Menolak Tergiur Fulus


DIA hanya 1,5 tahun menjabat Jaksa Agung. Namun, dia mewarisi tauladan yang baik di tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap aparatur kejaksaan. Dia ibarat obor yang menerangi gulita di Gedung Bundar yang selalu redup oleh tiupan para koruptor yang suka menyuap oknum kejaksaan.
Dia adalah Baharuddin Lopa. Lelaki kelahiran Pambusuang, Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935 itu dikenang sebagai Jaksa Agung yang antikemapanan dan tak tergiur dengan aroma fulus yang ditawarkan dari pihak yang berperkara.
Dia paling ditakuti para koruptor. Saat baru menjabat Jaksa Agung, 6 Juni 2001, Lopa langsung tancap gas memburu koruptor kelas kakap yang kabur ke luar negeri seperti Sjamsul Nursalim di Jepang dan Prajogo Pangestu di Singapura.
Lopa juga mencekal Marimutu Sinivasan. Bob Hasan, bekas pejabat Orde Baru yang dikenal sebagai “Raja Hutan” pun dijebloskannya ke penjara Nusakambangan.
Dia juga menyidik kasus korupsi yang diduga melibatkan Arifin Panigoro, Akbar Tandjung dan Nurdin Halid. Dia tak peduli, meski upaya hukum yang dilakukannya dianggap bernuasa politis.
“Jangankan konglomerat, kau saja yang korupsi kalau ke luar negeri aku kejar,” tegasnya saat ditanya wartawan. “Anda juga memeriksa orang dalam yang membantu kaburnya mereka?” tanya wartawan. “Semua, tanpa kecuali. Dari Jaksa Agung sampai tukang sapu,” jawabnya seperti dikutip dalam buku berjudul: Tanah Api, karya S.Jai, Pustaka Sastra, 2005.
Begitulah sosok Lopa. Keras dengan pendirian, tanpa kompromistis, memegang prinsip dan bersih dalam mengemban amanat. “Dia lambang keberanian. Dia contoh teladan dan loyalitas,” kenang Erna Witoelar, menteri yang juga kerabatnya.
Cholil Bisri dalam buku Menuju Ketenangan Batin, 2008 yang diterbitkan Kompas, mengambarkan sosok Lopa yang memegang prinsip dan tak takut ancaman. Cholil mengenang Lopa sebagai sosok yang tak pernah khawatir dengan segala akibat yang dilakukannya karena menyakini kebenaran. Dalam batin, Cholil pun bertutur, Lopa mampu mencegah praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah mewabah di Tanah Air.
Soal integritas, Lopa dikenang jaksa yang bersih. Meski menduduki jabatan yang ‘basah’, dia tak tergiur mengumpulkan upeti dengan cara-cara yang melabrak hati nuraninya. Di akhir hayatnya, dia tak meninggalkan apapun kecuali sepasang sepatu yang bukan sembarang sepatu yang dapat dipakai oleh setiap orang. Sepatu itu adalah sepatu sang Jaksa Agung.
Marsilam Simanjuntak, Jaksa Agung yang menggantikannya merasa khawatir mengenakan sepatu itu. “Jika itu dipaksakan, maka saya akan tersandung dan jatuh.” katanya. Sepatu itu diibaratkan sebagai suatu amanat yang maha berat bagi Marsilam.
Gaya hidup Lopa kontras dengan gaya hidup sebagian besar anak buahnya yang bermewah-mewah karena menyambi praktik jual beli perkara dan rakus menikmati suap. Di rumahnya, jalan Pondok Bambu Asri Jakarta Timur, tidak ada kemewahan. Hanya usaha kecil-kecilan. Di sebelah kiri, rumah berdesakan dengan dinding Penjara Perempuan. “Bapak mengajarkan kalau kerja ya peganglah pekerjaanmu. Ini ya ini, jangan minta yang lebih,” kenang Hafsah, puteri kesayangannya
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengisahkan kesederhanaan Lopa. Saat Kalla masih menjadi pengusaha pemegang agen tunggal Toyota di kawasan Indonesia timur, Lopa yang kala itu menjabat Dirjen Lembaga Pemasyarakatan pernah memesan mobil. Kalla mengira mobil yang diinginkan Lopa sedan mewah.
Lalu, ditawarkanlah Toyota Crown seharga Rp100 juta. Namun, Lopa menolaknya. Bahkan, saat Kalla menawari Cressida seharga Rp60 juta, Lopa menganggapnya kemahalan. Kalla lalu menyodorkan Corona seharga Rp30 juta dan tidak untuk dijual, tetapi diberikan kepada Lopa. Tapi, Lopa menolaknya. Lopa minta harga umum, dengan pembayaran dicicil selama tiga tahun empat bulan.
Integritas, keberanian dan keteladanan Lopa sudah terlihat saat dirinya muda. Dalam usia 25 tahun, Lopa yang sudah menjabat Bupati di Majene, Sulawesi Selatan begitu gigih menentang Andi Selle, Komandan Batalyon 710 yang kaya raya karena melakukan penyelundupan. Dia juga bersih saat menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, Aceh, Kalimantan Barat dan Kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta. Sejak 1982, Lopa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.
Begitu diangkat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Lopa melakukan gebrakan. Dia mengumumkan kepada masyarakat untuk tidak memberi sogokan kepada anak buahnya. Dia kemudian menyeret pengusaha besar Tony Gozal alias Go Tiong Kien ke penjara karena korupsi dana reboisasi senilai Rp7 miliar. Sebelumnya, Tony tidak tersentuh hukum.
Meski kemudian majalis hakim yang diketuai J Serang membebaskan Tony, Lopa tak berhenti mengusut kejahatan Tony. Dia melakukan penyelidikan dan membuktikan jika ada uang mengalir ke kantong hakim dari Tony. Lopa berhasil memenjarakan Tony. Tetapi, pada 1989 dia diberhentikan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan dimutasikan sebagai Staf Ahli Menteri Kehakiman.
Dalam upaya penegakan HAM, Lopa turut serta membongkar pelanggaran HAM di Aceh selama operasi militer berlangsung (1989-7 Agustus 1998). Dia memimpin tim Komisi Nasional HAM dalam mengungkap kasus tersebut. Dia sungguh miris mendengar dan melihat fakta kejahatan militer di Aceh.
Karena jasanya, Barlop, demikian sapaan Lopa, dianugerahi penghargaan. Namanya diabadikan di salah satu ruangan di Gedung Kejaksaaan Agung. Salah satu ruangan di Kejaksaan Agung, Sasana Cipta Kertha, resmi diganti menjadi Sasana Baharuddin Lopa, pada tanggal 22 Juli 2001 lalu.
Saat maut menjemputnya, semua sedih. Lopa pergi selama-lamanya saat negara masih membutuhkannya. Tak dinyana, sosok yang sudah berusia 66 tahun-namun tetap bugar itu, begitu cepat meninggalkan jabatan penting dalam penegakan hukum. Dia meninggal dunia di Riyadh, Arab Saudi, saat menjalankan ibadah umroh bersama isterinya Hj Inderawulan. Semua sedih karena kepergian Lopa selama-lamanya saat hukum di negeri ini masih diselumuti gulita.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s