Hikayat Si Jalak Harupat


“Merdeka, merdeka!” serunya sambil mengepalkan tangan, seakan ingin meninju langit. Dia bukan sekedar meletupkan emosi spontan. Namun, dia ingin rakyat sadar betul pentingnya kemerdekaan. Bila perlu nyawa menjadi taruhan. Mengepalkan tangan, sambil berteriak “merdeka” adalah simbol perlawanan yang terus ditanamkannya kepada rakyat.

“Kalau kemerdekaan Indonesia bisa ditebus dengan jiwa seorang anak Indonesia, saya akan maju sebagai kandidat yang pertama untuk pengorban ini,” begitu katanya seperti dikutip surat kabar Tjahaja, 12 Agustus 1945.

Dialah Rd Oto Iskandardinata. Putra Pasundan yang keras dan lugas. Dia tak kenal kompromi menyaksikan perilaku penjajah yang bertindak semena-mena terhadap rakyat Indonesia. Segala yang berbau penindasan, dia libas.

Nyalinya tak sedikit pun menciut, meski di bawah ancaman Pemerintah Hindia Belanda. Makanya, dia pun dijuluki Si Jalak Harupat, ayam jago yang tajam menghantam lawan, kencang bila berkokok, dan menang selalu diadu.

Dalam buku berjudul: Si Jalak Harupat, Biografi R Oto Iskandardinata, karya Nina H Lubis yang diterbitkan PT Gramedia Utama, sepak terjang dan keberaniannya luar biasa. Lelaki kelahiran tanggal 31 Maret 1897 itu, pernah menghadapi ancaman pengusiran Residen Hindia Belanda, saat memperjuangkan kepentingan rakyat dalam kasus kasus Bendungan Kemuning di Pekalongan, Jawa Tengah.

Namun, dia tak mundur. Dia terus memobilisasi rakyat melakukan perlawanan hingga akhirnya menyelamatkan rakyat dari penipuan yang dilakukan pengusaha Belanda. Di Volksraad (Dewan Rakyat), Oto yang menjadi wakil Paguyuban Pasundan juga dikenal paling tajam mengkritik Pemerintah Hindia Belanda.

Pidato-pidato kerasnya sering kali membuat anggota Volksraad perwakilan Belanda emosi. Di Volksraad, dia menjadi wakil rakyat selama tiga periode (1913-1934, 1935-1938 dan 1939-1942). Dia bergabung dalam fraksi nasional yang dirikan MH Thamrin, Ketua Perkumpulan Masyarakat Betawi.

Oto mewakafkan hidupnya untuk berpolitik yang memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia. Awalnya, dia bercita-cita menjadi seorang guru karena ingin membebaskan rakyat dari kebodohan. Namun, nalurinya memberontak karena terus menerus disuguhkan berita miris tentang kondisi rakyat Indonesia yang ditulis de Express, koran anti Belanda yang diterbitkan Douwes Dekker.

Saat masih sekolah di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purwerejo, Jawa Tengah, dia seringkali membaca koran tersebut dengan sembunyi-sembunyi karena pihak sekolah melarang siswa membaca berita yang memojokan Pemerintah Hindia Belanda. Dari sajian kritis yang diulas de Express itulah, semangat perjuangannya menyala. Dia pun sering kali berbeda pendapat dan diusir ke luar kelas oleh guru yang berdarah Belanda lantaran mengkritik gurunya yang dianggapnya diskriminatif terhadap siswa-siswa pribumi.

Untungnya, di sekolah itu, Oto lulus. Dia memulai karir sebagai guru di HIS Banjarnegara. Dari sekolah itu, dia pun menemui tambatan hatinya. April 1923, di Bandung, dia menikahi muridnya yang bernama Soekirah, yang berusia di bawah 10 tahun darinya. Pada Agustus 1924, dia hijrah ke Pekalongan, Jawa Tengah. Dia juga aktif menggerakan Budi Utomo. Ketika menjadi anggota Dewan Kota Pekalongan, Oto lantang berteriak dan berupaya membongkar kasus Bendungan Kemuning. Rakyat pun terselamatkan dari penipuan yang dilakukan pengusaha Belanda. Akibatnya, Oto “dicap” pemberontak di Pakelongan. Bersama-sama dengan teman-temannya dari Budi Utomo seperti Darmosoegito, Kartosoebroto serta Fadhool, mereka masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Di tahun 1928, dia bertandang ke Batavia untuk mengajar di HIS Muhammadiyah. Di sela-sela mengajar, dia tetap bergelut dalam aktivitas pergerakan. Profesi wartawan pun dilakoninya. Karena cukup menguras tenaga, profesinya sebagai guru akhirnya ditinggalkannya. Dia lebih memilih bergelut di Paguyuban Pasundan dan menduduki jabatan sekretaris di organisasi itu. Desember 1928, dia dipercaya menduduki jabatan ketua.

Organisasi itu tak melulu bergerak di ranah politik. Namun, juga aktif di bidang pendidikan dan sosial. Sekolah-sekolah didirikan. Di tahun tahun 1941, ada 51 unit sekolah yang didirikan Paguyuban Pasundan di di 36 kawasan di Jawa Barat. Dia juga turut membidani pembentukan Universitas Pasundan. Dalam bidang sosial, dia membantu penduduk yang terkena musibah kebakaran, kelaparan atau bencana alam. Dia memberikan cuma-Cuma. Bahkan, ada beberapa orang yang setiap bulan datang mengambil jatah pangan gratis. Ia memimpin Hookookai, lembaga sosial yang tugasnya menolong korban perang.

Dia juga mendorong keterlibatan perempuan dalam perjuangan dengan mendirikan Pasoendan Istri yang tugasnya memerangi masalah-masalah sosial dan gender. Dalam bidang kepemudaan, Pagoejoeban Pasoendan mempunyai perkumpulan khusus pemuda yang disebut Jeugd Organisatie Pasoendan (JOP) yang didirikan pada 23 Desember 1934. Kegiatan JOP yang menonjol antara lain adalah dalam bidang kepanduan (Pandoe Organisasi Pasoendan) dan dalam kancah nasional yaitu dengan mendirikan federasi perkumpulan pemuda yang diberi nama Pergerakan Pemoeda Indonesia (Perpindo).

Dia juga anggota PPKI dan berjasa mendirikan Barisan Pembela Tanah Air (PETA). Jelang kemerdekaan, Maret 1945, Jepang mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang beranggotakan perwakilan semua aliran pemikiran yang ada di Jawa, yang diketuai oleh KRT Radjiman Wedyodiningrat. Oto adalah dalah salah satu anggotanya. Dia juga menjadi anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar (PPKI) yang diketuai Soekarno. Dan, setelah Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, dalam sidang PPKI, Oto adalah anggota yang mengusulkan pertama kalinya Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Namun, nikmatnya kemerdekaan hanya dinikmati Oto kurang lebih dua bulan. Sejak 26 Oktober 1945, Oto menghilang. Dia menjadi korban penculikan. Kala itu, Oto yang baru menjabat Menteri Negara Khusus Urusan Keamanan saat baru tiba di Bandung dari Jakarta, ditelepon orang tidak dikenal, memerintahkan untuk berangkat kembali ke Jakarta. Dia pun bergegas ke Jakarta. Namun, siapa sangka, itulah saat-saat terakhir keluarganya menemui Oto. Akhir Desember 1945, barulah keluarga Oto mendapat kabar jika Oto menjadi korban penculikan “Laskar Hitam” di pantai Mauk, Tangerang. Namun, jenazah Oto sampai sekarang belum diketahui keberadaannya.

Dan, pelakunya yang bernama Mudjitaba bin Markum, disidang 13 tahun kemudian. Hingga kini tak jelas motif pembunuhan yang dilakukan polisi berpangkat brigadir itu. Sang pahlawan yang berjiwa revolusioner itu dibunuh oleh rakyatnya sendiri. “Jasa mu tetap dikenang”, demikian tulisan di bagian bawah tanda jasa dari negara yang diberikan Presiden Soekarno kepada Si Jalak Harupat.

M. Yamin Panca Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s