Machiavelli Dicaci dan Dipuji


KAUM moralis mencacinya sebagai pemikir licik yang melabrak nilai, etika, moral, serta menghalalkan segala macam cara bagi penguasa yang ingin mempertahankan keuasaan atau para petualang politik yang ingin merebut kekuasaan. Namun, kaum rasionalis mengagumi pemikirannya dan menganggap pemikirannya sebagai referensi bagi perkembangan politik modern. Sementara para penguasa otoriter seperti Adolf Hitler menjadikan karyanya sebagai “buku panduan” yang selalu dibaca sebelum tidur. Hitler mendalami betul pemikirannya sebagai referensi dalam menyusun taktik dan strategi memperluaskan wilayah kekuasaannya. Penguasa otoriter asal Italia, Benito Amilcare Andrea Mussolini menyebutnya sebagai godfather.

Dia adalah Niccolo Machiavelli, filosof terkenal kelahiran 3 Mei tahun 1469 di Florence, Italia. Pemikirannya cukup berpengaruh dalam perkembangan teori maupun praktik politik dan kekuasaan. Sejak remaja, lelaki berkulit putih pucat itu telah menjadi sosok yang ide-idenya disesaki imajinasi kecurigaan. Karakteristik yang rada berbeda dibandingkan remaja lainnya itu tidak terlepas karena pengaruh buku-buku tentang sejarah kebesaran Romawi yang dilahapnya. Dia terkagum-kagum dengan kejayaan Kekaisaran Romawi, di abad kedua Masehi, era kejayaan Marcus Aurelius, seorang filsuf, jenderal yang merangkap sebagai raja. Di bawah kekuasaan Aurelius, Roma berhasil menguasai Teluk Persia hingga Tembok Handrian. Rakyat Roma pun sejahtera, makmur, dan sentosa di bawah kepemimpinan Aurelius.

Machiavelli juga menganggumi kepemimpinan Aurelius yang gemar menggunakan kekuatan bersenjata untuk menaklukan penduduk di kawasan luar kekaisaran. Literatur sejarah kekaisaran Romawi itu yang kemudian membentuk kepribadian, pandangan, dan sikap sang bocah, agak berbeda dengan bocah lainnya. Memasuki masa remaja, dia pun tumbuh menjadi sosok yang kritis dan rasional. Meski rada berperilaku nyeleneh dan suka mengolok-olok teman-temannya.

Dalam ranah intelektual, rasionalitas yang digelontorkan Machiavelli menjadi cikal bakal perkembangan analisis politik modern yang menempatkan kekuasaan sebagai realitas empirik, bukan sebatas romantika yang disesaki pesan-pesan moral. Machiavelli adalah pemikir yang mempreteli dominasi agama atau pesan-pesan moral dalam konteks kekuasaan. Dia menolak doktrin Thomas Aquinas tentang penguasa yang baik. Aquinas dalam karyanya The Government of Princes, berpendapat bahwa penguasa yang baik harus menghindari godaan kejayaan dan kekayaan duniawi agar memperoleh ganjaran surgawi yang baik. Bagi Machiavelli, justru sebaliknya, penguasa yang baik harus berusaha mengejar kekayaan dan kejayaan (Suhelmi, 2007). Pemikiran tersebut yang kemudian mengukuhkan doktrin politik yang menegaskan bahwa kepentingan dan kekuasaan adalah hal yang abadi dalam pertarungan politik.

Argumentasi Machiavelli tidak sekedar retorika, namun berbasis historis yang pernah dilakoni penguasa-penguasa sebelumnya. Dia mencontohkan kekaisaran Romawi kuno, saat agama Kristen diatur negara. Namun, dia tidak menyatakan agama tidak penting. Dia juga menolak disebut atheis. Dia lebih melihat pentingnya agama terbebas dari atribut kekuasaan dan lebih memainkan peran sebagai gerakan moral yang mampu mengintegrasikan negara. Agama dapat mengobarkan patriotisme dan memperkuat pranata-pranata kebudayaan (Hardiman, 2004).

Memasuki usia 29 tahun, Machiavelli yang berotak brilian, merambah ke lingkaran kekuasaan. Dia dikenal sebagai think thank yang memainkan misi diplomatik Republik Florentine. Dia bertandang ke Perancis, Jerman, dan negara-negara lainnya untuk melakoni peran diplomasi, sekaligus memainkan intri politik demi kepentingan negaranya. Peran itu dilakoninya selama 14 tahun, sehingga pemikirannya tak sekedar berbasis pada asumsi, namun juga realitas. Namun, setelah rezim Florentine digulingkan oleh Medici di tahun 1512, Machiavelli kehilangan jabatan. Dia sempat dipenjara lantaran dituduh melakukan manuver melawan penguasa Medici. Namun, dia tak lama di penjara karena merasa tidak melakukan perlawanan.

Machievielli lalu dibebaskan dan menetap di perkebunan kecil, San Casciano, tidak jauh dari Florence. Di sana, dia tak berhenti berpikir. Dia justru makin mengeksplorasi pemikirannya tentang politik dan kekuasaan dengan menerbitkan sejumlah buku. Salah satu buku yang terkenal berjudul The Prince, (Sang Pangeran).

Dalam buku tersebut, Machievielli menggelontorkan ide-ide politik dan kekuasaan kepada Lorenzo de Medici tentang tatacara mempertahankan kekuasaan. Machiavelli menjelaskan, “Ia (sang penguasa), saat orang melihat dan mendengarkannya memiliki sifat lembut, beriman dapat dipercaya, manusiawi dan agamis. Rakyat yang memiliki sifat sederhana hanya menilai dari penampilan dan mudah ditipu.”

Pesan Machievielli itu pada dasarnya mengajarkan pangeran untuk tidak berbuat baik demi mempertahankan kekuasaannya. Seorang pangeran tidak harus jujur melaksanakan kekuasaannya. “Seorang penguasa yang cerdik tak harus menepati kata-katanya. Seorang pangeran jangan kehabisan alasan baik untuk memanis-maniskan pelanggaran janjinya,” jelasnya.

Baginya, muara kekuasaan adalah ketenangan, keadilan dan kemakmuran rakyat. Karenanya, Machievielli membenarkan cara-cara pelaksanaan kekuasaan yang tidak terpuji, namun dapat memberikan kemakmuran kepada rakyat. Baginya, cara tersebut lebih baik daripada penguasa berlaku sopan dan jujur, namun mengabaikan tujuan kekuasaan yang diamanatkan kepadanya, yaitu memberikan kesejahteraan rakyat seperti yang dilakoni Marcus Aurelius.

Tatkala kekuasaannya terancam, Machiavelli menilai, penguasa dapat berbuat yang tidak menyenangkan warganya, termasuk melakukan kekerasan sehingga memunculkan ketakutan warganya. “Orang selayaknya bisa ditakuti dan dicintai sekaligus. Tetapi, lebih aman ditakuti daripada dicintai.” Machievielli pun memperingatkan sang pangeran agar berhati-hati dengan para penjilat yang berada dalam lingkaran kekuasaannya.

Pesan yang disampaikan Machievielli memang terkesan picik, jahat dan tidak beretika. Namun, itulah realitas jika mencermati realitas sejarah kekuasaan yang di penjuru dunia. Gagasan kekuasaan Machiavelli banyak diterapkan penguasa yang otoriter dan menentang demokrasi. Namun, seiring perkembangan jaman, pemikiran Machiavelli mengalami proses dialektis. Model kekuasaan absolut yang dicetuskan Machiavelli nyatanya menjadi muara penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Karenanya, para pemikir demokrasi modern di abad ke-17 dan ke-18 seperti John Locke dan Baron de Montesquieu menawarkan konsep yang lebih ideal. John Locke (1632-1704) memandang perlu adanya pemisahan kekuasaan.

Locke menekan perlunya dicegah sentralisasi kekuasaan ke dalam satu tangan atau lembaga.Locke kemudian menawarkan pemisahan kekuasaan politik ke dalam tiga bentuk, yakni kekuasaan legislatif (legislative power), kekuasaan eksekutif (executive power), dan kekuasaan federatif (federative power). Dalam melaksanakan peran dan fungsinya, ketiga kekuasaan politik itu tidak ada saling campur tangan sehingga dapat memastikan berjalannya mekanisme checks and balances. Locke dalam buku karyanya yang terkenal yakni Two Treatises of Government (Dua persepakatan dengan pemerintah) yang terbit tahun 1689, menyuguhkan ide dasar yang menekankan arti penting konstitusi demokrasi yang memosisikan penguasa sebagai pelindung hak milik warga negara.

Kemudian pandangan Locke tersebut dikembangkan lagi oleh Baron de Montesquieu dengan doktrin terkenalnya yakni trias politica yang membagi fungsi kekuasaan negara menjadi tiga fungsi yakni legislatif, eksekutif dan yudikatif. Montesquieu dalam bukunya Espirit des Lois, menekankan jika ketiga fungsi kekuasaan itu harus dilembagakan masing-masing dalam organ negara. Dia menekankan pentingnya pemisahan kekuasaan yang hanya menjalankan satu fungsi, dan tidak boleh mencampuri urusan masing-masing dalam arti mutlak.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s