Romo Humanis Sahabat Kaum Miskin


“ROMO, saya digendong Romo,” kata seorang bocah berusia enam tahun yang tinggal di kawasan kampung kumuh. Bocah itu lalu meletakan tas semir sepatunya dan meloncak ke pangkuan Romo.

“Ya, ya….kene tak gendhong sedhela (ya, mari saya gendong sebentar). Dengan wajah ikhlas dan senyum mengembang, lelaki itu menggendong bocah tersebut, sambil membelainya dengan kasih sayang.

“Wis ya, mudhun. Romo arep rapat dhisik (Sudah ya, turun. Romo mau rapat dulu),” katanya. Anak itu pun mengangguk, lalu turun dari gendongan Romo. Dia lalu mencium tangan Romo, kemudian berlari menjauh dengan riangnya. Begitulah kehidupan dari seorang Romo Mangunwijaya.

“Citra yang terekspresi sejujurnya. Citra seorang bapak yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian pada anak-anak terbuang,” ungkap Fred Wibowo, sahabat Mangunwijaya dalam tulisannya seperti dikutip Y Dedy Pradipto, dalam buku, Belajar Sejati versus Kurikulum Nasional, Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar, Kanisius, 2007.

Mangunwijaya dikenal sebagai pastor dan guru humanis yang dekat dengan kaum miskin. Dia mengabdikan dirinya karena tak kuasa menyaksikan warga miskin di sekitarnya yang tergilas roda kehidupan.

“Aku cinta negeri ini dan orang-orangnya. Terutama barang kali karena mereka selalu ku kenal sebagai penderita, sebagai orang kalah,” tulis Mangunwijaya, dalam buku: Dilema Sutan Sjahrir: Antara Pemikiran dan Politik, yang ditulis Taufik Abdullah, Aswab Mahasin, Daniel Dhakidae, Jakarta LP3ES, 1978.

Dalam mengubah nasib kaum miskin, Mangunwijaya menghabiskan waktunya untuk memberikan pendidikan. Baginya, pendidikan dasar adalah aspek penting untuk mendongkrak derajat kaum miskin.

Namun, pendidikan yang menjadi hak dasar setiap warga negara negara tidak menguntungkan anak-anak miskin. Perhatian negara terhadap mereka sangat kurang. Anak-anak miskin seakan dibiarkan tumbuh liar di belantara kota.

“Kita tahu, orang miskin hampir tidak mungkin (sekolah), untuk mencapai tingkat perguruan tinggi atau menengah umum sering tidak tercapai,” katanya. Karenanya, dia kemudian membentuk Dinamika Edukasi Dasar (DED) dengan SD Mangunan sebagai SD garapan, di Kalasan, perbatasan wilayah Timur Yogyakarta dengan Jawa Tengah.

Dia merintisnya tahun 1980-an. Dia rela berhenti menjadi dosen di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang telah ditekuninya selama 12 tahun. Dia kemudian menghibahkan dirinya untuk kaum miskin di Kali Code.

Gagasannya di dunia pendidikan lebih dicurahkan untuk pendidikan dasar.

Di Kali Code, dia membuat rumah untuk ditempati orang-orang miskin, mulai dari tukang becak, tukang semir, copet, maling, jagoan, hingga pelacur. Bangunannya sederhana dari bambu , yang bahannya ditemukan di sepanjang sungai.

Rumah bambu itu lalu dicat warna-warni sehingga kampung pinggir kali itu jadi asri dan indah. Sekitar tahun 1985, kebijakan pemerintah turun. Sepanjang sungai Code yang membelah kota Yogyakarta tepat di tengah ini, akan dijadikan green belt atau jalur hijau.

Kebijakan itu menuai perlawanan warga. Mangunwijaya pun terdepan menentangnya. Dia mengancam mogok makan jika proyek jalan terus. Hingga akhirnya, proyek penggusuran itu dibatalkan pemerintah.

Dari Kali Code, dia merefleksikan pengalamannya dengan menulis sastra berjudul: Burung-Burung Manyar yang mendapatkan penghargaan The South East Asia Write Award tahun 1983. Setelah enam tahun menetap di Kali Code, Mangunwijaya kemudian pindah ke kawasan Grigak.

Dia tertarik tinggal di sana untuk membantu warga Grigak yang kesulitan air bersih. Dia juga hijrah ke Kedung Ombo. Kala itu, warga tengah dihadapi konflik dengan pemerintah lantaran tanahnya direbut untuk dijadikan waduk. Tak mudah memasuki kawasan itu karena dijaga militer.

Di sana, Mangunwijaya mendermakan dirinya sebagai penyuplai obat-obatan dan makan, serta membantu menyelamatkan warga yang hanyut karena kawasan Kedung Ombo yang digenangi air. Dia membuat rakit untuk warga, saat waduk sudah tergenang.

Dia juga mencurahkan tenaga dan pemikirannya untuk membantu anak-anak yang pendidikannya terganggu. Dia menjadi guru anak-anak SD agar pendidikannya tidak terbengkalai.

Sebagai praktisi pendidikan, Manguwijaya juga suka mengkritik metode pendidikan yang mengabaikan dimensi humanis. Baginya, esensi pendidikan adalah memanusiakan manusia, bukan memproduksi robot-robot industri.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan pernah memberikan apresiasi terhadap pemikirannya mengenai pendidikan humanis.

Dalam sebuah surat yang dikirimnya ke Mangunwijaya, Fuad mengapresiasi dukungan Mangunwijaya yang menyadarkan banyak orang bahwa sesungguhnya menyesatkan untuk memandang pendidikan sebagai ikhtiar untuk menjadi manusia siap pakai. Tuntutan ini sering kali dilandasi dari argumen pragmatis, output oriented, instrumentalistis dan sebagainya.

“Maka sampai parau pun saya akan menyarankan penentangan untuk menjadi pendidikan menghasilkan manusia siap pakai. Pendidikan mestinya menciptakan iklim yang meleluaskan anak manusia berkembang dan terus mekar atas kemekarannya sendiri,” tulis Fuad Hasan.

Selain sebagai guru, Manguwijaya juga mencurahkan pemikiran humanisnya lewat tulisan yang disebarkannya di media, buku dan karya-karya sastra. Dia dikenal sebagai sastrawan hati nurani, yang menyadarkan keadilan dan kebenaran dan mengangkat harta dan martabat manusia serta menopang perdamaian dan persaudaraan, perikemanusiaan.

Tulisan-tulisannya mengalirkan ide-ide pencerahan dan kemanusiaan. Saat menyaksikan banyak orang Madura membayar nyawa untuk tanah yang akan dijadikan Waduk, Manguwijaya menulis Kasus Nipah. Dia juga menulis tentang Marsinah, dan menyebut aktivis buruh yang tewas akibat kekerasaan itu sebagai pahlawan hak asasi manusia. Karya sastranya berangkat dari realitas manusia.

Wajar jika kemudian karya sastranya berjudul: Burung-burung Manyar mendapat penghargaan dari South East Asian Writer Award tahun 1983 dan sudah diterjermahkan dalam bahasa Jepang dan Belanda. Dalam bidang sastra, Romo menyebut Douwes Dekker dan HB Yassin sebagai gurunya. “Multatuli Douwes Dekker itu guru saya yang pertama. Guru yang kedua adalah HB Yassin,” katanya.

Sisi humanisnya tak hanya itu. Saat menjelang kematiannya, Manguwijaya ingin menyumbangkan jasadnya untuk Fakultas Kedokteran sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Saya hanya ingin hidup saya berguna. Ini sesuai dengan jalan hidup saya. Biasanya yang dianatomi adalah penjahat, atau jenazah gelandangan yang tak berkeluarga. Seperti Yesus mati bersama para penjahat dan orang miskin ketika disalib, saya pun ingin mati dengan cara mereka, meski tidak disalib,” tulisnya dalam buku tumbal yang merupakan kumpulan tulisan Mangunwijaya dari tahun 1970-an hingga 1990-an. Namun, keinginannya itu tidak dikabuli oleh orang-orang terdekatnya. Jasadnya pun dimakamkan secara utuh.

Begitulah sekilas kisah perjalanan hidup Romo Mangunwijaya yang memiliki nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Lelaki yang lahir di Ambrawa, Jawa Tengah, 6 Mei 1929 itu menghabiskan hidupnya untuk kemanusiaan. Dari keluarga Katholik yang saleh, bapaknya Yulianus Sumadi Manguwijaya dan Ibunya yang bernama Serafin Kamdinijah, mengajarkan Mangunwijaya untuk menjalani hidup dalam kesederhanaan.

Dia pun memilih menjadi pastor yang mengagungkan kesederhanaan dan kecintaan terhadap kaum tertindas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s