Lakon Kartosuwiryo Melawan Sekulerisme


Presiden Soekarno dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo menyimpan memori perjalanan hidup saat bersama-sama meniti perjuangan demi kejayaan tanah air. Di awal era kebangkitan nasional, keduanya bersahabat yang sama-sama berguru dengan Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto, pendiri Syarikat Islam (SI).
“Kartosuwiryo di tahun 1918, ia seorang kawanku yang baik. Kami bekerja bahu-membahu bersama Pak Cokroaminoto, demi kejayaan tanah air. Di masa tahun 1920-an di Bandung, kami tinggal bersama, makan bersama, bahkan mimpi bersama-sama,‘ kenang Soekarno dalam buku bertajuk: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66, karya H Maulwi Saelan, yang diterbitkan Visi Media, 2001.
Namun, jalinan persahabatan itu “pecah‘ lantaran perbedaan ideologi perjuangan. “Aku bergerak dengan landasan kebangsaan, ia (Kartosuwiryo) berjuang semata-mata menurut azas agama Islam,‘ terang Soekarno. Sampai-sampai, menurut pengakuan Soekarno, pada tahun 1950, Kartosuwiryo meludahkan api dengan fatwanya yang menyatakan, “Bunuh Soekarno! Dialah penghalang pembentukan Negara Islam.‘
Soekarno menentang perjuangan Kartosuwiryo yang ingin Indonesia menjadi negara Islam. Soekarno ingin Indonesia berbasis Pancasila karena berdasarkan karakteristik sosiologis masyarakat Indonesia yang majemuk.
Sementara Kartosuwiryo menuding Soekarno bersama kroninya sebagai pemuja sekularisme yang mereduksi eksistensi Islam sebagai agama yang dianut mayoritas bangsa Indonesia. “Sebagai jawaban atas tantangan ini, kita harus membunuh Soekarno,‘ ujar Kartosuwiryo seperti dikutip Soekarno.
Soekarno pernah menuding Kartosuwiryo berupaya membunuhnya saat acara di Pengguruan Cikini, Jakarta, tempat anaknya yang tertua bersekolah. Pada pukul 20.55, saat turun tangga gedung‘‘meninggalkan acara itu, tiba-tiba bom granat meledak. Granat pertama diarahkan kepada Soekarno dari atas. Tak lama kemudian, granat kedua menyasar ke arah Soekarno dari sebelah kiri. Soekarno berhasil selamat setelah dilindungi pengawalnya.
Namun, puluhan anak-anak dan ibu-ibu menjadi korban granat itu. “Itu pekerjaan orang-orang fanatik agama, pengikut Kartosuwiryo,‘ tuding Soekarno. Setelah kejadian itulah, Soekarno menyimpan amarah terhadap Kartosuwiryo.
Dalam sejarah perjalanan bangsa, Kartosuwiryo memiliki catatan kelabu, sebagai tokoh pemberontakan ad-Daulatul Islamiyah atau Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Misinya memperjuangkan pembentukan negara Islam Indonesia berakhir dengan tragis. Kartosuwiryo tewas dieksekusi regu penembak lantaran memberontak terhadap Pancasila yang dinilainya sekuler. Meski label pemberontak melekat dalam sejarah hidupnya, Kartosuwiryo juga mengukir perjuangan demi kemerdekaan Indonesia.
Sekitar tahun 1920-an, nama Kartosuwiryo tak kalah populer dibandingkan Soekarno, Hatta atau tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Dia adalah salah satu tokoh pemuda yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Sejak usia 16 tahun, dia telah merambah aktivitas pergerakan dengan bergabung dengan Jong Java dan Jong Islamieten Bond di tahun 1923. Naluri politik kebangsaannya terus tumbuh saat bergabung dengan Partij Sjarikat Islam Hindia Timur (PSIHT). Dalam usia yang muda, dia menjabat sebagai Sekretaris Umum di Syarikat Islam, organisasi besutan Cokroaminoto.
Di organisasi itulah, Cokroaminoto mendidik sejumlah tokoh-tokoh besar republik ini seperti Soekarno yang berpaham nasionalis, Kartosuwiryo yang Islamis dan Samaun yang komunis. Ketiga tokoh itu tercatat dalam sejarah, sering kali bertarung secara ideologis dalam pentas politik kenegaraan.
Dari besutan Cokroaminoto itulah, Kartosuwiryo menjadi seorang nasionalis. Perjuangannya tidak hanya lewat Syarikat Islam, namun dia menyerang Pemerintah Kolonial Belanda lewat karya jurnalistik saat menjadi wartawan di Harian Fadjar Asia, yang dirintis Douwes Dekker dan Agus Salim. Tulisannya begitu tajam menghujam arogansi Belanda dan pengusaha pribumi yang tidak memperhatikan kepentingan rakyat. Ketika terjadi polarisasi ideologi dalam organisasi pergerakan, Kartosuwiryo tetap kukuh memperjuangkan Islam seperti yang dicita-citakan Cokroaminoto.
Kartosuwiryo pernah dipercaya Cokroaminoto sebagai sekretaris pribadinya. Sementara Semaun dan Soekarno lebih memilih partai politik sekuler. Semaun berkiblat ke Partai Komunis Indonesia, sementara Soekarno ke Partai Nasional Indonesia (PNI). Lantaran adanya menyusupnya paham sekuler itu, kemudian pada tahun 1930, berubah namanya menjadi PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia)‘‘sampai-sampai Kartosuwiryo yang juga bergabung PSII dipecat dari berbagai jabatan dan keanggotaannya oleh Abi Kusno Cokro Suryoso, yang menjabat ketua umum.
Pada 1943, saat Jepang menguasai Indonesia, Kartosuwiryo aktif dalam Majelis Islam A‘laa Indonesia (MIAI) pimpinan Wondoamiseno. Ketika akhir pendudukan Jepang, pada 7 Agustus 1945, Kartosuwiryo bersama tentara Hizbullah memproklamasikan kemerdekaan dalam konsepsi Islam.
Dia menolak BPUPKI yang dibentuk atas dasar campur tangan Jepang yang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Kartosuwiryo pun kecewa lantaran sejumlah tokoh Islam gagal memperjuangkan ideologi Islam sebagai dasar negara. Kartosuwiryo lalu merapat ke tokoh-tokoh Masyumi yang konsisten memperjuangkan Islam seperti Mohammad Natsir untuk membentuk “Masyumi Baru‘ pada November 1945. Hizbullah dan Sabilillah menjadi kekuatan militer yang menopang perjuangan kelompok Islam.
Sejak kaum nasionalis sekuler mendominasi jabatan-jabatan strategis pemerintahan, telah muncul kemarahan kelompok Islam. Partai Masyumi sebagai representasi kekuatan politik Islam menentang keputusan Renville yang memaksa Indonesia mengakui daerah-daerah pendudukan Belanda dalam Agresi Militer I. Kelompok Hizbullah dan Sabilillah juga menentang perjanjian Renville itu. Soekarno melihat Masyumi kekuatan Islam yang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karenanya, Soekarno berupaya merangkul tokoh-tokoh Masyumi baru.
Kartosuwiryo pernah ditawari kursi wakil menteri pertahanan. Namun, tawaran itu ditolaknya melalui sepucuk surat yang disampaikan kepada Soekarno. Kartosuwiryo pun kecewa karena beberapa tokoh Masyumi seperti Syarifudin Prawiranegara dan Mohammad Roem menerima tawaran Soekarno untuk duduk di pemerintahan. Dia pun akhirnya kembali ke Malangbong dan melakukan perlawanan secara gerilya.
Pada tahun 1949‘‘tatkala terjadi perubahan politik di Indonesia, saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, diproklamasikanlah Negara Islam di Indonesia, yang kemudian dikenal DI/TII. Pemerintahan Soekarno pun berang lalu menganggap DI/TII yang dipimpin Kartosuwiryo sebagai sebuah gerakan pemberontakan yang harus ditumpas.
Pada tanggal 25 Januari 1949 terjadi kontak senjata pertama kali antara TNI dengan DI/TII. Kala itu, Pasukan Divisi Siliwangi bergerak ke Jawa barat ke Jawa Tengah‘‘untuk menutup celah pergerakan DI/TII. Terjadi pula perang antara TNI-DI/TII dan Tentara Belanda. Upaya tokoh Masyumi, Mohammad Natsir mendamaikan lewat sepucuk surat tidak berhasil.
Operasi pun terus dilakukan. 4 Juni 1962, Kartosuwiryo ditangkap di Gunung Geber, Majalaya oleh pasukan Siliwangi. Pelariannya selama 13 tahun, berakhir. Pengadilan militer memvonisnya dengan hukuman mati. Sekitar pukul 07.00, tanggal 5 September 1962, juru tembak mengeksekusi mati sang commandante DI/TII itu. Keberadaan jenazahnya tak jelas. Ada yang menyatakan, jenazahnya dikebumikan di pulau Ubi Besar komplek kepulauan seribu. Ada juga yang mengatakan jenazah Kartosuwiryo dibuang ke laut setelah dieksekusi.

M. Yamin Panca Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s