Tebar Pesona di Ronde Kedua


WAJAH Rukilah berseri-seri. Pedagang di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, tak mengira, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mampir ke lapaknya. Foke, sapaan Fauzi Bowo juga duduk lesehan di warung pedagang bumbu dapur ini. Kepada Rukilah, Foke menanyakan seputar harga bawang merah. “Senang sudah dua kali dikunjungi Pak Gubernur. Tadi, saya ngobrol-ngobrol tentang harga bawang merah dan diberi semangat untuk rajin bekerja,” kata Rukilah.
Pedagang lainnya, Uci Suhendar, 57 tahun, distributor kentang, menyapa Foke. Kepada Foke, dia menjelaskan, harga dan suplai kentang di pasaran relatif stabil. “Saat ini, harga dan suplai kentang masih stabil. Harga kentang sekitar Rp4.800-Rp 5.000 per kilogram,‘ ucapnya.
Foke bertandang ke Pasar Induk Kramatjati untuk mengecek langsung harga dan suplai kebutuhan pokok jelang bulan puasa. Berdasarkan hasil dialog dengan para pedagang, Foke menyimpulkan, pasokan sejumlah kebutuhan pokok tidak terhambat sehingga harganya masih stabil.
Di hari yang sama, Foke pun bertandang ke tiga SDN, yaitu SDN 06, 03, dan 02, Kampung Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dihadapan guru dan murid, Foke berjanji akan menindak tegas praktik pungutan liar (pungli) di sekolah-sekolah di Jakarta. Foke pun menyempatkan diri foto bersama. Foke juga bertandang ke Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di sana, dia pun berjanji akan meningkatkan ketersediaan fasilitas kesehatan sehingga dapat maksimal melayani warga.
Di akhir tahun ini, Pemerintah Propinsi DKI Jakarta berencana menambah tempat tidur kelas tiga menjadi 100 tempat tidur, tempat tidur di UGD dari 22 menjadi 65 tempat tidur. Tak hanya itu, ruangan Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit itu pun akan dilakukan dan menambah pelayanan haemodialisa (cuci darah). Foke berjanji akan menambah 15 unit mesin pencuci darah. Selama ini, rumah sakit milik Pemerintah Propinsi DKI Jakarta itu hanya memiliki lima mesin haemodialisa.
Sebagai gubernur, Foke memang wajib menyambangi warga DKI Jakarta untuk mengetahui masalah yang dihadapi. Namun, kunjungan Foke kali ini tampak berbeda. Dia lebih banyak tersenyum. Biasanya, wajah Foke kelewat serius. Dia pun menebar janji kepada warga. Tak salah memang. Sayangnya, janji-janji itu ditebarnya saat Jakarta masih musim suksesi.
Foke memang harus merapat ke warga untuk mendapatkan simpati agar dapat memenangkan pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta putaran kedua yang bakal digelar 20 September mendatang. Maklum, Foke yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli (Nara), dipecundangi pasangan Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada pilkada putaran pertama yang digelar 11 Juli lalu.
Hasil perhitungan cepat, Jaringan Suara Indonesia (JSI) Jokowi-Ahok unggul dalam Pilkada DKI putaran pertama dengan perolehan suara 41,97 persen (48.413 suara). Sedangkan Foke-Nara meraup suara 34,42 persen (39.703 suara), kemudian disusul Hidayat Nur Wahid-Didik dengan 11,4 persen (13.148), Alex Noerdin-Nono Sampono 5,16 persen (5.854), Faisal-Biem Benyamin 5,16 persen (5.949) dan Hendardji-Riza Patria memperoleh 1,88 persen (2.173).
Agar dapat menang di putaran kedua, Foke-Nara harus maksimal menyapa rakyat. Bersama tim sukses dan partai pendukungnya, pasangan tersebut harus bisa menyakinkan warga DKI dan membangun lagi konsolidasi. Bukan tidak mustahil, Foke bisa memukul balik Jokowi yang telah mencundangi di ronde pertama.
Namun, tak mudah bagi Foke-Nara mengalahkan Jokowi-Ahok. Pasalnya, pasangan yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga memiliki strategi agar dapat mendongkrak dukungan dari warga DKI Jakarta.
Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Iberamsjah, Foke sulit memanfaatkan jaringannya di birokrasi karena ketatnya pengawasan sesama kandidat dan kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Foke-Nara juga sulit mengalahkan Jokowi-Ahok jika hanya mengandalkan kampanye via iklan-iklan di media tentang keberhasilan pembangunan di DKI Jakarta. Iklan keberhasilan itu dipahami masyarakat tak sesuai dengan kenyataan. “Faktanya masyarakat Jakarta setiap hari stres karena macet, tidak aman dan minimnya ruang publik,” ujarnya.
Belum lagi realitas sosiologis yang menunjukan jika warga DKI Jakarta mengharapkan adanya perubahan. Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Husin Yazid menyatakan, warga Jakarta menghendaki perubahan figur dan program pemerintahan. Padahal, bila dilihat dari sisi visi-misinya, Jokowi tidak begitu bagus. “Ini karena fenomena masyarakat Jakarta ingin perubahan. Sosok Jokowi itu dianggap media friendly. Di hadapan media, Jokowi terlihat low profile” katanya.
Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan juga memperkirakan Jokowi tak tergoyahkan di putaran kedua. “Popularitas Jokowi sebagai tokoh sederhana pilihan rakyat terus melambung ke putaran II sehingga keterpilihannya akan memuncak dibanding Fauzi Bowo,” katanya. Menurut Syahganda, kemenangan Jokowi-Ahok di putaran pertama menunjukan adanya perlawanan rakyat menghadapi kemapanan elit yang memimpin Jakarta.
Dukungan rakyat kepada Jokowi pun memperjelas kekalahan elit yang sekedar membangun citra semata. Menurut dia, kemenangan Jokowi identik dengan kemenangan pemimpin berkarakter kerakyatan, menyatu dengan perasaan rakyat. ‘Bukan karena persiapannya untuk menjadi pemimpin dibuat-buat oleh perekayasaan komunikasi,” kata Syahganda.
Keberhasilan Jokowi memimpin Solo juga menjadi nilai tambah yang menyakinkan warga Jakarta untuk memilihnya. Sementara sosok Foke, dianggap kurang maksimal mewujudkan harapan warga DKI Jakarta. “Fauzi Bowo adalah gubernur yang gak ada bekas pembangunan yang membanggakan. Yang monumental. Sedangkan Jokowi punya langkah-langkah yang fundamental di Solo, walaupun skala kecil,‘ kata pengamat politik UI Arbi Sanit. Arbi mencontohkan keberhasilan Jokowi dalam mempertahankan usaha para pedagang tradisional dari ancaman pasar modern. “Dia (Jokowi) menolak mall. Dia memperbaiki pasar. Dia memindahkan pasar dengan aman disetujui rakyat, bagi-bagi nasi bungkus dan makan bersama-sama, dia punya mobil Esemka,” kata Arbi.
Pukulan Telak
KEMENANGAN Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta di putaran pertama menjadi pukulan telak yang menghantam lawan-lawan politiknya. Dia juga tak hanya memukul telak pasangan petahana. Namun juga mempermalukan lembaga survei sekaligus partai politik pendukung lawan-politiknya. Jokowi muncul sebagai calon pemimpin ibukota yang fenomenal.
Walikota Solo yang diusung PDIP dan Gerindra untuk sementara “membuyarkan mimpi” Foke yang ditopang jaringan birokrasi serta banyak partai politik dan ormas pendukungnya. Figur Jokowi lebih kuat dibandingkan Foke yang didukung Partai Demokrat (PD), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Damai Sejahtera (PDS), PAN, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Matahari Bangsa (PMB), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI). Figur Jokowi juga menggeser Foke-Nara yang mengklaim sebagai pribumi asli DKI Jakarta.
Fenomena kemenangan Jokowi-Ahok membuktikan warga DKI Jakarta sebagai pemilih rasional yang tidak percaya orasi yang berapi-api dan janji surga yang ditebar para politisi. Namun, lebih lebih melihat sosok Jokowi-Ahok sebagai figur pemimpin yang diyakini dapat membawa perubahan bagi Jakarta yang lebih baik. Karenanya, meski bukan asli orang Betawi, Jokowi-Ahok, bisa menyakinkan warga ibukota jika mereka hadir menebar kebaikan.
Jokowi-Ahok juga berhasil membongkar subyektifitas lembaga survei. Jelang pemungutan suara, 11 Juli lalu, sejumlah lembaga survei yang menyimpulkan Foke-Nara bakal menjadi jawara, nyatanya tidak terbukti. Figur Jokowi-Ahok lebih menyakinkan mayoritas warga DKI Jakarta daripada hasil survei yang berupaya mempengarui opini publik dengan jumlah responden yang terbatas dan memiliki motif subyektif.
Menurut Iberamsjah, figur Jokowi mengalahkan dukungan partai politik maupun ormas pendukung lawan politiknya. “Oh ketokohan (penentu kemenangan), partai politik tidak terlalu penting. Partai politilk tidak ada urusan, enggak ada urusan, bahkan enggak berjalan,” katanya. Figur memang paling dominan mempengarui sikap pemilih. Kekalahan Alex Nurdin-Nono Sampono yang didukung Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi bukti. Pasangan nomor urut enam itu hanya mendapat dukungan 4,74 persen, hanya unggul dari pasangan Hendardji Soepandji-Riza Patria yang hanya berhasil mengumpulkan 1,88 persen suara.
Sosok Alex-Nono yang tidak menjual, menyebabkan mesin Golkar dan PPP tidak bergerak maksimal. “Sama sekali tidak berjalan,” kata Iberamsjah seraya mengkritik jika Golkar lebih mengendepankan gaya politik transaksional. “Enggak ada loyalitas di Golkar. Bayaran semua,” tegasnya.
Pun halnya PDIP dan Gerindra. Meski kedua partai itu mendukung Jokowi-Ahok, Iberamsjah menilai, PDIP dan Gerindra tidak berperan besar dalam perolehan suara yang signifikan untuk Jokowi-Ahok. Jokowi memang didukung oleh PDIP. Namun, tidak berarti kemenangan Jokowi karena bergeraknya mesin partai yang dipimpin Megawati Soekarno Putri tersebut. Sementara Ahok yang merupakan kader Partai Golkar sama sekali tidak ditopang partainya. Namun, rekam jejak Ahok tak kalah moncer dibandingkan Jokowi. Ahok menuai apresiasi sebagai pemimpin yang bersih saat menjadi Bupati Belitung Timur.
Keberhasilan Jokowi-Ahok dalam meraih simpati mayoritas warga ibukota juga tidak terlepas dari komunikasi politik yang dilakoninya. Pasangan tersebut memperagakan gaya komunikasi yang merakyat, dengan slogan yang cukup membumi. Mereka juga agresif menyusuri kampung-kampung masyarakat miskin di ibukota. “Penampilan Jokowi low prifile. Isunya tidak terlalu berat. Dia meperjuangkan masyarakat banyak, pedagang kaki lima, pedagang tradisional. Itu isunya kena sekali di kalangan rakyat kecil,” kata Iberamsjah.
Sementara Foke-Nara cenderung bergerak pada isu elitis dan kurang mengangkat isu-isu kerakyatan. “Selama ini kan (Foke) yang dibikin mal-mal besar, hipermart, rakyat kecil dan pedagang kaki lima terusir. Jokowi berjuang tidak ada penggusuran itu. Itu isunya kena sekali” kata Iberamsjah. Kemenangan awal Jokowi-Ahok juga memukul partai berbasis agama seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mendukung Hidayat Nurwahid-Didik Racbini. Meski Jakarta menjadi salah satu basis PKS, serta figur Hidayat yang sangat popular, bersih dan bersahaja, nyatanya tak mampu menyaingi ketokohan Jokowi. “Jakarta itu sangat pluralis. Jadi, primordial tidak berjalan. Sudah lewat masanya,” kata Iberamsjah.
Arbi Sanit menilai, kegagalan pasangan petahana juga tidak terlepas dari jargon kampanye yang mengawang-awang dan elitis. Sebaliknya, isu yang diusung Jokowi lebih pro rakyat. “Apa yang digambarkan Jokowi itu lebih gampang dipahaminya,” katanya. Selain itu, kata Arbi, Foke sulit mendongkrak elektabilitasnya karena selama lima tahun belum mampu mewujudkan harapan warga Jakarta. “Tidak ada yang monumental, sedangkan Jokowi punya saat Solo, walaupun skalanya kecil.”
Arbi juga menilai, masyarakat Jakarta semakin sekuler sehingga sulit bagi calon yang diusung partai berbasis agama dapat memenangkan pertarungan. “Orang jakarta lebih kritis karena pendidikannya lebih baik. Tidak percaya agama akan memperbaiki negara.”
Berangkat dari kegagalan tersebut, Foke-Nara bersama tim sukses dan partai pendukungnya akan bergerak lebih massif lagi menyakini warga ibukota Jakarta. Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum mengatakan, pihaknya telah melakukan evaluasi terhadap kekalahan sementara yang dialami Foke-Nara. Namun, Anas mau menjelaskan penyebab kekalahan Foke-Nara. “Bukan untuk dipublikasi,” katanya. Anas yakin Foke-Nara akan meraih kemenangan pada pemungutan suara putaran kedua. “Babak penyisihan sudah selesai, ini (putaran kedua) masuk babak final yang semua bisa terjadi. Kami tidak mengurangi optimistis. Foke-Nara akan dipercaya oleh rakyat Jakarta memimpin Jakarta 2012-2017,” jelas Anas.
Sementara politisi Demokrat Sutan Bhatoegana masih setia mendukung pasangan Fauzi Foke-Nara dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Namun, dia lebih mengapresiasi figur Jokowi. Sutan menganggap Jokowi sebagai pemimpin yang dirindukan rakyat. Dia mengistilahkan Jokowi sebagai Pemimpin BBM (bersih, berani, merakyat). “Carilah pemimpin yang BBM, bukan SDM (selamatkan diri masing-masing). Jokowi ini pemimpin BBM. Jadi saya langsung terpikir, inilah orang yang diharapkan orang,” kata Sutan di Gedung DPR, Jakarta, Senin lalu. Menurutnya, pemimpin yang merakyat adalah pemimpin yang tidak terlalu ribet dengan birokrasi. “Yang setiap kemana-mana dijaga beberapa orang,” katanya.
Sebagai kader Demokrat, Sutan pun mengingatkan Foke-Nara untuk mencontoh cara-cara kampanye yang dilakukan Jokowi. Jika ingin menang di putaran kedua, pasangan yang dijagokan Partai Demokrat itu harus memaksimalkan kampanye yang merakyat. “Perlu membumi lagi agar benar-benar merakyat,” katanya.
Kritik yang disampaikan Sutan bisa menjadi masukan bagi calon gubernur dan wakil gubernur petahana itu. Saat menjelang kampanye, Foke memang kurang agresif menyambangi warga Jakarta. Dia juga jarang menghadiri diskusi publik. Entah karena takut dikritik gaya kepemimpinannya, atau karena dirinya sibuk menjalankan rutinitasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Berbeda dengan Jokowi, yang gencar menyisiri kampung-kampung di penjuru ibukota. Walikota Solo itu pun rajin menyambangi diskusi-diskusi publik sehingga dengan cepat popularitasnya terdongkrak.
Titik lemah kampanye yang dilakukan Foke-Nara juga kurang mengakomodasi semua lapisan, bahkan terkesan elitis. Selain itu, pasangan tersebut juga lebih mengandalkan isu kedaerahan. Saat deklarasi, Foke-Nara mengklaim paling mengenal Jakarta. “Kami tidak ikhlas Jakarta diacak-acak orang lain. Orang lain bisa pulang kampung, kalau kita kemana?” seru Foke, kala itu. “Kami lahir di Jakarta dan bertekad membangun tanah lahir kami. Kota Jakarta akan lebih makmur dan sejahtera.‘
Dalam masyarakat metropolitan yang berpikir modern, model kampanye yang mengulas isu kedaerahan tentu tidak tepat. Sejarawan JJ Rizal menilai, isu etnis tidak laku untuk dijual dalam Pilkada DKI Jakarta. Isu etnisitas meredup lantaran rasionalitas warga DKI Jakarta yang berkembang. “Identitas lokal memang menguat, tapi rasionalitas juga menguat,” kata Rizal. Karena itu, tidak heran jika suara Foke-Nara justru kalah meski berada di wilayah yang menjadi dihuni mayoritas etnis Betawi.
Menurut Rizal, masyarakat Betawi sadar jika ada kepentingan lebih besar ketimbang memilih putra daerah untuk memimpin ibu kota. “Kepentingan Jakarta sebagai ibu kota juga kepentingan Indonesia,” ujar Rizal.
Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo menilai, Foke terkesan arogan lantaran kelewat pede (percaya diri) dapat mengalahkan lima pasangan lainnya yang bertarung di bursa suksesi DKI Jakarta. Sikap arogan itu yang menyebabkan sikap sejumlah tokoh PAN kurang simpati terhadap Foke. “Tokoh-tokoh PAN yang punya pengikut di Jakarta enggan menggalang suara untuk Foke,” kata Dradjad.
Foke-Nara memang kelewat pede lantaran didukung banyak partai politik dan birokrasi. Foke merasa yakin dapat mempertahankan kursinya sebagai orang nomor satu di Jakarta karena didukung oleh Partai Demokrat, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Damai Sejahtera (PDS), PAN, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Matahari Bangsa (PMB), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI). Apalagi, sejumlah survei menempatkan Foke berada dipuncak. Nyatanya, pede yang kelewat tinggi, berbuah kecele atau tidak mendapatkan sesuatu yang diharapkan yaitu kemenangan.
Dari cara melakukan komunikasi politik, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jaleswari Pramodhawardani menilai, Jokowi memiliki karakter populis. Sementara Foke kurang mampu berkomunikasi dengan baik. ‘Fauzi Bowo adalah sosok yang arogan,” kata Jaleswari. Jokowi berhasil mengundang simpati warga DKI Jakarta melalui komunikasi yang sederhana. Sementara Foke cenderung menggunakan pilihan kata yang tematik. ‘Namun, tidak bisa menginterpretasikan dengan mudah sehingga masyarakat bawah kurang simpatik. Ini berbeda dengan cara penuturan Jokowi,” ujar Jaleswari. Dia juga menilai, Jokowi jeli dalam menentukan setiap kata atau isu yang dia terjemahkan dengan bahasa-bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat Jakarta.
Ketua Media Center Foke-Nara, Kahfi Siregar kurang sepakat jika Foke-Nara kurang berinteraksi dengan pemilih di tingkat akar rumput. Menurut dia, tim kampanye maupun pasangan Foke-Nara selama masa kampanye lalu telah berinteraksi dengan massa akar rumput. “Turun ke bawah itu sudah dilakukan,” katanya. Namun demikian, pihaknya tengah melakukan konsolidasi. “Strategi pemenangan lanjutan sudah kami siapkan. Tapi saat ini kami sedang dalam tahap konsolidasi internal,” ujar Kahfi.
Konsolidasi dilakukan guna mencari tahu kekurangan atau kelemahan tim kampanye terkait hasil Pilkada, Rabu (11/7) lalu, dimana berdasarkan hasil quick count (hitung cepat) sejumlah lembaga survei, pasangan Foke-Nara gagal menempati urutan teratas perhitungan suara. Dari 97,56 persen perolehan suara yang dihimpun LSI dari 410 tempat pemungutan suara (TPS) yang menjadi lokasi sampel, pasangan Jokowi-Ahok tercatat memperoleh suara 42,75 persen. Sedangkan pasangan Foke-Nara sebanyak 33,56 persen.
Sementara Nachrowi Ramli menyatakan akan meniru strategi Jokowi-Ahok. Ia mengakui strategi pesaingnya itu lebih jitu dalam menarik suara warga Jakarta. “Ke depan akan kami perbaiki. Kami akan ikut cara-cara Pak Jokowi-Ahok, seperti apa caranya,” kata Nara.
Hasil putaran pertama yang memenangkan Joko-Ahok juga menjadi intropeksi lembaga survei. Direktur Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun, mengakui ada kelemahan hasil survei. “Sebenarnya survei punya keterbatasan prediksi dari sisi waktu karena lembaga hanya mampu menampilkan fenomena sesuai dengan rentang waktu pengambilan data,” katanya. Menurut Rico, lembaga survei harus menekankan data dan mengurangi spekulasi. Terkait motif lembaga survei yang menggiring opini Publik, Rico tidak menyanggahnya. “Saya sepakat, seharusnya survei tidak boleh dengan sengaja membatasi temuan-temuannya termasuk terhadap tema kepemimpinan,” katanya.
Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menanggap pentingnya pemisahan antara lembaga survei dengan konsultan politik dalam menjalankan perannya. Selama ini, kata dia, tidak diatur secara tegas antara lembaga survei dan consultan. Akibatnya, tidak sedikit lembaga survei yang berperan sebagai konsultan sehingga bertindak sebagai juru kampanye, bukan peneliti. Menurut Burhanuddin, peneliti akan menyampaikan data apa adanya, tidak selektif dalam memilih data yang akan disampaikan karena mendukung kliennya. Karena itu, ia mengatakan pentingnya lembaga survei melakukan introspeksi untuk mengecek kembali data-datanya.
Direktur Soegeng Sarjadi Syndicate, Totok Sugiarto mencacat beberapa kelemahan yang menyebabkan seluruh lembaga survei gagal menganalisis hasil pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta. Kegagalan itu akibat, tidak menjadikan warga Tionghoa sebagai responden. Padahal, suara warga keturunan Tionghoa sangat potensial dalam Pilkada DKI 2012. Jumlahnya terbesar ketiga setelah etnis Jawa dan Sunda. “Bahkan Tionghoa lebih banyak dari Betawi,” ujar Totok.
Lembaga survei juga tidak menangkap suara pemilih muda dan gagal menangkap suara pendukung PKS. Faktanya, pasangan calon Hidayat-Didik hanya didukung setengah dari total suara pendukung PKS. Artinya, sisa suara pendukung PKS tak terdeteksi lari ke pasangan calon lain. Totok juga menilai, lembaga survei kurang membidik ibu rumah tangga dan swing voter atau massa mengambang yang jumlahnya sangat besar. “‘Ini tidak diidentifikasi dengan parpol tertentu,” katanya. Totok pun menduga ada sebagian hasil survei yang memang dipesan pasangan calon tertentu sehingga tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. “Lembaga survei yang juga konsultan akan mem-frame pertanyaan sesuai dengan kepentingan calon.”

M. Yamin Panca Setia/Heri Arland/Melati Hasanah Elandis/Andi Sapto Nugroho/Suriyanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s