Penebar Radikalisme dari Laweyan


AKSI radikalisme massa itu muncul di Laweyan, sebelah selatan Kota Surakarta. Di sana, amarah ribuan pengrajin batik tumpah lantaran usaha batiknya terancam oleh monopoli yang dilakoni pengusaha Cina yang oleh Pemerintah Kolonial Belanda menempati strata sosial di atas pengusaha pribumi (inlander).

Para pengusaha batik di Solo merasa dirugikan khususnya dalam penentuan harga akibat monopoli pedagang Cina yang memiliki modal besar serta dukungan dari Pemerintah Kolonial Belanda. Kebijakan devide et impera yang diterapkan Belanda menguntungkan pedagang Cina lantaran mendapatkan hak-hak khusus. Sebaliknya, pedagang pribumi dengan modal yang kecil mengalami diskriminasi sehingga makin tergerus usahanya.

Adalah Kiai Samanhudi yang khawatir akan praktik dagang Cina itu. Dia pun bergerak, memelopori aksi massa lewat sebuah organisasi yang dibentuknya: Sarekat Dagang Islam (SDI). Lewat organisasi yang dibentuk pada tahun 1911 itu, berjuang melindungi usaha para pedagang Islam dari dominasi pedagang-pedagang Cina. Selain mengembangkan jiwa berdagang, memberi bantuan kepada para anggotannya yang mengalami kesukaran, memajukan pengajaran dan mempercepat naiknya derajat Bangsa Bumiputra, SDI juga aktif menebar siar Islam, menggalang persatuan umat Islam khususnya dalam memajukan kehidupan umat Islam yang berlandaskan Al Qur‘an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Bersama Tirtoadisurjo, pelopor pers nasional, Samanhudi berhasil menjadikan SDI sebagai organisasi massa yang berkembang secara massif. Organisasi itu pun mendapat dukungan dari kaum bangsawan. Tirtoadisurjo ikut mendirikan SDI di Kota Bandung dan Batavia dan pada tahun 1911. Sementara H. Syeikh Ahmad Badjened, mendirikan SDI di Bogor. Perjuangan SDI yang senafas dengan nasib para pengusaha batik pribumi, membangkit minat pengusaha batik pribumi untuk bergabung. Perkembangannya yang begitu massif membuat pengusaha Cina khawatir. Mereka pun mendirikan perhimpunan yang bernama Kong Zing yang mempunyai dua kelompok anggota, yaitu Cina dan Jawa. Namun dalam perkembangannya, golongan Jawa tidak bertahan lama, mereka keluar dari Kong Zing dan bergabung dengan SDI.

Samanhudi, lahir di tahun 1868 dengan nama kecil Sudarno Nadi. Setelah naik haji pada tahun 1904, dia pun dikenal dengan nama Haji Samanhudi. Ayahnya seorang pengusaha muslim yang menjadi saudagar batik, bernama Haji Muhammad Zen.

Pendidikan yang ditempuh Samanhudi tidak tinggi. Ia hanya mengenyam pendidikan di madrasah dan sekolah rakyat selama enam tahun. Pada umur 13 tahun ia meneruskan sekolah ke HIS di Madiun, tetapi tidak sampai tamat karena harus membantu usaha dagang ayahnya. Namun ia juga belajar Al-Quran di Pondok Pesantren Josermo, Surabaya. Sambil berdagang, dia juga menebar dakwah. Usaha batik yang dikembangkan Samanhadi berhasil maju. Dia pun memperluas cabang-cabang usahanya di berbagai kota, kurang lebih ada 86 cabang. Industri batik yang dikembangkan juga menyerap banyak tenaga kerja, sekitar 200 pekerja yang datang dari sekitar Solo. Sudarno pun berkibar sebagai saudagar batik muslim yang sukses. Saat usaha bisnisnya bersama pengusaha pribumi lainnya terseok-seok oleh monopoli pengusaha Cina, dia pun bergerak untuk melakukan perlawanan.

Dalam perkembangannya, SDI berubah orientasi. Perjuangan organisasi tak hanya seputar memperjuangkan kepentingan dagang pengusaha batik. Namun, orientasinya lebih luas lagi yaitu memperjuangkan aspirasi umat Islam. Karenanya, pada 11 November 1912, SDI berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). Organisasi itu pun makin berkembang luas di bawah kepemimpinan Haji Oemar Sait (HOS) Cokroaminoto.

Tidak hanya di sentero Solo, namun juga menyebar ke daerah lain di Jawa. Saat Kongres Pertama digelar pada tanggal 25-26 Januari 1913, di Surabaya, jumlah anggotanya sekitar 80 ribu orang. Dalam pertemuan SI di Yogyakarta pada tanggal 18 Februari 1914, diputuskan untuk membentuk pengurus pusat yang terdiri dari Samanhudi sebagai Ketua Kehormatan, Tjokroaminoto sebagai Ketua dan Gunawan sebagai wakil ketua.

Pengurus Central SI itu diakui Pemerintah Belanda pada tanggal 18 Maret 1916. keanggotaan SI kala itu mencapai menjadi 360 ribu orang dan meningkat pada tahun 1918 hingga mencapai 450 ribu orang. Lewat besutan Cokroaminoto, SI melahirkan tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno yang berpaham nasionalis, SM Kartosuwirjo yang Islamis dan Samaun yang komunis. Ketiga tokoh itu tercatat dalam sejarah, sering kali bertarung secara ideologis dalam pentas politik kenegaraan. Kepada ketiga muridnya itu, Cokroaminoto mengajarkan kepiawaian berpidato yang dapat mengasah rasa kebangsaan.

Organisasi pergerakan pertama Indonesia itu pun makin nyaring mengelorakan kesadaran rakyat untuk terus berjuang melawan penjajahan Belanda. Pergerakan SI memunculkan kekhawatiran Belanda. Alasan itu yang kemudian mendorong Belanda untuk memberangus sejumlah organisasi pergerakan yang banyak bermunculan setelah kelahiran Boedi Oetomo, tahun 1908.

Pada tanggal 25 November 1918, Cokroaminoto bersama Abdul Muis yang mewakili SI dalam Volkstrad (Dewan Rakyat) dengan lantang mengajukan mosi terhadap pemerintah Belanda agar membentuk parlemen yang anggotanya dipilih sendiri oleh rakyat. Karena dianggap memprovokasi rakyat dengan yel-yel antipemerintah kolonial, Cokroaminoto lalu diringkus Belanda pada tahun 1921. Namun, dia kemudian dibebaskan pada tahun 1922. Dalam sebuah Kongres Nasional SI pertama, tanggal 14-24 Juni 1916, Cokroaminoto memberikan pencerahan tentang perlunya pembentukan bangsa dan pemerintahan sendiri.

Seiring perjalanannya, SI kemudian digiring menjadi partai politik, dengan keanggotaan yang tidak terbatas pada pedagang dan rakyat di Jawa dan Madura saja. SI sukses menjadi partai Islam yang memiliki pengaruh luar biasa. Namun, dalam perjalanannya, terjadi konflik di internal SI. Semaun yang juga tinggal di rumah Cokroaminoto dan menjadi salah satu satu Ketua Serakat Islam, nyatanya memanfaatkan SI untuk menyusupkan faham komunis. Semaun adalah kader komunis militan yang pemikirannya berbeda dengan paham yang ditransformasikan Cokroaminoto.

Samaun sebelumnya mendapat didikan tentang komunisme dari Hendricus Sneevliet, politisi komunis Belanda yang mengambangkan paham komunisme di Indonesia. Karena masih merupakan barang baru di Indonesia, Sneevlietkemudian menyusupkan kadernya ke SI untuk menarik massa ke dalam organisasi komunisnya. Tak sedikit, anggota SI yang tertarik. Cokroaminoto menentang keras aksi Samaun

Semaun dan pengikutnya keluar dari SI yang kemudian bergabung Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan Hendricus Sneevliet, di Semarang, 9 Mei 1914. Cokroaminoto yang berwatak konservatif tetap menyakini Islam sebagai ideologi yang dapat membawa kemakmuran. Dia yakin, kekuasaan pemerintah yang mengabaikan hukum Allah SWT, akan hancur dengan sendirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s