Pelopor Gerakan Nasionalis

DIA dikenal sebagai pelopor percaturan politik bagi semua golongan, baik peranakan maupun pribumi asli, tanpa membedakan agama, ras dan status sosial.
Lewat Partai Hindia (Indische Partij) yang didirikannya bersama kaum intelektual nasionalis lainnya, dia mempersilakan siapa saja yang ingin terjun dalam kegiatan politik. Bagi yang tidak bergerak dalam Serekat Islam (SI) karena bukan muslim, bisa bergerak leluasa dalam Indische Partij.
Tokoh pergerakan bangsa yang berdarah Belanda, Jerman dan Jawa itu, merasa perjuangan politik etis tanpa perbedaan-dengan satu haluan mengusir penjajahan Belanda adalah panggilan suci yang wajib dilaksanakan. Baginya, siapa pun peranakan Hindia yang menetap di Hindia, merasa wajib menetapkan nasib dan masa depan tanah airnya. Hindia bebas dari Belanda menjadi tujuan utama pergerakan Indische Partij.
Agitasi yang membangkitkan kesadaran nasionalisme itu yang kemudian mendorong sejumlah tokoh pergerakan lainnya untuk memanfaatkan media tersebut, memperjuangkan kepentingan kebangsaan yang luas dan berdampingan dengan rekan-rekan politik di berbagai daerah dan lapisan masyarakat Indonesia.
Karena perhimpunan itu adalah tempat pertemuan semua orang, yang menaruh cinta pada tanah airnya lepas dari batas kedaerahan, dapat tertanam di dalam hati kaum terpelajar Indonesia, juga dalam hati orang-orang Jawa, adalah terutama jasa Partai Hindia Belanda.
Itulah salah satu jasa Ernest Francois Eugene (EFE) Douwes Dekker, demikian nama lengkapnya. Dia bergerak bersama kaum nasionalis di Indonesia untuk melakukan perlawanan politik lewat Indische Partij terhadap pemerintah Kolonial Belanda.
Soetomo dalam buku bertajuk Kenang-Kenangan yang terbit pada Februari 1934 menulis jika sepak terjang EFE Douwes Dekker dalam perkumpulan Boedi Oetomo. “Tuan Douwes Dekker-lah yang menyemangati dan menyebar luaskan cita-cita kami melalui suratkabarnya secara berkesinambungan,” jelas Soetomo.
(EFE) Douwes Dekker yang merupakan saudara sepupu pengarang Belanda, Multatuli, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat-yang dikenal dengan nama “Tiga Serangkai”- mempelopori gerakan politik dengan ideologi nasionalis di Indonesia di awal abad ke-20.
Indische Partij yang merupakan organ partai politik pertama di Indonesia menjadi cahaya bagi rakyat yang tengah melalui kegelapan karena penjajahan.
Pergerakannya begitu cepat menjalar karena agitasi yang agresif membakar emosi rakyat. Dalam waktu empat bulan, telah dibentuk 25 cabang. Dua di antaranya di Padang dan Belitung, dengan jumlah anggota 5.775 orang. Cabang terbanyak anggotanya di Semarang, yakni 1.375 orang, kemudian Surabaya dengan 827 orang, Jakarta mencapai 809 orang dan Bandung mencapai 740 orang.
Agitasi politik yang disuarakan EFE Douwes Dekker bersama Tjipto dan Suwardi mampu merengkuh simpati karena kepiawaian mereka mengulas tulisan secara tajam yang menghujam pemerintah kolonial Belanda lewat dua media yaitu harian de Express dan majalah Het Tijdschrifti.
Dua media yang menjadi corong perjuangan Indische Partij itu dapat secara terbuka membeberkan cita-cita politik dan kecaman para anggota Partai Hindia terhadap politik pemerintah kolonial Belanda. Mereka mengulas paradigma politik nasionalisme yang radikal. De Express dan majalah Het Tijschrift selalu menyediakan ruang untuk propaganda untuk kepentingan perjuangan yang digalakkan perhimpunan Budi Utomo.
EFE Douwes Dekker menyebarkan gagasan politiknya yang militan, menyerukan oposisi aktif melawan kezaliman pemerintah kolonial. Tulisannya begitu tajam mengulas kebobrokan pemerintah kolonial. Dalam sebuah buku berjudul: Over Het Koloniale Ideaal (Kolonialis Menguasai), yang diterbitkan pada tahun 1910, mengurai,
“Pertumbuhan dan perkembangan jiwa hanyalah hak kaum penjajah.
Untuk itu, sistem penjajahan harus dirubah, tidak lagi menggunakan gada, cemeti atau hukuman berat yang tak sepadan dengan perbuatannya. Tetapi, dibuat model sistimatik yang sewenang-wenang, berwajahkan undang-undang,” tulis EFE Douwes Dekker.
Gerakan agitasi politik yang masif dan sistematis lewat media tersebut menuai kekhawatiran pemerintah kolonial. Hingga pada akhirnya koran De Express dibredel.
EFE Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat kemudian diasingkan ke Belanda, karena kritik Suwardi di de Expres, “Als ik eens Nederlander was” (Seandainya aku orang Belanda).
Sementara Indische Partij dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh Jenderal Idenburg. Sebelumnya, rencana Indische Partij mendaftarkan status badan hukumnya oleh pemerintah kolonial pada 11 Maret 1913, ditolak.
Dalam perjalanan jurnalistiknya, EFE Douwes Dekker yang lahir pada 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur itu pernah juga bergabung di harian terkemuka di Semarang De Locomotief.
Di media itu, EFE Douwes Dekker mengulas tajam kasus perkebunan di Lebak dan kasus kelaparan di Indramayu akibat kebijakan kolonial.
Saat menjadi wartawan Bataviaasch Nieuwsblad, 1907, Dekker juga menulis kritis artikel berjudul: Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie (Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda).
Artikel itu rupanya dimuat di surat kabar Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant dan koran Jerman Das Freie Wort. EFE Douwes Dekker tak berhenti mengulas sajian kritis. Dalam tulisan berikutnya, dia mengurai tulisan berjudul: Hoe kan Holland het spoedigst zijn kolonin verliezen? (Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?). Tulisan itu diterbitkan dalam bahasa Jerman berjudul: Hollands kolonialer Untergang. Akibatnya, EFE Douwes Dekker mulai masuk daftar orang yang diburu pemerintah kolonial. Dia pun dibuang dan di penjara.
Pada tahun 1913, setelah Indische Partij dibubarkan pemerintah kolonial Belanda, EFE Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Dua tahun di sana, dia baru diizinkan untuk keluar Belanda. Dia lalu pergi ke Zurich untuk menempuh pendidikan ilmu ekonomi dan politik di Universitas Zurich.
Setelah itu, EFE Douwes Dekker kembali ke Batavia. Dia nyaris ditangkap saat berada di India dan Hong Kong karena tuduhan menyelundupkan senjata ke India dan diancam hukuman mati.
Saat di Batavia, pada 1917, EFE Douwes Dekker sempat dipenjarakan di Banceuy (Bandung) dan Semarang. Setahun kemudian, Ernest dibebaskan dari penjara di Batavia oleh Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum. Di Bandung, EFE Douwes Dekker lebih banyak berkecimpung di bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah yang bersemangat nasionalis.
Pada tahun 1941, EFE Douwes Dekker kembali mendekam di penjara karena dituduh menjadi kaki tangan Jepang. Dia kemudian dibuang ke Suriname. Di daerah pengasingan itu, dia mengalami depresi luar biasa dan baru sehat setelah bebas saat usai Perang Dunia II.
Pada 1947, EFE Douwes Dekker hijrah ke Yogyakarta. Namanya pun berganti menjadi Danudirdja Setiabudi yang artinya banteng kuat dengan jiwa kuat dan setia.
Danudirdja pernah menduduki jabatan kenegaraaan seperti menteri negara di Kabinet Syahrir III, anggota Dewan Pertimbangan Agung hingga penasihat Presiden Soekarno. Danudirdja wafat di usia 71 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 1974.

M. Yamin Panca Setia
Dari Berbagai Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s