Madiba Membebaskan Afrika


“HAPPY birthday to you. Happy birthday to you‘.”

NYANYIAN itu mengema sebelum digelarnya pertandingan sepak bola antara Manchester United (MU) versus Amazulu FC di Stadion Moses Mabida, Afrika Selatan, Kamis (19/7) lalu. Ribuan penonton dan pemain sepak bola larut dalam kegembiraan menyanyikan lagu untuk Nelson Rolihlahla Mandela itu.

Nampak, Sir Alex Ferguson, pelatih MU turut bernyanyi. “Ini suatu kehormatan bagi kami untuk berada di sini, pada hari ulang tahunnya,” kata pelatih tim berjulukan “Setan Merah‘ itu. “Dampak yang dilakukannya untuk Afrika Selatan, sangat besar,” imbuh Ferguson. Rio Ferdinand, pemain belakang MU menilai Mandela adalah sosok yang berjuang tanpa pamrih. ‘Dia menyerahkan sebagian besar hidupnya untuk orang lain.”

Sosok Mandela yang kini berusia 94 tahun, memang menjadi sosok yang sangat dihormati. Dia tak hanya dicintai rakyat Afrika Selatan. Lelaki kelahiran 18 Juli 1918 di Umtata, Propinsi Eastern Cape, Afrika Selatan itu juga dihormati masyarakat dunia. Dia tidak hanya membebaskan rakyat Afrika Selatan dari jerat sistem apartheid yang menindas, yang menciptakan diskriminasi antara ras kulit putih dan kulit hitam. Namun, perjuangan antirasialis yang dilakukan Mandela telah mengubah kehidupan penghuni dunia menjadi lebih baik. “Mandela telah mengubah busur sejarah, mentransformasi negerinya, benua dan dunia,” kata Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Naluri kemanusiaan Mandela memberontak tatkala tahun 1948, Daniel Francois Malan, penguasa Partai Nasionalis Afrikaner yang menang dalam Pemilihan Umum Legislatif, menerapkan kebijakan apartheid. Kebijakan yang diberlakukan politisi berwatak rasialis yang kemudian menjadi Perdana Menteri Afrika Selatan itu, menempatkan warga kulit putih lebih tinggi status sosialnya daripada warga kulit hitam yang dianggap bodoh dan miskin. Warga kulit putih di Afrika Selatan mengklaim sebagai Afrikaner, yaitu golongan pelopor bangsa kulit putih di Afrika Selatan. Mereka berasal dari Inggris, Itali dan dan Belanda.

Kebijakan rasialis sebenarnya sudah muncul di tahun 1910 ketika Inggris berhasil menduduki Afrika Selatan. Kala itu, Hendrik Verwoed menjadi Presiden Afrika Selatan telah berencana memisahkan golongan minoritas kulit putih dengan golongan mayoritas kulit hitam. Di tahun 1913, sejumlah kebijakan rasial diterapkan Verwoed seperti pemberlakukan undang-undang pertanahan pribumi (Native Land Act) yang melarang kulit hitam membeli tanah di luar daerah yang telah disediakan untuk mereka. Penguasa juga melarang adanya pernikahan antara warga kulit hitam dengan kulit putih di tahun 1927.

Perlawanan frontal Mandela terhadap rezim apartheid, menggelora tatkala dirinya menjadi mahasiswa di Universitas Fort Hare. Dia menjadi aktivis yang paling lantang memperjuangkan penghapusan kebijakan yang diskriminatif itu. Meski menuai intimidasi dari rezim penguasa, Mandela tak merasa gentar. Setelah lulus pendidikan di tahun 1944, Mandela pun memiliki perjuangan lewat gerakan politik dengan bergabung di partai politik ANC (African National Congress).

Partai tersebut memiliki basis massa yang beranekaragam warna kulit. Tak hanya melakukan perlawanan terhadap apartheid. ANC juga mendorong demokratisasi di Afrika Selatan. Ribuan massa pendukung Mandela turun ke jalan, mengelar demonstrasi besar-besaran. Kekerasan pun meletup. Para demonstran ditebaki oleh aparat keamanan. Sekitar 70 orang tewas dan 180 orang cedera.

Upaya politik yang dilakukan Mandela nyatanya tak juga mampu menaklukan arogansi kekuasaan. Tahun 1952, ANC pun mulai agresif melancar perlawanan bersenjata. Afrika Selatan pun dibayangi ketakutan. Kekerasan meletup di mana-mana. Rezim penguasa tak sungkan menggunakan kekerasan bersenjata untuk menaklukan gerakan antiapartheid. Mandela bahkan dijebloskan ke penjara dan dituduh sebagai musuh negara. Namun, dia dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan, lalu dibebaskan.

Dukungan terhadap Mandela rupanya makin kuat. PAC (Pan Africanist Congress) di tahun 1960, bergabung dengan ANC untuk memperjuangkan antidiskriminasi. Tindakan represif aparat keamanan tak membuat takut. Mereka justru makin menggalang kekuatan untuk melakukan perlawanan, mengecam dan melakukan pemogokan. Kekuatan yang digalang Mandela itu memunculkan amarah penguasa.

Hingga akhirnya memaksa pemerintah menetapkan kondisi darurat. Sekitar 18 ribu orang yang tergabung dalam PAC dan ANC ditangkap. Lagi-lagi, mereka di penjara. Desember 1961, Mandela memobilisasi dukungan warga kulit hitam. Dia membentuk kekuatan militer yang menjadi sayap ANC untuk melakukan perlawan terhadap kekuatan tentara pemerintah. Sayap pergerakan itu dinamakan ‘Ujung Tombak Bangsa‘.

Mandela menjadi komandan perang. Dia berlatih militer di Algeria. Namun, saat dirinya kembali ke Afrika Selatan di tahun 1962, dia ditangkap, diadili dengan dakwaan sebagai pemberontak. 12 Juni 1964, pengadilan menghukumnya dengan hukuman penjara seumur hidup. Dia di penjara di Pulau Robben, selama 18 tahun, kemudian dipindahkan ke Penjara Pollsmoor dan dipindahkan lagi ke Penjara Victor Verster dengan penjagaan yang amat ketat.

Selama di penjara, perlakuan sangat tidak manusiawi dirasakannya. Dia pernah digantung dengan posisi kepala di bawah, lalu diludahi, dikencingi oleh sipir penjara yang berbadan kekar dan berwajah menyeramkan. Dia juga diasingkan dari keluarga, sehabat, dan rakyat Afrika Selatan. Untuk berkirim surat kepada keluarganya saja, Mandela hanya diizinkan satu kali selama enam bulan di penjara. Namun, dari balik jeruji penjara, dia terus berupaya agar tetap bisa berkomunikasi dengan para pejuang antiaparhied lainnya. Cara yang dilakukan salah satunya dengan membohongi petugas keamanan. Dia mengirim surat dalam bentuk lintingan rokok yang kemudian sampai ke aktivis ANC.

Cita-citanya mewujudkan kesetaraan di Afrika Selatan kemudian dituangkan pula dalam bentuk buku berjudul: Long Walk to Freedom. Mandela memimpikan masyarakat merdeka yang demokratis, di mana semua orang hidup bersama secara setara dengan kesempatan yang sama dalam meraih masa depan. ‘Saya telah menjalankan ide masyarakat yang bebas dan demokratis di mana semua orang hidup bersama dalam harmoni dan dengan kesempatan yang sama. Bila perlu, saya rela mati untuk ide itu,‘ ujar Madela saat diadili tahun 1964.

Suara Mandela yang mengaung dari balik penjara menuai respons dunia. Gerakan terus menjalar. Kecaman terhadap pemerintah Afrika Selatan menggema di berbagai penjuru dunia. Harian The Times, London, 12 Juni 1964, mengecam vonis yang dijatuhkan kepada Mandela. Harian itu menduga, jika kelak sejarah akan menjatuhkan kekuasaan rezim apartheid. The New York Times, harian terkemuka di Amerika Serikat, tanggal 15 Juni 1964 juga mengecam hukuman yang dikenakan kepada Mandela.

Hukuman seumur hidup itu dianggap sebagai putusan yang ditetapkan pengadilan sesat Afrika Selatan kepada pejuang kemerdekaan. Sejumlah pemimpin dunia juga mendesak pemerintah Afrika Selatan untuk menghapus kebijakan yang tidak adil bagi warga kulit hitam itu. Hingga akhirnya, 2 Februari 1990, Presiden Afrika Selatan, FW de Klerk pun melunak. Setelah 27 tahun mendekam di penjara, Mandela dibebaskan dari penjara Victor Verster. Kebebasannya disambut warga dunia yang mencintai perdamaian dan antidiskriminasi.

M. Yamin Panca Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s