan tangan dan tubuh yang lemah. Untuk menggerakkan mouse saja, dia sulit. Tapi, Habibie punya motivasi yang luar biasa. Dia mampu membuktikan jika kekurangan yang dimilikinya menjadi kekuatan. “Saya buktikan bahwa disabilitas itu bukan sebuah kekurangan, tetapi kelebihan daripada yang lain. Kami juga dapat berprestasi. Bahkan, bisa mengalahkan mereka-mereka yang normal,” katanya bangga.

Beberapa website karya Habibie antara lain http://www.ponsel-quran.com dan http://www.rumah101.com. Di website http://www.ponsel-quran.com, Habibie menjadi agen resmi yang mendistribusikan ponsel Al Quran kepada konsumen. Lewat website itu, Habibie juga menawarkan kepada siapa saja untuk mendaftarkan diri menjadi agen penjualan ponsel Al Quran seperti Al Quran Pad Raztel A930 yang merupakan tablet yang didesain khusus untuk masyarakat Indonesia dan untuk mengakomodasi Al Quran sebagai konten utamanya, membedakan tablet tersebut dengan tablet-tablet yang lain.

Sementara website http://www.rumah101.com, berisikan konten bisnis properti. Di laman itu terdapat banyak tawaran jual beli properti dengan berbagai macam tipe rumah. Dia juga membuat situs http://www.habibieafsyah.com, yang isinya informasi tentang sejumlah produk. Di situs itu, Habibie juga memberikan layanan jasa SEO (search engine optimisation) yaitu mengoptimalisasikan mesin pencari untuk membantu meningkatkan kualitas website di search engine Google. Dengan begitu, konsumennya dipastikan dapat mengais untung dengan memanfaatkan Google sebagai media untuk mempromosikan dagangannya.

“Aku buat blog, lalu disewakan untuk iklan. Besarnya keuntungan diraih dari banyaknya pengunjung yang mengeklik. Kayak Google, cari publisher, nah aku buat blog, yang menampilkan iklan. Ketika iklan ditampilkan, kan ada yang mengeklik, saya dapat duit,” ujarnya berbagi pengalaman.

Habibie rupanya menyadarkan khalayak jika Google merupakan salesman andal di abad ini. Berdagang dengan menggunakan Google sama halnya dengan membuka toko di pinggiran jalan yang ramai. Usaha yang dirintisnya sejak tahun 2007 lalu itu pernah mendapatkan pendapatan yang mencengangkan saat dirinya menjadi mitra Amazon, toko online terbesar di dunia. Kala bisnis via online belum menjamur seperti sekarang, Habibie mengantongi uang hingga US$4.000 sampai US$5.000 setiap bulan. “Bahkan ada yang sampai US$8.000,” kata Endang. “Tetapi, sekarang lagi turun. Ya, minimal US$1.000 setiap bulan,” kata Habibie sambil tertawa ringan.

Habibie tak ingin kesuksesannya dinikmatinya sendiri. Dia lalu membagi ilmu tentang pengalaman suksesnya saat bersama Amazon, dalam sebuah buku elektronik (e-book) yang berjudul Sukses dari Amazon. E-book itu terjual laris. Sayangnya, sejak pertengahan 2008, krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat berpengaruh negatif terhadap eksistensi Amazon yang juga berpengaruh terhadap pendapatan Habibie.

Namun, dia tak putus semangat. Habibie tetap mengembangkan bisnis via online dengan membuat website, walaupun hasilnya jauh lebih kecil. Hebatnya, Habibie sering diundang menjadi pembicara di kampus-kampus untuk membicarakan internet marketing yang ditekuninya. “Kegiatan sehari-hari, tetap di bisnis online, sambil memberikan pelatihan kepada teman-teman yang disabilitas maupun nondisabilitas, baik di dalam maupun luar kota,” ujarnya.

Bukan hanya itu, bersama ibunya, Habibie juga mendirikan Yayasan Habibie Afsyah. Di yayasan itu, Habibie mendermakan ilmunya untuk memberi pelatihan kepada siapa pun yang tertarik mengembangkan bisnis via online. Perjuangan Habibie pun menuai apresiasi. Dia menjadi narasumber inspiratif di acara Kick Andy, Metro TV. Dia juga menjadi nominator penghargaan Danamon Award Tahun 2012. Penghargaan itu diberikan kepada mereka yang berjuang meningkatkan kesejahteraan orang-orang di sekitarnya. M. YAMIN PANCA SETIA

PEJUANG GENDER DARI LERENG WILIS


SULASTRI, sosok perempuan yang sederhana. Ia hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) yang tinggal di Desa Joho Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, tepatnya berada di lereng Gunung Wilis. Tetapi, sepak terjang bekas Tenaga Kerja Wanita (TKW) ini sungguh luar biasa. Perempuan dengan dua putra ini mampu mengangkat derajat dan martabat wanita di desanya.

Prestasi dalam bidang lingkungan hidup pun berhasil diukirnya. Dia pernah mendapatkan penghargaan berupa Kalpataru dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Ia juga pernah mendapatkan penghargaan dari She Can Award, sebuah penghargaan untuk wanita inspirasi Indonesia yang berprestasi. Meski hanya lulusan SMA, ia mampu menggerakkan perempuan di Desa Joho Kabupaten Kediri untuk lebih maju, berdaya, dan sederajad dengan kaum laki-laki.

Perjuangan Sulastri mengangkat derajat perempuan di desanya berawal setelah dirinya pulang dari Hongkong. Di negara itu, dia menjadi TKW selama dua tahun. Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan pengolahan kayu di Pangkalanbun bagian administrasi. Setelah menikah di tahun 1999, Sulastri kembali ke Desa Joho untuk merawat ibunya. Hatinya tergerak untuk melakukan tindakan saat melihat ibu-ibu yang selalu berada di bawah bayang-bayang laki-laki.

Berawal dari paguyuban Sido Rukun, perempuan usia 34 tahun ini mencoba menghimpun perempuan di Desa Joho untuk mengembangkan potensi desa, sumber daya alam, manusia, maupun potensi budaya. Karena keteguhannya, dia pun dipercaya menjadi Kepala Desa. Wawasannya pun semakin terbuka setelah dirinya dijejali ilmu dari acara yang diselenggarakan mahasiswa yang sedang kuliah kerja nyata (KKN) di desanya.

Dari kegiatannya itu, Sulastri makin sadar jika perempuan tidak sekadar mengurusi urusan domestik semata. Dibantu mahasiswa, Sulastri kemudian mendirikan Taman Pendidikan Alquran (TPA). Awalnya, para pengajarnya adalah mahasiswa STAIN yang sedang KKN. Namun, kaderisasi yang berjalan dengan baik, berhasil mengajak ibu-ibu di Desa Joho untuk menjadi tenaga pengajar.

Seiring perjalan waktu, keberadaan TPA terus berkembang. Namun, ada yang mengusik di benak Sulastri. Dia berpikir, imbalan apa yang harus diberikan kepada para tenaga pengajar itu. Sementara untuk menarik iuran dari orangtua siswa, tidak mungkin. “Karena aku berpikir sebisa mungkin jangan sampai memberatkan orangtua siswa,” katanya.

Beruntung, rektor STAIN Kediri memberikan bantuan tiga ekor kambing. Dari tiga ekor kambing itu, Sulastri mengembangkan arisan kambing untuk para pengajar TPA. Setelah kambing itu beranak, induknya diberikan kepada pengajar lainnya secara bergantian. Ternyata, model arisan kambing ini bisa berjalan dengan baik. Arisan kambing pun kini tak hanya dilakoni para pengajar TPA saja. “Tapi sudah berkembang ke warga lain,” katanya.

Dari pengalaman mengorganisasi TPA dan arisan kambing itu, Sulastri makin yakin dengan potensi yang dimiliki perempuan di desanya. Dia lalu mengembangkan sejumlah kegiatan pemberdayaan ibu-ibu seperti arisan beras dan memberdayakan untuk mengembangkan industri rumah tangga seperti memproduksi kripik pisang, kripik ketela, pisang, sukun, talas dan kripik lainnya. Bahan bakunya berasal dari ubi-ubian dari hasil panen di desa. Kegiatan pemberdayaan itu pun berhasil dengan baik.

Sulastri lalu berinisiatif mendirikan koperasi sekaligus arisan uang. Pendirian koperasi ini ide dasarnya sangat sedehana, yakni membantu warga yang terjerat hutang rentenir. Sebelumnya, tak sedikit warga yang terjerat rentenir lantaran meminjam uang. Sampai-sampai, para rentenir menguasai ekonomi para warga Desa Jojo yang hanya mengandalkan penghasilan dari bercocok tanam. Selain bercocok tanam, mereka tak punya penghasilan lain. Sementara kebutuhan semakin meningkat.

Koperasi itu diberi nama Sido Rukun. Berdiri pada tahun 2006 dan terus berkembang. Warga sekitar merasakan manfaat dari keberadaan koperasi itu. Mereka kini tak lagi terlilit dalam jeratan rentenir. Tak lama setelah koperasi terbentuk, ide Sulastri tidak berhenti. Bersama ibu-ibu, ia mendeklarasikan berdirinya Paguyuban Sido Rukun.

Awalnya, hanya beranggotakan 20 orang. Sekarang keanggotaannya sudah berkembang menjadi ratusan. Modal awal yang hanya berasal dari para anggota sebesar Rp50 ribu, berhasil dikelola dengan baik. Kini, koperasi itu mempunyai omset sekitar Rp300 juta.

Banyak tantangan dan hambatan yang dihadapinya saat awal menggerakan koperasi itu. Ia harus naik turun gunung mendatangi rumah-rumah warga desa agar mau bergabung dengan koperasinya itu. Begitu juga dengan arisan beras yang dia bentuk sejak tahun 2004. Dia mengalami kendala berupa minimnya dukungan dan simpati dari aparat desa. Bahkan, cibiran dan ejekan dari pamong desa yang mayoritas laki-laki itu juga menerpanya. “Kalian perempuan hanya lulusan SD saja kok mau mendirikan koperasi,” kata salah satu pamong ditirukan Sulastri.

Tetapi, dia tak patah semangat. Sulastri tetap mencoba untuk menghubungi mahasiswa yang pernah KKN di desanya. Dia meminta mahasiswa untuk memberikan pelatihan bagaimana mendirikan dan mengelola koperasi yang baik. “Alhamdulillah koperasi kami malah menjadi Juara 1 Lomba Administrasi Pra Koperasi seKabupaten Kediri tahun 2010,‘ katanya.

Sulastri lalu teringat saat presentasi di hadapan juri. Jika peserta lain menggunakan laptop, dia hanya membawa setumpuk buku-buku administrasi koperasi. “Tapi justru kami malah menjadi juara 1,” katanya bangga. Keberhasilan itu yang kemudian memunculkan banyak simpati dari warga desa khususnya kaum wanita.

Rupanya, Sulastri tak berhenti berkreasi. Dia lalu mengembangkan kesenian peninggalan nenek moyang yakni mengembangkan musik lesung yang khusus dimainkan para ibu-ibu. Kesenian yang diperagakan ibu-ibu itu rupanya menjadi langganan pemerintah setempat ketika mengadakan sambutan tamu-tamu luar daerah atau perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak hanya itu, Sulastri pun berinisiatif mengajak warga terutama ibu-ibu untuk menanam pohon, untuk mencegah longsor. Saat ini, lahan yang sudah tersentuh penghijauan sudah mencapai 46 hektar. Keberhasilannya menghijaukan desa itulah yang kemudian dirinya mendapatkan penghargaan terbaik pertama kategori pembina lingkungan lomba pelestarian fungsi lingkungan hidup Provinsi Jawa Timur yang diserahkan pada 18 Juli 2011. WITANTO

PENGABDIAN PASTOR MERAWAT BUMI


SELASA, 5 Juni 2012, adalah momentum paling bersejarah dalam hidup Samuel Oton Sidin. Kala itu, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan anugerah Kalpataru kepada pastur anggota Ordo Fratrum Minorum Cappucinorum (OFM Cap) ini. Langkah sederhana sang biarawan Kapusin ini dinilai sukses meniti tangga spritual melalui aksi-aksi penyelamatan lingkungan.

Rumah Pelangi adalah saksi bisu dari gerakan spritual Samuel. Nama rumah itu terinspirasi dari Kisah Nabi Nuh seperti termaktub dalam Perjanjian Lama. Salah satu kisahnya dijelaskan bahwa setelah keluar dari Bahtera (Perahu Besar) Nabi Nuh menyaksikan pelangi terbentang di atas langit. Saat itu, diceritakan, tidak akan pernah ada lagi bencana yang menimpa manusia. Pelangi juga disebutkan sebagai simbol dari kerukunan universal antara umat manusia, alam, dan Sang Pencipta. Rumah Pelangi dipilih dengan maksud mengingatkan keinginan untuk selalu hidup berdampingan satu sama lainnya.

Rumah Pelangi terletak di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sei Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Jaraknya sekitar 60 kilometer arah Timur Kota Pontianak. Sesuai karakternya, kawasan itu dikenal pula dengan sebutan Bukit Tunggal.

Ikhwal pendiriannya bertitik tolak dari kegelisahan Ordo Kapusin Pontianak. Mereka gelisah dengan pembalakan liar dan laju pembangunan di sektor perkebunan kelapa sawit. Ancaman paling besar kala itu adalah sumber utama pasokan air. Maka, langkah kongkret yang dilakukan ordo adalah penyelamatan lingkungan. Di tempat itu juga terdapat sumber mata air bagi kebutuhan warga di sekitarnya.

Sebagai Provinsial OFM Kapusin Pontianak hingga 2011 lalu, Samuel berinisiatif mengambil langkah taktis. Melalui bantuan pembiayaan dari ordo, sedikit demi sedikit Samuel mulai membeli lahan di Bukit Tunggal. Dia dibantu beberapa pastor untuk mendapatkan tanah milik puluhan warga sekitar. Luas awal hanya sekitar 80 hektare. Kini, tanah itu sudah menjadi milik Keuskupan Agung Pontianak.

Perlahan-lahan, luas tanah yang dibeli sejak 2003 lalu terus bertambah dan kini telah mencapai lebih dari 90 hektare. Samuel dan anggota komunitas Kapusin mulai menanam sambil terus membeli lahan di sekitarnya.

Padahal, sejak tahun 2000-an, kawasan Bukit Tunggal tak lebih dari sebuah perbukitan bekas lahan terbakar yang tandus. Selang beberapa tahun kemudian luasnya kini mencapai lebih dari 90 hektare. “Tujuan utama kita adalah melestarikan dan memelihara alam dengan menghijaukan lingkungan setempat. Saya mencoba menghijaukan lahan yang kritis ini supaya rimbun kembali,‘ jelasnya.

Samuel menjelaskan, ketika hutan mulai dibabat serta sungai dicemari dengan pergantian tumbuhan heterogen menjadi homogen akan berdampak negatif bagi perubahan cuaca. Dengan demikian, hal itu juga akan berdampak terhadap kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya yang ada di muka bumi.

“Kondisi seperti ini menuntut tindakan nyata dari banyak pihak. Ketika perlakuan terhadap lingkungan mulai tidak ramah, maka daya dukung alam untuk memproduksi oksigen (O2) pasti berkurang. Sedangkan produksi karbondioksida (CO2) meningkat. Ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan. Pemanasan global merupakan bagian dari dampak perlakuan yang tidak wajar terhadap alam,‘ bebernya.

Atas dasar itulah, langkah-langkah kecil melalui aksi penanaman dilakukan. Kini, Bukit Tunggal telah menjadi hutan yang rimbun. Bibit awal yang ditanam, kini sudah setinggi sekitar 20 meter. Bahkan, kerimbunan hutannya dari flora yang ditanam itu sudah sulit tertembus sinar matahari.

“Jika dibandingkan dengan luas hutan yang telah dirusak, tak banyak yang bisa kita selamatkan. Kita hanya menghimbau dengan perbuatan konkret seperti ini. Tidak dengan paksaan, tetapi dengan perbuatan. Meski sedikit, tetapi ini adalah suara. Semacam tuntutan kemanusiaan, juga keimanan,‘ ujar pastur kelahiran Peranuk, 12 Desember 1954 ini.

Berdasarkan catatan yang ada, jenis pohon yang ditanam di Bukit Tunggal cukup variatif. Namun, sebagian besar adalah jenis pohon lokal Kalimantan seperti belian atau ulin, ramin, meranti, dan tengkawang. Sebagian lahan juga ditanami pohon buah lokal seperti langsat, mangga, jantak, durian lokal, rambutan hutan, dan karet.

Sementara Rumah Pelangi yang tetap berdiri kukuh di kawasan Bukit Tunggal, kini dijadikan sebagai rumah tinggal bagi anggota komunitas. Rumah itu juga menjadi persinggahan warga yang ingin mengunjungi bukit tersebut untuk sekadar berwisata.

Selain itu, masih banyak aktivitas yang dilakukan di Rumah Pelangi. Di antaranya penanaman lahan kering dengan jenis tanaman langka dan buah-buahan serta pelestarian hutan, lahan rawa, dan hutan lahan kering. Ada pula pendampingan masyarakat sekitar hutan. Ini dilakukan agar masyarakat turut serta menyadari betapa pentingnya melestarikan hutan.

Samuel menegaskan bahwa bumi ini adalah rumah kita. “Itu harus kita sadari. Maka tugas kita adalah menjaganya dengan memulai dari diri sendiri. Jika kondisi alam mulai diporak-porandakan, ia menuntut jawaban dari kita untuk memperbaikinya,‘ pungkasnya. ANDI FACHRIZAL

IMPIKAN KEMAKMURAN PETANI


Bagi warga lereng Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, erupsi gunung api teraktif itu sudah berulang terjadi. Ada berbagai pemaknaan atas peristiwa itu. Yang pasti, para petani di sana tak pernah menyerah kepada keterpurukan akibat ladang habis disapu abu, pasir, dan lahar dingin.

Pascaerupsi Merapi beberapa waktu silam, kini para petani memang sudah bisa tersenyum lagi. Di tengah suasana itu, ada sesuatu yang tak biasa. Seorang lelaki yang sejak kecil berambut panjang itu terobsesi agar masyarakat gemar berkonservasi sekaligus berinvestasi agar keberlangsungan hidup mereka kian terjamin. Bagaimana caranya?

Namanya, Robertus Herlambang. Lelaki kelahiran 18 Maret 1972 dan ayah dari dua putri kembar ini mengaku pernah mengalami kegagalan-kegagalan. Warga Desa Tumpang, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ini pernah gagal saat studi di Seminari Menengah Mertoyudan hingga kelas dua dan pindah ke SMA Bruderan Purwokerto. Selepas dari sana, putra Bapak Fx Sudarman dan ibu Ch Surahmi ini kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIEI) di Jakarta. Tetapi, dia tak kelar juga. Namun semua itu tak membuatnya terpuruk.

“Saya sempat menganggur setahun. Tahun 2002 saya berangkat ke Sintang, Kalimantan Barat. Bekerja di sana sekitar tiga tahun. Di sanalah saya bertemu istri. Tahun 2005 saya pulang ke Jawa. Berikutnya, saya bergabung dengan Jesuit Refugee Service untuk menjadi relawan respon tsunami Aceh,” ungkapnya kepada Jurnal Nasional, awal Agustus.

Tak mudah baginya jauh dari keluarga. Namun, Herlambang menemukan keluarga baru, yaitu teman-teman Serikat Jesuit dan warga Aceh pedalaman. “Saya tinggal di sana dan banyak bergelut dengan kehidupan orang-orang pedalaman,” ucapnya.

Di Acehlah, Herlambang mengenal dekat tanaman Gaharu. Di sana banyak sekali tanaman Gaharu. Bahkan tanaman itu tumbuh liar. “Awalnya saya sempat bingung karena banyak orang datang meminta warga berburu Gaharu di hutan. Sebagian pengusaha. Bahkan ada pula orang-orang Malaysia yang datang,” kisahnya.

Penasaran, Herlambang berselancar mencari tahu lewat internet. Dia menemukan informasi bahwa tanaman Gaharu adalah tanaman yang bernilai tinggi. Malah termasuk tanaman yang dilindungi di Indonesia. “Dari situlah saya menemukan masalah, ternyata orang-orang Aceh tidak tahu apa itu tanaman Gaharu,” katanya.

Informasi mengenai Gaharu terus dia cari bersama teman-temannya hingga akhirnya mereka berjumpa dengan Aswandi dari Dinas Kehutanan Pematang Siantar, Medan. Dari situ mereka memperoleh informasi lebih detil. Tanaman Gaharu yang bernilai tinggi di luar negeri adalah tanaman yang telah melalui proses penyuntikan setelah umur enam tahun. Atau seringkali disebut proses inokulasi yaitu memasukan jamur fosarium ke dalam batang pohon sehingga terjadi infeksi hingga ada perlawanan dari antibody. Karena itulah tanaman Gaharu dapat menghasilkan aroma yang bernilai tinggi. “Satu batang pohon yang berdiameter 20 cm bisa bernilai sampai Rp30 juta,” tandasnya.

Kayu yang sudah melalui proses penyuntikan lalu disuling diambil minyaknya. Minyak itu dapat digunakan untuk bahan baku parfum non alkohol dan murni. Minyak ini bisa diekspor ke luar negeri atau bisa pula untuk obat asma dan kanker. Biasanya minyak yang diekspor sangat laku di kawasan Timur Tengah. Misalnya untuk kegiatan ritual keagamaan, membaluri mayat, dan bahkan di Arab Saudi menjadi bahan baku parfum. “Satu liter minyak yang dihasilkan Gaharu, harganya bisa mencapai ratusan juta,” ucapnya.

Dari situ, Herlambang dan teman-temannya tergerak untuk mengajak warga Aceh pedalaman membudidayakan tanaman Gaharu. Mulai dari pembibitan, perawatan dan pemeliharaan, penyuntikan, hingga pemasaran. Setahap demi setahap ia menyosialisasikan nilai dan manfaat tanaman Gaharu kepada warga pedalaman itu.

“Cukup sukses berjuang di sana. Ternyata menanam Gaharu tidak sulit. Lalu terbesit dalam pikiran saya, mengapa di Jawa tanaman Gaharu tidak dilestarikan? Padahal struktur tanah di Jawa tergolong dalam kriteria tempat hidup Gaharu,” katanya.

Pada Oktober 2010, Herlambang pulang ke Magelang. Dari Aceh dia sengaja membawa bibit Gaharu. Sejak kecil gemar pergi ke ladang bersama sang nenek, dia mencoba melakukan pembibitan hingga mencapai 20 ribu bibit. Semua bibit itu dia peroleh dari Aceh dan Kalimantan. Dia melakukan pembibitan itu bertujuan melestarikan Gaharu di lahan tetangga-tetangganya yang mayoritas petani. Lebih dari itu, dia menyadari suatu keprihatinan di Jawa. Ternyata banyak kalangan yang mengetahui soal Gaharu, tetapi mereka bingung bagaimana memperoleh bibitnya.

Pada November 2010, Herlambang mengalami kerugian karena erupsi Merapi. Sekitar hampir 6 ribu bibit mati karena erupsi itu. Kalang kabut tentu saja. Usaha baru mulai dirintis tetapi sudah merugi. “Saya berusaha merawat bibit yang bisa terselamatkan. Setelah Merapi reda, saya mulai pelestarian dari keluarga terdekat yaitu gereja,” ucapnya.

Sejak itu, masyarakat di lereng Merapi sangat antusias untuk menanam Gaharu. Dia berharap gerakan penanaman Gaharu juga bisa membantu pemeritah daerah dalam berkonservasi di tanah Jawa. Apalagi dia prihatin terhadap kehidupan para petani. Pendapatan mereka minim, tetapi biaya pendidikan dan kesehatan kian tinggi.

“Mudah-mudahan dengan melestarikan Gaharu bisa meningkatkan kesejahteraan para petani di Jawa. Inilah yang saya maksud dengan berkonservasi sekaligus berinvestasi,” tandasnya.

Selain masyarakat sekitar lereng Merapi, Herlambang bersama para pemuda di sana juga mengajak siswa-siswi SD, SMP, dan SMA, untuk melestarikan lingkungan dengan menanam aneka tanaman, termasuk Gaharu. Misalnya, para siswa-siswi SD Kanisius Tumpang dan SMPK Santa Maria Sawangan pernah diajak untuk menanami lahan-lahan bekas hantaman lahar dingin pascaerupsi Merapi dengan aneka tanaman keras. Sedangkan untuk tingkat SMA, para pemuda lereng Merapi ini menyumbangkan ratusan bibit Gaharu pada saat ulang tahun ke-100 Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius Magelang, tahun 2011 lalu. “Bibit saya berikan cuma-cuma, karena tujuannya bukan bisnis tetapi sosialisasi,” ucapnya.

Herlambang kini berusaha untuk menjalin hubungan dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Kementerian Perhutanan serta berniat melakukan penyuntikan fosarium terhadap tanaman Gaharu bersama teman-temannya di lereng Merapi. Yang pasti, pelestarian lingkungan yang sudah dirintis itu berjalan lancar terlebih dulu.

“Saya sudah punya gambaran mengenai pemasaran produk-produk yang bisa dihasilkan dari tanaman Gaharu. Jika sampai pada titik pemasaran itu, bisa lewat Asosiasi Pengusaha Ekspor Gaharu Indonesia yang dibuat oleh pemerintah kantor pusat di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Bisa juga lewat jalur pedagang mandiri. Saya punya beberapa teman di Malaysia, para pengusaha Gaharu,” ungkapnya.

Sebagai orang yang lahir di tanah Jawa, Herlambang memimpikan kemakmuran bagi rakyat Jawa yang mayoritasnya petani. Gagal panen dan kondisi lain yang selama ini menekan kehidupan petani, bisa dicarikan salah satu alternatif solusinya, yaitu melalui konvservasi sekaligus investasi melalui tanaman Gaharu. DION B ARIANTO

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s