Orasi Menaklukan Nazi


10 MEI 1940, tentara Nazi Jerman menaklukan pertahanan Perancis dan bergerak maju ke wilayah pesisir Inggris. Invasi militer Jerman terhadap Perancis dalam Perang Dunia Kedua itu menjadi kabar menakutkan bagi Inggris. Serdadu Inggris yang berupaya melakukan intervensi militer lewat Narvik, Namsos, dan Andalsnes, pun tak mampu mengalahkan militer Jerman. Inggris memilih untuk mengisolasi setelah sebagian besar kawasan Eropa ditaklukan Jerman.

Dalam bayang-bayang kekhawatiran terhadap ancaman militer Jerman itu, di hadapan Majelis Rendah, London, 13 Mei 1940, Winston Churchill yang baru dilantik sebagai Perdana Menteri Inggris, berpidato, membakar semangat agar Inggris tak merasa takut berhadapan dengan Jerman.

“Saya tidak bisa memberikan apa-apa kecuali darah, perjuangan, air mata dan keringat. Kita menghadapi situasi yang sangat mencekam. Di hadapan kita terbentang penuh perjuangan dan penderitaan,” katanya. Churchill pun menyerukan agar Inggris bersiap-siap menghadapi perang dengan Jerman. “Perang Perancis (dengan Jerman) telah usai. Saya perkirakan, Perang Inggris (terhadap Jerman) baru akan dimulai.”

Churchill tampil di hadapan rakyatnya tatkala pemimpin-pemimpin politik kala itu tak mau memikirkan dan bertindak menghalau keganasan tentara Jerman. Dia nyaris seorang diri yang berada terdepan menentang cara-cara fasisme yang dilakukan Hitler. Kebenciannya luar biasa terhadap Hitler. Pada tahun 1938, ketika Jerman akan menyerang Cekoslovakia, Perdana Menteri Inggris, Chamberlain, pergi ke Moskow untuk bertemu pemimpin Nazi, Jerman, Adolf Hitler.

Kabar yang dibawa Chamberlain dari Moskow, menimbulkan kemarahan Churchill. Lalu, menuding Chamberlain dengan menyatakan, “Diberi pilihan antara perang dan kehilangan kehormatan. Anda (Chamberlain) memilih kehilangan kehormatan dan Anda akan mendapatkan perang.” Dia pun merobek-robek perjanjian Munich. Sementara para pengkritik mengejeknya.

Kekhawatiran Churchill rupanya terbukti. Setelah Jerman menyerang Cekoslovakia, warga Inggris khawatir. Apalagi, setelah Jerman menyerang Polandia tahun 1939, melanggar perjanjian Munich. Chamberlain pun mulai yakin dengan Churchill. Dia mengamanatkan kepada Churchill menjadi Panglima Angkatan Laut. Chamberlain juga mengajukan pengunduran diri dan meminta raja agar mempercayai Churchill. Tapi, raja tidak menyetujui (McCain-Salter, 2009).

4 Juni 1940, setelah 340.000 tentara dievakuasi dari Dunkerque, Utara Pantai Perancis, lantaran serbuan tentara Jerman, Churchill kembali berorasi di hadapan parlemen. “Kita harus mempertahankan tanah kita seberapapun berat itu. Kita harus siaga di pantai. Kita harus berjuang di daratan. Kita harus berjuang di ladang dan jalanan. Kita harus berperang di perbukitan. Kita tidak boleh menyerah,” serunya.

Pidato Churchill yang begitu menggugah membangkitkan perlawan serdadu Inggris. Para The Battle of Britain (perjuangan Inggris) pun menyambut seruannya. 10 Juli 1940, mereka menyatakan siap mati demi kedaulatan negaranya. Bahkan, mereka melakukan serangan, menghujani kawasan Luftwaffe hingga wilayah Jerman dengan bom. Serangan itu membuat Hitler terpaksa menunda ambisinya melakukan serangan militer terhadap Inggris.

Churchill sadar jika kekuatan militer negaranya tak sekuat dibandingkan kekuatan militer Hitler. Churchill yang kecilnya cadel dan gagap itu mampu menyakinkan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat menjadikan nazi sebagai musuh bersama. Karenanya, lelaki yang suka mengisap cerutu itu pun menyakinkan Amerika Serikat dan Rusia untuk bersatu melawan Jerman.

Di hadapan Kongres Amerika Serikat, Churchill mendukung usul Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt untuk menjadikan negaranya sebagai mesin demokrasi yang menghalau kekuatan fasisme dalam menguasai dunia. Dia juga mempengarui pemimpin Rusia, Joseph Stalin untuk bergabung dalam sebuah aliansi yang akhirnya sukses menghancurkan Jerman. Saat Jerman melakukan invasi ke Uni Soviet, 22 Juni 1940, Churchill menyatakan, “Marabahaya yang mengancam Rusia adalah marabahaya untuk kita juga.” Karena itu, Stalin pun terpikat untuk bersahabat dengannya.

Hubungan Churchill, Roosevelt,dan Stalin terus berlanjut. 14 Agustus 1941, Churchill bersama Roosevelt mendeklarasikan Atlantic Charter. Perjanjian itu mengukuhkan kedaulatan negara, demokrasi, liberalisasi, perdamaian dunia dan anti penggunaan kekuataan bersenjata. 28 November-1 Desember 1943, ketiga pemimpin itu bertemu di Taheran, Iran. Kekompokan Churchill, Roosevelt, dan Stalin membuat Hitler makin babak belur. Jerman makin tak berdaya. Sejumlah negara yang dikuasai Jerman berhasil direbut sekutu. 8 Mei 1945, Jerman takluk.

Berakhirnya Perang Dunia Kedua, membawa perubahan dunia. Namun, aliansi terpecah lantaran perbedaan ideologi. Churchill mencurigai niat Stalin untuk mengukuhkan paham komunisme di kawasan Eropa Timur. Usai perang dunia, Stalin begitu ofensif menancapkan komunisme di Albania, Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia, dan Rumania. Stalin ingin kawasan Eropa Timur terbebas dari pengaruh kapitalisme dan demokrasi. Karenanya, Rusia menjaga jarak dengan Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara sekutunya. Melihat glagat Rusia itu, 5 Maret 1946, Churchill melontarkan pidato yang mengusik Rusia. Di Akademi Westminster, Fulton, Missouri, Churchill meminta PBB melawan penyebaran komunisme di Eropa Timur yang dilakukan Rusia. Churchill menyebut Rusia sebagai “tirai besi” karena memilih terosiolasi. “Suatu tirai besi telah direntangkan atas benua Eropa.”

Namun, kritik itu tak menyurutkan keinginan Stalin menjadikan kawasan Eropa Timur steril dari liberalisasi. Di tahun 1948, Bulgaria, Rumania, Hongaria, Polandia dan Chekoslowakia menjadi negara komunis. Hingga akhirnya, Amerika Serikat dan Inggris pun bertindak. Dibentuklah Containment Policy atau dikenal Containment of Communism. Amerika Serikat lalu menebar program bantuan (Trauman Doctrine) ke Yunani dan Turki tahun 1947 yang memicu kemarahan Stalin. Lalu didorong juga Marshall Plan, yaitu program bantuan ekonomi dan militer untuk membangun negara-negara Eropa yang hancur akibat Perang Dunia II. Inggris, Amerika Serikat dan sejumlah negara seperti Irlandia, Norwegia, Denmark, Belgia, Belanda, Prancis, Portugal, dan Kanada, menaruh curiga dengan Uni Soviet.

Negara-negara itu pun membentuk North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Organisasi Pertahanan Atlantik Utara. Sebaliknya Uni Soviet membentuk Cominfrom atau Organisasi Komunis Internasional dan menginsiasi terbentuknya Pakta Warsawa tahun 1955 yang anggotanya terdiri dari negara-negara komunis. Pertarungan ideologi itu terus berlanjut bahkan menyebar ke kawasan Asia.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s