Uskup Agung Penebar Nasionalisme


“KATEDRAL itu barang dan tempat yang disucikan. Saya tidak akan memberi izin. Penggal dulu kepala saya, baru Tuan boleh memasukinya.”

Kemarahan itu disampaikan Monseignor (Mgr) Albertus Soegijapranata SJ kepada syucokan (gubernur/residen Jepang) yang ingin menjadikan Gereja Katedral Randusari, Semarang, Jawa Tengah sebagai markas Pemerintah Jepang. Uskup Agung ini tak ingin gereja menjadi bagian dari penjajah yang telah menyengsarakan rakyat Indonesia. Dan, demi menjaga integritas gereja dan kepentingan negaranya, dia bersedia mati.

Soegijapranata sebenarnya Uskup Agung yang mencintai kedamaian dan antikekerasan. Di sela-sela kesibukannya sebagai rohaniawan, dia juga terlibat dalam aktivitas pergerakan politik. Namun, bukan kekuasaan yang diraihnya. Sahabat Soekarno itu terlibat dalam aktivitas pergerakan kemerdekaan demi kemanusiaan. Sikapnya frontal menentang penjajahan.

Namanya dikenang sebagai sosok rohaniawan yang nasionalis. Dia mampu menempatkan gereja sebagai sarana mengatasi segala perbedaan politik dan ideologi agar dapat memusakan perhatian dan pengabdiannya kepada masyarakat miskin, tertindas dan dijajah. Dalam aktivitas kehidupannya, dia sama sekali tidak membedakan golongan, suku, agama maupun aliran politiknya. Dia seorang nasionalis yang memandang tidak ada kontradiksi yang membelah tanah airnya karena perbedaan. Salah satu semboyan yang selalu didengunkannya adalah, “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.”

Dalam Buku Harian Seorang Uskup di Masa Perang yang merupakan transliterasi dan terjemahan Soegijapranata yang ditulis antara 13 Februari 1947-17 Agustus 1949 (Subanar, 2003), nampak terekam jelas pengabdian Soegijapranata kepada umat Katholik dan masyarakat Indonesia umumnya.

Dia adalah seorang pemimpin Gereja Katolik di Indonesia pertama yang dipilih untuk menjabat sebagai Vikaris Apostolik, setingkap uskup untuk wilayah Vikariat Apostalik, setingkat keuskupan, di Semarang sejak 1 Agustus 1940. Kala itu, kondisi keamanan tidak memungkinkan lantaran pecahnya Perang Dunia Kedua.

Pelantikan Soegijapranata sebagai Vikaris Apostolik Semarang dilaksanakan di Semarang pada tanggal 6 November 1940. Sejak saat itu, dia mewarisi hidupnya untuk kepentingan gerejawi Vikariat Apostolik Semarang yang cakupannya meliputi sejumlah keresidenan di Jawa Tengah (Semarang, Jepara, dan Rembang). Dia juga memimpin gereja di beberapa bagian kerasiden Kedu (Magelang dan Temanggung) dan seluruh wilayah Surakarta dan Yogyakarta.

Kala itu, kondisi negara tengah kritis karena baru menapaki kemerdekaan dari penjajahan. Para pendiri bangsa bersama seluruh elemen masyarakat bersatu menyusun kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan. Soegijapranata adalah salah satu aktor yang terlibat dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Hal itu terlihat dari dukungannya terhadap pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta sebagai strategi menyelamatkan kemerdekaan. Soegijapranata pun memusatkan aktivitas keagamaannya di Yogyakarta. Dia memindahkan pelayanan umat Katholik dari Semarang ke Yogyakarta.

Sebagai pemimpin Katholik, Soegijapranata juga tak pernah berhenti menyiarkan pesan-pesan yang disampaikan para pemimpin bangsa kepada rakyatnya. Dia terlibat aktif menyampaikan pesan dari Presiden Seokarno tentang gencatan senjata pada 12 Februari 1947. Lewat pemancar radio Purwasari, Surakarta, Soegijapranata menyerukan segera dilakukan gencatan senjata, menyusul terjadinya peristiwa penembakan pesawat di Maguwo Jogjakarta.

Dia juga aktif membicarakan bahaya serangan Belanda itu sebelum tanggal 19 Desember 1948. Kritik kerasnya tak berhenti sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi militer Belanda. Menurut dia, agresi militer Belanda telah menebar kesengsaraan, penderitaan rakyat yang merugikan upaya perdamaian dan kerjasama yang diharapkan berlangsung hangat atas dasar persamaan derajat menurut hukum dan keadilan.

Kritik itu disampaikan baik secara lisan maupun tulisan lewat media di dalam negeri maupun luar negeri. Sebagaimana dikutip harian Merdeka, dari berita yang ditulis Koran ANP yang terbitkan di Amsterdam, Belanda, 16 Mei 1949, Soegijapranata melayangkan kritikan keras atas kekerasan militer Belanda terhadap rakyat Indonesia.

“…….aksi militer itu telah diadakan untuk merebut kembali apa yang sudah hilang, melakukan pembalasan buat segala kekalahan, menghidupkan kembali, sudah tidak ada, memperbaiki dengan kekerasan senjata dan pertunjukan kekuatan semua noda dan penghinaan yang telah diderita.”

Dia juga beberapa kali menulis surat pembaca di sebuah Majalah di Amerika Serikat. Surat itu berisikan kritikan keras terhadap agresi militer Belanda. Desember 1948, dia menulis suatu artikel yang dimuat di Majalah Commonwealth di Amerika Serikat. Dalam artikel itu, Soegijapranata menganggap blokade yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia bukan hanya merupakan blokade ekonomi. Melainkan juga blokade pemikiran. Kepada Amerika, dia menyerukan agar melakukan tindakan guna mengatasi tindakan Belanda yang merugikan Indonesia.

Sikapnya yang keras terhadap penjajahan mendorongnya untuk terus menyerukan kepada umat pemuda Katolik agar selalu bahu membahu membela negara dan telibat aktif dalam urusan negara. Pernah suatu ketika, tentara Belanda datang ke pastoran dan memintanya menurunkan bendera Merah Putih, Soegijapranata dengan tegas menolak dengan mengatakan wilayah semarang adalah milik Indonesia, Belanda sudah pergi. “Kalau Tuan dapat merebutnya kembali dari rakyat, Barulah Tuan dapat memaksa saya.” Tentara Belanda itu pun akhirnya pergi (Sudarmanta, 2007).

Soekarno mengenang sosok Soegijapranata sebagai sahabat sejak masa perjuangan di Yogyakarta. Romo Mangun Wijaya menganggap Soegijapranata sebagai sosok penting dalam hidupnya. Dia menganggap Soegijapranata adalah gurunya. ‘Saya tidak dapat menggambarkan bagaimana akan jadinya gereja Katolik Indonesia seandaian dulu, Soegijapranata tidak ada (Indratno, 2009).

Uskup Agung yang berjiwa nasionalis dan dicintai umatnya itu meninggal dunia pada tanggal 22 Juli 1963 setelah menjalani pengobatan di Eropa lantaran serangan jantung dan sesak nafas yang dideritanya. Jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang.

M. Yamin Panca Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s