Sang Sosialis Revolusioner


JOSEPH Stalin memarahi Semaoen (Semaun) karena dianggap melabrak nilai dasar perjuangan komunisme internasional. Stalin tak mengampuni Semaoen setelah mengetahui jika kader terbaik komunis internasional itu ‘main mata‘ dengan Muhammad Hatta. Kader Communistische Internationale (Comitern) yang menjadi pendiri Partai Komunis Hindia Belanda itu pun dipecat oleh Stalin lantaran berkoalisi dengan Hatta untuk mengubah strategi perjuangan komunis di Hindia Belanda.

Semaoen sempat bertemu dengan Hatta dan perwakilan Perhimpunan Indonesia di Deen Haag, Belanda. Kala itu, Semaoen tengah berada di pengasingan lantaran melakukan pemberontakan tahun 1926 di Indonesia. Dalam pertemuan itu, Hatta meminta Semaoen agar mengubah haluan perjuangan komunisme di Indonesia. Dia menganggap komunis Indonesia sebagai kaum nasionalis terselubung yang berjuang untuk memperoleh dukungan internasional.

Bagi Hatta, model gerakan komunis itu tidak menawarkan paham kebangsaan sebagai lokomotif perjuangan kemerdekaan dari belenggu penjajahan Belanda. Hatta bahkan memandang gerakan komunisme di Indonesia justru akan memperkuat genggaman negara-negara kapitalis yang tidak menghendaki Indonesia jatuh ke tangan komunis.

Dengan alasan itu, Hatta menyarankan Semaoen agar mengubah orientasi perjuangan kaum komunis Indonesia, dengan lebih menekankan pegerakan kebangsaan demi kepentingan nasional. Hatta tidak ingin komunis menyeret Indonesia dalam satu jaringan revolusi dunia yang dimotori Uni Soviet karena dapat menghambat dukungan internasional mencapai kemerdekaan. Karenanya, Hatta mengusulkan agar Semaoen menjadikan partai komunis di Indonesia bersifat kebangsaan. Semaoen setuju usul Hatta itu, dengan syarat ditandatangani dalam sebuah konvensi Semaun-Hatta (Bung Hatta dan Ekonomi Islam, karya Anwar Abbas, PT Kompas Media Nusantara, 2010).

Namun, konvensi yang ditandatangani 5 Desember 1926 itu tidak diakui pimpinan komunis internasional. Karenanya Stalin pun memecatnya dari Comitern. Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet itu pun memerintahkan Semaoen untuk mengumumkan kepada masyarakat internasional untuk membatalkan konvensi itu. Semaoen mengakui kesalahannya. Dia menandatangani konvensi itu karena lupa jika pergerakan komunis tidak boleh di bawah pergerakan nasionalis. Tak hanya Semaoen yang menuai sanksi dari Stalin. Hatta pun dituduh Belanda telah menjadi seorang komunis yang berencana melakukan pemberontakan.

Sebenarnya, tak ada niat Semaoen mengingkari nilai-nilai perjuangan komunis internasional yang diimpikan Stalin. Anak Prawiroatmodjo, pegawai tukang batu di jawatan kereta api itu merasa prihatin dengan kondisi rakyatnya yang sekarat lantaran dijajah Belanda. Sementara perjuangan komunis internasional diarahkan dalam bentuk gerakan global dengan membentuk blok yang berpusat di Uni Soviet untuk menghalau gerakan negara-negara kapitalis Eropa dan Amerika Serikat.

Di Indonesia, sejak tahun 1877, negara-negara kapitalis yang digerakan kekuatan modal asing telah mengeksploitasi sumber kekayaan alam Indonesia. Sementara tenaga rakyat dibayar dengan murah. Sejak diterapkannya kebijakan politik terbuka tahun 1905 oleh Pemerintah Kolonial Belanda, modal asing dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Belgia, Italia, Prancis, Jerman dan Jepang menyerbu Indonesia. Lewat kekuatan uang, negara-negara tersebut lalu mengeruk kekayaan alam Indonesia, lalu diangkut ke negaranya, serta diperdagangkan ke negara lain dengan harga yang lebih menggiurkan.

Kejahatan kapitalisme itu memicu kemarahan Semaoen. Dia pun gencar melakukan agitasi terhadap massa buruh dan petani agar bangkit dan melawan terhadap praktik penghisapan yang dilakukan rezim kapitalis yang merugikan kepentingan nasional. Di era Pemerintahan Gubernur Jenderal Mr D Fock (1921-1926), kondisi sosial ekonomi rakyat Indonesia memang sangat memprihatinkan. Keuangan negara terus melorot sehingga memaksa Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan pajak tinggi kepada rakyat. Biaya-biaya kesejahteraan pun dipangkas. Akibatnya, buruh makin menderita.

Semaoen pun bergerak memobilisasi buruh dan petani dengan mengeksploitasi isu penderitaan akibat kejahatan kapitalisme. Dia menyerukan agar buruh melakukan pemogokan sebagai reaksi atas ketidakadilan. Aksi itu gencar disuarakannya di Semarang yang kala itu menjadi pusat perkembangan industri modern di Jawa. Agitasi yang dilakukan Semaoen mendapatkan dukungan kaum buruh. Dia pun makin lebarkan pengaruh sosialis revolusioner di Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan pra kemerdekaan pertama di negara ini yang didirikan Haji Oemar Sait (HOS) Cokroaminoto. Organisasi berpaham Islam itu sangat disegani penjajah Belanda karena kekuataannya terus menjalar ke sejumlah daerah di Indonesia.

Di organisasi yang awalnya menyuarakan kepentingan dagang pengusaha pribumi terhadap dominasi pedagang keturunan Tionghoa itu, Semaoen menebar paham komunisme kepada para kader SI. Paham itu berhasil menyusup ke SI karena dianggap sejumlah kader SI sejalan dengan ajaran Islam. Salah satu tokoh yang mendukung paham komunis di SI adalah Haji Misbah. Hingga akhirnya muncul semboyan: Tidak ikut revousi, bukan muslim. Komunisme pun makin agresif melakukan pergerakan.

Saat SI menggelar Kongres Pertama tahun 1916 di Surabaya, Semaoen, melancarkan serangan terhadap pemerintah kolonial. Dia mengubah sikap kompomistis SI terhadap Belanda, menjadi antikolonial. Isu yang dihembuskan Semaoen adalah masalah pertanahan dan ketidakadilan terhadap nasib kaum buruh. Gerakan Semaoen dikenal sebagai aliran kiri atau SI Merah. Kala itu, Semaoen menjabat Ketua SI Cabang Semarang. Dia pun mengklaim sebagai seorang revolusioner-sosialistis. Semaoen menggelontorkan jargon: Perjuangan melawan penjajahan kapital yang jahat sebagai asas SI.

Ketertarikan Semaoen menyuarakan komunisme lantaran dirinya mengagumi pemikiran Hendrik Snedrik Sneevliet, seorang Belanda berhaluan sosialis yang mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di tahun 1913. Pendirian organisasi itu juga dilakoni JA Bransteder, HW. Dekker, dan Bergsma. Lewat ISDV, mereka memperkenalkan paham-paham sosial demokrat, serta menyadarkan rakyat agar terlibat aktif dalam politik praktis, serta kritis terhadap kebijakan ekonomi Pemerintah Hindia Belanda. Pada Kongres SI Ketiga, 29 September-6 Oktober 1918 di Surabaya, Semaoen makin garang menyerang kaum kapital dan menyuarakan kepentingan buruh. Gelagat Semaun rupanya tak disukai golongan yang konsisten menyuarakan asas keagamaan dan kebangsaan seperti yang disuarakan Cokroaminoto, Agus Salim dan tokoh SI lainnya. Apalagi, setelah Semaoen secara terang-terangan mengecam kebijakan Sentral SI yang lunak terhadap kapital asing yang dianggapnya jahat. Semaoen pun menolak sikap kepemimpinan SI karena Communistische Internationale, disingkat Comitern tempat dirinya bergabung, mengamanatkan agar paham kader komunis internasional tidak mengadopsi paham kebangsaan dan keagamaan. Saat pertentangan ideologis tak lagi dapat diantisipasi, pada Kongres Kelima tanggal 6-10 Oktober 1921 di Surabaya, atas usul Agus Salim dan Abdul Muis, SI melarang rangkap keanggotaan partai politik kepada kadernya. Semaoen berserta pengikutnya dihadapkan dua opsi. Tetap menjadi anggota SI dengan mengadopsi ideologi Islam atau menjadi anggota Partai Komunis Hindia Belanda. Semaoen memilih untuk tetap memimpin Partai Komunis Hindia Belanda. Dia pun dipecat dari SI lantaran Cokroaminoto lebih konsisten menyuarakan ideologi Islam.

Namun, Semaoen telah berhasil menguasai sebagian basis SI. Dia menguasai Sareket Sekerja Kereta Api, Sarekat Sekerja Kehutanan, Sarekat Sekerja Pelabuhan dan Sarekat Sopir dan Kusir. Sarekat itu berkedudukan di Semarang. Sementara Sekerja Pegawai Pabrik gula, Sarekat Sekerja Pengadilan, Sarekat Sekerja Pekerjaan Umum dan Sarekat Sekerja Guru berpatron ke Agus Salim dan Surjopranoto dengan berkedudukan di Yogyakarta. Gerakan komunis yang masif membuat Belanda kalang kabut. Partai Komunis Hindia pun dinyatakan sebagai partai terlarang. Apalagi, setelah terjadi pemberontakan di Sumatera Barat.

Semaoen adalah salah satu tokoh komunis internasional yang berkiblat di Rusia. Dia mulai merambah ke dunia politik sejak usia 14 tahun. Di Semarang, dia mengomandoi aksi mogok para buruh funitur di awal tahun 1918 dan pekerja industri cetak di tahun 1920. Aksi itu berhasil memaksa pemilik perusahaan merealisasikan tuntutan buruh yang ingin upah dinaikan sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.Di tahun 1923, Semaoen sempat diasingkan ke Belanda lantaran diketahui akan menggelar demonstrasi besar-besaran. Dia kemudian menetap di Uni Soviet lebih dari 30 tahun. Di tahun 1953, dia memilih pulang ke Jakarta yang difasilitasi Iwa Kusumasumantri. Semaun pun telah tak lagi terlibat dalam PKI yang dimotori DN Aidit. Dia lebih memilih bekerja sebagai aparatur pemerintah sepanjang tahun 1959-1961.

Selain piawai dalam melakukan agitasi, lelaki kelahiran Jombang, Jawa Timur sekitar tahun 1899 itu adalah seorang penulis handal. Saat di Semarang, dia menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Beberapa karya tulisnya antara lain Penuntun Kaum Buruh yang hadiahkanya untuk Partai Komunis Indonesia (PKI), Hikayat Kadiroen yang menceritakan seorang priyayi penganut paham yang sangat mencintai dan peduli terhadap penderitaan rakyatnya.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s