Jalur Rawan Penyelundupan Manusia


HAJI Idham Abu Bakar kini mendekam di tahanan Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Bareskrim Mabes Polri), Jakarta. Di sebuah apartemen di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin lalu, Idham dibekuk karena menyambi usaha memperdagangkan manusia (human traficking). “Dia (Idham) adalah otak sindikat pengiriman TKI perorangan ke Kairo dan Tunisia,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Rabu (18/7/2012).

Di apartemen itu juga diketemukan lima calon TKI. Mereka telah diperiksa sebagai saksi. Sebelum diberangkatkan, para korban itu ditampung di sebuah Apartemen MOI blok Hawai Bay Lantai 10 Nomor 09.

Dari hasil pemeriksaan Polri, Idham menggunakan PT Bani Golden Tour, usaha travel miliknya untuk mengangkut para korban ke negara tujuan. Perusahaan itu ternyata tidak tercatat di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Polisi masih melacak pihak lain yang diduga terkait dengan Idham. “Keterlibatan pihak lain masih dilakukan pendalaman lebih lanjut. Tentu ini tidak sendiri,” terang Boy. Atas perbuatannya, Idham dijerat Pasal 102, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Ketenagakerjaan. “Ancaman hukuman 10 tahun penjara,” ujar Boy.

Idham memang sudah lama dibidik aparat. Dia paling dicari pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia Kairo (KJRI Kairo) sebagai otak penyelundupan manusia ke kawasan Timur Tengah. Idham diduga menjadi sindikat perdagangan manusia internasional. Pasalnya, sejak tahun 2008 lalu, dia telah mengirim 30 orang ke sejumlah negara seperti Mesir, Suria, Tunisia, Afrika, dan beberapa negara Timur Tengah. Idham diduga berperan sebagai perekrut dan pengirim. Setelah dikirim ke luar negeri, para korban itu kemudian ditempatkan di penampungan atau langsung dikirim ke oknum lain untuk dijual ke majikan.

Hingga saat ini, belum jelas modus yang dilakukan Idham hingga bisa merekrut puluhan korban. Namun, dari sejumlah kasus yang berhasil dibongkar, modus penyelundupan manusia biasanya dengan cara-cara penculikan, tipu daya, serta iming-iming akan mendapatkan gaji besar.

Praktik yang dilakukan Idham hanya satu dari beberapa kasus penyelundupan manusia yang berhasil dibongkar aparat. Sebelumnya, aparat sering membongkar rencana penyelundupan manusia ke luar negeri dengan mengatasnamakan jasa penyaluran TKI ke luar negeri. Beberapa jalur penyelundupan antara lain bandara, kawasan perbatasan, dan jalur laut. Terminal keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang diyakini menjadi pintu keluar penyelundupan calon TKI ilegal ke luar negeri.

Dari catatan Polres Bandara Soekarno-Hatta, selama Januari-Agustus 2011, sekitar 20 calon TKI yang umumnya perempuan yang akan dikirim ke Timur Tengah, berhasil dicegah. Penyelundupan manusia asal Indonesia juga melewati jalur Batam, Surabaya, dan Kalimantan Barat.

Sebelum diterbangkan ke luar negeri, para sindikat mencari para perempuan muda di sejumlah daerah. Mereka juga bertugas memalsukan usia, ijazah, paspor, Surat Penempatan Kerja (PK), Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) dan dokumen resmi berupa paspor.

Setelah tiba di Timur Tengah, para calon TKI itu dipekerjakan di Bahrain, Mesir, Arab Saudi, dan Iran. Dipilihnya para calon pekerja perempuan asal Indonesia karena gajinya lebih murah dan pekerja keras. Umumnya, mereka yang direkrut berusia muda. Ironisnya, ada di antara mereka yang dipekerjakan di sejumlah hotel untuk melayani syahwat tamu hotel.

Selain jalur udara, korban juga dikirim lewat jalur tikus di kawasan perbatasan. Polri pernah mengungkap kasus perdagangan manusia di Entikong, perbatasan Malaysia, awal September tahun lalu. Sebanyak tujuh orang WNI asal Indramayu, Bogor, dan Cirebon yang akan menjadi korban perdagangan manusia, berhasil diamankan. Para calon korban itu tertarik diperkerjakan ke luar negeri karena dijanjikan akan digaji Rp8 juta. Mereka belum sadar jika nantinya akan dipekerjakan sebagai pelacur. Dalam kasus tersebut, ada yang berperan sebagai perekrut dan pengirim yang merupakan warga Indonesia dan pengguna, warga Malaysia.

Selain menjadi penyuplai, Indonesia juga dijadikan tempat transit bagi imigran gelap dari Timur Tengah yang akan mencari suaka politik ke pulau terluar Australia, Christmas Island. Kamis lalu, 45 imigran gelap asal Iran dan Suriah diamankan Satuan Tugas (Satgas) People Smuggling Bareskrim Polri di Sukabumi, Jawa Barat. Dua tersangka yang diduga menjadi koordinator pengiriman imigran gelap tersebut juga diamankan.

Penangkapan berawal dari informasi masyarakat yang melihat dua minibus dan satu sedan datang dari arah Jakarta yang mengangkut warga asing. Kendaraan tersebut ternyata berisi 45 orang imigran gelap. “Mereka akan diangkut menggunakan kapal laut menuju Christmas Island,” kata Boy. Tidak ditemukan dokumen keimigrasian yang menyertai mereka.

Para imigran gelap itu mudah masuk ke kawasan Indonesia lewat jalur laut karena jauh dari pengawasan. Makanya, mereka pun disebut sebagai “manusia perahu”. Perairan yang diyakini sebagai jalur transit dari Indonesia ke Australia adalah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) karena letaknya yang berbatasan dengan Australia dan Timor Leste. “Kerawanan ini dipicu oleh letak NTT yang selalu dijadikan tempat transit para pencari suaka dari negara-negara Timur Tengah, Pakistan dan Afganistan menuju Australia atau Timor Leste,” kata Kapolda NTT Brigjen Pol Ricky HP Sitohang. Hingga Juni 2012 jumlah imigran gelap yang berhasil ditangkap aparat polisi perairan Polda NTT mencapai 200 orang.

Ironisnya, perkara imigran gelap itu juga menyeret 415 warga Negara Indonesia yang menjadi anak buah kapal (ABK). Mereka ditahan oleh otoritas keamanan Australia karena dituduh terkait penyelundupan manusia asal Timur Tengah tersebut. Padahal, para WNI tersebut hanya korban kejahatan sindikat penyelundupan manusia ke Australia. Mereka cuma disuruh dan dibayar. Setelah itu, ditinggal begitu saja bersama imigran gelap itu saat tiba di Australia. Dari seluruh ABK itu, ada 36 WNI di bawah umur.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah meminta Australia memulangkan anak-anak Indonesia yang diselundupkan. Presiden juga telah bertemu Perdana Menteri Australia, Julia Gillard di Gedung Parlemen Teritori Utara Australia, Darwin, 3 Juli lalu. Kepada Gilllar, SBY menyatakan, Indonesia hanya menjadi korban sindikat penyelundupan imigran ilegal. “Indonesia menjadi korban dari aktivitas ilegal ini,” ujar Presiden.
Menteri Luar negeri Marty Natalegawa juga telah menggelar pertemuan dengan Menlu Australia Bob Carr membahas pembebasan anak Indonesia yang ditahan di Australia. Marty menegaskan, kedua pemerintah berkomitmen dalam upaya memulangkan anak Indonesia dan memastikan upaya penyelundupan manusia ke Australia melalui Indonesia tidak terjadi lagi. Sementara Bob Carr mengapresiasi usaha Indonesia menangani isu penyelundupan manusia.
Kasus perdagangan manusia menjadi perhatian sejumlah negara karena seringkali ditemukan eksploitasi seperti pelacuran, kerja paksa, perbudakan, bahkan pengambilan organ tubuh untuk diperjualbelikan. Nilai transaksi perdagangan manusia pun sangat besar. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani upaya pemberantasan obat terlarang dan kriminalitas merilis, perdagangan manusia menghasilkan sekitar US$39 miliar per tahun.
Perdagangan manusia merupakan salah satu kejahatan dijalankan oleh sejumlah organisasi kejahatan di seluruh penjuru dunia, selain peredaran obat terlarang, perdagangan senjata, dan kejahatan dunia maya. Kejahatan tersebut menciptakan ketidakstabilan di negara dan seluruh kawasan, merongrong bantuan pembangunan dalam bidang-bidang tersebut, dan meningkatkannya korupsi domestik, pemerasan, dan kekerasan.

M. Yamin Panca Setia/Suriyanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s