Berebut Kuasa Zona Asia


AMERIKA Serikat (AS) makin agresif menancapkan pengaruhnya di Kawasan Asia Pasifik. Negara adidaya itu mulai menunjukan gelagatnya mengikis dominasi Cina di kawasan itu. Bagi Paman Sam, Cina menjadi hantu yang terus menggerayangi ekonomi AS yang masih ambruk karena diterpa krisis ekonomi.
Untuk menghalangi gerak Negeri Tirai Bambu itu, kebijakan ekonomi politik AS pun mulai diarahkan ke kawasan Asia Pasifik. AS berupaya menyakinkan negara-negara kawasan pasifik jika dirinya mampu mendistribusikan pemerataan kemakmuran. Sebelumnya, AS lebih membidik kawasan Timur Tengah yang kaya akan minyak dengan pendekatan militer dan diplomasinya.
“Pada abad ke-21 di Asia Pasifik, Amerika Serikat akan hadir sepenuhnya. Amerika Serikat adalah kekuatan Pasifik dan kami tetap berada di kawasan ini,” kata Presiden AS Barrack Obama di hadapan pemimpin negara-negara Asia Pasifik yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (KTT APEC) di Honolulu, Amerika Serikat, 12 November 2011 lalu
Meski tidak secara eksplisit menebar tantangan ke Cina, pernyataan Obama itu merupakan sinyal jika negaranya ingin mengalihkan perhatian negara-negara kawasan Asia Pasifik yang selama ini menjadi mitra Cina.
Kawasan Asia Pasifik memang sangat strategis bagi sejumlah negara, termasuk AS dan Cina, karena telah menjadi poros ekonomi global. Dalam perkembangannya, kinerja ekonomi di kawasan Asia Pasifik yang dibingkai dalam forum kerjasama negara-negara yang tergabung dalam APEC telah berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi dunia.
Forum kerjasama APEC itu diinisiasi Indonesia, Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, Cina, Hongkong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Filipina, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat dan Vietnam.
Dalam menghadapi konsekwensi perdagangan global, APEC telah memangkas hambatan tarif dari 16,9 persen pada 1989 menjadi 6,6 persen pada 2008. Kebijakan itu memperlancar arus perdagangan global. APEC juga berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi global hingga 62 persen.
Investasi yang menyebar di negara-negara APEC juga meningkat 13 persen pada 2008 dibandingkan 1994, atau mencapai sekitar US$791 miliar. Total perdagangan dan jasa pun meningkat tajam dari US$3 triliun pada tahun 1989 menjadi US$14 triliun di tahun 2009. Anggota-anggota APEC juga menikmati untung dari perdagangan antar kawasan yang meningkat dari US$1,7 triliun pada tahun 1989 menjadi US$7,7 triliun pada tahun 2009.
Mencermati perkembangan tersebut, AS pun mendorong terbentuknya Kerja sama Trans Pasifik untuk kepentingan ekonomi domestiknya. Inisiatif itu didukung Australlia, Selandia Baru, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Vietnam, Chili, dan Peru. Sembilan negara tersebut sepakat menerapkan perdagangan bebas dengan standar produk yang tinggi. Kesepakatan itu tak lain mengkritik China yang memproduksi produk yang berkualitas rendah, dengan harga yang murah.
Kerja sama Trans Pasifik diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melalui pengurangan hambatan perdagangan dan investasi, peningkatkan eskpor, dan penciptaan lapangan kerja bagi para pengangguran. AS juga ingin melipat gandakan ekspornya. “Trans Pacific Partnership akan membantu melipatgandakan ekspor Amerika yang bisa menyediakan jutaan lapangan pekerjaan,” ujar Obama.
Untuk menjaga kepentingan di kawasan Asia Pasifik, AS juga berencana menerjunkan 2.500 personil marinir di Darwin, Australia. Kekuatan militer AS itu mulai beroperasi tahun depan. Saat berpidato di parlemen Australia, Kamis pekan lalu, Obama memastikan AS akan mengalihkan kekuatan militernya dari Irak dan Afganistan ke Asia Pasifik, terutama Asia Tenggara. Kebijakan militer itu, menunjukan jika AS ingin mendapat simpati dari negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, Taiwan, Brunei Darusalam dan Filipina, yang tengah renggang hubungannya dengan Cina lantaran sengketa wilayah di Laut Cina Selatan. Di Pulau Spratly, Laut Cina Selatan, AS pernah mengirimkan armada militernya dengan alasan ingin melindungi Taiwan dari ancaman Cina.
AS juga menjadikan Jepang dan Korea Selatan sebagai pangkalan militernya. Langkah militer itu merupakan upaya AS menanggapi kebangkitan militer Cina. Beijing memang meningkatkan biaya dan kemampuan militernya, dan makin agresif di perairan laut yang diklaimnya sebagai kedaulatan negara. Di Kawasan Laut China Selatan Cina yang kabarnya kaya akan minyak dan gas itu, Cina kerap memperagakan operasi militer. Cina yang kini tumbuh menjadi negara industri memang haus akan bahan bakar. Konsumsi minyak di negara itu mencapai 2,5 miliar barel per kapita per tahun. Hal itu yang membuat Cina sering kali melakukan manuver dengan menggunakan kekuatan militer yang moncong senjatanya diarahkan ke negara-negara yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan.
Manuver yang dilakukan AS itu direspons dingin oleh Cina. Kementerian Luar Negeri Cina pada Jumat lalu mengingatkan AS untuk menghormati hak-hak Cina di kawasan Asia Pasifik. Jelang berakhirnya pertemuan APEC di Honolulu, Cina juga menganggap negara-negara berkembang sulit meladeni keinginan AS yang menabur isu tentang pemerataan kemakmuran di kawasan Asia Pasifik.
Cina juga menyesalkan tudingan AS jika tak mematuhi kesepakatan dalam melakukan ekspansi ekonominya. Cina memang menjadi negara yang produksinya berlebih (over production) yang menggempur pasar-pasar global dengan harga-harga murah. Politik dagang berbau damping itu membuat kalang kabut negara-negara lain yang memproduksi barang sejenis.
Cina juga menuding AS mempolitasi perdagangan global atau dan mencampuri sengketa wilayah di laut Cina Selatan. Cina juga menuding AS ingin menjadikan Australia sebagai target penting jika ketegangan-ketegangan terjadi di Laut Cina Selatan.
Terkait dengan rencana AS yang akan menempatkan ribuan pasukannya di Darwin, Kementerian Luar Negeri China menilai sebagai keputusan yang tidak tepat. Sementara media China yang berhaluan komunis mengingatkan AS dan Australia untuk tidak mengusik kepentingan Cina di kawasan Asia Pasifik.
Atas tudingan itu, Obama menegaskan jika AS tidak takut Cina. Namun, AS tidak akan membendungnya kebangkitan Cina. Bahkan, Obama menantang China untuk bekerjasama menekan konflik Semanjung Korea.
“Cina bisa menjadi rekan dalam upaya mengurangi ketegangan Semenanjung Korea,” ujar Obama, seraya menambahkan jika AS berupaya bekerja sama dengan Beijing untuk menghindari perselisihan. Bagi Cina, kawasan Semenanjung Korea adalah jalur daratan strategis. Namun, Cina tidak secara frontal menentang Korea Utara yang mengembangkan teknologi nuklir.
Sementara AS menuding Korea Utara telah menebar teror. Di Canberra Australia, Obama bahkan meminta Pyongyang untuk menghentikan uji coba nuklirnya. Sebulan sebelumnya, Pyongyang menggelar uji coba senjata atomnya yang kedua. Korea Selatan, sekutu AS yang lokasinya tak jauh dari Korea Utara, ketar-ketir.
Bagi Obama, pengalihan bahan-bahan nuklir yang dilakukan Korea Utara ke negara atau entitas non-negara merupakan teror bagi Amerika Serikat dan sekutunya. “Kami minta Korea Utara bertanggung jawab penuh atas konsekuensi-konsekuensi dari tindakan seperti itu.”
Jika ketegangan antara Cina dengan AS meletup, maka yang dirugikan juga negara-negara kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara. Terkait kekhawatiran itu, usai penutupan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-19 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Sabtu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan jika Presiden AS Barrack Obama dan Perdana Menteri Australia Julia Gillard menjamin, jika keberadaan ribuan marinir AS di Darwin, Australia Utara, tidak akan mengganggu negara-negara tetangga Australia.
Sebelumnya, Presiden juga telah bertemu Obama dan Gillard di sela-sela KTT Asia Timur. Dalam pertemuan itu, dibahas soal penempatan pasukan AS di Australia.
“Saya bertemu Presiden Obama untuk menyampaikan kepada saya secara resmi bahwa tidak ada niat apa pun mengganggu negara-negara tetangga Australia. Saya mendapatkan garansi itu. Demikian juga dengan PM Gillard. Saya bertemu dan beliau juga menyampaikan tidak ada niat apa pun untuk menganggu siapa pun,” ujar Presiden. Semua mengharap agar ketegangan antara AS dengan Cina tidak mengusik stabilitas kawasan di Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara.
*****
KETIKA Amerika Serikat (AS) terseok-seok akibat krisis subprime mortage yang melilitnya, Cina justru sukses “menginternasionalisasikan” dirinya di pentas global. Ketika AS gencar menggunakan kekuatan militer dan kampanye anti terorisme yang mengkhawatirkan dunia, Cina justru menawarkan jalan damai kepada masyarakat dunia.
Cina menyakinkan dunia jika kebangkitannya bukan menjadi ancaman. Cina justru mengajak dunia untuk mengukuhkan kerjasama, stabilitas dan perdamaian dunia.
Negara berhaluan komunis itu pun makin membuka diri di pasar global. Cina bergabung dalam World Trade Organization (WTO) yang merupakan instrumen perdagangan global di tahun 1999. Cara-cara itu ditempuh Cina agar dapat ekspansif menjelajahi pasar global di kala industrinya tumbuh pesat.
Namun, politik dagang Cina menuai kecaman sejumlah negara karena sering melabrak aturan WTO. Salah satu negara yang getol mengkritik Cina adalah Amerika Serikat. Paman Sam yang digempur dari segala lini berbagai produk impor Negeri Tirai Bambu, makin keteteran. Industri domestik AS tergerus oleh produk dari Cina. Dominasi AS dalam perdagangan global pun makin menyusup karena di WTO, Cina berhasil menggalang kekuatan negara-negara Dunia Ketiga yang merasa paling dirugikan dengan kebijakan WTO karena cenderung menguntungkan negara-negara maju.
Tak hanya itu, Cina juga menancapkan kerjasama dengan ASEAN. Cina juga makin mengukuhkan pengaruhnya di APEC. Oktober 2004, Cina sah berteman dengan ASEAN dengan ditandantanganinya Strategic Partnership for Peace and Prosperity pada pertemuan Puncak di Bali, yang disusul dengan ASEAN Treaty of Amity and Cooperation (TAC).
Cina juga bergabung dalam ASEAN Regional Forum (ARF) dan ASEAN+3. Gencarnya China membangun hubungan dengan ASEAN, menjadi ancaman bagi AS di kawasan Asia Tenggara.
Makanya, di kala krisis ekonomi tengah membelit, AS mencoba mengubah politik luar negerinya dengan lebih fokus menggarap kawasan Asia Pasifik. AS juga makin garang menghajar Cina yang dianggap sering abaikan aturan WTO.
Dalam pertemuan dengan Presiden Cina, Hu Jintao di sela-sela pertemuan APEC di Honolulu, Hawai, Selasa pekan lalu, Presiden AS Barack Obama menuding China tidak taat aturan perdagangan global.
Selain soal pelanggaran praktik dagang, Obama juga mengkritik kebijakan mata uang Cina yang dinilainya tidak adil. Dia menuduh Cina sengaja melemahkan mata uangnya sehingga menyusahkan AS mendongkrak ekspornya. Obama tajam mengkritik karena juga didesak oleh lawan politik politik dari Partai Republik dan sejumlah pengusaha AS yang frustasi dengan produk Cina yang membanjiri pasar domestik.
Atas kritik Obama itu, Hu menjawab jika kenaikan yuan tidak akan membantu AS. Menurut Hu, defisit perdagangan dan pengangguran di AS, bukan karena kebijakan nilai tukar negaranya. “Jika yuan meningkat secara substansial, itu tidak akan memecahkan masalah yang dihadapi oleh AS,” katanya kepada Obama.
Meski negaranya masih dihadapi krisis, Obama bersikeras jika AS tidak takut menghadapi kebangkitan Cina.
“Saya pikir gagasan bahwa kita takut Cina adalah keliru. Gagasan jika kita mengecualikan Cina juga adalah keliru,” katanya saat berpidato dihadapan anggota Parlemen Australia, seperti dikutip kantor berita AFP, Kamis lalu.
Selain menggunakan jalur diplomasi, AS mulai memperagakan kekuatan militernya. Salah satunya, dengan mengalihkan 2.500 marinir AS dari Irak dan Afganistan ke Darwin, Australia. AS seakan-akan ingin menunjukan kepada Cina jika dirinya memiliki taring. Australia mendukung kebijakan militer AS itu karena negeri Kangguru itu mulai ketar-ketir terhadap Cina yang sering mempertontonkan kekuatan militernya.
Manuver yang dilakukan AS juga seperti berupaya merangkul kekuatan dengan negara-negara lain yang berkonflik dengan Cina soal sengketa di Laut China Selatan. Vietnam, dan Filipina pernah memprotes keras operasi militer Cina yang makin intensif di Laut Cina Selatan yang dikabarkan kaya akan minyak dan gas itu.
Memanasnya hubungan AS dengan Cina, tentu mengkhawatirkan negara-negara lain. Karena itu, menjadi langkah tepat jika ada upaya seperti yang dilakukan ASEAN untuk memediasi konflik kedua negara adidaya itu. Karena bagaimana pun, jika perang dingin AS versus Cina itu berubah menjadi perang bersenjata, maka yang dirugikan adalah masyarakat dunia, khususnya Asia Tenggara. Dengan kekuatan yang dimiliki, ASEAN harus mengajak AS dan Cina untuk menyelesaikan perseteruannya, bukan justru ASEAN dimanfaatkan untuk menyuarakan kepentingan masing-masing negara itu, dengan segala iming-imingnya. Karena bagaimana pun, AS dan Cina kini tengah berebut meraup simpati ASEAN untuk menancapkan kepentingannya.
*****
KONFERENSI Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-19 yang digelar di Nusa Dua Bali, berakhir. Para pemimpin ASEAN sepakat memaksimalkan perannya di pentas Global. Di tengah kompleksitas masalah global, ASEAN memang harus berperan maksimal. Persoalan krisis energi dan pangan, dampak perubahan iklim, ancaman terorisme serta penegakan hak asasi manusia (HAM) adalah masalah yang tengah melilit masyarakat dunia.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon yakin ASEAN dapat membantu dunia menjawab masalah-masalah global tersebut. Dengan mencermati keberhasilan ASEAN selama ini, dia mengharap ASEAN lebih memainkan perannya di pentas global. “Sekarang saatnya ASEAN membangun masyarakat global,” harap Ban Ki Moon di Nusa usai menghadiri Pertemuan Puncak ASEAN-PBB ke-4 di Nusa Dua, Bali, Sabtu lalu.
Ban Ki-moon menilai, ASEAN di bawah kepemimpinan Indonesia, berhasil memajukan dan memperluas kerja sama regional hingga terlaksananya KTT Asia Timur ke-6 yang diikuti 18 negara. Menurut dia, KTT Asia Timur merupakan salah satu mekanisme kerja sama regional terbesar di dunia. “Saya bangga melihat kenyataan ini,” ujarnya.
KTT Asia Timur yang digelar satu rangkaian dengan KTT ASEAN ke-19 berhasil merumuskan kesepakatan pada tingkat implementasi sebagai kontribusi dari negara-negara anggota untuk menyelesaikan berbagai permasalahan global. KTT Asia Timur menyepakati The Declaration of the 6th East Asia Summit on ASEAN Connectivity.
Dan, untuk menjadikan ASEAN Connectivity sebagai bagian penting dari kerjasama di kawasan Asia Timur, maka pada KTT Asia Timur di Bali telah disepakati The Declaration of the 6th East Asia Summit on ASEAN Connectivity. Dalam pertemuan KTT Asia Timur, diharapkan dapat menjadi forum utama untuk pembahasan isu-isu strategis. Selain itu, kekuatan Asia Timur juga diharapkan mendorong kerjasama memperbaiki sistem perekonomian dunia agar lebih adil, berimbang, dan berkelanjutan.
Sebagai salah satu komunitas dunia, ASEAN memang tidak boleh tutup mata terhadap permasalahan-permasalahan global. Namun, ASEAN harus membuktikan sebagai kekuatannya dalam menangkal ancaman dan tantangan global.
“Di tengah pancaroba ini, banyak harapan ditumpukan pada kawasan kita. ASEAN kian menjadi asosiasi yang matang, yang mampu menciptakan stabilitas dan keamanan kawasan, meningkatkan kekuatan ekonominya, serta mampu menjadi komunitas yang makin people-centered dan mampu pula menjalin kerukunan antar indentitas dan peradaban yang beragam. Dengan modal dan posisi ini, saya percaya ASEAN mampu untuk berkontribusi dalam merespon berbagai dinamika global tersebut,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato yang disampaikan saat membuka KTT ke-19 ASEAN.
Para pemimpin ASEAN sepakat merealisasikan komitmennya untuk memainkan peran yang lebih terkoordinir dan komprehensif dalam menjawab isu-isu global yang menjadi perhatian dan kepentingan bersama. Mereka ingin meningkatkan suaranya dalam forum-forum multilateral yang membahas isu-isu global untuk kepentingan umum, sekaligus bermanfaat bagi negara ASEAN dan rakyatnya.
Dalam upaya memperkuat peran ASEAN di pentas global, para pemimpin ASEAN telah mengesahkan Bali Declaration on ASEAN Community in a Global Community of Nations (Bali Concord III) sebagai peta jalan dalam membangun interaksi yang dinamis antar Komunitas ASEAN dengan komunitas global.
“Semangat dari Bali Concord III adalah partisipasi dan kontribusi ASEAN yang semakin besar bagi terwujudnya dunia, yang lebih damai, lebih adil, lebih demokratis dan lebih sejahtera, termasuk peran aktif ASEAN untuk ikut mengatasi berbagai permasalahan fundamental dewasa ini,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Beberapa tantangan yang harus dijawab ASEAN dan PBB antara lain pemberantasan kemiskinan melalui ketersediaan pangan, pencapaian tujuan pembangunan milenium, dan upaya perubahan iklim.
“ASEAN dan PBB sebagai organisasi yang memiliki kesamaan misi terus meningkatkan kerja sama konstruktif. Inilah sesungguhnya dasar pemikiran comprehensive partnership antara ASEAN dan PBB,” ujar Presiden.
ASEAN dan PBB akan mengidentifikasi berbagai sektor yang bisa dikembangkan bersama-sama. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua ASEAN 2011 menyatakan kerja sama ASEAN-PBB adalah dokumen paling awal yang dihasilkan menandai pelaksanaan Bali Concord III.
Menurut Presiden, dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terkait, ASEAN harus menjadi yang terdepan dalam mengatasi berbagai tantangan yang mencuat.
“ASEAN tidak boleh hanya menjadi penonton pasif, yang rentan menjadi korban permasalahan di belahan dunia lainnya. Kita berharap, Deklarasi Bali mengenai Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Bangsa-bangsa, akan menjadi petunjuk pelaksanaan dan landasan bersama kita (common platform), guna meningkatkan kontribusi ASEAN dalam penanganan isu-isu global.”
Peran aktif di tingkat global dalam waktu 10 tahun ke depan diharapkan dapat menjadikan ASEAN, tampil sebagai sebagai satu kesatuan ketika menghadapi permasalahan internasional yang menjadi kekhawatiran masyarakat global. Untuk memaksimalkan peran itu, masing-masing negara akan berkoordinasi dalam Dewan Koordinasi ASEAN, didukung oleh pejabat senior ASEAN, Komite Perwakilan Tetap ASEAN dan memperkuat peran Sekretariat ASEAN.

M. Yamin Panca Setia/BBC/AFP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s