Mereka Menuntut Setara

I believe I can fly
I believe I can touch the sky
I think about it every night and day
Spread my wings and fly away
I believe I can soar
I see me running through that open door
I believe I can fly
****
LIRIK lagu berjudul I believe I can fly yang dipopulerkan Robert Sylvester Kelly itu dilantunkan Andira Pramatyasari. Suara merdu wanita muda berparas manis kelahiran Jakarta, 27 September 1992 itu, menuai apresiasi puluhan pengunjung yang bertandang ke Yayasan Wisma Cheshire, Jakarta Selatan, Kamis (21/6) lalu.
Tepuk tangan pun menggema usai Andira bernyanyi. Andira pun tersenyum mendengar gemuruh tepuk tangan pengunjung. “Terima kasih,” ucapnya membalas sanjungan pengunjung. Sesaat kemudian, seorang perempuan setengah baya langsung memegang tangan kiri Andira. Lalu, menuntunnya pelan-pelan, menuju ke tempat duduk. Andira dituntun karena dia seorang tuna netra. Pandangannya yang gelap membuatnya tak dapat menyaksikan wajah-wajah mereka yang memujinya.
Setelah itu, giliran rekannya, Hadianti Ramadhani yang juga tunanetra, melantunkan puisi. Syair puisi berjudul Asa Untuk Indonesia yang diraciknya sendiri itu, membuat hati terenyuh. “Aku berdiri di sini. Di hadap mata-mata tak berpendar. Di antara telinga-telinga yang tak mendengar. Di sela roda-roda penopang raga. Wahai garuda. Tidakkah kami ini anakmu juga. Meski orang bilang kami tak sempurna. Tidakkah kami punya hak yang sama?” ucap Ramadhani melantunkan puisi dengan semangat. “Bukan iba yang kami harap. Hanya sekadar empati dalam bersikap. Bukan lirih yang kami ucap. Beri kesempatan, dan kami akan siap,” ujar Ramadhani melanjutkan puisinya.
Lagu dan puisi yang dilantunkan Andira dan Ramadhani, menebar optimisme bagi mereka yang fisiknya kurang sempurna (disabilitas) atau disebut difabel (different ability) yang hadir dalam acara itu. Meski ada yang tidak bisa mendengar (tuna rungu), mereka memahami makna lagu dan puisi yang dilantunkan Andira dan Ramadhani karena ada seorang penerjemah bahasa isyarat. Lagu dan puisi itu seirima dengan ungkapan hati mereka yang selalu menuntut hak-haknya disetarakan dengan mereka yang fisiknya sempurna.
Marie Ann Fernandez, Interim Regional Programme Manager East Asia & Pacific Regional Office, Leonard Cheshire Disability, yang hadir dalam acara peluncuran program Young Voices itu, menangkap pesan yang disuarakan para penyandang disabilitas yang umumnya berusia muda itu. “Saya merasakan betul bagaimana gejolak yang ada dalam hati young voices members,” katanya. Dia pun mengajak mereka menjadi duta yang menyuarakan kepentingan mereka yang selama ini tersingkirkan. “Kita harus menjadi duta untuk menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas, tidak hanya di Jakarta, Aceh, dan Papua, tetapi juga di seluruh Indonesia,” harap Marie disambut tepuk tangan.
Para penyandang disabilitas sebenarnya sadar jika fisik yang tak sempurna, tidak harus menjadikan mereka tersingkir. Mereka sadar jika di balik kekurangan yang mendera, ada kekuatan yang diberikan Tuhan sebagai modal untuk mandiri, maju dan berprestasi. Namun, mereka sulit berkembang karena stigma negatif dari sebagian besar masyarakat yang masih menempatkan mereka sebagai orang-orang yang tak memiliki daya dan upaya sehingga tidak mendapatkan hak yang setara. Mereka juga sulit berkembang lantaran pemerintah kurang mengakomodasi hak-hak mereka. Padahal, tak sedikit di antara mereka yang mampu membuktikan jika mereka memiliki prestasi yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang dianugerahi fisik yang sempurna.
Andira misalnya. Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) itu mampu meraih prestasi akademik yang sangat membanggakan. Meski tak mampu melihat, dia lebih berprestasi dibandingkan teman-temannya yang normal. “Saya memperoleh nilai-nilai yang cukup memuaskan,” katanya bangga. Andira mampu menembus Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sangat memuaskan hingga mencapai 3,79. Awalnya, dia menceritakan, sempat mendapatkan penolakan saat ingin mengikuti seleksi masuk UI.
“Namun setelah melakukan berbagai upaya, akhirnya saya dapat mengikuti tes dan diterima,” kenangnya. Saat-saat masa orientasi, pimpinan fakultas, pembimbing akademis dan beberapa dosen pun sempat bingung karena belum mengetahui bagaimana cara mengajar mahasiswi tunanetra. “Namun, setelah mereka mengerti, saya tidak mengalami hambatan yang berarti selama perkuliahan. Saya dapat mengikuti kegiatan perkuliahan dengan cukup baik.”
Selain sibuk kuliah, Andira juga menghabiskan waktunya untuk terlibat aktif di organisasi. Saat ini, Andira bergabung di Young Voice Indonesia. Dia juga masih aktif di Kartunet Community. Di komunitas yang dikelola sejumlah tunanetra itu, dia menjadi Direktur Departemen Media Relasi. Dirinya bergabung di Kartunet sejak tahun 2011. Di komunitas itu, Andira memompa semangat kawan-kawan yang senasib dengannya, untuk mengembangkan minat dan bakat dalam bidang penulisan, seni, teknologi, dan ekonomi mandiri, dengan menggunakan teknologi informasi.
Prestasi tak kalah juga diukir Ramadhani. Wanita kelahiran Depok, 24 tahun 1987 itu adalah jebolan Universitas Padjajaran, jurusan Bahasa Jepang, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,68. Ramadhani juga sangat produktif menulis. Sejak akhir tahun 2010, dia menulis cerpen di Majalah Diffa, tulisannya juga masuk dalam antologi Inspirasi Menulis (Leutika Prio, September 2011), Unforgettable Moments (AG Publishing, Januari 2012), dan Pesona si Minah (Diva Press, Maret 2012). Dia kini tercatat sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Depok.
*****
Selain memiliki prestasi membanggakan, ada juga di antara para penyandang disabilitas berusia muda yang menjadi inspirator. Habibie Afsyah misalnya. Dia tak hanya menjadi inspirator bagi rekan-rekan yang senasib dengannya. Namun, juga menginspirasi bagi mereka yang kondisi fisiknya sempurna. Dia mampu membuktikan jika fisik yang tak berdaya dapat menjadi kekuatan yang luar biasa untuk meraih masa depan yang gemilang.
Melihat kondisi Habibie, membuat hati ini iba. Dokter memvonisnya hanya akan berusia 24 tahun karena didera penyakit muscular dystrophy yaitu penyakit yang di mana otot-otot yang mengontrol pergerakan atau otot sadar (voluntary muscle) secara perlahan-lahan melemah. Penyakit itu membuat fisik Habibie makin tak berdaya. Habibie yang sejak lahir berbadan gemuk, memang kini seperti tak berdaya. Kedua tangan dan kakinya terus mengalami pengecilan. Di atas kursi roda, Habibie juga sulit bergerak. Untuk menoleh saja, dia sulit. Apalagi harus menggerakkan kedua tangannya agar dapat menggerakkan kursi rodanya. Namun, dia mampu berkomunikasi dengan baik.
Habibie bersyukur karena diberikan ibu yang sabar, yang selalu berada di sampingnya. Endang Setyati, sang ibu, selalu setia mendampingi Habibie, anak kesayangan semata wayangnya. Tuhan memang adil. Meski fisik tidak sempurna, Habibie dianugerahi otak yang cerdas dan motivasi yang sangat luar biasa. Dari atas kursi roda, dia mampu menghasilkan limpahan rezeki yang cukup melimpah dari bisnis via online (internet marketing) yang dikembangkannya.
Bagaimana mungkin Lelaki kelahiran Jakarta, 6 Januari 1988 yang kondisi fisiknya tak berdaya itu bisa menjadi juragan bisnis di dunia maya? Rupanya, dia mengembangkan bisnis pemasaran dengan membuat website. Bukan pekerjaan mudah membuat website. Selain harus mengerti tentang desain grafis dan kepiawaian mengoperasionalkan komputer, dibutuhkan juga kemampuan merangkai kata yang mampu mendorong pengguna internet mengunjungi website yang dibuatnya dan membeli barang yang diiklankannya.
Habibie pun bercerita. Di rumahnya di Jalan Sumbangsih V/3 RT 06/RW 01, Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan, dia menggarap website dengan menggunakan komputer. Dengan segala daya dan upaya, dia mengoperasionalkan komputer di atas kursi rodanya. Sementara untuk melakukan pengetikan, dia menggunakan handphone. Dia mengetik kata demi kata untuk memenuhi website yang penuh dengan iklan, dalam posisi tidur, atau di atas kursi roda.
Namun, masih sulit membayangkan bagaimana dia mengoperasikan komputer dengan tangan dan tubuh yang lemah. Untuk menggerakkan mouse saja, dia sulit. Tapi, Habibie punya motivasi yang luar biasa. Dia mampu membuktikan jika kekurangan yang dimilikinya menjadi kekuatan. “Saya buktikan bahwa disabilitas itu bukan sebuah kekurangan, tetapi kelebihan daripada yang lain. Kami juga dapat berprestasi. Bahkan, bisa mengalahkan mereka-mereka yang normal,” katanya bangga.
Beberapa website karya Habibie antara lain http://www.ponsel-quran.com dan http://www.rumah101.com. Di website http://www.ponsel-quran.com, Habibie menjadi agen resmi yang mendistribusikan ponsel Al Quran kepada konsumen. Lewat website itu, Habibie juga menawarkan kepada siapa saja untuk mendaftarkan diri menjadi agen penjualan ponsel Al Quran seperti Al Quran Pad Raztel A930 yang merupakan tablet yang didesain khusus untuk masyarakat Indonesia dan untuk mengakomodasi Al Quran sebagai konten utamanya, membedakan tablet tersebut dengan tablet-tablet yang lain.
Sementara website http://www.rumah101.com, berisikan konten bisnis properti. Di laman itu terdapat banyak tawaran jual beli properti dengan berbagai macam tipe rumah. Dia juga membuat situs http://www.habibieafsyah.com, yang isinya informasi tentang sejumlah produk. Di situs itu, Habibie juga memberikan layanan jasa SEO (search engine optimisation) yaitu mengoptimalisasikan mesin pencari untuk membantu meningkatkan kualitas website di search engine Google. Dengan begitu, konsumennya dipastikan dapat mengais untung dengan memanfaatkan Google sebagai media untuk mempromosikan dagangannya.
“Aku buat blog, lalu disewakan untuk iklan. Besarnya keuntungan diraih dari banyaknya pengunjung yang mengeklik. Kayak Google, cari publisher, nah aku buat blog, yang menampilkan iklan. Ketika iklan ditampilkan, kan ada yang mengeklik, saya dapat duit,” ujarnya berbagi pengalaman.
Habibie rupanya menyadarkan khalayak jika Google merupakan salesman andal di abad ini. Berdagang dengan menggunakan Google sama halnya dengan membuka toko di pinggiran jalan yang ramai. Usaha yang dirintisnya sejak tahun 2007 lalu itu pernah mendapatkan pendapatan yang mencengangkan saat dirinya menjadi mitra Amazon, toko online terbesar di dunia. Kala bisnis via online belum menjamur seperti sekarang, Habibie mengantongi uang hingga US$4.000 sampai US$5.000 setiap bulan. “Bahkan ada yang sampai US$8.000,” kata Endang. “Tetapi, sekarang lagi turun. Ya, minimal US$1.000 setiap bulan,” kata Habibie sambil tertawa ringan.
Habibie tak ingin kesuksesannya dinikmatinya sendiri. Dia lalu membagi ilmu tentang pengalaman suksesnya saat bersama Amazon, dalam sebuah buku elektronik (e-book) yang berjudul Sukses dari Amazon. E-book itu terjual laris. Sayangnya, sejak pertengahan 2008, krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat berpengaruh negatif terhadap eksistensi Amazon yang juga berpengaruh terhadap pendapatan Habibie.
Namun, dia tak putus semangat. Habibie tetap mengembangkan bisnis via online dengan membuat website, walaupun hasilnya jauh lebih kecil. Hebatnya, Habibie sering diundang menjadi pembicara di kampus-kampus untuk membicarakan internet marketing yang ditekuninya. “Kegiatan sehari-hari, tetap di bisnis online, sambil memberikan pelatihan kepada teman-teman yang disabilitas maupun nondisabilitas, baik di dalam maupun luar kota,” ujarnya.
Bukan hanya itu, bersama ibunya, Habibie juga mendirikan Yayasan Habibie Afsyah. Di yayasan itu, Habibie mendermakan ilmunya untuk memberi pelatihan kepada siapa pun yang tertarik mengembangkan bisnis via online. Perjuangan Habibie pun menuai apresiasi. Dia menjadi narasumber inspiratif di acara Kick Andy, Metro TV. Dia juga menjadi nominator penghargaan Danamon Award Tahun 2012. Penghargaan itu diberikan kepada mereka yang berjuang meningkatkan kesejahteraan orang-orang di sekitarnya.
***
Habibie, Andira dan Ramadhani merupakan para difabel muda yang mampu membuktikan mereka lebih baik dibandingkan kebanyakan orang-orang yang fisiknya sempurna. Bagi mereka yang sempurna, tentu sangat menakutkan hidup dalam kegelapan dan ketidakberdayaan. Tapi, tidak bagi Habibie, Andira dan Ramadhani atau para disabel lainnya yang mampu mengukir hidup dengan kebajikan, mandiri, dan berprestasi.
Mereka menginspirasi seperti Helen Keller, seorang wanita buta dan tuli, yang mampu mengukir perjalanan hidupnya dengan manis: bermanfaat bagi sesamanya. Keller dikenang sebagai perempuan tangguh. Dia menjadi simbol perjuangan dan motivator bagi para difabel dalam menjalani kerasnya kehidupan lantaran fisik yang tidak sempurna.
Di negara ini, tak sedikit penyandang disabilitas yang mampu mengukir prestasi membanggakan dan mampu menebar manfaat ke khalayak. Namun, lebih banyak lagi yang hidupnya terlantar dan mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. “Tanggung jawab pemerintah dan swasta sangat minim,” kritik Aulia Amin, aktivis Komite Advokasi Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI).
Padahal, hak-hak para penyandang disabilitas untuk disetarakan merupakan amanat konstitusi. Pemenuhan hak-hak mereka juga ditegaskan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 1998 Tentang Penjelasan Atas Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat, dan Rencana Aksi Nasional Indonesia penyandang disabilitas 2004-2013.
Pemerintah juga telah menandatangani konvensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Tahun 2006 tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas (UN Convention on the Rights of Persons with Disabilities/UNCRPD) dan telah meratifikasi konvensi tersebut tanggal 30 November 2011 lalu. UNCRPD menegaskan bahwa penyandang disabilitas harus menikmati hak-hak yang sama dengan individual yang bukan penyandang disabilitas dan menekankan masyarakat agar menjunjung prinsip pemenuhan akomodasi yang layak (reasonable accommodation) atas kebutuhan-kebutuhan mereka, guna menjamin partisipasi mereka secara maksimal.
Nyatanya? Pemenuhan hak-hak bagi para penyandang disabilitas masih jauh panggang dari api. Hak mendapatkan pekerjaan misalnya. UU Penyandang Cacat mengatur tentang adanya kuota satu persen bagi penyandang cacat dalam ketenagakerjaan. Artinya, ada kewajiban bagi perusahaan untuk mempekerjakan satu orang penyandang cacat untuk setiap 100 orang pegawai. Kenyataannya, para penyandang disabilitas masih sering mendapatkan perlakuan diskriminatif.
Menurut Aulia, memang tak sedikit perusahaan yang membuka kesempatan para penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, para penyandang disabilitas yang diterima bekerja bukan karena kesadaran perusahaan melaksanakan peraturan perundangan-undangan. Tetapi, lebih karena faktor iba dan kedekatan secara personal dengan pihak perusahaan. “Kebanyakan perusahaan mempekerjakan penyandang disabilitas karena penyandang disabilitas punya hubungan dengan pihak perusahaan. Belum didasari karena tanggung jawab melaksanakan peraturan perundang-undangan. Tetapi, masih dengan pendekatan personal,” kata Aulia yang mengalami kelumpuhan kedua kakinya.
Mahmudi Yusbi, Koordinator Nasional untuk Young Voices Indonesia mengkritik ketidaktegasan pemerintah terhadap perusahaan yang masih mengabaikan amanat UU Penyandang Cacat. “Kalau ada perusahaan tidak memberikan kuota satu persen untuk mempekerjakan penyandang disabilitas, mereka harusnya didenda. Nyatanya, denda tidak diterapkan,” sesal Mahmudi.
Dia mengingatkan perusahaan bahwa penyandang disabilitas tidak kalah dibandingkan pekerja yang fisiknya sempurna. “Potensi mereka tidak jauh berbeda dengan mereka yang normal. Semua hanya tergantung kesempatan,” ucapnya. Tak sedikit, para penyandang disabilitas yang dilatih memiliki kemampuan yang sangat baik seperti di bidang desain, interior, arsitektur, dan sebagainya. “Bidang itu kan tidak mengutamakan fisik, tetapi kerja otak,” katanya.
Sementara Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri menyatakan pemerintah telah mendorong perusahaan agar mempekerjakan para penyandang disabilitas. Mensos mengklaim dari tahun ke tahun penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas terus meningkat. Kementerian Sosial yang dipimpinnya juga telah merealisasikan sejumlah program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan para penyandang disabilitas di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa Cibinong, Bogor.
Untuk menggelar pelatihan, setiap penyandang disabilitas dianggarkan sebesar Rp25 juta hingga Rp27 juta. Saat ini, dalam setahun, lebih dari 100 penyandang disabilitas dari seluruh Indonesia yang dilatih. “Saya harap, industri bukan hanya membuka lapangan pekerjaan untuk penyandang disabilitas, tapi juga bagi penyandang permasalahan sosial lainnya,” kata Salim.
Namun, Mahmudi menilai, tidak sedikit program yang digelar pemerintah bagi para penyandang disabilitas, tidak efektif. “Hanya melihat dari sisi kuantitas saja, berapa penyandang disabilitas yang ikut dan satu hari selesai,” katanya. Sebagian besar program yang dilaksanakan juga lebih dominan dalam bentuk bantuan langsung, tidak mendorong pengembangan kapasitas agar para penyandang disabilitas dapat mandiri. “Buat program penyandang disabilitas, tidak sekedar memberikan langsung bantuan kepada mereka. Program pengembangan kapasitas harus diutamakan. Mereka harus mandiri. Jadi, anggaran yang ada itu, tidak habis begitu saja.”
Dalam bidang pendidikan, tak sedikit pula anak-anak difabel yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan. Jumlahnya sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah penyandang disabilitas pada tahun 2011 mencapai 6,7 juta jiwa. Sementara World Health Organization (WHO) mencatat, penyandang disabilitas di Indonesia mencapai lebih dari 10 juta jiwa. Dari 1,8 juta anak difabel usia sekolah, sebanyak 1.723.237 anak difabel yang belum bisa mendapat akses pendidikan. Pemerintah belum mampu menyediakan pelayanan, baik dalam bentuk program maupun fasilitas pendidikan yang ramah bagi kaum difabel.
Sekolah umumnya masih enggan menerima anak-anak difabel. Jumlah guru yang memiliki kompetensi memadai untuk mendidik anak-anak difabel juga masih kurang. Sementara jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) sangat minim. Anak-anak difabel dari keluarga miskin pun sulit mengakses sekolah khusus tersebut karena tidak mampu membayar biaya pendidikan atau jarak sekolah yang jauh yang menyusahkan anak-anak difabel.
Mahmudi juga prihatin dengan minimnya perhatian pemerintah daerah dalam mengakomodasi hak-hak penyandang disabilitas. Mahmudi mencontohkan Pemerintah DKI Jakarta yang anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) mencapai lebih dari Rp31 triliun, namun minim menganggarkan dana untuk para penyandang disabilitas. Menurut dia, dari total APBD DKI Jakarta itu, hanya Rp16 miliar yang dialokasi untuk penyandang disabilitas. “Minim anggarannya. Belum lagi, anggaran itu juga terserap untuk panti-panti sosial lainnya,” katanya. Yayasan Wisma Chesire saja, kata Mahmudi, hanya mendapatkan Rp29 juta per tahun. “Itu untuk kebutuhan makan saja. Itupun tidak cukup,” katanya.
Penyandang disabilitas juga menyesalkan minimnya perhatian pemerintah dalam menyediakan fasilitas publik yang ramah terhadap penyandang cacat. Di DKI Jakarta misalnya. Meski telah diterbitkannya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penyandang Disabilitas, masih banyak ditemukan fasilitas publik yang sulit diakses para penyandang disabilitas. “Nyatanya, kita sangat kesulitan menggunakan fasilitas transportasi publik tersebut,” kata Aulia. Dia mencontohkan keberadaan Transjakarta. Di beberapa koridor busway, memang telah disediakan tempat khusus untuk penumpang disabilitas. Namun, kata Aulia, tempat-tempat khusus tersebut sulit dijangkau karena tingginya jembatan penyeberangan.
Di daerah, kondisinya lebih memprihatinkan. Mahmudi mencontohkan kondisi di Nanggroe Aceh Darussalam. Di sana, penyandang disabilitas masih dililit stigma yang tidak menyenangkan. Tak sedikit, orang tua yang memiliki anak yang disabilitas, sengaja menyembunyikan anaknya karena merasa malu. “Mereka malu dengan anaknya. Ketika kita assesment, mereka justru menyembunyikan (anaknya),” ungkap Mahmudi. Bagi sebagian besar masyarakat di Aceh, lanjutnya, penyandang disabilitas diidentikkan dengan pengemis yang suka meminta-minta. “Ditambah lagi kondisi ekonomi di sana akibat konflik, tsunami dan sebagainya, sehingga difabel tidak mendapatkan hak-haknya.”
Terkait masalah minimnya respons pemerintah daerah, Salim hanya bisa menyerukan pemerintah daerah agar respons terhadap masalah-masalah sosial, termasuk masalah penyandang disabilitas. Dia mengakui jika masalah-masalah sosial kurang menjadi perhatian pemerintah daerah. Padahal, kata Salim, sejak otonomi daerah, masalah-masalah sosial menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. “Dengan adanya otonomi daerah, itu menjadi tanggung jawab camat, bupati, dan gubernur,” katanya.
Salah satu indikator untuk menilai respons pemerintah daerah dalam menangani masalah sosial, lanjut Salim, dapat dilihat dari alokasi dana program-program sosial di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). “Itu dapat dilihat dari APBD yang berpihak kepada kelompok termarginal dalam melaksanakan program-program kesejahteraan sosial,” terang Salim.
Berdasarkan kenyataan tersebut, anak-anak muda difabel yang tergabung dalam program Young Voices Indonesia akan terus memperjuangkan hak-hak mereka yang diabaikan. Program tersebut akan merekrut anak-anak muda penyandang disabilitas yang memiliki potensi yang luar biasa. Dengan begitu, semua pihak pemerintah bisa melihat jika mereka juga berprestasi.
Advokasi pun akan terus dilakukan agar hak-hak mereka benar-benar diakomodasi. Beberapa isu yang akan mereka dorong adalah mendapatkan kesempatan dan kesetaraan di semua aspek kehidupan seperti yang diamanatkan UU Nomor 19 Tahun 2011 tentang Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas. UU tersebut menegaskan negara berkewajiban merealisasikan hak-hak para penyandang disabilitas dan menjamin hak-hak pendidikan, kesehatan, pekerjaan, politik, olahraga, seni dan budaya, serta pemanfaatan teknologi, informasi dan komunikasi. Mereka juga ingin memperjuangkan mendapatkan perlindungan dan pelayanan sosial dari negara agar mereka mandiri.
Menurut Aulia, aktivis yang memperjuangkan hak-hak disabilitas sebenarnya telah melakukan berbagai advokasi. Namun, dia menilai, pergerakannya kurang terorganisir dengan baik. Dia juga menyesalkan jika tujuan pergerakan masih bersifat pemenuhan kepentingan jangka pendek. “Yang dituju mereka (para penyandang disabilitas) adalah saya dapat apa dari perjuangan ini. Harusnya, kita fokus pada isu yang lebih luas, seperti memperjuangkan hak mendapatkan pekerjaan dan pendidikan,” kata Aulia. Dia pun mengkritik tak sedikit lembaga swadaya masyarakat yang mengklaim memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas, namun nyatanya lebih berorientasi proyek. “Dan, ketika ada donatur, semua rebutan bikin proposal, seharusnya tidak begitu kan?” katanya.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s