Terseret Pusaran Suap


“DOAKAN saya ya, biar lancar,” ujar Angelina Sondakh sambil menebar senyum saat dirinya dibawa masuk ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta, Kamis (3/3) lalu. Angie, sapaannya, tak berbicara banyak saat pencari berita memberondongnya dengan sejumlah pertanyaan.
Kala itu, Angie menjalani pemeriksaan perdana setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka kasus Wisma Atlet SEA Games 2011 di Palembang, Sumatera Selatan. Dia juga diduga menerima suap pembahasan anggaran dana pembangunan gedung dan proyek laboratorium di beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).
Angie terlihat seperti biasanya. Dia tampil anggun dengan mengenakan kemeja lengan panjang warna biru, dipadu celana bahan warna hitam model lurus dengan tatanan rambut digelung. Angie juga terlihat menentang sebuah tas kecil. Penampilan Angie kala itu seperti menyembunyikan masalah hukum yang tengah melilitnya. Dia seakan tampil tanpa beban atas perkara yang menyeretnya.
Padahal, ancaman hukumannya bukan perkara ringan. Putri Indonesia tahun 2001 yang kini ditahan di rumah tahanan KPK itu dijerat Pasal 12 huruf a atau, Pasal 11 atau Pasal 5 ayat 2 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dia juga terancam pasal 5 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Hukumannya lima tahun penjara sekaligus denda Rp1 miliar. Bebannya pun makin berat karena harus berpisah dengan Aaliya, Zahwa, dan Keanu, buah hatinya dengan almarhum Adjie Massaid.
Sejak kasus hukum menjeratnya, Angie irit berbicara di hadapan publik. Dia lebih memilih menebar senyum, serta memberikan jawaban apa adanya. Sementara publik mengharap Angie membuka kotak pandora agar terungkap aktor lain yang terlibat dalam perkara yang kini menjeratnya. “Kita berharap Angie kooperatif, mengungkapkan hal-hal yang lebih besar atau membongkar kasus,” ujar Abraham. Jika Angie kooperatif, lanjut Abraham, maka bisa dikategorikan sebagai justice collaborator (saksi pelaku yang bekerjasama dengan aparat hukum).
Sementara Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Harris Semendawai mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan KPK guna mempertimbangkan dijadikannya Angie sebagai justice collaborator. Pihaknya belum memutuskan apakah Angie memenuhi syarat atau tidak sebagai justice collaborator. Menurut Haris, seorang dapat menjadi justice collaborator jika memiliki komitmen untuk bekerja sama dengan aparat penegak hukum, mengakui dirinya terlibat dalam kejahatan dan menjadi bagian dari kejahatan itu, serta mempunyai informasi penting untuk menjerat pihak lain yang diduga terlibat, mengetahui betul kejahatan yang dilakoninya, serta mengembalikan hasil kejahatan yang dimiliki dan mau memberi kesaksian di tingkat penyidikan dan pada proses peradilan. Tersangka juga bukan pelaku utama kejahatan tersebut.
Rencana dijadikan Angie sebagai justice collaborator menuai pro dan kontra. Ketua Setara Institute Hendardi menilai dijadikannya Angie sebagai justice collaborator, rawan negosiasi antara KPK, Angie dengan Partai Demokrat. Hendardi juga menilai, justice collaborator mensyaratkan seseorang tersebut memiliki keterlibatan minimum dalam sebuah dugaan tindak pidana. “Dalam kasus Angie, tampak dari percakapan Angie dan Rosa, bahwa Angie bukan pemeran pinggiran. Jadi, posisi Angie terlalu mewah untuk menjadi seorang justicecollaborator,” ujarnya.
Karena itu, Hendardi meminta KPK agar sungguh-sungguh menggunakan bukti-bukti yang dimilikinya dan hasil pemeriksaan terhadap Angie untuk menjerat aktor-aktor utama lainnya, baik dalam kasus Wisma Atlet, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan proyek Hambalang. “Jauhkanlah pikiran membujuk Angie untuk menjadi justice collaborator, karena hanya membuktikan KPK malas bekerja dan mendekati potensi negosiasi yang mengingkari prinsip keadilan,” ujarnya.
Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gajah Mada (UGM), Hifdzil Alim juga menilai dijadikannya Angie sebagai justice collaborator hanya akan menjadikan penegak hukum kurang produktif dalam melaksanakan tugasnya. Aparat juga dikhawatirkan bersikap pasif dengan lebih mengharapkan peran dari justice collaborator itu sendiri untuk mengungkap kasus-kasus lainnya. “Kalau kita kasih justice collaborator, penegak hukum tidak bekerja. Kita gaji, kita kasih kewenangan yang besar agar mau membongkar kasus korupsi yang berkaitan dengan parpol, penguasa,” kata Hifdzil di Komplek Parlemen Senayan, Jumat lalu.
Sementara anggota Dewan Kehormatan Partai Demokrat, Syarifudin Hasan, mengatakan Partai Demokrat menyerahkan pengungkapan kasus Angie kepada KPK.
“Apakah namanya justice collaborator, yang penting serahkan pada KPK, kita lihat saja hasilnya,” katanya. Akan tetapi, kata dia, transparansi dan akuntabilitas harus dilakukan sehingga pengungkapan kasus ini benar-benar dilakukan dengan transparan. “Biarkan saja proses itu berlangsung,” kata dia menegaskan.
Soal usulan beberapa politisi Demokrat yang meminta agar Angie menjadi justice collaborator agar membuka secara keseluruhan, dia mengatakan, Demokrat tidak bisa mengintervensi. “Tidak usah memberikan wacana. Percayalah, penegak hukum akan melakukan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan undang-undang,” katanya.
Justice collaborator juga disebut saksi mahkota. Perannya sangat penting dalam mengungkap semua aktor yang terlibat dalam kejahatan yang sama-sama dilakukannya. Mereka yang menjadi justice collaborator akan mendapatkan keringan hukuman. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Menteri Hukum dan HAM, Jaksa Agung, Kapolri, KPK, dan Ketua LPSK telah menyepakati perlindungan bagi justice collaborator. Contoh, vonis ringan yang diterima mantan politisi PDIP Agus Condro yang membongkar kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Namun, Angie kurang layak menjadi justice collaborator. Pasalnya, berdasarkan bukti yang mencuat, ada indikasi yang menunjukan Angie menjadi aktor utama perkara Wisma Atlet. Dia pun bertele-tele dan tidak mau terbuka mengungkap fakta dalam perkara tersebut.
Hotman Paris Hutapea pernah menghela napas panjang. Kuasa hukum terdakwa korupsi proyek pembangunan Wisma Atlet, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Muhammad Nazaruddin itu tak habis pikir dengan pengakuan Angie yang “mati-matian” membantah setiap kali ditanya soal perkara Wisma Atlet. “Huuuhhh,” keluh Hotman.

Upaya Hotman “menjerat” Angie dengan lima fakta berupa rekaman pembicaraan via BlackBerry Messenger (BBM) dengan Rosa Mindo Manulang, terdakwa kasus korupsi Wisma Atlet, tak membuat Angie mengubah jawabannya.

Dia bergeming meski Hotman memaparkan fakta berupa isi rekaman BBM antara dirinya dengan Rosa yang juga bekas anak buah Nazaruddin. “Saya tidak menggunakan BB (BlackBerry),” jawab Angie saat dicecar Hotman. Meski demikian, Angie mengaku kenal Rosa dari Nazaruddin.

Bagi Hotman, Angie telah berbohong. “Tidak mungkin BBM itu dikirim dari hantu belau,” ucapnya, disambut tawa pengunjung sidang. Angie berupaya tenang. Namun, dia enggan menatap wajah Hotman. Di samping Hotman, ada Elza Syarief dan Nazaruddin. Angie banyak merunduk di hadapan majelis hakim.

Dalam persidangan itu, Angie boleh saja membantah pengakuan Rosa yang telah menyeretnya terlibat dalam skandal Wisma Atlet. Dia juga bebas mengaku tidak tahu atau lupa. Tapi Hotman tak kalah akal. Dia membuka-buka BAP Rosa. BAP itu memaparkan adanya percakapan Angie dengan Rosa. Tentang BBM Angie kepada Rosa, Angie mengaku tengah berada di Belanda. “Apakah percakapan yang merupakan BAP ini disangkal juga?” tanya Hotman kepada Angie.

“Ya,” jawab Angie. “Mohon pertimbangan yang mulia, karena sudah berulang-ulang kali saya jawab, bahwa saya tidak mengenali pembicaraan, dan BB itu bukan milik saya,” ucap Angie.

Hotman langsung memotong pernyataan Angie. Namun, dihentikan hakim. “Baik-baik. Sebelum dilanjutkan. Tolong saudara ingat kapan ke Belanda? Hari apa?” tanya hakim Dhanarwati. “Saya tidak ingat yang mulia harinya,” jawab Angie. “Kalau bulannya?” sambung hakim. “Saya ingat, bulannya Agustus,” kata Angie.

Hotman kembali berceloteh. Dia mengutip BBM yang diakui Rosa dari Angie. Hotman membuka halaman 12 BAP Rosa. Dari pengakuan Rosa diketahui jika Angie pernah tinggal di Apartemen Belezza Tower sampai September 2010. Lewat BBM, Rosa bertanya kepada Angie. “Di mana rumah Mbak Yu (Angie)?” tanya Rosa. “Di Apartemen Beleza Tower, lantai 27, ke situ saja kirim kadonya, hehehe,” kata Hotman dengan logat Bataknya membacakan BBM Angie kepada Rosa. Semua hadirin tertawa lagi.

Hotman pun meyakini BBM itu dari Angie karena Angie mengakui jika anaknya pernah merayakan ulang tahun di Hotel Sultan, Jakarta. Pengakuan Angie itu sama dengan isi BBM yang diterima Rosa. Hotman memaparkan percakapan keduanya di halaman 13 BAP milik Rosa. “Remainder for Keanu Massaid, Frist Birth day. Jangan lupa di Ballroom, Hotel Sultan. Jangan lupa, bawa anak-anak,” ungkap isi BBM yang dikirim Angie ke Rosa. “Apakah mungkin, ibu-ibu orang lain yang mengirimkan ini?” tanya Hotman sambil meyakinkan majelis hakim.

Elza Syarief, kuasa hukum Nazaruddin lainnya juga tak habis pikir dengan cara Angie yang menangkis fakta yang menyeret dirinya dalam perkara Wisma Atlet. Elza menanyakan soal kesaksian Angie saat dipanggil Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk DPP Partai Demokrat saat namanya disebut-sebut Nazaruddin terlibat dalam perkara tersebut.

“Sepengetahuan saya TPF itu tidak ada. Saya tanyakan kepada ketua fraksi, SK TPF itu tidak pernah ditandangani. Lalu, ketika tiba dari Belanda, saat di DPR, saya diminta ke ruang fraksi,” kata Angie. Di ruangan itu ada Benny K Harman, Jafar Hafsah, M Nasir, Mirwan Amir, dan Edi Sitanggang.

“Apa pun namanya, itu jelas ada pertemuan. Saudara saksi akui ada pertemuan,” ujar Elza. “Ada pertemuan,” kata Angie. “Apa yang dibicarakan?” sambung Elza. “Saat itu dibicarakan isu yang terkait dengan pemberitaan yang merugikan partai kami,” jawab Angie.

Pengakuan Angie itu membantah pengakuan Nazaruddin yang menyebut Angie mengakui dirinya menerima Rp9 miliar dari Kementerian Pemuda dan Olahraga saat “disidang” TPF Demokrat, 12 Mei 2010 lalu. Angie lalu menyerahkan uang itu ke politisi Demokrat Mirwan Amir sebesar Rp8 miliar.
Nazaruddin pun menuding Angie berbohong. “Benny Harman nanya ke Bu Angie sampai tiga kali, dan jawabannya sama,” kata Nazaruddin. Lalu, lanjut Nazaruddin, Mirwan membenarkan adanya uang Rp9 miliar yang diterima Angie.
Angie pun dianggapnya berbohong saat membantah bagi-bagi di Kongres Partai Demokrat. Menurut dia, Angie adalah orang yang membagikan uang ke para pemimpin cabang yang menjadi peserta kongres. Uang itu digelontorkan Angie agar mengalihkan dukungan dari Andi mendukung Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Uang di amplop yang totalnya mencapai US$2 juta itu ditabur Angie saat jeda putaran pertama ke putaran kedua pemungutan suara.
Angie boleh saja membantah fakta yang menyeretnya terlibat dalam skandal Wisma Atlet. Namun, bagi Wakil Ketua KPK Bambang Widjajanto, penyidik KPK tetap bisa menjerat Angie lewat keterangan saksi-saksi lain.
Bambang menganggap wajar jika Angie berbohong. Menurut dia, kebohongan biasa dilakukan orang yang menjadi saksi sekaligus tersangka dalam perkara korupsi. “Saksi yang juga tersangka akan mengingkari hasil pemeriksaan, maupun keterangan saksi yang menempatkan dia sebagai tersangka,” kata Bambang di Jakarta.
Kesaksian Angie di persidangan itu memang janggal. Pasalnya, Rosa saat menjadi saksi dengan terdakwa Nazaruddin, mengungkap, Angie adalah aktor yang berperan meminta dana senilai Rp20 miliar dari PT Permai Group untuk memuluskan anggaran proyek Hambalang dan Wisma Atlet Palembang. PT Permai Group adalah perusahaan Nazaruddin.

Rosa mengungkap, Angie telah menerima Rp5 miliar. Sementara Permai Grup tetap gagal menggasak proyek Hambalang karena jatuh ke PT Adhi Karya. Lalu, Nazaruddin meminta Rosa melobi Paul Nelwan, pengusaha yang memenangkan proyek Hambalang tersebut. Namun usahanya gagal. Nazaruddin pun memerintahkan Rosa meminta kembali dana Rp10 miliar yang sudah digelontorkannya.

Belumlah uang kembali, Nazaruddin justru menjadi tersangka suap. Dia pun garang menyerang Angie dan sejumlah elite Demokrat seperti Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Wakil Ketua Banggar dari Fraksi Demokrat Mirwan Amir, serta politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Wayan Koster. Uang haram itu pun kabarnya mengalir ke Pemimpin Badan Anggaran DPR dan Ketua Fraksi Partai Demokrat.

M Yamin Panca Setia/Melati Hasanah Elandis/Rama Denny

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s