Satire Voltaire Merontokan Dogma


SEBUAH surat diterima Jean Jacques Rousseau, 30 Agustus 1755. Surat itu isinya kegalauan sang penulis yang bernama Voltaire. “Kalau ada orang yang pantas mengeluh karena karya sastra, sayalah orangnya. Karena sepanjang waktu dan di semua tempat, karya-karya sastra itu selalu membuat saya dikejar-kejar orang,” tulis Voltaire. Kegalauan membayang-bayangi kehidupan Voltaire. Dia dikejar-kejar penguasa lantaran satire-satire yang ditulis dan diucapkannya dapat menghancurkan keimanan umat. Namun, Voltaire berdalih tidak membenci Tuhan atau menyerukan umat manusia untuk melawan Tuhan. Namun, dia melawan fanatisme dan dogma-dogma agama yang menjadi alat kekuasaan.

“Kita harus tetap mencintai dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Agung, walaupun prasangka dan fanatisme begitu sering mengotori pemujaannya,” tulis Voltaire dalam surat yang ditujukannya kepada Rousseau itu (Sundari Husen, 2003). Keberanian mendobrak dogma agama mengkukuhkan Voltaire sebagai “nabi” kaum liberal. Satire yang diucapkan dan ditulisnya mampu mematik gerakan pembaharuan di Perancis, bahkan negara-negara lain di kawasan Eropa. Pemikirannya tentang kebebasan pun tak lekang ditelan jaman. Sebaliknya, justru makin menjalar ke seantero dunia.

Voltaire yang bernama lengkap Francois Marie Arouet adalah tokoh termasyur dalam pergerakan pembaharuan Prancis. Dia tercatat sebagai tokoh intelektual multitalenta. Tidak hanya dikenal sebagai filosof yang memuja rasionalitas. Namun, dia juga menekuni sejarah serta penulis syair yang sangat produktif.

Sejak remaja, pemikiran kritis lelaki kelahiran tahun 1694 itu telah muncul. Celoteh Voltaire makin hari makin membuat panas telinga para penguasa. Anak seorang ahli hukum yang pernah sekolah di Jesuit Louis-le-Grand, Paris itu juga menjadi incaran pemimpin-pemimpin agama yang tidak rela kekuasannya diutak-atik oleh celotehannya. Kaum kristianitas menganggapnya sebagai musuh terbesar yang berupaya menggiring umat menjauhi Tuhan. Adalah Joseph Butler (1692-1752), seorang uskup Gereja Anglikan yang berupaya menghalau pemikiran liberal Voltaire. Butler mempertahankan doktrin Kristen tentang penyataan Allah terhadap sanggahan dari Deisme yang diyakini Voltaire.

Di kala remaja, Voltaire telah menghirup udara sesak selama setahun di penjara Bastille. Namun, penjara tak membuatnya jera. Justru dari ruang yang sempit dan dibatasi jeruji besi itu, Voltaire makin produktif memproduksi syair-syair puisi yang menebar semangat patriotisme Henriade yang kemudian mendapatkan penghormatan tinggi. Tahun 1718, tak lama sesudah dirinya bebas, drama Oedipe karyanya meraih sukses besar di Paris. Di umur 24 tahun, Voltaire sudah jadi orang termasyhur dan menjadi tokoh kesusasteraan Perancis (Michael H. Hart, 1978).

Bagi Voltaire, bila manusia ingin merdeka dan bebas dari kungkungan, maka harus melawan segala bentuk dominasi dan pengaruh agama. Bahkan, dia menuding sumber segala kejahatan dan bencana kemanusiaan di dunia adalah agama yang terorganisir (The root of all evil in the world was organised religion) (Suhelmi, 2001). Dalam bukunya Letter sur les Anglais (1734), dia melancarkan serangan terhadap Gereja Katholik, juga melawan arus moderat yang dikukuhkan oleh para deistis di Inggris terhadap gereja, agama dan tradisi. Dia menebar pekik peperangan Ecrasez I‘infame, berperang melawan gereja. Pekikan itu ia tebar lewat tulisan yang isinya menuding Kristianisme sebagai penyebab utama ketidakadilan di dunia (Kristiyanto, 2004).

Meski demikian, Voltaire bukanlah seorang atheis. Voltaire menganggap atheisme bisa mendatangkan kekacauan moral dan kerusakan tatanan sosial. Dia seorang deis, percaya adanya Tuhan. “Saya percaya kepada Tuhan, namun bukan Tuhan yang diyakini para mistikus dan teolog, melainkan Tuhan alam semesta. Sang Ahli Geometri, Arsitek alam semesta. Penggerak segala sesuatu yang tak tergantikan, transeden yang kekal abadi,” ujar Voltaire (Collins dan Prince, 2006). Voltaire menyakini agama tanpa dogma dan doktrin. Dia tidak percaya dengan surga dan neraka, namun dia percaya pada imortalitas (keabdian) jiwa atau ruh dan kehidupan mendatang.

Serangan yang dilayangkan Voltaire tidak terlepas dari realitas sosiologis di eranya. Dia berupaya melawan kontrol politik kekuasaan gereja, penghapusan pengadilan-pengadilan gereja dan alat koersi gereja serta mendorong emansipasi manusia. Kala itu, memang menjadi masa-masa kejayaan para raja yang merasa mempunyai kekuasaan mutlak dan ingin menguasai segenap aspek kehidupan bangsanya. Di Rusia, Peter Agung (1682-1725) menempatkan diri sebagai pucuk pimpinan Gereja Rusia. Kaisar Joseph II dari Austria (1765-1790) mengeluarkan lebih dari 6.000 ketetapan untuk mengatur kehidupan masyarakat. Kaisar Joseph II juga mengontrol pengangkatan uskup, maupun pemimpin gereja lainnya. Namun, tidak semua penguasa kerajaan alergi terhadap pemikiran Voltaire.

Sementara itu, Kaisar Prussia, yaitu Frederick Agung (1712-86). pemimpin paling berkuasa dan berpengaruh pada masa itu agar moderat terhadap pemikiran Voltaire. Bahkan, dia mengundang Voltaire sebagai tamu khusus ke istananya. Terhadap Kristianitas, Frederick tetap bersikap toleran. “Semua agama harus dihormati, setiap orang harus berjuang masuk surga sesuai jalannya sendiri.” kata dia. Voltaire sendiri menganggungkan toleransi beragama. Dia pernah melayangkan kutukan tatkala terjadi peristiwa kekerasan yang dialami orang-orang Protestan di Perancis. Lewat tulisannya, Voltaire menyerang gerakan fanatisme agama yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

Tak mudah bagi Voltaire mendorong perubahan di Perancis. Sistem politik di Perancis yang kaku menyebabkan dirinya tidak bisa leluasa melakukan pergerakan. Bahkan, Voltaire sempat berkonflik dengan kaum aristokrat, seperti Chevalier de Rohan yang dikalahkan oleh kecerdasan Voltaire dalam adu kata. Chevalier pun marah dan memenjarakan Voltaire ke penjara Bastille. Voltaire dibebaskan asalkan dirinya tak lagi tinggal di Perancis.

Karenanya, dia pun hijrah ke Inggris. Di negara itu, dia menekuni karya-karya kaum intelektual Inggris seperti John Locke, Francis Bacon, Isaac Newton dan William Shakespeare. Dia menganggumi sistem politik Inggris yang berbeda dengan Perancis. Kebebasan lebih terjamin. Tidak mudah memenjarakan seseorang hanya karena berbicara kritis. Demokrasi yang diterapkan di Inggris tersebut yang mendorongnya untuk menulis Lettres philosophiques atau biasa dikenal Letters on the English yang diterbitkan tahun 1734. Buku tersebut rupanya menjadi referensi pembaharuan Perancis. Namun, terbitnya buku tersebut mengusik ketenangan penguasa Perancis sehingga dilarang diedarkan. Dan, Voltaire pun diusir lagi dari tanah kelahirannya. Pada tahun 1778, dia kembali ke Paris. Lalu meninggal dunia tanggal 30 Mei 1778 dan dimakamkan di Pantheon Paris.

M. Yamin Panca Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s