Redam Amarah Sunni-Syiah


RATUSAN pengikut Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, tersentak saat tiba-tiba ratusan massa menyerang kampungnya. Massa yang amarah membakar tempat tinggal, madrasah dan mushollah. Hartanya pun dijarah. ”Hewan ternak yang kami tinggal di rumah pun dijarah,” kata seorang pengikut Syiah, Hubaidi Minggu lalu.

Ratusan jamaah Syiah di sana pun terpaksa mengungsi ke tempat yang aman setelah diserang sekelompok massa. Mereka dievakuasi ke Gedung Olah Raga Wijata Kusuma, di Kantor Bupati Sampang. Sejumlah aparat keamanan disiagakan untuk menjaga harta milik mereka. ”Jika aparat tak mampu mengamankan harta, kami lebih baik pulang. Kami tidak peduli, meski harus dibunuh,” kata Iklil Almilal, pengikut Syiah. Dari penelusuran Polres Sampang, penyerangan yang dilakukan Kamis pagi pekan lalu itu diduga dilakukan pengikut Sunni.

Musrikan, satu dari tiga pelaku telah ditangkap polisi. ”Kini sudah ditahan di Polres Sampang,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Pol Saud Usman Nasution, Minggu (1/1). Sementara dua pelaku lainnya, Muhlis dan Sawir masih buron. Dalam upaya mengusut kasus itu, polisi memeriksa 15 orang saksi. Musrikin diserahkan oleh kelompok Sunni setelah dilakukan negoisasi. Awalnya, kelompok Sunni menolak menyerahkan Musrikin kepada aparat.

“Setelah kami melakukan pendekatan mereka menyerahkan satu orang,” katanya. Petugas terus mencari para pelaku lain. Pasalnya pelaku pembakaran diyakini lebih dari satu orang. “Semua pelaku harus diproses hukum,” kata Saud.

Dari penyelidikan yang dilakukan polisi, terungkap jika pemicu konflik adalah pertikaian antar keluarga yang kemudian berkembang menjadi konflik antarkelompok.

Adalah Rois dan Rojul, dua saudara kandung yang juga dikenal dengan Tajul Muluk, berselisih paham setelah Rojul meyakini Syiah. Rois tidak menerima keputusan Rojul. Konflik keluarga itu sempat diselesaikan lewat musyawarah pimpinan daerah Sampang. Keduanya sepakat untuk saling menjaga kerukunan. Namun, polisi tak menduga konflik berlanjut.

Hal senada juga diutarakan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. Menurut dia, pihaknya bersama Majelis Ulama Indonesia dan (MUI) Pemerintah Sampang, sudah berusaha mendamaikan kedua kelompok tersebut. “Itu kakak beradik terlibat konflik yang tak kunjung terselesaikan. Hingga akhirnya merembet ke persoalan agama,” katanya.

Agar konflik tak meluas, MUI meminta masyarakat untuk menahan diri dan toleran menyikapi perbedaan paham antara Islam Sunni dan Syiah di wilayah tersebut.

”Masyarakat harus menunjukan sikap toleran, moderat dan anti terhadap kekerasan,” ujar Ketua MUI Bidang Kerukunan Umat Beragama, Slamet Effendy Yusuf seraya mengingatkan masyarakat Sampang agar memahami kemajemukan sebagai realitas sosial.

Soal perbedaan paham antara Syiah dan Sunni diayakini menjadi penyebab utama terjadi konflik. Ketua Badan Pembela Hukum dan Hak Azasi Manusia (Bapkumham) Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), Maheswara Prabandono, mengatakan, penganut Syiah di Desa Sumber Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur menolak dituding sebagai aliran sesat. Menurut dia, Syiah bisa menjelaskan jika diberi kesempatan untuk berdialog dengan semua pihak.

“Kami bisa jelaskan itu. Kami hanya minta dialog. Penyerangan sudah tak zaman lagi,” ujarnya di Jakarta, Sabtu lalu.

Dia menyesalkan jika pemerintah Sampang tak pernah memfasilitasi dialog. Padahal, kata Maheswara, dialog adalah cara cepat untuk menyelesaikan masalah. Dia juga meminta bukti jika Syiah adalah aliran sesat. ”Kalau ada yang sesat, tolong pemerintah dan tokoh agama memberitahu kami. Mencerahkan kami. Sebab kami juga ingin masuk surga,” harapnya. Maheswara juga menyesalkan aparat keamanan tidak tegas dalam mengantisipasi kekerasan di Nangkernang.

Sementara itu, Jalaludin Rakhmat, Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) akan melayangkan protes ke MUI pusat jika MUI Jawa Timur menyatakan Syiah sebagai aliran sesat. ”Jika terbukti memutuskan Syiah sebagai aliran sesat, maka kita akan melayangkan somasi,” ujar Jalaludin Rakhmat. Menurut dia, Syiah adalah kelompok Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Buktinya adalah kuburan para wali-wali yang ada di Indonesia. Paham syiah kalah hanya karena kelompok Sunni paling banyak di Indonesia. “Jadi Syiah tidak sesat,” ujarnya.

Jalaluddin menuturkan, banyak yang belum memahami Syiah sehingga menuduh kelompok ini sesat. Padahal jika ada dialog, maka proses saling memahami akan tercapai. Ia mencontohkan, tidak benar Syiah memperbolehkan jamaahnya untuk tidak shalat Jum’at. Jalaluddin juga membantah jika Syiah menambah lafaz adzan.

Jalaluddin menyesalkan jika MUI yang tidak merangkul semua golongan Islam di Indonesia. Dalam kasus Syiah di Sampang, harusnya MUI lebih berperan, termasuk memberikan pencerahan pada semua golongan Islam. Jalaluddin juga menyoroti kinerja Kementerian Agama (Kemenag) dalam menangani kasus tersebut. Ia menuturkan, Kemenag mempunyai bagian yang disebut Bimas (Bimbingan masyarakat) Islam yang bertugas memberi pencerahan bagi semua golongan Islam. “Kemana Kemenag? Kemana Bimas Islam itu?” sebutnya.

Terkai hal itu, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan pihaknya telah mengintruksikan kantor wsetempat segera bertindak melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan demi mendinginkan suasana.

Kementerian Agama, imbuhnya, akan menggali penyebab masalah tersebut sampai ke akarnya. “Yang pertama harus dilakukan adalah dialog antarpihak terkait. Dan konflik yang terjadi harus ditindak sesuai hukum,” kata dia.

Nasaruddin juga meminta para pihak yang terkait konflik menahan diri. “Saya meminta semua pihak menahan diri dan memberi kesempatan kepada pemerintah untuk berkoordinasi menyelesaikan masalah ini,” harapnya.

Syi’ah dan Sunni adalah dua aliran dalam Islam. Muslim Syi’ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah menunjuk pada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah. Syi’ah pengikut Ali yang percaya bahwa Keluarga Muhammad adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi sunnah.

Muslim Syi’ah berpendapat Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya.

Namun, perbedaan itu diyakini bukan sumber konflik. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menduga ada pihak yang ingin mengusik kedamaian di Indonesia. Dia menilai, Sunni dan Syiah di Madura sama sekali tidak terlibat perselisihan, baik di masa lampau maupun sekarang. “Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan,” ujarnya.

M. Yamin Panca Setia/Abu Sahma Pane/Suriyanto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s