Penebar Komunisme di Indonesia


WATAKNYA keras dan selalu berseberangan dengan rezim penguasa. Di negara asalnya, Belanda, dia dikenal sebagai penebar “bencana” lantaran selalu menyerang kebijakan pemerintah Belanda. Penjara tak mampu menggilas paham komunisme yang diyakininya.

Nama lengkapnya Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet. Nama populernya adalah Henk Sneevliet. Di Indonesia, dia adalah pembawa  “virus” komunisme. Sebagai seorang yang menganut paham komunisme sejati, Sneevliet menyakini betul kekuatan politik kaum buruh.

Dia sendiri merupakan buruh di sebuah pabrik di Belanda—yang kemudian memobilisasi kekuataan massa buruh untuk melakukan perlawanan guna mencapai keadilan dan kesejahteraan. Nama lelaki kelahiran Rotterdam, 13 Mei 1883 itu kemudian melambung sebagai aktivis muda kaum buruh.

Di usia sekitar 20 tahun, dia menjadi aktor politik dengan buruh sebagai basis massanya. Sociaal Democratische Arbeid Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) di Nederland, menjadi alat politiknya untuk mencapai tujuan. Dia menyuarakan aspirasi kaum buruh di Dewan Kota Zwolle. Setelah itu dia diangkat sebagai pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (National Union of Rail and Tramway Personnel) pada tahun 1911.

Dia tak pernah mundur berhadapan dengan rezim penguasa maupun pemilik modal yang ditudingnya sebagai penghisap darah kaum buruh. Dia memobilisasi kekuataan buruh, dengan melakukan aksi pemogokan di Belanda. Begitu massifnya pergerakan kaum buruh, membuat Pemerintah Belanda kewalahan. Snevlieet pun dibidik sebagai musuh pemerintah.

Tak hanya lewat kekerasan represif, teror dan intimidasi, Pemerintah Belanda juga melakukan politik pecah belah kekuatan kaum buruh dengan menguasai federasi serikat buruh. Kekuatan Snevlieet pun terpecah. Dia pun terpaksa lengser dari jabatan ketua serikat buruh kereta api yang dikendalikannya hanya setahun.

Di tahun 1912, Snevlieet memilih untuk mengasingkan diri dari panggung pergerakan. Dia  beralih profesi sebagai pedagang. Bidang baru yang ditekuninya itu yang kemudian membuatnya terdampar di Hindia Belanda. Di Indonesia, negara jajahan Belanda, kala itu, sudah muncul organisasi pergerakan yang dipelopori kaum intelektual mulai muncul.

Orientasi perjuangan kaum pergerakan di Indonesia telah muncul sejak tahun 1877. Bibit pergerakan itu muncul lantaran sejumlah tokoh intelektual menyadari dosa-dosa negara-negara kapitalis yang digerakan kekuatan modal asing telah mengeksploitasi sumber kekayaan alam Indonesia. Sementara tenaga rakyat dibayar dengan murah.

Sejak diterapkannya kebijakan politik terbuka tahun 1905 oleh Pemerintah Kolonial Belanda, modal asing dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Belgia, Italia, Prancis, Jerman dan Jepang menyerbu Indonesia. Lewat kekuatan kapital, negara-negara tersebut lalu mengeruk kekayaan alam Indonesia, diangkut ke negaranya, lalu diperdagangkan ke negara lain dengan harga yang lebih menggiurkan. Meski sadar negerinya dieksploitasi, kesadaran kaum pergerakan kala itu yang tergabung dalam Syarikat Islam (SI), masih berkutat dalam pergerakan memperjuangkan kepentingan dagang.

Kondisi itu yang kemudian mendorong Snevlieet untuk menebar paham-paham marxisme di Indonesia. Dia mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di tahun 1913. Pendirian organisasi itu juga dilakoni JA Bransteder, HW. Dekker, dan Bergsma.

Di tengah kaum pergerakan, Sneevliet menjadi tokoh dominan. Dia juga membentuk Indische Inliethingendienst (Dinas Penerangan) yang di dalamnya bergabung Tan Malaka. Lembaga itu dibentuk untuk memberikan informasi mengenai situasi di Hindia kepada surat kabar komunisme dan anggota parlemen.

Lewat ISDV, mereka juga memperkenalkan paham-paham sosial demokrat dan menyadarkan rakyat agar terlibat aktif dalam politik praktis, serta kritis terhadap kebijakan ekonomi Pemerintah Hindia Belanda. Paham marxisme pun akhirnya menyusup ke SI. Salah satu tokoh SI yang berpaham komunis yang mengamini paham Snevlieet adalah Semaoen.

Tokoh kiri yang juga terkenal sebagai aktivis Syarikat Islam (SI) “merah” itu, pada tahun 1918 di Surabaya, menyerang kaum kapital dan menyuarakan kepentingan buruh. Semaoen secara terang-terangan juga mengecam kebijakan Sentral SI yang lunak terhadap kapital asing yang dianggapnya jahat. Semaoen menolak sikap kepemimpinan SI karena Communistische Internationale, disingkat Comitern tempat dirinya bergabung, mengamanatkan agar paham kader komunis internasional tidak mengadopsi paham kebangsaan dan keagamaan.

Dia pun gencar melakukan agitasi terhadap massa buruh dan petani agar bangkit dan melawan terhadap praktik penghisapan yang dilakukan rezim kapitalis yang merugikan kepentingan nasional.

Di era Pemerintahan Gubernur Jenderal Mr D Fock (1921-1926), kondisi sosial ekonomi rakyat Indonesia memang sangat memprihatinkan. Keuangan negara terus melorot sehingga memaksPemerintah Kolonial Belanda menerapkan pajak tinggi kepada rakyat. Biaya-biaya kesejahteraan pun dipangkas. Akibatnya, buruh makin menderita.

ISDV menjadi organisasi yang mampu memikat kaum buruh di Indonesia tidak terlepas dari propaganda yang ditebar Sneevliet lewat Het Vrije Woord, sebuah harian berbahasa Belanda yang menjadi corong ISDV. Lewat artikelnya yang ditulisnya pada Maret 1917 berjudul

Zegepraal (kemenangan), Sneevliet menggugah kaum buruh untuk melakukan perlawanan, dengan memberi contoh kemenangan kaum buruh yang mendorong terjadinya Revolusi Kerensky di Rusia. Dalam tulisannya, Sneevliet menyadarkan rakyat Indonesia yang hidup berabad-abad dalam cengkraman penjajahan.

“Wahai rakyat di Jawa, revolusi Rusia juga merupakan pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta huruf seperti kau. Bangsa Rusia pun memenangkan kejayaan hanya dengan perjuangan terus-menerus melawan pemerintahan paksa yang menyesatkan,” tulis Sneevliet.

Tulisannya itu yang kemudian menyadarkan para aktivis buruh, hingga akhirnya terjangkit virus komunisme. Pengaruh ISDV juga merasuk dalam sebuah organisasi kaum buruh kereta api yang bernaung di organisasi bernama Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VTSP).

Namun, pergerakan ISDV yang berkembang secara massif yang disertai dengan semaraknya aksi demonstrasi kaum buruh, memunculkan resistensi Pemerintah Kolonial Belanda. Jika dibiarkan, ISDV akan mengusik kepentingan Belanda di Hindia Belanda. Sneevliet pun akhirnya ditangkap Pemerintah Belanda dan diseret ke pengadilan.

Dia lalu diusir dari Indonesia pada Desember tahun 1918. Pledoi yang dibacakannya pada November 1917 setebal 366 halaman di pengadilan, menjadi referensi bagi aktivis pergerakan. Salah satunya adalah Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Bung Karno yang dibacakan di muka Pengadilan di Bandung pada tahun 1930. Pledoi setebal 183 halaman itu menunjukan jika Soekarno menjadi pledoi Sneevliet sebagai referensi.

Tongkat estapet ISDV pun beralih ke Semaoen dengan mengubah ISDV menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Tujuh bulan kemudian, partai ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia dengan Semaoen sebagai ketua.

Sementara Sneeviet bertandang ke Uni Soviet sebagai kiblat komunisme internasional. Dia mewakili ISDV saat Kongres Kedua Komintern di Moskow digelar. Dia juga menjadi perwakilan komunisme Soviet pada tahun 1921 hingga 1923. Kemudian, di tahun 1929, dia kembali ke Belanda dan menjadi ketua Sekretariat Nasional Buruh.

Pada tahun 1929, dia mendirikan Partai Sosialis Revolusioner dan terpilih sebagai ketuanya. Setelah penggabungan partainya berubah nama menjadi Revolutionary Socialist Workers’ Party, di mana Sneevliet menjadi sekretaris pertama dan kemudian menjadi ketua hingga 1940. Dia juga sempat menjadi anggota Parlemen dari 1933 hingga 1937. Pada saat perang Dunia II, dia memimpin grup pertahanan bernama Marx-Lenin-Luxemburg-Front. Namun, Sneevliet  kemudian tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1942.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s