Bancakan Politisi di Wisma Atlet


TERDAKWA kasus suap Wisma Atlet Muhammad Nazaruddin begitu piawai mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya. Dia memanfaatkan posisinya sebagai wakil rakyat untuk melobi sejumlah pihak yang berhubungan dengan penanganan proyek di institusi pemerintah. Dia juga menebar tenaga-tenaga pemasaran yang piawai. Lewat informasi yang disodorkan Nazaruddin, anak buahnya itu menyusup ke institusi pemerintah, sambil gasak-gasuk melobi sejumlah pihak agar dapat menangani proyek plat merah. Untuk merangsang sejumlah pihak untuk berkongkalikong, Nazaruddin pun menebar jurus suap.
Adalah Mindo Rosalina Manulang yang membongkar jurus Nazaruddin menggasak proyek-proyek pemerintahan. Mantan anak buah Nazaruddin yang pernah menjadi Direktur Pemasaran PT Anak Negeri itu mengungkap, Nazaruddin menyebarkan tenaga marketing di PT Permai Grup ke institusi pemerintah, BUMN dan institusi lainnya agar menangkan proyek. Sedikitnya, 30 tenaga marketing diperintahkan Nazaruddin untuk menyusup ke institusi pemerintah.
“Marketing kita ada 30 orang,” ujar Rosa, sapaan Mindo Rosalina Manulang, saat menjadi saksi kasus Nazaruddin, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Senin lalu. Untuk memuluskan lobi, jurus suap dilakukan. Sementara soal penentuan fee (keuntungan), tergantung kesepakatan bersama.
Rosa adalah salah satu bawahan Nazaruddin yang kini tersangkut kasus suap Wisma Atlet. Dalam kasus Wisma Atlet, dia aktif melobi anggota DPR agar memuluskan proyek itu. Nah, selain piawai melobi, jurus lain agar dapat menggasak proyek itu adalah dengan cara menyiapkan uang suap. Dalam persidangan terungkap jika PT Permai Group menggelontorkan uang Rp20 miliar untuk diberikan kepada sejumlah pihak untuk memuluskan proyek tersebut.
Anggie, sapaan Angelina Sondakh disebut-sebut sebagai aktor yang berperan meminta dana tersebut miliar rupiah dari PT Permai Group untuk memuluskan anggaran proyek Hambalang dan Wisma Atlet Palembang. Rosa mengungkap jika Anggie menerima Rp5 miliar. Sementara sisa dana lainnya, Rosa mengaku tidak tahu. Namun, uang itu digelontorkan untuk “memancing” agar anggaran proyek tersebut segera “diketok” Banggar DPR. “Uang itu untuk pimpinan-pimpinan kita di Banggar,” terang Rosa menirukan ucapan Anggelina. “Saya bilang (ke Nazaruddin), kita kalau nggak ada uang, anggaran proyek Kemenpora tidak turun.”
Adalah Yulianis, Staf Keuangan PT Permai Group, yang berperan menabur uang itu ke sejumlah pihak. Rosa juga ditugaskan Nazaruddin untuk mengurusi proyek di Angkasa Pura dan beberapa BUMN. Anak buah Nazaruddin lainnya juga menyusup proyek-proyek lain. “Untuk (proyek) pendidikan yang menangani Gerhana.”
Selain mengerahkan tenaga pemasaran, Nazaruddin sering kali melobi langsung pihak-pihak yang terkait proyek yang diincarnya. Sepanjang lima tahun terakhir, Rosa mengungkap, Nazaruddin mampu menggaet lima proyek seperti proyek pembangunan rumah sakit pendidikan di Universitas Udayana, pembangunan rumah sakit pendidikan di Mataram, Gedung Diklat Perhubungan, Badan Diklat Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang dan pembangunan Rumah Sakit Adam Malik.
Dari proyek rumah sakit pendidikan Mataram dan rumah sakit pendidikan Universitas Udayana, Nazaruddin mendapatkan fee masing-masing proyek sebesar 13 persen. “Sementara dari Proyek Diklat Perhubungan, karena itu sekolah, fee 5 persen PIP Semarang, badan diklat 5 persen, Rumah Sakit Adam Malik 5 persen juga,” kata Rosa.
Uang yang didapat dari fee pemenangan proyek itu lalu mengalir ke rekening PT Permai Group. Dengan cara begitu, Nazaruddin berhasil mendongkrak pundi-pundi kekayaannya. Komisi pemberantasan korupsi (KPK) beberapa waktu lalu membekukan kekayaan Nazaruddin yang mencapai Rp112 miliar. Selain fee mengalir ke Nazaruddin, fee dari total nilai proyek juga mengalir ke pihak-pihak yang terkait dengan proyek.
Dalam kasus Wisma Atlet, fakta persidangan mengungkap jika ada pembagian jatah proyek wisma atlet dari PT DGI sebagai pemenang tender ke seumlah pihak. Nazarudin meraup 13 persen, Gubernur Sumatera Selatan 2,5 persen, Komite Pembangunan Wisma Atlet 2,5 persen, Panitia pengadaan 0,5 persen, dan Sesmenpora Wafid Muharam 2 persen. PT DGI menerima uang muka proyek Rp33 miliar. Setelah menerima uang, Idris kemudian menyerahkan Rp4,3 miliar kepada Nazaruddin.
Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mendapat fee sebesar 2,5 persen saat proyek itu masih ditenderkan. Menurut Rosa, fee diberikan kepada Alex agar dapat memberikan jaminan kelancaran pelaksanaan tender bagi PT DGI. Selain Alex, fee sebesar 5 persen juga diberikan kepada anggota DPR. “Fee juga diberikan kepada DPR sebesar 5 persen dan ketua komite dan panitia sebesar tiga persen,” katanya.
Nama Choel Malarangeng juga disebut sebagai pihak yang menerima uang dari Yulianis. ‘Ada juga ke saudaranya Pak Andi, Choel,” ujar Rosa. Pencairan dana itu diketahui Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam. Saat itu, ungkap Rosa, Wafid menyatakan uang Rp10 miliar dari Rp20 miliar yang digelontorkan PT Permai Group digunakan untuk mengurus masalah tanah proyek Hambalang ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ia mengetahui masalah itu karena pernah diperintahkan Nazaruddin untuk menanyakan kepada Wafid soal untuk apa saja penggunaan uang itu. “Ketika itu Wafid mengatakan sebagian dari Rp 10 miliar digunakan untuk mengurus administrasi soal pertanahan juga untuk Choel,” katanya.
Agar praktik kongkalikong tak mudah dilacak, para awak Nazaruddin menggunakan kata-kata sandi. Dalam kasus Wisma Atlet, Rosa bersama Anggelina Sondak diketahui kerap menggunakan sandi saat berkomunikasi membicarakan proyek tersebut. Menurut Rosa, saat berbincang lewat BlackBerry Messenger (BBM) pada 2010 lalu, Angie menggunakan istilah seperti menyebut ketua besar, bos besar, apel malang, apel Washington, pelumas dan Semangka.
Salah satu istilah yang menggemparkan adalah ‘Ketua Besar‘ dan ‘Bos Besar‘ yang diduga menerima suap dalam kasus Wisma Atlet. Istilah itu terungkap dalam rekaman perbincangan antara Mindo Rosalina, terpidana kasus korupsi Wisma Atlet dengan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Angelina Sondakh.
Istilah ketua besar dan bos besar menggempar jagat politik karena Nazaruddin “mengiyakan” saat ditanyak jika ketua besar itu adalah Ketua Badan Anggaran (Banggar DPR), Melchias Marcus Mekeng. Sementara istilah bos besar disebut-sebut adalah Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat.
Saat dimintai komentar soal identitas ketua besar dan bos besar itu, Rosa, menolak membeberkannya. Namun, dia tahu identitas ketua besar tersebut. Kontan saja, nama-nama yang sebagai ketua besar dan bos besar itu menolak tuduhan terlibat dalam perkara proyek Hambalang. “Perlu pembuktian hukum, jangan asal tuduh,” cetus Mekeng menangkis tuduhan Nazaruddin.
Dia pun menantang Nazaruddin membuka identitas ketua besar yang dimaksudnya. Mekeng mengklaim sejak dirinya menduduki jabatan sebagai Ketua Banggar DPR, 19 Juli 2010 lalu, dia bersama anggota Banggar lain justru mendorong mekanisme pembahasan anggaran di Banggar secara terbuka.
Angelina Sondakh saat ditanya wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Senin dua pekan lalu juga bungkam. Dia menyerahkan sepenuhnya pada proses persidangan.
Sementara Anas yang disebut-sebut sebagai bos besar telah berkali-kali membantah tuduhan Nazaruddin. “Apa yang disampaikan itu bukan keterangan atau pun penjelasan. Yang disampaikan itu karangan dan kebohongan,” kata Anas.
Mantan Ketua Perhimpunan Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) itu menantang agar kasus itu diselidiki dengan tuntas berdasarkan bukti-bukti yang objektif. Dia membantah memerintahkan Nazaruddin untuk melaksanakan proyek pembangunan wisma atlet SEA Games dan kompleks olahraga Hambalang. Dirinya sama sekali tidak terlibat dalam hal anggaran dua mega proyek tersebut. “Saya tidak pernah berurusan dengan anggaran proyek itu. Kedua, saya tidak pernah berurusan dan tidak pernah punya niat berurusan dengan proyek itu,” kata Anas.
Rosa juga membeberkan aktor yang diduga kecipratan suap proyek Wisma Atlet. Dalam persidangan dengan terdakwa Nazaruddin, Senin lalu di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rosa membeberkan aktor yang menabur suap kepada yang disuap.
Dia mengungkap, politisi Partai Demokrat Angelina Sondakh adalah aktor yang berperan meminta dana senilai Rp20 miliar rupiah dari PT Permai Group untuk memuluskan anggaran proyek Hambalang dan Wisma Atlet Palembang. Bekas anak buah Nazaruddin itu mengungkap jika Anggie, sapaan Anggelina Sondakh, menerima Rp5 miliar. Sementara sisa dana lainnya, Rosa mengaku tidak tahu. Namun, uang itu digelontorkan untuk ‘memancing‘ agar anggaran proyek tersebut segera “diketok” Banggar DPR. ‘Uang itu untuk pimpinan-pimpinan kita di Banggar,” terang Rosa menirukan ucapan Anggelina. “Saya bilang (ke Nazaruddin), kita kalau nggak ada uang, anggaran proyek Kemenpora tidak turun.”
Adalah Yulianis, Staf Keuangan Grup Permai, yang berperan menabur uang itu ke sejumlah pihak. Rosa juga mengungkap misteri sosok “Bos Besar” yang terekam dalam percakapan via blackberry massager (BBM) bersama Anggelina Sondakh. Saat ditanya pengacara Nazaruddin, Elza Syarief, siapa sosok bos besar yang menjadi aktor dalam kasus Wisma Atlet? Rosa menyebut nama anggota Banggar DPR, Mirwan Amir. “Big Boss-nya adalah Mirwan Amir,” kata Rosa.
Sementara sosok ‘Ketua‘ yang diduga kecipratan suap, Rosa menyebut, nama Ketua Komisi X DPR Mahyudin. Rosa juga mengungkap jika uang sebanyak Rp20 miliar yang digelontorkan PT Permai Group ditujukan kepada sejumlah anggota Banggar DPR. Pengakuan Rosa itu berbeda dengan kabar yang beredar sebelumnya jika sosok bos besar itu adalah Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
Namun, Rosa menyebut, Anas adalah pemilik PT Permai Group. Menurut dia, selain Nazaruddin, Anas juga sering hadir pada rapat tahun 2008 lalu. “Bapak (Anas) sering hadir dalam rapat pada 2008,” katanya.
Politikus Partai Demokrat lainnya, Sutan Bhatoegana juga disebut-sebut oleh Rosa. Maret 2011 lalu, kata Rosa, Sutan bersama Direktur Utama dan petinggi Adhi Karya, makan bersama. Menurut Rosa, pertemuan itu terjadi setelah dirinya diminta Nazaruddin agar bertemu Sutan terkait pembahasan proyek Hambalang.
Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin juga disebut Rosa, kecipratan fee sebesar 2,5 persen dari total biaya pembangunan proyek Wisma Atlet. Fee tersebut diterima Alex dari Manager Marketing PT Duta Graha Indah (DGI), Muhammad El Idris saat proyek itu masih ditenderkan.
Nama Choel Malarangeng juga disebut sebagai pihak yang menerima uang dari Yulianis. ‘Ada juga ke saudaranya Pak Andi, Choel,” ujar Rosa. Pencairan dana itu diketahui Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam. Saat itu, ungkap Rosa, Wafid menyatakan uang Rp10 miliar dari Rp20 miliar yang digelontorkan PT Permai Group digunakan untuk mengurus masalah tanah proyek Hambalang ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ia mengetahui masalah itu karena pernah diperintahkan Nazaruddin untuk menanyakan kepada Wafid soal untuk apa saja penggunaan uang itu.
“Ketika itu Wafid mengatakan sebagian dari Rp 10 miliar digunakan untuk mengurus administrasi soal pertanahan juga untuk Choel,” katanya.
Sejumlah nama yang disebut Rosa, sudah pasti membantah. Mahyuddin mengaku tak mengenal Rosa. Dia juga tak tahu menahu soal aliran suap proyek Wisma Atlet ke sejumlah pihak. ‘Saya tahunya Wisma Atlet di anggaran saja. DPR hanya membahas anggaran yang diajukan pemerintah terkait persiapan Sea Games,” ujarnya saat dihubungi wartawan.
Wahyudin sebelum pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk dimintai keterangan soal kasus Wisma Atlet, pada 10 Oktober 2011 lalu. Dia disebut-sebut pernah menggelar pertemuan di ruang kerja Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng pada Januari 2010. Bersama Nazaruddin dan Angelina, Wahyudin, bertemu Andi usai mengahadiri SEA Games di Laos. Pertemuan itu kabarnya membahas proyek wisma atlet.
Sutan mengakui dirinya pernah bertemu Rosa dan Nazar ketika diundang makan oleh Nazaruddin. Namun, Sutan mengaku, tidak pernah tahu jika perempuan itu adalah Rosa. ‘Saya tidak pernah juga diperkenalkan oleh Nazar. Memang ada Rosa disana, tapi saya hanya datang untuk makan tidak berbicara mengenai apapun,‘ terangnya.
‘Mereka kayaknya sudah berbicara duluan sebelum saya datang. Saya sering mendapatkan undangan dari Nazaruddin yang seperti ini,‘ imbuh Sutan.
Anggota Komisi VII DPR itu pun menegaskan dirinya tidak pernah mendapatkan apa pun dari Nazaruddin. ‘Saya kan tidak ikut membicarakan, jadi mana mungkin saya dapat bagian. Lah yang ikut saja sering tidak mendapatkan bagian, apalagi yang tidak ikutan, tidak mungkin lah,‘ ujarnya.
Anas Urbaningrum juga membantah sebagai pemilik PT Permai Group. Lewat Saan Mustopa, Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPR, Anas membantah pemilik perusahaan itu. Rosa juga menyebutkan Ketua Komisi X DPR-RI Mahyudin sebagai orang yang disebut “Ketua” dalam kasus suap tersebut.
Alex Noerdin juga membantah pengakuan Rosa yang menyebut dirinya telah menerima dana pembangunan wisma atlet. Juru bicara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Robby Kurniawan menyatakan, Alex tidak kenal dengan Rosa, sehingga tindak mungkin meminta dana dalam pembangunan wisma atlet tersebut. “Pernyataan itu tidak benar, karena Gubernur justru ingin menyukseskan SEA Games,” kata Robby.
Sementara Mekeng menegaskan mekanisme pembahasan anggaran di Banggar sangat terbuka. Menurut dia, masalah pembahasan dan penetapan anggaran pembangunan wisma atlet merupakan keputusan resmi Komisi X DPR yang juga disepakati Kementerian Pemuda dan Olahraga saat pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara-Perubahan (RAPBN-P) Tahun 2010 pada tanggal 20 Januari 2010. Komisi X DPR dan pemerintah juga sepakat membentuk Panitia Kerja (Panja) SEA Games dan Para Games 2011. Panja itu diketuai Ketua Komisi X Mahyuddin, dengan wakil ketua Komisi X yaitu Rully Chairul Azwar, Heri Akhmadi dan Abdul Hakam Naja. Sedangkan anggota Komisi X yang menjadi anggota Panja terdiri dari Gede Pasek Suardika, Rinto Subekti, Theresia E. E. Pardede, Venna Melinda, dan Juhaini Alie dari F-PD.
Dari Fraksi Golkar terdiri Oelfah A. S Harmanto, Harbiah Salahuddin, Ferdiansyah, dan Zulfadhli. Dari Fraksi PDIP Utut Adianto, TB Dedi Suwandi Gumelar, dan Puti Guntur Soekarno. Kemudian dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Akbar Zulfakar dan Rohmani. Beberapa nama lainnya adalah Primus Yustisio (Fraksi PAN), Tgk. Mohd. Faisal Amin (Fraksi PPP), Muhammad Hanif Dhakiri (Fraksi PKB), Jamal Mirdad (Fraksi Gerindra), dan Herry Lontung Siregar (Fraksi Hanura).
*****
Nanyian Rosa rupanya membuat telinga banyak kalangan memanas. Perjalanan kasus itu mengisahkan ada upaya menyusun skenario dari pihak-pihak tertentu yang menjadi aktor dalam kasus itu untuk membunuh Rosa. Kamis lalu, Mohammad Iskandar, kuasa hukum Rosa, menyambangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk meminta perlindungan terhadap kliennya. Dihadapan Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, Iskandar menyodorkan kronologi ancaman pembunuhan terhadap Rosa. Ancaman itu dilayangkan dua orang berinisial NSR dan HSY pada tanggal 26, 27 dan 30 Desember 2011, serta 3 Januari 2012. Keduanya menabur ancaman saat menyambangi Rosa yang tengah mendekam di Rutan Pondok Bambu.
Dari pengakuan Iskandar, NSR dan HSY memaksa Rosa agar memberikan kesaksian yang meringankan Nazaruddin. Keduanya mengarahkan Rosa agar menyampaikan kepada majelis hakim jika Nazaruddin tidak terkait dengan PT Anugerah Nusantara. Namun, Rosa diminta untuk menyebut perusahaan itu milik Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. “NSR dan HSY meminta agar Ibu Rosa menyebut perusahaan itu punya Anas,” ujar Iskandar. Selain itu, Iskandar menambahkan, kedua orang itu juga ingin agar Rosa mencabut pengakuannya dalam Berita Acara Pemeriksaaan (BAP) yang menyebut keterlibatan Nazaruddin. Jika tidak, Rosa berserta keluarganya akan dihabisi.
Pernyataan Iskandar itu dibantah Hotman Paris Hutapea, pengacara Nazaruddin. Dia menuding ancaman terhadap Rosa merupakan skenario orang besar yang mengatur BAP di KPK. Hotman menilai, ada upaya orang besar mengatur Rosa. Dia pun menganggap status Rosa yang dilindungi LPSK secara ketat adalah bagian dari skenario. Pengacara Nazaruddin lainnya, Rufinus Hutauruk juga menganggap tidak mungkin ancaman terhadap Rosa dari Nazaruddin yang ditahan dengan pengamanan ketat. Dia juga menilai janggal jika orang yang mengancam Rosa tersebut disuruh Nazaruddin untuk mencabut BAP yang dianggap memberatkan Nazaruddin. Pasalnya, dari pengakuan BAP yang dibuat Rosa justru meringankan Nazaruddin.
Rabu dua pekan lalu, Rosa sebenarnya ingin mengungkap kesaksiannya dalam kasus Wisma Atlet. Namun, entah mengapa dirinya menangis. Sementara Nazaruddin mengaku sakit maagnya kambuh. Rosa, yang sudah terlebih dahulu divonis hukuman penjara 2 tahun oleh Majelis Hakim itu pun tak memberikan kesaksian.
Rosa kala itu berupaya tenang. Namun, selang beberapa menit, tiba-tiba Nazaruddin mengeluh sakit. Dari pemeriksaan dokter KPK, Nazaruddin hanya mengalami sakit sedang. Tekanan darahnya 110/80, dengan detak jantung 100 detak/menit. Kuasa hukum Nazaruddin, Hotman Paris Hutapea menolak anggapan jika kliennya sakit karena ingin menghindari persidangan yang menghadirkan kesaksian bekas anak buahnya itu.
Lantaran diancam akan dibunuh, Rosa pun sempat trauma. Karenanya, tim psikolog LPSK pun melakukan terapi psikologis terhadap ini. “Kondisi Rosa memang masih sangat tinggi tingkat stresnya. Perasaan emosinya masih tinggi juga,‘ kata Penanggung Jawab Bidang Bantuan Kompensasi dan Restitusi LPSK Lili Pantauli Siregar, di kantor KPK, Jumat lalu. Rosa pun didampingi kakak dan ibunya.
Lili tak mengungkapkan sampai kapan terapi psikologis ini dilakukan. “Tergantung psikolognya karena ini bukan kewenangankan. Tapi kewenangan psikolog yang memang ahlinya memutuskan sampai kapan dia bisa diberi treatment dan kapan berhenti dan kapan membaik,” kata Lili. Dalam perawatan tersebut, jelas Lili, Rosa diberikan kebebasan untuk mengungkapkan apa yang ingin dia bicarakan pada psikolognya dengan didampingi orangtua, dan saudaranya.
Rosa adalah mantan Direktur PT Anak Negeri, anak perusahaan dari PT Anugerah Nusantara yang terseret dalam kasus korupsi pengadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Isteri Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni, Direktur Keuangan PT Anugerah Nusantara yang menjadi tersangka hingga kini masih buron. Kasus itu juga menyeret Timas Ginting, pejabat di Kementerian Tenaga Kerja.
Nazaruddin beberapa kali menyatakan jika PT Anugerah Nusantara milik Anas Urbaningrum. Sementara Anas mengaku bukan pemilik perusahaan itu. Karena itu, pengakuan Rosa tentang siapa sebenarnya pemilik perusahaan itu sangat penting untuk mengungkap aktor yang terlibat dalam kasus Wisma Atlet.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, I Gede Pasek Suardika justru sebaliknya mensinyalir, ancaman pembunuhan yang dilakukan NSR dan HSY terhadap Rosa semakin membuktikan adanya pihak-pihak yang mencoba menyeret Anas Urbaningrum dalam kasus suap Wisma Atlet. “Adanya ancaman dari NSR dan HSY semakin membuktikan ada rekayasa beberapa pihak yang mencoba agar Rosalina bernyanyi dan menyeret-seret Anas dalam kasus Wisma Atlet,” kata Pasek.
Rekayasa lain, tambah Pasek, ada kemungkinan penundaan dua kali sidang terhadap tersangka kasus Wisma Atlet, Muhammad Nazaruddin sakit merupakan cara untuk bagaimana melibatkan Anas Urbaningrum.
“Bisa saja sakit itu sebuah rekayasa karena Nazaruddin tengah memikirkan bagaimana agar Rosalina mengaku bahwa Anas terlibat,” kata Pasek Suardika.

M. Yamin Panca Setia/Melati Hasanah Elandis/Rhama Deny

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s