Lantang Menggugat Laku Korup


BANGSA ini telah diwarisi nilai-nilai luhur dari nenek moyang. Lihatlah kemegahan Candi Borobudur atau candi-candi yang dijumpai menyebar di sekitar kawasan nusantara ini. Candi-candi itu kokoh berdiri hingga kini, dengan desain arsitektur yang sangat estetis, kokoh bahkan mengandung unsur religis dan filosofis. Karya monumental para leluhur itu membuktikan akan etos kerja, daya pikir, semangat dan perjuangan yang luar biasa.

Nenek moyang bangsa ini juga menorehkan sejarah akan kekuatan budaya maritim. Perahu Phinisi, karya suku Bugis yang sejak abad ke 14 Masehi, sudah menjelajahi dunia, berlayar sampai ke Madagaskar Afrika. Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu menjadi arsitek perahu itu. Sejarah yang dicatat Sawerigading tak kalah cemerlang dibandingkan sejarah yang ditorehkan Vasco da Gama yang baru memulai penjelajahan pertamanya pada tahun 1497 dalam upaya mencari rempah-rempah, dan menemukan benua-benua baru di timur. Kehebatan nenek moyang dari suku Bugis itu menunjukan jika mereka memiliki jiwa petarung, pantang mundur menghadapi dahsyatnya gelombang laut.

Lihat pula karya-karya seni para leluhur lainnya. Mereka begitu apik membuat kain Songket, Ulos, Batik, Tapis dan sebagainya. Lihat pula betapa luar biasanya karya ukir dan pahat Suku Asmat, Dayak dan Bali. Corak tenunan karya orang tua dulu begitu artistik, dengan motif indah yang dibuat oleh tangan, tanpa menggunakan mesin. Masih banyak lagi karya warisan para leluhur yang amat luhur.

Namun, situasi budaya bangsa saat ini sangat kontradiktif dengan situasi dulu. Itulah yang diekspresikan Mochtar Lubis. Sastrawan, budayawan yang juga wartawan itu mengkhawatirkan bahayanya kemunafikan, lemahnya kreatifitas, etos kerja berengsek serta neofeodalisme. Menurut dia, generasi saat ini seakan telah kehilangan akar budaya yang kuat sebagai bagian dari elemen bangsa. Bahkan, generasi saat ini terjebak dalam mental brengsek. Tak sedikit proyek pembangunan fisik yang dibiayai dari uang negara, fondasinya keropos dan rentan ambruk karena tak kokoh akibat dana proyek dikorupsi.

Itulah sepercik pemikiran Mochtar dalam buku berjudul: Pembebasan Budaya-budaya Kita, dengan Editor Agus R Sarjono, yang dipublikasikan PT Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Taman Ismail Marzuki, 1999.

Siapa Mochtar Lubis? Bagi mantan Menteri Luar Negeri di era Presiden Soekarno, Muhammad Roem-yang mengenal Mochtar saat mendekam di penjara Madiun, Mochtar Lubis dikenalnya sebagai lelaki berkepala granit. Artinya, seorang yang teguh pendiriannya. Keyakinannya dalam menyuarakan kebenaran tak membuatnya takut dijebloskan di penjara.

Bagi Arief Budiman, sosok intelektual kritis, Mochtar Lubis adalah manusia multidimensional dan kontroversial. “Dia multidimensional karena bakat-bakatnya yang banyak dan ia kontroversial karena keberaniannya,” tulis Arief seperti dikutip dalam buku berjudul: Mochtar Lubis Bicara Lurus, Menjawab Pertanyaan Wartawan, Yayasan Obor Indonesia, 1995 yang disunting Ramadhan KH dan Salim Said. Sementara Jenderal AH Nasution menyebutnya sebagai pribadi yang teguh pada keyakinan dan perjuangan demokrasi. Karena keberaniannya berteriak benar dan bertahan dengan pendiriannya, ia sering kali keluar masuk di penjara di zaman Demokrasi Parlementer, Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila. Baginya, di penjara adalah tempat istirahat. “Rasanya dua setengah bulan di tahanan benar-benar saya manfaatkan untuk istirahat yang memang saya perlukan,” ujarnya kepada Sinar Harapan, 18 April 1975 yang mewawancarainya sehari setelah ia dibebaskan dari tahanan kejaksaan.

Pandangan Mochtar Lubis tentang negara dan korupsi menunjukan bahwa ia secara kritis mendorong transformasi budaya politik dan budaya antikorupsi dalam bernegara. Saat masih menjabat Pemimpin Redaksi surat kabar harian Indonesia Raya di zaman Orde Lama dan Orde Baru, ia gentol melontarkan kritik tajam terhadap negara, budaya politik elite dan perilaku korupsi saat kebebasan berekspresi disumbat oleh rezim Soekarno dan Soeharto.

Indonesia Raya pun harus menerima tindakan otoriter dengan dibredel selama tujuh kali pembredelan. Enam kali pada masa terbitnya pertama (1949-1958) dan masa terbit kedua (1968-1974). Kritik yang menghujam ke sumbu kekuasaan merupakan bukti jika Mochtar Lubis menghamba pada kemerdekaan pers yang menjadi hak asasi yang paling penting (fundamental human rights atau basic human rights). Dengan kemerdekaan pers, semua pelanggaran HAM dapat dikontrol dan budaya malu untuk melanggar HAM dapat ditumbuhkan.

Dia juga dikenang sebagai sosok wartawan yang independen. “Dia tidak mempunyai afiliasi pada partai. Dia tetap independen. Tapi, dia mendukung Golkar karena ini adalah pemilihan yang bagus. Sebab kalau balik lagi pada partai-partai politik, ya kembali macam dulu,” jelas Jaffar Assegaf seperti dikutip dalam buku berjudul: Negara dan Korupsi, Pemikiran Mochtar Lubis Atas Negara, Manusia Indonesia dan Perilaku Politik, yang ditulis Mansyur Semma, Yayasan Obor, 2008. Taufik Ismail juga mengurai Mochtar Lubis adalah sosok yang antikomunis. “Mochtar Lubis tidak berpartai. Tetapi, dia sangat bersimpati pada PSI, sangat bersimpati pada Masyumi, dengan dengan tokoh-tokoh partai tersebut. Dan juga ketika ditahan di Madia, keseluruhan orang itu adalah sahabat-sahabat dia.”

Mansyur Semma menilai Mochtar Lubis adalah sosok intelektual organis dan jurnalis kritis yang merekam dengan baik pergeseran politik di Indonesia. Pemikiran politiknya yang mencoba menggugat tradisi bernegara dan perilaku korupsi banyak dipengarui oleh latar belakang sosial, budaya, sejarah dan kekuasaan yang ada. ia merasakan kondisi bangsa Indonesia sejak zaman Belanda, Jepang, Soekarno dan Soeharto.

Pemikiran Mochtar Lubis telah memberikan kontribusi besar bagi kematangan politik di Indonesia. Ketika hubungan media massa mengalami hegemoni dan disharmoni, Mochtar Lubis justru semakin memperlihatkan sikap-sikap politik dan pemikiran-pemikiran yang kritis, cenderung tidak kompromistis dan sangat kritis melakukan kontrol sosial terhadap rezim. Dia juga gencar mengkritik sikap pasif kebanyakan masyarakat Indonesia terhadap berbagai penyimpangan, bahkan akomodatif serta cenderung memberi ruang gerak yang cukup lapangan terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme.

Ia juga dikenal sebagai sastrawan. Telah banyak novel yang ditulisnya seperti: Tidak Ada Esok, Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain, Manusia Indonesia, Harta Karun, tanah Gersang, Senja di Jakarta, Judar Bersaudara, Penyamun dalam Rimba, Berkelana dalam Rimba, Kuli Kontrak dan Bromocorah. Mochtar memang merupakan sosok yang memiliki multitalenta. Ia wartawan tersohor, sastrawan terkemuka, pelukis, pemahat, pemelihara anggrek, penerbit, dan penyelam.

Sikap keras, konsisten, kritis, berani yang dimiliki Mochtar tidak terlepas dari tempaan Raja Pandapotan Lubis, sang ayah. Mochtar Lubis mengikuti pendidikan di Sekolah rakyat hanya selama setahun di Sungai Penuh. Setelah itu, ia pandah ke HIS (Hollandsch Inlandsche School), sekolah dasar berbahasa Belanda yang baru dibuka di kota kecil itu. Di sekolah itu dimulai mengasah bakat sastra, dan menulis di Koran lokal Sinar Deli. Selepas dari sekolah dasar tahun 1935, ayahnya menganjurkan agar ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Ekonomi di Kayutanam, pusat pendidikan terpenting yangjuga menjadi tempat INS (Indonesiche Nationale School) yang dibangun tahun 1962 oleh Muhammad Sjafei (1897-1969).

Meski merasa tidak betah sekolah di sana, Mochtar mendalami kajian-kajian karya pemikir dan filosof seperti Adam Smith dan Karl Marx (Manifesto Komunis). Awalnya, ketertarikan Mochtar terhadap Marxisme ditentang oleh guru-gurunya. Dia tertarik dengan paham itu sejak berusia 15 tahun. Di Kayutanam dia lulus pada tahun 1939. Di sana, ia dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang memperkenalkan visi intelektual gerakan nasional dan tulisan-tulisan pemimpin Indonesia seperti Muhammad Hatta, Sultan Sjahrir, Soekarno, SM Latif dan guru-gurunya yang mengajarkan tentang konsistensi pendidikan dalam transformasi sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s