Pemberontakan Sang Patriot


DENGAN sebilah golok di tangan, dia berada pada barisan terdepan mengamankan Soekarno dan Muhammad Hatta usai menyampaikan pidato di rapat umum, Lapangan Merdeka, Jakarta, 19 September 1945. Dia mengawasi betul setiap gerak serdadu Jepang yang dianggapnya dapat mengancam keselamatan Soekarno-Hatta dan ingin membubarkan pertemuan akbar itu.

Bersama patriot pejuang kemerdekaan lainnya, dia terus memagari kedua pemimpin itu. Dia siap mati demi Soekarno-Hatta yang setiap langkahnya diintai tentara penjajah yang tidak merestui kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia.

Begitulah sosok berperawakan pemberani yang dikenal dengan sebutan Abdul Qahhar Mudzakkar. Seorang patriot yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. Namun, sejarah mencatatnya sebagai “musuh negara” karena menjadi pemimpin pemberontakan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia.

Terlepas dari catatan sejarah kelabu yang membayangi perjalanan pria yang lahir tanggal 24 Maret 1921 di Kampung Lanipa, Distrik Ponrang itu, patut kiranya bangsa ini mengapresiasi semangat perjuangan yang dimilikinya hingga akhirnya Indonesia merdeka dari belengu penjajahan. Karena itu, perlu kiranya anak bangsa ini tidak hanya disuguhkan sejarah tentang sepak terjang Qahhar yang melakukan pembangkangan terhadap Republik Indonesia-tanpa mengetahui betul latar belakang sejarahnya.

Syarifuddin Usman Mhd, penulis buku yang berjudul: Tragedi Patriot dan Pemberontak yang diterbitkan Narasi, 2010, menilai jika pemberontakan yang dilakukan Qahhar bukan semata menyangkut pertentangan ideologi negara. Melainkan juga pertentangan peranan dan susunan kemiliteran serta tentang kekuasaan rezim sebuah pemerintahan, serta perkembangan dinamika sosial politik di pemerintahan pusat.

Syarifuddin pun menyimpulkan, “Apabila kita mencermati lebih dalam latar belakang di balik sikap politiknya, kita akan tahu bahwa dia adalah korban di balik proses alamiah pembentukan tentara sebagai organisasi profesional.”

La Domeng, sapaan putra seorang bangsawan Bugis bernama Malinrang itu memang muncul menapaki pentas nasional sebagai sebagai seorang tokoh yang berwatak pemberani dengan daya tarik pribadi yang besar. Dia juga tangkas memobilisasi massa lewat pidato-pidatonya yang membakar emosi massa, tak kalah dengan kemampuan Soekarno.

Di era revolusi kemerdekaan, setelah tamat sekolah rakyat di Lanipa, Qahhar melanjutkan studi ke Jawa. Ia memilih Solo dan belajar di Sekolah Muallimin yang dikelola Muhammadiyah. Di masa muda, Qahhar tergolong anak yang cerdas dan mudah bergaul. Dia pun aktif di berbagai kegiatan organisasi yang dikelola Perguruan Islam (Kweekschool Muhammadiyah). Tipikal kepemimpinannya tumbuh dari organisasi Islam itu. Dia pernah menjadi pimpinan lokal Pemuda Muhammadiyah di Hizbulwathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah.

Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya, Palopo. Namun, tak lama di sana karena dia cekcok dengan keluarga besarnya yang feodal. Ia pun dikenakan hukuman ri-paopangi tana atau diusir dari Palopo karena dituduh memicu permusuhan di kalangan kaum bangsawan Luwu. Qahhar memang mengutuk sistem feodal yang berlaku di Sulawesi Selatan dan menganjurkan dihapuskannya aristokrasi.

Sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Qahhar hijrah ke Jawa. Dia menghabiskan diri dalam aktivitas pergerakan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dia mendeklarasikan Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (Gepis). Selanjutnya, pada 21 Oktober 1945, Gepis menyatu dengan organisasi gerilya lain yang terdiri dari para pemuda Sulawesi yaitu Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS).

Dua organisasi itu bergabung lalu membentuk organisasi baru bernama Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Organisasi itu dibentuk untuk menjadi garda terdepan mengamankan kemerdekaan. Mereka siap bertempur melawan tentara Belanda dan berpihak kepada Republik Indonesia. Qahhar menjadi sekretaris pertama KRIS.

Setelah lepas dari KRIS, Qahhar memainkan peran penting sebagai pemimpin Batalion Kesatuan Indonesia (BKI). Awalnya, BKI ditugaskan sebagai pengawal Presiden Soekarno pada waktu Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Namun, kemudian diganti dengan pasukan gerak cepat Penyelidik Milter Khusus PMC yang dipimpin Kolonel Zulkifli Lubis di Yogyakarta. Keberadaan pasukan itu hanya beberapa bulan saja.

Pada tanggal 24 Maret 1946, Qahhar mendapat kuasa penuh dari Panglima Tentara Republik Indonesia Sudirman untuk membentuk Tentara Republik Indonesia Persiapan di Sulawesi. Dia dipercayai Sudirman karena mampu memobilisir kekuatan massa rakyat di Sulawesi. Qahhar juga memiliki taktik jitu mengatur penyusupan para pejuang ke Sulawesi untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda yang menguasai Sulawesi. Qahhar merekrut para narapidana yang dipenjarakan di Nusakambangan, Cilacap untuk menjadi pasukan BKI. Dia melatih para tahanan itu agar piawai dalam berperang. Mulanya, upaya penyusupan itu berjalan lancar. Dia berhasil mengirim ribuan prajurit ke Sulawesi yang didatangkan dari Jawa lewat perahu layar. Ada sekitar 1.200 prajurit sudah dikirimkan selama tahun 1946. Tetapi, penyusupan itu digagalkan oleh taktik antikekacauan Belanda yang digunakan Westerling. Tak sedikit pasukan Qahhar yang dibunuh tentara Belanda.

Al Chaidar, dalam artikelnya berjudul: Ditabuhnya Genderang Perang Semesta:
Munculnya Darul Islam Di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan Kalimantan Selata dan Aceh, menjelaskan, Qahhar mengirim dua perwira stafnya-Saleh Sjahban dan Bahar Mattaliu-ke Sulawesi untuk mengadakan hubungan dengan pasukan-pasukan gerilya yang tersisa dan bergerak sendiri-sendiri di Sulawesi. Untuk itu, tanggal 17 Agustus 1949, dibentuklah Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) oleh Saleh Sjahban dengan tujuan mempersatukan gerakan para pejuang di daerah itu.

Pada tanggal 22 Juni 1950, Qahhar bertandang ke Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Dia bertemu dengan Alex Evert Kawilarang, Panglima TT VII/Indonesia Timur. Qahhar juga bertemu dengan para pejuang agar menerima syarat yang diusulkan Tentara Republik. Dalam konteks ini, Qahhar menilai, “Mereka (pejuang) diakui sebagai prajurit dulu, dan rasionalisasi seyogyanya barulah dijalankan sesudah itu”.

Qahhar juga menyampaikan aspirasi pejuang agar jumlah pejuang yang akan diterima sedikitnya kekuatan satu brigade, dan membentuk brigade tersendiri, tidak terpencar dalam sejumlah satuan yang berbeda-beda.

Usul itu ditolak oleh Kawilarang. Bahkan, Kawilarang membubarkan KGSS dengan alasan masa integrasi pejuang ke dalam Tentara telah berakhir. Keputusan itu menyulut kemarahan Qahhar. Dia mengundurkan diri dari tentara republik dan menyerahkan lencananya kepada panglima. Qahhar pun menghilang, menyusup ke hutan. Dari persembunyiannya, Qahhar rupanya begerak membangun kekuatan. Dia mengintruksikan para pejuang lain untuk mengabaikan larangan Kawilarang itu. Hingga akhirnya ketegangan pun terus terjadi. Konflik bersenjata pun tak dapat dihindarkan antara pasukan Qahhar dengan Tentara Republik Indonesia.

Selain karena konflik di internal militer, Qahhar juga melakukan perlawanan terhadap Presiden Soekarno yang cenderung bersahabat dengan Partai komunis Indonesia (PKI). Dia pun bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kartosuwiryo di Jawa Barat pada 7 Agustus 1953. 10 tahun kemudian dia mendeklarasikan dirinya sebagai Pemimpin Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII).

Saat itu, Qahhar menjadi musuh Pemerintah Indonesia karena menolak Pancasila sebagai dasar negara. “Dasar Pancasila adalah gerak pikir keduniawan. Benar bahwa Ketuhanan menjadi dasar negara, tetapi sila Ketuhana dalam Pancasila hanya sila politik untuk menibobokan rakyat beragama di Indonesia,” ujarnya dalam pidatonya.

Karena menentang Pancasila, dia menjadi incaran tentara republik. Waktunya dihabiskan bergerilya, bersembunyi di hutan. Pada 1963, Qahhar mengutus isterinya Susana Corry Van Stenus, untuk memberikan sepucuk surat kepada Presiden Soekarno di Jakarta. Di dalam suratnya, Qahhar menyatakan dirinya bersedia menyerah dan kembali ke pangkuan republik asalkan Soekarno membubarkan PKI. Tetapi, Soekarno mengabaikan permintaan Qahhar tersebut. Karena itu, dia pun terus menyerukan kepada serdadu DI/TII untuk terus melakukan pergerakan gerilya, dari ke hutan ke hutan untuk berjihad mewujudkan mimpinya membentuk negara Islam di Indonesia.

M. Yamin Panca Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s