Manuver Jelang Suksesi


JUSUF Kalla menjawab enteng soal ancaman Partai Golkar yang bakal memecat dirinya sebagai kader partai jika maju sebagai calon presiden (capres) yang diusung partai lain di ajang Pemilihan Presiden 2014 mendatang. Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menegaskan, “Mau dipecat dua kali atau tiga kali juga tidak apa-apa,” kata Kalla di Jakarta, Selasa lalu. Menurut Kalla, untuk menjadi kandidat di ajang suksesi lima tahunan nanti, tidak harus didukung Golkar. Pasalnya, dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Golkar tidak diatur soal larangan kadernya menjadi calon presiden dari partai lain.
Saat Pemilihan Presiden 2004 lalu, Kalla pernah maju sebagai calon wakil presiden (cawapres) bersama Susilo Bambang Yudhoyono sebagai capres, tanpa dukungan Golkar. Pasangan tersebut kemudian membentuk Koalisi Kerakyatan yang merupakan gabungan Partai Demokrat (PD), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK), Partai Pelopor, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI). Pasangan tersebut berhasil menjadi pemenang, mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi, dengan meraih dukungan lebih dari 60 persen suara rakyat.
Kalla memang tak perlu merasa khawatir dengan ancaman dari partai yang pernah dipimpinnya itu. Dia bisa melaju ke bursa suksesi lantaran sejumlah partai sedang menimang-nimang namanya untuk dijadikan capres maupun cawapres. Tingginya tingkat elektabilitas Kalla dibandingkan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, menjadi daya pikat bagi petinggi partai lain untuk mengadang-gadangnya menjadi kandidat. Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP) misalnya.
Partai pimpinan Suryadharma Ali itu kepincut untuk mendukung Kalla. Nama Kalla sering kali muncul dalam setiap ajang konsolidasi internal PPP. Saat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I pada Februari lalu, Kalla merupakan tokoh eksternal yang paling banyak mengantongi dukungan kader PPP. Tingginya popularitas Kalla menjadi alasan bagi para fungsionaris partai berlambang Kabah itu mengusungnya.
Menurut Ketua DPP PPP Bidang Komunikasi, Arwani Thomafi, Kalla paling banyak mendapat dukungan dari internal PPP dalam Mukernas I. Karenanya, PPP terus mencermati sepak terjang Kalla serta tren elektabilitasnya. Hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) yang dirilis beberapa hari lalu misalnya, menempatkan Kalla dalam posisi kedua dengan tingkat popularitas mencapai 88,9 persen, di bawah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDIP), Megawati Soekarnoputri, dengan tingkat popularitas 93,7 persen.
Kalla bahkan mengalahkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto dengan 78,8 persen, Padahal sebelumnya, popularitas Prabowo selalu berada di atas Kalla. Sementara popularitas Aburizal berada keempat, dengan tingkat popularitas 70,1 persen, di bawah Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto dengan 72,8 persen, “Elektabilitas Kalla yang cenderung baik ini tentu akan menjadi dinamika menarik pada Mukernas II tahun depan,” ujar Arwani di Jakarta, Minggu (22/7) lalu. Posisi Kalla yang menjabat Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga menjadi pertimbangan memilih Kalla karena memiliki kedekatan psikologis dengan fungsionaris dan massa PPP yang mayoritas beragama Islam, dibandingkan nama-nama lain yang digadang-gadang bakal meramaikan bursa suksesi.
Partai Gerindra juga kepincut terhadap Kalla agar menjadi cawapres yang bersandingan dengan Prabowo sebagai capres. Partai Nasional Demokrat (Nasdem), besutan Surya Paloh, juga menimang-nimang sosoknya. Kalla mengaku pernah bertemu dengan Prabowo dan Paloh. Namun, pertemuan itu tidak membicarakan secara resmi persiapan menuju Pilpres.
Prabowo sendiri sudah dipastikan bakal maju sebagai capres. Dia telah membentuk pemenangan seperti Kesatuan Aksi Pendukung Prabowo untuk Indonesia Satu (KAPPI-1). Prabowo mengaku sebenarnya ingin istirahat dari kiprah dalam dunia politik saat ini. “Tetapi saya geram melihat kondisi saat ini. Karena itu saya menerima amanah saudara-saudara sekalian,” kata Prabowo yang juga Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu.
Dia percaya diri melaju ke bursa Pilpres 2014 lantaran tingkat elektabilitasnya yang tinggi. Hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) menunjukan Prabowo memperoleh dukungan 25,9 persen dari 2.192 responden yang direkrut sebagai sampel. Dia mengalahkan Megawati dengan perolehan 22,4 persen, dan Kalla yang memperoleh 14,9 persen. Sementara Aburizal Bakrie bertengger di 10,6 persen, Surya Paloh dengan 5,2 persen, dan Wiranto yang mencapai 4,5 persen.
Prabowo juga rajin menyapa publik lewat iklan via media. Sejumlah petinggi partai Gerindra pun gencar mewacanakan rencana koalisi dengan partai lain. Langkah tersebut harus dilakukan Gerindra agar mampu meraup 20 persen sebagai syarat capres. Tingginya syarat persentase itu dapat menutup celah Prabowo ke ajang pilpres jika Gerindra sulit mendongkrak suaranya. Apalagi, dua partai besar yaitu Golkar dan PDIP yang bakal mengusung jagoannya sendiri, ngotot mempertahankan angka 20 persen syarat capres.
Aburizal juga tengah menimang sosok yang layak mendampinginya. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung mengatakan, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X berpeluang menjadi cawapres dari Golkar. “Sultan telah lama menjadi kader Partai Golkar dan merupakan tokoh yang telah dikenal secara nasional. Sultan memiliki potensi menjadi cawapres mendampingi capres Partai Golkar Aburizal Bakrie,” katanya.
Sementara Ketua MPR yang juga politisi senior PDIP, Taufiq Kiemas megnharapkan akan muncul tokoh-tokoh muda pada Pilpres 2014 mendatang. Peluang untuk para tokoh itu menurutnya masih terbuka lebar. Kiemas yakin paling cepat setelah Idul Fitri tahun ini.
“Tokoh-tokoh mudah masih besar kemungkinannya muncul pada pemilu presiden 2014 nanti. Masih ada dua tahun, mereka akan mulai muncul setelah idul fitri ini atau setelah pilkada DKI ini akan muncul tokoh-tokoh muda,” ujar Taufik kepada wartawan di Gedung Parlemen Jakarta, Selasa (17/7).
Taufiq membantah bahwa dirinya akan mengajukan putrinya, Puan Maharani untuk menjadi pemimpin nasional. “Saya kira para tokoh muda itu usianya kisaran 45-55 tahun. Itu yang cocok jadi presiden selain karena UU juga masih mengatur mengenai batasan usia capres yang diatas 40 tahun,” tegasnya. Kiemas juga menyatakan, seluruh partai tidak bisa hanya mengandalkan figur saja untuk menghadapi Pilpres 2014.
Sementara anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Melani Leimena Suharli menyatakan Pilpres 2014 adalah pertarungan figur. Partai politik yang mengusung tak lagi berpengaruh. “Orang dukung lihat individu bukan parpol. Jadi nanti dipertimbangkan betul bagaimana figurnya,” katanya. Karenanya, Melani menyarankan Demokrat mencari figur pemimpin nasional setelah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tak bisa maju dalam Pilpres 2014. Ketua DPP Partai Golkar Hadjrianto Y. Tohari juga menilai Pilpres 2014 bukan lagi pertarungan ideologi. Dia juga menilai, dari nama-nama kandidat yang muncul ke permukaan, susah membedakan warna ideologinya. “Kalau di barat kan jelas sekali mana yang kanan, mana yang kiri. Mana yang konservatif, mana yang liberal,” kata Hadjrianto. Dalam Pilpres, kata Hadjrianto, paradigma partai politik pengusung seringkali tidak tercermin dalam figur pasangan capres dan cawapresnya. Partai Islam bisa mengusung calon yang nasionalis.

M. Yamin Panca Setia/Rhama Deny

M. Yamin Panca Setia/Rhama Deny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s