Manusia Agung Penebar Damai

NALURI kemanusiaannya memberontak setiap kali ada pertumpahan darah antar sesama manusia. Dia protes hingga nyawa pun dipertaruhkannya demi perdamaian. Dia rela berpuasa hingga mati sebagai bentuk protes terhadap kekerasan yang ada di depan matanya. Masyarakat India mengkukuhkannya sebagai manusia agung. Dia sangat dihormati umat Hindu maupun Islam di India.

Dunia pun menaruh hormat terhadapnya karena perjuangan sosok yang sangat sederhana itu selalu menebar pesan-pesan perdamaian. “Kebangsaan saya adalah perikemanusiaan,” begitu katanya. Namun, bukan berarti dia tidak mencintai India, negaranya. Dia justru memimpikan India menjadi negara yang disesaki perdamaian, meski dihuni keanekaragamana agama, suku dan ras. Dia adalah Mohandas Karamchand Gandhi atau biasa dikenal dengan sapaan Mahatma Gandhi yang dalam bahasa sansekarta berarti jiwa yang agung. Lelaki kelahiran di Kota Porbandar, Gujarat, 2 Oktober 1869 itu sangat membenci fanatisme dan diskriminasi.

Karenanya, dia menjadi aktor utama yang memperjuangkan kemerdekaan India. Namun, perjuangannya tidak dengan angkat senjata. Gandhi lebih memilih menggelar aksi damai yang menuai simpati. Tatkala negaranya dililit konflik berdarah bernuasa agama, Gandhi terdepan menjadi mediator. Dia menjamin hak-hak umat Islam yang merupakan kelompok minoritas di India, asalkan tidak melepas diri dari India. Dia menyakinkan Muhammad Ali Jinnah jika Islam di India tidak akan mengalami diskriminasi oleh umat Hindu yang merupakan mayoritas. Ia ingin India menjadi sebuah negara yang menaungi dua agama besar yaitu Hindu dan Islam.

Namun, Ali Jinnah menolak tawaran itu karena khawatir nasib umat Islam di Hindia akan terancam jika Gandhi telah tiada. Maka kemudian, berdirilah Republik Islam Pakistan dan menjadikan Ali Jinnah sebagai Perdana Menteri pertama. Perpecahan itu sangat disesalkan Gandhi. Meski penganut agama Hindu, Gandhi menyadarkan kaum mayoritas untuk tidak membedakan hak warga India yang beragama Islam, Kristen, Budha, Shikh, atau Zaratrustha.

Sebagai penganut ajaran Hindu, dia membaca Veda, Bhagavad Gita, dan Upanishad. Namun, ia juga mendalami Injil, Al Quran, bahkan Kitab Suci bangsa Persi, Avesta. Gandhi pernah ditanya, “Bila hanya ada satu Tuhan, tidakkah seharusnya hanya ada satu agama saja. Dalam buku Gandhi yang ditulis Louis Fischer, ia menjawab, “Sebatang pohon punya sejuta daun. Ada banyak agama sebagaimana ada banyak pria dan wantia, tetapi semua berakar pada Tuhan.” (Munif, 2007).

Sikap toleran Gandhi tersebut menuai resistensi masyarakat Ahmedabad, tempat diri dan keluarganya menetap. Pernah di tahun 1915, sikap Gandhi yang amat toleran menuai kemarahan masyarakat Ahmedabad lantaran menerima keluarga dari kaum Paria untuk bergabung dalam Ashram Sabarmati, komunitas yang dibentuknya. Gandhi ingin kaum Paria tidak dihinakan. Kala itu, ada sekitar 50 juta kaum Paria di India atau sekitar seperlima dari penduduk di kawasan tersebut. Rupanya, sikap toleran Gandhi tersebut menuai kemarahan anggota Ashram lainnya.

Mereka menganggap, kaum Paria sangat rendah derajatnya. Masyarakat Ahmedabad lalu mengancam akan menghentikan bantuan kepada Ashram dan mengusir semua penghuninya. Gandhi lebih memilih mempertahankan hak kaum Paria. Dia tak gentar meski merasa dihina. “Saya merasakan sakit hati karena hinaan, tetapi karena saya telah menelan banyak hinaan di masa lalu, saya menjadi terbiasa karenanya,” terangnya. Untungnya, ada bantuan dari pedagang kaya, Ambalal Sarabhai, Ashram tetap berdiri. Gandhi pun terus menyuarakan persamaan derajat sebagai tujuan religisnya. Dia memang bersumpah untuk mempraktikan brahmacharya, styagraha dan ahimsa. Dia rela untuk hidup miskin, demi mengembangkan rasa tidak takut kepada siapapun untuk tidak mengenakan pakaian yang diimpor dari Inggris, dan untuk menerima kaum Paria sebagai orang yang sederajat.

Saat terjadi kekerasan yang dialami warga Jerman keturunan Yahudi, Gandhi melancarkan protes. Gandhi pun menganjurkan kaum Yahudi melawan militer, tanpa kekerasan. Dalam sebuah tulisannya di Harijan pada tahun 1938, dia menulis, apabila ada perang yang dapat dibenarkan atas nama kemanusiaan, perang melawan Jerman untuk mencegah penyiksaan tidak bermoral dan tanpa alasan kepada seluruh ras, bisa dibenarkan. Baginya, kematian bukanlah teror.

“Tetapi, saya tidak percaya kepada perang. Apabila saya seorang Yahudi yang dilahirkan di Jerman, dan mendapatkan kehidupan di sana, saya akan menyatakan Jerman sebagai tanah air, sebagaimana orang Jerman yang bukan Yahudi. Saya akan menantang mereka untuk menembak saya, dan memasukan saya ke dalam kamar bawah tanah. Karena saya takut hanya kepada Tuhan,” tulisnya.

Dia menebar semangat moral kaum Yahudi, untuk memiliki keberanian dan visi. Dengan begitu, akan musim gugur keputusasaan akan berubah menjadi musim panas yang dipenuhi harapan. Meski demikian, Gandhi pun berpesan agar manusia tidak menyalahkan manusia lain yang berbuat dosa.

Dalam bukunya berjudul: Mahatma Gandhi, Sebuah Autobiografi, Kisah tentang Eksperimen-eksperiman Saya Terhadap Kebenaran (Narasi, 2009), Gandhi menilai, manusia dan tindakannya adalah dua hal yang berbeda. Ketika satu tindakan bisa menimbulkan pujian, serta tindakan jahat menimbulkan celaan, pelaku tindakan itu entah baik atau jahat, selalu layak mendapatkan rasa hormat atau kasian melihat masalahnya. “Bencilah dosa itu bukan yang berbuat dosa‘ adalah ajaram yang meski cukup mudah dipahami, jarang dipraktikan. Itulah alasan racun kebencian menyebar di dunia.”

M. Yamin Panca Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s