Melacak Motif Cukong Miranda


DI ruang berukuran 3,1 meter x 3,5 meter itu, Miranda Swaray Goeltom menjalani aktivitasnya. Dia tak ingin menghabiskan waktu untuk sekadar meratapi nasibnya sebagai penghuni baru Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sempit itu. Guru besar Fakultas Ekononi Universitas Indonesia (UI) itu tetap menjalani rutinitas sebagai pengajar. Miranda rupanya masih punya tanggungjawab untuk memberikan penilaian tugas mahasiswa yang diajarkannya. Dari balik jeruji penjara, dia harus melunasi tugasnya mengoreksi tugas yang dibebankannya kepada mahasiswa.
Karenanya, dia memerintahkan Sutikno, supirnya untuk mengantarkan semua berkas tugas mahasiswa beserta barang kebutuhan lain ke ruangnya. “Antar barang buat Bu Miranda,” kata Sutikno. Selain tugas mahasiswa, Sutikno membawa dua buku dalam paket yang dipesan Miranda. Buku itu berjudul The Principle of Economic setebal 861 halaman dan Economic of Money, Banking and Financial Markets setebal 647 halaman. Miranda bahkan minta izin kepada KPK agar dapat keluar dari rutan untuk menguji kandidat doktor di UI pada 15 Juni nanti.
Kesibukannya pun akan bertambah di dalam rutan lantaran Miranda akan merampungkan bukunya tentang Indonesia setelah krisis 1998. Sebuah buku berjudul The Indonesian Experience yang dibawa suaminya Oloan Siahaan, menjadi referensi yang memperkaya kajian buku yang tengah ditulisnya.
Miranda telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap cek pelawat terkait pemilihan Dewan Gubernur Senior BI. Dia ditahan di rutan KPK sejak Jumat 1 Juni 2012 lalu. Sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam perkara suap cek pelawat (traveller cheque) yang telah menjerat anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004, Miranda masih aktif mengajar di UI. Namun kini, Miranda tak lagi mengajar di ruang kelas lantaran besi jeruji menghalanginya. Di rutan KPK itu, mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) juga harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak serba mewah seperti yang selama ini dinikmatinya.
Wanita yang seringkali berganti cat warna rambutnya dan berpenampilan glamour itu harus terbiasa kegerahan jika cuaca di luar rutan sedang panas. Ruangan itu hanya dilengkapi dengan exhaust fan untuk sirkulasi udara, tempat tidur 1,5 meter x 2 meter dengan kasur dan bantal busa, dan lemari kecil.
Di ruang terisolasi itu, Miranda tidak sendiri. Dia bertetanggaan dengan tersangka kasus suap proyek wisma atlet SEA Games, anggota DPR RI, Angelina Sondakh. “Kamarnya sebelah Angelina, di pojokan (letak kamar),” kata petugas KPK yang enggan disebut namanya kepada Jurnal Nasional, Sabtu lalu. Ada juga ruang tahanan yang tengah ditempati terpidana kasus suap wisma atlet, Mindo Rosalina Manullang. Kamar Rosa tidak berada dalam satu lorong dengan kamar Miranda dan Angie. Di rutan itu, ada dua kamar mandi. Miranda, Angie dan Rosa, agaknya harus bergantian jika ingin memakai kamar mandi di waktu bersamaan. Kepala Rutan KPK, Arifudin memastikan, tidak ada fasilitas istimewa untuk Miranda. “Sama semuanya, tidak ada yang khusus,” tegasnya.
Jum‘at, sekitar pukul 17.50 WIB, Miranda dijebloskan ke rutan komisi antikorupsi setelah menjalani pemeriksaan selama delapan jam. Dia terlihat lemas saat keluar dari gedung KPK untuk digiring ke rutan. “Saya sudah menandatangani surat penahanan. Saya menerimanya,” katanya.
Dia pun mengharap agar kasus yang menjeratnya segera selesai. Miranda yakin KPK sangat profesional sehingga akan memproses kasusnya dengan segera agar perkara yang menjeratnya memperoleh kepastian hukum. “Agar kita semua tidak bertanya-tanya lagi,” ucapnya. Penahanan Miranda akan dilakukan selama 20 hari sejak dirinya ditahan demi kelancaran penyidikan.
Miranda ditahan terkait penyidikan kasus suap kepada anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004. Selaku Deputi Gubernur Senior BI terpilih pada tahun 2004, sosialita penikmat seni itu diduga turut serta dalam tindak pidana suap yang dilakukan Nunun Nurbaeti yang telah divonis 2,5 tahun penjara serta denda sebesar Rp150 juta atau subsider kurungan penjara selama tiga bulan. Nunun terbukti menyuap anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004 dalam bentuk cek perjalanan senilai Rp24 miliar.
Upaya KPK menjebloskan Miranda ke penjara patut diapresiasi. Namun, sejumlah kalangan menilai, tidak cukup KPK menahan Miranda. Perkara suap yang menyeret Miranda diduga kuat dilakoni aktor lain yang memiliki kepentingan dengan Miranda. Mantan anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004, Agus Condro Prayitno yakin betul jika Miranda mendapat sponsor untuk menabur-naburkan cek suap perjalanan sebanyak 480 lebar senilai Rp24 miliar kepada anggota Komisi IX DPR agar dapat menang dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI.
Agus tak yakin uang yang digunakan untuk menyuap para wakil rakyat itu hanya bersumber dari kantong pribadinya. Menurut dia, gaji Gubernur BI yang nilainya mencapai Rp250 juta per bulan tak mencukupi total dana suap yang mencapai Rp24 miliar. Agus pun tak yakin jika uang suap itu dikucurkan Nunun, pemilik PT Wahana Esa Sejati. Agus yakin KPK sudah mengetahui dalang yang menabur suap cek pelawat yang terungkap dalam persidangan Nunun. “Namun, buktinya saja yang belum cukup,” ujar mantan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu .
Fakta persidangan mengungkap jika awalnya cek dipesan melalui Bank Artha Graha. Tetapi, karena tak tersedia akhirnya diteruskan ke Bank Internasional Indonesia (BII). Cek itu dibeli untuk pembayaran kebun kelapa sawit. Direktur Keuangan PT First Mujur Plantation and Industry, Budi Santoso pernah mengakui perusahaannya membeli 480 lembar cek perjalanan ke BII melalui Bank Artha Graha. Tetapi, ia mengaku tak tahu cek itu beredar ke anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004.
Saat menjadi saksi kasus suap cek pelawat di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, akhir Mei 2011 lalu, Miranda membantah dekat dengan bos Artha Graha, Tommy Winata. Namun, dia mengaku pernah memiliki deposito di Bank Artha Graha di tahun 2007 hingga 2008.
Miranda boleh saja tutup mulut soal donator yang turut memenangkannya. Namun, Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto menyatakan, pihaknya akan terus menelusuri donatur Miranda. “KPK ingin bongkar semua pihak. Kalau ada bukti-bukti yang cukup, maka terbuka peluang untuk menindaklanjuti (ditetapkan tersangka baru),” ujar Bambang. KPK juga menelusuri pihak-pihak yang diuntungkan dengan kemenangan Miranda. “Pada saat yang tepat dan bukti-bukti mengerucut, kami akan sampaikan.”
Mantan Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menduga Miranda memiliki motif dalam peristiwa aliran dana cek perjalanan ke Komisi Keuangan DPR itu. Alasannya, di tahun 2003, Miranda pernah mengikuti uji kepatutan dan kelayakan Deputi Gubernur Senior BI. Namun, gagal bersaing dengan Burhanuddin Abdullah dan Anwar Nasution karena masalah pribadinya diungkit anggota dewan. Anehnya, pada pemilihan 2004, anggota DPR tidak menyinggung soal masalah perkawinan Miranda saat diuji untuk kedua kalinya. “Dalam fit and proper test sebelumnya ada pertanyaan yang bersifat personal. Dan dalam tes yang kedua, pertanyaan yang bersifat personal tidak muncul. Maka kami menemukan hal (motif) tersebut,” papar Bambang. KPK telah memeriksa tiga pejabat PT Bank Artha Graha, yaitu Witadinata Sumantri (Direktur Kepatuhan), Gregorius Suryo Wiarso (Kepala Divisi Treasury dan Tutur (cash officer).
Agus Condro pernah mengungkap jika ada uang senilai Rp250 juta yang mengalir ke anggota DPR untuk memenangkan Miranda pada 2003. Kabar itu dia terima dari anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004, William Tutuarima. Uang sebesar Rp250 juta hanya uang muka. Sisanya senilai Rp500 juta akan dibayarkan setelah Miranda terpilih sebagai Deputi Senior Gubernur BI. Dari pengakuan Agus, sejumlah anggota DPR lainnya kecipratan uang dari Miranda tersebut.
Karena itu, Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas menyatakan akan mengkaji kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Miranda selama menjabat Deputi Senior BI. Untuk memperkuat dugaan adanya kepentingan di balik kebijakan yang ditetapkan Miranda, Buysro menyatakan, KPK akan menggali keterangan penting lainnya. Rencana KPK membongkar motif dan donator pemenangan Miranda ditanggapi dingin kuasa hukum Miranda. “Jangan paksa Miranda menjawab apa yang dia tidak tahu,” kata Andi Simangunsong, kuasa hukum Miranda.

M. Yamin Panca Setia/ Melati Hasanah Elandis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s