Telisik Tragedi Ambruknya Mahakam


SUARA-suara histeris itu terdengar sahut-sahutan saat tiba-tiba jembatan Mahakam II di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, itu miring. Dan, dalam hitungan detik, jembatan yang dikenal dengan nama Mahakam II itu ambruk ke dasar sungai Mahakam. Tak kuasa membayangkan saat mobil dan motor yang mereka tumpangi, jatuh dan tenggelam ke dasar sungai. Sungguh memilukan.
“Saya menyebut nama Allah dan meminta ampunan kepadanya. Karena saya sudah berada di sungai Mahakam,” kisah Aji Titin, seorang korban kecelakaan yang selamat dari maut. Titin mendengar betapa memilukan teriakan histeris orang-orang yang tengah berada di dekatnya saat jembatan itu akan ambruk.
Titin yang masih terlihat trauma, amat bersyukur dirinya selamat dari maut. Saat tubuhnya jatuh ke sungai, dia hanya pasrah karena tak bisa berenang. Tubuhnya sempat terseret ke tengah sungai. Agar tak tenggalam, dirinya hanya bisa menggerakkan kaki.
“Bukannya menepi. Malah, saya semakin ke tengah sungai. Saya takut. Saya hanya pasrah kepada Allah. Saya selalu berdoa kepada-Nya,” kenangnya.
Doanya dikabulkan. Dia selamat, meski merasakan sakit betul akibat benturan benda keras di belakang punggungnya. Saat berpikir ajal sudah menanti, tiba-tiba ada seorang pria yang tak dikenalnya mengulurkan tangan untuk menolongnya.
“Tiba-tiba ada pria yang saya tidak kenal menyambut tangan saya dan membawa saya naik ke kapal kayu dan membawa ke rumah sakit ini. Terima kasih ya Allah..,” katanya.
Titin adalah satu dari puluhan korban yang selamat. Korban tewas akibat robohnya Jembatan Kartanegara atau Jembatan Mahakam II, di Kalimantan Timur, bertambah. Selasa dihihari (29/11) tim SAR kembali menemukan jenazah korban, sehingga total korban meninggal dunia mencapai 16 orang. Proses evakuasi masih terus dilakukan, karena diperkirakan korban yang meninggalkan lebih dari itu.
Kejadian memilukan yang terjadi pada Sabtu pekan lalu itu menuai simpati banyak kalangan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung memerintahkan aparat terkait untuk melakukan investigasi guna mengetahui penyebab ambruknya jembatan. Presiden juga memerintahkan aparat keamanan untuk memeriksa jembata-jembatan lain agar tidak terjadi kejadian serupa.
“Cegah jangan sampai ada bencana lagi, kemudian lakukan investigasi,” kata Presiden saat melakukan komunikasi jarak jauh dengan sejumlah pejabat daerah Kalimantan Timur dalam acara Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional di Bukit Merah Putih, Sentul, Citeureup, Bogor, Senin lalu.
Penyebab ambruknya jembatan yang diresmikan tahun 2001 dengan biaya pembangunan Rp150 miliar itu, belum diketahui pasti. Namun, sejumlah kalangan menilai ada yang tak beres dalam konstruksi jembatan.
“Konstruksi yang salah, mungkin bahan-bahan yang dipakai kualitas rendah atau KW 10. Mesti dilakukan audit teknis secara cermat,” tegas anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kalimantan Timur, Bambang Susilo, seraya mendesak Pemerintah Pusat agar melakukan audit teknis kelaikan jembatan dan memeriksa pimpinan dan pelaksana proyek tersebut.
“Kalau ada yang nakal harus diganjar dengan hukuman berat,” ujarnya.
Polri merespon dugaan adanya penyimpangan dalam pembangunan jembatan itu. Semua pihak yang diduga terkait runtuhnya jembatan, diperiksa, termasuk memeriksa Bupati Kukar. “Kita periksa bupatinya. Kita tidak bisa menduga, tapi harus diperiksa secara ilmiah penyebab-penyebabnya,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution di Jakarta, Senin lalu.
Polri sudah mengirim tim penyidik Bareskrim 11 orang, Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) sebanyak enam orang, dan Disaster Victim identification (DVI) sebanyak enam orang untuk mengidentifikasi korban.
Polisi juga sudah memeriksa sebelas orang dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan beberapa instansi terkait. “Kami belum merinci baik dari pihak pelaksanaan pekerjaan atau aparat pemerintah yang kita periksa,” kata Saud.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto merasa heran dengan ambruknya jembatan itu. “Ini sangat langka. Jarang-jarang ada jembatan yang baru berumur 10 tahun sudah runtuh,” kata Djoko saat meninjau lokasi bersama Menko Kesra Agung Laksono pada Minggu lalu. Kementerian Pekerjaan Umum telah menurunkan tim untuk menyelidiki kontruksi jembatan tersebut.
Aneh memang. Apalagi, saat ini, jembatan yang menyatukan Kota Tenggarong dengan Kecamatan Tenggarong Seberang yang panjangnya mencapai 710 meter itu sedang dalam tahap perbaikan dan diperkirakan selesai pada Desember 2011.
“Mestinya jembatan ditutup dari arus lalu lintas. Namun karena belum ada petunjuk teknis, jadi mereka lalai,” kata Dirjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Djoko Murjanto di Jakarta, Senin.
Kementerian PU bisa saja menyalahkan pelaksana proyek. Namun, yang aneh kenapa Kementerian Pekerjaan Umum belum menuntaskan petunjuk teknis perawatan Jembatan Kutai Kartanegara.
“Juknis perawatan yang sudah ada untuk bentang jembatan gantung yang kecil-kecil, sedangkan yang bentang besar masih dalam proses finalisasi,” kata Djoko. Dia berdalih, juknis perawatan untuk jembatan gantung dengan bantang besar seperti Jembatan Kukar, sedang dalam kajian. Ternyata, juknis belum selesai, jembatan ambruk duluan. Sementara perawatan terhadap jembatan itu sudah dilakukan secara periodik oleh pemerintah setempat dan berkoordinasi dengan Kementerian PU.
Djoko menegaskan, pihaknya tidak bisa melakukan supervisi langsung karena jembatan itu merupakan aset Pemda Kukar. Karena itu, Kementerian PU segera melakukan evaluasi juknis perawatan jembatan gantung sejenis.
“Total jembatan serupa di Indonesia sekitar 90-an,” katanya. Sementara terkait dugaan penyebab ambruknya jembatan, Djoko menyatakan, saat ini tim investigasi di lapangan sedang bekerja.
Namun, jika hasil investigasi menyimpulkan jika ambruknya jembatan itu karena hasil kerja kontraktor, maka kontraktor akan dimintai pertanggungjawaban sesuai UU No 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. Dalam UU itu dinyatakan jika hasil pekerjaan konstruksi gagal sebelum 10 tahun, maka menjadi tanggung jawab kontraktor.
Siapa kontraktornya? Djoko menyebut keterlibatan PT Hutama Karya sebagai pemborong yang mengerjakan jembatan gantung tersebut.
PT Hutama Karya dalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Terkait tudingan itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan tidak berencana memanggil PT Hutama Karya karena pemeliharaan jembatan telah diserahkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum. “Jembatan itu dari dulu sudah diserahkan ke PU,” jelas Dahlan.
Jembatan Tenggarong sudah dibangun di era Bupati AM Sulaimin pada awal tahun 2000. Kemudian dilanjutkan pembangunannya oleh Bupati Syaukani HR dengan dana mencapai Rp150 miliar.
Proyek itu menuai sorotan sejumlah kalangan. Namun, proyek pembangunan jembatan layaknya Golden Bridge di San Fransisco itu tetap dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Dinas PU Kalimantan Timur pernah mengungkapkan data salah satu bentuk penyimpangan Jembatan Kutai Kartanegara adalah mark up pengecetan jembatan yang mencapai Rp15 miliar. Lalu, pada pertengahan Februari 2011, jembatan ini mengalami pergeseran sekitar 15 cm ke arah dalam sehingga mengkhawatirkan masyarakat. Namun, pergeseran itu dianggap tidak membahayakan. Pengabaian itu berakibat fatal.

M. Yamin Panca Setia/Rusli/Suriyanto/Rhama Deny

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s