Politisi Fundamentalis Antianarkis


DEKRIT 5 Juli 1959 yang diterbitkan Presiden Soekarno mengubah praktik politik dari corak Demokrasi Parlementer menjadi Demokrasi Terpimpin. Dekrit itu diluncurkan Soekarno karena tak mampu mengendalikan polah politisi dalam ranah politik yang liberal. Konflik politik yang mengemuka, sulit mencapai konsensus.

Sejak 28 Oktober 1956, Soekarno merasakan sulit melaksanakan pemerintahan. Konflik politik mengakibatkan pemerintahan jatuh bangun. Karena itu, dia pun mengelontorkan wacana pembentukan Dewan Nasional dan keterlibatannya secara langsung dalam memimpin pemerintahan. Soekarno tak ingin hanya menjadi presiden dalam arti simbolis sebagaimana diatur dalam UUD Sementara 1950.

Namun, konflik politik justru makin sulit dihindarkan. Soekarno makin menebar permusuhan dengan elit politik dari partai Islam. Partai Masyumi sebagai salah satu kekuatan Islam menentang ide demokrasi ala Soekarno tersebut. Sayangnya, kekuatan Islam justru melemah lantaran Nahdatul Ulama (NU), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti) mendukung ide Soekarno. Partai besutan Mohammad Natsir itu terus melakukan pergerakan, menggalang kekuatan partai kecil seperti PSI dan Partai Katholik‘‘meski tak juga dapat mengimbangi kekuatan partai nasionalis, komunis‘‘yang ditopang kekuatan Angkatan Darat.

Salah satu tokoh Masyumi yang keras mengkritik ide Demokrasi Terpimpin itu adalah Muhammad Isa Anshary. ‘Pemerintahan Soekarno itu berlainan dari pemerintahan Demokrasi biasa, karena pemerintahannya adalah pemerintahan tanpa oposisi, dan tidak bertanggungjawab kepada parlemen,‘ terang Isa dalam Daulah Islamiyah, September 1957. ‘Baik ikut Presiden dalam pemerintahan secara aktif, maupun tidak bertanggungjawab kepada parlemen sebagai orang yang ikut memerintah atau tidak adanya oposisi di dalam engara adalah bertentangan dengan UUD dan bertentangan dengan semangat demokrasi yang tumbuh di Indonesia,‘ imbuhnya.

Sayangnya, kritik tersebut tidak berpengaruh mengubah haluan politik Soekarno karena internal Masyumi sendiri pecah. Isa Anshary dikenal sebagai tokoh Masyumi yang berpandangan radikal dan revolusioner. Dia tidak kompromistis terhadap Pancasila sebagai dasar negara. Berbeda dengan tokoh Islam lainnya seperti Natsir maupun Buya Hamka yang kompromistis terhadap Pancasila sebagai ideologi‘‘yang merupakan jalan tengah dalam mengkomodasi perbedaan dengan kelompok sekuler dan non muslim. Natsir cenderung akomodatif terhadap lawan politiknyanya, sepanjang mereduksi keyakinannya. Natsir tidak ngotot atas perjuangan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Namun, dia ingin agar rumusan konstitusi menempatkan sila Ketuhanan yang dapat ditafsirkan menurut doktrin agama.

Berbeda dengan pandangan politik Isa Anshary. Dia memahami Pancasila sebagai thaghut (berhala) yang mereduksi dua kalimat sjahadat dan rangka tubuh agama Islam. Karenanya, dia menolak menyamakan antara Pancasila dengan Islam. ‘Bukan ideologi Pancasila, bukan hukum Pancasila, bukan negara Pancasila yang wajib kita tegakkan, tapi ideologi Islam, hukum Islam, negara Islam, Hukum Islam harus tegak, ideologi Islam harus menang.‘

Meski demikian, perdebatan tentang konstitusi negara tak memilih jalan perjuangan bersenjata untuk memaksakan keyakinan dan ideologinya seperti yang dilakukan Darul Islam yang kala itu melakukan pemberontakan lantaran menentang ideologi Pancasila.

Pertentangan antara Natsir dan Isa Anshary makin nyata lantaran ketidakmampuan Natsir mendongkrak suara dalam Pemilihan Umum Tahun 1955. Isa Anshary melayangkan “gugatan‘ kepada Natsir karena menempatkan Masyumi sebagai peringkat kedua dengan perolehan suara sebesar 7.903.886, di bawah Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang meraup 8.434.653 suara. Sementara Partai NU mendapat 6.955.141 suara dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebanyak 6.176.914 suara. Saat Kongres Partai Masyumi tahun 1956 di Bandung, Isa Anshary menyebut kongres 1956 di Bandung tersebut sebagai “awan mendung di tubuh partai‘ (Daulah Islamijah, No. 1/Th.I/Pebruari/1957).

Pertentangan keduanya mengakibatkan terbelahnya politik Islam. Di satu sisi berkiblat ke Natsir, di sisi lain berkiblat ke Isa Anshary. Di Masyumi, nama Isa Anshary tak kalah berpengaruh dibandingkan Natsir. Tipikalnya berbeda dengan Natsir yang berperawakan tenang. Sementara Isa Anshary bertipikal keras. Dia fasih dalam berorasi. Di atas panggung, dia mampu membakar emosi massa lewat orasi politik yang menggelegar.

Lelaki kelahiran 1 Juli 1916, yang bertubuh pendek dan gemuk itu merupakan sosok politisi yang keras terhadap prinsip dan ideologi yang diyakininya. Herbert Feith, salah Indonesianis dan profesor ilmu politik terkemuka dengan perhatian khusus pada sejarah Indonesia modern, menyebutnya sebagai sosok politisi fundamentalis yang memiliki keyakinan teguh. Karakternya itu terbentuk di PSII dan aktif sebagai mubaligh Muhammadiyah. Saat remaja, dia menjadi Ketua Persatuan Muslimin Indonesia Bandung, Pemimpin Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia Bandung, Sekretaris Partai Islam Indonesia Bandung serta ikut mendirikan Muhammadiyah cabang Bandung. Ia juga menjadi anggota Indonesia Berparlemen, Sekretaris Umum Komite Pembela Islam dan pemimpin redaksi majalah Daulah Islamyah.

Di era sebelum kemerdekaan, Isa Anshary memimpin gerakan Anti Fasis (Geraf), Biro Penerangan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) Priangan, memimpin Angkatan Muda Indonesia dan mengorganisasi Majelis Islam yang membentuk kader-kader Islam. Dia juga merupakan pendiri Persatuan Islam (Persis) dan menjadi ketua umum di tahun 1935-1960. Tampilnya Isa Anshary sebagai pucuk pimpinan Persis dimulai pada 1940 ketika ia menjadi anggota hoofbestuur (Pusat Pimpinan) Persis. Tahun 1948, ia melakukan reorganisasi Persis yang mengalami kevakuman sejak masa pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan.

Setelah itu, dia bergabung dengan Masyumi untuk mengaktualisasikan naluri politik yang berbasis agama. Masyumi adalah kekuatan politik Islam yang sangat disegeni Soekarno. Saat tragedi Permesta meledak tahun 1958, banyak tokoh-tokoh yang diciduk. Termasuk KH. Muhammad Isa Anshary yang saat itu berada di Madiun bersama Prawotomangkusasmito, M. Roem, M. Yunan Nasution dan EZ. Muttaqien serta beberapa tokoh lainnya. Isa Anshary tak hanya piawai berorasi maupun mengumandangkan siraman rohani dihadapan umat Islam. Namun, dia juga piawai dalam merangkai kata dan tajam menganalisa. Di antaranya hasil karya tulisnya antara lain Bahaya Merah Indonesia (1956), Barat dan Timur (1948), Islam Menentang Komunisme (1956), Tuntunan Puasa (1940), Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953), dan lain-lain.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s